Sabtu, 21 Mei 2011

The Christology of Jesus



Di dalam Injil disajikan dua pertanyaan yang sangat penting berhubungan dengan Tuhan Yesus Kristus. Pertanyaan-pertanyaan ini dinyatakan oleh Kristus sendiri kepada para pemimpin agama pada masaNya, dan oleh Pilatus saat orang banyak mendesakkan penyaliban Yesus.

Matius 22:42 “Apakah pendapatmu tentang Mesias ? Anak Siapakah Dia?”

Matius 27:22 “Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?”
Rencana keselamatan, seperti yang diungkapkan Allah di dalam Yesus Kristus bebas dari jawaban atas kedua pertanyaan ini. Apa yang dipercayai seorang tentang Yesus akan menentukan bagaimana ia berhubungan dengan Kristus. Pada gilirannya ini akan menentukan nasib yang kekal dari manusia itu. Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang kekal, yang oleh kelahiranNya dari perawan kemanusiaan tanpa dosa, kematian pengganti penguburan dan kebangkitan, membuat korban yang sempurna untuk dosa, dan oleh sebab itu menjadikan penebusan itu mungkin diterima oleh manusia yang telah jatuh. Terpisah dari Siapa Dia dan apa yang telah Ia lakukan, secara mutlak tidak ada jalan untuk mendekati Allah Bapa
(Yohanes 14:16; Ibrani 7:25).
Doktrin tentang Kristus mempunyai dua bagian:

1. Oknum Kristus – siapa Ia.

2. Karya Kristus – apa yang telah Ia lakukan.

Disini, kita akan mempertimbangkan mengenai oknum Kristus dan di dalam bab berikut mengenai karya Kristus. Ada perbedaan yang amat besar di dalam pandangan-pandangan dan bidat-bidat di seputar oknum dan karya Kristus. Semua agama dapat diuji di dalam doktrin mereka dengan melihat pandangan mereka mengenai oknum dan karya Kristus.

Bidat -  Bidat Mengenai Oknum Kristus

Semua bidat mendasar mengenai oknum Kristus telah dimanifestasikan dalam bentuk benih selama masa Gereja mula-mula dan telah ditangani didalam Injil-injil dan suratan-suratan para penulis rasuli, sebenarnya tidak ada bidat baru sekarang ini tetapi yang ada hanya kebangkitan kembali bidat-bidat kuno. Karena bidat-bidat inilah maka berbagai konsili Gereja, Bapak-bapak Gereja yang berkumpul bersama-sama untuk merumuskan pernyataan doktrin serta kredo untuk membela Kristologi Gereja. Yang berikut adalah bidat-bidat yang paling terkenal mengenai oknum Kristus, yang diatasnya beberapa ajaran palsu mendirikan ajaran-ajaran mereka.

Ebionit.
Ebionit adalah orang-orang percaya Yahudi yang muncul di awal abad kedua. Nama mereka dari bahasa Ibrani asalnya: “Ebion” yang berarti “miskin”, “rendah” dan “tertindas”. Karena kemiskinan mereka, mereka menganggap diri mereka sebagai satu-satunya murid Kristus yang benar. Kaum ebionit percaya bahwa upacara ajaran Musa dan Yahudi masih tetap mengikat pada orang percaya Kristiani. Sementara mereka menegakkan ajaran Petrus dan Yakobus, mereka tidak menyukai tulisan-tulisan Paulus (contoh: Kolose 2:13-17) yang menolak upacara-upacara Yahudi karena telah dipakukan, disalib dan tidak mengikat orang percaya di dalam Kristus). Sebelum pengaruh mereka berangsur hilang tahun 135 M, mereka telah terbagi menjadi dua kelompok: Ebionit Farisi yang merupakan kelanjutan dari Yudais dari zamannya Paulus dan Ebionit Essenik yang lebih toleran dalam menangani para orang percaya kafir yang tidak bersunat yang tidak memelihara Sabat dan kebiasaan-kebiasaan Yahudi lainnya. Pandangan utama bidat Ebionit adalah mengenai oknum Kristus. Mereka menolak bahwa Kristus mempunyai kodrat yang Illahi, dan mengabaikan konsepsiNya yang supra natural. Di dalam penolakan ke-Tuhanan Kristus, mereka memandang Dia hanya sebagai manusia. Mereka menolak ke-TuhananNya karena percaya bahwa hal itu bertentangan dengan fakta mengenai keesaan Allah. Mereka mengajarkan bahwa bila Yesus adalah Allah, hal ini akan bertentangan dengan monoteisme, yang adalah kepercayaan bahwa hanya ada satu Allah. Ada juga bidat-bidat modern yang menjadi rekan dari bidat ini menolak ke-Tuhanan Kristus.

Gnostik.
Gnostik muncul pada sekitar waktu yang sama dengan Ebionit, namun mereka menempuh yang ekstrim lainnya, dengan menolak kemanusiaan yang penuh dari Kristus, kaum Gnostik juga disebut Docetas yang berarti “yang rupanya” atau “sepertinya”, karena pandangan mereka mengenai oknum Kristus.
Secara mendasar ada tiga kelompok Gnostik yang memegang pandangan bidat yang sama mengenai kemanusiaan Kristus.

1. Docetas.
Kelompok ini menolak realitas tubuh Kristus dengan mengatakan bahwa tubuhNya hanya sebagai penampilan seperti hantu.

2. Gnostik
Kelompok ini mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh riil tetapi menolak fakta bahwa tubuh itu adalah secara fisik atau materi. Mereka percaya bahwa karena daging bersifat jahat, maka tubuh Kristus tidak mungkin sebagai manusia.

3. Cerintian
Gnostik dengan nama Cerinthius yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah berbeda, bahwa Yesus hanya manusia biasa, putera Yusuf dan Maria, dan bahwa Kristus adalah roh dan kuasa Allah yang turun ke atas Yesus pada saat pembaptisanNya di sungai Yordan, mereka mengajarkan bahwa Kristus berpisah dari Yesus pada saat penyalibanNya dan meninggalkan Dia menderita dan mati sendiri.

Bidat-bidat Gnostik ini disinggung dan ditangani di surat Kolose, I Timotius, II Timotius, I Yohanes, Yudas dan Wahyu (Yohanes 20:31, I Yohanes 5:20, I Yohanes 21, Ibrani 2:14, I Yohanes 4:1-4, I Timotius 3:16, Kolose 1:19, 29).

Arian.
Arius adalah seorang penatua di Alexandria, Mesir. Ajaran Arius berhubungan lebih tepat dengan doktrin tentang Allah bukan dengan oknum Kristus. Namun ajaran-ajarannya tidak semua dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Orang Arian mengajarkan bahwa Kristus tidak hidup sebelum penciptaan, dan bahwa Ia mahluk yang diciptakan dan bahwa oleh Dialah semua yang lain diciptakan. Dalam keadaanNya yang diciptakan, Ia disebut sebagai Logos, Anak, satu-satunya yang dilahirkan dan permulaan dari Ciptaan Allah (Yohanes 1:1-3, 14-18, Wahyu 3:14).
Arius mengajarkan bahwa walaupun Anak disebutkan sebagai Allah, Ia bukan Allah dalam pengertian yang penuh dari kata itu, tetapi merupakan yang tertinggi dari semua mahluk ciptaan. Ia adalah Illahi, tetapi bukan Allah, pertengahan yang setengah allah diantara manusia dan Allah. Arianisme disalahkan diantara tahun 321-325 M oleh Alexander, Uskup Alexandria dan Arius diberhentikan dari memegang suatu jabatan di Gereja dan juga dari persekutuan, bidat ini menolak kekekalan dan bersama-sama dari oknum Kristus dengan Bapa dan Roh Kudus, menjadikan Dia sebagai mahluk ciptaan saja.

Apollinarian.
Apollinarius adalah seorang Uskup yang terkenal di Laodikia. Ia mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh yang sebenarnya dan jiwa animal tetapi bukan roh yang rational atau akal budi. Karena kesulitan dalam mengajarkan bahwa Anak yang kekal memberikan roh atau akal budi Yesus Kristus. Jadi tubuh dan jiwa adalah bagian yang manusiawi dan Anak yang kekal adalah Ilahi atau bagian yang roh dari Yesus. Pengajaran ini menolak kesempurnaan kodrat manusia dari Kristus, dengan mengajarkan bahwa Ia hanya mempunyai dua bagian dan bukan kemanusiaan yang total dan penuh ialah roh, jiwa dan tubuh (I Tesalonika 5:23). Apollinarianisme disalahkan oleh Konsili dan Konstantinopel tahun 318 M dan dicap bidat.

Nestorian.
Nestorius, Uskup di Konstantinopel, mengajar mengenai oknum Kristus, bahwa ada dua kepribadian yang tersangkut. Ia menolak persatuan yang sebenarnya dari kodrat yang Ilahi dan manusiawi di dalam Kristus, dengan mengatakan bahwa Logos (kepribadian yang Ilahi) berdiam di dalam Yesus Kristus (kepribadian yang manusiawi), menjadikan dua oknum yang berhubungan. Ia mengajukan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, manusia yang dipenuhi Allah, tetapi bukan ke-Allahan yang sebenarnya dan manusia yang sebenarnya di dalam satu oknum.
Cyrilus dari Alexandria menentang ajaran Nestorius dan Nestorius disalahkan dan dikucilkan oleh Sinode di Efesus tahun 431 M, bentuk Kenoticisme yang mengajarkan bahwa waktu Anak Allah menjadi manusia, Ia mengosongkan diriNya dari sifat-sifat Ilahi sehingga adalah sebagai manusia yang dapat melakukan kekeliruan intelektual dan kesalahan, sangat erat hubungannya dengan Nestorianisme.

Eutyehian.
Dalam tahun 415 M bidat mengenai oknum Kristus beralih ke aliran lain. Ekutyches mengambil posisi ekstrim yang bertentangan dengan Nestorius. Ia berpegang bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat dan kehendak, bukan dua kodrat atau kehendak, Ia mengajarkan bahwa kodrat yang Ilahi dan yang manusiawi itu demikian bercampur ke dalam yang satu sehingga sebenarnya telah membentuk kodrat ketiga. Ajaran ini menjadikan Kristus bukan Allah dan bukan manusia tetapi orang ketiga yang dihasilkan oleh percampuran dari yang dua walaupun keduanya berbeda. Ini mengurangi Kristus menjadi oknum yang bersifat “hebrida”. Eutyches berpegang bahwa segala sesuatu mengenai Kristus adalah Ilahi, malahan juga tubuhNya dan sifat manusiaNya.

Monofisit.
Eutychianisme juga mengalir menjadi beberapa aliran yang lebih kecil, yang disebut secara singkat disini.

1. Monofisit adalah nama lain suatu cabang Eutychian karena mereka menekankan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat atau kehendak. Ini muncul dari kesulitan untuk melihat keharmonisan dan hubungan dua kodrat dan kehendak dalam satu oknum Kristus.
Dalam tahun 680-681 M, Konsili di Konstantinopel menyalahkan doktrin mereka dan berpegang bahwa Kristus sesungguhnya mempunyai dua kodrat yang berbeda, yang Ilahi dan yang manusia dan dengan demikian mengharuskan mempunyai dua inteligensi dan dua kehendak. Keduanya dalam kesatuan yang harmonis dimana kehendak yang manusia tunduk pada kehendak yang Ilahi.

2. Adopsionis sesungguhnya satu cabang dari Eutychianisme, Apolinarianisme dan Nestorianisme. Bidat ini mengajarkan bahwa kemanusiaan dari Kristus hanya dengan adopsi. Ini menolak kemanusiaan Kristus yang dilahirkan dan yang sekarang adalah kemanusiaan yang kekal.
Sebelum mendefinisikan dan menafsirkan pandangan ortodoks mengenai oknum Kristus, akan diringkaskan bidat-bidat penting yang telah dibicarakan.
  • Ebionit – menolak ke Allahan Kristus.
  • Gnostik – menolak kemanusiaan Kristus
  • Arian – mengajarkan bahwa Kristus adalah mahluk ciptaan.
  • Apollinarian – menolak persatuan kedua kodrat didalam Kristus, merendahkan Dia menjadi manusia yang dipenuhi dengan Allah.
  • Eutychian – menolak pembedaan kedua kodrat Kristus, jadi mengadakan kodrat ketiga atau hibrida dari keduanya.
  • Monofisit – menolak kedua kodrat dan kehendak di dalam satu oknum Kristus.
Pernyataan Orthodox Mengenai Oknum Kristus.

Karena bidat-bidat marah mengenai oknum Kristus, berbagai konsili Gereja berkumpul secara periodik untuk menyiapkan kredo yang berlandaskan kebenaran didalam suatu usaha untuk memelihara dan menjaga “iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3) para rasul sendiri tidak pernah memformulasikan suatu kredo sedemikian, namun kebenaran itu terserak dalam pernyataan-pernyataan fragmentasi di seluruh tulisan-tulisan mereka. Ini semua perlu dibawa bersama-sama dan dipelajari secara seksama untuk merumuskan kredo yang akan mendefinisikan sebaik-baiknya kebenaran mengenai oknum Kristus. Kami mencatat beberapa kredo yang menyatakan sebaik-baiknya posisi ortodoks mengenai oknum Kristus yang mulia itu. Kredo berikut adalah yang dirumuskan di Konsili Chalcedon tahun 441 M. Karena sehatnya secara teologis maka dikutip lengkap.
“Mengenai bapak-bapak suci kita semua dengan bersetuju mengajarkan dan mengakui Anak yang satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, sama sempurna dalam ke-Allahan, dan sama sempurna dalam kemanusiaan, Allah yang sebenarnya, dan manusia sebenarnya yang sama, dari jiwa dan tubuh yang layak, dari substansi yang sama dengan Bapa dalam hal ke-IlahianNya, dari substansi yang sama dengan kita dalam kemanusianNya, dalam segala sesuatu sama dengan kita, kecuali dosa, sebelum masa peranakkan Bapa dalam hal ke-AllahanNya, namun pada hari kemudian, untuk kita dan untuk penebusan kita, diperanakkan (sama) dari Perawan Maria, bunda Allah, untuk kemanusianNya, Kristus yang satu dan yang sama, Anak, Tuhan, satu-satunya yang dilahirkan, yang dimanifestasikan dalam dua kodrat tanpa kekacauan, tanpa pertukaran, tak dapat dibagikan, tak dapat dipisahkan. Pembedaan kodrat tidak dihapuskan oleh persatuan, namun milik masing-masing terpelihara dan dikombinasikan dalam satu oknum dan satu gypostatis; bukan satu yang kuat atau yang terbagi ke dalam dua oknum, tetapi anak yang satu dan yang sama dan yang dilahirkan satu-satunya, yaitu Allah, Logos, dan Tuhan Yesus Kristus."
(Robert Clarke, dalam “The Christ of God” hal. 41-42).
Henry Thiessen dalam “Lectures in Systematic Theology” (hal. 286), dalam mengutip dari Strong, menulis: “Dalam satu oknum Yesus Kristus, ada dua kodrat, kodrat yang manusia dan yang Ilahi, masing-masing di dalam kesempurnaan dan integritasnya, dan kedua kodrat ini bersatu secara organis dan tak dapat dilarutkan, namun sedemikian sehingga tak ada kodrat ketiga yang terbentuk. Secara singkat (dengan menggunakan diktum antik) doktrin ortodoks melarang kita untuk membagi oknum itu atau mengacaukan kodrat-kodratnya”.

Selanjutnya: “Penebusan manusia dari dosa seharusnya dihasilkan melalui seorang Perantara yang seharusnya menyatukan di dalam DiriNya kodrat manusia dan yang Ilahi supaya Ia dapat mendamaikan Allah dengan manusia, dan manusia dengan Allah”.

Dan akhirnya, pernyataan dari penulis buku ini: “Tuhan Yesus Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah, yang ada sebelumnya, bersama Bapa, dan oleh inkarnasiNya dan kelahiranNya dari Perawan. Mengenakan pada DiriNya bentuk Manusia dan diungkapkan sebagai Manusia Allah. Di dalam satu oknum Kristus, ada dua kodrat, yang manusia dan yang Ilahi, yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dibagi, mengklasifikasikan Dia untuk menjadi satu-satunya perantara diantara Allah dan manusia. Yesus Kristus adalah tanpa dosa, sempurna, disalibkan dikuburkan, bangkit, naik, dimuliakan dan Ia akan datang kembali kali yang kedua dalam kemuliaan dan penghakiman”.

Posisi ortodoks mengenai oknum Kristus adalah bahwa Kristus adalah Allah yang sebenarnya dan Manusia yang sebenarnya, bahwa oleh karena persatuan dua kodrat di dalam Dia, maka Ia menjadi perantara yang sempurna di antara Allah dan manusia.

Nubuat - Nubuat Perjanjian Lama Mengenai Oknum Kristus

Penyelidikan atas nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai kedatangan Mesias mengungkapkan bahwa ada dua aliran pemikiran. Aliran yang satu berbicara mengenai ke-Allahan Kristus, sementara yang lain berbicara mengenai kemanusiaan dari Kristus. Para penafsir Yahudi atas Perjanjian Lama tidak dapat mendamaikan aliran ini. Mereka tak dapat memahami bagaimana Mesias itu Ilahi, namun juga manusia. Oleh karena itu mereka salah memahami dan tidak bertemu dengan Mesias itu yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci mereka bahwa Ia akan datang.

Ke-Allahan dari Kristus.
Ayat-ayat yang berikut menyatakan ke-Allahan dari Kristus, menunjukkan bahwa Penebus itu adalah Allah yang berinkarnasi.

  1. “Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).
  2. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita … dan namaNya disebut orang : “Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5-6). ” … Tuhan keadilan kita” (Yeremia 23:5-6).
  3. Hai Betlehem … dari padamu akan bangkit bagiKu, seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala (sejak masa kekekalan)” (Mikha 5:1).
  4. “Siapa namanya dan siapa nama anaknya ? Engkau tentu tahu” (Amsal 30:4).
  5. “AnakKu engkau. Engkau telah Kuperanakkan hari ini” (Mazmur 2:7).
  6. “Tahtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya (Mazmur 45:7).
Kemanusiaan Kristus.
Ayat-ayat ini menyarankan bahwa Penebus itu seorang manusia, lahir dari seorang perempuan.
Ayat itu menyatakan kemanusiaan Mesias, sebagaimana ayat-ayat sebelumnya menyatakan ke-AllahanNya.

  1. Penebus itu adalah “benih perempuan itu” yang akan meremukkan kepala ular itu (Kejadian 3:15). Ini adalah nubuat tentang Kelahiran dari Perawan dalam bentuknya yang mengandung teka-teki.
  2. Mesias juga akan datang dari Kemah Sem (Kejadian 9:26).
  3. Penebus adalah “benih Abraham” (Kejadian 22:18).
  4. Penebus itu adalah “benih Ishak” (Kejadian 26:2-4).
  5. Janji ini juga dikuatkan pada “benih Yakub” (Kejadian 28:13-14).
  6. Mesias akan datang dari bangsa Israel (Bilangan 24:17-19).
  7. Tuhan juga menubuatkan bahwa seorang nabi “seperti Musa” yang mati akan dibangkitkan dari antara saudara-saudaranya (Ulangan 18:15-18).
  8. Mesias akan datang dari suku Yehuda (Kejadian 49:10-12).
  9. Mesias akan datang dari keluarga Isai (Yesaya 11:1-2).
  10. Mesias akan datang dari Rumah Daud (II Samuel 7:12-14).
  11. Janji Kitab Suci bahwa “seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamakan Dia – Imanuel” (Yesaya 7:14).
  12. Mesias ini adalah “seorang laki-laki, yang namaNya “Sang Tunas” (Zakharia 3:8; 6:10-12; Yesaya 11:1-4).
Semua referensi ini menunjukkan bagaimana Allah menyendirikan seorang laki-laki, kemudian suatu bangsa dari laki-laki”, yang namaNya “Sang Tunas” (Zakharia 3:8; 6:10-12; Yesaya 11:1-4).

Para nabi Perjanjian Lama menubuatkan Mesias sebagai Allah dan manusia, memiliki kodrat yang Ilahi dan manusiawi di dalam seorang oknum.
Bahwa sulit untuk mendamaikan kedua aliran nubuat Mesianik itu tentu jelas, karena bagaimana dapat terjadi bahwa Penebus ini sebagai Allah dan manusia pada waktu yang sama?
Hanya didalam kesaksian Perjanjian Baru mengenai penggenapan historis didalam Injil dan kemudian adanya wahyu doktrinal di suratan-suratan kita dapat menemukan penyelesaian teka-teki itu dan dapat melihat bagaimana Allah mendamaikan kedua aliran nubuat ini. Mujizat inkarnasi adalah jawaban Allah atas pertanyaan itu. Semasa manusia diturunkan oleh seorang bapa secara manusiawi dan dilahirkan oleh seorang ibu sebagai manusia, mulai dari penciptaan Adam dan Hawa, orang tua yang pertama ini bukan halnya pada Mesias. Ia dilahirkan dari ibu manusia, seorang anak dara. Tetapi Ia tidak diturunkan oleh seorang bapa manusia, karena Allah adalah BapaNya. Anak ini adalah “benih perempuan itu” (Kejadian 3:15). Tetapi “Anak Allah” oleh anak dara (Yesaya 7:14). Ini mendapatkan penggenapannya yang mulia di dalam kelahiran oleh anak dara pada Yesus Kristus oleh kuasa dan naungan dari roh Kudus (Matius 1:18-23 dengan Lukas 1:35).

Pada modernis dapat saja menolak kelahiran oleh anak dara, pengetahuan ilmiah mungkin saja tidak dapat mengakuinya, dan kesombongan rohani dapat saja menyatakan bahwa konsekuensinya tidak riil, namun pentingnya secara Alkitabiah dari hal ini bukan anggapan yang terlalu berlebihan. Di atas fakta kelahiran dari anak dara inilah doktrin Alkitab itu tergantung. Bila Yesus Kristus tidak lahir dari anak dara, Ia bukannya tanpa dosa, dan bila Ia bukan tanpa dosa, maka Ia sendiri memerlukan Juru Selamat. Bila Ia sendiri memerlukan keselamatan, maka Ia tak dapat menjadi Juruselamat kita, Tuhan atau Raja kita, dan semua rencana penebusan jatuh berkeping-keping ke tanah. Jadi kita perlu memahami dan mempercayai arti mendasar dari inkarnasi.

Inkarnasi Kristus

Fakta Inkarnasi.
Semua penulis Perjanjian Baru membuktikan kebenaran dari Inkarnasi. Kelahiran Yesus Kristus adalah fakta historis dan penulis-penulis Alkitab di bawah inspirasi Roh Kudus memberikan kepada kita seluk-beluk dari peristiwa mujizat ini. Kata “inkarnasi” secara sederhana berarti “Allah mengambil pada DiriNya daging manusia”. Allah mengambil bentuk manusia atau menyaluti DiriNya dengan daging di dalam kelahiran dari anak dara itu. Asal-usul dari Kristus, Anak itu, dalam hal kemanusiaanNya, ditelusuri asalnya dari karya Roh Kudus. Allah menjadi manusia di dalam Yesus, ke-Allahan memakaikan kepada DiriNya kemanusiaan.
A.B. Bruce mengatakan “Bukanlah kemanusiaan yang di Allahkan, tetapi turunnya Allah ke dalam kemanusiaan. Bukannya manusia yang mengambil Allah kepada dirinya, melainkan Allah yang mengambil kemanusiaan”.

1. Inkarnasi secara Historis.

a. Kepada Maria (Lukas 1:26-35, Yeremia 31:22).
Malaikat Gabriel dikirim kepada Maria, seorang dara muda Ibrani, untuk mengumumkan kelahiran Mesias. Perkataan itu jelas, Anak itu bukan hasil benih laki-laki, tetapi bahwa Roh Kudus sendiri yang menaungi perawan itu dan menempatkan di dalam kandungannya benih dari Allah Bapa. Anak ini nanti adalah sebagai ciptaan tanpa dosa yang dihasilkan oleh mujizat Allah dan respons dari anak dara yang suci ini. Tidak ada sesuatu yang tidak suci dalam kelahiran Anak ini, Allah akan menghasilkan mahluk tanpa dosa, yang sempurna, yang kekal dari mahluk berdosa, tidak sempurna dan yang fana. Inilah mujizat kelahiran dari anak dara. Ini tak dapat diterangkan oleh alat-alat yang murni manusiawi atau alamiah. Maria, dalam kepenuhan iman mau menerima tanggung jawab dan tantangan untuk menjadi ibu dari Kristus – Anak itu (Lukas 2:34-35).

b. Kepada Yusuf (Matius 1:18-25).
Matius, setelah mencatat silsilah Yesus memecahkan pola keturunan biasa dengan memperkenalkan kelahiran mujizat dari Yesus dengan “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: laporan ini mengatakan bahwa Maria ternyata mengandung dari Roh Kudus. Silsilah Mesianik adalah kelahiran dari manusia, tetapi Mesias lahir dari Maria. Yusuf yang mengetahui bahwa istri yang besertanya mengandung bermaksud untuk menceraikannya, supaya ia tidak akan dirajam mati, sesuai hukum Musa. Tetapi, malaikat dari Tuhan datang kepadanya dan secara khusus mengatakan kepadanya bahwa anak itu akan menjadi Anak yang akan dinamakan Yesus, Anak ini hasil dari naungan Roh Kudus dan menjadi Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita”. Di dalam iman, Yusuf bersedia untuk menjadi pemelihara resmi dari anak yang lahir dari anak dara itu, menerima kesaksian dari malaikat mengenai kesucian dari isteri yang besertanya, dan menerima fakta mujizat dari kelahiran anak dara itu.

2. Inkarnasi secara Pribadi.

Yesus sendiri memberikan banyak kesaksian tentang asal-usulNya sendiri termasuk kebenaran kelahiranNya secara mujizat.
Yesus mengatakan “Aku datang dari Allah, Aku datang dari Bapa …” (Yohanes 16:27, 8:42).
Yesus mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan dari Daud (dalam hal ke-AllahanNya) dan anak Daud (dalam hal kemanusiaanNya – Matius 22:42-46, Wahyu 22:16, Mazmur 110:1).
Dalam beberapa kesempatan Ia menyatakan bahwa Allah adalah BapaNya dan tidak pernah mengatakan bahwa Yusuf adalah BapaNya (Yohanes 2:16, 5:17-47, 6:32-40, 8:42).
Allah Bapa juga membuktikan atas kelahiran anak secara mujizat. Tiga kali Ia bersabda dari Surga, dua kali dari padanya membuktikan fakta itu. “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”. (Matius 3:16-19; 17:1-5; Yohanes 12:27-29).
Inilah pengambilan tanggung jawab oleh Bapa atas cara kelahiran anakNya. Ini adalah cara Bapa mengakui kelahiran dari Anak, Yesus mengetahui mengenai keberadaanNya sebelumnya bersama Bapa, ke-AllahanNya, dan bahwa Ia dilahirkan dari perawan sebagai Manusia Allah. Menolak kelahiran dari perawan berarti menolak kesaksian Kristus, dan juga menyaksikan Bapa.

3. Inkarnasi secara Teologia.

Sudah diperdebatkan oleh mereka yang menolak kelahiran dari perawan bahwa para penulis suratan tidak pernah berbicara mengenai hal itu. Tetapi hal ini tidak demikian, karena mereka secara jelas berbicara tentang ke-Allahan Kristus dan kemanusianNya, namun lebih banyak dalam bahasa teologia. Kutipan-kutipan singkat yang berikut serta referensi-referensinya adalah cara rasul-rasul meneguhkan kebenaran dari kelahiran oleh perawan.

a. Paulus.
Rasul Paulus mempunyai beberapa ungkapan yang unik yang berbicara tentang inkarnasi. Ini membuktikan kebenaran mendasar kelahiran dari perawan.

  1. Yesus Kristus Tuhan kita menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud” (Roma 1:3-4).
  2. Allah mengutus AnakNya, pada waktunya, “yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum “Taurat” (Galatian 4:4).
  3. Di dalam Kristus “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9; 1:19).
  4. Agunglah rahasia ibadah kita, “Allah telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia” (I Timotius 3:16).
  5. Perantara yang esa diantara Allah dan manusia, yaitu “manusia Kristus Yesus” (I Timotius 2:5).
  6. “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya, Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14).
  7. Allah mengutus AnakNya “yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Roma 8:3).
  8. Kristus datang dari bapa-bapa leluhur “dalam keadaanNya sebagai manusia” (Roma 9:5).
  9. Walaupun Kristus secara asli “dalam rupa Allah”, namun Ia telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil “rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5-8).
  10. Waktu Yesus masuk ke dalam dunia dengan inkarnasi, Ia berkata, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu” (Ibrani 19:5). Tubuh ini disediakan atau dilengkapi secara sempurna untuk melakukan kehendak Allah pada perawan Maria. Waktu Allah menjadikan Adam, Ia membuat tubuh dari debu tanah (Kejadian 2:7). Waktu Allah membuat Hawa, Ia membuat tubuh dari rusuk Adam (Kejadian 2:21-22).
Semua mahluk manusia lainnya menerima tubuh melalui proses alamiah yang meliputi persatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi di dalam hal tubuh Anak Allah tidak diciptakan secara demikian, namun disediakan di dalam kandungan perawan Maria dengan kuasa Roh Kudus (Lukas 1:30-33).

b. Petrus.
Rasul Petrus juga mengetahui dengan wahyu kebenaran dari ke-Allahan Kristus dan kelahiran dari perawan.
  1. Petrus mengakui bahwa Yesus Kristus adalah “Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Ia bukan hanya sebagai Anak Manusia, sebagaimana Yesus menyebutkan DiriNya, tetapi Anak Allah, Yesus mengetahui bahwa Petrus telah menerima wahyu ini dari Allah Bapa. Ini adalah acara lain untuk mengakui kelahiran dari perawan, dan keputeraan yang Ilahi dari Kristus.
  2. Ia telah dipilih sebelum menjadi Anak Domba Allah sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kita baru menyatakan diriNya pada zaman akhir (I Petrus 1:18-20). Pra-eksistensi, inkarnasi dan penebusan adalah kebenaran yang dinyatakan Petrus disini.
c. Yohanes.
Rasul Yohanes juga meneguhkan ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus.
  1. Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita (Yohanes 1:1-3, 14-18). Inilah cara Yohanes berbicara mengenai kelahiran dari perawan.
  2. Nabi-nabi palsu menyangkal bahwa “Yesus Kristus telah datang sebagai manusia” (I Yohanes 4:1-3).
  3. Penyesat dan anti Kristus tidak mengakui bahwa “Yesus Kristus telah datang dan sebagai manusia” (2 Yohanes 7:10).
Setelah memperhatikan referensi-referensi singkat ini bahwa semua menunjuk kepada kebenaran mendasar dari inkarnasi, Yesus Kristus adalah Allah yang dimanifestasikan di dalam daging. Ialah Manusia Allah. Para rasul itu menguatkan secara teologis di dalam suratan-suratan mengenai kelahiran dari perawan sebagaimana telah dinyatakan secara historis di dalam Injil.
  • Di dalam Matius, Yesus disajikan sebagai Anak Daud (Yesaya 11:1; Matius 1:1).
  • Di dalam Markus, Yesus disajikan sebagai Anak Manusia (Zakharia 3:8; Markus 8:38).
  • Di dalam Lukas, Yesus disajikan sebagai Anak Adam (Zakharia 6:12-13; Lukas 3:38).
  • Di dalam Yohanes, Yesus disajikan sebagai Anak Allah (Yesaya 4:2; 7:14; Yohanes 3:16).
Di atas fakta inkarnasi atau kelahiran dari perawan itulah kebenaran tentang pra-eksistensi, ke-Allahan, Juruselamat, ke-Tuhanan, kebangkitan dan keseluruhan rencan penebusan itu terletak.

Pentingnya Inkarnasi.
Ada dua perkara utama yang mengharuskan adanya inkarnasi. Kejatuhan dan keberdosaan manusia, serta Allah yang mengadakan dan memelihara perjanjian. Waktu Allah menciptakan manusia, itu adalah di atas dasar Perjanjian Eden. Fakta bahwa Allah adalah pembuat perjanjian dan pemeliharaan perjanjian berarti bahwa sebagai Pencipta Ia mewajibkan diri demi ciptaan itu (Kejadian 1:26-28). Waktu manusia berdosa Allah tetap diwajibkan oleh kehendakNya sendiri, terutama dalam hal penebusan. Ini harus digenapi oleh Perjanjian Baru (Yeremia 31:31-34) sesungguhnya semua perjanjian Allah menyokong fakta ini. Untuk menyatakannya secara lebih khusus, manusia berdosa dan oleh sebab itu berada dibawah hukuman maut (Kejadian 2:16-17). Jadi ia memerlukan seseorang untuk menebusnya dari maut. Tetapi semua yang akan lahir dari Adam bagaimanapun tidak dapat menebus saudaranya (Mazmur 49:7-8; 51:5; 58:3).  
Bila seorang manusia harus ditebus, maka manusia harus mati untuk manusia, dan bila tak seorangpun dari ras Adam yang dapat melakukan hal ini maka hanya Allah saja yang dapat menebus manusia sebagai Allah, Ia harus menjadi manusia. Kejatuhan manusia mengharuskan Allah yang memelihara perjanjian itu untuk menjadi manusia supaya menebus manusia kembali kepada hubungan dengan diriNya.

Dosalah yang mengharuskan inkarnasi. Tetapi, bila Allah harus menjadi manusia maka manusia itu harus tanpa dosa atau terpisah dari dosa. Bila tidak, maka Ia sendiri akan menjadi berdosa dan tidak sanggup menebus yang lainnya. Jawaban Allah kelihatan di dalam mujizat kelahiran dari perawan, dimana Allah memakaikan pada DiriNya dengan daging manusia dan dilahirkan oleh Maria ke dalam ras manusia. Tetapi tidak mewarisi sifat dasar manusi yang telah jatuh, yang berdsoa atau rusak. Ia mengambil kodrat manusia yang tanpa dosa dan menyatukannya dengan kodrat yang Ilahi. Waktu Allah menubuatkan sebelumnya malalui nabi Yeremia bahwa akan datang hari-hari waktu Ia akan mengadakan suatu Perjanjian Baru dengan Rumah Israel dan Rumah Yehuda, Ia mengharuskan DiriNya untuk mati. Ini juga mengharuskan adanya inkarnasi, karena Allah tidak dapat mati sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia (Yeremia 31:31-34; Ibrani 8:8-13), mempunyai kekuatan sesudah manusia mati.
Jadi Perjanjian Baru belum dapat berjalan sampai kematian dari yang mewasiatkan yaitu Yesus Kristus ringkasannya:
  1. Manusia berdosa dan oleh sebab itu harus mati (I Korintus 15:21; Roma 5:12-21; Kejadian 2:16-17).
  2. Hanya manusia yang dapat mati untuk manusia, tetapi tak seorangpun manusia yang lahir dari ras Adam yang memenuhi syarat, karena semua lahir di dalam dosa, dibentuk didalam kesalahan. Tak seorangpun yang lahir dari ras Adam yang bersih (Ayub 14:4; Mazmur 51:1-5; 58:3).
  3. Hanya Allah yang dapat menebus manusia. Namun Allah tidak dapat menebus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia. Jadi Allah menjelma menjadi manusia yang tidak berdosa oleh inkarnasi untuk menebus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia. Jadi Allah menjelma menjadi manusia yang tidak berdosa oleh inkarnasi untuk menebus manusia kembali kepada DiriNya (Galatia 4:4-5; 1 Petrus 2:22; 1 Yohanes 3:5; 2 Korintus 5:21). Oleh kelahiran dari perawan, Allah menghasilkan mahluk ciptaan yang tanpa dosa dari mahluk ciptaan yang berdosa
Sifat Dasar dari Inkarnasi.
Sifat dasar inkarnasi diberikan kepada kita oleh Paulus di surat Filipi dalam penghinaan diri rangkap tujuh.
Tujuan langkah penghinaan diri oleh Kristus dituliskan di dalam ringkasan dari Filipi 2:6-8 berikut:
1. Walaupun dalam rupa Allah.
2. Tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.
3. Melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri.
4. Mengambil rupa seorang hamba.
5. Menjadi sama dengan manusia.
6. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya.
7. Taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.
Perendahan diri rangkap tujuh ini dapat diringkaskan menjadi tiga pokok teologis besar :

1) Ke-AllahanNya, klausa 1 dan 2;
2) KemanusiaanNya, klausa 3,4 dan 5
3) PenyalibanNya, klausa 6 dan 7.

Waktu Paulus menyatakan bahwa Kristus “telah mengosongkan diriNya sendiri”, ia mengatakan bahwa Kristus mengosongkan diriNya. Dengan adanya “dalam rupa Allah” lalu mengambil “rupa seorang manusia” disana ada proses pengosongan diri ini dikatakan sebagai Teori Kenosis. Ungkapan “mengosongkan diriNya” berasal dari kata Grika “Kenoo” yang berarti “menjadikan kosong”. Para teolog umumnya menerima Teori Kenosis, bahwa Kristus memang mengosongkan diriNya dalam inkarnasi, namun ada banyak kesalah-pahaman mengenai teori ini.
Pertanyaan yang biasa yaitu, “dengan cara bagaimana Kristus mengosongkan diriNya ? “
Terdiri dari apakah pengosongan diri itu ?”
Dan “waktu menjadi manusia apakah Ia berhenti menjadi Allah?”.

1. Konsep-konsep yang salah.

a. Teori ini berpegang bahwa Kristus di dalam pengosongan diriNya, mengesampingkan ke-AllahanNya, melepaskan atribut-atribut esensialNya waktu Ia mengambil kemanusiaan pada diriNya. Dapat dibuktikan bahwa Yesus selalu sadar akan ke-AllahanNya. Ke-Allahan dapat mengambil kemanusiaan dan menyatukan dengan diriNya namun tidak dapat berhenti dari ke-Allahan, maka Yesus adalah Allah yang memanifestasikan di dalam daging.

b. Ia mengosongkan diriNya dari pemilikan atribut-atribut Ilahi. Teori ini berpegang bahwa waktu menjadi manusia, Kristus melepaskan dari atribut-atribut ke-Allahan esensial tertentu, seperti kemaha-kuasaan, kemaha-hadiran, dan kemaha-tahuan. Dipihak lain, teori ini berpegang bahwa Kristus waktu menjadi manusia tidak mengosongkan diriNya dari atribut-atribut moralNya, seperti kasih, kebenaran, kekudusan dan kehidupan atribut esensial lain seperti self eksistensi (keberadaan sendiri), kekekalan dan kesatuan dengan Bapa tidak diserahkan. Tetapi, bila sekiranya Kristus telah menyerahkan beberapa atribut Ilahi, dan rupanya ini tidak mungkin, maka Ia sudah berhenti dari menjadi Allah sepenuhnya.

c. Ia mengosongkan diriNya dari Pemilikan secara nyata akan atribut-atribut Ilahi. Teori ini berpegang bahwa Kristus tidak membebaskan diriNya dari atribut-atribut esensial dan moral, tetapi hanya bertindak seolah-olah Ia tidak memilikinya. Teori ini memperkenalkan unsur penipuan yang sama sekali bukan sifat dari Allah yang benar.

d. Ia mengosongkan diriNya dari penggunaan atribut-atribut Ilahi. Konsep ini berpegang Kristus dalam pengosongan diriNya, berhenti menggunakan atribut-atribut Ilahi. Ini berpegang bahwa Ia tidak berhenti memiliki kodrat Ilahi dan atribut ilahi tetapi hanya berhenti menggunakannya. Tetapi, Injil-injil seperti yang akan terlihat menunjukkan bahwa Ia menggunakan atau mempraktekkan atribut-atribut Ilahi sewaktu-waktu.

2. Konsep yang benar.
Waktu menjadi manusia Kristus tidak berhenti menjadi Allah, dan Ia juga tidak melepaskan dari pemilikan atau menggunakan atribut-atribut Illahi, baik yang esensial maupun yang moral. Nanti akan dilihat bahwa Allah tidak berubah menjadi manusia, tetapi hanya mengambil kodrat manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Jadi terdiri dari apakah pengosongan diri ini ?
Kristus menyerahkan penggunaan yang bebas dari atribut-atribut Ilahi.
Ia mengesampingkan prerogatifNya sebagai Allah untuk bertindak sebagai Allah, dan menjadi tergantung pada kehendak Bapa untuk pelaksanaan, bekerjanya atau manifestasi apapun dari atribut-atribut ini.
 
A.H. Strong dalam “Systematic Theology” mengatakan “Perendahan diri ini terdiri dari penyerahan yang terus menerus di pihak Manusia-Allah sejauh yang dimaksudkan adalah kodrat manusiaNya, di dalam menerapkan kuasa-kuasa Ilahi yang dengannya diberkati berdasarkan persatuanNya dengan yang Ilahi, dan di dalam penerimaan sukarela, yang mengikuti ini, yaitu pencobaan, penderitaan dan kematian.”

a. Kristus selalu adalah Allah.
Sebelum inkarnasiNya, Kristus adalah dalam rupa Allah (Filipi 2:6-8). Waktu menjadi manusia Ia tidak berhenti menjadi Allah. Kebenaran dari ke-AllahanNya yang esensial sebelum inkarnasiNya menghindari bahwa Ia dapat berhenti menjadi Allah karena menjadi manusia. Yesus adalah Allah sebelum dan selama inkarnasiNya. Tidak pernah Ia berhenti menjadi Allah, Ia kekal sebagai Allah, tetapi mengambil kemanusiaan atas diriNya. Waktu mengambil kemanusiaan, Ia tidak mengosongkan diriNya dari ke-Allahan. Menolak hal ini berarti jatuh ke dalam bidat dari abad-abad permulaan dan bersekutu dengan mereka yang menolak ke “Allahan Kristus”.

Herbert Lockyer dalam “All the Doctrines of the Bible” mengatakan: “Pada inkarnasiNya Kristus menambahkan pada kodrat IlahiNya yang sudah ada kondrat manusia dan menjadi Manusia-Allah. Di masa generasi kita, ditambahkan pada kodrat manusia kita yang sudah ada, kodrat Ilahi sehingga kita menambil bagian dalam kodrat Ilahi itu (2 Petrus 1:4). Jadi, seperti Kristus, setiap orang Kristen yang benar adalah manusia-Ilahi”.

Dalam mengutip Dr. Lousis Berkhof, Lockyer selanjutnya menulis “Kristus mempunyai kodrat manusia, tetapi Ia bukan oknum manusia. Oknum perantara adalah Anak Allah yang tak dapat diubah. Dalam inkarnasi Ia tidak berubah menjadi oknum manusia, dan juga Ia tidak mengambil oknum manusia. Ia hanya mengambil, sebagai tambahan atas kondrat IlahiNya, kodrat manusia yang tidak berkembang menjadi suatu kepribadian yang bebas, tetapi menjadi pribadi di dalam oknum dari Anak Allah”.

b. Kristus selalu memiliki atribut Ilahi.
Waktu menjadi Manusia, Kristus tidak mengosongkan diriNya dari suatu atribut esensial atau moral apapun. Kita mencatat ini dalam ayat-ayat Firman Tuhan berikut:

(1) Atribut-atribut Esensial.

(a) Kemaha-hadiran (Yohanes 3:13; Matius 28:19-20; 18:20).
Yesus tahu, sebagai Anak Allah, bahwa Ia ada di bumi dan juga ada di Sorga. Inilah kemaha-hadiran. Hanya dengan atribut ini Ia dapat beserta dengan umatNya dimana saja pada setiap waktu.

(b) Kemaha-kuasaanNya (Yohanes 6:36; 14:11; 10:25, 37-38; 15:24).
Karya Kristus adalah karya Ilahi. Ada pekerjaan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Yesus mengampuni dosa, menyatakan nama Ilahi, AKU ADA, dan mempraktekkan kuasa-kuasa kreatif yang hanya menjadi milik ke-Allahan Yesus adalah Maha Kuasa.

(c) Kemaha-tahuan (Yohanes 2:24-25; 18:4).
Yesus mengetahui semua manusia. Ia juga mengetahui semua yang ada didalam manusia. Dalam hal ke-AllahanNya, Ia mengetahui semuanya. Tak ada yang tersembunyi dari pemandanganNya.

(d) Tak berubah (Ibrani 1:12; 13:8).
Yesus Kristus sama kemarin, sekarang dan selama-lamanya. WatakNya, kasihNya dan kehidupanNya tidak pernah berubah.

(e) Self-eksistensi (Yohanes 8:58, Yohanes 1:4; 5:26).
Yesus memberikan kepada manusia kehidupan kekal dengan mengatakan bahwa hidup adalah di dalam diriNya. Ia yang memiliki Anak Allah mempunyai kehidupan kekal. Ini adalah atribut ke-Allahan (1 Yohanes 5:26). Yesus adalah Anak Allah yang kekal, Ia memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya kepada Bapa melalui Dia.

(f) Kekal (Wahyu 1:8; Yohanes 3:16; 5:26).
Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Ia memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya kepada Bapa melalui Dia.

(2) Atribut-Atribut Moral.

Atribut-atribut moral berikut juga dimanifestasikan dalam Anak Allah. Waktu menjadi Manusia, Ia tidak mengosongkan diriNya dari atribut-atribut moral ke-Allahan.
  1. Kekudusan (Markus 1:24, Wahyu 4:8, 1 Petrus 1:15-16).
  2. Kebenaran (1 Korintus 1:30, Yeremia 23:4-5, 1 Yohanes 2:1-2).
  3. Kasih (Yohanes 3:16, Galatia 2:20, 1 Yohanes 4:16-19).Yesus Kristus dimanifestasikan sebagai kasih yang sempurna. Ini meliputi kebaikan, kemurahan, kasih sayang dan kebaikan hati, semua ini adalah kualitas dari kasih Allah (Efesus 2:4-7, Titus 3:4-7).
  4. Kesetiaan (Yohanes 14:6), 1 Yohanes 5:20, Ibrani 2:17. Yesus Kristus adalah kesetiaan yang dipersonifikasikan.
Yesus dulu dan sekarang adalah Allah, memiliki atribut-atribut esensial dan moral ke-Allahan Ia memiliki atribut-atribut Allah karena Ia adalah Allah. Yesus sadar akan ke-Allahan dan ManusiaNya.

c. Kristus sebagai Allah menjadi Manusia yang tergantung.
Pengosongan diri Kristus sebagai Allah adalah di dalam fakta bahwa Ia merendahkan diriNya, dan dari rupa Allah, Ia memakaikan kepada diriNya rupa seorang hamba. Walaupun ia adalah Allah dan tak pernah berhenti sebagai Allah karena inkarnasi, Ia menjadi manusia yang tunduk,yang taat dan yang tergantung dari Bapa dalam melakukan atribut-atribut esensialNya. Dari kehendak bebasNya Ia menundukkan diriNya sebagai Manusia Allah kepada kehendak Allah di dalam ketergantungan sepenuhnya pada Roh Kudus.

Anak itu mengambil pada diriNya keterbatasan dari kemanusiaan yang sempurna dan melaksanakan penyerahan yang terus menerus dari kehendakNya. Ia tidak perlu menderita lapar, haus, keletihan, susah, penderitaan atau kematian, dan tidak pernah menggunakan prerogatifNya yang Ilahi untuk meringankan kelemah-lembutan kodrat manusia ini.

Perendahan diri ini tidak dipaksakan kepadaNya atau bertentangan dengan kehendakNya, tetapi kasih ke-Allahan yang kekal yang mengharuskan Dia untuk mengerjakan penebusan manusia yang telah jatuh. Kristus dengan senang hati melakukan kehendak Bapa (Mazmur 40:6-7, Ibrani 1:5-10).
Sebagai Manusia-Allah yang tunduk dan tergantung Ia mengatakan bahwa Ia tak dapat melakukan sesuatu apapun dari diriNya tetapi hanya yang diarahkan Bapa (Yohanes 5:30). Jadi Ia tidak pernah bertindak yang bertentangan dengan kehendak Bapa dan setiap pelaksanaan atau pengungkapan atribut esensial atau moral selalu bersesuaian dengan kehendak Bapa sebagai Manusia Allah yang sempurna, Ia sepenuhnya tergantung pada Roh Kudus atas semua yang Ia katakan dan lakukan. Ringkasannya:
  1. Dalam pengosongan diriNya Ia membuang kemuliaan, keagungan yang cemerlang pengungkapan luar dari ke-Allahan yang dimilikiNya bersama Bapa (Yohanes 17:5).
  2. Dalam pengosongan diriNya Ia membuang rupa Allah dan mengambil pada diriNya bentuk hamba, namun tak berhenti sebagai Allah. Ini Ia lakukan dalam kelahiran dari perawan (Yohanes 1:14, Filipi 2:6-8, 1 Petrus 1:16-18).
  3. Dalam pengosongan diriNya Ia mengajarkan apa yang hanya dikatakan BapaNya untuk dikatakan (Yohanes 5:30, 8:28, 35, 12:44-50).
  4. Dalam pengosongan diriNya Ia hanya melakukan apa yang ditunjukkan oleh BapaNya untuk dilakukan (Yohanes 5:36).
  5. Dalam pengosongan diriNya Ia mempraktekkan hanya otoritas yang diberikan Bapa kepadaNya (Yohanes 10:18).
  6. Dalam pengosongan diriNya Ia menjadi tergantung secara sukarela kepada urapan dan kuasa kemampuan dari Roh Kudus (Kisah 10:38, Lukas 4:14-18, Matius 12:36, Ibrani 9:14, Kisah 1:2).
  7. Dalam pengosongan diriNya Ia mengesampingkan pelaksanaan secara bebas atribut-atribut IlahiNya, dan hanya melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa. Ini adalah penempatan diri lebih rendah untuk maksud penebusan. Ia tidak pernah menggunakan sesuatu prerogatif IlahiNya untuk maksud kepentingan diri (Yohanes 14:28: 3:16; 10:18, 1 Korintus 11:3; 15:27-28).
Alasan untuk Inkarnasi.
Ada sembilan alasan akan inkarnasi dan semua mendapat penggenapan secara penuh di dalam oknum dan karya Kristus.

1. Untuk mengukuhkan perjanjian keselamatan yang diadakan pada nenek moyang.
Allah membuat janji perjanjian dengan para patriarkh: Adam, Nuh, Abraham, Isak dan Yakub. Perjanjian-perjanjian ini termasuk keselamatan Israel dan orang kafir melalui benih perempuan itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kristus datang dalam inkarnasi untuk menggenapi janji-janji yang diberikan kepada bapa-bapa ini (Roma 15:8-9, Matius 1:1, Yesaya 7:14; 9:69, Kejadian 3:15; 22:18, Mikha 5:1-2).

2. Untuk menggenapi hukum Taurat, Mazmur dan Nabi-nabi.
  • Hukum Taurat. Menggenapi Hukum Taurat secara Moral. Yesus datang untuk menggenapi tuntutan Hukum Taurat dan memuaskan tuntutan kekudusan Allah. Adalah perlu bagi seorang untuk menggenapi hukum Taurat sebelum Ia dapat menebus yang melanggarnya, manusia melanggar hukum Taurat dan berada di bawah penghukuman maut. Yesus adalah satu-satunya manusia yang pernah memelihara secara sempurna hukum Taurat Allah itu. Segi tipe dari hukum Taurat meliputi : pelayanan korban, keimanan, persembahan dan masa raya. Hukum upacara ini adalah tipe dari pelayanan keimanan dari Kristus Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat di dalam semua hal sampai yang terkecil di dalam oknum dan karyaNya sendiri. 
  • Mazmur.Banyak Mazmur adalah mesianik. Mazmur-mazmur ini menubuatkan penderitaan Kristus dan kemuliaan yang menyusul (1 Petrus 1:10-12). Kristus datang untuk menggenapi hal-hal ini.
  • Nabi-nabi. Hukum Taurat, Mazmur dan Nabi-nabi menunjuk kepada Kristus yang akan datang, Penebus yang akan datang. Mereka memberi tipe dan menubuatkan oknum dan karyaNya. Yesus secara khusus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi semua yang ada dalamnya (Matius 5:17-18, Lukas 16:16, Roma 2:21, Ibrani 10:5-8, Lukas 24:27, 44:16, Galatia 4:4-5, Mazmur 16:8-10, 22:1-8, 41:9-11).
3. Untuk memberikan Wahyu yang lengkap tentang Allah Bapa para orang suci, Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama hanya memberikan wahyu sebagian-sebagian tentang Allah dan tidak dapat memberikan wahyu yang penuh dan sempurna. Hanya Anak Allah, yang adalah Allah yang berinkarnasi yang dapat melakukan hal ini. Didalam Kristus Allah dipakaikan dengan daging manusia. Wahyu khusus dalam Perjanjian Baru adalah mengenai Bapa, Yesus Kristus adalah wahyu yang paling penuh dan jelas dari hubungan Bapa dan Anak yang dikehendaki Allah untuk dimasuki oleh mereka yang lahir baru (Yohanes 1:14-18; 14:9; 16:27, Matius 6:8, 5:45, Mazmur 103:13, Yohanes 3:1-5, Matius 11:27, 1 Yohanes 3:1-2).

4. Untuk menghancurkan pekerjaan dari iblis dan kerajaannya.
Kerajaan iblis adalah kerajaan gelap dan semua pekerjaannya datang dari alam itu. Dosa, penyakit, kesakitan, maut dan belenggu adalah karya dari iblis. Yesus datang untuk menghancurkan semuanya dan membawa manusia keluar dari kerajaan gelap ke dalam kerajaan terang (1 Yohanes 3:5, 8; Roma 13:12, Efesus 5:11, Ibrani 2:14-15, Yohanes 12:31; 14:30, Wahyu 20:10-15).

5. Untuk hidup dalam kehidupan manusia tanpa dosa secara sempurna Yesus datang supaya hidup dalam kehidupan yang sempurna dan tanpa dosa sebagaimana yang Allah kehendaki manusia ada di bumi ini, Adam jatuh dari kehidupan ini, tetapi Yesus hidup dalamnya. Walaupun para penulis Alkitab memberikan ajaran yang tak mungkin salah dalam inspirasi Roh, namun tak seorangpun dari mereka yang tidak salah di dalam watak, hanya Yesus sendiri yang tidak berdosa, tak ada ketidak sempurnaan di dalam watakNya. Ia tidak mempunyai kodrat manusia yang jatuh atau yang duniawi. Oleh sebab itu Ialah satu-satunya manusia teladan kita yang sempurna (1 Yohanes 2:6, 1 Petrus 2:21, Matius 11:29).

6. Untuk menanggalkan dosa oleh pengorbanan diriNya.
Upah dosa adalah maut dan satu-satunya jalan untuk menanganinya adalah kematian korban. Waktu Adam jatuh, Allah memperkenalkan sebagai Imam Raja Yesus menggabungkan di dalam diriNya apa yang dinyatakan di dalam orde Melkisedek (2 Timotius 4:18, Yeremia 23:5-6, Kejadian 14:18-19, Ibrani 7:1-29, Zakaria 6:12; 3:8, Ibrani 1:8, Lukas 1:30-33, Kejadian 17:6, 16; 49:9-10, Yesaya 11:1, 9:6-9, Bilangan 24:17, Matius 2:2, Yohanes 1:49, 1 Timotius 1:17; 6:5). Yesus Kristus menggabungkan di dalam diriNya semua jabatan Perjanjian Lama sebagai Hakim, Kristus adalah Juru Selamat bagi Allah dan Pelepas kita. Sebagai Nabi, Kristus adalah Firman Allah bagi kita, sebagai Imam, Kristus adalah Mediator Pembela dan Perantara Allah sebagai Raja, Kristus adalah pemerintah Allah dan Kekuasaan atas kita.

7. Untuk menjadikan Perjanjian Baru berjalan.
Kristus datang untuk menggenapi di dalam diriNya semua ucapan di Perjanjian Lama termasuk semua perjanjian. Ia datang untuk menjadikan Perjanjian Baru sebagaimana yang dinubuatkan Yeremia itu berlaku. Hanya berdasarkan kematian dari pewasiatlah janji-janji berkat Perjanjian Baru dapat berjalan dan dapat diperoleh oleh seisi dunia (Yeremia 31:31-34; Ibrani 8; Matius 26:26-28). Perjanjian Baru adalah penggenapan dari semua perjanjian sebelumnya dan membawa manusia yang ditebus kepada maksud dari perjanjian yang diadakan dalam sidang ke-Allahan di kekekalan sebelum dosa mlai (Ibrani 13:20).

8. Untuk menggenapi semua jabatan Perjanjian Lama.
Ada empat jabatan utama Perjanjian Lama yang membayangkan pelayanan Kristus yang untuk itu Ia datang untuk menggenapinya.

a. Jabatan Hakim.
Hakim adalah pelepas dan penyelamat umat Allah, Israel. Masing-masing dari mereka dalam jabatannya adalah tipe dan membayangkan pada Kristus sebagai Hakim, Pelepas dan Juru Selamat. Fungsi utama mereka adalah untuk melepaskan Israel dari belenggu perbudakan dan penindasan dari musuh mereka dan membawa mereka kembali kepada hubungan mereka dengan Tuhan Allah. Ini juga sebagai pelayanan Kristus kepada umatNya (Hakim 2:14, Nehemia 9:27, Yohanes 5:19-20, Kisah 17:31, Yesaya 33:22, Wahyu 20:11-15, Kisah 5:31). Injil Yohanes secara khusus menyajikan Kristus sebagai Hakim dan Juru Selamat.

b. Jabatan Nabi.
Musa secara khusus membayangkan Kristus sebagai Nabi, Firman Allah kepada manusia. Nabi-nabi Israel adalah juru bicara Allah untuk umatNya. Mereka datang dari Allah dan mewakili Allah pada manusia. Dengan demikian mereka membayangkan sebelumnya Kristus yang datang dari Allah, dan mewakili Allah pada manusia, menjadi Firman yang terakhir, wahyu yang sempurna dari Allah kepada manusia (Yohanes 1:17-18, Lukas 10:16, Ibrani 1:1-2, Kisah 2:22-23; 7:37, Lukas 13:33, Matius 13:57, Ibrani 12:25, Yohanes 6:14, 7:40, Lukas 7:16, Keluaran 4:14-16, 17:1, Ulangan 18:15-18). Kristus adalah Guru yang tidak dapat salah dan Nabi Allah. Injil Markus terutama menyajikan Kristus sebagai Nabi.

c. Jabatan Imam.
Bila nabi mewakili Allah kepada manusia, imam mewakili manusia kepada Allah. Harun Imam Besar dan semua imam yang sesudahnya dalam jabaan mereka menjadi tipe dari Kristus dalam jabatan ini. Kualifikasi, pengurapan dan pentahbisan imam pada jabatan mereka menjadi tipe dari Kristus sebagai Imam Besar kita dalam fungsiNya. Ia imam bukan menurut “orde Harun” tetapi menurut “orde Melkisedek” (Imamat 21:16-24, Keluaran 28-29, Imamat 8:23-26, Ibrani 1:9, Zakharia 6:12-13, 1 Samuel 2:27-35). Gereja juga disebut sebagai mengikuti orde Melkisedek (1 Petrus 2:5-8, Wahyu 1:6, 5:9-10). Jabatan ini secara vital dihubungkan dengan sistim korban persembahan karena dosa. Kristus sebagai Imam Besar, dengan mempersembahkan diriNya menggabungkan yang mempersembahkan dan persembahan di dalam seorang oknum. Ialah pendamaian, Pembela, Perantara, Imam Besar untuk dosa-dosa manusia (Ibrani 2:10, 17-18, 4:15-16, 5:1-5, 1 Timotius 2:5, Yesaya 53:10-13, Yohanes 1:29, 36; 1 Yohanes 2:1-2, Mazmur 110:4).

Kristus sebagai Imam di bumi mempersembahkan di mezbah Kalvari tubuhNya dan darahNya sendiri sebagai korban yang tertinggi untuk dosa. Kristus sebagai imam di Sorga mengadakan perantaraan di mezbah sorgawi bagi umatNya sendiri. Ini adalah berdasar paa kebangkitan dan kenaikanNya dan menggenapi yang ditipekan pada upacara Hari Pendamaian besar sebagaimana diatur di Imamat 16 (Ibrani 7:26-27, Roma 3:25, Ibrani 8:1-2, 9:24, Roma 8:34). Injil Lukas terutama menyajikan Kristus sebagai Imam kita.

d. Jabatan Raja.
Raja-raja Israel dan Yehuda, walaupun tidak sempurna di dalam karakter dan perbuatan, membayangkan Tuhan Yesus Kristus yang akan menjadi Raja segala raja dan Tuhan semua tuan, Anak Daud. Inkarnasi juga untuk menggenapi Perjanjian Daud yang menjanjikan Mesias Raja menjadi pemerintah yang tertinggi dari dunia (Mazmur 89, Mazmur 2, Mazmur 45, Mazmur 72, Mazmur 110, Yohanes 18:26, 2 Samuel 7:8-17, Wahyu 15:3, 19:16). Injil Matius terutama menyajikan Kristus sebagai Raja.

Sebagai Imam-Raja Yesus menggabungkan di dalam diriNya apa yang dinyatakan di dalam orde Melkisedek (2 Timotius 4:18, Yeremia 23:5-6, Kejadian 14:18-19, Ibrani 7:1-29, Zakharia 6:12, 3:8, Lukas 1:30-33, Kejadian 17:6, 16, 49:9-10, Yesaya 11:1, 9:6-9, Bilangan 24:14, Matius 2:2, Yohanes 1:49, 1 Timotius 1:17, 6:5).

Yesus Kristus menggabungkan di dalam diriNya semua jabatan Perjanjian Lama. Sebagai Hakim, Kristus adalah Juru Selamat bagi Allah dan Pelepas bagi kita. Sebagai Nabi, Kristus adalah Firman Allah bagi kita. Sebagai Imam Kristus adalah Mediator, Pembela dan Perantara Allah. Sebagai Raja Kristus adalah Pemerintah Allah dan kekuasaan atas kita.

9. Untuk menyempurnakan rencana Penebusan pada kedatanganNya kedua kali.
Kedatangan Pertama Kristus oleh inkarnasi hanya merupakan persiapan untuk kedatangan kedua dari Kristus. Kedatangan pertama dan semua yang tercakup dalam rencana penebusan membuat jalan bagi yang kedua kali. Kedatangan yang pertama adalah pembukaan dari rencana penebusan dan kedatangan yang kedua adalah penyempurnaan dari hal itu. Dalam kedatangan pertama kita diselamatkan dari rasa salah dan hukuman dosa dan dalam kedatangan kedua kita akan ditebus sepenuhnya dari kuasa dan kehadiran dosa, kedatangan kedua menyelesaikan apa yang dimulaikan pada kedatangan pertama, masing-masing tidak lengkap tanpa yang lainnya (Daniel 9:24-27, Roma 8:18-25, Ibrani 9:27-28, Filipi 3:21, 1 Korintus 15:25-28, 1 Tesalonika 4:15-18).
 
KE-ALLAHAN KRISTUS.

Sebagaimana yang dicatat sebelumnya, bidat-bidat mengenai ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus muncul pada abad-abad permulaan dalam sejarah Gereja Bandul bergoyang balik dan kembali dalam keestrimannya. Tetapi, lebih banyak penolakan ke-AllahanNya dari pada atas kemanusiaanNya, ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus perlu dipertahankan dalam keseimbangan yang sebaik-baiknya, sebagaimana yang disaksikan oleh para penulis Perjanjian Baru, utnuk menghindari bidat.

Yang berikut adalah ayat-ayat Kitab Suci yang mengukuhkan ke-Allahan Kristus bukti yang terkuat bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yaitu atribut-atribut Ilahi, nama-nama Ilahi, karya-karya Ilahi, penyembahan Ilahi, hak-hak Ilahi dan hubungan Ilahi yang dianggap berasal dari Dia.

A. Atribut-atribut Ilahi yang dianggap dari Dia.

1. Atribut-atribut Esensial.

a. Kekekalan wujud.
Keputraan Kristus adalah keputraan yang kekal dalam ke-Allahan yang kekal. NamaNya Aku ADA dan mengungkapkan kekekalan wujud. Yesus tahu bahwa Ia ada sebelumnya bersama Bapa dan Ia datang dari Sorga (Yohanes 1:1-3, Amsal 30:4, Roma 1:20, Yohanes 17:3-5, Matius 3:11, 16:16, Ibrani 7:1-4, Yesaya 7:14, 9:6-9, Amsal 8:23-31, Wahyu 1:8,11, Yohanes 6:33,41,50,51,62, 8:56-58, Keluaran 3:14, Mikha 5:2).

b. Pra-eksistensi dari wujud.
Yesus sendiri menyaksikan untuk pra-eksistensiNya. Ia tahu bahwa Ia ada dipangkuan Bapa, kekekalan wujud meliputi pra-eksistensi wujud. Yesus telah ada sebelum Ia lahir dari perawan Maria (Yohanes 1:1-3, 27, 30, 16:26-28, 17:1-5, Lukas 12:49-51, Matius 10:40, Amsal 8:13-36, Yohanes 6:38-57, 8:28, 38, 58, Markus 1:38, Mikha 5:2).

c. Self-eksistensi.
Anak ada bersama Bapa dan Roh Kudus, Anak adalah sumber kehidupan dan mempunyai kuasa untuk memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya. Ia hidup dalam kuasa dari kehidupan tanpa akhir, bahasa sedemikian hanya dapat diaplikasikan kepada ke-Allahan, kepada Allah yang self-eksten (berada sendiri) (Yohanes 1:4, 5:21-26, 14:16, Ibrani 7:16, 1 Yohanes 5:11-12).

d. Ke-Allahan. Kesaksian Alkitab menyaksikan ke-Allahan Kristus.
  1. Ia ada pada permulaan sebagai Firman, sebagai Allah (Yohanes 1:1, Filipi 2:6, Wahyu 19:13).
  2. Ia bersama Allah, Bapa (Yohanes 1:1).
  3. Ialah Allah, Anak (Yohanes 1:1, Roma 9:5, Ibrani 1:8,10, 1 Yohanes 5:20, Titus 2:13).
  4. Ia adalah Allah yang dimanifestasikan di dalam daging (Yohanes 20:28, 1 Timotius 3:16, Kolose 2:9, 1:19, Kisah 20:28, Ibrani 1:8).
  5. Ialah Allah yang berkuasa (Yesaya 9:6, Mazmur 45:6).
  6. Ialah Imanuel, Allah beserta kita (Yesaya 7:14, Matius 1:23).
  7. Ialah Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:14-18).
  8. Ialah Allah yang benar (1 Yohanes 5:20, Titus 2:13, Roma 9:5).
  9. Ialah Allah yang besar (Titus 2:13).
  10. Ialah Allah dan Juru Selamat kita (2 Petrus 1:1).
  11. Ia ada dalam rupa Allah sebelum inkarnasiNya dan sama dengan Allah Bapa (Filipi 2:5-7).
  12. Ialah satu-satunya Allah yang bijaksana (Yudas 25).
e. Kemaha-kuasaan.
Anak adalah Maha Kuasa, Ia adalah pencipta dan memelihara alam semesta (Kolose 1:17; Efesus 3:9; Ibrani 1:10; Wahyu 3:14; Yohanes 1:3, 10; 1 Korintus 8:6).
  1. Ia mempunyai kuasa di Sorga (Matius 28:18).
  2. Ia mempunyai semua kekuasaan di bumi (Yohanes 17:2).
  3. Ia mempunyai kuasa atas semua alam (Matius 8:23-27).
  4. Ia mempunyai kuasa atas semua pasukan iblis (Lukas 4:35-41).
  5. Ia mempunyai kuasa atas semua rombongan malaikat (1 Petrus 3:22; Efesus 1:20-22).
  6. Ia mempunyai kuasa atas segala sesuatu (Ibrani 1:3).
f. Kemaha-tahuan.
Anak serba mengetahui karena ke-AllahanNya, tak ada yang tersembunyi dari pemandanganNya (Yohanes 16:30; 2:24-25; Kolose 2:3; Yohanes 14:16-19; 21:17; Ibrani 4:12-13; Wahyu 2:23).

g. Kemaha-hadiran.
Anak itu hadir dimana saja pada setiap waktu. Karena atribut ini Ia sanggup berhimpun dengan umatNya dimana saja mereka berhimpun dalam namaNya (Matius 18:20; Yohanes 3:13; Efesus 1:23; 1 Korintus 1:2; 54). Karena alasan ini Ia dapat berkata bahwa Ia ada di Sorga dan juga di bumi.

h. Tak berubah.
Anak itu tak dapat berubah dan sama kemarin, hari ini dan selama-lamanya dalam hal watakNya dan atributNya (Ibrani 1:12; 13:8; Mazmur 102:26-32; Maleakhi 3:6).

i. Tak dapat salah.
Anak itu tak dapat salah, yaitu tidak dapat keliru atau berbuat salah, hanya ke-Allahan yang tak dapat salah. Semua manusia dapat berbuat salah. Ia tak pernah mengatakan yang salah atau keliru, karena perkataanNya adalah perkataan Bapa (Yohanes 12:44-50; 14:6). Ialah kebenaran.

j. Kedaulatan.
Setiap lutut akan bertelut pada Anak Allah dan mengakui ke-TuhananNya, yaitu mengakui ke-AllahanNya (Filipi 2:8-11, Yesaya 9:6; Wahyu 19:16; Matius 25:31-46). Ialah Raja segala raja dan Tuhan semua tuhan.

2. Atribut Moral.

a. Kekudusan yang sempurna.
Anak Allah adalah kekudusan yang dipersonifikasikan Ialah satu-satunya oknum yang kudus yang pernah berjalan di bumi ini (Lukas 4:34; Kisah 4:27-30; 1 Petrus 2:22). (Ini ditangani secara lebih penuh di ketidak-berdosaan Kristus).

b. Kebenaran yang sempurna.
Anak Allah adalah Tuhan kebenaran kita Yehoyah Tsidkenu. Ini hanya dapat diterapkan kepada ke-Allahan (Yeremia 23:5-6; 1 Korintus 1:30; Ibrani 1:9; 1 Petrus 2:22).

c. Kasih yang sempurna.
Anak Allah adalah kasih yang sempurna. Inilah kodrat dan watak yang sesungguhnya dari ke-Allahan. Manusia dapat mempunyai kasih, tetapi Allah adalah kasih (Yohanes 15:9-10, 1 Yohanes 3:16, 4:7-8, 15-16). Ini meliputi kualitas belas kasihan, kasih karunia, rasa kasihan dan kebaikan.

d. Kesetiaan yang sempurna. Anak Allah setia secara sempurna (Wahyu 1:5).

B. Nama-nama Ilahi yang diterapkan kepadaNya.

1. Ialah Bapa yang kekal atau Bapa kekekalan (Yesaya 9:6).
2. Ia dinamakan Tuhan (Yoel 2:32; Kisah 2:21; Roma 10:13; Kisah 9:17).

Adalah suatu penghujatan bila menyebut manusia “Tuhan” menurut pemikiran Yunani, karena ini adalah nama ke Allahan.

  • Ialah Tuhan semesta alam (Yesaya 8:13-14; 1 Petrus 5:15, 1:7-8).
  • Ialah Tuhan kebenaran kita (Yeremia 23:5-6).
  • Ialah Tuhan (Matius 22:43-45; Mazmur 110:1; Lukas 2:11).
  • Ialah Tuhan Yesus Kristus (Kisah 2:34-37; Lukas 2:11).
3. Ia dinamakan Yehovah (Kejadian 19:24; Hosea 1:7; Zakharia 12:10; Mazmur 83:18; Yesaya 12:2).

4. Ialah Alfa dan Omega (Wahyu 1:7,8,11; 22:13, 16).

5. Ialah yang Awal dan yang Akhir (Yesaya 44:6; 41:4; 48:12; Wahyu 1:17-18).

6. Ialah Firman yang kekal (Yohanes 1:1,4; Wahyu 19:13; Ibrani 1:1-2).

7. Ialah AKU ADA (Keluaran 3:14-15; Yohanes 8:56-58; Imamat 24:12-16). (Perhatikanlah semua AKU ADA dari Yesus di Injil Yohanes).

Adalah suatu penghujatan menggunakan nama ke Allahan ini kecuali bila Yesus adalah Allah.

8. Ialah akar dan keturunan Daud.
Ialah anak Daud dan Tuhannya Daud, karena pra-eksistensi, ke Allahan dan inkarnasi. Ialah akar dan Tuhan karena ke AllahanNya. Ialah keturunan dan Anak, karena kemanusianNya (Wahyu 22:16; Matius 9:27; 22:41-46).

9. Ialah Malaikat Yehovah (menunjuk kepada Teofani Perjanjian Lama atau Kristofani). (Kejadian 16:7-14; 22:11-18; 31:11-13; Keluaran 3:1-5; 14:19; Hakim 6:11-23; 13:2-25; 1 Tawarikh 21:1-27; Bilangan 22:22-35; 1 Raja-raja 19:5-7; 2 Raja-raja 19:35; Zakharia 1:11; 6:12-15). Orang Ibrani mengenai manifestasi ini sebagai manifestasi dari ke Allahan.

10. Ialah Anak Allah, keputraan ini adalah keputraan yang kekal, dan diakui oleh semua kalangan.

  • Oleh Allah Bapa (Kisah 13:33, Ibrani 1:5; Matius 17:5).
  • Oleh roh-roh iblis (Matius 8:29).
  • Oleh malaikat Gabriel (Lukas 1:35).
  • Oleh rasul-rasul (Matius 16:16-17, Roma 1:1-3).
  • Oleh Tuhan sendiri (Markus 1:61-62, 17; Lukas 22:70; Yohanes 5:25; 11;4; Mazmur 2:7; Amsal 30:4; Yesaya 7:14; 9:6-9).
11. Ialah yang Kudus Allah (Markus 1:24).

12. Ialah kebenaran (Yohanes 14:6). Ia berbicara kebenaran, Ia adalah kebenaran (lampau dan kini). Ialah kebenaran yang dipersonifikasikan.

C. Karya-karya Ilahi yang dipertalikan kepadaNya.

Karya-karya Ilahi yang dilakukan oleh Anak Allah (Yohanes 14:11; 10:37; 5:36).
  1. Ialah pencipta alam semesta (Ibrani 1:3; Kejadian 1:1-5; Yohanes 1:1-4,10; Ibrani 1:10; Kolose 1:16-17).
  2. Ialah pencipta malaikat dan manusia (Kejadian 1:26; Amsal 8:30; Kolose 1:16-17).Ia mengampuni dosa (Kisah 5:31; Lukas 5:21-24; Matius 9:6; Markus 2:5-7; Kolose 3:13). Adalah hak prerogatif Allah, pengampunan dosa, karena semua dosa, terutama melawan Allah sendiri (Mazmur 51:4).Ia membangkitkan orang mati dan akan mengubah tubuh yang buruk orang percaya waktu kedatanganNya karena siapa Ia (Yohanes 5:28-29; 11:25; Filipi 3:21; 2 Timotius 4:1).Ia akan menghakimi seluruh dunia di dalam kebenaran. Semua penghakiman telah diberikan kepadaNya oleh Bapa. Ia hanya dapat menghakimi keseluruh dunia dalam keadilan yang sempurna karena atribut Ilahi (Yohanes 5:22-29; Kisah 17:31; 2 Korintus 5:10; 2 Timotius 4:1; Matius 25:31-46). 
  3. Ia menegakkan dan memelihara alam semesta oleh FirmanNya yang berkuasa (Ibrani 1:3; Kolose 1:17).
  4. Ialah pemberi kehidupan kekal kepada semua yang percaya kepada Bapa melalui Dia Sendiri (Yohanes 10:28; 17:2).
  5. Ia akan mengadakan pembaharuan langit dan bumi (Ibrani 1:10-12; Wahyu 21:5; Matius 19:28).
D. Penyembahan Ilahi Yang Diberikan KepadaNya.

Penyembahan Ilahi diberikan kepada dan diterima oleh Yesus tidak pernah menolak penyembahan sedemikian. Ini sangat bertentangan dengan manusia Allah lainnya yang secara mutlak menolak penyembahan dari manusia lainnya, seperti yang dilakukan pada malaikat terpilih. Hanya manusia penyembah diri yang menerima penyembahan orang lain seperti terlihat pada kaisar-kaisar Roma (Kisah 10:26, 14:15; Wahyu 22:9). Menyembah Yesus sebagai Allah akan merupakan penghujatan dan penyembahan berhala jika Ia bukan Allah, dengan demikian bila Yesus menerima penyembahan yang hanya menjadi milik Allah BapaNya maka itu akan merupakan perampokan, penghujatan dan penyembahan berhala.
  1. Ia disembah malaikat (Ibrani 1:6; Yesaya 6:1-5; Wahyu 5:12-14).
  2. Ia disembah manusia (Matius 8:2, 15:25-28, 28:17; Lukas 24:51-52; Kisah 1:24, 7:59-60; 1 Tesalonika 3:11; Yohanes 9:38; Filipi 2:9-11; Mazmur 45:11; 1 Korintus 1:2).
  3. Ia disembah oleh semua mahluk (Wahyu 5:13).
  4. Ia menerima doa sebagaimana berdoa kepada Allah (Kisah 1:24, 7:59-60). 
  5. Ia dihormati secara sama dengan Allah Bapa (Yohanes 5:23; Wahyu 1:5-6; Ibrani 1:6-8).
E. Klaim Ilahi Yang Dibuat OlehNya.

Yesus membuat klaim (tuntutan) yang seharusnya hanya dibuat oleh Allah. Sekiranya klaim ini sebenarnya tidak demikian, maka Yesus menipu diri atau sebagai pembohong dan penipu yang lihai.
  1. Ia mengklaim bahwa Ia satu dengan Allah (Yohanes 10:30, 38; 5:23; 14:10).
  2. Ia mengklaim Allah sebagai BapaNya (Lukas 2:41-52; Matius 12:48; Markus 3:33-34). Ia tidak pernah mengakui Yusuf sebagai bapaNya. 
  3. Ia mengklaim Ia mengasihi sebagaimana Bapa mengasihi (Matius 10:37-38; Lukas 14:26).
  4. Ia mengklaim sebagai AKU ADA, yang menunjukkan eksistensi yang kekal (Yohanes 8:56-58; 18:1-5 dengan Keluaran 3:14-15). 
  5. Ia mengklaim Keputeraan Ilahi, menjadikan Dia sendiri Allah (Yohanes 5:25; 11:4; Markus 12:6; Amsal 30:4).
F. Hubungan Ilahi Yang Dikatakan OlehNya.

Anak dihubungkan dengan Bapa dan Roh Kudus dalam hubungan perjanjian di kekalan dan di dalam waktu, hal ini tidak dapat terjadi kecuali bila Anak adalah Ilahi, bersama-sama dalam ke-Allahan.
  1. Baptisan dilaksanakan di dalam nama Tritunggal Allah, dimana Anak dilibatkan di pusat. (Matius 28:18-20; Kisah 2:34-36).
  2. Berkat Apostolik meliputi ke-Allahan kekal, dimana Anak merupakan wahyu dari kasih karunia Allah (2 Korintus 13:13). 
  3. Baca juga Yohanes 14:1,6; 10:28-30; 17:5,17,18; Matius 11:27; Kolose 1:19; 2:9; 1 Korintus 8:6; Efesus 4:8-10; 1 Timotius 1:15-16; Yohanes 14:1,6; 10:28-30; 17:21; 5:17-18; Matius 11:27; Kolose 1:19; 2:9; 1 Korintus 8:6; Efesus 4:8-10; 1 Timotius 1:15-16; Yohanes 14:9; Kolose 1:15; 1 Yohanes 2:23; 1 Tesalonika 3:11; 1 Korintus 12:4-6; Lukas 22:29; Mazmur 2:7; 45:6-7; 110:1-4; Yesaya 53:10-11).
Tidaklah mungkin untuk menyangkal atau menolak kebenaran tentang ke-Allahan Anak Allah dalam terang ayat-ayat Kitab Suci ini bagi Yesus, menerima klaim-klaim, penyembahan, nama-nama dan karya seperti yang dianggap berasal dari Dia atau yang dipertalikan kepadaNya, sekiranya Ia yang pernah membuat klaim sedemikian atau yang menerima penyembahan yang berdosa secara lancang dan layak untuk mati, tetapi Yesus menerima dan mendemonstrasikan klaim ke-Allahan. Yesus Anak Allah sesungguhnya Allah, Allah yang memanifestasi didalam daging orang percaya yang benar hanya dapat berucap bersama Thomas “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yohanes 20:28 dengan Yesaya 25:9).

KEMANUSIAAN KRISTUS.

Kitab Suci menyajikan Kristus yang berinkarnasi sebagai mempunyai dua kodrat Ia adalah Allah dan manusia namun satu oknum. Besarkan rahasia ke Allahan ini, Allah dimanifestasikan di dalam daging (1 Timotius 3:16; Kolose 2:2-3). Dalam bagian ini kita akan mempertimbangkan bukti dari kemanusiaan Kristus yang sempurna dan tanpa dosa, dan teladan Nya yang agung kepada semua orang percaya.

A. Kemanusiaan Kristus.

1. Ia punya kelahiran manusia.
  1. Dalam hal kemanusiaanNya, ia lahir dari perempuan (Matius 1:18-23, 2:11; Lukas 1:30-33; Galatia 4:4). Perawan Maria adalah yang terpilih untuk menjadi ibu kemanusiaan Kristus.
  2. Ia dikatakan sebagai benih Daud secara manusia (Roma 1:3; Matius 1:1).
  3. Ialah Benih Perempuan yang dijanjikan (Kejadian 3:15; Matius 1:23; Yesaya 7:14).
  4. Ia datang dari bangsa Israel secara manusia (Roma 9:5).
  5. Ia dikenal sebagai Anak Daud (Matius 15:22; Kisah 13:22-23; Ibrani 7:14). SilsilahNya dapat ditelusuri melalui IbuNya kembali pada Daud Raja Israel.
  6. Ia adalah Firman yang dibuat dan dimanifestasikan secara manusia (Yohanes 1:14; Roma 1:3; 1 Timotius 3:16).
2. Ia mempunyai nenek moyang manusia.

Silsilah Kristus secara daging ditelusuri kembali pada Daud dan Adam di Injil Lukas melalui IbuNya Maria, dan kembali pada Daud dan Abraham di Injil Matius melalui yang dianggap BapaNya Yusuf (Lukas 3:23-38; Matius1:1-17).

Tetapi walaupun orang lain mengatakan BapaNya secara manusia, Ia sungguh mengklaim bahwa Allah adalah BapaNya, dan mengakui Maria sebagai IbuNya (Lukas 3:23, 4:22; Matius 13:55-56; Yohanes 1:45, 6:42). Sejauh dalam hal orang Yahudi dimana Yesus yang dimaksudkan. Ia sesungguhnya adalah manusia, yang dari daging dan darah seperti manusia lainnya. Ia bukan momok atau hantu tetapi manusia yang sebenarnya.

3. Ia Mempunyai nama-nama Manusia dan Gelar-gelar yang diberikan kepadaNya.
  1. Ia dinamakan manusia sebelum kelahiranNya oleh malaikat Gabriel, kepada Maria dan juga Yusuf (Matius 1:21-23).
  2. Ia disebut Anak Daud (Matius 1:1, 9:27, 20:30-33).
  3. Ia disebut Anak Abraham (Matius 1:1).
  4. Ia disebut Anak Manusia lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru (Matius 16:28, 26:64-65; Kisah 7:56; Wahyu 1:13, 14:4).
  5. Ia dinamakan Mediator, manusia Kristus Yesus (1 Timotius 2:5).
  6. Ia digelar orang Yahudi menurut kebangsaanNya (Yohanes 4:9, 8:57).
  7. Ia digelar Adam yang terakhir (1 Korintus 15:45-47).
  8. Ia digelarkan Manusia (Yohanes 8:40, 1:30; Kisah 2:22; Filipi 2:8; 1 Korintus 15:21, 47).
  9. Ia masih sebagai manusia di Sorga walaupun kini telah dimuliakan (Yakobus 20:15; 1 Timotius 2:5; Kisah 17:31).
  10. Ia akan datang sebagai Anak Manusia pada kedua kalinya untuk menghakimi dunia (Matius 16:27-28, 25:31, 26:64-65).
4. Ia Mempunyai Kodrat Manusia Yang Lengkap.

Anak Allah mempunyai semua yang essensial dari kodrat manusia sebagaimana yang diciptakan Allah pada permulaannya. Yesus adalah manusia yang lengkap yang mempunyai roh, jiwa dan tubuh (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 4:12). Kebenaran ini membuktikan kesalahan bidat Apollinarianisme yang menolak kemanusiaan Kristus (1 Yohanes 4:3).
  1. Yesus mempunyai roh manusia (Lukas 23:46; Markus 2:8, 8:12; Yohanes 13:21).
  2. Yesus mempunyai jiwa (Matius 26:38; Lukas 23:43; Yohanes 12:27; Kisah 2:27; Yesaya 53:10; Markus 14:34). Ini meliputi pikiran, kehendak dan emosi (1 Yohanes 1:1-2).
  3. Yesus mempunyai tubuh manusia dari daging, tulang dan darah (Ibrani 2:14; Yohanes 1:14; Matius 26:12; Lukas 22:19; Yohanes 2:21; Lukas 23:52-56; Ibrani 10:5,10). Sesudah kebangkitanNya, Ia mempunyai tubuh daging dan tulang (Lukas 24:39). Dalam tubuh manusiaNya Ia terbatas secara lokal dan geografis, dan terbatas oleh kelemahan tanpa dosa.
5. Ia Mengalami Perkembangan Secara Manusia.

Dalam hal kemanusiaanNya, Yesus bertumbuh dan berkembang secara normal dan alamiah seperti manusia lainnya. Ini terlihat dalam referensi berikut.
  1. Ia bertumbuh sebagai seorang anak (Lukas 2:40).
  2. Ia bertumbuh dalam hikmat dan semakin besar (Lukas 2:52).
  3. Ia belajar kepada Tuhan dari hal-hal yang Ia deritakan (Ibrani 5:8).
  4. Ia bekerja keras sebagai manusia mengikuti pekerjaan Yusuf sebagai tukang kayu (Markus 6:3; Lukas 3:23).
  5. Ia menderitakan keterbatasan manusia (Ibrani 2:10).
  6. Ia mengalami pencobaan manusia (Matius 4:1-11; Ibrani 2:18; Markus 1:55; Lukas 22:28; Ibrani 4:15).
  7. Ia belajar untuk hidup tergantung pada Bapa dengan terus berdoa (Matius 14:23; Ibrani 5:7; Lukas 6:12, 22:39-46). Ada sekitar 25 referensi Yesus berdoa di Perjanjian Baru.
  8. Ia belajar bergantung pada Bapa dan kuasa Roh Kudus terus menerus, Ia tidak dapat mengatakan atau melakukan sesuatu dari DiriNya tetapi hanya apa yang diberikan kepadaNya (Mazmur 1:35; Yohanes 6:1; Kisah 1:2; Ibrani 9:14; Kisah 10:38; Ibrani 5:7).
  9. Ia adalah manusia yang diperkenalkan Allah (Kisah 2:22).
  10. Ia terbatas dalam pengetahuan manusia (Matius 24:36; Markus 13:32; Lukas 7:9).
  11. Ia menginginkan simpati manusia di Taman (Matius 26:36-40).
6. Ia Mempunyai Kelemahan Yang Tak Berdosa Karena Kodrat Manusia.

Sebagai Kristus menderitakn keterbatasan dan kelemahan kodrat manusia yang tidak berdosa di dalamnya, namun bagian dari nasib manusia sejak kejatuhan. Tuhan manusia yang dimuliakan nanti tidak akan mempunyai kelemahan tanpa dosa ini (Filipi 3:20-21).
  1. Yesus menjadi letih (Yohanes 4:6).
  2. Yesus mempunyai nafsu makan yang normal dan lapar (Matius 4:2, 21:18).
  3. Yesus juga haus (Yohanes 4:7, 19:28).
  4. Ia juga menikmati tidur secara alamiah (Matius 8:24).
  5. Ia terbatas dalam pengetahuan manusia (Markus 11:13; 13:32; 5:32; 5:30-34; Yohanes 11:34).
  6. Ia masygul hatiNya (Yohanes 11:33).
  7. Ia menangisi umat (Yohanes 11:35; Matius 23:37; 26:38).
  8. Ia perlu dikuatkan karena penderitaan disalib oleh malaikat (Lukas 22:43).
7. Ia Menderita Kemanusiaan Manusia.
Kematian telah menjadi milik manusia sejak kejatuhan di Eden. Waktu Yesus menderitakan dosa kita kepada diriNya pada tubuhNya sendiri di kayu itu, Ia menderitakan upah dosa, yaitu maut (1 Petrus 2:24; Kejadian 2:17; Ibrani 9:17; Ibrani 9:17; Lukas 23:33; Ibrani 2:29). KematianNya adalah maksud yang tertinggi dan inkarnasi yang akan diikuti kebangkitanNya.

8. Ia Mengalami Kebangkitan Manusia.
Ia dibangkitkan dari orang mati dan masih memiliki tubuh yang lahir dari perawan, disalibkan, dikuburkan, dibangkitkan dan kini telah dimuliakan. Tubuh Yesus adalah tanpa dosa, kekal dan tak dapat rusak. Ia mengorbankan kehidupanNya, seperti yang diperintahkan Bapa kepadaNya (Lukas 23:39; Yohanes 20:27; Kisah 7:55-56). KebangkitanNya sebagai manusia adalah sebagai contoh dari semua kebangkitan lainnya. Dalam kenaikanNya, Ia telah membawa kemanusiaan di dalam ke-AllahanNya. Ia tetap manusia Yesus Kristus dalam kedudukanNya yang dimuliakan di tahta di ketinggian (1 Timotius 2:5; Ibrani 8:1-5).

Kemanusiaan Kristus adalah fakta yang tak dapat dibantah. Yesus, Anak Allah yang kekal menjadi Anak Manusia. Ia adalah ke-Allahan dan kemanusiaan yang dipersatukan dalam satu oknum. KelahiranNya sebagai manusia, silsilah, nama-nama gelar, keterbatasan, penderitaan, kematian dan kebangkitanNya semua membuktikan realitas kemanusianNya secara penuh dan lengkap. Manusia yang sama ini yang sekarang telah dimuliakan dan bila Ia datang kembali nanti pada kali yang kedua adalah “Yesus yang sama” yang akan datang dalam cara yang sama seperti waktu Ia pergi ke Sorga (Kisah 1:11).

B. Ketidak-berdosaan Kristus.

Bahwa Kristus mempunyai kemanusiaan yang tanpa dosa secara sempurna dan tak dapat rusak merupakan kesaksian Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Adalah penting bahwa Kritus itu tanpa dosa yaitu supaya menjadi Juruselamat dunia. Sekiranya Ia bukan tanpa dosa, Ia harus mati untuk dosaNya sendiri dan harus memerlukan penebusan untuk DiriNya, Kristus tidak akan menjadi wahyu Allah yang sempurna, penuh dan final kepada manusia bila sekiranya Ia orang berdosa. Tanpa ketidak -berdosaan Kristus maka rencana penebusan gagal, karena Penebus dosa tidak mungkin terjadi bahwa Ia sendiri seorang berdosa.

Ketidak-berdosaan adalah kesesuaian yang lengkap dengan kehendak Allah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Keberdosaan adalah kekurangan kesesuaian pada kehendak Allah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Jadi Kristus, sebagai manusia yang sempurna, mengenai secara sempurna kehendak Allah, Ia tak pernah terlibat dalam dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. KesempurnaanNya adalah kesempurnaan tanpa dosa.

1. Teori-teori Mengenai Ketidak-berdosaan Kristus.

a. Teori Daging Berdosa.
Teori ini berpegang bahwa Kristus mempunyai “daging berdosa” dan bahwa Ia harus memenangkan dosa dengan kuasa Roh Kudus, sebagaimana yang dialami orang percaya. Ini didasarkan pada kesalah-pahaman atas Roma 8:3 dimana Paulus menyatakan bahwa Kristus “serupa dengan daging yag dikuasai dosa”

b. Teori Berpotensi Berdosa.
Teori ini berpegang bahwa Kristus, walaupun sebagai Allah yang berinkarnasi, dapat saja berdosa tetapi tidak akan berdosa. Ia mampu mengatasi dosa. Teori ini menyatkaan fakta bahwa Kristus dicobai membuktikan bahwa Ia dapat saja berdosa. Argumentasi diberikan bahwa supaya suatu pencobaan sah harus terpenuhi syarat bahwa orang yang dicobai itu dapat berdosa. Teori ini juga mengajarkan bahwa Kristus tidak akan dapat menjadi Imam Besar yang penuh belas kasihan dan bersimpati kepada kita dalam pencobaan kita, kecuali bila Ia dapat berdosa.

c. Teori Kesempurnaan Tanpa Dosa.
Aliran pemikiran ini berpegang bahwa Kristus tidak dapat berdosa karena siapa Ia sebenarnya. Pandangan ini yang dipegang oleh buku ini. Sebelum mempertimbangkan alasan-alasan bagi pandangan ini, kita harus mencatat dasar umum dari iman yang dipegang oleh kebanyakan orang percaya Injil, dalam pernyataan-pernyataan berikut :
  • Anak Allah memiliki kodrat manusia yag sempurna dan kodrat Ilahi.
  • Anak Allah menderitakan pencobaan dalam semua hal, seperti kita juga dan ini merupakan pencobaan yang sah.
  • Anak Allah tidak berdosa, tidak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
  • Anak Allah dapat bersimpati dan menolong mereka yang menderitakan pencobaan yang sama (1 Yohanes 3:5, 1 Petrus 2:22, 2 Korintus 5:21, Ibrani 4:15; 7:26; 2:18).
Ketidak-samaan diantara teori-teori ini adalah didalam pernyataan-pernyataan berikut :

Kristus dapat saja berdosa tetapi tidak akan dan tidak berdosa.

Pernyataan yang muncul, “Mungkinkah bagi Kristus untuk tidak berdosa atau mungkinkah bagi Kristus untuk berdosa?”

Pertanyaan-pertanyaan ini telah merangsang pikiran orang Kristen berabad-abad. Tetapi harus diingat baik-baik bahwa apakah Kristus dapat atau tidak berdosa, faktanya adalah Ia tidak berdosa. Jadi Ia sendiri saja yang dapat menjadi Juruselamat orang-orang berdosa.

2. Kesempurnaan Tanpa Dosa Dari Kristus.

a. Pertanyaan dan Keberatan Utama Dipertimbangkan.

(1) Bila tak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka apakah maksudnya Ia dicobai?
Tidakkah ini menjadikan pencobaanNya tidak riil dan oleh sebab itu tidak sah?
Mengapa mencoba mahluk yang tidak berdosa?
Malaikat berdosa waktu dicobai. Adam berdosa waktu dicobai. Mengapa Kristus tidak dapat berdosa waktu dicobai?
Apakah tidak harus ada keinginan didalam yang menarik pencobaan itu?

(2) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka ini berarti bahwa Ia tidak mempunyai kuasa untuk memilih, kemauan untuk memilih diantara yang baik dan yang jahat. Tidakkah mungkin bahwa Ia telah melakukan kehendaknya sendiri dan bukan kehendak BapaNya. Seperti yang rupanya diindikasikan pencobaan di Getsemani? (Matius 26:39).

(3) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka Ia sebenarnya tidak beridentifikasi secara benar dengan ras manusia. Dan tidak dapat memahami secara penuh kemanusiaan dan kodrat kita yang berdosa. Tidakkah ini secara otomatis menempatkan kesenjangan diantara Juruselamat dan orang berdosa yang tak dapat dijembatani?

(4) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, lalu bagaimana pencobaan dapat menjadi penyebab penderitaan kepadaNya dan bagaimana Ia dapat bersimpati dengan kita dalam pencobaan kita?

(5) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, lalu tidakkah pencobaanNya berbeda dengan pencobaan pada kita orang berdosa alami?

Kita akan maju untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keberatan-keberatan ini dengan beberapa argumentasi mengenai pencobaan Adam, Yesus dan semua manusia, sifat dan arti pencobaan, dan akhirnya kesaksian dari ketidak berdosaan Kristus.

b. Pencobaan pada Adam, Yesus dan Semua Manusia.

Hanya ada dua manusia dalam Kitab Suci yang pencobaannya unik, Adam dan Yesus. Keduanya adalah Anak Allah dalam arti yang unik, Adam sebagai anak yang diciptakan Allah, dan Yesus Anak Allah yang diperanakkan (Lukas 3:38; Yohanes 3:16). Keduanya mempunyai kodrat manusia tanpa dosa, yang tidak memiliki prinsip dosa di dalam keberadaan mereka. Mereka dicobai dari luar oleh iblis. Adam memberi respons kepada pencobaan, sementara Kristus tidak. Adam dan Yesus merupakan kepala perwakilan atau manusia yang mewakili ras ciptaan lama dan ras ciptaan baru. Allah melihat semua manusia di dalam Adam atau di dalam Kristus (1 Korintus 15:46-47). Semua fakta ini menempatkan pencobaan Adam atau Yesus dalam perbedaan langsung dari pencobaan semua manusia yang lahir dari Adam sesudah kejatuhan. Semua manusia lainnya yang lahir dari ras Adam dicobai sebagai orang berdosa yang lahir dalam dosa. Tak seorangpun dari mereka yang mengalami pencobaan dalam keadaan tanpa dosa. Pencobaan Adam dan Yesus unik dalam hal keduanya bukan dicobai dari dalam, tetapi dari luar. Semua orang berdosa dicobai dari luar dan dari dalam. Semua manusia dicobai bila ditarik oleh hawa nafsu mereka dan tertarik. Kemudian bila hawa nafsu dibuahi menghasilkan dosa, dan dosa bila telah selesai menghasilkan maut (Yakobus 1:13-14).

Dosa adalah gangguan ke dalam manusia Adam. Hanya Adam dan Yesus yang mempunyai kodrat manusia yang tanpa dosa, jadi pencobaan mereka khusus. Tetapi ada juga perbedaan besar diantara Adam dan Yesus, Adam hanya manusia tetapi Yesus sebagai Allah dan manusia. Walaupun Adam dan Yesus tanpa dosa, Adam adalah mahluk ciptaan sedang Yesus bukan, Adam hanya mempunyai satu kodrat manusia, sementara Yesus mempunyai dua kodrat, manusia dan yang Ilahi.

Pernyataan di Roma 8:3 bahwa Kristus “serupa dengan daging yang dikuasai dosa”, tidak boleh disalahpahami. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus mempunyai “daging berdosa” tetapi Ia adalah kelemahan tanpa dosa dari kodrat manusia. Kristus sesungguhnya mempunyai daging yang sebenarnya, namun daging yang tanpa dosa. Tidak ada dosa asal atau prinsip dosa di dalam Dia sebagai Anak Allah yang kekal dan diperanakkan Dosa bukan essensial kepada kodrat manusia tetapi gangguan. Kristus mempunyai kodrat manusia tanpa dosa seperti Adam sebelumnya kejatuhan. Tetapi, Ia juga mempunyai “kesamaan”dengan daging Adam sesudah kejatuhan, yaitu kodrat manusia dengan kelemahan tanpa dosa. Walaupun ajaran Gnostik tertentu mengajarkan bahwa daging inheren dengan keberdosaan, tetapi hal ini bertentangan dengan Firman Allah. Kristus mempunyai daging yang bebas dari hukum dosa, namun itu adalah “serupa dengan (dan hanya serupa) daging yang dikuasai dosa. Perbandingan dan perbedaan pencobaan Adam dan Yesus, orang tak percaya dan orang percaya, akan menolong membawakan fakta-fakta kedalam fokus lebih tajam.

c. Arti dan Sifat dari Pencobaan.

Perjanjian Baru menggunakan dua kata khusus Gerika yang mempunyai arti “percobaan” di dalamnya, karena pencobaan ada hubungan dengan pengujian baik oleh Allah maupun oleh setan atau yang lain.

(1) Kata Gerika “Dokimazo” berarti “membuktikan suatu hal apakah itu layak diterima atau tidak, mengetes (harfiah atau hiasan), implikasinya, menyetujui, mengijinkan, melihat perbedaan, menguji, membuktikan, mencoba”. (Lukas 14:10; Roma 2:18, 12:22; 1 Korintus 3:13, 11:28; Galatia 6:4; Ibrani 3:9; Yakobus 1:12; 1 Petrus 1:17; 1 Yohanes 4:1).
Ini digunakan dalam cara berikut di Perjanjian Baru. Orang menguji api, orang percaya menguji apa kehendak dari Allah; orang percaya merelakan agar iman mereka dicobai dan diakui. Allah mencobai orang kudusNya. Semua orang percaya diuji dan dicobai oleh lingkungan hidupnya, oleh kelemahan dan kekurangan kodrat manusia. Maksud dari tipe pencobaan ini untuk membuktikan dan menyetujui. Ini adalah pencobaan untuk membuktikan dan menyetujui. Ini adalah pencobaan yang mengharapkan hasil positif. Dalam cara ini, Allah “mencobai” Abraham (Ibrani 11:17 dengan Kejadian 22:1). Kata ini digunakan sekitar 25 kali dalam Perjanjian Baru dan tak pernah digunakan untuk iblis mencoba untuk membuktikan seseorang.

(2) Kata Gerika “Peirazo” yang diterjemahkan “mencobai” berarti “menempatkan pada percobaan” dengan percobaan (yang baik), pengalaman (yang jahat), permintaan, disiplin atau provokasi, implikasinya kemalangan. Kata ini digunakan sekitar 40 kali di Perjanjian Baru, dan membawa ide mengetes dan mengadakan percobaan pada seseorang.
Ini digunakan dalam cara berikut.

(a) Manusia Mencobai Allah.

Yang dimaksudkan manusia menempatkan Allah untuk dicobai untuk mendapatkan apakah Ia akan melakukan yang baik atau yang jahat kepada mereka. Jadi Israel “mencobai Allah” di padang gurun (Ibrani 3:9). Guru-guru hukum Taurat “mencobai Allah” dengan keinginan meletakkan kuk pada tengkuk orang kafir (Kisah 15:10). Ananias dan Sapira “mencobai Roh Kudus” dalam tindakan mereka menipu (Kisah 5:9). Manusia diingatkan untuk tidak mencobai (mengetes) Tuhan Allah (Matius 4:7).

(b) Manusia Dicobai Allah.

Allah pada waktunya mengetes atau mencobai manusia yaitu tak pernah untuk yang jahat tetapi dengan pandangan untuk membuktikan apa yang di dalam manusia dan menyingkapkan kepada manusia kebutuhannya di dalam (Yakobus 1:2, 12). Tetapi Allah tak dapat dicobai dengan yang jahat, juga Ia tidak pernah mencobai seseorang supaya berdosa (Yakobus 1:13-14). Seperti yang dicatat, Abraham dicobai Allah dalam hal mengorbankan anak tunggalnya, Ishak (Ibrani 11:17) dengan (Kejadian 22:1) orang-orang suci Perjanjian Lama dicobai dan dicobai oleh penganiayaan, tantangan dan dengan demikian membuktikan bahwa mereka setia kepada Allah dalam segala sesuatu (Ibrani 11:37; Galatia 4:13-14; 1 Korintus 10:13; Yohanes 6:6; Matius 6:13.

(c) Manusia Dicobai Iblis.

Iblis juga mencobai dan mengetes manusia. Tetapi pencobaan ini selalu sebagai umpan supaya berdosa, tarikan untuk melakukan yang jahat. Pencobaan ini tidak datang dari Allah (Yakobus 1:13-14). Ini datang dari iblis atau dari kodrat berdosa dari manusia. Jadi iblis mencobai malaikat, mencobai Adam dan mencobai Yesus. Ia juga mencobai orang berdosa yang lahir dari ras Adam (Kejadian 3:1-6; Matius 4:1).

d. Sifat dari Pencobaan Kristus.

(1) Yesus dicobai oleh Allah BapaNya.

Percobaan ini yang pertama meliputi penderitaan yang Yesus pikul dalam kemanusiaanNya tanpa dosa dengan mempunyai kelemahan tanpa dosa. Ia dicobai oleh pertentangan, penganiayaan, keletihan, perbantahan orang berdosa, lingkungan yang bertentangan, orang Yahudi, saudara-saudaraNya, pemimpin-pemimpin agama dan murid-muridNya. Dalam semua hal ini Ia dicobai dan diuji namun diperkenalkan dalam segala hal oleh Bapa. Inilah bagian dari “pencobaan-pencobaan Kristus” (Lukas 22:28).

(2) Yesus dicobai oleh Iblis.

Yesus dicobai untuk melakukan yang jahat oleh Iblis, yaitu untuk melakukan kehendakNya dan bukan kehendak BapaNya. Iblis berusaha mencari kesempatan agar Bapa punya alasan untuk tidak berkenan kepada Yesus. Ini terjadi dalam keseluruhan hidupNya. Cerita tentang pencobaan empat puluh hari hanya contoh masa khusus pencobaan yang dialami Yesus. Kitab Suci mengatakan bahwa iblis meninggalkan Yesus untuk satu waktu sesudah kemenanganNya yang terkenal dalam ketiga pencobaan utama (Markus 1:13).

(3) Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa.

Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa atau daging di dalam. Inilah perbedaan yang kekal di antara pencobaan Yesus dengan pencobaan manusia yang lahir dari ras Adam, baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Yesus tidak mempunyai kodrat berdosa atau yang daging di dalam sehingga Ia tidak menderitakan pencobaan dari dalam agar berdosa, sebagaimana dialami semua orang yang telah jatuh. Tak ada yang dapat mengganti atau mengubah perbedaan fakta ini. Bila dikatakan bahwa Yesus “telah dicobai dalam semua segi, seperti kita, tetapi tanpa dosa (AV)” (Ibrani 5:15), secara harfiah berarti “terpisah dari dosa”. Yaitu dapat dikatakan, Ia dicobai untuk berdosa, dari luar, tetapi tidak dicobai oleh dosa dari dalam, karena tidak ada yang jahat di dalam Dia. Ia tidak mempunyai kodrat manusia berdosa, tak ada keinginan berdosa didalam Dia. Tidak ada konflik batin seperti yang dijelaskan di Roma 7:14-18 di dalam kehidupanNya (Yakobus 1:14). Karena itu Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, namun tanpa keinginan di dalam (Ibrani 2:18; 4:15, Yohanes 8:46, 14:30).

(4) Yesus dicobai dalam KemanusiaanNya, bukan dalam Ke-AllahanNya.

Yesus adalah Allah yang berinkarnasi dan Allah tidak dapat dicobai dengan kejahatan (Yakobus 1:13-14). Iblis menyerang kemanusiaan Kristus. Yesus menderitakan pencobaan dalam kemanusiaanNya, bukan dalam ke-AllahanNya. Jadi Yesus “dicobai dalam semua segi seperti kita”, terpisah dari dosa. Segi-segi dimana Yesus dicobai adalah dalam :

  1. Roh – dicobai untuk menyembah Setan.
  2. Jiwa – dicobai untuk meragukan kuasa pemeliharaan Allah.
  3. Tubuh – dicobai untuk memuaskan nafsu badani manusia yang normal dengan menggunakan kuasa mujizat (Matius 4:1-11 dengan 1 Yohanes 2:16-17).
Setiap pencobaan ini datang dari luar, tidak dari dalam. Sebagai manusialah waktu Ia mengalahkan dengan kuasa Firman, dengan mengatakan “ada tertulis”. Sebagai manusia, Yesus tidak mengundang prerogatif IlahiNya untuk menghancurkan Iblis. Ia dicobai untuk menghindari salib seperti yang dikatakan Petrus berdasarkan pikiran yang iblis berikan kepadaNya (Matius 16:21-24). Ia dicobai di Getsemani untuk menghindari penderitaan cawan Kalvari, namun Ia menyerahkan kehendakNya kepada kehendak Bapa dan dikuatkan oleh malaikat. KemanusiaanNya yang kudus secara alami menyembunyikan diri dari cobaan berat karena dijadikan dosa. Namun ini bukan perasaan berdosa sama sekali. Ia juga dicobai di salib waktu orang-orang Yahudi beragama menantang Dia untuk turun dari salib dan menyelamatkan diriNya sendiri (Lukas 23:35-37).

Ini adalah pencobaan yang riil pada kemanusiaanNya dan sudah tentu kodrat manusiaNya menderita, takut akan penderitaan di salib, baik secara fisik maupun rohani. Dijadikan dosa dan ditinggalkan Bapa merupakan kesengsaraan terbesar dan menyebabkan penderitaan yang tak terkatakan atas kemanusiaanNya yang kudus dan tanpa dosa. Ia tidak perlu sanggup berdosa untuk mengesahkan penderitaan dari pencobaan ini. Penderitaan pencobaan ini akan lebih kuat pada kemanusiaanNya yang tanpa dosa dari pada apa yang dapat dipahami kemanusiaan yang berdosa. Menderitakan kehadiran dosa lebih hebat rasanya pada Seorang yang tidak dapat berdosa dan yang tidak berdosa dari pada mahluk hidup berdosa. Juga harus diingat bahwa pencobaan bukan dosa, tetapi menyerah pada pencobaan itulah dosa.

Pengajaran bahwa Allah Bapa dan malaikat di Sorga berada dalam keterangan selama kehidupan Kristus di bumi, ketakutan jangan-jangan Anak Manusia jatuh dan berdosa, mengecilkan nasihat dan maksud penebusan oleh Allah. Ini mengecilkan watak Allah dalam atribut esensialNya dan moralNya. Rencana keselamatan sudah dihasilkan dalam musyawarah ke-Allahan yang kekal dan tidak ada kemungkinan untuk gagal di pihak Anak Allah (1 Petrus 1:19-20; Mazmur 40:5-8; Ibrani 12:1-4. 13-20).

e. Alasan-alasan Yesus Menderitakan Pencobaan.

Yesus memang menderitakan pencobaan dan oleh sebab itu Ia dapat menguatkan dan menghiburkan semua orang percaya yang dicobai.

(1) Ia menderitakan pencobaan demi perkembangan kemanusiaan yang penuh dan komplit.
Waktu kemanusiaan Yesus bertumbuh dalam hikmat dan semakin besar dan makin berkenan kepada Allah dan manusia (Lukas 2:52), Ia belajar dengar-dengaran pada hal-hal yang Ia deritakan (Ibrani 5:8). Ia berkembang secara rohani, mental dan fisik. Ia menderitakan kelemahan tanpa dosa, Ia menderitakan pencobaan dalam kodratNya manusia dan membuktikan DiriNya sempurna. Apa yang Ia deritakan dalam kodrat kemanusiaanNya, di dalam pengalamanNya menambahkan kelengkapan pada kodrat Ilahi, karena Pencipta itu satu dengan ciptaan, yang Ilahi satu dengan yang manusia.

(2) Ia menderitakan pencobaan supaya diperkenankan Allah BapaNya.
Yesus dari Nazaret adalah Manusia yang diperkenankan Allah. Jadi Bapa berbicara dari Sorga dan menempatkan perkenanNya atas AnakNya yang dikasihiNya. Anak tidak menggunakan prerogatif IlahiNya terpisah dari kehendak Bapa, tetapi tunduk dan patuh kepada BapaNya, oleh Roh, untuk semua keberadaanNya, semua yang dikatakanNya dan yang dilakukanNya.

(3) Ia menderitakan pencobaan untuk mempertunjukkan kepada rombongan iblis akan kemanusiaan yang sempurna. Iblis menaklukan Adam, manusia pertama, melalui pencobaan, dan dengan cara yang sama telah menaklukkan semua manusia sejak itu. Yesus adalah permulaan “ciptaan baru” dari Allah (Wahyu 3:14). Iblis menggunakan yang terkuat dari pencobaannya untuk membujuk Yesus agar berdosa. Iblis beserta semua kekuatan iblisnya gagal oleh ciptaan ini yaitu Manusia-Allah. Ia adalah ciptaan dimana tidak ada respons pada dosa. Ini adalah wahyu kekalahan dosa yang akan datang, atas penulisannya dan atas keseluruhan kerajaan yaitu di salib (Kolose 2:14-17). Allah sangat disenangkan dengan ManusiaNya yang sempurna, karena Ia merupakan contoh dari banyak anak yang akan datang (Roma 8:20-28).

(4) Ia menderitakan pencobaan supaya menjadi Imam Besar yang berkemurahan.
Karena imam diambil dari antara manusia dan dirupai untuk manusia, ia harus seorang yang disentuh dengan perasaan kelemahan manusia yang ia layani. Yesus Kristus diambil dari kalangan manusia untuk maksud yang sama (Ibrani 4:14-16). Ungkapan “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” berarti bahwa Kristus dapat bersimpati dengan kita dalam pencobaan dan percobaan kita.
Kristus, sebagai Manusia-Allah, beridentifikasi dengan manusia dalam hakekat manusiaNya, dengan ketidak-berdosaan dalam kelemahan.
Apakah Kristus dapat atau tidak dapat berdosa, faktanya adalah Ia tidak berdosa.
Sekiranya Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa, Ia tidak akan pernah dapat menjadi Juruselamat kita. Inilah perbedaan yang kekal diantara Kristus dan kita. Inilah identifikasi terbatas Manusia-Allah dengan kita, sebagaimana hubungan diantara Pencipta dan ciptaan dan diantara Juruselamat dan orang berdosa ada hubungan perbedaan dan keterbatasan. Ia selamanya Manusia-Allah dan kita selamanya manusia yang ditebus. Satu-satunya jalan Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa kita adalah waktu Ia menanggungkan kita kepada DiriNya di salib. Dalam hal Yesus menderitakan pencobaan, percobaan dan ujian, Ia sanggup menjadi Imam Besar yang berkemurahan dan yang bersimpati dengan kita. Harus diingat bahwa Ia bersimpati dengan kita di dalam pencobaan kita, bukan di dalam keberdosaan kita.

Pertanyaan yang dapat ditanyakan:

“Haruskah dokter sendiri menderita penyakit yang hebat yang sama sebelum ia dapat bersimpati dan menolong seorang yang sakit ?”
“Apakah seorang harus menjadi pecandu alkohol atau pelacur sebelum ia dapat menolong dan bersimpati dengan mereka yang terbelenggu sedemikian ?”
Apakah seorang hakim harus dipersalahkan dalam kriminalitas yang sama sebelum ia menghakimi secara benar orang lain?”
Atau “Apakah Yesus harus berdosa atau dapat berdosa sebelum Ia dapat menolong dan bersimpati dengan orang berdosa?”

Mengatakan bahwa oknum-oknum ini akan menjadi lebih bersimpati bila kasus mereka sama, sama dengan mengatakan bahwa Yesus akan lebih bersimpati kepada kita sekiranya Ia telah berdosa. Yesus memang menderitakan pencobaan dan percobaan, dan karena itu Ia dapat menguatkan dan menghibur serta bersimpati kepada kita dalam percobaan dan pencobaan kita.

(5) Ia menderitakan pencobaan agar supaya dapat memberikan pertolongan kepada orang percaya yang dicobai. Karena Ia menderitakan pencobaan, Ia tahu apa yang kita jalani dan dapat memberi kekuatan, kasih karunia dan kemurahan untuk menolong kita waktu kita membutuhkannya. Ia telah berjanji bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai lebih dari apa yang dapat kita sanggup pikul tetapi dengan pencobaan itu Ia akan mengadakan jalan keluar supaya dapat menanggungnya (Ibrani 2:18; 4:14-16; 1 Korintus 10:13).

(6) Ia sekarang telah berada dibalik semua pencobaan dan demikian nanti semua orang percaya. Sejak kebangkitanNya dan pemuliaan dari KemanusianNya yang tidak berdosa dan tak dapat rusak, Kristus telah ada di balik semua pencobaan. Tubuh kemuliaanNya tidak lagi tunduk pada kekurangan tanpa dosa dan kelemahan kodrat manusia. Ia tak pernah tidur atau tertidur. Ia tak pernah letih. Ia tak perlu makan atau minum. Ia hidup dalam kuasa dari kehidupan tak berakhir. Tubuhnya adalah contoh dari apa yang akan terjadi pada tubuh orang percaya pada kedatangan Kristus (Filipi 3:20-21; 1 Tesalonika 4:15; 15-18; 1 Korintus 15:51-57).

Ke-Allahan dan Kemanusiaan Kristus.

Faktor utama lainnya yang harus dipertimbangkan adalah fakta persatuan ke Allahan dan kemanusiaan Kristus. Seperti yang dicatat sebelumnya, pembedaan diantara Adam dan Yesus dan semua manusia lain tak dapat dilupakan. Adam sebagai anak Allah yang diciptakan adalah manusia, dan dengan demikian dicobai dari luar Yesus sebagai Anak Allah yang diperanakkan, adalah Manusia Allah, yang juga dicobai dari luar. Tetapi Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, dan di dalam menjadi manusia Ia tidak pernah berhenti menjadi Anak. Keseimbangan yang indah di antara ke AllahanNya dan kemanusiaanNya harus dipertahankan.

Dalam hal ke-AllahanNya, “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun” (Yakobus 1:13-14). Sebagai Allah yang berinkarnasi, Ia tidak ada dosa dan tak dapat berdosa. Dalam hal kemanusiaanNya, Yesus dicobai dalam segala segi bagaimana kita (Ibrani 2:18; 4:15). Sebagai manusia, Ia dapat dicobai dan terbuka pada semua jenis pencobaan luar. Tetapi karena siapa Yesus, yaitu Allah yang menjadi daging, Ia adalah kodrat Ilahi yang bersatu dengan kodrat manusia yang membawa kodrat manusia melalui pencobaan secara berkemenangan.

Memang teori bahwa Yesus dapat berdosa dalam kodrat manusiaNya, tetapi yang tak dapat berdosa dalam hal meruntuhkan rencana penebusan dari Allah. Kedua kodrat ini, walaupun dapat dibedakan, bersatu secara tak dapat dibagi di dalam satu oknum Kristus. Mempunyai kemanusiaan yang berdosa atau berpotensi untuk berdosa dan ke Allahan tanpa dosa dalam satu oknum Kristus, Allah yang memanifestasi di dalam daging, adalah suatu kemustahilan. Mengatakan bahwa Yesus dapat saja berdosa, adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah dapat berdosa karena Ia memakaikan kemanusiaan. Ini akan membatasi kuasa Allah Yang Maha Kudus.

Kesaksian dari ketidak-berdosaan Kristus.

Kitab Suci membuktikan fakta tentang ketidak-berdosaan Kristus. Orang percaya ortodoks semuanya menyetujui bahwa Kristus dapat berdosa atau tidak tetapi Ia tidak berdosa. Ada banyak kesempatan bagi seorang dalam waktunya untuk menghukum Dia karena dosa tetapi tak seorangpun yang dapat melakukan sedemikian. Bukti-bukti beriktu memberi kesaksian atas kebenaran ketidak-berdosaan Yesus Kristus.

a. Kesaksian Gabriel.
Gabriel mengatakan tentang Yesus sebagai “Yang Kudus” (Lukas 1:35). Ini tidak pernah dikatakan pada anak manapun yang lahir dari ras Adam.

b. Kesaksian iblis.
Roh jahat mengenal Yesus sebagai “Yang Kudus” (Markus 1:24); Lukas 4:34; Matius 8:28-29). Mereka tak pernah mengatakan hal ini kepada seorang manusiapun, bahkan tidak kepada orang suci yang paling kuduspun.

c. Kesaksian Manusia.

  1. Ia dikatakan sebagai Anak Yang Kudus (Kisah 4:27,30).
  2. Pilatus tidak menemukan suatu kesalahanpun padaNya (Yohanes 18:38).
  3. Isteri Pilatus bersaksi bahwa Ia adalah “orang benar” (Matius 27:19).
  4. Pencuri yang hampir mati mengenal Yesus sebagai tidak layak untuk mati (Lukas 23:4).
  5. Kepala pasukan mengakui Yesus sebagai “Orang Benar” (Lukas 23:47).
  6. Herodes juga mengatakan bahwa Ia tidak berlayak untuk mati (Lukas 23:15).
  7. Yudas mengetahui bahwa ia telah menjual “darah yang tidak bersalah” (Matius 27:4).
d. Kesaksian Allah. Bapa juga bersaksi dari Sorga akan perkenanNya atas AnakNya yang diperanakkan. Tak ada orang lain yang pernah mendapat persetujuan Ilahi dan Sorgawi seperti itu (Matius 3:15-17; 17:1-5).

e. Kesaksian Kristus.

  1. Yesus menantang setiap orang untuk menyatakan dosaNya (Yohanes 8:46).
  2. Yesus juga mengatakan bahwa penguasa duni ini sedang datang dan ia tidak berkuasa atasNya, tak ada persamaan denganNya, bahwa tak ada sesuatupun di dalam Dia yang menjadi milik iblis (Yohanes 14:30 Amplified). (Baca juga Yohanes 8:29; 15:10; 17:4).
Ini berarti bahwa kesaksian ini benar atau Yesus yang berdusta atau menipu diri. Tak seorangpun yang pernah sanggup membuat klaim sedemikian.

f. Kesaksian Rasul-Rasul.

  1. Paulus mengatakan “Dia tidak mengenal dosa” (2 Korintus 5:21).
  2. Petrus mengatakan “Ia tidak berdosa” ( 1 Petrus 2:21-22).
  3. Yohanes mengatakan “Di dalam Dia tak ada dosa” (1 Yohanes 3:5).
  4. Ibrani mengatakan bahwa Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, “tetapi tanda dosa” (AV) atau “terpisah dari dosa” (Ibrani 4:15).
  5. Dia adalah suci (1 Yohanes 3:3).
  6. Ia yang lahir dari Allah tak dapat berdosa sebab benih dari Allah tinggal di dalam Dia (1 Yohanes 3:9). Bila ini demikian pada orang percaya, lebih lagi adalah benar terhadap Dia, Anak Allah.
  7. Yesus adalah “saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 7:26-27).
  8. Ia adalah persembahan “yang tak bercacat” waktu dikorbankan dalam persembahan (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).
g. Kesaksian dari Hukum Taurat. Korban-korban karena dosa dalam Perjanjian Lama membayangkan korban Kristus untuk dosa. Ketidak-berdosaan Kristus dinyatakan dengan tegas dalam pemikiran-pemikiran berikut.

  1. Allah mengambil binatang yang tak bersalah dan tak berdosa untuk mati bagi manusia yang bersalah dan berdosa. Tak ada binatang yang pernah berdosa, atau dapat berdosa.
  2. Semua korban harus “yang sempurna agar dapat diterima (AV)” (Imamat 22:21). Kata “sempurna” berarti “tanpa cacat, lengkap, penuh, tulus”.
  3. Korban-korban harus “tanpa cela” untuk dipersembahkan kepada Allah (Bilangan 19:2, 28:3, 9,11 dengan Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).
  4. Korban-korban harus “tidak bercacat” (Keluaran 12:5; 29:1, Imamat 4:3, 23, 28:32).
  5. Malahan di dalam “Persembahan karena dosa”. Allah menekankan bahwa persembahan karena dosa itu harus “persembahan maha kudus” (Imamat 4; 7:1; Lukas 1:35).
Tetapi kodrat hewan tidak dapat mendamaikan kodrat manusia. Hewan hanya dapat digunakan sebagai korban pengganti sampai kodrat manusia yang sempurna tanpa dosa dari Yesus dapat dipersembahkan dalam karya pendamaian di salib. Sistem korban hukum Taurat menjadi tipe Yesus yang walaupun sebagai persembahan karena dosa, namun harus tak berdosa.

h. Kesaksian Mazmur.
Mazmur Mesianik berbicara mengenai Kristus sebagai yang benar dan yang kudus. Mazmur-mazmur ini menubuatkan kedatangan Kristus yang akan menjadi Juruselamat Israel dan dunia yang tak berdosa. Mazmur-mazmur ini juga menubuatkan bagaimana Ia akan dipersembahn sebagai persembahan untuk keselamatan kita (Mazmur 40:6-10; 16:8-11; 22:1-31).

i. Kesaksian Nabi-Nabi. Nabi-Nabi menubuatkan kedatangan Penebus, yang akan menjadi “Tunas Yang Adil” Kerajaan Daud yang akan menjadi jiwaNya yang tak berdosa sebagai “korban untuk dosa”, dan oleh sebab itu menjadikan “Tuhan Kebenaran Kita”. Ini menubuatkan mengenai ketidak-berdosaan Kristus. Nubuat-nubuat ini mengungkapkan pengetahuan sebelumnya dari Allah Yang Maha Kuasa mengenai inkarnasi dan ketidak-berdosaan Kristus. (Yeremia 23:5-6; Yesaya 53:10; Zakharia 3:8-9; 6:12-13).

Argumentasi dari Kristologi.

(1) Kristus adalah Allah yang berinkarnasi, Allah yang memanifestasi di dalam daging, Allah yang memakaikan kepada DiriNya kemanusiaan.

(2) Waktu menjadi manusia Ia tidak mengesampingkan atribut esensial atau moralNya, tetapi menundukkan DiriNya kepada kehendak Bapa untuk semua keadaanNya, semua yang dikatakanNya dan semua yang dilakukanNya.

(3) Persatuan kodrat Ilahi dan yang manusiawi dalam satu oknum Kristus memungkinkan ketidak-berdosaan Kristus, walaupun dicobai dalam semua segi seperti kita.

Kesaksian Kitab Suci adalah lengkap. Walaupun lahir dari perawan Maria, dimana ia sendiri orang berdosa dan perlu penebusan, namun Yesus tidak mewarisi kemanusiaan yang berdosa. Allah menghasilkan “sesuatu yang bersih” dari perempuan itu (Ayub14:4; 15:14; 25:4). Ketidak-berdosaan kemanusiaan Yesus adalah hasil mujizat.

Rober Clarke, di dalam buku “The Christ of God” meringkaskan komentarnya mengenai fakta dan implikasi keberdosaan Kristus, merupakan suatu ringkasan yang sesuai mengenai kebenaran dari ketidak-berdosaan Kristus.
  1. Kristus mengklaim secara mutlak tidak berdosa.
  2. Ia berdoa, tetapi tidak pernah berdoa untuk pengampunan.
  3. Ia menjadi perantara bagi murid-muridNya tetapi Ia tak pernah mendorong mereka untuk menjadi perantara untukNya.
  4. Ia berdoa untuk murid-muridNya, namun Ia tak pernah berdoa bersama mereka.
  5. Kendatipun Ia memanggil Allah BapaNya, Ia tak pernah menyapaNya sebagai JuruselamatNya.
  6. Ia berada di Bait Allah, tetapi Ia tidak pernah mempersembahkan korban demi diriNya.
  7. Ia sadar akan dosa dunia, namun Ia tak pernah sadar akan dosa pribadi.
  8. Ia mengijinkan mereka yang paling dekat dengan Dia untuk percaya bahwa Ia tidak berdosa.
  9. Ia penat, namun Ia tak pernah sakit.
  10. Ia berdukacita karena dosa dunia, namun Ia tak pernah berdukacita untuk dosaNya sendiri.
  11. Ia mengajarkan bahwa semua perlu dilahirkan kembali, tetapi Ia tidak pernah mengisyaratkan bahwa Ia telah lahir kembali, atau bahwa Ia memerlukan perubahan sedemikian itu.
  12. Ia secara gamblang dinyatakan oleh para penulis rasuli bahwa Ia tidak berdosa.
  13. Ketidak-berdosaan Tuhan kita diakui oleh para teolog dari berbagai corak dan pendapat.
  14. Ketidak-berdosaanNya secara mutlat telah merupakan iman gereja Kristen selama sembilan belas abad.
Implikasi ketidak-berdosaanNya :
  1. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami bahwa Ia merasakan penderitaan secara lebih hebat dari pada yang dapat dirasakan oleh anak manusia berdosa.
  2. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami Ia merasakan pencobaan secara lebih hebat dari orang berdosa.
  3. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami bahwa ia tak dapat dikenai maut.
  4. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami bahwa Roh Kudus dapat bekerja melalui Dia tanpa hambatan.
  5. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami bahwa Ia mempunyai kemungkinan yang tertinggi untuk bersekutu dengan Allah.
  6. Karena Ia secara mutlak tidak berdosa maka dipahami bahwa Ia mempunyai pemahaman yang paling penuh akan hal-hal Ilahi.
  7. Ketidak-berdosaanNya yang mutlak dimungkinkan melalui mujizat kelahiran dari perawan.
Karena ketidak-berdosaan Kristus maka kodrat manusiaNya kekal.
Semua manusia harus mati karena akibat dari dosa. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23).
Kristus, karena tidak mempunyai dosa dari Dia sendiri, dan memenangkan setiap pencobaan agar berdosa, tidak perlu mati sakit, kesakitan atau usia tidak dapat menaklukan Dia. Ini yang menjadikan kematianNya unik, sebagaimana juga kelahiranNya dan kehidupanNya Yesus tidak berdosa dan oleh sebab Ia kekal. Ia secara sukarela memberikan hidupNya untuk kita. Ia mati untuk dosa-dosa kita (Yohanes 10:18; 19:30; Roma 5:12).
Tak seorangpun orang berdosa dan manusia fana yang dapat melakukan hal ini. Yesus adalah kekal karena Ia tidak berdosa, Ia tanpa dosa karena lahir dari perawan, dan Ia lahir dari perawan karena Ia adalah Allah yang berinkarnasi. Sebagai Manusia-Allah, Ia adalah wahyu yang sempurna dari Allah kepada manusia dan Mediator yang sempurna di antara Allah dan manusia.

Teladan dari Kristus.

Sebagai manusia yang sempurna, sebagai semua yang Allah kehendaki dari manusia, Kristus sepenuhnya tergantung pada Allah untuk semua keadaanNya, apa yang Ia katakan dan lakukan. Kristus adalah teladan yang sempurna bagi orang percaya untuk diikuti. Petrus menyatakan bahwa Kristus telah meninggalkan “teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya” (1 Petrus 2:21).

Kata Grika “Hupogrammos” yang diterjemahkan “teladan” berarti “Salinan, yaitu salinan untuk ditiru”. Ini datang dari kebiasaan menjiplak surat untuk disalin oleh ilmuwan. Jadi orang percaya harus mengaku Yesus, Ialah salinan untuk ditiru. Semua orang suci lainnya di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mempunyai berbagai kualitas karakter, yang dapat kita contoh, namun yang terbaik di antara mereka mempunyai ketidak-sempurnaanNya.
Hanya Kristuslah yang merupakan contoh yang sempurna dan Ialah satu-satunya yang dinyatakan Allah kepada kita untuk diikuti. Kita dapat mengikuti orang lain sebagaimana mereka mengikuti Kristus, tetapi bila mereka gagal mengikuti Kristus maka kita harus berhenti mengikuti mereka (1 Korintus 11:1; Filipi 3:17; 1 Yohanes 2:6; Matius 11:28-30).
Tidak mungkin bagi yang belum lahir semula untuk mencontohi Kristus. Orang percaya menerima Roh Kudus dalam kelahiran baru dan menjadi pengambil bagian dalam kodrat Ilahi yang memungkinkan dia untuk mengikuti di dalam langkah-langkah teladan Kristus.
Teladan apakah yang dinyatakan dalam kemanusiaan Kristus yang sempurna dimana langkah-langkahNya dapat kita ikuti ?

1. Ialah Teladan kita di dalam Karakter – Semua KeadaanNya.
Karakter dan kualitas moral Allah dimanifestasikan di dalam Kristus sebagai manusia yang sempurna. Atribut-atribut moral ini harus dimanifestasikan di dalam orang percaya juga, karena ia disesuaikan dengan gambar Kristus.
Kita mencatat beberapa kualitas karakter utama yang harus ada pada orang percaya.

a. Kekudusan.
Yesus adalah kudus di dalam kodrat dan tingkah laku. Kita dipanggil untuk menjadi kudus sebagaimana Ia kudus, Ialah teladan kesempurnaan tanpa dosa dan untuk tujuan inilah Allah berkehendak untuk membawa umatNya pada akhirnya (Matius 5:48; Ibrani 6:1; 1 Petrus 1:16; Lukas 1:35; Kisah 2:37; 3:14; 4:27; Ibrani 7:3, 26; 1 Petrus 2:21-23; Yohanes 8:29, 46; 14:30; Ibrani 4:15).

b. Kasih.
Kristus adalah teladan kita di dalam kasih, yang adalah kodrat sebenarnya dari Allah dan yang harus diungkapkan di dalam orang kudus (Efesus 3:19).
  1. Ia mengasihi Allah Bapa (Yohanes 14:81; 6:38).
  2. Ia mengasihi Kitab Suci (Matius 5:17-18; Lukas 4:16-21; 24:44-45; 37-39).
  3. Ia mengasihi murid-muridNya sendiri (Yohanes 13:1; 15:9; Roma 8:37-39).
  4. Ia mengasihi Gereja sebagai pengantinNya sendiri (Efesus 5:25-27).
  5. Ia mengasihi semua manusia tanpa melihat ras (Markus 10:21; Matius 11:19; Yohanes 10:11; 15:13; Roma 5:8).
  6. Ia malahan mengasihi musuhNya (Matius 5:43-48); Lukas 22:51; 23:34; Matius 26:50).
  7. Ia berdosa supaya kasih ini akan ada di dalam kita (Yohanes 17:26; 13:34-35).
  8. 8) Ia selalu tergerak dengan belas kasihan kepada orang lain (Yohanes 11:35; 6:5; Markus 6:34; Matius 8:16; 20:34; Lukas 4:41; 5:12-15).
c. Iman.
Ialah teladan kita di dalam iman dalam hal Ia percaya kepada BapaNya terus-menerus dan tidak pernah ragu. Ialah pengarang dan penyelesai iman kita (Matius 27:43; Mazmur 22:8; Ibrani 12:1-4).

d. Kelemah-lembutan.
Ialah teladan kita di dalam kelemah-lembutan dan kesederhanaan. Tak ada kebanggaan, kekasaran atau kesombongan yang pernah memanifestasi di dalam Dia. Dari buaian sampai ke salib, ketulusan hati menjadi cara perlakuanNya pada yang membutuhkan. Kesederhanaan hati yang diungkapkan dan pikiran inilah ang harus ada pada kita (Filipi 2:5-8; Matius 11:28-30; 2 Korintus 10:1).

2. Ialah Teladan kita di dalam perkataan – Semua yang Dikatakan Kristus. Adalah teladan yang sempurna di dalam semua apa yang Ia katakan. PerkataanNya selamanya benar dan ramah. Sebagai manusia sempurna lidahNya ada dibawah kontrol sepenuhnya.

Perkataan yang dikatakanNya adalah perkataan BapaNya (Yakobus 3:2; Yohanes 8:55).
  1. Ialah teladan kita di dalam perkataan (Yohanes 12:47-50).
  2. Ialah teladan kita di dalam kehidupan doa (Ibrani 5:7; Lukas 6:12; Matius 14:23; Markus 1:35-38; Matius 26:38-46; Yohanes 6:12; Lukas 22:32, 44; Yohanes 11:41-42). Jika Anak Allah tergantung dari doa untuk mempertahankan persekutuan dengan Allah Bapa, alangkah lebih lagi orang percaya harus melakukannya.
  3. Ialah teladan kita dalam pengajaran dan khotbah (Matius 23:8; Yohanes 3:2; 7:16; 12:49; 3:34; Matius 7:29, 11:28-29).
3. Ialah Teladan kita di dalam perbuatan – Apa yang Ia lakukan Kristus adalah teladan kita di dalam semua yang kita lakukan. Ia bekerja dalam kehidupan sekuler sebagai tukang kayu dan dalam pekerjaan mesianikNya. Ia mengerjakan pekerjaan BapaNya. Ia berjalan untuk melakukan yang baik. Yesus adalah manusia yang berbuat baik seperti perkataanNya. Ia mematuhi sepenuhnya kehendak Bapa (Kisah 1:1; Yohanes 6:38; Matius 26:39; Mazmur 40:8; Yohanes 4:31-34; 5:30).

Robert Klarke dalam “The Christ of God” (hal 78-95) mengatakan bahwa Kristus adalah teladan kita di dalam iman, kesetiaan, kehidupan doa, penyangkalan diri, pelayanan, kasih, kemarahan, kesabaran, kelemah-lembutan, kerendahan hati, keberanian, rasa kasihan, kepatuhan, optimisme dan penyembahan.

KRISTUS Sebagai Mediator

Puncak dari doktrin mengenai oknum Kristus adalah yang mengenai Kristus sebagai Mediator, manusia Allah. Perjanjian Lama membayangkan sebelumnya kebenaran ini dan Perjanjian Baru menunjukkan penggenapannya di dalam Tuhan Yesus.

A. Wahyu Perjanjian Lama.

1. Ayub.
Ayub waktu tertekan karena serangan iblis mengungkapkan tangisan hati semua manusia supaya ada mediator diantara Allah dan manusia. Ia menangis “O sekiranya seorang dapat membela (yaitu berunding, mendesak, memutuskan sebagai wasit) untuk manusia dan Allah, seorang manusia membela tetangganya” (Ayub 16:21 AV). Ia membela “Karena Dia bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat menjawabNya, mari bersama-sama menghadap pengadilan. Tidak ada wasit diantara kami, yang dapat memegang kami berdua” (Ayub 9:32-33). Baca juga Ayub 23:3-10; 19:25-27). Seorang wasit adalah hakim, juru pisah. Ia adalah mediator. Ia adalah seorang yang memberi respons, menyalahkan, memutuskan dan bertindak sebagai wasit diantara dua kelompok. Tangisan Ayub sesungguhnya untuk Mesias yang akan datang sebagai Mediator Allah dan manusia.

2. Mediator di Israel.
Tugas sebagai mediator di Israel ditipekan pertama dalam Musa. Ia bertindak sebagai mediator perjanjian Hukum Taurat waktu Allah berbicara kepadanya secara langsung dan kemudian pada gilirannya ia berbicara kepada orang Israel. Musa digunung itu berdiri diantara Allah dan orang Israel sebagai mediator dalam penerimaan perjanjian Hukum Taurat (Ulangan 5:1-29; Galatia 3:19).

Waktu Tabernakel Musa ditahbiskan, Allah memerintahkan Musa untuk membawa kakaknya Harun dan menguduskan dia untuk jabatan Imam Besar kepada orang Israel. Dengan demikian Harun menjadi mediator di Israel. Semua orang Israel harus mendekati Allah dengan melalui Imam Besar yang diurapi dan yang ditunjuk ini. Melewati Harun, mediator yang ditunjuk Allah, adalah membawa penghukuman kepada diri sendiri (Ibrani 5:1-5; Bilangan 16:17).

Harun mewakili dalam keduabelas batu di dadanya, keduabelas suku Israel di muka Allah. Pelayanan imam oleh Harun membayangkan pelayanan mediator oleh Kristus. Buku Ibrani menyatakan Kristus sebagai seorang yang lebih besar dari Musa dan Harun dalam pekerjaanNya sebagai perantara (Ibrani 3:1-5; 5:1-10; 7:1-26).

B. Wahyu Perjanjian Baru.

1. Mediator Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru membawa ke wahyu sepenuhnya, di dalam oknum Kristus yang telah ditipekan di dalam pelayanan mediator Perjanjian Lama. Kata “Perantara” digunakan beberapa kali di dalam suratan-suratan, masing-masing menunjuk kepada Anak Allah. 1 Timotius 2:5 menyatakan “Karena Allah itu Esa dan Esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Dalam Ibrani 9:15 dan 8:6, Yesus Kristus adalah “Pengantara Perjanjian Baru” Ibrani 12:24 menyatakan bahwa kita datang “kepada Yesus, pengantara Perjanjian Baru.” (Baca juga Galatia 3:19-20 Amplified).

Kata Gerika “mesites” yang diterjemahkan “pengantara” berarti “pergi di antara”, yaitu secara sederhana, duta atau (implikasinya) pendamai, perantara”. Mediator adalah “orang di tengah” atau “seorang yang menempatkan diri di antara dua kelompok yang berbeda, dengan maksud untuk mendamaikan mereka.” Ialah jawaban atas tangisan Ayub dan penggenapan atas semua mediator Perjanjian Lama.

2. Mediator Manusia – Allah.
Bila kita memperhatikan Yesus Kristus sebagai Mediator Perjanjian Baru kita menemukan bahwa pelayananNya sebagai Mediator jauh melebihi apa yang ditipekan oleh mediator Perjanjian Lama.

Alasan-alasan berikut menguatkan hal ini.

a. Mediator yang tanpa dosa.
Kristus adalah Mediator tanpa dosa. Bertentangan dengan Musa dan Harun, yang keduanya membutuhkan penebusan dosa mereka sendiri, Kristus tidak membutuhkan penebusan. Ia adalah Imam Besar yang tak berdosa dan oleh sebab itu jauh melebihi setiap mediator Perjanjian Lama. Ia sesungguhnya “lebih baik” dari Musa dan Harun (Ibrani 5:1-5; 8:1-4; 10:1-11).

b. Mediator Manusia-Ilahi. Kristus bukan saja mediator yang tak berdosa, tetapi Ia juga sebagai Mediator sempurna yang adalah oknum manusia-Ilahi. Mediator dalam pengertian sebenarnya dari kata itu harus sanggup memahami secara sempurna kelompok yang perlu didamaikan. Ia harus sanggup beridentifikasi dengan kedua kelompok supaya dapat mengantarai secara efektif diantara mereka. Dengan kata lain, bila Yesus harus menjadi mediator yang sempurna di antara Allah yang kudus dengan manusia berdosa Ia harus memiliki kodrat Allah dan kodrat manusia (terkecuali dosa) untuk mengerti sepenuhnya keduanya dan mengefiktifkan pendamaian di antara mereka. Musa dan Harun tidak pernah dapat melakukan hal ini sepenuhnya, karena mereka hanya mempunyai satu kodrat, kodrat manusia berdosa. Untuk alasan yang sama, tidak ada dari iman Perjanjian Lama yang dapat menjadi mediator yang sempurna.

Yesus Kristus adalah manusia-Allah. Ia adalah Allah, memiliki kodrat Allah, jadi diidentifikasikan dengan Allah dan kekudusanNya yang sempurna. Ia juga menjadi manusia, memakaikan kemanusiaan yang tidak berdosa kepada DiriNya dan dengan demikian mengidentifikasikan dengan Allah dan kekudusanNya yang sempurna. Ia juga menjadi manusia, memakaikan kemanusiaan yang tidak berdosa dengan DiriNya dan dengan demikian mengidentifikasikan dengan manusia. Persatuan kodrat Ilahi dan manusia dalam satu oknum Kristus memberi kualifikasi kepadaNya untuk menjadi mediator yang sempurna di antara Allah dan manusia.
Ibrani 2:17 menyatakan itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”
Karena mempunyai kodrat Ilahi, Ia setia kepada Allah, dan karena mempunyai kodrat manusia Ia sanggup berbelas kasihan kepada manusia. Tetapi ini bukan belas kasihan yang mengorbankan kesetiaan kepada Allah. Dosa harus ditangani dalam suatu cara yang menegakkan kekudusan dan kebenaran Allah. Hanya dengan demikian belas kasihan dan kasih karunia dapat diperluas kepada manusia di dalam mengadakan pendamaian. Dalam Kristuslah tangisan Ayub supaya ada wasit “yang dapat menangani kita berdua” mendapatkan penggenapan yang sempurna (Ayub 9:32-33).

C. Mempertahankan Keseimbangan.

Disini perlu ditunjukkan bahwa pengertian yang benar dan keseimbangan harus dipertahankan dalam hal kodrat Ilahi dan manusia di dalam Kristus untuk menghindari ketidak-seimbangan bidat. Rahasia yang besar dan ke-Allahan adalah Dia yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia (1 Timotius 3:15-16; Kolose 2:2-3). Kristus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.

1. Kitab Suci mengungkapkan ke-AllahanNya.
Yesus Kristus adalah Allah. Atribut-atribut Ilahi, jabatan, pekerjaan dan nama-nama Ilahi diberikan kepadaNya. Penyembahan diberikan kepadaNya dan apa yang dikatakan dalam hal Bapa juga dikatakan kepada Anak. Ia tahu bahwa Ia Allah yang berinkarnasi. Ialah satu-satunya yang di dalam ke-Allahan yang kekal.

2. Kitab Suci mengungkapkan KemanusiaanNya.
Yesus Kristus juga adalah manusia. Kodrat manusia, watak dan kualitas manusia diberikan kepadaNya. Firman membuktikan sepenuhnya akan kemanusiaanNya yang sempurna, ril dan tanpa dosa.

3. Kitab Suci mengungkapkan persatuan dalam satu oknum ke-Allahan dan Kemanusiaan.
Kitab Suci mengungkapkan dengan jelas persatuan dari ke-Allahan dan Kemanusiaan di dalam satu oknum Kristus. Kristus mempunyai dua kodrat, yang Ilahi dan yang manusia, masing-masing di dalam kesempurnaan dan integritasnya, dua kodrat yang bersatu sedemikian rupa sehingga keduanya dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan, sehingga tidak membentuk kodrat ketiga.

a. Pandangan-pandangan salah mengenai persatuan ini. Persatuan diantara kedua kodrat ini tak dapat dibandingkan dengan:
  1. Hubungan perkawinan dua oknum, karena ini, walaupun dihubungkan di dalam satu perkawinan tetapi masih dua oknum yang berbeda dan terpisah.
  2. Hubungan diantara orang percaya dan Kristus karena ini, walaupun satu dalam persatuan rohani, namun tetap sebagai dua oknum yang berbeda. 
  3. Orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus, yang menjadikan seseorang dipenuhi oleh Allah. Yesus bukan hanya sebagai manusia yang dipenuhi oleh Allah, tetapi adalah Allah yang menjadi manusia.
  4. Kepribadian rangkap, karena Yesus Kristus bukan dua oknum. Ia bukanlah Allah dan manusia yang dihubungkan menjadi dua oknum, Ia adalah satu oknum yang mempunyai dua kodrat. 
  5. Mahluk seperti dalam metologi Grika setengah Allah dan setengah Manusia, atau setengah dewa atau setengah manusia.
  6. Allah yang berubah menjadi manusia, juga bukan manusia yang berubah menjadi Allah. Ke-Allahan tidak dimanusiakan dan manusia tidak di Allahkan.
Tidak ada dari pandangan-pandangan ini sebagai pandangan Alkitab yaitu persatuan kodrat Ilahi dan kodrat manusia di dalam satu oknum Kristus.

b. Pandangan yang benar tentang persatuan kedua kodrat ini dikatakan “Persatuan Hipostatis” yaitu persatuan personal, yang dapat dipahami dengan cara berikut ini.
  1. Yesus Kristus adalah satu oknum, memiliki di dalam DiriNya persatuan dua kodrat : kodrat Allah dan kodrat Manusia, menjadikan Dia Manusia-Allah. Seperti yang dikatakan A. Hodge “Anak Allah tidak menyatukan DiriNya dengan satu oknum manusia, melainkan dengan kodrat manusia, yaitu satu oknum”.
  2. Kodrat manusia bukanlah kodrat Ilahi, juga kodrat Ilahi bukan kodrat manusia, tetapi Kristus mempunyai dua kodrat di dalam satu oknum.
  3. Kodrat-kodrat ini dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, bersama-sama menjadi satu sehingga tak dapat dipisahkan dan membentuk satu oknum Kristus dari Allah. Kedua kodrat yang ada di dalam Kristus, masing-masing di dalam kesempurnaannya dan mempertahankan identitasnya masing-masing.
  4. Persatuan ini adalah persatuan Allah dan manusia di dalam satu oknum bentuk “ciptaan baru” (Wahyu 3:14), yang mempunyai dua pusat kesadaran dan dua kehendak. Manusia tidak menjadi Allah tetapi Allah yang menjadi manusia. Inkarnasi menggabungkan dua kodrat dan bukan dua oknum. Kedua kodrat itu tak dapat dipisahkan namun berbeda.
Thiessen di dalam “Lectures in Systematic Theology” mengatakan bahwa Kristus dengan demikian mempunyai inteligensi dan kehendak yang tidak terbatas dan intelegensi dan kehendak yang terbatas. Selanjutnya ia menulis “Kristus mempunyai kesadaran Ilahi dan kesadaran manusia. Kehendak IlahiNya omnipotent, kehendak manusiaNya hanya mempunyai kuasa manusia yang tidak jatuh. Di dalam kesadaran IlahiNya Ia berkata “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30; 14:28). Jadi Yesus sadar akan kesatuanNya dengan Allah dan juga kesatuanNya dengan manusia.

Tidak ada dua Kristus yaitu Kristus yang manusia dan Kristus yang Ilahi. Hanya ada satu oknum yang mempunyai kodrat Ilahi dan manusia Yesus selalu berbicara sebagai satu oknum. Perjanjian Baru berbicara secara demikian juga. Tetapi, atribut-atribut yang Ilahi dan yang manusia menjadi sifat dari oknum yang satu ini.

Waktu berbicara mengenai “kodrat dan atribut-atributnya” Ratz atribut Ilahi. Demikian pula substansi atau kodrat manusia adalah jumlah semua atribut manusia. Atribut harus dapat disesuaikan dengan kodrat yang berkaitan dengannya, dan tidak dapat ditukarkan pada substansi atau kodrat lainnya. Kodrat, bila diaplikasikan kepada ke-Allahan Kristus meliputi semua yang termasuk pada ke-AllahanNya”. Jadi kita berbicara mengenai dua kodrat Kristus, yang Ilahi dan yang manusia, masing-masing dengan atribut yang bersangkutan.

Schaff (yang dikutip oleh Ratz) di dalam “History of the Christian Church” menulis mengenai kata-kata “kodrat” dan “oknum”: “Kodrat atau substansi adalah totalitas kuasa dan kualitas yang membentuk seseorang. Oknum adalah ego, subyek yag sadar diri, tuntut diri (self-asserting) dan yang bertindak. Tak seorangpun yang tidak mempunyai kodrat, tetapi ada kodrat yang beroknum seperti mahluk irrasional “Oleh sebab itu di dalam rahasia inkarnasi, kita mengatakan bahwa Anak Allah “tidak mengambil oknum manusia, tetapi mengambil kodrat manusia” (C.A. Ratz, dalam “The Person of Christ” hal. 82). Bila tidak demikian akan ada dua oknum di dalam Kristus Allah. Secara teologis ada dua kodrat tetapi hanya ada satu oknum di dalam Anak Allah.

Di dalam membicarakan rahasia yang dalam tentang persatuan dua kodrat di dalam satu oknum Kristus, Edward W.A. Koehlar di dalam “A Summary of Christian Doctrine” (hal 90-92), mengungkapkannya dengan pernyataan yang menjelaskan :
“Waktu Anak Allah mengambil kodrat manusia, Ia menanamkan dan mengkomunikasikan padanya keagungan, kemuliaan dan atribut Ilahi. Oleh sebab itu keagungan dari kodrat Ilahi bagaimanapun tidak dikurangi atau dibagi, tetapi tetap penuh di dalam kedua kodrat. Dalam kodrat IlahiNya Anak Allah selamanya mempunyai kemuliaan dan keagungan Ilahi (Yohanes 17:15) tetapi untuk kodrat manusiaNya semua ini ditambahkan (Daniel 7:13-14; Ibrani 2:7-8).
Oleh sebab itu, sementara atribut-atribut Ilahi secara hakiki menjadi milik dari kodrat Ilahi, oleh komunikasi mereka juga menjadi milik dari kodrat manusia. Tetapi kodrat manusia tidak mengkomunikasikan sesuatupun kepada kodrat Ilahi karena kodrat Ilahi sempurna, dan oleh sebab itu tidak ada sesuatupun, dan oleh sebab itu tidak ada sesuatupun yang dapat ditambahkan. Jadi Kristus mempunyai dua kodrat yang berbeda, yang manusia dan yang Ilahi, masing-masing dengan atribut, fungsi dan aktivitasnya yang hakiki.
Tetapi karena kedua kodrat menjadi milik satu oknum maka atribut dan milik dari keduanya dapat dianggap berasal dari oknum itu. Kristus diperanakkan Bapa dari kekekalan menurut kodrat IlahiNya (Mazmur 2:7), Kristus lahir dari Perawan Maria pada waktuya menurut kodrat manusiaNya (Galatia 4:4). Yesus berumur 30 tahun menurut kodrat manusiaNya (Lukas 3:23), menurut kodrat IlahiNya Ia dapat mengatakan “sebelum Abraham ada, Aku ada” (Yohanes 8:58). Kristus sama dengan Bapa bila menyinggung ke-AllahanNya, dan lebih rendah dari Bapa bila menyinggung kemanusiaanNya.”

c. Alasan dari persatuan ini.
Alasan persatuan yang Ilahi dan yang manusia ialah supaya Kristus dapat memenuhi di dalam satu oknumNya, apa yang terpisah dan berbeda di dalam pelayanan perantara di Perjanjian Lama.

Di dalam pelayanan perantara di Perjanjian Lama yang mempersembahkan dan persembahan dibedakan. Imam Besar korban terpisah. Musa dan Harun sebagai mediator tak pernah dapat mempersembahkan diri mereka, tetapi mereka dapat mempersembahkan korban karena dosa (Keluaran 32:30-33, Ibrani 5:1-5). Tetapi, ini adalah kodrat manusia yang berdosa yang mempersembahkan kodrat hewan yang tak berdosa sebagai korban karena dosa. Jadi disana selalu ada pemisahan diantara korban dan yang mengorbankan, diantara iman dan persembahan.

Di dalam Kristus sebagai Manusia-Allah keduanya dibawakan bersama-sama di dalam satu. Persatuan dari kedua kodrat di dalam satu oknum secara hakiki mutlak untuk suatu pendamaian yang manjur untuk dosa. Karena sebagai Allah yang ril dan sebenarnya maka Ia dapat mendamaikan kepada Allah. Inilah maksud dari inkarnasi kodrat Ilahi membawakan kodrat manusia ke dalam persatuan denganNya. Edward W.A. Koehler dalam “A Summary of Christian Doctrine” (hal 87) mengatakan biasanya seorang kodrat manusia sebagai oknum manusia mempunyai eksistensinya sendiri dan individual. Kodrat manusia dari Yesus adalah sejak saat inkarnasi diterima oleh Anak Allah “Firman itu telah menjadi manusia” (Yohanes 1:14) “Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan” (Galatia 4:4). Tak ada waktunya dimana kodrat manusia dari Kristus berada untuk dan oleh diriNya, yang membentuk di dalam dirinya satu oknum, tetapi sejak semula itu telah mempunyai eksistensi di dalam oknum Anak Allah. Juga tidak terjadi bahwa kedua kodrat itu bergabung menjadi satu oknum, tetapi oknum ke-Allahan yang kekal, Anak, menerima kodrat manusia dan oleh sebab itu yang bukan oknum dari kodrat manusiaNya. Anak Allah menyediakan oknum dari Yesus Kristus yang Manusia-Allah itu. Oleh sebab itu persatuan dari kedua kodrat di dalam satu oknum merupakan Dia sebagai Mediator satu-satunya dan yang sempurna di antara Allah dan manusia; di antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa, Yesus Kristus adalah jembatan di antara Allah Ilahi yang menerima kodrat manusia tak ada kemungkinan untuk jatuh, tak ada respons pada dosa. Yesus adalah inkarnasi. ”Allah ada di dalam Kristus” mendamaikan dunia kepada DiriNya (2 Korintus 5:18-21). Adam adalah ciptaan tetapi ia bukan Allah yang berinkarnasi. Jadi Yesus, sebagai Mediator dan Imam (ke-Allahan) sanggup mempersembahkan DiriNya, Tubuh dan DarahNya sendiri yang tak berdosa sebagai korban dan persembahan (kemanusiaan) dan menjadikan mungkin pendamaian di antara Allah dan manusia.

Untuk alasan ini Kristus disebut sebagai Oknum Theanthropik (Theos-Allah, Anthropos-Manusia). Ia tidak memiliki kodrat yang Theanthropik. OknumNya Theanthropik, tetapi kodratnya tidak. OknumNya satu, kodratNya dua. Ia secara kekal adalah Manusia Allah. Ia tidak memiliki kodrat Ilahi, dan kodrat manusia, kualitas dan atribut masing-masing bersatu dalam keserasian sepenuhnya, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Ia adalah Allah yang sebenarnya, Manusia yang sempurna, satu oknum, mempunyai dua kodrat yang tidak kacau. Ia bukan Allah yang dimanusiakan atau Manusia yang di-Allahkan. Ia adalah Manusia Allah (dahulu dan sekarang).

Kepribadian Kristus adalah unik :
Ia sesungguhnya hanya diperanakkan tentang Adam, ia adalah manusia ril namun tidak dilahirkan dari generasi alamiah. Hawa adalah perempuan tanpa ibu, tidak dilahirkan tetapi dibuat dari rusuk suaminya, Adam, manusia pertama. Kristus adalah hal ke-AllahanNya tidak beribu, dan dalam hal kamanusiaanNya tidak berayah. Kristus adalah Allah yang dijadikan daging, Ia bukan Allah karena lahir dari perawan tetapi Ia lahir dari perawan, karena Ia dari Allah.

Para penulis Perjanjian Baru dibawah inspirasi Roh Kudus, menyatakan keseimbangan yang indah diantara ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus dalam tulisan mereka. Kita mendaftarkan beberapa referensi contoh keseimbangan ini dan mengatur dalam daftar yang mengilustrasikan keseimbangan di antara yang Ilahi dan yang manusia dari Kristus. Kodrat yang Ilahi dan yang manusia (2 Korintus 2:8; 15:47, Matius 1:21; Lukas 1:30-33; Ibrani 1:3; Roma 9:5; Yohanes 3:13; 6:62; Wahyu 22:16; Kisah 17:31; Yohanes 1:1-3; 14:18; 11:25-26; 18:5-8).

Bila kita menekankan ke-AllahanNya kita kabur akan kemanusiaanNya yang sempurna. Bila kita terlalu menekankan kemanusiaanNya kita akan kabur atas ke-AllahanNya. Bila kita menolak ke-AllahanNya tak akan ada kontak diantara Allah dan manusia dan jembatan itu rusak dari segi Ilahi. Sebaliknya bila kita menolak kemanusiaanNya, maka jembatan rusak itu disisi manusia. Dari ketidak-seimbangan inilah muncul bidat tentang Anak Allah yang keberkatan itu.

Dr. Charles A. Ratz dalam “The Person of Christ” mengutip inskripsi Latin kuno yang dipahatkan di marmer, yang ditemukan di Asia mengenai iman akan Tuhan Yesus Kristus, kekristenan abad pertama. Tulisan itu berbunyi :
  • Aku ada (sekarang) apa yang aku ada (dulu) – Allah.
  • Aku ada (dulu) bukan yang Aku ada (sekarang) – manusia.
  • Aku ada sekarang keduanya disebut, Allah dan Manusia.
  • Kristus yang sebenarnya sebagai Manusia-Allah adalah “Mediator yang lebih baik” dari “Perjanjian yang lebih baik
TUHAN Yesus memberkati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar