Senin, 30 Mei 2011

Injil Matius

Lukisan "Rasul Matius Diberi Inspirasi oleh Malaikat" oleh Rembrandt
Penulis
Rasul Matius.

Waktu Penulisan
Antara tahun 50 dan 70 Masehi.

Rentang Waktu
Sekitar 37 tahun (4 SM – tahun 33 M).

Judul Kitab
Dari nama penulis kitab ini: Matius.

Latar Belakang
Perjanjian lama berakhir dengan nabi nabi Allah menubuatkan kedatangan Dia Yang Diurapi, yang akan masuk dalam sejarah untuk membawa kebebasan dan pelepasan bagi umat-Nya. Sekitar 400 tahun kemudian, Perjanjian Baru dimulai dengan Kitab Matius yang mengungkapkan pengenapan nubuat-nubuat ini dalam Yesus Kristus, Sang Mesias yang telah lama ditunggu. Matius, seorang pemungut pajak Yahudi yang bekerja untuk pemerintahan Romawi, dipanggil oleh Yesus untuk menjadi salah satu dari kedua belas rasul. Dengan demikian, Injil ini berkisah dari apa yang telah dilihat secara langsung oleh Matius.

Tempat Penulisan
Kemungkinan di Antiokhia.

Mulanya Ditujukan Kepada
Terutama kepada bangsa Yahudi, juga kepada orang kafir yang menjadi Kristen.

Isi
Injil Matius menjadi penghubung yang sangat penting antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Matius memulai dengan menelusuri silsilah Yesus melalui Yusuf; kelahiran Yesus oleh perawan Maria, pembaptisan Yesusoleh Yohanes Pembaptis, dan percobaan atas Yesus oleh Iblis di padang gurun. Yesus berbicara lebih banyak di dalam Matius daripada di kitab Injil lain. Khotbah pengajaran-Nya di bukit di pasal 5-7; pengutusan ke-12 rasul (pasal 10); perumpamaan tentang Kerajaan Sorga (13); persekutuan dalam Kerajaan Sorga (18) dan khotbah tentang akhir zaman yang akan datang (pasal 24-25). Pengkhiatan, pengadilan, penyaliban, penguburan dan kebangkitan-Nya, semua hal tersebut terjadi pada minggu-minggu terakhir dalam kehidupan Yesus. Matius mengakhiri dengan panggilan agung bagi semua orang percaya.

Kata Kunci
“Pengenapan”; “Kerajaan Sorga”. Matius mengutip dari banyak kitab dalam Perjanjian lama untuk memperkuat lebih lanjut penegasan bahwa Yesus benar-benar adalah “pengenapan” dari Mesias yang dijanjikan, Sang Juruselamat dunia. Istilah “Kerajaan Sorga” digunakan berulang-ulang oleh Matius untuk memperkenalkan Kabar Baik bahwa Allah hadir dalam Yesus Kristus dan hidup untuk memerintah dalam hidup manusia. Istilah ini tidak muncul lagi di kitab manapun dalam Perjanjian Baru.

Di kalangan jemaat pertama, ada kebulatan pendapat bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Matius dalam bahasa Ibrani (atau Aram) dan bahwa Injil ini ditulis lebih dulu dari Injil-injil lainnya. Pandangan ini sekarang banyak ditentang oleh ahli-ahli. Alasan menentang pendapat ini ialah, pertama apakah seorang rasul yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kejadian-kejadian yang dicatat, toh akan mengambil bahan dari Injil Markus, yang penulisnya bukan rasul...? 
Kelihatan ini kurang masuk akal. Tapi dijawab bahwa tulisan Markus dianggap berwibawa bahkan oleh rasul-rasul lain karena mencatat ajaran Petrus. Mungkin Matius telah memakai Injil Markus dengan mengubah dan memperbaikinya di sana-sini untuk menyesuaikannya dengan apa yang dialaminya sendiri.
Alasan selanjutnya menentang pendapat Matius-lah penulisnya ialah, bahwa beberapa dari cerita, biasanya cerita tentang mujizat-mujizat, dalam bahan-bahan yang khas Matius, dan beberapa ajaran, terutama ajaran yang menekankan eskatologi futuris, tidak mungkin berasal dari seorang rasul.

Ini adalah suatu masalah, tapi untuk menerima pendapat itu begitu saja berarti telah memberi jawaban yang terlalu pasti pada persoalan, sampai berapa jauhkah Injil Markus merupakan patokan dan apakah Injil-injil yang lain masing-masing dengan tekanan khususnya, tidak memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada Injil Markus tentang perkataan dan perbuatan Yesus.

Papias (40-130 Masehi) mengatakan, "Matius menulis Logia dalam bahasa Ibrani dan setiap orang menafsirkannya menurut kesanggupannya." Jadi Papias menganggap bahwa Injil Matius ditulis dalam bahasa Aram, suatu pendapat yang pada umumnya tidak dianut orang lagi, oleh karena Matius menggunakan Injil Markus dan Septuaginta (LXX). Orang-orang yang sependapat dengan Papias harus juga menganggap bahwa Injil Matius didasarkan pada suatu revisi menyeluruh dari naskah asli dalam bahasa Aram itu yang sering menunjuk kepada Injil Markus, dan hal ini sangat tidak mungkin. Jadi Papias harus dianggap salah tentang bahasa, tapi benar tentang penulis Injil Matius; atau menunjuk kepada sesuatu yang lain. Jika Papias tidak menunjuk kepada Injil Matius, apakah yang dimaksudkannya dengan 'Logia'...?

Ada dua pendapat yang telah mendapat sokongan di kalangan ahli. Kemungkinan pertama ialah, Logia itu suatu kumpulan "kesaksian" atau kutipan dari Perjanjian Lama, tapi hampir tidak ada bukti bahwa pernah ada kumpulan semacam itu dalam bentuk buku. Kedua, barangkali 'Logia' itu menunjuk kepada suatu kumpulan ucapan, dan jika memang begitu, dapat dikatakan bahwa ini adalah Q. Tapi tidak diketahui apakah Q adalah sumber yang tertulis atau lisan, dan kalau memang tertulis apakah naskahnya satu atau lebih? Apalagi istilah 'Logia' bukan hanya berarti suatu kumpulan ucapan. Dan dalam beberapa tulisan orang-orang Kristen zaman purba, dan mungkin juga oleh Papias sendiri, istilah itu dipakai dalam arti "Injil".

Nampaknya tidak dapat disangkal bahwa rasul Matius memang punya sangkut-paut dengan Injil yang memakai namanya, bukan dalam isi, tapi dalam judul, yang barangkali diikatkan pada Injil ini pada permulaan abad ke-2. Hal ini mencerminkan kepercayaan yang meluas pada waktu itu bahwa dialah penulisnya. Dia tidak cukup terkemuka untuk dianggap sebagai penulis Injil itu sekiranya penulisnya tidak diketahui.
Kenyataan bahwa ia disebut 'Matius' dan bukan 'Lewi' waktu ia dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti-Nya tidak dapat dipakai sebagai alasan yang kuat bahwa dialah penulisnya. Apa dan dalam bentuk apa sebenarnya hubungan rasul Matius dengan Injil ini tak dapat diketahui dengan tepat, tapi kalau bukan dia penulis Injil itu, besar sekali kemungkinan bahwa ia adalah seorang pemimpin dalam masyarakat di mana Injil ini lahir (masyarakat yang dimaksud barangkali adalah semacam sekolah katekisasi). Atau kalau bukan demikian, mungkin ia punya peranan penting dalam pengumpulan dan penurunan bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam Injil itu. Susunan yang sistematis dari Injil itu sering dianggap menunjukkan tanda-tanda pekerjaan seorang pejabat cukai. Bagaimana juga, penulis Injil ini mungkin berpikir tentang tugasnya sendiri waktu ia menulis, bahwa "setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harga yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." 

Argumentasi Liberalisme
Matius yang seorang pemungut cukai dari kerajaan Roma hanyalah seperti sekarang ini “Debt Collector”. Sedangkan Papias melalui tulisannya “Expositions of the Sayings of the Lord” sekitar tahun 140 Masehi, adalah orang pertama yang memberikan komentar bahwa Injil Matius ditulis oleh Matius murid Yesus, dan Injil Markus ditulis oleh Markus, kenalan dekat dari Petrus. Masalah dengan Papias adalah, jika kita pelajari dari sejarah, ia tidak bisa menjadi sumber sejarah yang akurat.
Mengapa...?
Tidak hanya karena Eusibius mengatakan bahwa ia adalah orang yang memiliki intelligence yang rendah (Church History 3.39). Tapi, menurut para Scholars, dari apa yang Papias sampaikan, tentang penulis Injil, justru banyak sekali yang bertentangan dengan isi Injil itu tersebut.

Jawaban
Debt Collector atau biasa disebut penagih hutang lebih identik dengan kekerasan, yaitu menggunakan bodyguard untuk menagih hutang-hutang yang macet. Pekerjaan Debt Collector berbeda dengan penagih pajak (pemungut cukai) yang harus menguasai sistem perpajakan.
Sistem perpajakan kuno di Palestina di bawah penguasaan Romawi cukup kompleks. Ada pajak property, pajak perorangan, pajak perdagangan, pajak lokal seperti temple tax. Bahkan di Mesir jenis pajak lebih banyak lagi mencapai sekitar 111 jenis pajak.

John Wenham (RMML) menuliskan kompleksitas sistem pajak ini & bagaimana pekerjaan Matius sebagai seorang Tax Collector: “It is known that in Egypt at this date there were 111 kinds of tax, and many of the tax-collectors knew shorthand. Matthew's livelihood was earned by interviewing tax-payers and discussing their affairs (usually in Aramaic) and then writing up his reports in Greek. He had a lifelong habit of noting things down and of preserving what he had written.”
"Seperti yang telah diketahui bahwa Mesir pada masa itu memiliki 111 jenis pajak dan banyak para pemungut cukai memiliki catatan tangannya sendiri. Kehidupan Matius sendiri diisi dengan melakukan interview terhadap wajib pajak dan membahas permasalahan-permasalahan mereka (biasanya menggunakan bahasa Aram)dan kemudian menuliskan laporannya dalam bahasa Yunani. Dia memiliki kebiasaan mencatat banyak hal dan menyimpan apa yang ditulisnya.

Matius pasti tahu bagaimana menyusun laporan keuangan karena itu bagian dari tugasnya. Maka dia pun tentu memiliki kemampuan untuk mencatat berbagai perkataan Yesus. Pritchard (LANT) lewat studinya menyatakan hal ini: "…It is not unlikely that Matthew, a man trained in handling financial accounts, should have competently collected and arranged sayings of Jesus..."
"Bukan hal yang tidak mungkin bahwa Matius, seorang yang terlatih dalam menangani laporan keuangan, seharusnya juga memiliki kemampuan mengumpulkan dan menyusun kembali perkataan-perkataan Yesus..."

Menariknya Injil Matius paling banyak menulis hal-hal yang berkaitan dengan “keuangan”. Dan karakteristik ini sangat cocok dengan Matius sebagai Tax Collector. Saya coba hitung kata “uang” dalam tiap kitab Injil: Matius (15), Markus (5), Lukas (6), Yohanes (3). Selain itu dalam Injil Matius banyak terdapat hal spesifik yang berkaitan dengan istilah keuangan, diantaranya:
Matius menggunakan tiga jenis kategori untuk uang (dua dirham Mat 17:24, empat dirham Mat 17:27, Talenta Mat 18:24 ). Hanya Matius yang menggunakan kata emas & perak. Hanya Matius yang menuliskan tentang pembayaran bea ke Bait Allah (Mat 17:24-27). Dalam perumpamaan tentang Talenta, Matius merinci jumlah uang lebih detail. Penjelasan yang lebih baik terhadap berbagai istilah keuangan lainnya seperti hutang, pertukaran uang, perhitungan uang dan lain-lain. Informasi lengkap mengenai hal ini dibahas oleh Werner G. Marx (MMM).
Kita bisa melihat kombinasi data yang saling berkaitan antara: Matius sebagai Tax Collector – Kompleksitas Pekerjaan Tax Collector – Ciri khas istilah keuangan dalam Injil Matius. Ini memberikan kemungkinan yang sangat kuat bahwa Matiuslah penulis Injil Matius.

Papias adalah salah satu bapa gereja yang menyatakan bahwa Matius murid Yesus adalah penulis injil Matius seperti yang dikutip oleh Eusebius (H.E. 3.39.15-16):"…So then Matthew wrote the oracles (logia) in the Hebrew language, and every one interpreted them as he was able."
Argumentasi yang mengatakan bahwa Papias diragukan karena disebut oleh Eusibius memiliki "intelligence yang rendah" harus diuji kembali. Ternyata yang dimaksud dengan “intelligence yg rendah” oleh Eusibius ditujukan pada tafsiran-tafsiran dari Papias seperti masalah Eskatologi, tetapi bukan berkaitan dengan fakta2 sejarah yang ditulis oleh Papias. Salah buktinya berkaitan dgn penyebutan Matius sebagai penulis Injil Matius yang ternyata Eusibius sendiripun sepakat dengan hal ini (H.E. 3.24.6). “…For Matthew, who had at first preached to the Hebrews, when he was about to go to other peoples, committed his Gospel to writing in his native tongue ..”. Bahkan dari tulisan dia juga mengutip beberapa bapa gereja lainnya yg menyatakan hal yg sama.

Irenaeus (130-200) (Adv. Haer. 3.1.1; juga dikutip oleh Eusebius, H.E. 5.8.2):

"..Now Matthew brought forth among the Hebrews a written gospel in their language, while Peter and Paul were preaching in Rome and founding the church."
Origen (185-254) (dikutip oleh Eusebius, H.E. 6. 25.4):

"..Among the four Gospels, which are the only indisputable ones in the Church of God under heaven, I have learned by tradition that the first was written by Matthew, who was once a publican, but afterwards an apostle of Jesus Christ, and it was prepared for the converts from Judaism, and published in the Hebrew language”

Eusebius juga mengatakan tentang sebuah tradisi tentang Injil Matius yg dikaitkan dgn seorang bernama Pantaenus (190) anggota gereja di Alexandria. (H.E. 5.10.3):
“..Pantaenus was one of these, and is said to have gone to India. It is reported that among persons there who knew of Christ, he found the Gospel according to Matthew, which had anticipated his own arrival. For Bartholomew,168 one of the apostles, had preached to them, and left with them the writing of Matthew in the Hebrew language,169 which they had preserved till that time.”

Adapun mengetahui berbagai ketidaksesuaian dari tulisan Papias dengan Injil Matius, inipun berkaitan dengan tafsiran terhadap Injil itu. Tetapi hal yang berkaitan dgn fakta sejarah bahwa Matius sebagai penulis Injil Matius tdk ada pengaruhnya. Kalaupun Papias salah menyebutkan Injil Matius ditulis oleh Matius, seharusnya ada catatan lainnya yang mengoreksi kesalahan itu !

Masih ada beberapa bapa gereja lainnya yang menyebut Matius sebagai penulis Injil Matius, seperti: Ephiphanius (c. 315-403)(Haer. 30.3), Cyril of Jerusalem (c. 315-86)(Cat. 14), Jerome (Prol. in Matt.; Praef. in Quat. Ev.; Vir. 3). Menarik apa yg dikatakan oleh John Wenham (RMML): "But the fact remains that there is no alternative tradition about the authorship of Matthew's gospel, as there is in the case of Hebrews, nor was there doubt of its apostolic authorship …"

Tidak ada tradisi alternatif tentang siapa nama penulis Injil Matius selain Matius itu sendiri. Termasuk tidak ada referensi dari bapa-bapa gereja yang mengatakan bahwa Injil Matius ditulis oleh orang lain yg bukan Matius.

Bapa Gereja Mengutip Injil Matius

Matius dikutip St Barnabas

Surat Barnabas ditulis oleh Barnabas yang namanya tercantum dalam Kisah Para Rasul. Barnabas adalah seorang Israel dari suku Lewi kelahiran Siprus (Kisah Para Rasul 9:26) dan kemudian bergabung dengan jemaat Kristen Yerusalem. Pasca meninggalnya Yakobus pada sekitar tahun 40-an Masehi, umat Kristen di Yerusalem dipimpin oleh Petrus. Dengan demikian, sanad Barnabas adalah:
Yesus Kristus > Petrus > Barnabas
Surat Barnabas tersebut ditulis pada sekitar tahun (±70-79 M). Dalam suratnya tersebut, Barnabas mengutip Injil Matius. Pengutipan Injil Matius itu didahului dengan rumusan os gegraptai (sebagaimana tertulis). Rumusan singkat dan nampak seolah-olah sepele ini sangat penting, karena
  1. Rumusan ini hanya digunakan oleh orang Yahudi masa itu untuk mengutip kitab-kitab Perjanjian Lama. Penggunaan rumusan os gegraptai berarti: Barnabas mengakui Injil Matius sebagai kitab suci Injil yang setara dengan kitab-kitab para nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama (TANAKH). Lebih jauh lagi, hal ini mengindikasikan bahwa umat Kristen generasi kedua memandang bahwa Injil yang ditulis oleh Matius (para rasul / apostles / disclipes; umat Kristen generasi pertama) adalah kitab suci yang setara dengan kitab-kitab Perjanjian Lama.
  2. Menunjukkan bahwa Barnabas mengutip dari apa yang tertulis, bukan menuliskan dari apa yang terdengar
  3. Menunjukkan bahwa Injil Matius telah dituliskan saat Barnabas menuliskan surat tersebut



Barnabas



Matius
17 Oleh karena itu waspadalah agar hal itu tidak terjadi pada kita; os gegraptai (sebagaimana tertulis): "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Surat Barnabas 3:17) Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.(Matius 22:14)

Pengutipan tersebut menunjukkan bahwa Injil Matius yang ada pada saat ini adalah Injil Matius yang dipegang oleh umat Kristen generasi kedua yang hidup kira-kira antara pertengahan abad pertama sampai pertengahan abad kedua.
Surat Barnabas ini berbeda dengan Injil Barnabas. Surat Barnabas ditulis oleh Barnabas pada sekitar tahun 70-79 Masehi, Injil Barnabas ditulis oleh Frans Marino pada abad pertengahan (abad ±15 Masehi).

Matius Diparafrasekan Clement dari Alexandria ( +- 150 - 215 M)

Clement menjadi kepala Sekolah Alkitab Alexandria pada tahun 189 M menggantikan gurunya yang bernama Pantaenus.
Sanad Clement dari Alexandria adalah sebagai berikut:
Yesus Kristus > Yohanes bin Zebedeus > Paulus > Dionysius Areopagite dan Hierotheus > Pantaenus > Clement dari Alexandria
Berikut ini adalah ayat-ayat Injil Matius yang diparafrasekan oleh Clement dari Alexandria. 

Clement dari AlexandriaMatius
Dia (Allah) tidak menginginkan kita menuntut balas demi diriNya, dia mengajar kita untuk berdoa bagi mereka yang dengan marah mengeksploitasi kita (Paidagogos I: 8). Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)
Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu (Stromateis 3: 256) Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu (Matius 19:11)
Dia bahkan memperlakukan binatang yang tidak rasional secara tidak berbeda; bagi semua binatang buas, Dia menerbitkan matahati secara merata dari atas; Dia mengesahkan kebajikannya bagi orang baik dan orang jahat, agar tak seorang pun dapat mempunyai lebih daripada bagian mereka atau merampas bagian tetangga mereka agar mendapat cahaya dua kali lipat dari yang mereka terima. (Stromateis 3:.260) 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)
Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka; bagianmu mengikuti Aku (Isa Al Masih) (Stromateis 3:271) Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka. (Matius 8:22)
Sesuai perintah Sang Penyelamat, aku (Clement) menganggap bahwa Dia (Isa Al masih) tidak ingin [kita] "melayani dua tuan" (Stromateis 3:272) Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. (Matius 6:24)
Sungguh sebagaimana yang dikatakan Sayyidina kita, "Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, maka kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Tuhan" (Stromateis (3:276) Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20)

Matius Diparafrasekan Justin Martyr (+- 103 - 165 M)

Justin Sang Martyr atau Justin Sang Syuhada adalah seorang hujatul iman (apolog). Dia terkenal dengan buku-bukunya yang memberi penjelasan mengenai bagaimanakah sebenarnya umat Kristen itu. 
Dalam bukunya yang berjudul "Dialog dengan Trypho si orang Yahudi", Justin mengutip Injil Matius secara parafrasitik.



Justin Martin



Matius
...ketika bintang muncul di langit pada waktu kelahiran Yesus Kristus sebagaimana yang disimpan dalam ingatan para sahabat Yesus Kristus, raja Majus dari Arab yang mengenali pertanda ini datang dan menyembahNya. (Dialog dengan Trypho si Orang Yahudi) 1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem
2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersamaMaria, ibu Yesus , lalu sujud menyembah Yesus. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
(Matius 2:1-2, 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus disembah sebagai raja oleh orang Majus.
Sebab saat disalibkan, Yesus Kristus berkata: Ya Allah, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" (Dialog dengan Trypho si Orang Yahudi XCIX) 46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Injil Matius 27:46)
Sebab pada hari di mana Yesus disalibkan, setelah membawa tiga murid-Nya ke bukit yang disebut Bukit Zaitun yang terletak berhadapan dengan Bait Suci (Ka’bah Sulaiman) di Yerusalem, Isa berdoa dengan kata-kata ini: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku' Dan lagi Yesus berdoa: "Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki", menunjukkan dengan ini bahwa Isa benar-benar telah menjadi orang menderita. (Dialog dengan Trypho si Orang Yahudi XCIX:8) 37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar (Injil Matius 26:37)
39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Injil Matius 26:39)

Sanad yang menghubungkan antara Yesus Kristus dan Justin tidak diketahui. Hanya saja, dari biografi mengenai Justin dapat diketahui bahwa dia mengenal Yesus Kristus di kota Efesus pada sekitar tahun 137 Masehi. Dari surat Wahyu (Wahyu 2:1) dapat diketahui bahwa Efesus masih masuk ke dalam jemaat yang diasuh oleh Yohanes bin Zebedeus. Kisah syahidnya Justin ditulis oleh Irenaeus yang merupakan cucu murid Yohanes (cicit murid Yesus Kristus). Dalam kisah syahid tersebut, Irenaeus juga menyebut Tatius yang adalah murid Justin Martyr dan turut syahid bersama gurunya itu. Lebih jauh, Irenaeus bahkan mengutip buku Justin Martyr sebanyak dua kali. Tiga hal tersebut memunculkan kemungkinan bahwa Justin Martyr sama seperti Irenaeus, yaitu sama-sama murid Polycarpus, murid Yohanes. Dengan demikian, sanad Justin Martyr (Justin Sang Syuhada) adalah sebagai berikut:
Yesus Kristus > Yohanes bin Zebedeus > Polycarpus > Justin Martyr
Sanad Justin Martyr ini hipotetis, sehingga lemah; sedangkan sanad Polycarpus, Irenaeus, Clement Roma, dan Ignatius itu kuat. Hanya saja, pengakuan Irenaeus dan pemimpin jemaat Kristen lainnya terhadap Justin membuat sosok ini beserta tulisan-tulisannya diperhitungkan. 

Matius Diparafrasekan Oleh Clement Roma Pada Sekitar Tahun (...+- 99M )

Clement adalah pemimpin jemaat Kristen di kota Roma sehingga disebut Clement Roma atau Clemen dari Roma. Menurut Tertullianus, Clement dibai'at oleh Petrus, salah seorang sahabat sekaligus murid Isa Al Masih. Sebelum Clement, bishop kota Roma adalah Petrus. Dari suksesi tersebut dapat diketahui bahwa Clement adalah salah satu murid Petrus. Sehingga sanad Clement dari Roma adalah
Yesus Kristus > Petrus > Clement dari Roma
Clement dari Roma (Clement I) menulis surat tersebut kepada jama'ah Al Masih di Korintus pada tahun ± 96-98 M. Dalam suratnya tersebut, Clement memparafrasekan Matius 11:29. 



I Clement, 16:17


Matius 11:29
kita yang berada di bawah kuk kasih karuniaNya melalui Dia Pikullah kuk yang kupasang

Parafrase Injil Matius 11:29 dalam surat Clement Dari Roma tersebut mengindikasikan bahwa Injil Matius yang kita pegang sekarang ini juga dipegang oleh murid Petrus pada dasawarsa 90-an Masehi.

Matius Dikutip oleh Irenaeus
 
Irenaeus adalah murid Polycarpus, murid Yohanes bin Zebedeus, murid Yesus Kristus. Dengan demikian, sanad Irenaeus adalah:
Yesus Kristus > Yohanes Bin Zebedeus > Polycarpus > Irenaeus
Pada paruh kedua abad pertama sampai sekitar tahun 202 M, Irenaeus menjadi pemimpin umat Kristen di daerah Lugdunum, Gaul (sekarang Lyon, Prancis).
Sebagai cucu murid Yohanes, Irenaeus bukan hanya mengutip Injil Yohanes, melainkan juga Injil Matius, karena gurunya yang bernama Polycarpus yang murid langsung Yohanes bin Zebedeus saja mengakui Injil tulisan Matius. Injil Matius yang dikutip oleh Irenaeus dalam bukunya yang berjudul Adversus Haereses "Melawan Bid'ah" (ditulis pada sekitar tahun 180 M) adalah sebagai berikut: 



Irenaeus


Matius
Inilah silsilah Yesus Kristus anak Daud anak Abraham (Adversus Haereses 'Melawan Bid'ah' 3.11.8) Inilah silsilah Yesus Kristus anak Daud anak Abraham (Matius 1:1)
Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut (Adversus Haereses 'Melawan Bid'ah' 3.11.8) Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut (Matius 1:18)

Irenaeus secara eksplisit memberi kesaksian bahwa Matius menulis Injil dan mengatakan bahwa di dalam Injil Matius tersebut terdapat pernyataan "Inilah silsilah Yesus Kristus anak Daud anak Abraham " dan "Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut".
Matius memproklamasikan kelahiran insaninya dengan berkata, "Inilah silsilah Yesus Kristus anak Daud anak Abraham" dan "KelahiranYesus Kristus adalah sebagai berikut" . (Adversus Haereses 'Melawan Bid'ah' 3.11.8)
Dua kalimat yang dikutip Irenaeus tersebut ada di dalam Injil Matius yang sekarang ini kita pegang. Ini mengindikasikan bahwa Injil Matius yang kita pegang adalah Injil Matius yang juga dipegang oleh Irenaeus pada tahun 100-an Masehi akhir.

Matius Dikutip Polycarpus (±69-±155 M) 

Polycarpus (Πολύκαρπος) pemimpin umat Kristen di kota Smyrna. Sebagaimana Ignatius, Polycarpus juga murid Penulis Injil Yohanes, yaitu Yohanes bin Zebedeus. Kedekatannya dengan Yohanes Penulis Injil itu sampai berhasil membuat para pengikut bid'ah Valentius dan Marcion kembali kepada Injil yang gurunya tuliskan itu, demikian diriwayatkan oleh Irenaeus, murid Polycarpus. Polycarpus syahid pada sekitar tahun 155 Masehi.
Sanad dari Yesus Kristus kepada Polycarpus adalah sebagai berikut:
Yesus Kristus > Yohanes bin Zebedeus > Polycarpus
Ignatius pernah menulis surat kepada Polycarpus dan Polycarpus mengisahkan Ignatius yang syahid. Sebagaimana Igatius, Polycarpus juga mengutip Injil tulisan Matius. 
Berikut ini adalah Injil Matius yang dikutip oleh Polycarpus. 




Polycarpus


Matius
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Polycarpus 2:3) Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Matius 7:1,2)
...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.... (Polycarpus 7:2) janganlah membawa kami ke dalam pencobaan (Matius 6:13)
roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Polycarpus 7:2) roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Matius 26:41
mereka yang menganiaya kamu (Polycarpus 12:3) mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44)

Matius Dikutip Ignatius (±35 M - ±110 M)

Ignatius (Ιγνάτιος) alias Theoforus (Θεοφόρος) adalah pemimpin umat Kristen di kota Antiokhia sekaligus pemimpin jemaat Antiokhia, Syria, secara keseluruhan. Guru Ignatius adalah penulis Injil Yohanes yaitu Yohanes bin Zebedeus yang adalah salah seorang sahabat Yesus Kristus. Ini berarti Injil Matius juga dipegang oleh para murid Yohanes. Sejarah ini menjadi penjelasan mengapa Yohanes tidak mencatat apa-apa yang telah dituliskan secara rinci oleh Matius, semisal peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung.
Sanad Ignatius berpangkal dari Yesus Kristus dan berujung pada Ignatius sebagai berikut:
Yesus Kristus > Yohanes Bin Zebedeus > Ignatius
Berikut ini adalah bagian Injil Matius yang dikutip oleh Ignatius:




Ignatius


Matius
Pohon dikenal dari buahnya (Ef 14:2) Pohon dikenal dari buahnya (Matius 13:23 )
Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti. (Smirna 6:1) Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti. (Matius 19:12)
Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati (Poly 2:2) Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati (Matius 10:16)

Surat-surat tersebut berasal dari masa akhir abad pertama sampai sebelum tahun 110 M, tahun syahidnya Ignatius. Bagaimana Ignatius syahid dikisahkan oleh Polycarpus.
Dari kutipan-kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Injil Matius yang saat ini kita pegang adalah Injil Matius yang dipegang oleh Ignatius yang hidup antara tahun ±35 M - ±110 M.

Reference :
Studycycle.net 
Sarapan Pagi
John Wenham, [RMML] Redating Matthew, Mark, and Luke, IVP: 1992.
Pritchard, John Paul. A Literary Approach to the New Testament. Norman: U. of Oklahoma Press, 1972.
Werner G. Marx, ”Money Matters in Matthew,” Bibliotheca Sacra 136:542, 1979
The Early Church Fathers v2, CCEL, Wheaton College, www.ccel.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar