Senin, 23 Mei 2011

Kristus Yang Kita Imani = Kristus Dalam Sejarah

Interlude
Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!


The Jesus of History = the Christ of Faith
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.


Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith
Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835[1] yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Krsiten berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati di salib.[2] Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.
Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen, yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.

Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus
Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:
  1. Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD.[3] Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah.[4] Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
  2. Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
  3. Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
  4. Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi.[5]
  5. Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan kekempat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.
Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.


Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara
Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:
  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (Kel 3:14):
  • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
  • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian
  • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
  • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
  • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga ( Yoh 21-29).
  • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
  • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8
  • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  1. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  2. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  3. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak ( Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  4. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  5. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan. 

Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini
Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, dengan mengalami sendiri Yesus yang bangkit, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.


Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!
Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini.[9] Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!

Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini
Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18).[10] Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19).[11]
Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini[12] : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.[13]

Penutup
Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!


Footnote
  1. David Friedrich Strauss adalah tokoh Biblical Rationalism yang memakai filosofi Hegel untuk meneliti hidup Yesus. Buku karangannya adalah, Life of Jesus Critically Examined, dan ia berkesimpulan bahwa alkitab adalah mitos dan bukan sejarah. []
  2. Rudolf Bultmann, The History of the Synoptic Tradition, 1921, diterjemahkan oleh J Marsh, (Oxford, Blackwell, 1963) dan essaynya “The New Testament and Mythology”, dalam In Kerygma and Myth: A Theological Debate, vol.1, diterjemahkan oleh R.H. Fuller (London, 1953). []
  3. Dalam hal urutan keempat Injil ini memang terdapat beberapa pendapat. Namun yang di sini dipakai adalah yang berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yang dapat dikatakan mengamati langsung penurunan Injil. Saksi utama adalah Papias (70-155 AD) seorang uskup Syria dan murid Rasul Yohanes, dan St. Irenaeus (180 AD) yang mengatakan urutan Injil adalah Rasul Matius, yang pertama menuliskan Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian Markus yang adalah murid Rasul Petrus yang menuliskan Injil berdasarkan khotbah Petrus; lalu Lukas yang adalah murid Rasul Paulus, yang menulis berdasarkan khotbah Rasul Paulus, dan Rasul Yohanes, yang menulis Injil saat ia hidup di Efesus, Asia Minor. Namun demikian, pada jaman Kulturkampf (1871-1878), mulai dikatakan bahwa Injil pertama adalah Markus, baru kemudian Matius, Lukas dan Yohanes. Alasannya antara lain karena, Injil Markus tidak dituliskan dengan urutan yang baik, dan kisah Injil Markus banyak terdapat di-Injil sinoptik lainnya, seolah Injil yang lain ‘mengutip’ Markus. Mengenai hal ini Papias mengatakan, bahwa Injil Markus dituliskan tidak berurutan secara historis, karena dituliskan berdasarkan urutan khotbah Petrus. Sedangkan kenyataan bahwa Injil Markus seolah ‘menggabungkan’ kisah dari Injil sinoptik lainnya semakin memperkuat keilahian pesannya, sebab meskipun Injil ditulis oleh beberapa orang, namun dapat menunjukkan kesamaan inti dan isi ajaran Yesus.
    []
  4. Klaim yang menolak kebangkitan Yesus hanya datang di abad-abad berikut, yang pada dasarnya tidak mempercayai kebangkitan, dan bukannya dikatakan dari saksi mata pada jaman Yesus sendiri. []
  5. Lihat Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 229 []
  6. Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11). []
  7. Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Ibid., p. 108-109, mengutip Rabbi Neusner (Jacob Neusner, A Rabbi Talks with Jesus (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2000), membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babilonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
    I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
    He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
    I: “Nothing.” (Tidak ada)
    He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
    I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
    He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?).
    I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
    He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu). []
  8. Ungkapan “kamu mengatakan demikian….” Adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang menyatakan konfirmasi dari apa yang dikatakan. []
  9. Ada kebohongan besar dalam buku Da Vinci Code yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus hanya dilihat sebagai Nabi dan manusia biasa, dan bahwa diadakan voting pada Konsili tersebut yang hanya berselisih tipis antara uskup yang menerima dengan yang menolak . Kenyataan sejarah yang benar adalah, dari 300 uskup yang hadir, hanya dua orang uskup yang setuju dengan pendapat Arius, (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea) yaitu, Arius sendiri dan Eusebius dari Nicomedia! []
  10. Vatikan II, Dei Verbum, 18, mengatakan, “Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes.” []
  11. Vatikan II, Dei Verbum 19, “…bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya diantara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis1:1-2). Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.” []
  12. Lihat Katekismus Gereja Katolik 512- 682 []
  13. Lihat Joseph Ratzinger, Gospel, Catechesis, Catechism: Sidelights on the Catechism of the Catholic Church, p. 64-66. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar