Sabtu, 04 Juni 2011

Bapa - Bapa Gereja dan Para Pembela Iman (Hujjatul Alhullaq)

Tidak soal Saudara seorang Kristen atau non-Kristen, persepsi Saudara tentang Allah dari Alkitab, Yesus, dan Kekristenan mungkin telah dipengaruhi oleh mereka. Salah seorang dari mereka dijuluki Mulut Emas dan yang lainnya, Agung. Secara kelompok, mereka digambarkan sebagai ”perwujudan tertinggi dari kehidupan Kristus”. Siapakah mereka? Mereka adalah para pemikir, penulis, teolog, dan filsuf zaman dahulu yang membentuk banyak dari pemikiran ”Kristen” dewasa ini—Bapak-Bapak Gereja.

Bapa Gereja Pada Masa Gereja Mula-Mula

( Abad 1 - 4 M)

1. Polykarpus ( 69-156 M )
Seorang murid dari Rasul Yohanes dan pemimpin Gereja Smirna. Dalam penganiayaan yang diperintahkan oleh Kaisar Roma ia ditangkap dan dibawa ke hadapan Gubernur. Di sana ketika ditawarkan kebebasan apabila ia bersedia mengutuk Kristus, ia menjawab: "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Kristus dan Dia tidak pernah melakukan suatu kejahatan kepadaku, bagaimana mungkin bagiku untuk mengutuk Dia, yang adalah Tuhan dan Juruselamatku?". Polykarpus menemui ajalnya dibakar hidup-hidup.

2. Ignatius ( 67-110 M )
Seorang murid dari Rasul Yohanes dan pemimpin Gereja Antiokhia. Kaisar Trajanus, dalam suatu kunjungannya ke Antiokhia, memerintahkan penangkapan Ignatius. Kaisar ini memimpin sendiri pengadilan atas Ignatius, dan menjatuhkan hukuman dilemparkan ke tengah binatang buas di arena di Roma. Dalam perjalanannya ke Roma, ia menulis surat kepada orang-orang percaya di Roma, agar tidak memohonkan pengampunan baginya, karena ia sangat merindukan kehormatan mati bagi Tuhannya. Ia berkata, "semoga binatang-binatang buas itu menerjang aku dengan penuh semangat. Bila mereka enggan melakukannya, aku akan memaksa mereka. Marilah, wahai binatang buas! Marilah, cabiklah dan terjanglah, wahai penghancur tulang dan sendi! Marilah, wahai pembinasa keji yang jahat! Aku hanya mau bertemu dengan Kristusku."

3. Papias ( + 75 - 155 M )
Satu lagi murid Rasul Yohanes, dan pemimpin Gereja Hierapolis, sekitar 100 mil sebelah Timur Efesus. Ia menulis sebuah buku yang berjudul "Penjelasan akan Ucapan Tuhan Yesus". Dalam buku itu ia menekankan bahwa para tua-tua harus melakukan persis seperti yang dikatakan oleh Yesus. Papias mati martir di Pergamum, kira-kira pada masa yang sama dengan Polykarpus. Polykarpus, Ignatius, dan Papias, menjadi penghubung antara masa Para Rasul dan masa sesudahnya.

4. Yustinus Martir (100 - 167 M)
Lahir di kota Neapolis, (atau yang dulu dikenal dengan nama Sikhem) kira-kira pada masa Rasul Yohanes mati. Ia mendalami Filsafat. Pada masa mudanya ia menyaksikan banyak sekali penganiayaan terhadap orang Kristen. Setelah bertobat, ia melakukan banyak perjalanan dengan jubah seorang filsuf, namun dengan tujuan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Ia menulis "Pembelaan terhadap Kekristenan", sebuah surat yang ditujukan kepada Kaisar Roma. Salah satu tokoh yang paling hebat di masanya. Ia mati sebagai martir di kota Roma. Ia menunjukkan bahwa di masanya kekristenan berkembang begitu pesat dengan berkata, "tidak ada satu ras pun di bumi ini yang tidak berdoa dalam nama Yesus".

Inilah apa yang dipahami oleh Yustinus Martir tentang ibadah dalam masa Gereja Kristen mula-mula: "Semua yang tinggal di kota atau desa bertemu pada hari Minggu. Kemudian dibacakanlah satu bagian dari tulisan para Rasul dan satu bagian dari tulisan para Nabi. Tidak ada pembatasan waktu untuk pembacaan itu. Setelah itu, pemimpin ibadah akan berbicara kepada jemaat, untuk menghayati dan mengamalkan semua hal-hal mulia yang telah didengar itu. Kemudian semua kita akan berdiri dan mengucapkan doa bersama-sama. Pada akhir dari doa, roti dan anggur dan ucapan syukur atas karyanya, dan jemaat menjawab 'amin'. Kemudian roti dan anggur itu dibagikan kepada setiap orang yang hadir, dan sisanya dibawa oleh para diaken ke rumah-rumah mereka yang tidak bisa hadir. Mereka yang mampu dan mereka yang rela kemudian akan memberikan persembahan sesuai kerelaan hatinya, dan persembahan ini disimpan oleh pemimpin, untuk dipakai melayani para yatim, janda, orang tahanan, orang asing, dan semua yang membutuhkannya."

5. Iranaeus (130 -200 M)
Dibesarkan di Smirna, murid Polykarpus dan Papias. Ia melakukan banyak perjalanan. Menjadi pemimpin Gereja di Lyons, di Gaul (sekarang Prancis). Ia banyak dikenal karena tulisan-tulisannya menentang paham Gnostisisme. Ia sangat menghormati gembalanya, Polykarpus. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, "Aku ingat betul tempat di mana gembala Polykarpus biasa duduk dan berbicara. Aku ingat kata-kata yang diucapkannya kepada umat, dan bagaimana ia melukiskan persekutuannya dengan rasul Yohanes, dan dengan mereka yang pernah bersama Tuhan Yesus; bagaimana ia mengulang kata-kata Kristus dan mujizat-mujizat yang diperbuat-Nya; bagaimana ia menceritakan pengajaran-pengajaran dari para Saksi Mata yang telah melihat sang Firman Hidup itu, pengajaran-pengajaran yang sejalan dengan Kitab Suci."

6. Origenes (185-254 M)
Tokoh yang paling terpelajar di masa Gereja mula-mula. Pengelana yang hebat, dan penulis yang luar biasa. Ia biasa memakai sampai dua puluh orang rekan yang bekerja sebagai juru tulis/salin tulisan-tulisannya. Ia mengutip dua pertiga dari Perjanjian Baru dalam tulisan-tulisannya. Ia tinggal di Alexandria, kota di mana ayahnya Leonidas, mati sebagai martir, dan kemudian di Palestina, di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam pemennjaraan dan aniaya di bawah pemerintahan Kaisar Dusius.

7. Tertulianus dari Kartago (160-220 M)
"Bapa Gereja Latin". Seorang pengacara Romawi yang kafir, namun setelah pertobatannya menjadi pembela Kekristenan yang disegani.

8. Eusebius (264-340 M)
Dikenal sebagai "Bapa Sejarah Gereja". Pemimpin Gereja Kaisera ketika Kaisar Konstantin menerima Kristus. Ia mempunyai pengaruh besar atas sang kaisar. Karya tulisannya adalah "Sejarah Ekklesia", tentang sejarah Gereja mulai dari masa Kristus sampai Dewan Gereja di Nicaea.

9. Yohanes Krisostom ( 345-407 M)
Dijuluki "Si mulut emas", orator yang tiada bandingannya. Salah satu pengkhotbah terbaik di masanya. Ia lahir di Antiokhia, menjadi penatua di Gereja Konstantinopel. Berbicara di depan orang banyak di gereja di St.Sophia. Seorang pembaharu sejati, yang membuatnya tidak disenangi Kaisar. Ia mati dalam pembuangan.

10. Jeromus ( 340 - 430 M)
Dididik di Roma, dikenal sebagai tokoh Gereja Latin yang paling terpelajar. Menghabiskan banyak tahun dalam hidupnya di Betlehem, menerjemahkan Alkitab ke bahasa Latin, yang dikenal dengan nama Vulgate.

11. Agustinus ( 354-430 M)
Pemimpin Gereja di Hippo, Afrika Utara. Teolog besar di masa Gereja mula-mula. Pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan doktrin gereja di masa pertengahan.
ALKITAB bukan satu-satunya firman Allah,” kata profesor kajian keagamaan yang berhaluan Yunani Ortodoks, Demetrios J. Constantelos. ”Roh Kudus yang menyingkapkan firman Allah tidak dapat dibatasi hanya pada halaman-halaman sebuah buku.” Sumber lain mana lagi yang menurutnya dapat diandalkan sebagai penyingkapan ilahi? Constantelos menegaskan dalam bukunya Understanding the Greek Orthodox Church, ”Tradisi Kudus dan Kitab Suci dipandang sebagai dua sisi pada mata uang.”
Inti dari ”Tradisi Kudus” ini meliputi ajaran dan tulisan dari para Bapak Gereja. Mereka adalah para teolog terkemuka dan para filsuf ”Kristen” yang hidup antara abad kedua dan kelima M. Sejauh mana mereka telah mempengaruhi pemikiran ”Kristen” modern? Apakah mereka berpaut pada Alkitab dalam ajaran mereka? Apa yang hendaknya menjadi dasar yang teguh dari kebenaran Kristen bagi seorang pengikut Yesus Kristus?
Latar Belakang Historis
Pada pertengahan abad kedua M, orang-orang yang mengaku Kristen sedang membela iman mereka melawan para penindas Roma dan juga para heresi (bidah). Akan tetapi, pada era ini, terdapat terlalu banyak pendapat teologis. Debat-debat religius tentang ”keilahian” Yesus dan sifat serta bekerjanya roh kudus menyebabkan lebih dari sekadar perbedaan-perbedaan intelektual. Ketidaksepakatan yang sengit dan terpecahnya doktrin-doktrin ”Kristen” menyebar dengan cepat ke bidang politik dan kebudayaan, kadang-kadang menimbulkan kerusuhan, pemberontakan, pertikaian sipil, dan bahkan perang. Sejarawan Paul Johnson menulis, ”Kekristenan [yang murtad] diawali dengan kekacauan, kontroversi, serta perpecahan dan demikianlah hal itu terus berlanjut. . . . Mediterania bagian tengah dan timur di abad pertama dan kedua M sarat dengan gagasan religius, yang berjuang untuk menyebarluaskan diri mereka sendiri. . . . Dengan demikian, sejak awal, ada banyak ragam Kekristenan yang tidak memiliki banyak persamaan.”
Pada masa itu, para penulis dan pemikir yang merasa perlu untuk menafsirkan ajaran ”Kristen” lewat filsafat mulai bermunculan. Untuk memuaskan para cendekiawan Kafir yang baru pindah agama ke ”Kekristenan”, para penulis religius demikian sangat bergantung pada lektur Yunani dan Yahudi yang lebih awal. Dimulai dengan Justin Martyr (±100-165 M), yang menulis dalam bahasa Yunani, orang-orang yang mengaku Kristen semakin berasimilasi dengan warisan filosofis kebudayaan Yunani.
Trend ini menghasilkan buah berupa tulisan-tulisan Origen (± 185-254 M), seorang penulis dari Aleksandria. Karya tulis Origen On First Principles adalah upaya sistematis pertama untuk menjelaskan doktrin-doktrin utama teologi ”Kristen” dalam istilah filsafat Yunani. Konsili Nicea (325 M), dengan upayanya untuk menjelaskan dan menetapkan ”keilahian” Kristus, adalah tonggak sejarah yang memberikan daya pendorong baru terhadap penafsiran dogma ”Kristen”. Konsili ini menandai permulaan era yang di dalamnya konsili-konsili gereja berupaya mendefinisikan dogma dengan lebih akurat lagi.
Para Penulis dan Orator
Eusebius dari Kaisarea, yang menulis pada saat Konsili Nicea pertama, bergaul dengan Kaisar Konstantin. Selama 100 tahun lebih sedikit setelah Nicea, para teolog, yang kebanyakan menulis dalam bahasa Yunani, memperjuangkan dalam debat yang sengit dan berkepanjangan apa yang akan menjadi doktrin Kristen yang khas, Tritunggal. Yang menonjol di antara mereka adalah Atanasius, uskup yang tegas dari Aleksandria, dan tiga orang pemimpin gereja dari Kapadokia, Asia Kecil—Basil Agung, saudaranya Gregory dari Nyssa, dan teman mereka Gregory dari Nazianzus.
Para penulis dan pengkhotbah pada masa itu benar-benar fasih dalam seni persuasi. Gregory dari Nazianzus dan John Chrysostom (yang artinya ”Mulut Emas”) yang berbahasa Yunani dan juga Ambrose dari Milan dan Agustinus dari Hippo yang berbahasa Latin adalah orator-orator yang hebat, pakar dari bentuk seni yang paling dihormati dan paling populer pada zaman mereka. Penulis yang paling berpengaruh pada periode itu adalah Agustinus. Karya tulis teologisnya telah sangat membentuk pemikiran ”Kristen” dewasa ini. Jerome, cendekiawan paling terpandang pada zamannya, adalah yang paling banyak berperan dalam menghasilkan terjemahan Alkitab Vulgata Latin dari bahasa-bahasa aslinya.
Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan pentingnya adalah: Apakah Bapak-Bapak Gereja itu berpaut erat pada Alkitab? Dalam ajaran mereka, apakah mereka berpegang teguh pada Alkitab yang terilham? Apakah tulisan-tulisan mereka merupakan bimbingan yang aman ke arah pengetahuan yang saksama tentang Allah?
Ajaran Allah atau Ajaran Manusia?
Belum lama ini, Pemimpin Ortodoks Yunani Metodius dari Pisidia menulis buku The Hellenic Pedestal of Christianity guna memperlihatkan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani merupakan infrastruktur dari pemikiran ”Kristen” modern. Dalam buku itu, tanpa ragu-ragu ia mengakui, ”Hampir semua Bapak Gereja terkemuka menganggap unsur-unsur Yunani itu paling berguna, dan mereka meminjamnya dari kebudayaan klasik Yunani, menggunakannya sebagai sarana untuk memahami dan dengan benar mengekspresikan kebenaran Kristen.”
Misalnya, gagasan bahwa Bapak, Putra, dan roh kudus membentuk Tritunggal. Banyak Bapak Gereja setelah Konsili Nicea menjadi penganut Tritunggal yang setia. Tulisan dan karya eksposisi mereka sangat penting dalam membuat Tritunggal sebagai doktrin Susunan Kristen yang bersejarah. Akan tetapi, apakah Tritunggal ada dalam Alkitab? Tidak. Jadi, dari mana Bapak-Bapak Gereja itu mendapatkannya? A Dictionary of Religious Knowledge mengatakan bahwa banyak yang mengatakan Tritunggal adalah ”penyimpangan yang dipinjam dari agama-agama yang tidak beradab, dan dicangkokkan ke dalam iman Kristen”. Dan, The Paganism in Our Christianity meneguhkan, ”Asal mula [Tritunggal] seluruhnya kafir.”—Yohanes 3:16; 14:28.
Atau, pertimbangkan ajaran jiwa yang tak berkematian, suatu kepercayaan bahwa suatu bagian dari manusia tetap hidup setelah tubuh mati. Lagi-lagi, Bapak-Bapak Gereja berperan besar dalam memperkenalkan konsep ini ke sebuah agama yang tidak memiliki ajaran tentang jiwa yang terus hidup setelah tubuh mati. Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa jiwa dapat mati, ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.” (Yehezkiel 18:4) Apa yang mendasari kepercayaan Bapak-Bapak Gereja akan jiwa yang tak berkematian? ”Konsep Kristen tentang jiwa spiritual yang diciptakan oleh Allah dan dimasukkan ke dalam tubuh untuk membuat manusia hidup merupakan hasil perkembangan filsafat Kristen yang berlangsung sangat lama. Melalui Origen di Timur dan St. Agustinus di Barat, jiwa ditetapkan sebagai zat spiritual, dan sebuah konsep filsafat membentuk sifatnya. . . . [doktrin Agustinus] . . . berutang banyak (termasuk beberapa kealpaan) kepada Neoplatonisme,” kata New Catholic Encyclopedia. Dan, majalah Presbyterian Life mengatakan, ”Jiwa yang tak berkematian adalah konsep Yunani yang terbentuk dalam kultus-kultus misterius zaman dahulu dan dikembangkan oleh sang filsuf Plato.”
Dasar yang Kuat dari Kebenaran Kristen
Setelah mengikuti ulasan singkat mengenai latar belakang sejarah dari Bapak-Bapak Gereja ini, begitu pula dengan asal-usul ajaran mereka, kita pantas bertanya: Haruskah seseorang Kristen yang tulus mendasarkan kepercayaannya pada ajaran Bapak-Bapak Gereja. Biarlah Alkitab yang menjawabnya.
Satu hal, Yesus Kristus sendiri menolak penggunaan gelar ”Bapak” sewaktu ia mengatakan, ”Jangan menyebut siapa pun bapakmu di bumi, karena satu Bapakmu, Pribadi surgawi itu.” (Matius 23:9) Penggunaan istilah ”Bapak” untuk menyebut tokoh religius mana pun tidak bersifat Kristen dan tidak sesuai dengan Alkitab. Firman tertulis Allah diselesaikan pada tahun 98 M oleh rasul Yohanes. Dengan demikian, orang-orang Kristen sejati tidak perlu berpaling kepada manusia mana pun sebagai sumber penyingkapan ilahi. Mereka waspada untuk tidak ”membuat firman Allah tidak berlaku” karena tradisi manusia. Membiarkan tradisi manusia menggantikan Firman Allah merupakan hal yang memautkan secara rohani. Yesus memperingatkan, ”Jika orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang.”—Matius 15:6, 14.
Apakah seorang Kristen membutuhkan penyingkapan di samping firman Allah yang ada dalam Alkitab? Tidak. Buku Penyingkapan memperingatkan untuk tidak menambahkan sesuatu ke catatan yang terilham, ”Jika ada yang menambahkan sesuatu kepada perkara-perkara ini, Allah akan menambahkan kepadanya tulah-tulah yang tertulis dalam gulungan ini.”—Penyingkapan 22:18.
Kebenaran Kristen termaktub di dalam Firman Allah yang tertulis, Alkitab. (Yohanes 17:17; 2 Timotius 3:16; 2 Yohanes 1-4) Pemahaman yang benar tentangnya tidak bergantung pada filsafat sekuler. Mengenai orang-orang yang berupaya menggunakan hikmat manusia untuk menjelaskan penyingkapan ilahi, pertanyaan rasul Paulus ini cocok, ”Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah penulis? Di manakah pendebat dari sistem ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?”—1 Korintus 1:20.
Lagi pula, sidang jemaat Kristen sejati adalah ”pilar dan penopang kebenaran”. (1 Timotius 3:15) Pengawas-pengawasnya menjaga kemurnian ajaran mereka di dalam sidang, mencegah menyusupnya pencemaran apa pun yang bersifat doktrin. (2 Timotius 2:15-18, 25) Mereka menjauhkan sidang dari ’nabi-nabi palsu, guru-guru palsu, dan sekte-sekte yang membinasakan’. (2 Petrus 2:1) Setelah kematian para rasul, para Bapak Gereja membiarkan ”ucapan-ucapan terilham yang menyesatkan dan ajaran hantu-hantu” berakar dalam sidang jemaat Kristen.—1 Timotius 4:1.
Konsekuensi dari kemurtadan ini tampak di dalam Susunan Kristen dewasa ini. Kepercayaan dan praktek-prakteknya sangat berbeda dengan kebenaran Alkitab.
John Chrysostom
BAPAK-BAPAK KAPADOKIA
Gregory
Gereja Ortodoks . . . memiliki penghormatan tertentu untuk para penulis dari abad keempat, dan khususnya untuk mereka yang dijuluki ’tiga Hierarki Agung’, Gregory dari Nazianzus, Basil Agung, dan John Chrysostom,” kata penulis Kallistos, yang adalah seorang biarawan. Apakah Bapak-Bapak Gereja ini mendasarkan ajaran mereka pada Alkitab yang terilham? Mengenai Basil Agung, buku The Father of the Greek Church menyatakan, ”Tulisan-tulisannya memperlihatkan bahwa ia memiliki kedekatan jangka panjang dengan Plato, Homer, dan para sejarawan juga orator, dan mereka pasti mempengaruhi gayanya. . . . Basil tetap seorang ’Yunani’.” Halnya sama dengan Gregory dari Nazianzus. ”Dalam pandangannya, kemenangan dan keunggulan Gereja sebaiknya diperlihatkan dalam adopsi lengkapnya terhadap tradisi-tradisi kebudayaan klasik.”
Basil Agung
Mengenai ketiga orang ini, Profesor Panagiotis K. Christou menulis, ”Sementara mereka kadang-kadang memperingatkan terhadap ’filsafat dan tipu daya kosong’ [Kolose 2:8]—supaya selaras dengan perintah Perjanjian Baru—pada saat yang sama, mereka dengan bersemangat mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya serta bahkan menyarankan orang-orang untuk mempelajarinya.” Jelaslah, guru-guru gereja semacam itu berpikir bahwa Alkitab tidak cukup untuk mendukung gagasan-gagasan mereka. Mungkinkah pencarian mereka akan pilar-pilar wewenang lain mengartikan bahwa ajaran mereka tidak berhubungan dengan Alkitab? Rasul Paulus memperingatkan orang-orang Kristen Ibrani, ”Janganlah disimpangkan oleh berbagai ajaran asing.”—Ibrani 13:9. [Keterangan] Archivo Iconografico, S.A./CORBIS


SIRIL DARI ALEKSANDRIA—BAPAK GEREJA YANG KONTROVERSIAL

Siril dari Aleksandria
Salah seorang tokoh yang paling kontroversial di antara Bapak-Bapak Gereja adalah Siril dari Aleksandria (±375-444 M). Sejarawan gereja Hans von Campenhausen melukiskannya sebagai seorang yang ”dogmatis, keras, dan cerdik, dilingkupi keagungan panggilan hidupnya dan martabat jabatannya”, lalu menambahkan bahwa ”ia tidak pernah menganggap apa pun benar kecuali hal itu berguna baginya untuk memperlebar kekuasaan dan wewenangnya . . . Metode-metodenya yang brutal dan tidak jujur tidak pernah membuatnya tertekan”. Sewaktu ia menjabat sebagai uskup Aleksandria, Siril menggunakan penyuapan, perusakan nama baik, dan fitnah untuk menggulingkan uskup Konstantinopel. Ia dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan brutal seorang filsuf terkemuka bernama Hypatia pada tahun 415 M. Mengenai tulisan-tulisan teologis Siril, Campenhausen mengatakan, ”Ia memprakarsai praktek menjawab pertanyaan tentang kepercayaan tidak hanya dari dasar Alkitab tetapi dengan bantuan dari kutipan-kutipan yang cocok dan kumpulan kutipan dari para pakar.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar