Sabtu, 04 Juni 2011

Injil - Sejarah Atau Mitos

Injil—Masih Diperdebatkan
Apakah kisah Injil tentang kelahiran Kristus memang nyata?
Benarkah Yesus menyampaikan Khotbah di Gunung?
Apakah Yesus benar-benar dibangkitkan?
Benarkah ia mengatakan, ”Akulah jalan dan kebenaran dan kehidupan”?—YOHANES 14:6.
HAL-HAL semacam ini telah dikaji oleh sekitar 80 cendekiawan di Seminar Yesus, yang diselenggarakan dua kali setahun sejak tahun 1985. Kelompok cendekiawan ini mempunyai cara yang unik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Para peserta seminar memasukkan kartu suara untuk setiap kata-kata Yesus yang terdapat dalam Injil. Kartu merah menunjukkan pendapat bahwa pernyataan itu memang diucapkan Yesus. Kartu merah muda memaksudkan bahwa pernyataan itu mirip dengan apa yang mungkin pernah dikatakan Yesus. Kartu abu-abu menunjukkan bahwa gagasannya mirip dengan gagasan Yesus, namun pernyataan itu bukan berasal dari Yesus. Kartu hitam menunjukkan bahwa kata-kata itu sama sekali bukan dari Yesus, melainkan dari cerita turun temurun yang muncul belakangan.
Dengan mengikuti metode ini, para peserta Seminar Yesus tersebut telah menolak keempat pertanyaan yang disebutkan di awal. Mereka memasukkan kartu hitam untuk 82 persen dari kata-kata Yesus yang terdapat dalam Injil. Menurut mereka, hanya 16 persen dari peristiwa-peristiwa yang diceritakan mengenai Yesus dalam Injil dan tulisan-tulisan lain yang tampaknya autentik.
Kritik semacam itu terhadap Injil bukanlah hal baru. Serangan terhadap Injil muncul pada tahun 1774, sewaktu diterbitkannya manuskrip 1.400 halaman karya Hermann Reimarus, seorang profesor bahasa Asia di Hamburg, Jerman, yang pada waktu itu sudah almarhum. Di dalamnya, Reimarus membahas keraguan yang mendalam terhadap kebenaran sejarah dari Injil. Kesimpulannya didasarkan atas analisis linguistik dan kontradiksi yang tampaknya terdapat dalam keempat kisah Injil tentang kehidupan Yesus. Sejak itu, para kritikus sering menyatakan keraguan terhadap autentisitas Injil, dengan demikian meruntuhkan keyakinan masyarakat terhadap karya tulis ini hingga taraf tertentu.
Para cendekiawan tersebut menganggap kisah Injil sebagai fiksi religius yang diwariskan oleh beragam individu. Pertanyaan yang biasanya dilontarkan oleh para cendekiawan yang ragu-ragu itu adalah: Mungkinkah kepercayaan orang-orang itu telah menyebabkan para penulis keempat Injil melebih-lebihkan kisah yang sebenarnya? Apakah politik masyarakat Kristen masa awal menyebabkan mereka mengedit atau menambahi kisah Yesus? Bagian mana dari Injil yang kemungkinan menyampaikan laporan apa adanya dan bukan mitos?
Orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan yang ateis atau duniawi percaya bahwa Alkitab—termasuk Injil—adalah buku yang sarat dengan legenda dan mitos. Ada pula yang terperangah melihat sejarah Susunan Kristen yang diwarnai pertumpahan darah, penindasan, perpecahan, dan perilaku yang tidak saleh. Menurut orang-orang ini, tidak ada alasan untuk memperhatikan karya tulis yang dianggap kudus oleh Susunan Kristen. Mereka menganggap karya-karya yang telah menghasilkan suatu agama yang munafik pastilah didasarkan atas dongeng yang tidak berguna.
Apa pendapat saudara? Haruskah saudara membiarkan diri menjadi ragu gara-gara beberapa cendekiawan yang mempertanyakan kebenaran sejarah Injil? Sewaktu saudara mendengar pernyataan yang menuduh para penulis Injil mengarang mitos, apakah saudara membiarkan hal ini menggoyahkan keyakinan saudara akan karya tulis mereka?
Haruskah sejarah Susunan Kristen yang tidak saleh membuat saudara meragukan keterandalan Injil?
Saya mengundang saudara untuk memeriksa beberapa fakta.

[Gambar] Apakah Injil berisi dongeng atau fakta? [Keterangan] Jesus Walking on the Sea/The Doré Bible Illustrations/Dover Publications
Apakah harus Diperdebatkan Lagi?
DI SELURUH dunia, kisah Yesus orang Nazaret—seorang pemuda yang mengubah sejarah dunia—sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kisah ini merupakan bagian dari pendidikan formal dan informal masyarakat. Banyak orang menganggap Injil sebagai mata air yang memancarkan kebenaran dan pepatah yang tak lekang dimakan waktu, seperti, ”Biarlah Ya yang kaukatakan itu berarti Ya, Tidak, Tidak.” (Matius 5:37) Ya, bisa jadi kisah-kisah Injil menjadi dasar pengajaran orang-tua saudara, tidak soal mereka beragama Kristen atau bukan.
Bagi jutaan pengikut Yesus Kristus yang tulus, Injil menyediakan uraian tentang seorang pria yang untuknya mereka rela menderita dan mati. Injil juga menyediakan dasar dan ilham untuk keberanian, ketekunan, iman, dan harapan. Jadi, tidakkah saudara sependapat bahwa untuk menyatakan kisah-kisah ini sebagai cerita fiksi belaka, perlu ada bukti yang tidak dapat disangkal? Mempertimbangkan betapa besar pengaruh kisah-kisah Injil terhadap pemikiran dan perilaku manusia, tidakkah saudara akan menuntut bukti yang meyakinkan jika ada yang ingin mempertanyakan autentisitasnya?
Marilah kita membahas sejumlah pertanyaan yang menggugah pikiran mengenai Injil. Silakan amati sendiri pendapat beberapa peneliti Injil tentang permasalahan ini, meskipun beberapa di antara mereka bukanlah orang Kristen. Setelah itu, saudara dapat menarik kesimpulan sendiri berdasarkan informasi-informasi tersebut.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DIBAHAS
Mungkinkah Injil itu rekaan yang terampil?
Robert Funk, pelopor Seminar Yesus, berkata, ”Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes ’memasarkan Mesias’ agar sesuai dengan doktrin Kristen yang berkembang setelah kematian Yesus.” Namun, sewaktu Injil sedang ditulis, banyak orang yang pernah mendengar perkataan Yesus, menyaksikan perbuatannya, dan bertemu dengannya setelah ia bangkit yang masih hidup. Orang-orang ini sama sekali tidak menuduh para penulis Injil melakukan penipuan.
Pikirkanlah kematian dan kebangkitan Kristus. Bukan hanya Injil yang memuat kisah yang dapat dipercaya tentang kematian dan kebangkitan Yesus, melainkan juga kanon surat pertama Paulus kepada orang-orang Kristen di Korintus zaman dahulu. Ia menulis, ”Aku meneruskan kepadamu, di antara hal-hal pertama, apa yang juga aku terima, yaitu bahwa Kristus mati bagi dosa-dosa kita sesuai dengan Tulisan-Tulisan Kudus; dan bahwa ia dikuburkan, ya, bahwa ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Tulisan-Tulisan Kudus; dan bahwa ia menampakkan diri kepada Kefas, kemudian kepada kedua belas murid itu. Setelah itu ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, yang sebagian besar di antaranya masih ada sampai sekarang, tetapi beberapa telah tidur dalam kematian. Setelah itu ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul; namun yang paling akhir ia menampakkan diri juga kepadaku seolah-olah kepada seseorang yang dilahirkan sebelum waktunya.” (1 Korintus 15:3-8) Saksi-saksi mata tersebut adalah pelindung fakta sejarah tentang kehidupan Yesus.
Rekaan yang dituduhkan para kritikus modern tidak ditemukan dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen. Sebaliknya, rekaan itu muncul dalam dokumen-dokumen yang berasal dari abad kedua M. Dengan demikian, cerita tentang Kristus yang tidak sesuai dengan Injil muncul sewaktu kemurtadan dari Kekristenan sejati berkembang di kalangan masyarakat yang terasing dari sidang para rasul.—Kisah 20:28-30.
Mungkinkah Injil itu legenda?
Pengarang dan kritikus C. S. Lewis merasa sulit menganggap Injil sebagai legenda belaka. ”Sebagai sejarawan sastra, saya sangat yakin bahwa apa pun Injil itu, yang pasti itu bukan legenda,” tulisnya. ”Injil tidak cukup imajinatif untuk disebut sebagai legenda. . . . Tidak banyak yang kita ketahui tentang kehidupan Yesus, dan pasti tidak ada pengarang legenda yang mau menghasilkan karya semacam itu.” Hal lain yang menarik adalah bahwa meskipun sejarawan terkenal H. G. Wells tidak menyatakan bahwa dia adalah orang Kristen, ia mengakui, ”Keempat [penulis Injil] sama-sama memberi kita gambaran tentang seorang pribadi yang sangat jelas; mereka mengemukakan . . . keyakinan yang didasari kenyataan.”
Pikirkanlah peristiwa sewaktu Yesus yang telah dibangkitkan menampakkan diri kepada murid-muridnya. Seorang ahli pengarang legenda kemungkinan akan mengatakan bahwa Yesus kembali secara spektakuler, menyampaikan khotbah yang penting, atau bermandikan cahaya dan kemuliaan. Sebaliknya, para penulis Injil hanya melukiskan bahwa Yesus berdiri di depan murid-muridnya. Kemudian ia bertanya, ”Hai, anak-anak, kamu tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, bukan?” (Yohanes 21:5) Cendekiawan Gregg Easterbrook menyimpulkan, ”Ini merupakan jenis perincian yang menyiratkan kisah aktual, bukan mitos.”
Tuduhan bahwa Injil merupakan legenda juga menghadapi kendala berupa metode pengajaran yang ketat dan populer dari para rabi pada waktu penulisan Injil. Metode itu berhubungan erat dengan belajar lewat hafalan—suatu proses mengingat dengan melakukan pengulangan. Hal ini lebih mendukung penyampaian kata-kata dan perbuatan Yesus secara akurat dan cermat daripada perekaan versi yang dilebih-lebihkan.
Seandainya Injil adalah legenda, bagaimana mungkin ia dapat disusun sedemikian cepatnya setelah kematian Yesus?
Menurut bukti yang ada, Injil ditulis antara tahun 41 dan 98 SM. Yesus wafat pada tahun 33 M. Ini berarti kisah hidupnya disusun dalam waktu yang relatif singkat setelah pelayanannya berakhir. Ini merupakan kendala yang luar biasa besar terhadap argumen bahwa cerita Injil hanyalah legenda. Agar sebuah legenda berkembang, dibutuhkan waktu. Misalnya, legenda Iliad dan Odyssey karya Homer, seorang pujangga Yunani zaman dahulu. Ada yang berpendapat bahwa naskah kedua legenda epik itu berkembang dan menjadi stabil setelah ratusan tahun. Bagaimana dengan Injil?
Dalam bukunya, Caesar and Christ, sejarawan Will Durant menulis, ”Jika benar bahwa beberapa orang bersahaja . . . telah menciptakan suatu tokoh yang kepribadiannya sedemikian berpengaruh dan menarik, yang etikanya begitu luhur, serta sedemikian menggugah visi akan suatu persaudaraan umat manusia, tentulah hal itu merupakan suatu mukjizat yang jauh lebih sulit dipercaya daripada mukjizat mana pun yang dicatat dalam Injil. Setelah dua abad diserang Kritik Tinggi, uraian mengenai kehidupan, karakter, dan ajaran Kristus tetap jelas serta masuk akal, dan merupakan ciri khas yang paling menarik dalam sejarah bangsa Barat.”
Apakah belakangan Injil disesuaikan demi kepentingan masyarakat Kristen masa awal?
Beberapa kritikus berpendapat bahwa politik masyarakat Kristen masa awal menyebabkan para penulis Injil mengedit kisah Yesus atau menambahinya. Akan tetapi, penelitian yang serius terhadap Injil menunjukkan bahwa pengutakatikan semacam itu tidak terjadi. Seandainya kisah Injil mengenai Yesus mengalami perubahan akibat intrik orang Kristen masa awal, mengapa pernyataan-pernyataan negatif tentang orang Yahudi dan orang Kafir masih ada dalam naskah?
Contohnya terdapat di Matius 6:5-7, yang berisi kutipan kata-kata Yesus, ”Apabila kamu berdoa, jangan kamu seperti orang munafik; karena mereka suka berdoa sambil berdiri di sinagoga-sinagoga dan di tikungan-tikungan jalan raya agar dapat dilihat orang-orang. Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu: Mereka telah memperoleh upah mereka sepenuhnya.” Jelas, ini adalah kutukan bagi para pemimpin agama Yahudi. Yesus selanjutnya mengatakan, ”Pada waktu berdoa, jangan mengatakan hal-hal yang sama berulang-ulang, seperti yang dilakukan orang-orang dari bangsa-bangsa [orang-orang Kafir], sebab mereka menyangka mereka akan didengar karena mereka menggunakan banyak kata.” Dengan mengutip kata-kata Yesus ini, para penulis Injil tidak sedang berupaya merebut umat dari agama lain. Mereka hanya mencatat pernyataan-pernyataan yang memang disampaikan oleh Yesus Kristus.
Pertimbangkan juga kisah Injil tentang wanita-wanita yang mengunjungi makam Yesus dan melihat bahwa makam itu kosong. (Markus 16:1-8) Menurut Gregg Easterbrook, ”dalam masyarakat Timur Tengah zaman dahulu, kesaksian wanita dianggap tidak dapat dipercaya: misalnya, dua saksi pria sudah cukup untuk mendakwa seorang wanita melakukan perzinaan, sedangkan tidak ada kesaksian dari wanita yang dapat mendakwa seorang pria”. Malahan, murid-murid Yesus sendiri tidak mempercayai kesaksian wanita-wanita itu! (Lukas 24:11) Jadi, tidak mungkin cerita semacam itu dikarang-karang.
Tidak adanya perumpamaan dalam surat-surat dan dalam buku Kisah merupakan argumen yang kuat bahwa perumpamaan-perumpamaan dalam Injil tidak disisipkan oleh orang Kristen masa awal, tetapi memang diucapkan oleh Yesus sendiri. Selain itu, perbandingan yang cermat antara Injil dan surat-surat menyingkapkan bahwa tidak ada kata-kata Paulus maupun kata-kata penulis Kitab-Kitab Yunani lainnya yang dengan licik ditata ulang dan dirujuk sebagai pernyataan Yesus. Kalau masyarakat Kristen masa awal telah melakukan hal itu, paling tidak kita akan menemukan beberapa materi dari surat-surat itu dalam kisah Injil. Karena halnya tidaklah demikian, kita dapat menyimpulkan dengan yakin bahwa isi Injil memang orisinal dan autentik.
Bagaimana dengan kontradiksi yang tampaknya terdapat dalam Injil?
Para kritikus telah lama menyatakan bahwa Injil sarat dengan kontradiksi. Sejarawan Durant berupaya memeriksa kisah Injil seobjektif mungkin—sebagai dokumen sejarah. Meskipun ia mengatakan bahwa tampaknya ada kontradiksi di dalamnya, ia menyimpulkan, ”Kontradiksinya terdiri dari perincian yang sepele, tidak mendasar; pada hakikatnya, Injil secara keseluruhan sangat harmonis, dan membentuk gambaran yang konsisten mengenai Kristus.”
Apa yang tampaknya sebagai kontradiksi di dalam Injil sering kali dapat diperjelas dengan mudah. Sebagai ilustrasi: Matius 8:5 mengatakan bahwa ”seorang perwira datang kepada [Yesus], memohon kepadanya” untuk menyembuhkan seorang hamba laki-laki. Di Lukas 7:3, kita membaca bahwa perwira itu ”mengutus para tua-tua orang Yahudi kepada [Yesus] untuk meminta agar ia datang dan menyelamatkan budaknya”. Perwira itu mengirim para tua-tua sebagai wakilnya. Matius mengatakan bahwa perwira itu sendiri yang memohon kepada Yesus karena pria itu menyampaikan permintaannya melalui para tua-tua, selaku juru bicaranya. Ini hanyalah satu contoh yang menunjukkan bahwa tuduhan ketidakcocokan dalam Injil dapat diperjelas.
Bagaimana dengan pernyataan kritik tinggi bahwa Injil tidak memenuhi kriteria sebagai sejarah nyata? Durant melanjutkan, ”Karena antusias terhadap penemuan-penemuannya, Kritik Tinggi telah menerapkan pengujian autentisitas yang sedemikian beratnya pada Perjanjian Baru sampai-sampai ratusan tokoh zaman dahulu—contohnya: Hammurabi, Daud, Sokrates—akan dinyatakan sebagai legenda kalau diikutkan dalam pengujian ini. Terlepas dari prasangka teologis para penulis Injil, mereka mencatat banyak peristiwa yang pasti akan disembunyikan oleh pengarang—persaingan para rasul untuk mendapatkan tempat tinggi dalam Kerajaan, kaburnya mereka setelah Yesus ditangkap, penyangkalan Petrus . . . Siapa pun yang membaca kisah-kisah ini tidak akan meragukan tokoh yang melatarbelakanginya.”
Apakah Kekristenan zaman modern mencerminkan Yesus yang dikisahkan Injil?
Seminar Yesus menyatakan bahwa riset mereka tentang Injil ”tidak dipengaruhi oleh dewan gereja”. Tetapi, sejarawan Wells menyadari adanya jurang pemisah yang besar antara ajaran Yesus sebagaimana disajikan oleh Injil dan ajaran Susunan Kristen. Ia menulis, ”Tidak ada bukti bahwa rasul-rasul Yesus pernah mendengar tentang Tritunggal—bahkan dari Yesus sendiri . . . Juga, tidak ada bukti bahwa [Yesus] menyebut soal penyembahan ibunya, Maria, dalam bentuk Isis, sang Ratu surga. Segala penyembahan dan praktek yang berbau [Susunan] Kristen ditolaknya.” Oleh karena itu, seseorang tidak dapat mengukur nilai Injil berdasarkan ajaran Susunan Kristen.

Bukti Reportase yang Autentik
Demikian pula, E. M. Blaiklock, profesor sastra klasik (Yunani dan Romawi) dari Auckland University, berpendapat, ”Saya mengaku sebagai sejarawan. Pendekatan saya terhadap Sastra Klasik bersifat historis. Dan, saya dapat memastikan bahwa bukti tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus lebih autentik daripada kebanyakan fakta-fakta sejarah kuno.”

[Gambar] ”Bukti tentang kehidupan, lebih autentik daripada kebanyakan kematian, dan kebangkitan Kristus fakta-fakta sejarah kuno.”—PROFESOR E. M. BLAIKLOCK

Copyright © 2010 iblogronnp.com from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. Appeared (on line) in The Watchtower May 15, 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar