Sabtu, 04 Juni 2011

Para Penulis Zaman Dahulu dan Firman Allah








An Egyptian scribe at work
An Egyptian scribe at work

KITAB-KITAB Ibrani telah dirampungkan pada akhir abad kelima SM. Selama berabad-abad kemudian, para pakar Yahudi, khususnya para Soferim dan belakangan kaum Masoret, terbukti sebagai pemelihara keakuratan teks Ibrani yang bekerja dengan sangat hati-hati. Namun, buku-buku Alkitab yang tertua ditulis pada zaman Musa dan Yosua, seribu tahun sebelum masa para Soferim. Karena buku-buku tersebut ditulis di atas bahan yang mudah rusak; jadi, pastilah isi gulungan-gulungan itu telah disalin berulang kali. Apa yang diketahui tentang profesi sebagai penulis pada zaman dahulu? Apakah ada penyalin yang terampil pada zaman Israel kuno?
Manuskrip Alkitab tertua yang tersedia dewasa ini adalah bagian dari Gulungan Laut Mati, yang beberapa di antaranya berasal dari abad ketiga dan kedua SM. ”Salinan-salinan yang lebih tua dari bagian-bagian Alkitab tidak tersedia,” jelas seorang pakar bahasa dan arkeologi Timur Dekat, Profesor Alan R. Millard. Ia menambahkan, ”Dari kebudayaan negeri-negeri berdekatan dapat terlihat cara kerja para penulis zaman dahulu, dan pengetahuan itu dapat membantu kita mengevaluasi teks Ibrani dan sejarahnya.”
Profesi Penulis pada Zaman Dahulu
Naskah-naskah yang memuat catatan sejarah, agama, hukum, akademis, dan sastra telah dihasilkan di Mesopotamia empat ribu tahun yang lampau. Sekolah bagi penulis terdapat di mana-mana, dan salah satu mata pelajarannya adalah menyalin naskah dengan saksama. Para pakar zaman sekarang hanya menemukan perubahan kecil dalam teks-teks Babilonia yang telah disalin berulang kali selama seribu tahun atau lebih.
Profesi penulis tidak terdapat di daerah Mesopotamia saja. The Oxford Encyclopedia of Archaeology in the Near East mengatakan, ”Seorang penulis Babilonia yang hidup pada tahun 1500-an SM boleh jadi sudah mengenal baik metode-metode yang digunakan di pusat-pusat penyalinan di seluruh Mesopotamia, Siria, Kanaan, dan bahkan di Mesir.”*
Penulis adalah profesi yang terhormat di Mesir pada zaman Musa. Para penulis selalu sibuk membuat salinan dari karya tulis. Aktivitas seperti itu terlihat pada hiasan di kuburan Mesir yang telah berusia lebih dari empat ribu tahun. Ensiklopedi yang dikutip di atas mengatakan mengenai para penulis pada masa ini, ”Pada milenium kedua SM, mereka telah menyalin dan mengumpulkan banyak karya sastra yang menggambarkan peradaban besar Mesopotamia dan Mesir serta menetapkan sebuah kode etik bagi para penulis profesional.”
Kode etik” ini mencakup penggunaan kolofon yang ditambahkan pada teks utamanya. Kolofon memuat nama penyalin dan pemilik lempeng tanah liat atau batu, tanggal, teks induk yang disalin, jumlah baris, dan sebagainya. Sering kali penulis itu menambahkan, ”Ditulis dan diperiksa sesuai dengan aslinya.” Perincian ini memperlihatkan bahwa para penyalin zaman dahulu sangat memperhatikan kesaksamaan.
Profesor Millard, yang sebelumnya dikutip, mengatakan, ”Kita dapat melihat bahwa dalam proses salin-menyalin itu tercakup pengecekan dan pengoreksian, suatu proses yang dirancang untuk mencegah timbulnya kekeliruan. Beberapa di antaranya, khususnya metode menghitung baris dan kata-kata, juga digunakan oleh kaum Masoret pada awal Abad Pertengahan.” Jadi, di Timur Tengah, pada zaman Musa dan Yosua, sudah ada sikap yang menganjurkan kehati-hatian dan kesaksamaan dalam pekerjaan salin-menyalin.
Apakah orang Israel juga memiliki penyalin-penyalin yang cakap? Apa yang diperlihatkan isi Alkitab mengenai hal ini?
Para Penulis di Israel Kuno
Musa bertumbuh sebagai anggota keluarga Firaun. (Keluaran 2:10; Kisah 7:21, 22) Menurut seorang peneliti kebudayaan Mesir kuno, pendidikan yang didapatkan Musa boleh jadi mencakup kemampuan membaca serta menulis huruf Mesir dan sedikitnya keterampilan sebagai penulis. Dalam bukunya Israel in Egypt, Profesor James K. Hoffmeier berkata, ”Ada alasan untuk mempercayai tradisi Alkitab yang menunjukkan bahwa Musa memiliki kesanggupan untuk mencatat peristiwa-peristiwa, menyusun jadwal perjalanan, serta kegiatan tulis-menulis lainnya.”^
Alkitab menyebutkan tentang orang-orang lain di Israel kuno yang memiliki keterampilan menulis. Menurut The Cambridge History of the Bible, Musa ”melantik pejabat-pejabat yang melek huruf . . . untuk mencatat keputusan-keputusan dan daftar petugas serta jabatan mereka”. Kesimpulan ini berdasarkan Ulangan 1:15, yang mengatakan, ”Maka aku [Musa] mengambil para kepala suku-sukumu . . . dan mengangkat mereka menjadi kepala atasmu, yaitu sebagai kepala atas seribu, kepala atas seratus, kepala atas lima puluh, kepala atas sepuluh, dan sebagai para pemimpin suku-sukumu.” Siapakah para pemimpin ini?
Kata Ibrani untuk ”pemimpin” muncul beberapa kali dalam naskah Alkitab yang merujuk ke zaman Musa dan Yosua. Beberapa pakar menjelaskan bahwa kata ini memaksudkan ”sekretaris yang mencatat”, ”seseorang yang ’menulis’ atau ’mencatat’” dan ”seorang petugas yang membantu hakim dalam pekerjaan tulis-menulis”. Fakta bahwa kata Ibrani ini muncul berulang kali memperlihatkan bahwa ada cukup banyak sekretaris seperti itu di Israel dan mereka mengemban banyak tanggung jawab dalam menangani administrasi bangsa itu pada masa awal.
Contoh yang ketiga menyangkut imam-imam Israel. Encyclopaedia Judaica menyatakan bahwa imam-imam ”harus melek huruf mengingat peranan penting mereka di bidang keagamaan dan sekuler”. Misalnya, Musa memerintahkan putra-putra Lewi, ”Pada akhir setiap tujuh tahun, . . . engkau harus membacakan hukum ini di hadapan seluruh bangsa Israel.” Para imam menjadi pengurus salinan resmi Hukum. Mereka mengesahkan dan mengawasi pembuatan salinan-salinan selanjutnya.—Ulangan 17:18, 19; 31:10, 11.
Buku-buku Alkitab yang tertua berasal dari zaman Musa
Pikirkan bagaimana salinan pertama dari Hukum dibuat. Pada bulan terakhir dari kehidupannya, Musa berkata kepada orang Israel, ”Pada hari kamu menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki negeri yang Yehuwa, Allahmu, berikan kepadamu, engkau harus mendirikan batu-batu besar dan melaburnya dengan kapur. Lalu, pada batu-batu itu engkau harus menuliskan semua perkataan hukum ini.” (Ulangan 27:1-4) Setelah kehancuran kota Yerikho dan Ai, orang Israel berkumpul di Gunung Ebal, yang lokasinya di bagian tengah Tanah Perjanjian. Di sana, Yosua memang menuliskan di atas batu-batu yang menjadi mezbah ”sebuah salinan dari hukum Musa”. (Yosua 8:30-32) Penulisan tersebut membutuhkan baik penulis maupun pembaca. Hal ini memperlihatkan bahwa orang Israel zaman dahulu telah memiliki pengetahuan bahasa dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjaga keakuratan teks suci mereka.
Keakuratan Tulisan-Tulisan Kudus
Setelah zaman Musa dan Yosua, berbagai gulungan Ibrani lainnya dihasilkan, dan salinan tangannya dibuat. Seraya berlalunya waktu, salinan ini menjadi rusak oleh karena pengaruh kelembaban atau jamur, sehingga perlu diganti. Proses salin-menyalin ini berlangsung selama berabad-abad.
Meskipun para penyalin Alkitab sangat hati-hati, beberapa kesalahan tak dapat dielakkan. Tetapi, apakah kesalahan tersebut mengubah teks Alkitab secara mencolok? Tidak. Secara keseluruhan, kesalahan tersebut tidak berarti dan tidak berpengaruh atas keakuratan Alkitab secara umum, sebagaimana dibuktikan oleh analisis yang dilakukan terhadap manuskrip-manuskrip kuno.
Bagi orang Kristen, pandangan Yesus Kristus terhadap buku-buku Alkitab pada masa awal meneguhkan keakuratan teks Tulisan-Tulisan Kudus. Ungkapan-ungkapan seperti ”Tidakkah kamu baca dalam kitab Musa?” dan ”Musa telah memberikan Hukum kepadamu, bukan?” memperlihatkan bahwa Yesus menganggap salinan-salinan tangan yang digunakan pada waktu ia berada di bumi dapat dipercaya. (Markus 12:26; Yohanes 7:19) Selain itu, Yesus meneguhkan keakuratan seluruh Kitab-Kitab Ibrani sewaktu ia berkata, ”Semua yang tertulis dalam hukum Musa dan dalam Kitab Para Nabi dan Mazmur tentang aku harus digenapi.”—Lukas 24:44.
Oleh karena itu, kita mempunyai alasan untuk yakin bahwa Tulisan-Tulisan Kudus telah disalin dengan saksama sejak zaman dahulu. Persis seperti yang dikatakan oleh nabi Yesaya yang terilham, ”Rumput hijau menjadi kering, bunga menjadi layu; tetapi mengenai firman Allah kita, itu akan bertahan sampai waktu yang tidak tertentu.”—Yesaya 40:8. 
Salinan dari publikasi (on line di situs resmi bahasa Inggris) Manara Pengawal 15 Maret 2007
[Catatan Kaki]
* Yosua, yang hidup pada pada tahun 1500-an SM, menyebut sebuah kota Kanaan yang bernama Kiriat-sefer, yang artinya ”Kota Buku” atau ”Kota Para Penulis”.—Yosua 15:15, 16.
^ Fakta bahwa Musa mencatat hal-hal yang berkaitan dengan hukum disebutkan di Keluaran 24:4, 7; 34:27, 28; dan Ulangan 31:24-26. Petunjuk bahwa ia mencatat sebuah nyanyian terdapat di Ulangan 31:22, dan bahwa ia mencatat rute perjalanan di padang belantara terdapat di Bilangan 33:2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar