Didalam
Teologia Kekristenan, tidak semua hal harus diperdebatkan jika hal itu tidak
terlalu essensial karena hanya akan mempertajam perselisihan, bukan menemukan
keharmonisan.
Contoh:
Dunia
kesehatan menyatakan bahwa jumlah gigi orang dewasa sebanyak 32. Kemudian
kebersihan gigi itu ditandai dengan gigi yang utuh, rapi dan putih bersih.
Namun fikirkan ini, pernahkah anda membayangkan Yesus ternyata bergigi gingsul atau
jumlah giginya tidak lengkap (penelitian terbaru menunjukkan dalam kondisi
normal, jumlah gigi orang dewasa tidak semuanya 32) ...?
Sepertinya
anda akan dianggap sesat jika berpandangan demikian. Kekristenan Barat dengan
segala kesempurnaannya menggambarkan fisik Yesus dengan sempurna, rambut
panjang terurai dan bermata biru.
Namun itulah problematika
Kekristenan ketika segala sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan
pribadi seseorang atau denominasi/skismatik tertentu maka akan ada sekelompok
orang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak berdebat.
Setiap
orang memiliki hak untuk mengimani apa yang dia yakini karena demikianlah cara
Tuhan membentuk nature ciptaan-Nya namun disaat bersamaan harus diakui bahwa
inilah salah satu penyebab Calvinist dan Arminian, atau antara Roma Katolik dan
Orthodox sulit berdamai dalam hal Teologia. Masing-masing menegakan doktrin
tanpa melihat keharmonisan padahal Tuhan yang menciptakan seluruh umat manusia
sangat menyukai harmonisasi.
Misalnya:
Kita
tidak melihat Tuhan merumuskan doktrin Calvinist secara menyeluruh namun Dia
meletakkan kepada setiap denominasi apa-apa saja yang Dia kehendaki sehingga
hal itu menjadi ciri khas masing-masing supaya ketika disampaikan kepada
Jemaat, Tubuh Kristus itu saling melengkapi.
Dalam hal lain, kita bisa
melihat harmonisasi yang Tuhan ciptakan melalui warna, semisal warna A dicampur
dengan warna B menjadi warna C dst. Kita juga melihat bagaimana sebuah pohon yang
kuat, tebal dan akarnya kuat namun memiliki cabang dan ranting, jika Kristus
diibaratkan akar dan pohon diibaratkan firman Tuhan, maka cabang dan ranting
itu mewakili setiap denominasi/skismatik sehingga Bapa sebagai Pemelihara
akan melihat, cabang dan ranting yang menjadi belukar (read: ajaran sesat) akan
dipatahkan-Nya.
Rasul Petrus dan Paulus
pernah berselisih paham terkait tradisi namun hal itu tidak menjadikan keduanya
saling berbantah-bantahan hingga ajal menjemput, keduanya tetap saling
menghormati dan menopang didalam pelayanan yang mana hal ini tersurat didalam
Tulisan mereka.
Rasul Paulus menuliskan:
Galatia 2:7-9 (TB) Tetapi
sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan
pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus
untuk orang-orang bersunat — karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada
Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah
memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.
Dan setelah melihat kasih
karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang
dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan
Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang
tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.
Rasul Petrus menuliskan:
2 Petrus 3:15-16 (TB) ...
seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut
hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya,
apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini.
Dalam surat-suratnya itu
ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya
dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka
sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
Beberapa umat Kristen
merasa dirinya telah bersikap kritis ketika bertanya hal-hal yang tidak
dinyatakan jelas didalam Alkitab, misalnya:
Bagaimana nasib bayi-bayi
yang meninggal atau kemana perginya Roh Ilahi Yesus ketika Dia wafat sebagai
manusia...?
Disinilah letak keunikan
Kekristenan, hampir selalu diharapkan dapat memberikan jawaban bagi setiap
aspek kehidupan baik yang bersifat doktrinal (doktrin mayor/fundamental dan
minor) maupun non-doktrinal.
Dalam beberapa forum
diskusi internal Kristen, seseorang seringkali mengatakan kepada Saya,
"Karena anda tidak bisa menjawab pertanyaan Saya maka itu artinya doktrin yang
anda imani banyak kelemahan".
Saya kemudian menjawab,
"Bahkan ketika Alkitab tidak menuliskan dengan pasti jawaban dari
pertanyaan anda, bukan berarti Saya tidak bisa menjawab, ada beberapa hal jika
berbicara tentang Keselamatan yang tidak tertuang dengan jelas disana dan itu
menjadi prerogatif Allah."
Dia kemudian membalas,
"Itu artinya anda tidak tahu."
Saya pun menjawab,
"Bahkan ketika Saya mengatakan itu adalah prerogatif Allah, itulah jawaban
yang bisa diberikan. Prerogatif Allah adalah jawaban bagi misteri Ilahi yang
tidak disampaikan dalam Kitab Suci."
Salah satu cara yang
dilakukan para Pendeta, Teolog dan Apologet Kristen ketika menjawab hal itu
adalah mengambil beberapa kisah didalam Alkitab yang peristiwanya hampir sama
dengan apa yang ditanyakan, melakukan analisa dan interpretasi barulah kemudian
diaplikasikan/diambil kesimpulan sambil tetap berpegang pada prinsip
"Tidak melampaui yang ada tertulis" (1 Korintus 4:6) yang dikenal
juga dengan istilah eksegesis sehingga apa yang dijelaskan (dengan ciri khas
masing-masing) tetap bermuara pada kesimpulan "Kedaulatan Ilahi",
inilah salah satu contoh harmonisasi didalam variasi penafsiran yang dilakukan
oleh Persekutuan Iman Kristen lintas denominasi / skismatik.
Namun bagi kelompok
polemikus internal Kristen, hal itu membuktikan Kekristenan tidak bisa menjawab
apa yang mereka tanyakan padahal mereka sendiri ketika diminta jawaban malah
mengaku "Tidak tahu".
Dalam hal ini, yang
paling Saya hindari adalah memberi jawaban bagi mereka yang hanya bisa mendikte
sehingga Saya dianggap sebagai pihak yang bersalah sementara disaat yang
bersamaan, para pendakwa itu tidak bisa memberikan jawaban yang benar dan tepat
sesuai apa yang diajarkan dalam iman Kristen.
Menurut Saya, peristiwa yang
tidak terlalu jelas dinyatakan didalam Alkitab merupakan bagian dari Kedaulatan
Ilahi yang bersifat misteri sehingga hal itu hanya bisa dinyatakan sendiri oleh
Bapa ketika Dia meminta Anak-Nya untuk bertindak. Salah satunya terlihat dari
pernyataan tegas Yesus yang mengatakan bahwa "Tidak ada seorang pun
termasuk Diri-Nya dan malaikat yang mengetahui kapan terjadinya kiamat
(Kedatangan Yesus yang kedua) selain daripada Bapa sendiri." (Matius
24:36, Markus 13:32, Kisah Rasul 1:7).
Apakah kaum Kritikus dari
internal Kristen mau mengatakan "Yesus tidak tahu kapan kiamat itu terjadi
sementara disaat bersamaan Dia diimani sebagai Firman (Yohanes 1:1-4)?"
Retorika diatas ternyata
telah melahirkan beberapa doktrin dan denominasi didalam Kekristenan yang salah
satunya berakhir pada penyangkalan tentang status Yesus sebagai Firman (Anak
Allah), yang lain mengatakan Yesus adalah Allah ke-2 yang statusnya lebih
rendah dari Allah Bapa (Subordinasi), yang lain lagi mengatakan Yesus adalah
Ciptaan (Arianisme dan Saksi Yehova) dan ketika ada yang mencoba menyelamatkan
status Ilahi Yesus malah berakhir sebagai penganut Sabelianisme/Modalisme yang
dalam perkembangannya dikenal sebagai Oneness Pentacostal yang mengajarkan
bahwa Bapa dan Roh Kudus adalah Yesus itu sendiri yang tentu saja ini
bertentangan dengan pernyataan Kitab Suci yang dengan tegas membedakan
Ketiga-Nya. (Mat 28:19-20, Lukas 10:21, 1 Yoh 1:3, 4:14, 2 Yoh 1:3, dsb)
Sementara bagi sebagian yang
lain tetap berada pada jalur pemahaman yang benar seperti yang diajarkan oleh
para Rasul yakni tetap mengakui/mengimani Yesus sebagai Firman/Anak Allah dan
Anak Manusia meskipun Kehadiran-Nya di dunia manusia dibatasi oleh Tubuh
Manusia dan apapun tindakan yang Dia (Yesus) lakukan merupakan perwujudan dari
Kehendak Bapa, inilah harmonisasi Ilahi didalam Kekekalan Allah Yang Esa dimana
Bapa sebagai Pihak Yang Berkehendak (Yesaya 55:11; Yoh 14:31; Yoh 17:4, dsb),
Firman sebagai Pihak yang Melaksanakan (Yesaya 55:11, Yoh 5:36, Yoh 10:37-38,
dsb) dan Roh Kudus sebagai Pihak Yang Menuntun / Membimbing (Yoh 16:7- 15 dsb).
Salah satu bukti nyata
harmonisasi Keesaan Allah dalam Perjanjian Lama terlukis didalam kisah
Penciptaan dimana Bapa merupakan sumber segala sesuatu, Firman merupakan
pencipta segala sesuatu dan Roh Kudus (dalam Perjanjian Lama, Dia disebut Roh
Allah dan Dia memampukan umat Tuhan untuk melakukan hal-hal yang istimewa)
merupakan perwujudan Ilahi yang tersurat sedang melayang diatas permukaan dunia
yang diciptakan TUHAN. (Kejadian 1:1-2; Yoh 1:1-4; 1 Korintus 8:6).
Dalam peristiwa yang lain
dapat kita lihat ketika setelah Yesus dibaptis, Roh Kudus turun dalam rupa
burung merpati dan suara Allah Bapa menggelegar dihadapan semua yang hadir pada
saat itu dengan mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Ku kasihi".
Bahkan dalam peristiwa Yesus
didatangi oleh Musa dan Elia, suara Allah Bapa kembali didengar oleh para murid
yang hadir disitu, rasul Petrus menuliskan:
2 Petrus 1:17-18 (TB)
Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah
Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan:
"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Suara itu kami dengar datang
dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.
Harmonisasi kerjasama
Ilahi ini terus bekerja hingga saat ini dan sampai seterusnya baik didalam
komunitas iman Kristen maupun diluar itu. Ketika kita melihat sejarah, orang-orang
percaya untuk pertama kalinya mengalami lawatan Tuhan pada saat Dia mengungkap
Jati Diri-Nya kepada bangsa Abraham dan keturunannya (bangsa Israel), kemudian
melalui Pribadi dan karya Yesus, akhirnya melalui kehadiran Roh Kudus yang
berdiam didalam diri orang percaya dan membimbing umat pilihan Allah.
Ketika kita membaca
Alkitab, disana kita mendapati bahwa hanya ada satu TUHAN -- namun Bapa, Anak dan
Roh Kudus, Ketiga-Nya selalu dirujuk sebagai Tuhan meskipun mereka jelas
dibedakan satu sama lain. Bahkan tindakan penyelamatan pun adalah karya Tuhan yang
Tritunggal. Kita ingin bersama dengan Bapa namun satu-satunya jalan untuk
sampai kesana adalah melalui Yesus, Tuhan dan Manusia yang menjembatani
hubungan antara Allah dengan manusia. Lalu setelah sampai kepada Bapa, kita
menyadari bahwa keinginan yang membuat kita untuk mencari Dia tidak datang dari
diri kita sendiri, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja didalam kita.
Sebagai umat Kristen,
kita mungkin tidak memahami hal ini namun kita telah mengalami itu. Berbagai
petunjuk tentang Keilahian Yesus dan Roh Kudus tidak bertentangan dengan
kebenaran bahwa Tuhan itu esa. Perjanjian Baru tidak mengajarkan ada 3 (tiga)
Allah melainkan Ketiga-Nya dihubungkan secara bersama-sama sebagai ESA.
Dalam usahanya untuk
menuangkan doktrin ini, Gereja Kuno tidak beralih kepada analogi yang dapat
menjerumuskan seseorang pada kesesatan seperti yang dilakukan
Modalisme/Sabelianisme; melainkan kepada pernyataan-pernyataan iman yang
tertulis semisal Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Westminster.
Demikianlah Kekristenan yang
sejati, didalam segala keterbatasannya telah menemukan sebuah kesimpulan bahwa
Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa kita atur sesuai keinginan kita. Sebaliknya,
Tuhan sendiri yang mengungkapkan perwujudan Pribadi-Nya dan sifat-sifat
Ilahi-Nya melalui firman-Nya yang telah sampai kepada kita, yakni Alkitab. Pun
demikian jika dihadapkan dengan pertanyaan seputar iman Kristen, setiap jawaban
yang diberikan meskipun beragam (karena melibatkan latar belakang Teologia
masing-masing) -- mulai dari yang sederhana hingga yang rumit -- merupakan
hasil dari analisa dan interpretasi atas pernyataan Kitab Suci (2 Tesalonika
2:15; 1 Petrus 3:15b), bukan atas dasar keinginan untuk memuaskan telinga (2
Timotius 4:3).
Tuhan Yesus memberkati