12 Januari 2024

Mengenal Saudara Saudara (Saudara Serahim/Saudara Kandung) Yesus Kristus

 

Ilustrasi lukisan Yesus bersama saudara-saudari-Nya

Mayoritas Kekristenan percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya anak yg dimiliki oleh Yusuf dan Maria dengan demikian semua penafsiran yg mengatakan "Yesus memiliki saudara/i (serahim / adik) harus ditutup. Tidak bermaksud untuk menolak doktrin yg diyakini oleh sebagian besar umat Kristen namun tidak ada salahnya untuk memberikan pemahaman yg berbeda tentang itu berdasarkan pernyataan Kitab Suci itu sendiri dan data-data dari luar Kitab Suci yg mendukung itu.

Salah satu perdebatan yg menarik adalah "Apakah Yesus memiliki saudara-saudari yg berasal dari pernikahan Yusuf dan Maria setelah Dia dilahirkan"...?

Frasa "Adelphos" berasal dari kata "delphos" yg berarti rahim. Kata "Adelphos" memiliki beragam definisi, namun terkait dengan hubungan keluarga sesuai dengan etimologinya, maknanya adalah "Saudara kandung yg dilahirkan dari orang tua yg sama; saudara tiri yg dilahirkan dari ayah/ibu yg sama (saudara serahim)."

Terkait tentang Yesus, Kitab Suci menuliskan dengan rinci siapa saja yg disebut saudara-saudari Yesus. Namun untuk sampai ke tahap pemahaman "Adelphos" seperti yg Saya tuliskan diatas, kita harus memulai dengan peristiwa setelah Dia dilahirkan, Lukas mencatat :

Lukas 2:7 (TB)  dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung (her first born son), lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Dalam Ayat diatas ditegaskan bahwa Yesus adalah anak sulung/anak laki-laki pertama (first born son) Yusuf dan Maria.

Selanjutnya dalam peristiwa pernikahan di Kana, Yesus bersama ibu, saudara dan para murid-Nya menghadiri pernikahan itu, rasul Yohanes mencatat :

Yohanes 2:12 (TB)  Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.

Dalam Ayat diatas ditegaskan bahwa Yesus memiliki saudara/i yg oleh para pakar Theologia diindentifikasikan sebagai saudara-saudara "tiri" Yesus setelah Dia dilahirkan. Maksud dari saudara "tiri" ini adalah, Yesus seperti yg diketahui bersama adalah anak Yusuf dan Maria namun secara ajaib dikandung dari Roh Kudus melalui rahim Maria, artinya Yesus bukan berasal darah daging Maria (Ibrani 10:5) melainkan hanya anak rahim Maria (Lukas 1:42); sementara saudara-saudari Yesus adalah darah daging Yusuf dan Maria.

Selanjutnya, setelah Yesus memulai pelayanan-Nya, mereka yg mendengar pengajaran-Nya mengatakan :

Markus 6:3 (TB)  Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

Bisa disimpulkan bahwa di kampung halaman-Nya, Yesus memiliki saudara dan para tetangga-Nya mengenal mereka.

Di awal pelayanan-Nya, Yesus juga pernah ditolak oleh saudara-saudari-Nya, tentang itu rasul Yohanes mencatat :

Yohanes 7:3-6 (TB)  Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.

Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia."

Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya.

Maka jawab Yesus kepada mereka: "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu."

Namun setelah kebangkitan-Nya, setelah para wanita yg mengusung Dia dan bertemu Dia di tempat Dia dimakamkan, orang pertama yg ditemui Yesus sesudah mereka adalah saudara-Nya, Yakobus. Rasul Paulus mencatat peristiwa itu dalam salah satu suratnya.

1 Korintus 15:7-8 (TB)  Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

Dengan demikian, Yesus tentu saja menggenapi perkataan-Nya sendiri bahwa Dia selalu ada waktu buat saudara-saudari-Nya supaya mereka percaya kepada-Nya (Yoh 7:6).

Setelah kenaikan-Nya, saudara-saudari Yesus akhirnya berkumpul bersama para murid, tentang ini Lukas mencatat :

Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Beberapa tahun setelah peristiwa ini, setelah Dia menampakan diri-Nya kepada Paulus, dia pergi ke Yerusalem, namun disana Paulus hanya bertemu dengan Yakobus saudara Yesus dan Simon bar Jonah (Kefas), tentang itu di dalam suratnya rasul Paulus mencatat :

Galatia 1:18-20 (TB)  Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya.

Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.

Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.

Bahkan penulis Kitab Yudas mengkonfirmasi dirinya adalah saudara Yakobus.

Yudas 1:1 (TB)  Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus.

Beberapa pernyataan diatas jelas mengkonfirmasi sangat kuat untuk mendukung Markus 6:3 bahwa keduanya adalah saudara (hubungan keluarga inti / saudara serahim) Yesus. Yang terakhir dalam salah satu suratnya, rasul Paulus juga mengidentifikasikan bahwa para murid dan saudara-saudari Yesus telah menikah.

1 Korintus 9:5 (TB)  Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?

Hampir semua yg tertulis dalam Perjanjian Baru selalu membedakan antara saudara-saudari Yesus dan para rasul-Nya sehingga dapat disimpulkan bahwa Yesus memiliki saudara/i "tiri" (saudara serahim) setelah Dia dilahirkan karena Kitab Suci dengan tegas mencatat bahwa Yusuf dan Maria TIDAK melakukan hubungan suami-istri sampai Yesus dilahirkan.

Matius 1:25 (TB)  tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Disisi lain, seandainya mereka adalah saudara sepupu Yesus, tentunya penulis Alkitab akan menggunakan frasa Anepsios seperti yg dilakukan Paulus dalam suratnya yg menuliskan :

Kolose 4:10 (TB)  Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan [[ Anepsios / relative (Amplified Bible) /cousin (ASV) ]] Barnabas — tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu --

Penjelasan Yakobus sebagai saudara serahim Yesus juga mendapat dukungan dari para pelayan Firman setelah era Kerasulan yg mencatat:

1. Sejarahwan gereja, Flavius Josephus (37-100 AD) mencatat dalam bukunya :

Festus was now dead, and Albinus was but upon the road; so, he assembled the sanhedrim of judges, and brought before them the brother of Jesus, who was called Christ, whose name was James, and some others. -- Jewish Antiquities (20.9.1)

2. Bishop Hegesippus (110-180 AD) mencatat : "After the apostles, James the brother of the Lord surnamed the Just was made head of the Church at Jerusalem."

3. Clement of Alexandria (150-215 AD) menuliskan : "Jude, who wrote the Catholic Epistle, being one of the sons of Joseph and [the Lord’s] brother, a man of deep piety, though he was aware of his relationship to the Lord, nevertheless did not say he was his brother; but what said he? ‘Jude the servant of Jesus Christ,’ because He was his Lord, but brother of James; for this is true; he was his brother, being Joseph’s [son]”

4. Eusebius (260 - 339 AD) menuliskan :

But after Paul, in consequence of his appeal to Cæsar, had been sent to Rome by Festus, the Jews, being frustrated in their hope of entrapping him by the snares which they had laid for him, turned against James, the brother of the Lord, [484] to whom the episcopal seat at Jerusalem had been entrusted by the apostles. [485] The following daring measures were undertaken by them against him. (Church History Book II Chapter 23:1; The Martyrdom of James, who was Called the Brother of the Lord.)

Tafsiran Utley sejalan dengan tulisan Flavius Josephus, Eusebius dan bishop Hegesippus yg menyatakan Yesus memiliki saudara-saudara lain dari hasil pernikahan Yusuf dan Maria; terlebih lagi Injil Lukas mencatat Yesus adalah anak sulung Yusuf dan Maria (Lukas 2:7).

Tafsiran Wycliffe juga mendukung hal ini dengan menyatakan bahwa Maria melahirkan anak-anak lagi melalui pernikahannya dengan Yusuf dan mereka inilah yg disebutkan dalam Matius 13:55 dan Markus 6:3.

Ketika Yesus mengatakan bahwa yg disebut saudara-Nya adalah mereka yg melakukan Kehendak Bapa (Matius 12:50), sesungguhnya Dia sedang memberikan pemaknaan baru dari frasa Adelphos yg mana dalam dunia bahasa ini disebut Coine Words yg artinya pemaknaan baru dari sebuah frasa untuk menjelaskan sebuah keadaan sehingga bisa dipahami oleh banyak orang.

Coine Words bukanlah sesuatu yg baru dari perkembangan literasi karena bahasa Indonesia pun sudah mengenal itu dengan baik. Mengikuti apa yg diajarkan Yesus, para penulis Kitab Suci pun menggunakan Coine Words ketika mereka menyatakan bahwa segenap umat Kristiani juga dapat disebut Adelphos karena oleh Tuhan sendiri mereka (umat Kristen) disebut anak-anak Allah, yg lahir kembali setelah dibaptis di dalam Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Pun demikian, segenap rakyat Indonesia juga bisa dikatakan Adelphos karena merupakan saudara sebangsa. Penafsiran yg tidak jujur dan tidak melihat konteks Ayat saat itu dituliskan akan berusaha memaknai Adelphos sesuka hati demi mendukung penafsiran resmi keyakinan tertentu meskipun di dalam hatinya mereka menyadari bahwa itu adalah salah.

Kesalahan dalam memaknai frasa Adelphos secara ekuivokasi sebagai akibat dari tidak membaca Konteks Perjanjian Baru dengan benar akan menyebabkan kesalahan dalam memaknai konteks Kitab Suci sebagai contoh :

Petrus dan Thomas adalah saudara seiman (Adelphos) dan sebangsa (Adelphos) namun keduanya bukan saudara kandung (Adelphos) karena orang tua mereka berbeda.

Frasa Adelphos dapat merangkum semua frasa "saudara" diatas namun tidak akan bisa menghasilkan penafsiran yg benar jika tidak memahami sudut pandang penulis dan peristiwa yg lumrah terjadi pada saat itu dituliskan. Dengan demikian menjadi semakin jelas bahwa Yesus memang memiliki saudara "tiri" (saudara serahim) setelah Dia dilahirkan yg berasal dariYusuf dan Maria.

Menerima fakta minor bahwa Yesus memiliki saudara kandung (saudara serahim) tidaklah menghilangkan status Yesus sebagai Anak Allah dan Mesias (Divine-Human) dan tidak pula menolak nubuat Kelahiran Yesus dari seorang perawan karena Dia (Yesus) adalah anak sulung (First born son) Yusuf dan Maria. Ketika nubuatan itu sudah tergenapi, rencana Bapa didalam kehidupan Yusuf, Maria dan Yesus sudah terlaksana.

Pustaka:

  1. https://www.biblegateway.com/resources/encyclopedia-of-the-bible/Brothers-Jesus
  2. https://everything.explained.today/Brothers_of_Jesus/
  3. https://rubrikkristen.com/4-saudara-kandung-yesus-di-alkitab/
  4. https://www.gotquestions.org/Indonesia/saudara-Yesus.html

11 Januari 2024

Persembahan Janda Miskin: Eksploitasi Kesalehan atw Pemberian Terbaik

Markus 12:41-44 (TB)

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.

Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Cerita diatas merupakan salah satu dari beberapa yg cukup sering disampaikan oleh para pelayan Firman dimana kesimpulan yg disampaikan biasanya berkata, "Marilah kita memberikan persembahan yg terbaik, bila perlu seluruh hidup kita bagi Allah untuk membangun dan menyebarluaskan Kerajaan Allah di muka bumi." Tentu saja, dengan didukung / ditambah kutipan Roma 12:1 maka pengajaran itu sedemikian indah dan sempurna, dalam bahasa yg sederhana, memuaskan telinga Jemaat. Salahkah?

Tentu tidak, karena kepada setiap Jemaat memang diberi tanggungjawab untuk menghidupi pelayanan para pelayan Firman salah satunya lewat dukungan finansial (1 Korintus 9:14) bahkan dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa "setiap pekerja wajib menerima upahnya" (Matius 10:10).

Namun pernahkah kita bertanya, mengapa Markus dan Lukas menempatkan kisah itu sesudah Tuhan Yesus mencela perilaku ahli Taurat (Markus 12:38-40; Lukas 20:45-47)?

Sejarah akademisi Teologia Barat kerapkali dipersulit oleh ketidaksesuaian dalam teks Alkitab mengenai kronologi. Ketika dua Kitab atw dua penulis dalam Alkitab menyajikan informasi yg sama dalam urutan yg berbeda atw mencatat serangkaian peristiwa yg sama tetapi rinciannya berbeda, beberapa pakar Teolog Barat dengan cepat menyimpulkan bahwa salah satu dari laporan itu salah, tidak mungkin keduanya benar. Bagi mereka, urutan yg "benar" adalah yg akurat secara kronologis.

Kembali kepada kisah "Persembahan Janda Miskin", tentu kita beranggapan bahwa kisah itu menekankan kebajikan, pemberian dengan penuh pengurbanan sehingga ada beberapa yg terabaikan.

Baik Markus maupun Lukas baru saja menceritakan peringatan Yesus kepada kita untuk berhati-hati kepada para pemimpin agama yg diantara mereka "yg menelan rumah janda-janda" (Markus 12:40, Lukas 20:47). Kemudian kedua penulis Injil itu menceritakan kepada kita bahwa janda itu "memberikan seluruh nafkahnya". Mungkin anda akan mengatakan, "Tetapi dia memberikannya kepada Bait Allah, satu pemberian kepada Allah".

Perlu kita sadari bahwa ketika seseorang memberikan seluruh nafkahnya bagi rumah Allah, bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri atw bahkan keluarganya?

Bukankah Tuhan memberikan hikmat bagi setiap kita untuk lebih mengutamakan yg terutama, bertanggungjawab atas diri kita terlebih keluarga kita?

Jika Keluarga kita berkekurangan namun kehidupan pelayan Firman di Gereja melimpah berkat atw mungkin gedung Gereja dimana kita beribadah ternyata lebih baik dari kehidupan keluarga kita, masihkah kita dengan jujur mengatakan "Hidup kita dipenuhi berkat jasmani"?

Bahkan beberapa gereja "kekinian" mengajarkan bahwa Tuhan akan membalas puluhan / ratusan kali ganda berkat jasmani jika kita memberikan persembahan untuk Tuhan, yg mana hal ini seperti model investasi keuangan, sementara Roh Kudus melalui penulis kitab Ibrani mengajarkan:

Ibrani 13:5 (TB)  Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Dalam sebuah pengajaran, rasul Paulus menekankan prinsip tabur-tuai, "Siapa yg memberi sedikit akan menuai sedikit dan siapa yg memberi banyak akan menuai banyak." namun dalam hal persembahan wajib dilakukan dengan kerelaan, bukan dengan paksaan sehingga:

2 Korintus 9:8 (TB)  Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa BERKECUKUPAN di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Cukup, adalah point yg selalu ditekankan para penulis Perjanjian Baru ketika bicara tentang berkat jasmani karena setiap orang memiliki talenta yg menunjukkan bahwa karunia yg tidak sama jumlahnya, apabila dipergunakan dengan kesetiaan yg sama, akan diberi upah yg sama pula.

Dalam dunia pekerjaan, hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa seseorang yg telah setia dalam perkara kecil, akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yg besar. (Matius 25:21)

Lukas setelah memberikan catatan tentang persembahan janda miskin segera menyatakan:

Lukas 21:5-6 (TB)  Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus:

"Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan."

Apa yg dimaksud Lukas dan Markus mengenai pemilihan waktu dari ketiga peristiwa diatas?

Apakah kita mau mengatakan bahwa gedung Gereja yg dibangun dengan cara mengeksploitasi kesalehan umat Kristiani tidak akan bertahan lama?

Tentu tidak, ada banyak gedung Gereja megah yg tetap berdiri meski sudah berusia ratusan tahun.

Penekanan dari kisah itu membuat kita sampai pada sebuah retorika, apakah janda itu contoh yg baik dari pemberian yg penuh pengurbanan atw Yesus sedang menjadikannya contoh tentang bagaimana para pemuka agama dapat mengeksploitasi kesalehan orang miskin?

Pelayan Firman yg bijaksana dan berhikmat tentu lebih mengutamakan kebutuhan Jemaat dibandingkan gereja. Hal ini karena ketika kebutuhan Jemaat sudah tercukupkan terlebih jika sudah hidup berkelimpahan secara jasmani, maka keperluan gereja dengan sendirinya akan mengikuti dan terpenuhi.

Belajar dari kehidupan Yesus dan para murid serta Jemaat mula-mula, disana dituliskan:

1. Para perempuan yg mengikut Yesus melayani Dia dan rombongan-Nya dengan kekayaan mereka (Lukas 8:1-3)

2. Yesus dan para-Murid memberikan bantuan kepada orang-orang miskin (Yohanes 13:29)

3. Para Jemaat memberikan persembahan kepada para pelayan Firman (Kisah Para Rasul 2:45-46)

4. Para Rasul Kristus mengumpulkan sumbangan untuk para pelayan Firman di Yudea (Kisah Para Rasul 11:29)

5. Jemaat di Makedonia dan Akhaya memberikan sumbangan kepada orang-orang miskin dan para pelayan Firman yg kekurangan (Roma 15:26)

6. Jemaat memberi persembahan kepada para pelayan Firman (1 Korintus 16:1-2)

Tafsiran Utley mengatakan:

Iman yang sempurna dari wanita ini dikontraskan dengan kesombongan dan kedangkalan keagamaan dari ahli-ahli Taurat. Mereka menguras sumber daya si janda tersebut. Janda ini memberikan semua sumber dayanya kepada Tuhan dan dengan demikian bergantung pada-Nya dengan iman untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhannya.

Tafsiran Matthew Henry mengatakan:

Memberikan persembahan merupakan hal yang sangat baik, dan sangat menyenangkan hati Tuhan Yesus; dan jika kita rendah hati dan tulus melakukannya, Ia akan menerimanya dengan sukacita, walaupun pemberian seperti itu tidak selalu adalah tindakan yg paling bijak atau hati-hati.

 

Tuhan Yesus memberkati.