30 Maret 2023

Mengasihi Sesama, Bukan Mengasihi Sesama Yang Sama

 

Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, Dia berhenti sejenak dan mengatakan "Ini sungguh baik". Namun demikian, Dia menemukan suatu hal yang tidak baik bahkan sebelum dosa masuk kedalam kehidupan. Dalam Kejadian 2:18, Dia menyatakan, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja."

Seperti biasa, Kita memahami hal itu dengan mengatakan bahwa "Seorang pria membutuhkan seorang perempuan untuk menjadi pasangannya yang sepadan, demikian sebaliknya."

Namun ada pesan lain yang Tuhan ingin sampaikan yakni, Tuhan merancang kita untuk bisa memiliki relasi yang bermakna dengan orang lain. Seperti Bapa yang selalu senantiasa bersama dengan Firman-Nya dan Roh Kudus-Nya sehingga Ketiga-Nya memiliki hubungan yang harmonis dalam setiap keadaan, demikian juga kita diharapkan memiliki hubungan yang indah dengan sesama manusia terlebih didalam keluarga.

Kenyataan memang tidak semudah itu, ada banyak orang yang membenci sesamanya bahkan saudaranya sendiri hanya karena berbeda pendapat dan berbagai alasan yang lain.

Jika demikian, bagaimana kita mengatakan kita mengasihi Tuhan jika sesama saja dibenci...?

Bukankah Roh Kudus-Nya melalui hamba-Nya dengan jelas mengatakan:

1 Yohanes 4:20 (TB) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Pesan kasih telah disampaikan Tuhan sejak saat Dia menciptakan manusia. Mengasihi sesama merupakan salah satu bukti terbaik bahwa kita mengasihi Tuhan.

 

Tuhan memberkati

17 Maret 2023

Transedensi Ilahi Dan Imanensi Ilahi Didalam Perspektif Iman Kristen Lewat Sudut Pandang Protestan Injili

Transedensi Ilahi Dan Imanensi Ilahi Didalam Perspektif Iman Kristen Lewat Sudut Pandang Protestan Injili

Disadur dari tulisan:

Kita Percaya Kepada Allah oleh Third Millennium Ministries

 

Saya mendengar tentang seorang pemuda yang mengajak temannya untuk mendengarkan seorang pemain musik yang baru di kota mereka. “Kamu pasti suka orang ini,” ia meyakinkan temannya.

“Seperti siapa orang ini?” tanya temannya.

Pemuda itu menjawab dengan penuh semangat, “Dia tidak seperti siapa pun yang pernah kamu dengar. Kamu akan terheran-heran melihat betapa berbedanya dia.”

Kita semua memiliki pengalaman seperti ini. Sering kali orang-orang yang kita kagumi dalam beberapa hal mirip dengan orang-orang lain, tetapi kesamaan-kesamaan ini biasanya tidak menarik perhatian kita. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa kita sangat mengagumi mereka karena mereka begitu berbeda dari yang lain. Dan dalam banyak hal, kita dapat mengatakan hal yang sama tentang Allah. Setiap pengikut Kristus yang setia menghormati dan menyembah Allah karena segenap diri-Nya dan segala yang dilakukan-Nya. Namun yang sering kali membuat roh kita takjub ialah betapa berbedanya Allah dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Kesempurnaan dari esensi Allah yang dinyatakan melalui berbagai manifestasi historis.

Atribut-atribut Allah adalah ciri-ciri esensi-Nya, tanpa ini Dia bukanlah Allah.

Para Teolog umumnya berbicara tentang dua bentuk utama, atau kelompok utama, dari atribut-atribut Allah. Atribut-atribut-Nya yang dapat dikomunikasikan adalah ciri-ciri dari esensi Allah yang dapat dibagikan kepada ciptaan dalam cara yang terbatas. Atribut-atribut-Nya yang tidak dapat dikomunikasikan adalah ciri-ciri dari esensi Allah yang tidak dapat dibagikan kepada ciptaan. Dalam pelajaran ini, kita akan berkonsentrasi pada kelompok yang kedua, yaitu atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan — betapa berbedanya Dia dari ciptaan-Nya.

Ketika kita berbicara tentang siapa Allah dan apa yang Kitab Suci nyatakan kepada kita tentang siapa Allah — yang dinamakan atribut-atribut Allah — manusia membedakannya dalam hal-hal yang dapat dikomunikasikan, artinya hal-hal yang seperti kita, atau yang tidak dapat dikomunikasikan, yaitu hal-hal yang sangat berbeda di antara Allah dan kita… Mengapa pembedaan ini penting? Ini penting karena hal ini membantu kita untuk memahami siapa Allah — Allah yang berbeda… Jika kita memikirkan sebuah kata seperti “aseity,” yang artinya Allah ada hanya dengan membuat diri-Nya sendiri ada. Dengan kata lain, Ia tidak tergantung pada apa pun; sedangkan kita tergantung pada Dia untuk eksistensi kita — itulah hal yang mengatakan pada kita, baiklah, ada sesuatu yang sangat berbeda tentang siapa Allah dan siapa kita. Jadi, pembedaan atribut-atribut yang dapat dan yang tidak dapat dikomunikasikan ini perlu untuk membantu kita mengenal siapa Allah, juga membantu kita mengetahui bagaimana Allah adalah Allah dan kita bukan.

— Vincent Bacote, Ph.D.

Wahyu umum memberi kita banyak wawasan tentang atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan apabila kita membandingkan karakteristik esensi Allah dengan karakteristik ciptaan-Nya. Kaum Skolastik abad pertengahan menamakan strategi ini “via negationis,” atau “cara kontradiksi.” Namun, seperti telah kita lihat, sepanjang sejarah Allah telah memberikan wahyu khusus kepada umat-Nya untuk menuntun kita sementara kita merenungkan wahyu umum. Dan sebagai pengikut-pengikut Kristus masa kini, ini berarti bahwa kita harus berupaya semaksimal mugkin agar kepercayaan kita tentang hal-hal ini bertumpu di atas dasar pengajaran Biblika.

Di zaman gereja mula-mula dan abad pertengahan, Teologia sangat dipengaruhi oleh konsep tentang Allah menurut filsafat Yunani. Filsafat Yunani menekankan bahwa Allah adalah transenden, dan karenanya terpisah sama sekali dari sejarah. Di bawah pengaruh ini, para Teolog Kristen mengenali atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dalam hampir setiap halaman dari Kitab Suci. Tetapi di zaman modern, banyak Teolog terkemuka yang kritis, dan bahkan juga sejumlah kalangan Injili, telah meninggalkan pengaruh Yunani ini. Alih-alih menekankan transendensi Allah, mereka berfokus pada imanensi-Nya — keterlibatan-Nya dalam sejarah. Dan karena ini, sering kali banyak orang Kristen yang tulus yang meremehkan, dan bahkan menyangkal, bahwa Alkitab mendukung doktrin tradisional dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Oleh karena banyak keraguan terkait hal ini, perlu kita menunjuk pada suatu pandangan mendasar tentang Allah yang meresapi Kitab Suci. Yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana penulis-penulis dan tokoh-tokoh Alkitab sering kali menyebutkan fakta bahwa Allah tidak ada bandingan-Nya — Ia tidak tertandingi; tiada taranya; tertinggi. Sebagai contoh, dalam 1 Raja-raja 8:23, pada waktu penahbisan Bait Suci, Salomo memuji Allah demikian:

Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah (1 Raja-raja 8:23).

Perhatikanlah bahwa pernyataan Salomo tentang Allah yang tidak ada bandingannya ini tanpa perkecualian. Tidak ada allah “di langit di atas dan di bumi di bawah” yang “seperti [Allah]”. Kita mendapati pernyataan-pernyataan serupa dalam Mazmur 71:19; Mazmur 86:8; and Mazmur 89:7. And in 2 Samuel 7:22 Daud mengatakan demikian:

Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau (2 Samuel 7:22).

Diatas merupakan pernyataan essensial Daud yang mengatakan bahwa Allah tidak ada bandingan-Nya. Daud mengatakan bahwa Allah itu besar dan tidak ada yang sama seperti [Dia].

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa meneguhkan dasar Biblika yang membenarkan penelitian yang saksama dari kesempurnaan Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Ayat-ayat ini mencerminkan ajaran Biblika yang konsisten bahwa Allah terlalu tinggi untuk dapat dibandingkan dengan ciptaan-Nya. Di masa sekarang ketika aspek Teologis ini dipertanyakan oleh sejumlah kalangan, dan sangat diremehkan oleh banyak orang, Kitab Suci tetap mengungkapkan bahwa Allah tiada tandingannya. Dan kenyataan ini menuntut kita untuk belajar sebanyak mungkin mengenai perbedaan Allah dengan ciptaan-Nya.

Setelah mengamati dasar Biblika untuk mengenali atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan, selanjutnya tentang keanekaragaman Teologis terkait hal ini di antara kalangan Injili.

** Keanekaragaman Teologis **

Kitab Suci tidak memberi kita sebuah daftar yang pasti dan lengkap dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Sebaliknya, pengajaran Biblika terkait hal-hal ini hanya muncul di sana sini, dengan cara ini dan itu. Karena itu, mengenali kesempurnaan ilahi ini mirip dengan menyusun sebuah panel jendela yang rumit rancangannya dari pecahan kaca berwarna dengan berbagai bentuk dan warna yang muncul di berbagai tempat dalam Alkitab. Dapat Anda bayangkan, betapa rumitnya proses pengenalan bentuk-bentuk dan warna pecahan-pecahan itu dan proses pencatatan dan penyatuannya. Jadi, meskipun kita mempunyai banyak kesamaan terkait pandangan kita, tidak mengherankan jika kalangan Injili membuat berbagai daftar yang berbeda-beda dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Kita dapat mencoba memahami keanekaragaman Teologis ini dengan beberapa cara. Tetapi untuk mempermudah, mari kita melihat tiga naskah historis dari beberapa denominasi Gereja Protestan.

Augsburg Confession

Ada satu Esensi Ilahi yang dinamakan Allah dan yang memang adalah Allah: kekal, tanpa tubuh, tanpa bagian-bagian, memiliki kuasa, hikmat, dan kebaikan yang tak terbatas. (Augsburg Confession dari Denominasi Lutheran – 1530 AC)

Di sini kita lihat bahwa Augsburg Confession berbicara tentang enam kesempurnaan ilahi. Lazimnya istilah-istilah kuasa, hikmat, dan kebaikan diasosiasikan dengan atribut-atribut Allah yang dapat dikomunikasikan, meskipun sebenarnya ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Ciptaan Allah, dan teristimewa manusia, mendapat bagian dalam ciri-ciri ini dalam skala terbatas sebagai makhluk yang fana. Juga adalah hal yang lazim untuk mengidentifikasi hal kekal, tanpa tubuh, tanpa bagian-bagian, dan istilah tak terbatas, dengan atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Dalam hal-hal ini Allah berbeda dari ciptaan-Nya.

Belgic Confession

Hanya ada satu Keberadaan rohani yang tunggal, yang kita namakan Allah … Ia kekal, tidak dapat dipahami, tidak kasatmata, tidak berubah, tidak terbatas, mahakuasa, bijaksana, adil, baik, dan sumber segala kebaikan yang melimpah. (Belgic Confession dari Denominasi Presbiterian/Reformed Calvinist – 1561 AC)

Kita lihat di sini, setelah menyatakan bahwa Allah adalah Keberadaan yang rohani, berdasarkan perkataan Yesus dalam Yohanes 4:24, Belgic Confession mendeskripsikan Allah dengan sepuluh istilah lain. Sekali lagi, ini adalah penyederhanaan yang berlebihan, tetapi pada umumnya, para Teolog memandang sebutan mahakuasa, bijaksana, adil dan baik sebagai atribut-atribut yang dapat dikomunikasikan, karena kita berbagi kuasa, hikmat, keadilan dan kebaikan dengan Allah pada skala makhluk yang fana. Istilah tunggal — yang artinya Allah tidak terbagi dalam bagian-bagian — kekal, tidak dapat dipahami — yang berarti kita tidak dapat memahami sesuatu pun tentang Allah sepenuhnya — tidak kasatmata, tidak berubah — atau tetap — dan tidak terbatas, biasanya dipandang sebagai atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Westminster Shorter Catechism

Pertanyaan dan Jawaban nomor 4 dari Westminster Shorter Catechism berbunyi sebagai berikut:

Apakah Allah?

Katekismus menjawab:

Allah adalah Roh, tidak terbatas, kekal, dan tidak berubah, dalam keberadaan-Nya, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan, dan kebenaran-Nya.

(Westminster Shorter Catechism dari Golongan Puritan Reformed – 1640 AC)

Setelah mendeskripsikan Allah sebagai Roh, Katekismus Singkat ini mencatat sepuluh kesempurnaan ilahi. Sekali lagi, hal-hal ini sebenarnya rumit, tetapi sudah lazim orang berbicara tentang keberadaan, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan, dan kebenaran sebagai atribut-atribut yang dapat dikomunikasikan. Dan juga lazim untuk mengidentifikasi tidak terbatas, kekal dan tidak berubah, atau tetap, dengan atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Apabila kita membandingkan ketiga daftar dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan ini, kita dapat melihat bahwa ketiganya tidak sama. Ketiga-tiganya menyebutkan bahwa Allah kekal dan tidak terbatas. Tetapi hanya Belgic Confession dan Shorter Catechism yang menegaskan bahwa Allah adalah Keberadaan rohani atau Roh, dan bahwa Allah tetap atau tidak berubah. Hanya Augsburg Confession yang menegaskan bahwa Allah itu tanpa tubuh dan tanpa bagian-bagian. Dan hanya Belgic Confession yang mengatakan bahwa Allah itu tunggal, tidak dapat dipahami dan tidak kasatmata.

Kita melihat dari perbandingan-perbandingan ini, bahwa kalangan Injili mengekspresikan atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dalam cara-cara yang berbeda. Tetapi berapa banyak perbedaan subtansial yang terlihat dalam daftar ini?

Ketika umat Kristen pertama kali mengetahui bahwa kalangan Injili tidak semuanya menggunakan terminologi yang sama untuk atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan, mereka sering kali berasumsi bahwa kita mempercayai hal-hal yang sangat berbeda tentang Allah. Sebagaimana dalam setiap aspek dari Teologia Sistematika, memang keanekaragaman di antara kita sering kali menunjukkan penekanan Teologis yang berbeda-beda. Tetapi yang lebih sering terjadi ialah bahwa perbedaan-perbedaan dalam daftar kita dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan hanya menunjukkan keanekaragaman dalam terminologi. Meskipun pengikut-pengikut Kristus yang setia menggunakan istilah-istilah teknis yang berbeda-beda untuk mencatat atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan, secara umum daftar-daftar ini tidak menunjukkan perbedaan yang berarti dalam konsep atau kepercayaan kita tentang Allah.

Ketika para Teolog melakukan pekerjaan mereka, atau ketika sekelompok orang percaya berkumpul untuk berupaya menyusun pengakuan-pengakuan yang dapat diberikan kepada Gereja, untuk dapat mendeskripsikan kepercayaan dan Teologia Gereja, dalam semuanya ini, Anda berusaha mendeskripsikan realitas yang sama, jika umat memang sependapat. Namun pilihan-pilihan mereka mungkin berbeda. Maksud saya, jika kita memikirkan tentang sebuah deskripsi dari Allah, kita mengerti bahwa Allah adalah satu keberadaan dalam Tiga Pribadi, tetapi Allah itu Esa. Namun Allah memiliki atribut-atribut yang berbeda… Tidak mengherankan bahwa ketika kita mulai berbicara tentang hal yang sebesar dan sepenting itu, kita mempergunakan kata-kata yang berbeda… Kita perlu berupaya mencari apa yang mendasari hal yang sedang diusahakan untuk dideskripsikan itu, dan membandingkan hal-hal itu. Dan yang bisa lebih membingungkan lagi ialah apabila dua kelompok orang yang berbeda mempergunakan kata yang sama untuk mendeskripsikan dua hal yang amat berbeda. Maka kita harus mengerti bahwa kita tidak bisa sekadar menempatkan kata-kata itu berdampingan untuk membandingkannya. Kita harus berusaha menggali di balik kata-kata tersebut untuk menemukan apa yang hendak dideskripsikan oleh para Teolog atau para penulis dari pengakuan-pengakuan ini, kita harus menimba apa yang terpendam di bawahnya dan membandingkannya dan melihat apakah ada perbedaan atau tidak di sana. Dan sering kali ketika kita melakukan hal itu kita mendapati bahwa perbedaannya tidak sebesar yang kita sangka, sebab ini tetap adalah pengakuan-pengakuan yang berakar dalam otoritas Kitab Suci dan karya Kristus. Jadi, meskipun mereka mempergunakan kata-kata yang berbeda untuk mendeskripsikan satu realitas, tetaplah realitas yang satu itu yang mereka maksudkan.

— Dr. Tim Sansbury

** Note **

Teologi Sistematika adalah disiplin teologi Kristen yang merumuskan tertib, rasional, dan koheren rekening doktrin-doktrin iman Kristen dengan subdisiplin dogmatika, etika dan filsafat agama.

Teologi sistematika mengacu pada dasar teks-teks suci agama Kristen, sekaligus menyelidiki perkembangan ajaran Kristen selama sejarah, khususnya melalui filsafat, ilmu pengetahuan dan etika. Yang melekat pada suatu sistem pemikiran teologis adalah bahwa metode ini dikembangkan, salah satu yang dapat diterapkan baik secara luas dan terutama. Menggunakan teks-teks Alkitab, ia mencoba untuk membandingkan dan menghubungkan semua kitab suci dan membuat sistematis pernyataan pada apa yang Alkitab katakan tentang isu-isu tertentu.

Hal ini penting ketika kita menyadari bahwa istilah-istilah lain sering kali juga digunakan bagi atribut-atribut ini. Sebagai contoh, kalangan Injili sering kali menunjuk pada kemahahadiran Allah, kenyataan bahwa Allah ada di mana-mana; kemahatahuan Allah, kenyataan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu; dan kemahakuasaan Allah, kenyataan bahwa Allah berkuasa di atas segalanya. Banyak Teolog juga berbicara tentang aseity Allah, kenyataan bahwa Allah ada dari diri-Nya sendiri dan tidak tergantung dari penciptaan-Nya; dan kedaulatan Allah, kenyataan bahwa Allah mengendalikan ciptaan sepenuhnya. Memang, ada perbedaan pendapat terkait beberapa rincian dari doktrin-doktrin ini. Namun pada umumnya, perbedaan-perbedaan dalam terminologi tidak menunjukkan perbedaan pendapat yang berarti di antara Teolog dan Akademisi Injili yang berpengetahuan. 

** Note **

Aliran Injili adalah ungkapan yang digunakan untuk membahas gerakan dalam agama Kristen Protestan yang menekankan sebuah hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Hubungan pribadi ini dimulai ketika seseorang menerima pengampunan Kristus dan dilahirkan baru. Mereka yang mengakui kepercayaan ini disebut injili.

Istilah Injili sendiri berasal dari kata Yunani euangelion, yang berarti "kabar baik," dan euangelizomai, yang berarti "mengabarkan sebagai berita yang baik." Kabar baiknya ialah bahwa "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya" (1 Korintus 15:3b-5). Kabar baik ini, yang adalah injil Kristus, dan pengabarannya menjadi basis bagi aliran Injili.

Akar aliran Injili dapat dilacak kepada Reformasi Protestan, pada waktu Alkitab disebarluaskan pada semua orang. Kebenaran Alkitab yang dahulunya diabaikan teringat kembali dan diajarkan. Namun gerakan Injili sebenarnya dimulai pada kebangkitan rohani di abad ke-18 dan 19 di Eropa dan Amerika. Sebagaimana kasusnya dengan Reformasi, gerakan Injili dengan penekanannya terhadap hubungan pribadi dengan Yesus Kristus membawa bersamanya semangat baru dalam menafsirkan dan menerapkan Firman Allah dengan tepat.

** Perspektif Biblika **

Tidak begitu sulit untuk menyusun sebuah daftar dari ekspresi-ekspresi yang mendeskripsikan bagaimana perbedaan Allah dengan ciptaan-Nya. Tapi lebih sulit untuk mengasosiasikan ekspresi-ekspresi ini dengan begitu banyak pengajaran Kitab Suci yang relevan. Atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan adalah beberapa konsep yang paling abstrak dalam Teologia Kristen. Karena itu, orang-orang Kristen sering kali menafsirkan ekspresi-ekspresi ini secara sangat berbeda satu dengan yang lain.

** Transendensi Ilahi **

Transendensi mempunyai konsep di atas, di atas dan melampaui, jadi jika kita berbicara tentang transendensi Allah, yang kita maksudkan adalah bahwa Dia transenden. Allah dalam natur hakiki-Nya sendiri. Sebenarnya, ini adalah bahasa kiasan — maksudnya cara kita berpikir tentang Allah, kita harus merenungkan bahwa Allah lebih besar dan di atas manusia. Jadi berbicara tentang transendensi Allah, atau transendensi ilahi, adalah mendeskripsikan Allah sebagai Allah yang secara hakiki, dalam natur-Nya, adalah Allah… bukan berhala, bukan allah yang dimanipulasi oleh manusia atau dikendalikan secara gaib, melainkan Allah. Jadi bagian dari merenungkan siapa Allah itu, adalah menerima bahwa Dia benar-benar Allah, dan karena itu layak disembah… Yesaya: “kudus, kudus,” Allah yang besar dan dahsyat ini, sang Pencipta, penguasa waktu dan ruang, jauh lebih tinggi melampaui segenap ciptaan-Nya, dan jauh di atas dan di luar manipulasi manusia.

— Dr. Josh Moody

Dengan kata lain, ketika kita berbicara tentang “transendensi ilahi” maksudnya ialah Allah tidak dibatasi oleh pembatasan-pembatasan yang ditetapkan-Nya bagi ciptaan-Nya. Ia ada di atas dan di luar ciptaan. Setiap daftar baku dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan didasarkan pada apa yang Alkitab ajarkan mengenai transendensi Allah.

Westminster Shorter Catechism, Pertanyaan 4 yang dituliskan diatas berbicara tentang transendensi ilahi dengan mencatat tiga kesempurnaan yang tidak dapat dikomunikasikan, yaitu bahwa Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Mari kita lihat dulu bagaimana Kitab Suci mengajar bahwa Allah tidak terbatas.

Tidak terbatas. Banyak orang Kristen tidak menyangka bahwa kata “tidak terbatas” tidak didapati dalam Alkitab. Sebenarnya, ini adalah istilah teknis filosofis untuk sebuah konsep yang muncul dalam beragam cara di seluruh Kitab Suci. Dalam bahasa Inggris, kata “infinite” diterjemahkan dari dua istilah Teologis bahasa Latin. Yang pertama adalah immensus, yang berarti “tidak terukur” atau “tidak terhitung.” Yang kedua adalah infinitus, yang berarti “tidak berkesudahan” atau “tidak terbatas.” Jadi, ketika kita mengatakan Allah tidak terbatas, maksudnya ialah Allah bertolak belakang dengan ciptaan-Nya yang terbatas. Ia tidak terukur, tidak terhitung, tidak berkesudahan, dan tidak terhingga. Dengan kata lain: kesempurnaan Allah tidak ada batasnya.

Sejumlah ayat Alkitab dengan gamblang menunjuk pada bermacam-macam ketidakterbatasan Allah. Contohnya, dalam 1 Raja-raja 8:27, Salomo mengindikasikan bahwa Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang ketika ia menyatakan kepada Allah, “bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau.” Dan, dalam Roma 11:33, Paulus mengindikasikan bahwa pengetahuan dan hikmat Allah tidak dapat diukur ketika ia berbicara tentang “tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan … tak terselami jalan-jalan-Nya.” Dan, seperti dikatakan Pemazmur dalam Mazmur 139:6, Allah begitu besar sehingga pengetahuan tentang Dia “terlalu ajaib … terlalu tinggi … [untuk] mencapainya.” Ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa mengindikasikan bahwa benarlah jika orang mengatakan bahwa Allah tidak terbatas dalam kesempurnaan-Nya.

Ketidakterbatasan Allah artinya Allah tidak terhingga. Kita hidup dalam batasan koordinat ruang dan waktu. Hidup kita berlangsung dalam batasan waktu dan ruang. Kedua koordinat itu pun sulit untuk dibicarakan dalam keadaan abstrak. Jadi, jika kita mengatakan Allah tidak terhingga, kita sedang berupaya mengutarakan, mengomunikasikan, bahwa Allah tidak dibatasi seperti kita oleh waktu dan ruang. Jadi, mengatakan eksistensi temporal Allah [terkait waktu], atau eksistensi spasial [terkait ruang], adalah pemakaian kata yang keliru. Allah sebenarnya — sekali lagi, kita menggunakan bahasa untuk berbicara mengenai suatu pengalaman yang melampaui pengalaman kita sendiri — berada di luar waktu, tetapi di sini pun kita menggunakan bahasa spasial untuk berbicara tentang waktu. Jadi berbicara tentang ketidakterbatasan Allah adalah mengatakan bahwa Allah tidak dibatasi seperti kita dibatasi.

— Dr. Richard Lints

Di samping meneguhkan transendensi ilahi dengan cara mengungkapkan bahwa Allah itu tidak terhingga, Kitab Suci juga merujuk secara langsung pada gagasan abstrak bahwa Allah itu kekal.

Kekal. Kata “kekal” kerap kali dipergunakan untuk menerjemahkan istilah-istilah Biblika “ad” (עַד), “olam” (עוֹלָם) dan kadang-kadang “natsach” (נֵצַח) dalam Perjanjian Lama, dan “aión” (αἰών) dan “aiónios” (αἰώνιος) dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani (Septuaginta) dan Perjanjian Baru. Memang istilah-istilah ini juga diterapkan pada aspek-aspek ciptaan, tetapi tidak dalam arti yang sama seperti jika diterapkan pada Allah. Ciptaan adalah temporal, sementara, terbatas oleh waktu dalam berbagai cara. Tetapi Allah tidak. Allah itu kekal dalam arti bahwa kesempurnaan Allah tidak tergantung pada waktu.

Sejumlah ayat Alkitab berbicara tentang dimensi-dimensi yang berbeda dari kekekalan Allah. Contohnya, 1 Timotius 1:17 berbicara tentang Allah sebagai penguasa yang kekal. Ayat ini berbunyi, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal … yang esa.” Makhluk-makhluk sorgawi memuji Allah sebagai yang kekal dalam Wahyu 4:8, ketika mereka menyebut Dia “yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang.” Dan 2 Petrus 3:8 menceritakan bagaimana Allah melampaui seluruh sejarah dengan mengatakan, “Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Ayat-ayat ini dan banyak ayat lain yang serupa menunjukkan dengan jelas bahwa kesempurnaan Allah itu kekal.

Alkitab kerap kali berbicara bahwa Allah itu kekal. Ini berarti dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, jadi tidak ada awal di mana tidak ada Allah atau ketika Allah tidak eksis. Ciptaan tidak kekal. Ciptaan mempunyai awal. Seluruh alam semesta mempunyai awal. Allah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Tetapi Allah tidak mempunyai awal. Allah sudah ada dari kekekalan tanpa akhir, dan Allah adalah Allah selama-lamanya, jadi dari selama-lamanya hingga selama-lamanya. Maka, “kekal” menunjukkan bahwa Dia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Tidak ada suatu waktu di mana Allah tidak eksis, baik di masa lampau maupun di masa depan.

— Rev. Dr. Paul R. Raabe

Kitab Suci tidak hanya menunjukkan transendensi ilahi dengan meneguhkan bahwa Allah tidak terbatas dan kekal, tetapi juga secara gamblang menunjuk pada fakta bahwa Allah tidak berubah.

Tidak berubah. Ada beberapa istilah Biblika yang mengindikasikan bahwa Allah tidak berubah. Kata kerja bahasa Ibrani “shanah” (שָׁנָה) artinya “berubah.” Kata kerja “nacham” (נָחַם) artinya “berganti pikiran.” Dan dalam Perjanjian Baru kata benda bahasa Yunani “parallagé” (παραλλαγή) berarti “perubahan” atau “variasi.” Dari pengalaman kita sehari-hari dan dari Alkitab, jelaslah bahwa segala sesuatu dalam ciptaan, pada tingkat tertentu, dapat berubah. Tetapi jika istilah-istilah itu diterapkan pada Allah, ini menunjukkan bagaimana Allah secara mengagumkan berbeda dari ciptaan-Nya. Menurut Alkitab, kesempurnaan Allah tidak dapat berubah.

Allah sendiri mengatakan dengan jelas bahwa Ia tidak berubah dalam Maleakhi 3:6. Dalam ayat ini, Ia mengontraskan natur-Nya yang tetap dengan komitmen Israel yang tidak stabil dengan berfirman, “Aku, TUHAN, tidak berubah.” Bilangan 23:19 mengontraskan Allah dengan manusia dengan mengatakan, “Allah bukanlah manusia, … sehingga Ia menyesal.” Dan dalam Yakobus 1:17, Yakobus meyakinkan para pendengarnya akan kekonsistenan Allah dengan mendeskripsikan Dia sebagai “Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa menggambarkan Allah sebagai Dia yang tetap atau tidak berubah.

Allah tidak berubah, dan hal ini dinyatakan secara khusus di banyak bagian Alkitab, tetapi yang paling menonjol adalah, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah tidak berubah, namun dalam Alkitab didapati hal-hal yang terkesan seperti perubahan. Contohnya, ketika kita berbicara tentang hukum Allah, Alkitab tidak mengindikasikan bahwa Allah agak melunak dengan bergulirnya waktu. Ingat, Allah tidak menurunkan standarnya. Bukan seolah-olah Dia memandang umat manusia selama beberapa ribu tahun dan berkata, “Memang, Aku sudah tahu mereka tidak sempurna, tetapi sekarang Aku melihat betapa tidak sempurnanya mereka, jadi mereka tidak perlu mencapai standar yang sama.” Hal-hal itu tidak pernah berubah. Apa yang Allah beritahukan kepada Musa di Gunung Sinai dan yang Allah ungkapkan di seluruh Kitab Suci, masih tetap sama. Kita dituntut untuk memenuhi standar yang sama, yang akan sangat menakutkan seandainya tidak ada berita Injil yang juga tidak berubah, bahwa Allah mengasihi ciptaan-Nya sejak dahulu, dan khususnya sangat mengasihi umat manusia sehingga Ia datang ke dalam dunia untuk membawa perbedaan dalam kehidupan kita, untuk mengubahnya supaya kita tidak dibuang ke neraka untuk selamanya, melainkan dapat hidup bersama Dia di surga untuk selamanya… Kenyataan bahwa Allah tidak berubah merupakan peringatan bagi kita dan sekaligus penghiburan yang besar.

— Dr. Jeffery Moore

Apabila kita merenungkan wahyu umum dan Kitab Suci, sulit untuk menyangkali kenyataan bahwa Allah melampaui ciptaan-Nya dalam ketiga hal ini. Ciptaan terbatas, tetapi Allah tidak terbatas. Ciptaan temporal, Allah kekal. Ciptaan dapat berubah, tetapi Allah tidak berubah.

Namun, kita harus berhati-hati di sini. Istilah-istilah seperti “tidak terbatas,” “kekal” dan “tidak berubah” ini begitu abstrak sehingga penafsirannya sering kali keliru. Sebagai contoh, umat Kristen yang baru mulai belajar, menganut pandangan yang ekstrem dan liberal. Mereka berbuat seolah-olah atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan ini membentuk dinding pembatas yang tidak dapat ditembus di antara Allah dan ciptaan-Nya. Meskipun banyak pengajaran yang dengan jelas menegaskan hal yang sebaliknya, baik dalam Kitab Suci maupun Teologia Sistematika, ada orang-orang yang hanya melihat transendensi Allah. Mereka meyakinkan dirinya sendiri bahwa karena Allah itu tidak terbatas, kekal dan tidak berubah, maka Dia tidak dapat benar-benar masuk dan terlibat dalam dunia yang terbatas, temporal dan berubah.

Contohnya, banyak orang berpendapat bahwa karena Allah memiliki pengetahuan yang tidak terbatas, Allah tidak pernah menyelidiki keadaan. Tetapi Kitab Suci kerap kali menceritakan hal yang sebaliknya. Misalnya, dalam Kejadian 18:20-21, Allah mengutus malaikat sebagai mata-mata untuk menyelidiki dosa Sodom dand Gomora.

Demikian pula, ada orang-orang yang berpendapat bahwa karena Allah itu kekal, Allah tidak pernah menunggu untuk menanggapi ketaatan dan ketidaktaatan manusia. Kenyataannya, Ia cukup sering melakukan hal ini. Contohnya, Ulangan 8:2 menceritakan pada kita bahwa Allah menunggu untuk menghakimi Israel setelah keluar dari tanah Mesir hingga setelah umat itu gagal dalam ujian-ujian ketaatan mereka.

Selain itu, banyak orang mengatakan bahwa karena Allah tidak berubah, Allah tidak merespons doa-doa. Tetapi Allah merespons doa-doa di seluruh Alkitab. Kita melihat hal ini di bagian seperti Keluaran 32:14. Setelah Allah mengatakan bahwa Ia akan membinasakan bangsa Israel di kaki gunung Sinai, Ia merespons doa Musa dan tidak jadi membinasakan umat-Nya. Jadi, bagaimana kalangan Injili ini mencocokkan pandangan mereka tentang atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dengan ajaran-ajaran Kitab Suci seperti ini?

Sayangnya, mereka yang berpandangan liberal terlalu sering memandang referensi-referensi Biblika dari keterlibatan Allah dengan ciptaan-Nya ini sebagai “penampakan” belaka. Dari sudut pandang ini, Allah tidak benar-benar melibatkan diri-Nya dengan ciptaan-Nya. Ia hanya memberi kesan kepada kita bahwa Ia melakukan hal itu. Tetapi jika kita memahami atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dalam cara yang memperkecil kenyataan dari keterlibatan-Nya dengan ciptaan, berarti kita menyangkali inti dari iman yang Alkitabiah.

Apa yang lebih penting dalam Kitab Suci selain dari fakta bahwa Allah sepenuhnya dan sungguh-sungguh terlibat dengan ciptaan-Nya yang terbatas, temporal dan mudah berubah?

Apa yang lebih penting bagi kita semua daripada realitas bahwa Allah berinteraksi dengan kita?

Untuk menghindari kesalahpahaman yang serius ini kita harus selalu merenungkan lingkup sepenuhnya dari perspektif Biblika tentang atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Kita telah melihat bagaimana Kitab Suci menunjuk kepada transendensi ilahi. Sekarang mari kita melihat bagaimana Kitab Suci juga meneguhkan imanensi ilahi.

** Imanensi Ilahi **

Secara keseluruhan, “imanensi ilahi” mengacu pada kenyataan dari keterlibatan Allah dengan ciptaan-Nya. Sebenarnya, Alkitab jauh lebih banyak berbicara tentang keterlibatan Allah yang imanen di dalam dunia ketimbang tentang transendensi-Nya. Kita melihat hal ini dalam begitu banyak cara Kitab Suci mencatat manifestasi historis Allah.

Manifestasi historis adalah cara Allah melibatkan diri-Nya sendiri dengan perkembangan sejarah Biblika. Kitab Suci memberi kita banyak deskripsi tentang Allah, antara lain yang mengungkapkan berbagai nama dan gelar-Nya; menampilkan amat banyak metafora dan kiasan untuk Allah; dan mencatat sejumlah perbuatan-Nya. Dalam beberapa hal, Kitab Suci berfokus pada manifestasi historis Allah dalam rentang waktu yang pendek. Dalam hal-hal lain, Kitab Suci merefleksikan pengungkapan historis-Nya selama rentang waktu yang panjang. Kitab Suci mengisahkan aktifitas Allah di kediaman-Nya di surga dan di atas bumi. Kitab Suci menyingkapkan berbagai hal tentang interaksi-Nya dengan dunia spiritual dan dunia jasmani; dengan kelompok-kelompok besar umat dan dengan kepompok-kelompok kecil; dengan keluarga-keluarga dan bahkan dengan individu-individu.

Patut disayangkan bahwa ada orang-orang Kristen yang berniat baik namun salah menafsirkan penekanan Alkitab atas imanensi ilahi. Mereka memandang interaksi Allah dengan ciptaan-Nya sebagai penyangkalan terhadap transendensi ilahi-Nya. Beberapa dari pandangan-pandangan ini lebih ekstrem dari yang lain. Tetapi, dalam satu dan lain cara, mereka semua menekankan imanensi ilahi sedemikian rupa hingga mereka menolak atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Contohnya, mereka menyimpulkan bahwa Allah pastilah terbatas karena Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengutarakan kekesalan-Nya, dan tidak segera membasmi kejahatan. Bahkan beberapa Teolog mengatakan bahwa Allah tidak kekal karena Ia menunggu sebelum bertindak hingga setelah Ia menguji umat-Nya, Ia menawarkan keselamatan, dan Ia mengancam dengan penghakiman. Mereka juga menyimpulkan bahwa Allah dapat berubah karena Allah menjawab doa, mengurungkan niat-Nya, dan merevisi prinsip-prinsip panduan. Pandangan-pandangan seperti ini menyangkali realitas dari transendensi ilahi demi mendukung imanensi ilahi. Namun, menyangkali bahwa Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam cara ini juga sama dengan menyangkali iman yang Alkitabiah.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa keputusan Allah tidak akan gagal seandainya Allah terbatas dalam kuasa-Nya?

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Kristus telah menjamin keselamatan kekal kita seandainya Allah terpengaruh oleh waktu?

Bagaimana kita bisa menegaskan bahwa janji-janji Allah dapat dipercaya seandainya Allah dapat berubah?

Betapapun pentingnya menegaskan imanensi Allah — keterlibatan-Nya sepenuhnya dalam sejarah — kita juga harus menegaskan apa yang diajarkan Kitab Suci tentang atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Untuk memahami atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan, kita harus berpegang teguh pada lingkup yang sepenuhnya dari perspektif Biblika terkait transendensi Allah dan imanensi-Nya. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena kita segera akan mencapai batas kemampuan manusiawi kita untuk menembus misteri-misteri Allah. Sebagaimana halnya dengan banyak subjek sulit lainnya seperti Trinitas dan Dwi Natur Kristus, kita berhadapan dengan kebenaran-kebenaran tentang Allah yang ada di luar jangkauan kita. Tetapi Kitab Suci memanggil kita untuk memegang erat kedua hal ini, transendensi Allah dan imanensi-Nya. Kita mendukung realitas penuh dari kesempurnaan Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dan realitas penuh dari keterlibatan Allah dengan ciptaan-Nya.

Mazmur Daud meringkas pandangan Biblika ini sebagai berikut:

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya (Mazmur 115:3).

Perhatikan bagaimana ayat ini memandang transendensi Allah - kenyataan bahwa “Allah ada di surga” - sebagai dasar yang karenanya kita bisa yakin bahwa “Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya“ dalam ciptaan.

Meskipun terkesan misterius, Allah tidak terbatas, tetapi ini bukan berarti bahwa Ia tidak terlibat dengan yang terbatas. Dari sudut pandang Biblika, justru oleh karena Allah tidak terbatas maka Ia dapat sepenuhnya masuk ke alam yang terbatas kapan saja Ia menghendakinya.

Allah itu kekal, tetapi ini bukan berarti bahwa Ia ada di luar waktu. Sebaliknya, kekekalan-Nya adalah alasannya Ia dapat berpartisipasi di dalam waktu dengan cara apa pun yang dikehendaki-Nya.

Allah tidak berubah, tetapi ini bukan berarti bahwa Ia tidak hadir dalam alam perubahan. Justru oleh karena Allah tidak berubah dalam segala kesempurnaan-Nya maka Ia mengikutsertakan ciptaan-Nya yang berubah sebagaimana dikehendaki-Nya.

Dengan demikian, kita harus memegang teguh pengajaran Biblika sepenuhnya tentang transendensi Allah dan imanensi-Nya jika kita ingin meraih pengertian yang benar tentang atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan.

Para Teolog bukan hanya berbicara tentang transendensi Allah, betapa tinggi dan mulianya Dia, tetapi juga tentang imanensi Allah, kedekatan kehadiran-Nya. Allah terlibat secara akrab dalam apa yang terjadi di dunia dan Dia sangat dekat dengan kita. Dan kita melihat hal ini jelas sekali dalam Yesus Kristus dan dalam inkarnasi-Nya, di mana Anak Allah yang tidak kasatmata menjadi kasatmata dalam bentuk tubuh manusia dan benar-benar masuk dalam situasi manusia kita. Saya berpendapat kita juga melihat imanensi Allah dalam dekatnya kehadiran Allah Roh Kudus… Dan ini adalah salah satu misteri dari keberadaan dan karakter Allah. Ia transenden, jauh melampaui kita, namun sekaligus dekat pada kita dan akrab dengan kita. Ia juga imanen.

— Dr. Philip Ryken

** Integrasi **

Lazimnya para Teolog dan Akademisi Kristen membedakan antara atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dan yang dapat dikomunikasikan. Tetapi banyak orang mempertanyakan apakah pembedaan ini memang ada gunanya. Kitab Suci tidak memisahkan atribut-atribut ilahi ini dalam kelompok-kelompok. Bahkan, para penulis Alkitab menganggap semua atribut ilahi saling berkaitan dengan erat. Jadi, jika kita ingin tahu bagaimana Allah berbeda dari ciptaan-Nya, kita perlu melihat bahwa Ia berbeda dari kita dalam semua atribut-Nya. Dengan kata lain, Allah transenden, tidak ada bandingannya, bukan hanya dalam beberapa, tetapi dalam setiap aspek dari esensi ilahi-Nya.

** Dasar Biblika Tentang Simplisitas Allah **

Penyatuan atribut-atribut Allah ini sesuai dengan doktrin Kristen yang sudah ada sejak dahulu yaitu “simplisitas Allah.” Allah bukannya simple dalam arti bahwa Ia mudah dimengerti. Ketika para Teolog berbicara tentang simplisitas Allah, maksud mereka ialah bahwa esensi Allah bukan perpaduan dari berbagai hal; esensi Allah tidak terbagi. Seperti yang dinyatakan oleh Augsburg Confession, Allah itu “tanpa bagian-bagian”. Demikian juga Belgic Confession yang menyatakan, Allah adalah “satu Keberadaan rohani yang tunggal.”

Doktrin simplisitas telah diperdebatkan selama berabad-abad. Doktrin ini bukan berarti bahwa Allah tidak memiliki kepribadian, pergerakan, dinamisme, atau karakteristik. Simple bukan dalam arti bahwa Ia semacam keberadaan yang teoretis belaka tanpa atribut. Artinya, bila dapat dikatakan demikian, Ia adalah satu macam keberadaan. Ia tidak menambahkan apa pun di luar diri-Nya pada diri-Nya sendiri. Ia bukan susunan. Ia bukan terdiri dari bagian-bagian yang ditambahkan seperti yang disangka beberapa Teolog. Jadi, menurut Alkitab, Allah adalah roh. Definisi roh adalah keberadaan yang simple, bukan susunan, tidak kompleks, tidak politeistis. Dan sekali lagi, sebenarnya ini adalah doktrin yang sangat menguatkan bagi kita karena ini berarti bahwa Allah kita murni; Ia bukan campuran dari hal-hal yang ditambahkan ke dalam keberadaan-Nya atau yang disusun-Nya… Jadi, Ia bukannya simplistis atau tidak mempunyai minat atau rasa ingin tahu atau kepribadian atau kasih atau atribut-atribut. Keberadaan-Nya bukan penggabungan dari berbagai bagian. Ia adalah murni Roh.

— Dr. William Edgar

Di zaman Gereja mula-mula dan Abad Pertengahan, pengaruh filsafat Yunani pada Teolog -Teolog Kristen yang terkemuka menyebabkan orang mudah menerima doktrin dari simplisitas Allah. Pandangan Yunani tentang Allah menekankan kesatuan Allah yang mutlak. Dan latar belakang ini membuat para penafsir Biblika sangat memperhatikan tema ini dalam Kitab Suci. Tetapi di masa yang kemudian, ketika pengaruh Yunani sudah memudar, sejumlah Teolog terkemuka meragukan bahwa Kitab Suci mengajarkan simplisitas atau kesatuan dari esensi Allah. Jadi, penting untuk menunjukkan dasar Biblika dari doktrin ini. Kata-kata Musa yang sangat dikenal dalam Ulangan 6:4 sering kali dipergunakan untuk mendukung kepercayaan dalam simplisitas Allah.

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4).

Penerjemah-penerjemah modern menawarkan beberapa terjemahan alternatif: “Tuhan Allah kita itu satu Tuhan”; “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu”; atau “Tuhan itu Allah kita, hanya Tuhan saja.”

Orang-orang yang tidak melihat simplisitas Allah dalam ayat ini mengatakan bahwa ayat ini menyerukan bangsa Israel untuk menyembah Tuhan saja, bukan allah lain. Namun, terjemahan tradisional “Tuhan itu esa” menyiratkan kesatuan dari Allah sendiri. Meskipun tatabahasa Ibrani mendukung kedua kemungkinan ini, ada alasan kuat untuk beranggapan bahwa yang dimaksud Musa adalah yang terakhir ini.

Dalam kitab Ulangan, Musa menyerukan agar bangsa Israel setia kepada Allah dan berpaling dari semua allah lain. Kita tahu bahwa ada kalanya bangsa Israel tergoda untuk murtad dengan menolak Tuhan sepenuhnya dan menyembah allah-allah bangsa-bangsa lain. Namun yang lebih sering terjadi, bangsa Israel jatuh ke dalam sinkretisme dan menggabungkan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik dari bangsa-bangsa lain dan agama-agama lain dengan kepercayaan mereka sendiri. Bangsa-bangsa lain ini merujuk kepada allah-allah mereka, seperti Baal, Asytoret dan allah-allah lain, dalam bentuk jamak karena mereka percaya bahwa allah-allah ini terbagi-bagi di berbagai tempat. Mereka mengakui allah-allah ini dengan satu cara di satu tempat dan dengan cara lain di tempat lain.

Sebaliknya, Musa berulang kali mengajar bangsa Israel bahwa Allah harus disembah hanya di satu tempat yang ditetapkan Allah. Berbeda dengan allah-allah bangsa-bangsa lain, Allah tidak dapat dibagi-bagi dalam bagian-bagian di antara satu tempat dan tempat lain karena “Tuhan itu esa.” Jadi dalam arti ini, Ulangan 6:4 meletakkan dasar untuk doktrin Kristen dari simplisitas Allah, kenyataan bahwa Allah tidak terbagi dalam bagian-bagian. Dalam terjemahan yang harfiah dari Yakobus 2:19, Yakobus meneguhkan pengertian dari Ulangan 6:4 dengan mengatakan:

Engkau percaya, bahwa Allah itu satu; itu baik (Yakobus 2:19, ESV).

Yakobus tidak menulis, “Engkau percaya, bahwa ada satu Allah saja,” seperti yang dikatakan dalam beberapa terjemahan. Ia menulis secara harfiah, “Engkau percaya, bahwa Allah itu satu.” Dengan cara ini, Yakobus meneguhkan bahwa Ulangan 6:4 mengajarkan keesaan, kesatuan, simplisitas dari Allah.

Doktrin Biblika dari simplisitas ilahi besar implikasinya bagi Teologia proper. Tetapi seperti kita lihat di sini, doktrin ini meneguhkan dasar Biblika untuk menyelidiki integrasi dari atribut-atribut Allah. Kesempurnaan-kesempurnaan Allah bukan bagian-bagian Allah yang berbeda. Semua kesempurnaan ini adalah karakteristik yang saling berkaitan dan sepenuhnya menyatu, dari esensi-Nya yang satu.

Sambil mengingat dasar Biblika untuk integrasi dari atribut-atribut Allah ini, kita akan melanjutkan dengan topik yang kedua: keanekaragaman Teologis dalam cara-cara pendekatan kalangan Injili untuk mengintegrasikan kesempurnaan-kesempurnaan Allah yang dapat dan yang tidak dapat dikomunikasikan.

** Note **

Teologi proper adalah studi tentang Allah dan sifat-sifat-Nya. Teologi proper berfokus pada Allah Bapa. Paterologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti 'bapa' dan 'perkataan' -- yang digabung sehingga berarti 'studi tentang Sang Bapa'. Teologi proper menjawab beberapa pertanyaan penting tentang Allah:

Apakah Allah benar-benar ada?

Apa saja sifat-sifat Allah?

Apa yang Alkitab ajarkan tentang Trinitas?

Apakah Allah itu berdaulat, atau apakah kita memiliki kehendak bebas?

Teologi proper mendiskusikan tentang kemahahadiran, kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kekekalan Allah. Ia mengajar kita tentang siapa Allah dan apa yang Dia lakukan. Paterologi berfokus pada bagaimana Allah Bapa berbeda dari Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Hanya dengan mengenal siapa Allah dan apa yang Dia lakukan itulah kita dapat terhubung dengan Dia secara tepat. Banyak orang memiliki persepsi yang tidak alkitabiah tentang Allah yang memengaruhi bagaimana mereka memahami Dia. Beberapa orang melihat Allah sebagai sesosok tiran yang brutal, tanpa kasih ataupun karunia. Beberapa yang lain melihat Allah sebagai teman yang penuh kasih, tanpa memiliki keadilan ataupun amarah. Kedua persepsi ini sama-sama tidak benar. Allah itu penuh belas kasihan, kasih, dan karunia -- dan pada saat yang bersamaan juga benar, kudus, dan adil. Allah memberikan belas kasihan dan mengirimkan hukuman. Allah menghukum dosa dan mengampuni dosa. Allah akan memberikan jalan masuk kepada orang percaya menuju surga dan kepada orang yang tidak percaya menuju neraka. Teologi proper memberi kita pemahaman yang lebih lengkap tentang siapa Allah dan apa yang Dia lakukan.

Roma 11:33 merupakan ayat ringkasan yang baik untuk menjelaskan teologi proper dan paterologi: "Oh, alangkah dalamnya kekayaan dan kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Betapa tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan tidak terduga jalan-jalan-Nya!"

** Keanekaragaman Teologis **

Telah dibahas sebelumnya bahwa meskipun kalangan Injili dari Gereja Protestan Arus Utama mempergunakan beragam istilah untuk menyimpulkan atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan, meskipun tetap ada kesatuan dalam banyak hal.

Augsburg Confession menuliskan tentang Allah sebagai Pribadi yang “Kekal, tanpa tubuh, tanpa bagian-bagian, memiliki kuasa, hikmat, dan kebaikan yang tak terbatas.

Telah kita bahas sebelumnya bahwa istilah-istilah kekal, tanpa tubuh, tanpa bagian-bagian dan tak terbatas sering kali diasosiasikan dengan atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan karena Ia berbeda dari ciptaan-Nya dalam hal-hal ini. Ketiga istilah yang berikutnya, kuasa, hikmat, dan kebaikan, biasanya diidentifikasi sebagai atribut-atribut yang dapat dikomunikasikan karena kita dapat berbagi ciri-ciri ini dengan Allah sebatas skala makhluk yang fana.

Tetapi perhatikanlah bahwa Pengakuan ini tidak menganggap kelompok-kelompok ini sebagai kelompok yang terpisah sepenuhnya satu dengan lain. Pengakuan ini bukan hanya berbicara mengenai kuasa, hikmat dan kebaikan Allah, tetapi menambahkan kata sifat “tak terbatas” — atau immensus dalam bahasa Latin. Tatabahasa dari teks bahasa Latin ini mengindikasikan bahwa Allah tidak terbatas dalam kuasa-Nya, tidak terbatas dalam hikmat-Nya, dan tidak terbatas dalam kebaikan-Nya.

Maksudnya, Augsburg Confession memandang melalui ketidakterbatasan Allah, melalui fakta bahwa Ia tidak terhingga, dan memandang kuasa, hikmat dan kebaikan-Nya di dalam terang dari ketidakterbatasan-Nya. Dan dengan melakukan hal itu, Pengakuan ini mengakui bahwa atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan tentang ketidakterbatasan harus diintegrasikan sepenuhnya dengan atribut-atribut-Nya yang dapat dikomunikasikan.

Kita dapat melihat keanekaragaman Teologis dalam pendekatan pada atribut-atribut Allah dengan membandingkan apa yang baru saja kita lihat dalam Augsburg Confession dengan Belgic Confession.

Belgic Confession mengatakan bahwa Allah itu: “Kekal, tidak dapat dipahami, tidak kasatmata, tidak berubah, tidak terbatas, mahakuasa, bijaksana, adil, [dan] baik.”

Sering kali istilah-istilah kekal, tidak dapat dipahami, tidak kasatmata, tidak berubah dan tidak terbatas, diklasifikasikan sebagai atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Dan keempat istilah berikutnya lazimnya diasosiasikan dengan atribut-atribut Allah yang dapat dikomunikasikan. Tetapi perhatikanlah bahwa keempat atribut terahkir ini tidak hanya ditulis sebagai “mahakuasa, bijaksana, adil dan baik.” Meskipun terjemahan baku Bahasa Inggris tidak menunjukkan hal ini dengan jelas, bahasa aslinya yaitu Bahasa Perancis di sini mempergunakan istilah-istilah “tout puissant,” yang berarti “berkuasa sepenuhnya atau berkuasa mutlak,” dan “tout sage,” yang berarti “sepenuhnya bijaksana.” Selain itu, kata sifat “tout” dapat diperluas penerapannya pada “adil” dan “baik,” sehingga dapat diterjemahkan menjadi “sepenuhnya adil” dan “sepenuhnya baik.”

Sama halnya dengan Augsburg Confession, Belgic Confession memandang melalui fakta bahwa Allah tidak terbatas dan memandang kuasa-Nya, hikmat, keadilan dan kebaikan-Nya dalam terang dari ketidakterbatasan-Nya. Meskipun Belgic Confession tidak mempergunakan kata-kata yang persis sama atau pembagian yang sama seperti Augsburg Confession, kita dapat melihat kemiripan keduanya.

Pertanyaan 4 dari Westminster Shorter Catechism dimulai dengan pernyataan bahwa: “Allah adalah Roh.” Kemudian disebutkan tiga atribut yang tidak dapat dikomunikasikan dari Allah sebagai Roh yang “tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.”

Tetapi supaya kita tidak memandang kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak dapat dikomunikasikan ini secara terpisah, Westminster menjelaskan bahwa ketiga hal tentang Allah ini benar: “dalam keberadaan-Nya, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan dan kebenaran-Nya.”

Strategi Westminster Catechism untuk mengintegrasikan atribut-atribut Allah memberikan banyak keuntungan. Pertama, di sini digunakan tiga kategori besar untuk merangkum atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Bagaimana Allah berbeda dari ciptaan-Nya? Ia “tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.” Kemudian Katekismus menjawab pertanyaan bagaimana Allah itu tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dengan memandang melalui ketiga jendela ini, atau atribut-atribut, kepada atribut-atribut-Nya yang dapat dikomunikasikan. Allah tidak terbatas “dalam keberadaan-Nya, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan dan kebenaran-Nya.” Allah kekal “dalam keberadaan-Nya, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan dan kebenaran-Nya.” Allah tidak berubah “dalam keberadaan-Nya, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan, kebaikan dan kebenaran-Nya.” Dengan demikian, Westminster Shorter Catechism memberikan cara yang sistematik untuk menyelidiki integrasi sepenuhnya dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dengan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya yang dapat dikomunikasikan.

** Perspektif Biblika Tentang Atribut Allah **

Kitab Suci telah menunjukkan kepada kita dengan begitu banyak cara sehingga kita hanya dapat mengamati beberapa dari perspektif Biblika tentang ini. Namun inti persoalannya ialah: Apabila kita merenungkan sepenuhnya apa yang diajarkan Alkitab, akan semakin jelas bahwa semua atribut Allah, bukan hanya beberapa, tidak dapat dikomunikasikan. Westminster Shorter Catechism menyusun hal ini secara sistematik dengan menyatakan bahwa Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam setiap atribut yang dapat dikomunikasikan yang dikenalinya.

Untuk melihat luasnya perspektif Biblika tentang integrasi atribut-atribut Allah, kita akan membahas tujuh atribut yang dapat dikomunikasikan yang tertulis dalam Katekismus, dimulai dengan keberadaan atau eksistensi Allah.

Keberadaan

Dalam banyak hal, keberadaan atau eksistensi Allah adalah atribut yang dapat dikomunikasikan, atau dibagikan dengan ciptaan Allah. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, termasuk manusia, benar-benar ada. Namun kita gagal memahami kemuliaan dari eksistensi Allah jika kita tidak mengakui adanya perbedaan fundamental di antara keberadaan Allah dan keberadaan diri kita. Keberadaan kita terbatas, temporal dan dapat berubah, sedangkan keberadaan Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Di dalam Teologia Sistematika, perbedaan di antara keberadaan Allah dan ciptaan-Nya sering kali ditekankan dalam dua hal utama. Para Teolog dan Akademisi Sistematika merujuk kepada “kebesaran” Allah dan “kemahahadiran-Nya.”

Di satu sisi, kebesaran Allah adalah eksistensi-Nya yang tak terbatas, kekal dan tidak berubah, melampaui segenap ciptaan. Dalam 1 Raja-raja 8:27, ketika Salomo menahbiskan Bait Suci, ia menegaskan sebuah pernyataan Teologis yang besar, yang mendasari segala sesuatu dalam Kitab Suci. Ia mengatakan, “Sesungguhnya … langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat [Allah].” Allah berbeda dari ciptaan-Nya karena eksistensi-Nya sama sekali tidak terbatas pada alam dari ciptaan-Nya. Ia sudah ada sebelum ada ciptaan, Ia ada sekarang dengan tidak terbatas, dan Ia akan terus ada melampaui semua ciptaan untuk selama-lamanya.

Di sisi lain, kemahahadiran Allah dapat didefinisikan sebagai eksistensi-Nya di mana-mana di dalam ciptaan. Para Teolog dan Akademisi Sistematika menegaskan bahwa keberadaan Allah ada di semua tempat, berbeda dengan ciri yang mana pun dari ciptaan yang terbatas, tergantung waktu, dan dapat berubah. Allah berfirman dalam Yeremia 23:24, “Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi?” Kepercayaan pada kemahahadiran Allah begitu mendasar bagi iman yang sesuai dengan Alkitab sehingga dalam Kisah Para Rasul 17:28 Paulus sependapat dengan pujangga-pujangga Yunani bahwa “Di dalam [Allah] kita hidup, kita bergerak, kita ada.” Sejumlah ayat lain, misalnya Mazmur 139:7-10; Yesaya 66:1; dan Kisah 7:48-49, juga menyinggung kemahahadiran Allah.

Satu ayat klasik yang menjadi dasar dari doktrin kemahahadiran Allah adalah Kisah Para Rasul 17:24-28 di mana Paulus berbicara di Atena dan terheran-heran karena Allah sanggup menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi yang menyembah berhala ini. Jadi, sebagian dari penjelasannya adalah bahwa Allah bukan hanya Allah orang Yahudi; Allah adalah Allah bagi semua orang di mana-mana, di seluruh bumi. Kemudian pembicaraannya seakan-akan mencakup seluruh alam semesta, seluruh kosmos. Dan ia mengutarakan pernyataan ini tentang Allah: Allah tidak pernah jauh dari kita masing-masing, baik penyembah berhala maupun orang percaya Yahudi… Sesungguhnya, Dialah Allah yang di dalamnya kita hidup, kita bergerak dan kita ada. Artinya, Dia ada di mana-mana… Ayat lain yang berpadu dan menyatu dengan Kisah 17:24-28 adalah Yeremia 23:23-24 di mana ditekankan bahwa Anda tidak dapat melarikan diri dari Allah. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Anda dapat berlari tetapi tidak dapat bersembunyi. Dan Yeremia mengatakan bahwa hal itu dikarenakan Allah memenuhi segenap bumi.

— Dr. R. Todd Mangum

Hikmat

Selain dari keberadaan Allah, Shorter Catechism juga menegaskan bahwa hikmat Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Dalam banyak hal, hikmat adalah salah satu atribut Allah yang dapat dikomunikasikan, di dalamnya makhluk-makhluk Allah yang rasional mendapat bagian. Namun seberapa pun besarnya hikmat yang kita miliki, Kitab Suci dan wahyu umum menunjukkan dengan jelas bahwa hikmat kita terbatas, temporal dan dapat berubah. Jadi, salah satu segi di mana Allah berbeda dari ciptaan-Nya adalah karena hikmat-Nya tak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Para Teolog dan Akademisi Sistematika Tradisional lazimnya menekankan dimensi yang tidak dapat dikomunikasikan dari hikmat Allah dengan mengacu kepada kemahatahuan Allah dan kemisteriusan-Nya yang tidak dapat dipahami.

Kemahatahuan Allah adalah kenyataan bahwa Allah memiliki pengetahuan dari segala sesuatu. Ayub 37:16 menyebut tentang “Yang Mahatahu.” Ibrani 4:13 mengatakan “tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya.” Dan Mazmur 33:15 mengatakan “[Allah] memperhatikan” — atau mengerti — “segala pekerjaan [manusia].” Banyak ayat lain yang mengilustrasikan kemahatahuan Allah dengan menunjukkan hal-hal yang diketahui Allah yang tidak kita ketahui. Sebagai contoh, dalam Yeremia 23:24, Allah bertanya, “Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia?”

Ciri-ciri hikmat Allah yang tidak dapat dikomunikasikan juga ditekankan dalam doktrin tentang kenyataan bahwa Allah tidak dapat dipahami. Istilah ini bukan menyiratkan bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu pun tentang pikiran Allah. Sebaliknya, kita mengetahui bagian-bagian dari pemikiran-Nya yang dinyatakan-Nya kepada kita. Tetapi hikmat Allah tidak dapat dikomunikasikan dalam arti bahwa pemikiran Allah tidak dapat kita ketahui sepenuhnya. Seperti dikatakan Paulus dalam Roma 11:33, keputusan-keputusan dan jalan-jalan Allah “tak terselidiki … dan tak terselami.” Ayub 11:7 mengatakan bahwa kita tidak dapat “memahami hakekat Allah.” Mazmur 139:6 menyatakan, “pengetahuan [Allah] … terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” Ayat-ayat yang serupa seperti 1 Samuel 16:7; 1 Tawarikh 28:9; Mazmur 139:1-4; and Yeremia 17:10 juga mengindikasikan bahwa salah satu hal di mana Allah berbeda dari ciptaan-Nya ialah hikmat-Nya yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Hikmat Allah adalah pemikiran-pemikiran transenden, pemikiran yang dimiliki Allah, yang ada di dalam Allah, yang ingin dibagikan-Nya dengan kita. Dan sebenarnya, apabila kita berpikir dalam kaitan dengan transenden, itulah macam kehidupan yang Ia ingin kita jalankan. Namun ini terlalu jauh di atas kita. Hanya oleh anugerah Allah kita mendapat kesempatan untuk mencapai taraf kehidupan seperti itu… Kita memerlukan pemikiran-pemikiran Allah yang transenden ini, dan kemudian, tentu saja kita perlu Roh Kudus-Nya untuk berdiam di dalam kita supaya kita hidup dengan cara itu, berpikir dengan cara itu, dan kemudian mengomunikasikan kepada orang-orang lain, “inilah jalan hikmat.”

— Dr. Matt Friedeman

Kuasa

Yang ketiga, Allah bukan hanya tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam keberadaan dan hikmat-Nya, tetapi juga dalam kuasa-Nya.

Kitab Suci maupun wahyu umum mengindikasikan bahwa dalam banyak hal, kuasa Allah merupakan atribut yang dapat dikomunikasikan karena kuasa adalah kualitas yang dibagikan pada ciptaan. Namun kuasa yang terbesar pun dalam ciptaan tetaplah terbatas, temporal dan dapat berubah. Jadi, Kitab Suci mengajarkan dengan jelas bahwa kuasa Allah tidak dapat dikomunikasikan. Kontras di antara kuasa Allah dan kuasa ciptaan ini sering kali diekspresikan dalam Teolog ia sistematika dalam istilah-istilah “kemahakuasaan” Allah dan “kedaulatan” Allah.

Di satu sisi, ketika kita berbicara tentang kemahakuasaan Allah, kita maksudkan kuasa Allah tak terbatas. Contohnya, dalam Ayub 42:2, Ayub menyatakan, “Engkau sanggup melakukan segala sesuatu.” Mazmur 115:3 mengatakan bahwa “[Allah] melakukan apa yang dikehendaki-Nya!” Yeremia 32:17 memuji Allah dengan mengatakan “Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!” Dan dalam Matius 19:26 Yesus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa “bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Nah, jangan kita lupa menambahkan satu kualifikasi yang penting di sini: kuasa Allah selalu sesuai dengan atribut-atribut-Nya yang lain. Ia tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kesempurnaan yang lain dari esensi-Nya. Misalnya, Kitab Suci menyatakan secara eksplisit beberapa hal yang tidak dapat dilakukan Allah. Dalam ayat-ayat seperti Bilangan 23:19; 1 Samuel 15:29; 2 Timotius 2:13; Ibrani 6:18; dan Yakobus 1:13, 17, kita belajar bahwa Allah tidak dapat berdusta, berdosa, berubah, ataupun menyangkali diri-Nya sendiri. Jika kita selalu mengingat kualifikasi ini, kita yakin bahwa Allah mahakuasa, dalam arti bahwa kuasa-Nya tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Ayat-ayat dalam Alkitab yang tampaknya mengindikasikan bahwa ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukan Allah, sebenarnya tidak berbicara tentang makna sejati dari kemahakuasaan Allah… Ia hanya bisa melakukan hal yang konsisten dengan natur-Nya. Berdusta sama sekali tidak konsisten dengan natur ilahi-Nya. Jadi ada beberapa hal yang Allah tidak dapat lakukan, tetapi ini sepenuhnya sesuai dengan alam dari natur-Nya.

— Rev. Clete Hux

Di sisi lain, para Teolog dan Akademisi Sistematika menunjuk kepada ciri-ciri kuasa Allah yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah, sebagai “kedaulatan Allah.” Dengan kata lain, kedaulatan Allah adalah penguasaan-Nya yang mutlak atas ciptaan.

Beberapa aliran Gereja saling berbeda pendapat terkait bagaimana tepatnya Allah menerapkan penguasaan-Nya yang mutlak atas ciptaan, namun Kitab Suci mengajar bahwa Allah memiliki kuasa yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah untuk mengendalikan segala sesuatu. Raja Yosafat menyatakan dalam 2 Tawarikh 20:6, “Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.” Atau seperti dikatakan Ayub dalam 42:2, “tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Dalam Daniel 4:35, bahkan Raja Nebukadnezar pun mengakui bahwa Allah “berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi.” Menurut Efesus 1:11, kedaulatan Allah begitu luas sehingga Ia “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Dan Roma 8:28 meyakinkan kita akan kedaulatan Allah, juga di waktu pencobaan-pencobaan yang berat karena “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Ayat-ayat ini dan tak terhitung banyaknya ayat-ayat lain, dengan jelas mengindikasikan bahwa kedaulatan Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Kekudusan

Selain membahas keberadaan Allah, hikmat dan kuasa-Nya, Westminster Shorter Catechism juga menekankan bahwa Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam kekudusan-Nya.

Dalam banyak hal, kekudusan merupakan atribut Allah yang dapat dikomunikasikan karena dibagikan pada beberapa aspek dari ciptaan. Kitab Suci sering kali merujuk pada lokasi, objek-objek, roh-roh dan manusia yang dikatakan kudus. Dan kata-kata sifat Biblika yang biasanya kita terjemahkan “kudus,” “suci” atau “dikuduskan” — qadosh (קָדוֹשׁ) dalam bahasa Ibrani, dan hagios (ἅγιος) dalam bahasa Yunani — berarti “terpisah” atau “dipisahkan.” Tetapi baik wahyu umum maupun Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa kekudusan makhluk fana itu terbatas, temporal dan dapat berubah, sedangkan kekudusan Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Para Teolog dan Akademisi sering kali melakukan pendekatan pada ciri-ciri kekudusan Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dengan memerhatikan kekudusan moral Allah. Mereka juga menyoroti apa yang bisa disebut keagungan kekudusan-Nya.

Di satu sisi, kekudusan moral Allah mengacu pada kenyataan bahwa Ia terpisah dari segala kejahatan. Mazmur 92:16 berbunyi, “tidak ada kecurangan pada-Nya.” Dan Habakuk 1:12-13 mengatakan, “Yang MahakudusMata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.” Kemurnian moral Allah begitu mendasar bagi iman Kristiani yang Alkitabiah sehingga Yakobus menulis dengan tegas dalam Yakobus 1:13, “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Di sisi lain, Kitab Suci juga menunjuk kepada apa yang disebut keagungan kekudusan Allah. Istilah ini mengindikasikan bahwa Allah terpisah dari semua ciptaan, termasuk makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang murni secara moral.

Perbedaan antara kekudusan moral Allah dan kekudusan ontologis [keberadaan] atau keagungan kekudusan-Nya, dapat dikatakan berasal dari gagasan lama yaitu arti kata “kudus,” dan ini pada dasarnya berarti, “dipisahkan dari.” Dan ada dua hal yang darinya Allah dipisahkan. Yang pertama, Ia dipisahkan dari orang-orang berdosa. Ia murni; Ia tidak pernah berdosa; Ia benar sepenuhnya, dan karena itu Ia terpisah dari orang-orang berdosa dalam hal itu — sempurna secara moral, murni, kudus, dalam arti itu. Tetapi ada hal kedua di mana Allah juga kudus, yaitu, Ia lebih tinggi dari kita; Ia berbeda dari kita; Ia mempunyai natur dan status ontologis yang berbeda — keberadaaan yang lebih tinggi — dan dalam hal itu Ia juga kudus. Jalan-jalan-Nya dan rancangan-rancangan-Nya jauh lebih tinggi dari jalan-jalan dan rancangan-rancangan kita. Jadi, Allah itu kudus, artinya, dipisahkan, dalam keberadaan-Nya dan dalam kebenaran karakter-Nya.

Rev. Dan Hendley

Keagungan kekudusan Allah diilustrasikan dengan sangat jelas dalam Yesaya 6:3 di mana para serafim berseru:

Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam (Yesaya 6:3).

Dalam ayat ini, serafim, makhluk-makhluk yang murni moralnya yang melayani di hadapan takhta Allah, mengakui dengan tiga kali seruan kudus bahwa Allah harus disembah karena kekudusan-Nya yang tertinggi dan mutlak. Ekspresi-ekspresi serupa tentang keagungan kekudusan Allah didapati dalam ayat-ayat seperti Keluaran 15:11; 1 Samuel 2:2; Yesaya 57:15; and Hosea 11:9.

Keadilan

Allah bukan hanya tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam keberadaan, hikmat, kuasa dan kekudusan-Nya, tetapi kualitas yang tidak dapat dikomunikasikan ini juga merupakan ciri-ciri keadilan-Nya.

Dalam banyak hal, baik wahyu umum maupun khusus mengindikasikan bahwa keadilan adalah atribut yang dapat dikomunikasikan karena makhluk moral, khususnya manusia, juga bisa adil dan benar. Konsep keadilan Allah sering kali diekspresikan oleh istilah-istilah bahasa Ibrani yang berkaitan dengan kata tsaddiq (צַדִּיק), dan dengan istilah-istilah bahasa Yunani yang berkaitan dengan istilah dikaiosuné (δικαιοσύνη). Lazimnya istilah-istilah ini diterjemahkan sebagai “kebenaran” atau “keadilan.” Tetapi kebenaran dan keadilan manusia terbatas, temporal dan dapat berubah, sedangkan kebenaran atau keadilan Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Atribut keadilan Allah ini dalam Kitab Suci paling sering diasosiasikan dengan penghakiman di pengadilan surgawi. Dikatakan dalam 1 Petrus 1:17 bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang “tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya.” Menurut Roma 2:5-6, dalam “hukuman Allah yang adil … Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dan karena penghakiman Allah selalu benar, dalam Roma 9:14, Paulus bertanya, “Apakah Allah tidak adil?” dan jawabannya tegas, “Mustahil!” Musa mengatakan dalam Ulangan 32:4, “Segala jalan-Nya adil … adil dan benar Dia.” Jadi, tidak heran jika dalam Yohanes 17:25, Yesus menyebut Bapa surgawi-Nya, “Bapa yang adil” — atau “benar.”

Para Teolog dan Akademisi Sistimatika menyorot keadilan Allah dengan berfokus pada dua bidang utama: pahala Allah yang adil dan hukuman-Nya yang adil.

Di satu sisi, natur Allah adalah mengaruniakan pahala yang sepatutnya untuk kebenaran. Mazmur 58:12 berbunyi, “ada pahala bagi orang benar … [karena] … ada Allah yang memberi keadilan di bumi.” Dan Paulus merujuk kepada kebenaran yang diterima setiap orang yang dibenarkan di dalam Kristus ketika ia berbicara dalam 2 Timotius 4:8 tentang “mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil … kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Ada kalanya seolah-olah tidak ada pahala untuk kebenaran. Tetapi kita boleh yakin akan pahala Allah yang adil sebab Allah tetap tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam keadilan-Nya.

Di sisi lain, natur Allah adalah menjatuhkan hukuman yang setimpal atas kejahatan. Dalam 2 Tesalonika 1:6-8, Paulus menegaskan bahwa “Allah itu adil … Ia akan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita” [NIV]. Dan dalam Kisah Para Rasul 17:31 Paulus menganjurkan pertobatan karena “[Allah] telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya.” Sesungguhnya, penghukuman Allah yang adil atas dosa adalah tiang utama dari iman yang alkitabiah. Paulus menjelaskan dalam Roma 3:26 bahwa Allah itu “benar dan juga membenarkan” karena penebusan dosa yang dilakukan Kristus telah memenuhi tuntutan keadilan bagi semua orang yang percaya. Ayat-ayat ini dan banyak ayat lain menunjukkan bahwa keadilan Allah yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah, diwujudkan dalam penghukuman-Nya yang adil.

Kebaikan

Setelah berbicara tentang keberadaan Allah, hikmat, kuasa, kekudusan dan keadilan-Nya, Shorter Catechism merujuk kepada kebaikan Allah.

Dalam banyak hal, kebaikan merupakan atribut yang dapat dikomunikasikan karena Kitab Suci sering kali mengatakan bahwa ciptaan itu baik. Dalam Kejadian 1:31, Allah melihat pada ciptaan-Nya dan berkata bahwa itu “sungguh amat baik.” Dan Paulus meneguhkan pernyataan ilahi ini dalam 1 Timotius 4:4. Dalam istilah umum, tov (טוֹב) dalam bahasa Ibrani dan agathos (ἀγαθός) dalam bahasa Yunani, mengindikasikan persetujuan dari seseorang atau sesuatu. Jadi, banyak aspek dari ciptaan dapat dideskripsikan sebagai “baik.” Namun tentu saja, kebaikan ciptaan ini terbatas, temporal dan dapat berubah. Sebaliknya, kebaikan Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah.

Ketika Kitab Suci mengatakan Allah itu “baik,” maksudnya Ia layak dipuji secara tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Perlu kita tambahkan bahwa tidak ada takaran kebaikan yang harus dipenuhi oleh Allah di luar diri-Nya sendiri. Allah sendiri adalah definisi dari kebaikan. Sebagaimana dikatakan dalam artikel pertama dari Belgic Confession, Allah itu “baik, dan sumber segala kebaikan yang melimpah.”

Dalam Teologia sistematika, kebaikan Allah terkait erat dengan beberapa pengajaran Biblika yang akrab di telinga kita. Untuk memudahkan kita akan memandangnya dalam dua kategori utama: kebaikan Allah secara langsung dan kebaikan Allah secara tidak langsung.

Di satu sisi, apabila kita berbicara tentang kebaikan Allah secara langsung, yang ada dalam benak kita adalah kebaikan Allah yang ditunjukkan dalam hal-hal seperti perbuatan baik Allah, kemurahan-Nya, kasih dan kesabaran-Nya terhadap makhluk ciptaan-Nya. Contohnya, Mazmur 34:9 berbicara tentang perbuatan baik Allah sebagai bukti dari kebaikan-Nya dengan mengatakan, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” Kebaikan Allah diasosiasikan dengan rahmat dan belas kasihan-Nya dalam Keluaran 33:19 di mana Allah berfirman kepada Musa, “Aku akan melewatkan segenap kebaikan-Ku di depanmu … Aku akan memberi rahmat kepada siapa yang Kuberi rahmat dan mengasihani siapa yang Kukasihani” [NIV]. Mazmur 25:7 berbicara tentang kasih Allah yang melimpah dari kebaikan-Nya sebagai berikut, “ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.”

Ayat-ayat lain seperti Mazmur 23:6; Mazmur 73:1; Mazmur 145:9, 15-16; dan Markus 10:18 juga menunjuk kepada berbagai macam kebaikan Allah. Tetapi perwujudan yang paling langsung dari kebaikan Allah yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah, adalah kasih-Nya yang kekal bagi Kristus dan bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Paulus mengatakan:

Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya (Efesus 1:4-6).

Konteks yang lebih luas dari ayat ini menunjukkan bahwa pengangkatan kita sebagai anak dilakukan dalam kasih, kasih Allah bagi kita sejak sebelum dunia dijadikan. Dan kasih kekal Allah bagi umat-Nya ini adalah di dalam Kristus, di dalam Dia yang dikasihi-Nya. Kasih Allah bagi mereka yang ada di dalam Kristus berakar dalam kasih Bapa yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah bagi Anak-Nya.

Alkitab banyak menceritakan tentang kasih Allah bagi kita. Allah mengasihi kita dalam banyak cara, dan Ia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dalam banyak cara. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa perwujudan kasih Allah yang terbesar dan pasti kepada kita ditunjukkan-Nya dengan cara mengutus Anak-Nya yang tunggal kepada kita. Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Jadi kasih Allah diperlihatkan paling jelas ketika Ia memberikan Anak-Nya kepada dunia untuk menyelamatkan dunia. Tetapi jangan kita berhenti di sini karena kasih Allah diperlihatkan dalam apa yang Dia perintahkan untuk dilakukan Anak-Nya bagi kita. Anak-Nya datang untuk menjadi korban bagi dosa-dosa kita. Sebenarnya, bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita… Jadi hal ini sangat membesarkan hati kita. Bahkan, Paulus melanjutkan tema ini dalam Roma 8 dan memberi semangat pada kita dengan kata-kata ini, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Jadi, Allah dengan cara yang tertinggi dan terbesar telah menunjukkan kepada kita betapa Dia mengasihi kita dengan memberikan Anak-Nya. Karena itu kita harus percaya kepada-Nya dan yakin bahwa Ia benar-benar mengasihi kita.

— Dr. Brandon D. Crowe

Di sisi yang lain, Kitab Suci juga menunjuk kepada ciri-ciri kebaikan Allah yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dengan berfokus pada kebaikan Allah yang tidak langsung. Yang kita maksudkan di sini adalah keyakinan bahwa Allah akan membawa kebaikan meskipun melalui kesukaran-kesukaran dan pencobaan-pencobaan yang mendera ciptaan-Nya untuk sementara waktu. Salah satu tantangan terbesar dari kepercayaan dalam kebaikan Allah adalah hadirnya kejahatan dalam ciptaan-Nya. Tetapi para penulis Alkitab menegaskan bahwa kesempurnaan dari kebaikan Allah akan menghasilkan kebaikan dari kejahatan. Contohnya, Yakobus 1:17 mengatakan pada kita bahwa pencobaan yang berat itu adalah demi kebaikan kita karena, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang.” Dan Paulus meyakinkan orang-orang Kristen di Roma dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Kebenaran

Setelah membicarakan perspektif Biblika terkait keberadaan Allah, hikmat, kuasa, kekudusan, keadilan dan kebaikan-Nya, kini kita sampai pada kebenaran Allah. Ini adalah yang terakhir dari atribut-atribut Allah yang dapat dikomunikasikan yang disebutkan dalam Westminster Shorter Catechism.

Alkitab maupun wahyu umum menunjukkan dengan jelas bahwa dalam banyak hal, kebenaran merupakan atribut yang dapat dikomunikasikan. Makhluk-makhluk ciptaan Allah yang berakal budi dan berakhlak baik juga bisa berbuat benar, jujur, dapat diandalkan dan setia. Konsep dari kebenaran Allah berasal dari istilah-istilah bahasa Ibrani yang berkaitan dengan kata kerja aman (אָמַן), yang sering kali diterjemahkan “sudah pasti,” “diteguhkan” atau “benar,” dan dari istilah yang terkenal chesed (חֶסֶד) yang sering kali diterjemahkan “kesetiaan” atau “kasih setia.” Konsep ini juga berasal dari istilah-istilah bahasa Yunani dari Perjanjian Baru yang berkaitan dengan alétheia (ἀλήθεια) dan pistis (πίστις). Istilah-istilah Biblika ini mengindikasikan sesuatu yang benar, kebenaran yang dapat diandalkan dan kesetiaan. Makhluk-makhluk ciptaan Allah dapat menunjukkan ciri-ciri ini, tetapi hanya secara terbatas, temporal dan dapat berubah. Sebaliknya, kebenaran Allah tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Paulus merenungkan kualitas kebenaran Allah yang tidak ada bandingannya dalam Roma 3:4 dengan mengatakan:

Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Roma 3:4).

Pada umumnya para Teolog dan Akademisi Sistematika menyoroti atribut Allah ini dalam dua hal utama. Allah adalah sumber kebenaran yang setia, dan Ia setia pada janji-janji-Nya.

Di satu sisi, Allah ditinggikan sebagai sumber kebenaran yang setia. Dalam Mazmur 119:43, Pemazmur menyebut Kitab Suci sebagai “firman kebenaran” Allah. Dalam Mazmur yang sama ini dalam ayat 142, ia menegaskan dengan yakin, “Taurat-Mu benar.” Mazmur 25:5 adalah sebuah doa kepada Allah “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku.” Dalam Yohanes 8:32, Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa jika mereka berpegang pada ajaran-Nya maka mereka akan “mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan [mereka].” Dalam Yohanes 16:13, Kristus berjanji pada rasul-rasul-Nya bahwa “Roh Kebenaran … akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Dan dalam Yohanes 17:17, Yesus berdoa kepada Bapa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Dalam cara-cara ini dan cara-cara lain, Kitab Suci menunjukkan dengan jelas bahwa ketika Allah mengungkapkan kebenaran, kebenaran ini dapat dipercaya sepenuhnya karena natur Allah adalah setia dan benar.

Di sisi lain, Allah juga benar atau setia pada janji-janji-Nya secara tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Allah dapat dipercaya bahwa Ia akan menggenapi semua janji-Nya. Nah, kita harus berhati-hati di sini. Sering kali dalam Kitab Suci sesuatu yang tampaknya seperti sebuah janji dari Allah, sebenarnya merupakan tawaran atau ancaman dari Allah dengan persyaratan yang terkandung di dalamnya. Jika persyaratan yang tersirat ini tidak dipenuhi, tawaran atau ancaman Allah tidak akan digenapi. Tetapi Paulus menulis dalam Titus 1:2, “Allah … tidak berdusta.” Jika Allah membuat janji, Ia akan menggenapinya. Bilangan 23:19; Mazmur 33:4; Ibrani 6:18 dan banyak ayat lain menunjukkan bahwa Allah dengan setia menggenapi semua janji-Nya. Jadi tidak heran jika Wahyu 3:14 memperkenalkan Kristus yang ditinggikan sebagai, “Saksi yang setia dan benar, penguasa atas ciptaan Allah” [NIV].

Westminster Shorter Catechism telah memberi kita sekilas pandang ke dalam luasnya perspektif Biblika yang harus kita perhatikan sementara kita mempelajari kesempurnaan Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Telah kita lihat bahwa Kitab Suci tidak menampilkan Allah yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah hanya dalam beberapa hal, tetapi dalam setiap hal. Setiap aspek dari esensi-Nya tidak ada bandingannya. Dan dalam arti ini, setiap atribut Allah adalah atribut yang tidak dapat dikomunikasikan.

** Kesimpulan **

Kita telah menyelidiki bagaimana Allah berbeda dari ciptaan-Nya dalam dua hal utama. Pertama, kita belajar untuk mengenali atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Kita meneliti dasar Biblika untuk mengenali kesempurnaan-kesempurnaan-Nya, keanekaragaman Teologis di kalangan Injili dalam bidang ini dan luasnya perspektif Biblika yang diperlukan untuk mengidentifikasi atribut-atribut ini. Kita juga menyelidiki integrasi dari atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dengan semua kesempurnaan Allah yang lain dengan mengamati dasar Biblika, keanekaragaman Teologis di kalangan Injili, dan lingkup perspektif Biblika yang harus kita pertimbangkan sementara kita menyelidiki semua ini.

Sering kali pengikut-pengikut Kristus tidak menyadari pentingnya untuk berpikir dengan hati-hati terkait atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Tetapi kepercayaan kita tentang hal-hal di mana Allah berbeda dari ciptaan-Nya begitu penting bagi iman Kristen sehingga berdampak pada semua doktrin, kebiasaan dan sikap kita. Banyak tiang penyangga doktrin Kristen yang bertumpu pada pengertian yang benar dari kesempurnaan Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Kegiatan kita sehari-hari juga dipandu oleh kebenaran-kebenaran ini. Dan sikap hati kita seperti kerendahan hati, keyakinan, sukacita dan penyembahan di hadapan Allah, sangat dipengaruhi oleh apa yang kita percayai tentang aspek Teologia proper ini. Memahami apa yang diajarkan Kitab Suci mengenai atribut-atribut Allah yang tidak dapat dikomunikasikan ini memperlengkapi kita untuk setiap dimensi dari pelayanan yang setia di dalam Kristus.

Sumber kutipan

  1. Rev. Dr. Thurman Williams (Host) is Associate Pastor at Grace and Peace Fellowship in St. Louis, Missouri. Dr. Williams earned his M.Div. at Chesapeake Theological Seminary and his D.Min. at Covenant Theological Seminary. Before joining Grace and Peace Fellowship, Dr. Williams was Senior Pastor of New Song Community Church in Baltimore, MD. He also served as Minister of Outreach and Youth at Faith Christian Fellowship Church and was Co-Area Director with Young Life.
  2. Vincent Bacote, Ph.D. is Associate Professor of Theology and Director of the Center for Applied Christian Ethics at Wheaton College & Graduate School.
  3. Dr. Brandon D. Crowe is Assistant Professor of New Testament at Westminster Theological Seminary.
  4. Dr. William Edgar is Professor of Apologetics at Westminster Theological Seminary.
  5. Dr. Matt Friedeman is Professor of Evangelism and Discipleship at Wesley Biblical Seminary.
  6. Rev. Dan Hendley is Senior Pastor of North Park Church in Wexford, PA.
  7. Rev. Clete Hux is Director and Counter-Cult Apologist at Apologetics Resource Center in Birmingham, AL.
  8. Dr. Richard Lints is Professor of Theology and Vice President for Academic Affairs at Gordon-Conwell Theological Seminary.
  9. Dr. R. Todd Mangum is Professor of Theology and Academic Dean at Biblical Theological Seminary.
  10. Dr. Josh Moody is Senior Pastor at College Church in Wheaton, IL.
  11. Dr. Jeffery Moore served at Trinity Downtown Orlando as Senior Pastor from 2003 to 2014.
  12. Rev. Dr. Paul R. Raabe is Professor of Exegetical Theology at Concordia Seminary.
  13. Dr. Philip Ryken is President of Wheaton College.
  14. Dr. Tim Sansbury is Assistant Professor of Philosophy and Theology and Vice President of Administration at Knox Theological Seminary.