02 Februari 2014

Kajian Kritis Tentang Injil (Non Kanonik) Thomas (Bagian Pertama)

Kemudian Ia berkata kepada Thomas, “ Taruhlah jarimu disini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan kedalam lubang-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah “ 
Kemudian Thomas menjawab, “ Ya Tuhanku dan Allahku “
Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya“
Yohanes 20 : 27 – 30. 

Thomas, yang disebut juga Didimus adalah salah seorang dari kedua belas rasul Kristus. Dalam bahasa Syria namanya berarti ‘kembar’. Sebagai seorang nelayan pembantu yang tidak memiliki perahu sendiri, hidupnya hampir selalu berkekurangan. Hal inilah yang membuat dia selalu bersikap hati-hati, pesimis dan cepat menyangka akan terjadi hal yang buruk atas dirinya. Meskipun demikian, Thomas dikenal sebagai seorang pemberani. 

Ia adalah orang yang suka berterus terang, polos dan tidak malu-malu menyatakan ketidaktahuannya. Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berpamitan, Thomas bertanya dengan polos: “Kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” Keraguan Thomas ini mengundang Yesus untuk menyingkap rahasia Tritunggal yang mendalam itu "Akulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku. Kalau kamu mengenal Aku, kamu juga mengenal Bapa-Ku.”.

Di antara kedua belas rasul, Thomas dikenal sebagai orang yang tidak mudah mempercayai sesuatu. Sikapnya ini terlihat dengan sangat jelas pada peristiwa penampakan Yesus kepada para rasul setelah kebangkitan-Nya (Yohanes 20:24-29).

Waktu itu Thomas tidak bersama mereka. Ketika para rasul yang lain menceritakan padanya dengan penuh sukacita, “Kami telah melihat Tuhan!”, mereka pikir Thomas akan ikut bergembira bersama mereka. Tetapi, Thomas tidak percaya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian, Yesus kembali menampakkan diri kepada para rasul. Kali ini, Thomas juga ada bersama mereka. Yesus memanggilnya dan memintanya untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan luka di lambung-Nya. Menyaksikan itu, Thomas jatuh tersungkur di kaki Yesus sambil berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kemudian kata Yesus, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Menurut tradisi, setelah peristiwa Pantekosta, rasul Thomas dikirim untuk mewartakan Injil di berbagai tempat, mulai dari Laut Kaspia, Parthian, Medes, sampai Teluk Persia dan akhirnya sampai ke India dan wafat disana. Karena pewartaannya yang gigih, banyak penduduk asli di negara bagian Malabar menjadi Kristen dan menyebut diri mereka sebagai 'umat Kristen Thomas', ritus khas mereka yaitu Syro-Malabar dan Syro-Malankara.

 ** Injil Thomas **

Pada tahun 1945-1946 di Nag Hammadi sebuah kota di Mesir bagian atas di tepi Barat sungai Nil dalam penggalian ditemukan perpustakaan kuno Gnostik Koptik. Dalam perpustakaan itu dijumpai banyak sekali manuskrip tua dan naskah-naskah kuno yang ditulis diatas papirus dan dijilid dengan sampul kulit. Yang terkenal dari penemuan itu adalah 'Injil Thomas' yang ditemukan dalam versi terjemahan Yunani yang berserakan, dan terjemahan Koptik yang bernafaskan Gnostik yang berisi kumpulan 114 Logion atau 'ucapan-ucapan rahasia dan perumpamaan yang dianggap sebagai ucapan Yesus'. Setengah dari isi Injil Thomas ada dalam ke-empat Injil dan setengah lainnya baru.

Manuskrip ini merupakan teks lengkap dari Injil Thomas. Sejak penerbitan edisi fotografis pertama tahun 1959, manuskrip ini dibagi menjadi 114 Logion. Injil Thomas baru tersedia untuk konsumsi publik pada tahun 1975. Berdasarkan usia manuskrip, Injil Thomas bahasa Coptic ditulis tahun 340 M.

Selain penemuan di atas, manuskrip Injil Thomas dalam bahasa Yunani sebelumnya telah ditemukan pada tahun 1898 di Oxyrhynchus, Mesir, namun manuskrip Yunani ini tidak selengkap manuskrip Coptic. Tiga manuskrip Yunani ini selanjutnya diberi nama POxy 1 (Logion §26-33), POxy 654 (Logion §1-7, §30), POxy 655 (Logion §24, §36-39, §77). Ketiga manuskrip ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 200 M.

Mayoritas sarjana berpendapat bahwa versi asli Injil Thomas ditulis dalam bahasa Yunani. Dengan kata lain, Injil Thomas yang ditemukan di Nag Hammadi hanyalah merupakan terjemahan kuno dari versi asli Injil Thomas. Pendapat umum ini masih dipersoalkan oleh beberapa sarjana, karena mereka menganggap versi Coptic yang ada tidak identik dengan versi Yunani.

** Nama “Injil Thomas” ** 

Nama “Injil Thomas” kemungkinan besar didasarkan pada kalimat pertama kitab ini yang berbunyi:

"Ini adalah ucapan-ucapan rahasia yang disampaikan Yesus yang hidup dan ditulis Didymus Judas Thomas. Dan ia berkata: 'Siapa menemukan arti ucapan-ucapan ini tidak akan merasakan mati'." (Logion 1)

Dalam bagian konklusi versi Yunani juga terdapat sebuah subscript dengan tulisan euangelion kata Qomas (Kabar Baik/Injil menurut Thomas). Berdasarkan nama ini para sarjana menduga kitab tersebut berasal dari bagian timur Syria, tempat legenda tentang Thomas disirkulasikan.

Kita perlu mengetahui bahwa nama Thomas tidak hanya disangkut-pautkan dengan kitab ini saja. Ada beberapa kitab lain yang dihubungkan dengan Thomas, misalnya Acts of Thomas, Infancy Gospel of Thomas maupun The Book of Thomas the Contender. Fenomena ini membuat para sarjana berdebat tentang rujukan Injil Thomas dalam tulisan bapa-bapa Gereja abad ke-3 (Hippolytus dan Origen) dan ke-4 (Cyril dari Yerusalem) yang menyatakan kitab ini sebagai kitab Gnostik yang sesat.

  • Apakah yang dimaksud Hippolytus dalam bukunya Refutation of All Heresies 5.7.20 adalah Injil Thomas Logion §4 atau kitab lain yang memakai nama Thomas...?
  • Apakah larangan di Cathechesis V untuk membaca “Injil Thomas” yang dianggap Cyril sebagai tulisan pengikut ajaran sesat Manicheanisme ditujukan pada Injil Thomas atau kitab lain...?

Solusi paling masuk akal adalah menerima sebutan dua bapa gereja ini apa adanya. Fakta bahwa yang dikutip oleh mereka tidak identik dengan Injil Thomas yang ditemukan mungkin harus dipahami sebagai indikasi adanya beragam tradisi/versi (bukan hanya terjemahan) Injil Thomas (Ralph P. Martin & Peter H. David, “The Gospel of Thomas” in Dictionary of the Later New Testament and Its Developments). Dugaan ini juga bisa menjelaskan kemiripan dan perbedaan yang ada antara Injil Thomas Coptic dan Injil Thomas Yunani.

 ** Pengaruh Penemuan Injil Thomas **

Sama seperti kitab-kitab Injil non-Kanonik lainnya, penemuan Injil Thomas turut memicu perdebatan para sarjana sehubungan dengan isu tentang tradisi awal Kekristenan. Para sarjana liberal menganggap apa yang tertulis dalam Injil Thomas merupakan salah satu versi Kekristenan yang kemudian didesak dan dimusnahkan oleh Kekristenan Ortodoks yang dominan. Khusus berkaitan dengan Injil Thomas, perdebatan menjadi lebih ramai karena sebagian sarjana liberal – terutama John Dominic Crossan – berpendapat bahwa Injil Thomas ditulis lebih dahulu daripada kitab Injil Kanonik (sekitar tahun 50 M).

Berdasarkan dugaan pentarikhan seperti di atas, mereka menganggap Injil Thomas lebih otoritatif daripada keempat Injil Kanonik. Injil Thomas juga dapat menjadi sumber utama dalam menyelidiki Yesus Sejarah (Historical Jesus). Sikap ini paling jelas terlihat dalam pandangan penganut Jesus Seminar, yaitu kumpulan sarjana dan orang awam yang berusaha menentukan apakah ucapan dan tindakan Yesus di dalam Alkitab benar-benar berasal dari Yesus atau hanya sekedar penafsiran para penulis Alkitab. Dalam mengambil keputusan terhadap suatu teks, penganut Jesus Seminar memberikan otoritas yang lebih kepada Injil Thomas.
Hasil penelitian mereka dipublikasikan dengan judul The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? di mana yang dimaksud dengan Injil kelima adalah Injil Thomas.

Ada beberapa argumen yang mereka paparkan untuk mendukung pentarikhan Injil Thomas yang lebih awal.

  1. Injil Thomas berisi banyak tradisi yang tidak terdapat dalam kitab-kitab Injil Kanonik. Urutan dalam Injil Thomas pun tidak sama dengan kitab Injil Kanonik (Earl Doherty). Menurut estimasi mereka, sekitar separuh dari Injil Thomas tidak ada kesamaannya dengan catatan Perjanjian Baru. Hal ini dianggap mereka sebagai bukti bahwa apa yang tertulis dalam Injil Thomas kemungkinan besar berasal dari tradisi lisan secara langsung. Mereka juga menambahkan bahwa karena tradisi lisan mulai kurang berperan paruh kedua abad ke-1 M, maka Injil Thomas kemungkinan ditulis sekitar pertengahan abad ke-1 M.
  2. Injil Thomas memuat sebagian perkataan yang ada di dalam Q, yaitu sumber tertulis hipotetikal yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Mereka selanjutnya membagi Q menjadi 3 tingkat sesuai perkembangan dari dokumen ini: Q1, Q2 dan Q3. Berdasarkan penyelidikan mereka, 37 perkataan dalam Injil Thomas sesuai dengan Q1 dan Q2, sementara tidak ada satu pun yang sesuai dengan Q3. Karena Q merupakan dokumen kuno yang dipakai oleh para penulis Injil Kanonik dan Injil Thomas memuat bahan yang sama dengan Q pada tahap-tahap awal, maka Injil Thomas pasti ditulis jauh lebih dahulu daripada Injil Kanonik, terutama Matius dan Lukas.
  3. Injil Thomas memuat beberapa hal yang bertentangan dengan Injil Yohanes. Menurut Elaine Pagels dalam bukunya Beyond Belief (2003), beberapa teks dalam Injil Yohanes hanya dapat dipahami dalam terang Injil Thomas. Menurut dia, Injil Yohanes ditulis untuk menyerang keberadaan ‘komunitas Thomas’ yang memegang konsep teologi seperti tercermin dalam Injil Thomas. Ia memberikan contoh dari figur Thomas di Injil Yohanes yang negatif (11:16; 14:5 dan – terutama – 20:24-29). Kisah tentang Thomas yang mencucukkan tangannya ke tubuh Yesus dianggap sebagai serangan penulis Injil Yohanes terhadap konsep doketisme (ajaran yang menganggap Yesus tidak sungguh-sungguh memiliki tubuh manusiawi) yang dianut oleh ‘komunitas Thomas’ yang cenderung Gnostik. Karena Injil Yohanes ditulis untuk menyerang ‘komunitas Thomas’, maka Injil Thomas pasti ditulis jauh sebelum Injil Yohanes.
  4. Injil Thomas memiliki beberapa kesamaan dengan tulisan Paulus awal – terutama 1 Korintus, Galatia dan Filipi – yang tidak terdapat dalam Injil Kanonik. Hal ini dianggap sebagai dukungan bagi pentarikhan Injil Thomas yang lebih awal, karena tulisan-tulisan Paulus tersebut ditulis sebelum empat Injil Kanonik. Menurut mereka, Paulus mendapatkan perkataan Yesus dari tradisi yang lebih tua, sama seperti Injil Thomas.
  5. Injil Thomas tidak berisi konsep-konsep Gnostisisme abad ke-2 M. Injil Thomas mengajarkan konsep yang berbeda dengan tulisan-tulisan lain dari Nag Hammadi yang menyiratkan warna Gnostisisme yang sudah berkembang. Beberapa kosa kata yang tipikal Gnostik abad ke-2 M tidak muncul dalam Injil Thomas, misalnya demiurgos (pencipta, pembuat, pembangun, atau perancang adalah nama yang pertama kali digunakan oleh Plato). Selain itu, seandainya Injil Thomas memang bernuansa Gnostik dan ditulis setelah kitab Injil Kanonik maka penulisnya pasti akan mengutip ayat-ayat tertentu yang bisa mendukung pandangan Gnostik, misalnya Yohanes 8:58.
  6. Penemuan Injil Thomas bersamaan dengan kitab-kitab Nag Hammadi lain yang bernuansa Gnostik tidak boleh ditafsirkan bahwa Injil Thomas juga bernuansa Gnostik, apalagi Gnostisisme abad ke-2 M. Beberapa tulisan kuno lain yang non-Gnostik juga ditemukan di Nag Hammadi, misalnya tulisan Plato yang berjudul Republic.

Apakah semua argumen di atas cukup untuk membuktikan bahwa Injil Thomas ditulis lebih dahulu daripada Injil Kanonik...?

Seandainya iya, apakah itu berarti bahwa Injil Thomas lebih berotoritas daripada Injil Kanonik...?

** Evaluasi Kritis Terhadap Injil Thomas **

Isu Pentarikhan

Sebelum membahas tentang isu pentarikhan Injil Thomas, kita perlu bertanya lebih dahulu: “Seandainya Injil Thomas memang ditulis sebelum Injil Kanonik, apakah itu berarti bahwa Injil Thomas lebih berotoritas?”.

Terhadap pertanyaan ini kita pertama-tama harus mengetahui bahwa pada saat penulisan kitab Injil Kanonik, beberapa orang sudah mencoba menuliskan tradisi tentang Yesus.

Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.

Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

(Lukas 1:1-4)

Secara eksplisit mengindikasikan keberadaan beberapa tulisan lain tentang Yesus sebelum penulisan Injil Lukas. Penyelidikan para sarjana pun mengarah pada keberadaan sumber-sumber tertulis tertentu yang dipakai oleh para penulis Injil Kanonik. Sebagai contoh, Matius dan Lukas memakai Injil Markus dan Q. Di luar Injil Kanonik, kita juga melihat penulis surat Yudas yang mengutip kitab Henokh tentang Pengangkatan Musa (Assumption of Moses).

Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!" (Yudas 1:9)

Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan."(Yudas 1:14-15)

Dan lihatlah! Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudus-Nya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan semua daging/orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat menentang Dia. (Henokh 1:9)

Pemakaian sumber lain di luar Alkitab oleh para penulis Alkitab tidak membuktikan bahwa sumber-sumber itu lebih berotoritas daripada tulisan Alkitab.

Seandainya para penulis Injil Kanonik memakai Injil Thomas tetapi waktu penulisannya tetap dalam periode pertengahan abad ke-1 M, maka hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap otoritas Injil Kanonik, karena pada saat kitab-kitab itu ditulis para saksi mata kehidupan Yesus masih hidup sehingga mereka bisa mengecek kebenaran dari yang ditulis.

Persoalan akan menjadi lain seandainya Injil Kanonik dianggap ditulis pada abad ke-2, sehingga sangat jauh dari peristiwa kehidupan Yesus dan para saksi mata sudah tidak ada lagi. Interval waktu yang jauh juga berpotensi mengubah cerita, karena menurut hukum transmisi tradisi, sebuah cerita memang cenderung berkembang, apalagi jika semakin jauh dari peristiwa aslinya. Pentarikhan Injil Kanonik pada abad ke-2 M juga berarti kitab-kitab itu tidak ditulis oleh para rasul, sehingga kitab-kitab itu akan kehilangan wibawa apostolik, padahal kriteria ini sangat penting dalam proses pengakuan suatu kitab sebagai firman Allah (kanonisasi).

Walaupun kemungkinan pemakaian Injil Thomas oleh para penulis Injil Kanonik tidak membahayakan otoritas Alkitab (sejauh kitab-kitab itu tetap ditulis pada pertengahan abad ke-1 M), penyelidikan yang teliti dan objektif justru mengarah pada suatu konklusi:

Penulis Injil Thomas menggunakan, mengubah dan menggabungkan Tradisi tentang Yesus yang terdapat dalam kitab-kitab Injil Kanonik.

  1. Yang perlu kita ketahui adalah bagian-bagian Injil Thomas yang memiliki kemiripan dengan separuh lebih kitab-kitab Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, Roma, 1-2 Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, 1 Tesalonika, 1 Timotius, Ibrani, 1 Yohanes, Wahyu). Fenomena ini memang bisa ditafsirkan sebagai dukungan bahwa semua penulis kitab tersebut memakai Injil Thomas sebagai sumber, namun lebih mudah dan logis kalau kita berpikir sebaliknya, yaitu Injil Thomas ditulis setelah dan memakai kitab-kitab tersebut. Hal ini akan menjadi semakin jelas apabila dikaitkan dengan nuansa Gnostik dalam Injil Thomas yang menunjukkan bahwa kitab ini ditulis pada abad ke-2 M.
  2. Beberapa bagian Injil Thomas memiliki kemiripan dengan peredaksian Matius dan Lukas atas sumbernya (Craig Blomberg, Craig Evans). Seperti sudah disinggung sebelumnya, Matius dan Lukas memakai sumber tertulis, yaitu Injil Markus dan Q. Kedua penulis tidak hanya memakai sumber itu apa adanya, tetapi mereka juga mengadakan peredaksian sesuai dengan tujuan kitab masing-masing. Perbandingan dengan Injil Thomas menunjukkan adanya kesamaan antara beberapa Logion dengan hasil peredaksian tersebut. Fenomena ini – sekali lagi – memang bisa dilihat sebagai bukti bahwa Matius dan Lukas memakai Injil Thomas pada bagian-bagian yang mirip tersebut, namun lebih masuk akal apabila kita memandang sebaliknya.
  3. Beberapa bagian Injil Thomas juga memiliki kesamaan dengan sumber khusus yang dipakai Matius atau Lukas (Craig Evans). Sumber khusus yang ada di Injil Matius atau Injil Lukas itu dikenal dengan sebutan M (untuk Matius) dan L (untuk Lukas). Sumber khusus ini adalah sumber lokal yang dimiliki oleh Matius atau Lukas. Lebih mudah untuk melihat kemiripan antara sumber khusus ini dengan Injil Thomas sebagai bukti bahwa penulis Injil Thomas mendapatkan sumber khusus ini setelah sumber-sumber itu dipakai dalam Injil Matius dan Injil Lukas daripada berpikir sebaliknya.
  4. Beberapa tema umum yang penting dalam masa kekristenan abad ke-1 M tidak muncul dalam Injil Thomas. Salah satu yang menonjol adalah konsep apokaliptis (kedatangan Tuhan pada akhir jaman). Pemikiran apokaliptis sudah menjadi wacana umum bagi orang Yahudi sejak abad ke-2 SM, yang ditandai dengan beredarnya berbagai tulisan apokaliptis Yahudi. Tren ini juga dianut oleh orang Kristen mula-mula, walaupun konsep mereka tentang akhir jaman berbeda dengan orang Yahudi lainnya. Konsep apokaliptis Kristiani muncul di tulisan awal kekristenan (1Tes 4:13-18) maupun kitab-kitab Injil Kanonik yang ditulis setelahnya (Matius 24:44; 25:31; Mar 13:26; Luk 12:40; 21:27). Berdasarkan hal ini, sulit dimengerti mengapa Injil Thomas tidak menyinggung masalah ini sama sekali (seandainya memang kitab ini ditulis pada abad ke-1 M). Lebih mudah kita melihat absennya konsep apokaliptis dalam Injil Thomas sebagai bukti bahwa kitab ini dtulis pada abad ke-2 M atau ke-3 M ketika konsep apokaliptis tidak lagi menjadi tren di kalangan orang Kristen.
  5. Injil Thomas mengajarkan konsep Gnostik yang kental sebagaimana ditemukan dalam kitab-kitab Gnostik lain pada akhir abad ke-2 M atau sesudahnya. Begitu kentalnya nuansa Gnostik dalam kitab ini sampai-sampai Graham Stanton dalam bukunya The Gospels and Jesus mengatakan “pengambilan lapisan Gnostik [dari kitab ini] tidak akan pernah mudah [dilakukan]” (p. 129).

Definisi Gnostik menurut para Teolog Kristen antara lain:

"Gnostik (dari bahasa Yunani, Gnosis artinya pengetahuan) adalah usaha pencarian seseorang akan keselamatan melalui pengetahuan, pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung". (Stephan A. Hoeller, direktur studi Gnostic Society)

"Memimpin kepada pengetahuan ... atau ... mampu mencapai pengetahuan".
(Bentley Layton, Professor Religious Studies (Ancient Christianity) dan Professor Bahasa dan Peradaban Timur Dekat di Universitas Yale)

 "Dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Allah), dan yang berbalik dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik Kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar". (Graham Stanton, Ahli Perjanjian Baru di Universitas Cambridge)

Berikut ini adalah beberapa contoh konsep Gnostik yang ditemukan dalam Injil Thomas:

Ø Penekanan pada wahyu rahasia (kalimat pengantar, §13)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bandingkan aku dengan sesuatu dan katakan kepadaku seperti apakah aku.” Simon Petrus berkata kepadanya, “Engkau seperti seorang bentara yang adil.” Matius berkata kepadanya, “Engkau seperti seorang filsuf yang bijaksana.” Thomas berkata kepadanya, “Guru, mulutku sama sekali tidak sanggup mengatakan seperti apa engkau.” Yesus berkata, “Aku bukanlah gurumu. Karena kamu telah mabuk, mabuk oleh pancaran air berbuih-buih yang aku telah takarkan.”

Lalu ia membawa Thomas, memisahkannya dari yang lain, dan menyampaikan tiga kata kepadanya. Ketika Thomas kembali kepada murid-murid lainnya, mereka bertanya, “Apa yang Yesus telah katakan kepadamu?”  Thomas berkata kepada mereka, “Jika aku beritahukan satu saja dari kata-kata yang ia telah sampaikan kepadaku, maka kalian akan memungut batu dan melemparkannya kepadaku. Dan api akan muncul dari batu-batu itu dan membakar habis kalian.” (Logion 13)

Ø Keutamaan dibandingkan “Semua” (§2; §77)

Yesus berkata, “Barangsiapa mencari, janganlah berhenti mencari sampai ia menemukan. Ketika ia menemukannya, ia akan susah hati. Ketika ia susah hati, ia akan terpana dan akan berkuasa atas segalanya.” (Papyrus Oxyrhynchus 654.8-9 menambahkan “dan [setelah berkuasa atas segalanya], ia akan beristirahat." (Logion 2)

Yesus berkata, “Akulah terang yang ada di atas segalanya. Akulah segalanya: dari aku segala sesuatunya berasal, dan kepadaku segalanya kembali. Belahlah sebatang kayu, maka aku ada di situ. Angkatlah batu, maka kamu akan menemukan aku di situ.” (Logion 77)

Ø Kritik terhadap dunia sebagai “kemabukan” (§28) dan “kemiskinan” (§3, §29)

Yesus berkata, “Aku berdiri di tengah di dunia ini dan aku tampak oleh mereka di dalam daging. Aku dapati mereka semuanya sedang mabuk, tetapi aku tidak menemukan satu pun dari antara mereka yang haus. Jiwaku rindu pada anak-anak manusia karena hati mereka buta dan mereka tidak melihat, sebab mereka datang tanpa membawa apa-apa ke dalam dunia; dan mereka juga berupaya untuk meninggalkan dunia ini tanpa membawa apapun. Adapun mereka itu mabuk. Pada saat mereka membuang anggur mereka, maka mereka akan bertobat.” (Logion 28)

Yesus berkata, “Jika para pemimpinmu berkata, ‘Lihatlah, kerajaan itu ada di sorga,’ maka burung-burung di udara akan mendahului kamu. Jika mereka mengatakan, ‘Kerajaan itu ada di laut’, maka ikan-ikan akan mendahului kamu. Sesungguhnya, kerajaan itu ada di dalam dan di luar kamu. Pada saat kamu mengenal dirimu sendiri, maka kamu akan dikenal, dan kamu akan mengetahui bahwa kamu adalah anak-anak dari Bapa yang hidup. Tetapi jika kamu tidak mengenal dirimu sendiri, kamu hidup di dalam kemiskinan dan kamu sendiri kemiskinan itu.”  (Logion 3)

Yesus berkata, “Jika daging ada karena roh, maka ini suatu keajaiban. Tetapi jika roh ada karena tubuh, ini adalah suatu keajaiban dari segala keajaiban. Aku terpana bagaimana kekayaan seagung itu telah tinggal dalam kemiskinan ini.” (Logion 29)

Ø Penolakan terhadap dunia materi (§110)

Yesus berkata, “Hendaklah orang yang telah menemukan dunia ini dan telah menjadi kaya, meninggalkan dunia ini.” (Logion 110)

Ø Perendahan terhadap wanita (§114)

Simon Petrus berkata kepada mereka, “Maria harus meninggalkan kita, sebab perempuan-perempuan tidak layak menerima kehidupan.” Yesus berkata, “Lihat, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia juga dapat menjadi suatu roh yang menghidupkan, yang sama dengan kalian yang laki-laki. Sebab setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki, akan masuk ke dalam kerajaan sorga.” (Logion 114)

Ayat demikian jelas menggambarkan nafas Gnostik, dimana memang wanita dianggap lebih terpenjara jiwanya dan lebih rendah dari pria dan untuk menuju keselamatan harus mengalami perubahan dari tubuh jasmani ke mahluk rohani yang lebih tinggi derajatnya. Ayat berikut memberikan gambaran perbedaan Gnostik Kristen dengan Kristen Alkitabiah.

Dalam banyak kasus terlihat jelas bahwa penulis Injil Thomas memodifikasi teks-teks Injil Kanonik dengan ungkapan-ungkapan yang bernuansa Gnostik.

Contoh:

Yesus berkata, “Panenan besar, tetapi para pekerja sedikit. Karena itu mintalah tuan pemiliknya untuk mengirim para pekerja ke panen itu.” (Injil Thomas 73)

Paralel dengan

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Matius 9:37-38)

Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Lukas 10:2) Tetapi Injil Thomas 74-75 memiliki tambahan yang sangat Gnostik, terutama ayat 75. Seseorang berkata, “Tuan, ada banyak orang di sekitar bak minum, tetapi tidak ada sesuatu apapun dalam sumur.”

“Yesus berkata ‘banyak orang berdiri di depan pintu, tetapi orang yang menyendiri (solitary) yang akan memasuki kamar pengantin (bridal chamber)”.

Ungkapan “menyendiri” dan “kamar pengantin” merupakan ungkapan khas Gnostik.

"Murid-muridnya mengatakan kepadanya: '24 nabi telah berbicara kepada Israel, dan semuanya berkata tentang engkau.' Ia mengatakan kepada mereka: 'Kamu telah mengorbankan satu yang hidup dan kamu mengatakan tentang mereka yang telah mati" (Logion 52)

Kunci ayat di atas adalah angka 24. Dalam Tradisi Yahudi, Tanakh disebut terdiri 24 buku. Dari terang itu ayat di atas justru terlihat bersifat menolak kekristenan yang menganggap Yesus sebagai penggenap Perjanjian Lama. 

Penolakan akan Alkitab Yahudi ini jelas mewarisi Marcion yang ditolak ajarannya yang dianggap menyesatkan pada tahun tahun 144. Sekalipun Marcion bukan pengikut Gnostik, tetapi seperti para pengikut Gnostik, Tuhan Yesus dianggap bukan Tuhan pencipta dalam Alkitab.

Sekarang bila nafas Gnostik kita hilangkan, dapatkah ditemukan 'Injil Thomas' yang asli...?

Dari ayat-ayat Injil Thomas yang paralel dengan Kitab-Kitab Injil diketahui bahwa banyak di antaranya yang lebih pendek, ini disimpulkan oleh Jesus Seminar bahwa naskah itu mestinya lebih tua dari Injil Kanonik. Lebih pendek tidak selalu harus berarti lebih tua, sebab sekalipun Injil Markus dianggap tertua dan menjadi sumber Injil Matius, banyak ayat-ayat paralel dalam Injil Matius yang lebih pendek dari yang ada di Injil Markus. Kemungkinan Injil Thomas juga mengutip dari ke-4 kitab Injil dan menyingkatnya. Perumpamaan 'Domba yang Hilang' (Logion 107) lebih pendek dibandingkan Matius 18:12-14 dan Lukas 15:3-7 dan dilepaskan dari semua konteksnya.

Yesus berkata, “Kerajaan itu seumpama seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Satu ekor di antaranya, yang paling besar, tersesat. Ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor itu, dan mencari yang satu itu sampai ia menemukannya. Setelah ia menemukannya, ia berkata kepada domba itu, ‘Aku mengasihimu lebih dari yang sembilan puluh sembilan ekor itu.’” (Logion 107)

Tidak ada petunjuk dalam Injil Thomas mengenai artinya. Pada pandangan pertama ayat-ayat dalam Thomas itu seakan-akan tidak ada hubungannya dengan Matius dan Lukas dan dianggap menunjukkan kata-kata Yesus yang asli.

Namun, keadaannya tidak sesederhana itu. Dalam Thomas, kata-kata pembuka dalam perumpamaan itu menyamakan 'kerajaan' dengan gembala yang kehilangan satu dari seratus dombanya. Kerajaan adalah dunia para pengikut Gnostik dimana salah satunya hilang. Gembala mencarinya bukan karena hilang tetapi karena domba itu besar. Motivasi yang sama bisa dilihat di banyak bagian Injil Thomas seperti:

  1. Nelayan yang bijak memilih ikan besar dari tangkapannya. (Logion 8)
  2. Biji sesawi menghasilkan tanaman besar. (Logion 20)
  3. Wanita membuat roti yang besar dari ragi. (Logion 96)

Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai umat pilihan, minoritas elit, bahkan ada ayat berbunyi:

Yesus berkata: 'Diberkatilah mereka yang tersendiri dan superior, karena kamu akan menemukan kerajaan; sebab kamu berasal dari situ dan kamu akan kembali ke situ'." (Logion 49)

Dalam versi Thomas mengenai perumpamaan Domba Yang Hilang, domba yang besar mewakili pengikut Gnostik yang tersesat dari kerajaan dimana ia berasal. Agar perumpamaan ini menjadi ajaran Gnostik, kemungkinan Thomas mengutipnya dari Matius atau Lukas, menyingkatnya, dan melepaskannya dari konteksnya semula.

Mereka yang membela ketidak bergantungan Thomas mengemukakan bahwa dalam Thomas hampir tidak ada urutan ucapan Yesus seperti dalam Injil Sinoptik, jadi Thomas tidak memotong-motong ucapan Yesus yang ada dalam Injil sinoptik. Argumentasi demikian cukup kuat kalau memang tidak ada urutan dalam Injil Thomas. Bila ada tanda-tanda pengelompokan ucapan-ucapan sesuai kata kunci atau tema, maka Thomas mestinya mempunyai motivasi untuk menghilangkan urutan ucapan-ucapan dalam Injil Kanonik. Faktanya ada juga hubungan antara ucapan-ucapan itu dalam Thomas. Dan dibeberapa tempat disusun berdasarkan suatu logika sesuai pola pikir Gnostik. Christopher Tuckett mengemukakan hal penting yaitu karena jelas bahwa Thomas telah merevisi banyak ucapan Yesus tentunya urutannya juga bisa diubah secara radikal.

Sekarang yang perlu diamati adalah apakah ada jejak usaha Thomas dalam membentuk dan meredaksi tulisannya itu. Bila ada, kelihatannya Thomas mengambil bahan-bahan dari Keempat Injil dalam bentuknya yang akhir dan bukan dari tradisi lisan.

Ada petunjuk dalam Injil Thomas ke arah itu. Para pendukung Injil Thomas menganggap bahwa petunjuk terakhir ini sedikit jumlahnya dan memperkirakan petunjuk itu adalah tambahan kemudian yang dimasukkan ke Injil Thomas. Mereka mengatakan bahwa versi asli dari Thomas dalam bahasa Yunani mengutip langsung ucapan Yesus, dan baru pada proses penerjemahan ke bahasa Koptik maka beberapa petunjuk keempat Injil masuk. Kelihatannya argumentasi ini meyakinkan, tetapi kita harus sadar bahwa petunjuk itu cukup banyak sehingga mustahil hanya merupakan masukan kemudian tanpa disengaja. 

Sebagai contoh ada ayat yang berbunyi:

“Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dibukakan." (Logion 5)

Ucapan ini terdapat dalam versi yunaninya yang diberi kode PQxy 1, yang mirip dengan perubahan ucapan yang dilakukan dari Markus 4:22 ke Lukas 8:17.  Kelihatannya Thomas mengambil dari bahan Lukas sebelum diterjemahkan ke bahasa Koptik. Petunjuk kuat lainnya adalah bahwa ucapan-ucapan Yesus dalam Injil Thomas dapat ditemui pada keempat Injil, dan juga pada tradisi 'Q', 'M' dan 'L'. Ini memberi petunjuk bahwa sekalipun mungkin Thomas mengambil dari beberapa tradisi oral, tetapi tradisi itu sendiri bersumber pada ke-empat Injil juga. Mungkin sekali bahwa Thomas mengutip dari harmoni keempat Injil yang awal sebelum Tatian sesudah tahun AD 150 menyusun harmoni keempat Injil. Jadi kemungkinan besar Injil Thomas disusun berdasarkan keempat Injil dan tradisi lisan yang tetap beredar sekalipun keempat Injil sudah tersusun.

Injil Thomas tidak membuka jalan baru kearah penyelidikan Yesus Sejarah, sebab yang ditemukan adalah copy dari terjemahan koptik yang berasal dari tahun 350 M. Dan, karena ada perbedaan-perbedaan penggunaan kata-kata dan urutan dari versi Yunani dan Koptiknya, text Thomas tidak terlalu tepat. Versi awal dalam bahasa Yunani kelihatannya disusun sebelum akhir abad kedua, sedang versi Koptik sudah jelas merupakan tulisan Gnostik abad keempat. 

Adalah mustahil menghilangkan ke-Gnostikannya untuk memperoleh yang asli, karena itu tidaklah tepat menjadikan Injil Thomas sebagai dasar merekonstruksi ajaran Yesus.

Sekitar setengah dari isi Injil Thomas tidak memiliki acuan paralel dengan keempat Injil, berapa di antaranya yang berasal dari masa Yesus...? 

Memang, Jesus Seminar berusaha untuk menempatkannya dekat dengan hidup Yesus, tetapi faktanya dari yang setengah itu, hanya ada 2 Logion saja yang oleh mereka bisa dianggap asli sebagai ucapan Yesus (warna merah), yaitu:

  • Ini seperti biji sesawi, yang paling kecil dari semua biji, tetapi bila ia jatuh ke tanah yang baik, ia akan menghasilkan tanaman besar dan menjadi tempat berteduh bagi burung di udara. (Logion 20)
  • Berikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar, berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan" (Logion 100)

Yesus Menurut Injil Thomas

Dalam Injil Thomas, Yesus ditampilkan terutama sebagai pewahyu surgawi dan pengejawantahan hikmat yang hanya bisa dipahami oleh beberapa orang saja.

Kalimat pertama dalam kitab ini adalah “inilah perkataan-perkataan rahasia”. Mereka yang menerima wahyu khusus ini akan menjadi terkemuka dan mengalahkan orang banyak.

Logion §2 “biarlah dia yang mencari tidak berhenti mencari sampai dia menemukan dan apabila dia sudah menemukan, dia akan terganggu. Ketika dia telah terganggu, dia akan heran dan memerintah atas semua”.

Dalam Logion §13 diceritakan keunggulan pengetahuan rohani Thomas dibandingkan Petrus dan Matius, sehingga Yesus pun mengatakan:

Kepada Thomas “Aku bukanlah gurumu, karena engkau telah meminum dan mabuk dari mata air yang sama yang aku ambil”.

Yesus dalam Injil Thomas bukan hanya memberikan wahyu khusus dan membuat penerima wahyu menjadi terkemuka, tetapi Yesus juga menjanjikan konsep penyatuan ilahi-insani.

  • Logion §108 menjanjikan “barangsiapa minum dari mulutku akan menjadi seperti aku; Aku sendiri akan menjadi orang itu dan hal-hal yang tersembunyi akan dinyatakan kepadanya”. Penyatuan ini bahkan mencakup hal-hal yang tidak berpribadi (benda).
  • Logion §77 “Aku adalah terang yang menyinari segala sesuatu. Aku ada di setiap tempat. Dari aku semua keluar, kepada aku semua kembali. Potonglah sebuah kayu dan di sana aku ada. Angkatlah sebuah batu dan kamu akan menemukan aku di sana”.

Yesus juga ditampilkan sebagai penyelamat, namun konsepnya sangat berbeda dengan ajaran Injil Kanonik. Keselamatan dalam Injil Thomas didasarkan pada usaha sendiri melalui introspeksi spiritual.

Logion §70 “Jika engkau mengeluarkan apa yang ada di dalammu, apa yang engkau miliki akan menyelamatkan engkau. Jika engkau tidak mengeluarkannya, apa yang tidak engkau miliki di dalammu akan membunuh engkau”.

Kredibilitas Historis Injil Thomas

Pembahasan dalam bagian “Isu Pentarikhan” telah membuktikan bahwa Injil Thomas ditulis pada abad ke-2 M (kemungkinan pada akhir abad ke-2 M). Pentarikhan ini bukan hanya menyangkal wibawa apostolik dalam Injil Thomas, tetapi juga menunjukkan bahwa kitab ini ditulis jauh setelah kehidupan Yesus. Dari peredaksian kitab ini terlihat bahwa Injil Thomas merupakan karya seorang penulis yang tidak dikenal yang berusaha mengubah dan mengumpulkan tradisi tentang Yesus dalam Injil Kanonik sehingga menghasilkan sebuah kitab yang sangat bernuansa Gnostik.

Jenis literatur Injil Thomas yang hanya berisi perkatan-perkataan tanpa rujukan tempat dan waktu yang spesifik menunjukkan bahwa penulisnya tidak serius dengan historisitas. Selain itu, sifat pembicaraan yang rahasia semakin meneguhkan ketidakseriusan tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan Injil Kanonik yang cenderung memberikan keterangan tempat, waktu maupun saksi mata. Rendahnya kredibilitas historis Injil Thomas juga dapat dilihat dari beberapa Logion yang tidak mungkin berasal dari ajaran Yesus pada awal abad pertama.

Contoh:

Logion §53 mencatat tentang perkataan Yesus yang menyiratkan ketidakmutlakan sunat secara lahiriah.

Murid-muridnya berkata kepadanya, “Bermanfaat atau tidakkah sunat itu?” Ia berkata kepada mereka, “Seandainya bermanfaat, maka ayah mereka akan melahirkan mereka dalam keadaan bersunat dari dalam kandungan ibu mereka. Tetapi sunat sejati di dalam roh itu berharga dalam segala hal.” (Logion 53)

Ucapan ini sangat mungkin tidak berasal dari Yesus, karena pada jaman Yesus hidup belum banyak petobat dari kalangan non-Yahudi, sehingga sunat atau tidak bersunat belum menjadi isu pelik. Bahkan kitab-kitab Injil Kanonik yang ditulis tahun 60-an (setelah Injil diterima berbagai bangsa) pun tidak menyinggung ucapan Yesus tentang sunat sama sekali, walaupun pada tahun 60-an sunat sudah menjadi isu.

  • Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 15:1)
  • Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. (Galatia 5:6, 11)
  • Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. (Galatia 6 :12,15)

Lalu bagaimana dengan sekitar setengah lainnya yang dapat ditemukan di ke-empat Injil...?

Apakah versi Thomas lebih asli...?

Rekonstruksi dari salinan Yunani non-Gnostik tidaklah mudah sekalipun kita hidup seratus tahun sesudah masa hidup Yesus.

Dalam usaha penyelidikan akan kebenaran sejarah, memang yang disebut Injil Thomas tidak boleh diabaikan, tetapi rintangannya lebih berat daripada dalam penyelidikan keempat Injil yang lebih banyak salinan-salinannya, karena itu menyebut Injil Thomas sebagai 'Injil ke Lima' (yang Kanonik) adalah jelas menyesatkan.

Dari beberapa perbincangan sekitar Jesus Seminar dan Injil Thomas di atas kita dapat melihat bahwa apa yang dihasilkan oleh Jesus Seminar terutama yang dihubungkan dengan Injil Thomas merupakan rekaan yang belum terbukti kebenarannya, karena itu menjadikan kitab Thomas sebagai Injil yang setara dengan ke-empat Injil lainnya atau bahkan menjadikannya sebagai Injil ke-Lima sudah jelas tidak perlu dipercaya. Lebih lagi, menganggap Injil Thomas sebagai Injil yang lebih asli, dan seperti kata Crossan bahwa keempat Injil lainnya sebagai tidak asli, justru menunjukkan dengan jelas kemana arah misi Jesus Seminar.

Lebih lagi, hasil voting Jesus Seminar sendiri menyebutkan bahwa dalam Injil Thomas hanya ada 2 ayat dari 114 pasal yang dianggap ucapan Yesus yang asli. Dan menarik mendengarkan komentar seorang fellow Jesus Seminar sendiri yang juga pakar dan redaktor naskah Gnostik Pustaka Nag Hamadi, James M. Robinson, yang terus terang menyatakan bahwa semula Injil Thomas sebenarnya merupakan kumpulan kata-kata bijak namun dalam perumusan kanon Alkitab dikemudian hari, tulisan itu diberi nama Injil agar diterima dalam kanon, namun karena sifatnya yang Gnostik, bapa-bapa Gereja menolaknya sebagai Injil.

Teori-teori konspirasi beberapa ahli Perjanjian Baru yang kecil jumlahnya tidak perlu membuat kita ragu, lebih-lebih jauh lebih besar jumlahnya ahli Perjanjian Baru yang menganggap ke-empat Injil Kanonik sebagai yang asli dan memandang Injil Thomas hanya sebagai produk pengikut Gnostik abad kedua dan juga bukan ditulis oleh Thomas rasul Yesus.

TUHAN Yesus memberkati


Referensi silang

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Tomas
  2. http://www.sabda.org/sejarah/artikel/Injil_thomas.htm%3Cbr%20/%3E
  3. https://www.gotquestions.org/Indonesia/Injil-Tomas.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar