Minggu, 02 Februari 2014

Kajian Kritis Terhadap Injil (Non Kanonik) Filipus

Sekilas Tentang Rasul Filipus
 
Ia lahir di Bethsaida, daerah Galilea.
Menurut penuturan Yohanes, pada waktu Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Kristus: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia,” maka dua orang muridnya langsung mengikuti Kristus; dan salah satu di antaranya ialah Andreas. Karena yang empunya cerita adalah Yohanes, maka beralasan untuk disimpulkan bahwa murid yang tidak disebut namanya itu, pasti adalah Yohanes sendiri.

Menurut kisah Yohanes, dimulai dengan identifikasi lokasi kampung nelayan Betsaida. Letaknya di timur laut danau Galilea, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kota kecil. Itulah kota asal Andreas dan Petrus bersaudara, tetapi juga tempat bermukim Filipus.
Yang unik dalam relasi Kristus dengan Filipus, ialah bahwa hubungan itu dimulai dengan suatu ajakan singkat, karena terdiri dari hanya dua patah kata: “Ikutlah Aku” (Yoh. 1:43). Filipus demikian yakin, sehingga tanpa ragu-ragu langsung menerima ajakan itu. Tetapi sekaligus dia juga menyadari bahwa lonjakan sukacita yang dirasakannya itu sudah sepatutnya dibagi dengan orang lain. Oleh karena itu ia pun mengajak Natanael.

Percakapan antara Natanael dan Filipus memberikan kesempatan untuk mengenal pribadinya dari dekat, yakni sebagai orang yang selalu tanggap dan memiliki kejernihan berpikir. Pembawaan itu memampukannya untuk langsung mengenali persoalan (problem recognition). Tetapi tidak sampai di situ saja. Karena kemampuan itu memungkinkannya dengan cepat mencari dan menemukan kunci penyelesaian (problem solving). Di dalam pergaulan sesehari orang demikian itu biasanya diberikan predikat yang bermakna pemecah persoalan (troubleshooter).

Kasus pertama Filipus, yakni masalah Natanael, yang berpendapat: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kejernihan berpikir Filipus langsung membuatnya mengenali masalah, bahwa tidak ada manfaatnya berdebat kusir dengan Natanael. Maka solusi yang diberikannya, ialah: “Mari dan lihatlah!” Ternyata benar antisipasi Filipus. Percakapan dengan Kristus berhasil merombak seluruh pola berpikir lama dan diganti paradigma baru, yang disimpulkan sendiri oleh Natanael, katanya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.”

Kasus berikut adalah mujizat pemberian makan kepada lima ribu orang (Yoh. 6: 1-15).
Pemecahan masalah diminta Kristus dari Filipus, yang kontan menjawab: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekali pun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”
Suatu jawaban yang rasional, terarah dan tepat sekali, karena mengenai inti permasalahan.
Penalaran Filipus memang benar, bahwa tidak mungkin ada solusi atas persoalan yang diajukan Kristus. Tetapi justru reaksi itulah sengaja dipancing Kristus, karena: “Hal itu dikatakan-Nya untuk mencoba dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” Dengan demikian, Filipus dan semua yang hadir dapat melihat dan menjadi saksi suatu peristiwa di luar jangkauan rasio mereka. Mujizat itu dilakukan Kristus, karena: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Penampilan Filipus selanjutnya adalah setelah peristiwa Kristus dielu-elukan di Yerusalem. Pada kesempatan itu (Yoh. 12:20-22) ada beberapa orang Yunani yang mendekatinya dengan permintaan: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Perannya sebagai troubleshooter kembali muncul di permukaan, karena sifatnya sebagai orang mudah didekati oleh mereka yang membutuhkan pertolongan. Dapat juga diambil kesimpulan, bahwa orang Betsaida ini ternyata menguasai dan dapat berbicara bahasa Yunani.

Injil Yohanes mengungkapkan percakapan yang berisikan pesan-pesan terakhir, menjelang penangkapan Kristus (Yoh. 14:1-31). Menanggapi pernyataan Kristus kepada Tomas, bahwa: “Tidak seorang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” maka Filipus pun melakukan interupsi. Dia pasti mengharapkan bahwa kesempatan ini dapat memberikan kepadanya suatu penglihatan bermakna wahyu, yakni menyaksikan kemuliaan Allah Bapa. Oleh karenanya Filipus minta: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Pertanyaan itu mengingatkan kita akan permintaan Musa kepada Tuhan: “Perlihatkanlah kemuliaan-Mu kepadaku.” (Kel. 33:18). Tetapi Kristus dengan tangkas menjelaskan tentang inkarnasi-Nya seraya menjawab, bahwa: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”

Sewaktu sedang sibuk berpanen raya di kota Samaria, Filipus sekonyong-konyong menerima bisikan Roh Kudus untuk menuju ke selatan, yang begitu kontras lingkungannya dengan suasana kota Samaria. Di tengah-tengah kegersangan gurun yang sepi itu dia berjumpa dengan seorang sida-sida Etiopia, yang sedang asyik membaca pasal 53 Kitab Yesaya. Filipus menjelaskan tentang berita kesukaan, yakni bahwa nubuat Yesaya yang dibacanya itu mengisahkan karya kasih Allah, yang telah dipenuhi Kristus.

Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.
Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi.Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.
Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.
Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!"
Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?"
Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.
Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.
Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.
Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?"
Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?"
(Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.")
Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.
Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.
(Kis. 8:25-40)

Peristiwa itu membuktikan, bahwa Filipus adalah penginjil pertama yang membawa berita kesukaan kepada orang-orang non-Yahudi, dan melalui pertobatan pejabat pemerintah Etiopia itu Injil diperkenalkan di benua Afrika. Sebagai penutup, St Lukas menampilkan Rasul Filipus dalam kisah perjalanan Rasul Paulus, bahwa: “Pada keesokan harinya kami (termasuk Lukas) berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, yaitu satu dari ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem, dan kami tinggal di rumahnya. Filipus mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat.”
Meskipun tidak banyak berita tentang dia sesudah kenaikan Yesus, diketahui bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia, sebuah kotatua di Asia kecil. Klemens dari Aleksandria mengatakan bahwa Filipus menderita penganiayaan hebat dan disalibkan dengan kepala di bawah, sebagaimana dialami Petrus di Roma pada masa pemerintahan kaisar Domitianus. Tepat 10 tahun setelah kematian Yakobus, pada tahun 54 M Rasul Filipus dikatakan te1ah dihukum cambuk dan dilemparkan ke dalam penjara serta kemudian disalibkan di Hierapolis di Phrygia.

Sebuah cerita yang berhubungan dengan kehidupan Filipus sesudah kenaikan Yesus disajikan oleh Eusebius dan penulis Kristen Purba lainnya. Mereka mengatakan bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia dan meninggal di Hierapolis, Asia Kecil. Jenazahnya dimakamkan pula di Hierapolis. Kemudian, relikuinya dikirim ke Roma, sejak tahun 561 disemayamkan di Basilisk Rasul-Rasul.
Polycrates, Uskup Efesus, dalam sebuah suratnya kepada Paus Viktor II (1055 -1057), menyebutkan bahwa dua orang anak Filipus hidup di Hierapolis, sedangkan yang lainnya di Efesus. Papias, Uskup Hierapolis mengenal baik anak - anak Filipus. Dari mereka, ia mengetahui bahwa Filipus pernah menghidupkan kembali seorang anak lelaki yang telah meninggal.

Rasul Filipus diSalibkan terbalik.
Rasul Filipus diSalibkan terbalik.


Injil (Non Kanonik) Filipus
Christians were mentioned in the Gnostic Gospel of Philip. Ultimately, all Christians will be spiritually transformed, in time or eternity. Whoever is transformed “no longer is a Christian, but a Christ.” Drawing upon the Gospel of Philip, Gnostic scholar Elaine Pagels
Philip thus discriminates between nominal Christians – those who claim to be Christians simply because they were baptized – and those who, after baptism, are spiritually transformed. He sees himself among the latter but does not congratulate himself for belonging to a spiritual elite; instead, he concludes by anticipating that ultimately all believers will be transformed, if not in this world then in eternity. Whoever undergoes such transformation, he says “no longer is a Christian, but a Christ.”
Sources: Pagels, Elaine. Beyond Belief: The Secret Gospel of Thomas. Random House, 2003. 132-133.

Injil Filipus adalah buku ke-2, traktat ke-3, dari keseluruhan 13 buku yang mencakup 52 traktat dalam kepustakaan gnostik Nag Hammadi (ditemukan 1945) [dus ditulis NHC II, 3 (Nag Hammadi Codex II, 3)].
Teks Koptik yang ada sekarang ini, yang berasal dari abad ke-4 M, mungkin sekali adalah terjemahan dari teks berbahasa Yunani yang ditulis pada paruhan kedua abad 3 M (Wesley W. Isenberg, “The Gospel of Philip”, dalam James M. Robinson, ed., The Nag Hammadi Library in English , revised edition [San Francisco: Harper & Row, 1990] 141 [139-160]).
Penomoran Injil Filipus dalam teks terjemahan Indonesia ini mengikuti pengelompokan tematis yang dibuat Marvin Meyer atas seluruh teks Injil Filipus (lihat Marvin Meyer, The Gnostic Gospels of Jesus: The Definitive Collection of Mystical Gospels and Secret Books about Jesus of Nazareth [San Francisco: Harper San Francisco, 2005] 45-87).

Manuskrip ini sebenarnya tidak memiliki judul. Tidak ada indikasi apapun dalam teks yang menunjukkan bahwa penulisnya adalah Filipus. Nama “Injil Filipus” merupakan nama modern yang dipakai untuk menunjuk manuskrip ini. Dinamakan Injil “Filipus” bisa jadi karena Rasul Filipus adalah satu-satunya nama rasul yang disebut dalam injil ini (Injil Filipus 80). Meskipun penulisnya di bagian akhir karyanya menyatakan karyanya ini adalah injil (“Injil menurut Filipus”), namun, seperti injil-injil gnostik lainnya, bentuknya berbeda dari Injil-Injil Perjanjian Baru.

Tidak seperti para penulis Injil-Injil PB, penulis Injil Filipus tidak memakai kerangka naratif dalam menyusun komposisi injilnya ini; ada banyak tema lepas-lepas yang diajukan injil ini, meskipun dapat dijumpai beberapa tema yang mungkin tanpa direncanakan muncul berulang dalam injil ini, misalnya, arti nama Yesus (Injil Filipus 18, 41, 44); keharusan untuk mengalami kebangkitan sebelum seseorang mati (Injil Filipus 20, 22, 56, 80); menyalakan terang supaya luput dari kuasa-kuasa spiritual (arkón) yang bermusuhan (Injil Filipus 70, 91, 86). Injil Filipus berbentuk kumpulan perkataan yang diduga dari Yesus. Beberapa konsep yang ada dalam dua kitab ini juga sangat mirip. Bagaimanapun, beberapa sarjana menemukan perbedaan antara keduanya. Perkataan-perkataan “Yesus” dalam Injil Filipus lebih mirip sebuah kombinasi antara pernyataan teologis dan perkataan pendek yang seringkali sangat membingungkan.

Inti pembicaraan berfokus pada beragam sakramen, terutama perkawinan.

Perkataan lain yang tidak ada di kitab injil kanonik (55:37-56:3; 58:10-14; 59:25-27; 63:29-30; 64:2-9; 64:10-12; 67:30-35; and 74:25-27) umumnya dimulai dengan ungkapan “Ia/Tuhan/Juru Selamat berkata” dan berisi perkataan yang pendek serta membingungkan.

Walaupun manuskrip yang ditemukan berasal dari abad ke-4 M, namun para sarjana umumnya meyakini bahwa teks asli dari kitab ini berasal dari periode yang lebih tua. Mereka menduga teks yang asli ditulis dalam bahasa Siria atau Yunani. Berdasarkan permainan kata yang hanya bisa dipahami dalam konteks bahasa Siria, para sarjana cenderung memilih Siria sebagai asal dan bahasa asli dari teks ini. Pendapat para sarjana tentang pentarikhan teks asli Injil Filipus berkisar antara akhir abad ke-2 sampai awal abad ke-3 M.

Fokus utama pemberitaan Injil Filipus bukan Yesus, tetapi aneka ragam pandangan Kristen gnostik yang dipertahankan mazhab Valentinus (abad 2). Seperti dikatakan Meyer, tema besar Injil Filipus adalah kodrat sakramen-sakramen yang berjumlah lima (baptisan, krisme, ekaristi, penebusan, dan kamar mempelai [Injil Filipus 61]), khususnya kodrat sakramen kamar mempelai sebagai sakramen teragung (Marvin Meyer, Gnostic Gospels of Jesus, 45; idem, The Gospels of Mary: The Secret Tradition of Mary Magdalene the Companion of Jesus [San Francisco: Harper San Francisco, 2004] 37 [36-53]).

Dalam Injil Filipus ditegaskan bahwa kematian manusia terjadi karena kodrat androginik Adam (sebagai makhluk maskulin sekaligus feminin) telah ditiadakan ketika Hawa diciptakan dari diri Adam sehingga tercipta dua gender (Injil Filipus 64); dan Kristus datang untuk memanunggalkan kembali kedua gender ini supaya manusia tidak mengalami kematian lagi (Injil Filipus 71).

Reunion ini berlangsung dalam kamar mempelai sakramental (Injil Filipus 71) di mana seseorang mendapat kepastian akan memperoleh pasangan surgawinya (Injil Filipus 25). Ditekankan juga dalam injil ini, bahwa sebagaimana Yesus adalah insan kamil, manusia sempurna (Injil Filipus 12, 100), orang yang menjadi pengikutnya juga harus menjadi insan kamil, menjadi Kristus (Injil Filipus 28, 39, 60, 87, 91).

Meskipun Yesus tidak menjadi perhatian utama, dalam Injil Filipus ada tujuh belas ucapan Yesus, dengan sembilan di antaranya adalah kutipan dan tafsiran atas ucapan-ucapan Yesus yang sudah terdapat dalam injil-injil PB (Injil Filipus 16, 22, 62, 65, 79, 93, 105, 107, 110); ucapan-ucapan yang baru (Injil Filipus 17, 25, 31, 48, 49, 50, 62, 85) pendek-pendek, enigmatis dan sukar dipahami, dan karenanya paling baik jika ditafsir dari sudut pandang gnostik.

Ada sedikit kisah tentang Yesus dalam injil ini

Ketika Yesus berada di gunung bersama murid-muridnya dalam suatu epifani, ia kelihatan besar di mata murid-muridnya (Injil Filipus 24). Yesus memiliki tiga perempuan yang selalu bersamanya yang ketiganya bernama Maria (Injil Filipus 29); yang terdekat dengannya sebagai kekasihnya atau istrinya (koinōnos atau hōtre) adalah Maria Magdalena (bdk. Injil Maria Magdalena 6.1; 10.10) yang sering diciumnya pada mulutnya (Injil Filipus 49) sebagai tindakan ritual untuk menyatukan nafasnya dengan nafas Maria Magdalena atau sebagai langkah awal untuk masuk ke hubungan seksual normal keduanya.
(Jean-Yves Leloup, The Gospel of Philip: Jesus, Mary Magdalene, and the Gnosis of Sacred Union [Rochester, Vermont: Inner Tradition, 2004] 28-29).

Di rumah Lewi si tukang celup, Yesus memasukkan tujuh puluh dua pakaian berwarna-warni ke dalam satu tong celup, dan ketika diangkat semuanya berubah menjadi putih (Injil Filipus 48). Seperti dikisahkan Rasul Filipus (Injil Filipus 81), Yusuf, si tukang kayu, adalah pembuat salib dari batang pohon yang ditanamnya sendiri yang kemudian dipakai untuk menyalibkan Yesus, anaknya sendiri. Akhirnya, seluruh injilnya ini dimaksudkan supaya orang mengenal kebenaran dan mengenal diri sendiri. Tulisnya,“Barangsiapa mengenal kebenaran, ia merdeka, dan seorang yang merdeka tidak berbuat dosa” (Injil Filipus 94).
“Semua orang yang memiliki segala sesuatu harus mengenal diri mereka sendiri” (Injil Filipus 90).
“Kebenaran adalah sang bunda, pengetahuan adalah sang ayah” (Injil Filipus 94).

Yesus Menurut Injil (Non Kanonik) Filipus

Gambaran tentang Yesus dalam Injil Filipus terkesan sangat rumit dan kurang jelas.
Terlepas dari beberapa bagian teks yang sangat membingungkan, gambaran penting tentang Yesus dalam kitab ini dapat dirangkum sebagai berikut:  

1. Yesus tidak dilahirkan dari perawan

Penolakan terhadap doktrin inkarnasi melalui perawan ini didasarkan pada konsep Injil Filipus tentang Roh Kudus (Sophia Achamốth) yang dianggap sebagai feminin (55:23-27). Karena Maria dan Roh Kudus sama-sama feminin, maka tidak mungkin terjadi kehamilan. Yesus merupakan keturunan Yusuf (73:9-15), tetapi Yesus juga hasil dari persatuan antara “Bapa segala sesuatu” dan “Perawan yang turun” (yaitu Sophia Achamốth) dalam kamar pengantin (bridal chamber) yang paling teragung.
Yesus juga menjadi yang pertama dilahirkan dalam kelahiran kembali melalui baptisan di sungai Yordan. Dalam baptisan ini Yesus diurapi dan ditebus (70:34-71:2). Peristiwa ini dianggap membatalkan atau mengoreksi kesalahan/dosa Adam yang dulu (71:18-21).

2. Yesus bukanlah manusia dan “kemanusiaan”-Nya tidak penting.

Konsep tentang kemanusiaan Yesus dalam Injil Filipus tampak sangat membingungkan. Ucapan Yesus di Yohanes 6:53 “barangsiapa tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku” dipahami sebagai berikut: tubuh Yesus disebut Logos, sedangkan darah Yesus disebut Roh Kudus (57:3-8). Mereka yang memiliki keduanya berarti memiliki makanan dan minuman serta pakaian. Argumen yang melandasi pandangan ini didapat dari analogi dalam 1Korintus 15:50. Karena menurut ayat ini daging dan darah tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah, maka kemanusiaan Yesus tidak penting. Satu-satunya cara untuk bersatu dengan Yesus adalah melalui persatuan spiritual.

Selain itu, Injil Filipus juga mengajarkan bahwa penampakan diri Yesus tidak menunjukkan hakekat-Nya yang sebenarnya. Yesus menampakkan diri secara rahasia sesuai dengan siapa yang ditemui. Kepada para malaikat Ia menampakkan diri sebagai malaikat, begitu pula kepada manusia Ia menampakkan diri sebagai manusia. Ketika Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan di atas gunung, Ia menjadi mulia dan menjadikan murid-murid mulai sehingga mereka bisa melihat-Nya dalam kemuliaan.

Yesus dan Maria Magdalena dalam Injil Filipus

Bagian Injil Filipus yang paling banyak mengundang kontroversi adalah yang menyinggung relasi khusus antara Yesus dan Maria Magdalena. Maria Magdalena ditampilkan sebagai salah seorang wanita yang selalu menemani Yesus. Lebih dari itu, ia ditampilkan juga sebagai pribadi yang lebih istimewa dibandingkan dengan para rasul karena ia memiliki relasi khusus dengan Yesus. Para sarjana liberal menganggap relasi ini merujuk pada hubungan perkawinan antara keduanya.
Teks yang dipakai untuk mendukung dugaan itu diambil dari Injil Filipus 63:32-64:10, terutama 63:33-36 “dan teman/istri dari [....] Maria Magdalena. [....] dia lebih daripada […] murid dan […] mencium dia […] pada [...]nya”.
Tanda kurung di atas menunjukkan bagian yang hilang dari naskah kuno yang ditemukan, sehingga menimbulkan spekulasi beragam dari para sarjana. Berdasarkan konteks bagian ini, konteks Injil Filipus secara umum (terutama pasal 58-59) dan ukuran bagian yang hilang para sarjana mencoba merekonstruksi kata apa yang telah hilang. Mereka umumnya merekonstruksi seluruh teks di atas sebagai berikut: “dan istri [dari Juru Selamat adalah] Maria Magdalena. [Kristus mengasihi] dia lebih daripada [semua] murid yang lain dan [terbiasa] mencium dia [sering] pada [mulut]nya”. Hasil rekonstruksi seperti ini dianggap sebagai bukti yang kuat bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.

Analisa kritik terhadap Injil (Non Kanonik) Filipus

Sama seperti kasus kitab-kitab injil non-kanonik yang lain, historisitas Injil Filipus juga harus ditolak dengan alasan yang sama.
  1. Jumlah salinan yang sangat minim membuat rekonstruksi teks asli menjadi begitu sulit.
  2. Kesulitan untuk memahami maksud penulis kitab ini juga diperparah dengan banyaknya bagian yang membingungkan dan tidak jelas.
  3. Tidak adanya rujukan tentang waktu, tempat maupun peristiwa sejarah yang spesifik menunjukkan kitab ini tidak memiliki nilai sejarah yang signifikan atau – paling tidak – mengindikasikan bahwa penulisnya tidak terlalu serius dengan kesejarahan tulisan ini.
  4. Waktu penulisan yang sangat jauh dari peristiwa aslinya (minimal 1,5 abad) turut melemahkan nilai historisitas kitab ini. Berdasarkan interval waktu yang sangat lama ini pula kita bisa mengambil konklusi kalau kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Filipus atau orang lain yang memiliki kaitan erat dengan para rasul. Dengan demikian kitab ini tidak memenuhi kriteria wibawa rasuli (apostolik) yang merupakan ujian penting dalam proses kanonisasi Perjanjian Baru.
  5. Warna gnostik yang kental dalam kitab ini juga semakin menguatkan dugaan bahwa kitab ini merupakan produk Gnostisisme pada paruh kedua abad ke-2 M. Beberapa sarjana berpendapat bahwa Injil Filipus memiliki banyak kesamaan konsep dengan Gospel of Truth yang ditulis oleh pengikut aliran gnostik Valentinian.
(a) Konsep dualisme yang menganggap dunia (materi) jahat dan Allah/roh/jiwa (non-materi) baik. Dalam 75:2b-14 secara eksplisit dinyatakan bahwa dunia ini terjadi akibat kecelakaan dan tidak sesuai dengan rencana awal yang menghendaki dunia diciptakan sebagai sesuatu yang tidak dapat binasa.
(b) Keyakinan bahwa segala sesuatu akan larut ke asalnya masing-masing. Hanya mereka yang dimuliakan di atas dunia yang menjadi kekal dan tidak akan larut.
(c) Pemunculan ungkapan “kamar pengantin” (bridal chamber) yang merupakan kosa kata khas Gnostisisme.
(d) Pemberian wahyu dari Allah yang sifatnya rahasia (tanpa saksi). Salah satu teks bahkan menyatakan “Tuhan melakukan segala sesuatu secara rahasia (atau dalam sebuah misteri).

Setelah mempelajari kelemahan-kelemahan Injil Filipus jika dilihat secara analisa historis, sekarang akan dibahas teks yang kontroversial seputar hubungan Yesus dan Maria Magdalena.
Benarkah Maria adalah istri Yesus...?
Benarkah Yesus sering mencium mulut Maria...?
Untuk menjawab pertanyaan itu, secara khusus akan diselidiki dua hal.
Pertama, arti kata koinonos dalam frase “teman/istri dari [Juru Selamat]”. Kata koinonos bisa berarti teman atau istri. Berdasarkan pemakaian kata ini dalam literatur Yunani, koinonos sebaiknya dipahami sebagai “teman”. Seandainya yang dimaksud adalah “istri”, maka penulis Injil Filipus pasti akan memakai kata yang lebih umum, yaitu gunh.
Kedua, ciuman Yesus kepada Maria Magdalena. Yang pertama yang tidak boleh dilupakan adalah kesulitan dalam menebak kata apa yang hilang dalam frase “mencium [...]nya. Berdasarkan jumlah huruf yang mungkin diletakkan dalam bagian yang kosong tersebut, kita bisa memasukkan kata “pipi”, “dahi” atau “mulut”. Seandainya yang dimaksud bukanlah “mulut”, maka teks tersebut tidak menyiratkan apapun tentang relasi yang spesifik antara Yesus dan Maria (walaupun menurut budaya waktu itu, tindakan seorang laki-laki yang mencium pipi atau dahi seorang wanita tetap tidak bisa dianggap sebagai hal yang wajar).

Berdasarkan konteks Injil Filipus secara keseluruhan, para sarjana cenderung menduga kata yang hilang memang “mulut”. Seandainya dugaan ini benar, hal ini tetap tidak memberitahu apapun tentang “perkawinan” Yesus dan Maria. Kita perlu memahami bahwa tulisan-tulisan Gnostik penuh dengan simbol. Maria Magdalena sendiri dalam Injil Filipus digambarkan sebagai Sang Hikmat, ibu dari para malaikat dan saudara perempuan dari Juru Selamat. Berdasarkan pemahaman tentang jenis literatur dan teologi Gnostik ini, kita sebaiknya memahami ciuman Yesus “di mulut” (seandainya kata yang hilang memang demikian) dalam kitab ini secara simbolis, yaitu penerusan firman. Hal ini bisa dipahami karena figur Maria Magdalena sebagai Sang Hikmat. Kasih Yesus kepada Maria Magdalena yang melebihi murid-murid lain bisa dimengerti dengan mudah apabila dikaitkan dengan posisi Maria Magdalena sebagai penerima wahyu rahasia secara mistis dalam tulisan Gnostik. Mereka yang mendapatkan wahyu rahasia memang dianggap lebih rohani daripada yang lain.

TUHAN Yesus memberkati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar