Sabtu, 02 Februari 2013

Firman ALLAH Yang Menjadi Manusia (Yesus Kristus)

In the name of Father, Son, and Holy Spirit.

"En arkhe en ho Logos, kai hi Logos en pros ton Theon, khai Theos en ho Logos"

"Kai ho Logos sarks egeneto"

Artinya :

"Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah."

"..... Dan Firman itu menjadi manusia."

Yohanes 1:1,14

Mengapa Yesus disebut Firman Allah oleh rasul Yohanes..?
Apakah ini ada kaitannya dgn Neo-Platonisme..?
Kebanyakan orang yg tidak mengerti dan pura2 tahu alias sok tahu akan mengatakan demikian.
Rasul Yohanes dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme.
Padahal tuduhan ini lemah sama sekali dan tidak berdasar.
Penggunaan istilah yg sama belum tentu membuktikan kesamaan konsep diantara keduanya.
Meskipun rasul Yohanes menggunakan istilah "logos" dlm Injilnya, tetapi maknanya berbeda dengan "logos" dlm filsafat Yunani.
Ada perbedaan yg sangat jauh antara konsep Logos dlm filsafat Yunani dan Logos dlm latar belakang kitab Perjanjian Lama yg menjadi dasar pemahaman rasul Yohanes dlm menggunakan istilah ini.
Tidak digubrisnya konsep yg melatar-belakangi istilah ini dlm Perjanjian Lama, dpt menimbulkan kesalahpahaman yg terus - menerus terhadap iman Kristen.
Kesamaan istilah belum membuktikan makna yg sama antara masing2 kelompok yg menggunakan istilah itu.
Contohnya, penggunaan istilah "surga" dlm terminologi agama Islam dan Kristen.
Namun, arti kata "Surga" dlm Kristen dan Islam berbeda dgn apa yg dimaknai oleh agama Hindu.
Surga, adalah bahasa Indonesia yg diserap dr bahasa Sansekerta ,"Svarga".
Kata "Svarga" dlm bahasa Sansekerta berasal dr dua kata, yakni "Svar" yg artinya "cahaya" dan "Ga" yg artinya "Pergi".
Dlm agama Hindu, Surga adalah perjalanan menuju cahaya, dan dimaknai sebagai sebuah tempat persinggahan sementara sebelum mencapai tujuan tertinggi yakni "moksha".
PertanyAannya :
Apakah dengan menggunakan kata "Surga" dlm terjemahan Alkitab dan Alquran berbahasa Indonesia, lantas dapat dituduhkan bahwa konsep Surga dlm Kristen,Islam dan Hindu itu sama..?
Tentu Qt g' bisa menyimpulkan sesederhana itu.
Meskipun umat beragama (Kristen, Islam dan Hindu) di Indonesia sama2 mengenal istilah Surga/Swarga, tp masing2 kelompok memiliki konsep yg berbeda satu sama lain.

Demikian juga penggunaan istilah "Logos" dlm kitab Injilnya, tÉlah ada Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama dlm bahasa Yunani yg berasal dr abad ke 2 SM yg menggunakan kata tersebut.
Hal ini dpt dilihat dr ayat dibawah ini yg dikutip langsung dr Septuaginta.

"To logo tou kuriou hoi ouranoi estereothesan...."

"Oleh Firman Tuhan langit telah dijadikan..."

Mazmur 33:6

Septuaginta menggunakan kata Logos sbg terjemahan dr kata Ibrani "Dabar".
Septuaginta, memang ditulis untuk orang2 Yahudi perantauan, sebab itu menggunakan bahasa Yunani.
Namun konsep Logos dlm ajaran Neo-Platonisme tidak digunakan.
Dlm filsafat Yunani, Logos adalah sebuah intermediary being / mahluk perantara, yg bukan Allah dan bukan manusia.
Konsep Neo-Platonisme mengenai Logos ini dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa Allah tidak mungkin berhubungan dgn dunia ciptaan yg serba berubah dan tidak tetap.

Ajaran Neo-Platonisme ttg Allah dan dunia sangat berbeda dgn ajaran Alkitaj.
Para penuduh tersebut jelas2 tidak pernah mempelajari ini.
Dalam Alkitab, Logos / Firman Allah itu adalah pernyataan diri Allah sendiri.
Firman Allah bukanlah keberadaan laind di luar Essensi Allah.
Alkitab menegaskan bahwa Firman Allah / Logos bukan ciptaan Allah.
Firman Allah / Logos adalah Hikmat Allah yg berdiri didalam Esensi Allah.
Jd bisa disimpulkan, kata "Logos" dlm filsafat Neo - Platonisme berbeda makna dan konsepnya dgn kata "Logos" yg digunakan rasul Yohanes dalam Injilnya.

Seluruh ajaran Perjanjian Baru dilatar belakangi oleh Perjanjian Lama.
Dalam hal ini juga terkait ttg makna gelar "Firman Allah" bagi Yesus.
Latar belakang itu dapat dilacak dr sumbernya, Tarqum Aramaic.
Tarqum adalah terjemahan paraphrase berbahasa Aram dr Perjanjian Lama bahasa Ibrani.
Seperti diketahui, setelah pembuangan ke Babel, orang-orang Yahudi menjadi terbiasa menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa sehari-hari sementara bahasa Ibrani hanya digunakan di sinagoge dan upacara keagamaan resmi di Bait Allah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, gelar Logos yg diterapkan pada Yesus, sepenuhnya berakar dr latar belakang Perjanjian Lama, yakni kitab Tarqum dan hampir semua Teolog yg mempelajari Yudaisme sepakat akan hal ini.
Para teolog yg dulunya berusaha mencari akar hellenis dlm injil Yohanes, kini beralih ke Tarqum.
Menurut mereka, injil Yohanes sepenuhnya berlatar belakang Perjanjian Lama dan bukan dunia hellenisme.
Semakin dicari persamaannya dgn dunia Yunani, semakin ditemukan perbedaan diantara keduanya.

Dlm Tarqum, ketika berbicara tentang pernyataan diri Allah, maka kata YHWH atw Elohim, hampir selalu diterjemahkan dlm bahasa Aram sebagai "Memra YHWH / Firman ALLAH".
Frasa Memra YHWH ini terus digunakan secara konsisten dlm Tarqum untuk menunjuk pribadi Allah.
Dengan kata lain, Memra YHWH atw firman AllÀh adalah semacam Ñama istimewa dr Allah sendi®i.
Dan ungkapan inilah yg melatar belakangi penggunakan "lÓgos" dlm Injil Yohanes.

Contoh penggunaan Memra Alaha dalam Tarqum dÍbawah ini, diambil laÑgsung dr Tarqum berbahasa Aram dan Perjanjian Lama bahasa ibrani.

Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.
Kejadian 28:20-21

Ayat diatas adalah terjemahan dr text bahasa Ibrani.
Dlm Tarqum berbahasa Aram, kata "Allah" dan "TUHAN" diterjemahkan sebagai "Memra YHWH" atw "Firman Allah".

And Jacob vowed a vow, saying, If the Word of the Lord will be my help, and will keep me in which I go, and will give me bread to eat, and raiment to wear, and bring me again peace to my father's house; The Word of The Lord shall be my God:"
Gen 28:20-21

Artinya

"Dan bernazarlah Yakub, jika Firman Tuhan / Memra YHWH menjadi sumber pertolonganku dan menjagaku di jalan yang aku tempun dan memberikan roti untuk aku makan, dan pakaian untuk aku kenakan, serta membawa aku kembali dengan selamat ke rumah ayahku, maka Firman Tuhan / Memra YHWH akan menjadi Ilahku"

Kedua kutipan kitab suci di atas, baik teks Ibrani maupun TÀrqum A®amaÍc, bila diperhatikan sekilas tidak ada perbedaan. Namun jika diperhatikan antara keduanya, terutama terkait penggunaan namÀ Allah. Tarqum berbahasa ArÀm menerjemahkan kata "Elohim / Allah" dan "YHWH / TUHAN" menjÀdi "Memra YHWH / Firman Tuhan."

Jd dalam Tarqum, f®asa "Memra YHWH / Fi®man Tuhan" selalu digunakÀn untuk meruju“ pribadi Allah sendiri.
Makna dr ungkapan Tarqum diatas, bukaÑlah sebuah perkataan atw katÀ2 yg dÍucapkan, tetapi menunjuk Pribadi Allah dÀlam pernyataan-Nya kepada umÀt-Nya.
Sejauh Alllah menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya, maka Tarqum Aramaic menerjemahkan nama Allah tersebut dengan ungkapan Memra YHWH/Firman Tuhan.

Dan dalam Injil Yohanes 1:1, Qt jg membaca penuturan rasul Yohanes melalui pewahyuan Roh Kudus, bahwa "Firman bersama-sama dengan Allah". Ternyata, ungkapan ini sudah dikenal di dalam Tarqum.

Contoh :

Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman kepadanya: "Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun."
Kejadian 31:24

Targum Aramaic
"We Atta Meymra min Qedem Alaha lwat Laban Arama'a be-khalma d-leyla."

Artinya :
"Maka datanglah Firman bersama-sama dengan Tuhan (min Qedem Alaha) melalui mimpi kepada Laban orang Aram itu..."

Dlm Perjanjian Lama bahasa Ibrani tertulis bahwa "Allah datang kepada Laban melalui suatu mimpi...".
Targum Aramaic di atas menerjemahkan kata "Allah tersebut dengan ungkapan "Memra min qedem Alaha", Firman yg bersama-sama dengan Allah.
ketika orang Yahudi membaca ungkapan tersebut dlm Targum, mereka akan langsung memahami bahwa yg dimaksud adalah Allah sendiri.
Ungkapan Targum inilah yg menjadi latar belakang dlm Injil Yohanes 1:1 bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah.

Contoh lain :

supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.
Kejadian 24:3

Targum Aramaic :
" We 'aqayyem 'alad be Meymra d' Alaha, Alaha d'symaya wa Alaha ar'a."

Artinya :
"Agar aku mengambil sumpahmu demi Memra YHWH, Alaha d'symaya wa Alaha d'ar'e / Allah langit dan bumi...."

Targum menerjemahkan teks Ibrani yg berbunyi : YHWH Elohe Hasy-syamayim we'lohe ha arets...

Sekali lagi bisa dilihat bahwa dlm Targum, frasa Memra YHWH telah menjadi semacam nama diri Allah sendiri ketika Dia menyatakan diri atw disebut bersama umat-Nya.

Keluaran 19:17
Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung.

TÀrgum ArÀm :
"We afeig Moshe yat 'amma le qadmut Meymra d'Alaha min masy-rita we'it'atadu be syifole muura."

Artinya :
Kemudian Musa membawa bangsa/'ama itu untuk berjumpa Firman Allah / Memra Alaha..."

Dlm teks Ibrani tertulis bahwa Musa membawa umat Israel untuk menjumpai Allah.
Namun bagaimana "cara" berjumpa umat Israel dengan Allah di dalam keterbatasan manusia yg berdosa untuk berdiri di hadapan Allah yg maha kudus dan maha tinggi.
Karena itu, Targum menerjemahkan teks bahasa Ibrani ini ke dalam bahasa Aram sebagai berikut : "...We afeig Moshe yat 'amma le qadmut Meymra d'Alaha"
Le Qadmut Meymra d'Alaha,"untuk bertemu dengan Memra Alaha / Firman Allah."

Berdasarkan contoh diatas, dpt disimpulkan bahwa ungkapan Memra Alaha atw Memra YHWH menjadi semacam sebutan khusus bagi Allah.
Terutama ketika Allah, yg transendensi-NYA begitu dijaga dlm Yudaisme, dikisahkan berinteraksi dgn umat-Nya, maka digunakan ungkapan "Memra YHWH" sebagai terjemahan dr kata Allah (Ibrani : Elohim atw YHWH).

Dr pengkajian ini, Qt bisa mengerti latar belakang dan makna digunakannya "Logos" (Aram : Memra Alaha) dlm injil Yohanes.
Tujuan Yohanes, bila pembaca injilnya adalah orang Yahudi, maka mereka dapat menangkap maksud ungkapan "Memra Alaha" yg digunakan rasul Yohanes.
Sebagai orang Yahudi, rasul Yohanes tidak mungkin langsung berkata kepada mereka bahwa YHWH menjadi manusia.
Karena itu, Injil Yohanes menggunakan istilah theologis yg sudah dipahami oleh orang Yahudi saat itu.
Maksudnya, ketika dikatakan bahwa Logos / Memra Alaha menjadi manusia, orang Yahudi dpt melihat hakikat Yesus yg sebenarnya.
Yesus adalah pernyataan YHWH sendiri dlm daging

Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan."
1 Timotius 3:16

Latar belakang Perjanjian Lama ini perlu dipahami dgn baik oleh setiap umat Kristen.
Mereka yg tidak mengetahui latar belakang Injil Yohanes, seringkali salah menafsirkan injil ini.
Dalam menyatakan pewahyuan-Nya, Allah juga memperhatikan aspek-aspek budaya yg bisa menjembatani maksud Allah.
Tentu sejauh hal itu g' bertentangan dgn aspek etis-moral Pribadi Allah.

Selain dasar theologis diatas, ada hal-hal lain yg mendasarkan keyakinan umat Kristen mengapa Yesus disebut Firman Allah, terlÉpas dr konsep yg digunakan oleh rasul Yohanes diatas.

Dalam beberapa ayat Perjanjian Lama, Qt dalam banyak kesempatan membaca pernyataan para nabi atw bahkan ALLAH ttg bagaimana ALLAH menyatakan wahyu-Nya.
Bagaimana Qt yakin kalau Yesus Kristus adalah Firman Allah yg berbicara kepada para nabi dalam Perjanjian Lama..?

Sebuah ayat dari Perjanjian Lama yg ditulis oleh nabi Yesaya mengatakan demikian :

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Yesaya 55:11

Yesus Kristus berasal dari Allah atw dengan sederhana dikatÀkan, Yesus Kristus adalah utusan Allah yg tidak akan gagal melaksanakan kehendak-Nya.
Dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menggambarkan apa yg harus dan akan diterima utusan-Nya.
Logically...
Untuk meyakinkan diri-Nya sendiri dan membuktikan ucapan-Nya kepada manusia bahwa Firman-Nya tidak akan gagal, maka Dia turun kedalam dunia manusia dan menjadi manusia.
Mengapa Firman-Nya harus menjadi manusia..?
Karena manusia lemah terhadap godaan, beberapa diantaranya rasa lapar jasmani dibandingkan rohani dan kekuasaan.
Selain hal diatas, ayat itu juga berbicara tentang ketaatan atw dengan bahasa sederhananya,"Jangan bisanya ngomong doank, semua orang bisa ngomong tp melakukan apa yg diomongkan belum tentu semua orang bisa (tentu saja ini berbicara ttg hal2 yg positive)".
Dalam Perjanjian Lama, Allah bisa dikatakan "Rajanya bertheory, Dia g' tw gimana rasanya jd manusia, Dia cuman bisanya ngomong doank, coba aja klo Dia jadi manusia, Dia g' bakal ngomong kaya gitu, Dia bisanya menghukum 'n menghukum, g' tw rasanya klo ngikutin apa yg Dia bilang itu susah"
(Asumsi pribadi Sy)
But...
We, humen, absolutely wrong at all..
Ternyata...
Yesus Kristus membuktikan diri-Nya bahwa Dia bisa melakukan kehendak Bapa dengan sempurna, bukan dengan paksaan atw biar dibilang hebat, tp dengan kerendahan hati.
Dengan kerendahan hati-Nya, Yesus Kristus melakukan seluruh kehendak Bapa.
Bahkan ketika Dia akan diangkat sebagai raja, Dia menolak, sementara pengaruh-Nya sudah meluas,dengan segala kekurangan-Nya, Dia justru memberikan apa yg pengikut-Nya berikan kepada-Nya kepada yg membutuhkan.
Ketika Dia dicaci, dihina dan disesah bahkan dlm keadaan tidak berdaya, Dia mendoakan mereka yg melakukan itu terhadap-Nya,Dia berdoa kepada Bapa supaya mengampuni mereka.
Teladan yg Dia berikan luar biasa dan tentu saja, apa yg dilakukan Yesus Kristus, Firman yg menjadi manusia menjawab keraguan Allah akan diri-Nya sendiri dan juga tantangan manusia kepada Allah.

Next...
Bagaimana Qt bisa menjadi lebih yakin lagi Yesus Kristus adalah Firman Allah yg berbicara kepada para nabi dalam Perjanjian Lama.
Ketika Qt membaca Perjanjian Lama, Qt menemukan bahwa ketika para nabi berbicara kepada manusia membawa wahyu Allah, mereka selalu berkata,,"Firman Allah datang kepadaku...." Atw "Firman Allah berbicara kepadaku..." Atw "...demikianlah Firman Allah".
Tapi Yesus, dengan otoritas-Nya sebagai Firman mengatakan kepada pengikut-Nya.,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya....." Atw "Amen I said to you...." Atw "Kamu telah mendengar Firman.....tapi Aq berkata kepadamu...."
Para murid yg mendengar perkataan Yesus kemudian akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus Kristus adalah Firman yg menjadi manusia dan hal ini juga yg telah dikonfirmasi oleh st Lukas dlm Injilnya bahwa para murid Kristus adalah pelayan Firman.

seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
Lukas 1:2

Dengan demikian, Qt bisa menjadi yakin bahwa Yesus Kristus adalah wujud theory dan praktik dr Allah itu sendiri

"Almasih (Ibnullah al-hayy), fa huwa Allahu al-Zhahiru fi al-Jasad.
Huwa Allah lam yakun manzhuran fi al-'ahd al-qadim,wa shara manzhuran fi al-'ahd al-Jadid fi al-Masih"

Artinya :

Kristus (Anak Allah yg Hidup), Dia adalah Allah yg menampakan diri dalam daging. Dialah Allah yg tak nampak dalam Perjanjian Lama, dan sekarang menampakan diri dalam Perjanjian Baru, di dalam Pribadi Kristus.

Sebutan "Anak Allah" bagi Yesus, hendak menunjukan kesatuan Esensi antara Sang Firman dan Sang Bapa.
Gelar itu juga menegaskan bahwa Dialah yg menyatakan Pribadi Allah. Karena itu, sebutan Bapa dan Putera sama sekali tidak berkonotasi biologis. Hal itu menunjukan hubungan khusus antara Allah dan Firman-Nya, dalam kaitannya dengan inkarnasi.

Selain itu, sepanjang pelayan-Nya, Yesus kerap kali menggunakan ungkapan "Ego Eimi", baik dengan predikat maupun tanpa predikat.
Misalnya,,"Ego Eimi ho Artos (Akulah roti hidup)" Yoh 6:35 , "Ego Eimi ho Poimen (Akulah Gembala" Yoh 10:11.
Dlm ungkapan berpredikat di atas, Yesus hendak menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yg digambarkan dalam Perjanjian Lama.
Demikian juga ketika Dia menyatakan "Ego Eimi ho Hodos, kai ho Aletheia, kai he Zoe / Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup" (Yoh 14:6).
Pernyataan ini tidak akan mungkin diucapkan oleh manusia biasa bahkan seorang nabi besar pun tidak.
Jika Yesus berani mengatakan hal itu, jelas Dia lebih dari sekedar seorang nabi.
Ungkapan "Ego Eimi" sendiri berasal dr ungkapan Ibrani "Ani Hu / Akulah Dia".
Pernyataan Allah yg menggambarkan keberadaan-Nya dlm segala kebesaran-Nya.
Septuaginta menerjemahkan frasa "Ani Hu" menjadi "Ego Eimi" dpt dilihat dalam :

Yesaya 43:10
"Attem eday neum-YHWH (Adonai). We 'avdiy asyer bakharti lema'an ted'u we ta'aminu li we taviÑu ki-Ani Hu le fanay lo-notsar el we akharay lo yihyeh."

Septuaginta menerjemahkan ayat ini sbb :
"Genesthe moi martures kago martus legei kurios ho Theos hai ho paos hon ekselesamen hina gnote kai pisteusete kai sunete hoti Ego eimi Emprosthen mou ouk egeneto allos Theos kai met eme ouk estai."

Diterjemahkan oleh LAI sbb :
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.

Dlm kitab Yesaya di atas, ungkapan "Ani Hu" diterjemahkan dlm bahasa Yunani "Ego Eimi". Ungkapan yg berasal dr pernyataan Allah kpd Musa ketika Allah mengutus Musa untuk membebaskan bangsa Israel.

Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
Keluaran 3:14

Pernyataan "Aku adalah Aku", dlm bahasa Ibrani ditulis "Ehyeh asyer Ehyeh" yg dlm terjemahan Septuaginta menjadi "Ego Eimi ho on" menurut tafsiran para rabbi Yahudi sendiri berkaitan erat dengan ke"Mahahadir"an Allah, baik dahulu, sekarang dan akan datang.

Inilah latar belakang ungkapan "Ego Eimi" yg diucapkan Yesus.
Dengan mengatakan itu, Yesus hendak menyatakan kepada orang Israel bahwa Ia adalah YHWH, Firman Allah yg berbicara kepada para nabi Perjanjian Lama dan menyatakan diri-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa keyakinan primitif mengenai dewa-dewi yg beranak dlm jazirah Arab kuno atw manusia setengah dewa akibat hubungan biologis dewa dengan manusia sama sekali asing bagi Alkitab.

Allah begitu besar dan jauh dr umat-Nya, namun melalui Firman-Nya, umat Allah mengenal-Nya.



Sebagian besar tulisan ini disadur dr buku :
Ketritunggalan dan Keesaan Allah.
Antara Kesesatan dan Kebenaran
Oleh :
Leonardo Winarto


Sebagai referensi silang bisa dibaca disini :

Yeshua Memra YHWH
https://www.facebook.com/notes/leonardo-winarto/yeshua-memra-yhwh/130030785812

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar