Sabtu, 02 Februari 2013

Sejarah Singkat Penyaliban

Sejarah Singkat Penyaliban
Disadur dari buku :
Yesus Yang Disalib Bagiku
"Mengungkap Fakta Medis di Balik Penyaliban dan Kematian Yesus."
Mark A Marinella, MD., F.A.C.P.


Interlude

Meskipun penyiksaan fisik dan pembunuhan Kristus sungguh-sungguh mengerikan, pengalaman ditinggalkan dan disingkirkan (pemisahan rohani) Sang Anak dr Bapa seperti yg Yesus jalani untuk menebus dosa manusia, Yesus yg berinkarnasi )sepenuhnya manusia dan sepenuhnya ALLAH) lebih dr 2000 tahun yg lalu, telah melakukan semuanya itu dengan baik untuk menggenapi peran-NYA di bumi dan dengan sukarela menderita, mati dan memikul dosa seluruh dunia pd tubuh-NYA sendiri.

Menurut Dr D. James Kennedy dan Dr Jerry Newcombe. :
Dalam Injil, sepertiga Injil Matius, Markus dan Lukas membahas penderitaan dan kematian Kristus; separuh Injil Yohanes membahas minggu terakhir kehidupan Yesus. Pengakuan Iman Rasuli yg meneguhkan fakta kehidupan Kristus, mengambil lompatan yg sangat besar dr kelahiran Kristus ke penderitaan dan kematian-NYA. Pengakuan itu melompati seluruh pelayanan-NYA. Pengakuan Iman tidak mengatakan apa-apa tentang ajaran Yesus yg agung, teladan-NYA yg sempurna atau mujizad luar biasa yg Dia lakukan. Fokus semua karya-NYA adalah menyampaikan betapa pentingnya penderitaan dan pengorbanan Kristus."

Faninus, seorang awam terpelajar, yg menjadi martir pd 1550 di Italia karena imannya mengatakan demikian pd hari eksekusinya :
" Kristus menanggung segala macam kepedihan dan konflik, serta neraka dan maut, demi kita. Dengan melalui penderitaan-NYA, Dia membebaskan orang-orang yg sungguh-sungguh percaya kepada-NYA dr ketakutan mereka."

Karena kekudusan ALLAH, dosa umat manusia, keadilan ALLAH dan kasih-NYA, Yesus dgn sukarela memikul salib untuk menyelamatkan manusia (menanggung hukuman yg seharusnya ditanggung manusia) yg percaya kepada-NYA :

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Matius 26:39

Cawan itu berisi seluruh dosa dunia. Kristus mengambil cawan pahit perpisahan dr ALLAH dan murka-NYA atas dosa dalam ketaatan.
Dia sempurna dan kudus, dengan sukarela mempersembahkan hidup-NYA sendiri, mengambil hukuman yg seharusnya Qt pikul, dlm kematian jasmani dan rohani (perpisahan dr BAPA).
Semua ini untuk menebus dosa seluruh umat manusia, baik pd masa lalu, sekarang, maupun yg akan datang, bagi orang2 yg percata dan akan percata pd penebusan Kristus, dan yg ditulari kebenaran Kristus.
Juruselamat Qt, dengan penuh kemenangan menaklukan maut ketika Dia bangkit dr kematian.

Ini adalah penderitaan (passion) Yesus Kristus.
Kata "passion" berasal dr bahasa Latin yg berarti "tunduk pada penderitaan."
Yesus diolok dan diejek, diludahi, dipukul, serta dicambuki. Punggung-NYA terkoyak-koyak. Dahi-NYA rusak dan berdarah karena mahkota duri yg dibenamkan ke daging-NYA. Dia disalibkan dan dikutuk dgn kematian yg paling brutal dan penuh kesakitan, secara fisik maupun rohani. Semuanya itu ditanggung-NYA demi kita

Aku mengasihi Engkau, karena Engkau terlebih dahulu mengasihi aku, dan membeli pengampunanku di salib Golgota.
Aku mengasihi Engkau karena Engkau mengenakan duri-duri di dahi MU;
Jika aku pernah mengasihi-MU, Yesusku, itulah sekarang
William R Featherstone

Percaya kepada Kristus berarti menerima Dia sebagai Tuhan dan tuan atas hidup Qt.
Napoleon pd hari-hari terakhirnya di St. Helena berkata :
"Delapan ratus tahun lalu, Kristus membuat tuntutan yg jauh melampaui segala hal lainnya dan sulit untuk dipenuhi. Dia meminta sesuatu yg mungkin seringkali dicari filosof di tangan teman-temannya, atw seorang ayah dr anak-anaknya, atw pengantin dr pasangannya.
Dia meminta hati manusia, untuk diri-NYA sendiri, secara ekslusif menjadi milik-NYA.
Luar biasa !!!
Menembus tantangan waktu dan ruang, jiwa manusia dgn segala kekuatannya digabungkan dengan Pemerintahan Kristus."

Penyaliban :
"Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang,maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu."
Ulangan 21:22-23

Selama masa Keluaran dan awal pendudukan Tanah Perjanjian, ALLAH memberi keputusan dan perintah untuk diikuti dgn tertib oleh bangsa Israel.
Penjahat yg dihukum mati seringkali digantung dipohon untuk menghalangi orang lain melakukan pelanggaran yg sama.
Namun mayat itu tidak boleh dibiarkan tergantung di pohon semalam-malaman.
Sama halnya, mayat orang yg disalibkan pd malam menjelang Paskah atw Sabath, harus diturunkan sebelum matahari tenggelam.
Yesus dikutuk oleh manusia dan ALLAH untuk menyerap semua dosa masa lalu, sekarang dan yg akan datang, serta tergantung di kayu salib agar dilihat semua orang.
Rasul Paulus menunjuk kutuk ini dlm Galatia 3:13
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Penyaliban merupakan bentuk hukuman mati pd zaman kuno, dimana korbannya diikat atau dipaku pd tiang kayu atau salib.
Alkitab menyinggung ttg ini dlm Ulangan 21:22-23.

Namun, pd zaman Musa dlm sejarah Yahudi, korbannya biasanya dilempar batu terlebih dahulu, kemudian setelah mati digantung di pohon, sebagai tontonan umum tentang kutukan ALLAH dan manusia. Tindakan penyaliban dimana tertuduh diikat di pohon, atw salib sebagai sarana kematian kemudian diperkenalkan oleh budaya non Yahudi.

Hukuman mati pd zaman kuno bisa sangat brutal. Bahkan, 3 bentuk eksekusi yg paling barbar dikatakan adalah :
1. Crux (Salib, siksaan, penyaliban)
2. Crematio (Membakar hidup-hidup dgn api)
3. Decollatio (Penggal kepala).
Dari ketiganya, penyaliban dipandang yg paling brutal.
Cicero, politisi dan orator Romawi menyatakan bahwa penyaliban merupakan "kematian yg paling kejam dan mengerikan."
Penyaliban tampaknya berasal dr budaya Asyur dan Babel.
Yg menarik, kedua bangsa inilah yg membawa orang Yahudi ke pembuangan. Bangsa Asyur menaklukan Kerajaan Utara (Israel) pd 722 SM dan bangsa Babel menaklukan Kerajaan Selatan (Yehuda) pd 605 SM.

Namun, penyaliban kemungkinan jg dipakai sebagai sarana eksekusi secara rutin oleh bangsa Persia pd abad ke 6 SM. Bangsa Persia, 600 tahun sebelum Kristus disalibkan oleh bangsa Romawi, secara khusus mengikat korban pada pohon (infelix lignum) atw menyulakan pd tiang vertikal (crux simplex). Dlm kitab Ezra, raja Persia Koresy mengeluarkan keputusan :

Selanjutnya telah dikeluarkan perintah olehku, supaya setiap orang yang melanggar keputusan ini, akan dicabut sebatang tiang dari rumahnya, untuk menyulakannya pada ujung tiang itu dan supaya rumahnya dijadikan reruntuhan oleh karena hal itu.
(Ezra 6:11)

Hukuman penyulaan pada tiang atw tonggak yg brutal ini merupakan contoh cru simplex. Sama halnya dlm Ester 2, ketika raja Persia Ahasyweros mendengar persengkokolan yg direncanakan oleh 2 penjaga istana untuk membunuhnya, dia memerintahkan kedua orang itu disulakan di tiang. Itu merupakan bentuk standar penyaliban di Persia kuno. Ayah Ahasyweros, raja Darius, suatu kali menghukum mati 3.000orang melalui penyulaan di atas tiang (crux simplex).
Contoh lain ttg penyulaan crux simplex dicatat dlm Ester 5, Haman dan istrinya berencana menyulakan Mordekhai pd tiang setinggi 22 meter yg akan terlihat dr segala penjuru. Sama halnya dlm Ratapan 5:12, nabi Yeremia menggambarkan orang2 muda Yahudi di pembuangan "digantung oleh tangan mereka", yg mungkin merupakan bentuk penyaliban primitif yg melibatkan penyulaan atw penggantungan di tiang kayu. Baru belakangan dlm sejarah, salib yg digunakan untuk penyaliban memakai bentuk yg Qt pandang "tradisional".

Alexander The Great (356-323 SM), raja Makedonia, yg mempopulerkan zaman Helenistik, membuat bahasa Yunani sebagai bahasa universal di pemerintahan maupun kesusasteraan. Ia diduga belajar penyaliban dr budaya yg sudah disebutkan sebelumnya, dan akibatnya memperkenalkan penyaliban di wilayah Meditarenia pd abad 4 SM. Setelah itu, penyaliban dipelajari dan dilakukan di Mesir, Fenisia, Syria, dan Kartago. Selama perang Punik antara Kartago (kota kuno di Afrika Utara dekat Tunisia Modern, Tunisia) dan Roma, bangsa Roma belajar tehnik penyaliban dan dengan cepat memakainya sebagai bentuk hukuman mati. Bangsa Romawi menggunakan penyaliban selama beberapa ratus tahun sampai akhirnya dihapuskan oleh Kaisar Konstantin I karena cara tersebut dipandang kejam. Orang Yunanu sendiri tidak melakukan penyaliban krn mereka memandang hal itu terlalu brutal dan tidak manusiawi.


Bangsa Romawi Menyempurnakan Tehnik Penyaliban

Pada zaman Kristus, Romawi merupakan budaya yg paling dominan dan secara rutin menggunakan penyaliban sebagai metode utama hukuman mati. Cara ini terutama diterapkan pd bangsa non Romawi, kecuali dlm situasi khusus seperti desersi militer.
Bangsa Romawi menyalibkan orang Kristen, orang asing, pemberontak dan budak.
Di abad k 4 SM misalnya, bangsa Romawi menyalibkan sekitar 2.000 orang Yahudi.
Yosephus, ahli sejarah abad pertama, mencatat penyaliban massal yg terjadi selama perang Yahudi, termasuk penganiayaan dibawah Kaisar Tiberius pd abad ke 19 SM, penghancuran Yerusalem pd abad 70 M yg mengakhiri negara Yahudu, dan akhirnya pemberontakan Bar-Kochba yg gagal untuk memulihkan negara Yahudi pd 135 M.

Di Palestina, pd abad pertama, yg diduduki oleh Romawi, pemberontakan terhadap pendudukan Romawi merupakan hal yg biasa, khususnya oleh para pejuang agama. Bangsa Romawi membunuh banyak orang krn memprotes pemerintah.
Tidak semuanya adalah penjahat, seperti pencuri atw pembunuh. Sesungguhnya, tuduhan terhadap Kristus mencakup pemberontakan dan rencana untuk menggulingkan pemerintah Romawi dgn meneguhkan diri-NYA sebagai Raja. Para pemimpin agama juga menuduh Dia melakukan penghujatan. Ketika Yesus berdiri di depan Pilatus, para pemimpin menyatakan,"Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak akan menyerahkan-Nya kepadamu." (Yoh 18.30). Namun bangsa Yahudi, dibawah Romawi, tidak memiliki otoritas untuk melakukan hukuman mati sehingga mereka harus memohon kpd pemerintah Romawi.
Itulah sebabnya Yesus tampil dihadapan Pilatus setelah dituduh oleh imam besar dan Mahkamah Agama, atw dewan pemerintahan Yahudi.

Bangsa Romawi meneruskan hukuman penyaliban lama setelah Yesus mati. Yosephus mencatat bahwa selama bangsa Romawi mengambil alih Yerusalem pd 70 M, ratusan tahanan Yahudi disalibkan setelah mereka bangkit menentang Romawi yg menawan mereka.

Mereka pertama dicambuk kemudian disiksa dengan segala macam siksaan sebelum mereka mati, dan disalibkan di depan tembok kota...para prajurit, karena marah dan benci terhadap orang Yahudi, menyalibkan orang2 yg mereka tangkap di kayu salib dgn posisi berbeda-beda, sebagai bahan lelucon.
(Josephus. Jewish Antiquites. Trans. L. H. Feldman. Loeb Classocal Library. Cambridge, MA : Harvard University Press, 1957, [III:321;V:362-420]

Yosephus juga mencatat tindakan khusus tidak manusiawi yg dilakukan oleh Antiokhus IV, dimana anak korban yg tercekik digantungkan di sekeliling lehernya. Kekejaman ini terjadi selama penghancuran Yerusalem dan Bait Suci pd 70 M oleh Romawi dan telah dinubuatkan Yesus dlm Lukas 23:28-30, sementara memikul salib-NYA ke Golgota, sebagai respons terhadap perempuan2 di sepanjang jalan yg meratap dan menangisi Dia :

Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!

Nubuat ini tidak diragukan lagi diingat oleh orang-orang yg hadir pd saat penyaliban ketika hal itu digenapi sekitar 30 tahun kemudian, saat jenderal Romawi Vespasianus menyerahkan kepemimpinan atas pengepungan Yerusalem pd 69M kpd anaknya, Titus.
Titus merampok dan membakar kota Yerusalem. Situasinya begitu memilukan. Ibu-ibu melihat anak-anak lelaki mereka dibunuh dan mayatt mereka ditumpuk di jalan-jalan.
Dikatakan bahwa ibu-ibu yg kelaparan membunuh dan memakan bayi mereka sendiri untuk bertahan hidup. Kristus menubuatkan bahwa invasi Romawi yg akan datang begitu mengerikan sehingga kaum perempuan berharap agar mereka tidak punya anak supaya tidak melihat kematian anak mereka yg mengerikan itu.
Orang yg bertahan hidup dijual sebagai budak, jika berusia dibawah 17 tahun dan yg lebih tua, disalibkan.
Jumlahnya mencapai ribuan di seluruh tanah Yerusalem. Beberapa orang menyatakan bahwa Titus menyalibkan begitu banyak orang selama pembantaian besar-besaran di Yerusalem pd 70 M sehingga tidak ada cukup ruang untuk semua salib itu dan tidak cukup salib untuk seluruh tubuh mereka.

Penyaliban massal oleh tentara Romawi juga dicatat oleh Lucius Anneus Seneccca 4 Sm - 65 M)

"Saya melihat salib-salib disana, bukan hanya satu jenis, tetapi terbuat dalam banyak cara yg berbeda. Beberapa menyalibkan korban mereka dgn kepala di bawah menghadap ke tanah, beberapa menyulakan bagian tubuh pribadi mereka, yg lain merentangkan tangan mereka."
(Senecca, In De Consolation ad Marciam)


Tehnik Penyaliban

Seperti yg dicatat sebelumnya, penyaliban yg paling awal mungkin melibatkan penyulaan korban di atas tiang (crux simplex) atw mengikat di pohon (infelix lignum). Pada masa itu, bangsa Romawi secara teratur menyalibkan orang2. Bentuk awal ini secara luas mulai ditinggalkan orang itu pd berbagai jenis salib. Bangsa Romawi jarang menggunakan salib berbentuk (crux decussate). Kebanyakan korban penyaliban diikat pd salib Latin yg terkenal (crux commisa) atw salib Tau (crux sublimes).
Tradisi mencatat Yesus disalibkan pd jenis salib crux commisa.
Bagian vertikal salib, yg dikenal sebagai stipes, ditanamkan secara permanen di tanah, biasanya tepat di luar kota diwilayah yg ramai dilewati orang sehingga semua orang yg lewat bisa menyaksikan peristiwa yg mengerikan ini dan takut untuk melakukan kejahatan atw pemberontakan.
Bagian horizontal salib dikenal sebagai patibulum; beratnya antara 45-90 kgs, dan secara khusus dibawa di atas pundak tertuduh ke tempat penyaliban. Setelah itu, patibulum diikat pd stipes dgn paku atw tali. Sometimes, penopang untuk pantat (sedile) diikatkan pd bagian tengah stipes. Namun, lebih sering hal ini tidak dilakukan krn alat ini memberi kelegaan kpd orang yg disalibkan, yg tidak ingin diberikan oleh tentara Romawi.

Setelah korban dipandang bersalah dan dihukum mati dgn cara disalibkan, satu tim tentara Romawi memimpin dia dlm prosesi yg penuh penghinaan ke tempat kematian.
Hal ini dilakukan supaya orang takut, bahkan untuk memikirkan melakukan kejahatan yg sama seperti tertuduh.
Prajurit pd bagian depan prosesi membawa plakat, yg dikenal dgn nama titulus, yg memuat nama korban dan kejahatannya.
Prajurit2 itu menempelkan titulus pd bagian atas tiang kayu yg panjang di tempat yg panjang di tempat yg cukup tinggi sehingga orang yg lewat bisa melihatnya dgn jelas.
Korban biasanya ditelanjangi saat disiksa sebelum penyaliban dan dipaksa memikul patibulum dlm keadaan telanjang. Ini merupakan taktik yg dimaksudkan untuk menimbulkan rasa malu lebih lanjut. Hukum Romawi mewajibkan korban penyaliban untuk dicambuki, atw disiksa dgn cara dicambuk sebelum dieksekusi.
Hanya perempuan yg dikecualikan.
Pencambukan ini bertujuan untuk membuat korban lemah-bukan untuk membunuh.
Namun beberapa orang sudah mati selama pencambukan.
Selain itu, orang Romawi kadang menggunakan bentuk siksaan lain dan pemenggalan seperti memotong lidah atw mencungkil mata korban.

Setelah tertuduh dibawa ke lokasi, dipakukan di patibulum, dan dirikan di stipes, seorang perwira Romawi memimpin penyiksaan itu sampai mati, yg bisa memakan waktu 3 - 4 hari.
Kadang orang mati itu ditinggalkan di kayu salib.
Pembusukan dlm iklim hangat akan terjadi dengan cepat dan menghasilkan bau busuk yg menembus perbatasan.
Namun hukum Romawi mengizinkan keluarga korban untuk menurunkan mayat itu dan melakukan penguburan yg sepantasnya jk mereka menghendakinya.
Dlm kasus korban Yahudi, dan terutama malam menjelang Sabat, mayat harus diturunkan sebelum matahari tenggelam (Ulangan 21:22).
Kadang, jika kematian harus dipercepat, tulang kaki yg panjang akan dipatahkan, satu proses yg dikenal sebagai pematahan tulang.
Karena orang yg disalibkan menggunakan kakinya untuk bernafas, pematahan tulang kaki (seperti femur atw tibia) membuat orang itu tidak mungkin bernafas dan mengeluarkan nafas dgn semestinya.
Akibatnya, terjadi sesak nafas dan kematian yg cepat.


Penyaliban Dihapuskan

Penyaliban dipraktikkan selama beberapa abad sebelum Kristus dilahirkan dan tumbuh subur di seluruh kekaisaran Romawi sampai dihapuskan sebagai bentuk hukuman mati oleh kaisar Romawi yg beragama Kristen yg pertama, Konstantin I, pd 337 M.
Meskipun demikian, tidak terhitung banyaknya orang yg dihukum mati dengan cara demikian, yg tidak hanya menderita secara jasmani, melainkan juga menanggung olokan dan rasa malu secara sosial.
Sesungguhnya, karena sifat cabul dan rasa malu yg berkaitan dgn penyaliban, hal itu merupakan topik yg tidak akan dibahas dlm pertemuan sosial.
Cicero mencatat," kata Salib harus dijauhkan, bukan hanya dari diri warga negara Romawi, melainkan dr fikiran, mata dan telinga mereka.
Qt, sebagai orang Kristen, sebaiknya mengingat kutuk penyaliban yg dijalani Kristus dgn sukarela untuk menebus semua orang yg menaruh iman mereka kepada-NYA.
Rasul Paulus meringkas semua bagian ini dgn baik dlm Galatia 3:13
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Referensi
  • Retief, F.P. Dan L. Gilliers. "The History and Pathology of Crucifixion"
  • Friedrich F. "Theological Dictionary of The New Testament".
  • Barbet, P. "Doctor at Calvary: The Passion of Our Lord Jesus Christ as Described by a Surgeon"
  • Walvoord, J.E dan R.B Zuck. "The Bible Knowledge Commentary : Old Testament."
  • Lincoln Library of Essential Information.
  • Edwards W.D , W.J. Gabel dan F.E. Hosmer. "On The Physical Death og Jesus Christ."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar