14 April 2023

Antara Paskah (Pesach - 14 Nisan) dan Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur - 10 Tisri)

Yesus sebagai Anak Domba Paskah.

Pada Hari Raya Pendamaian yang dilaksanakan setiap tahun oleh umat Israel, itu merupakan hari dimana Imam Besar mempersembahkan kurban bagi dosa manusia dalam Tempat Mahakudus di Kemah Suci. Bagaimana hukuman dosa ini dapat disingkirkan...?

Tuhan menyediakan suatu jalan, yaitu melalui sistem persembahan kurban. Hukuman dosa adalah maut. Karena melalui sistem ini, nyawa binatang dipersembahkan sebagai kurban yang menggantikan hidup dari bangsa Israel yang mengakui dosanya dihadapan Tuhan. Namun, persembahan kurban ini tidak bisa seenaknya. Tuhan mempunyai persyaratan-persyaratan yang sangat spesifik (Keluaran 12:5, 46; 34:25) karena pada akhirnya hewan kurban ini menunjukan apa yang akan dilakukan Anak Manusia di atas Kayu Salib.

Imam Besar memasuki Tempat Maha Kudus dan memercikan darah kurban ke atas Tutup Pendamaian yang ada diatas Tabut Perjanjian.

Tutup Pendamaian adalah tutup Tabut Perjanjian. Di atas tutup ini Imam Besar memercikkan darah korban yang dipersembahkan untuk mengadakan pendamaian karena dosa. Tindakan ini melambangkan kemurahan Allah yang memberi pengampunan. Dengan demikian, murka TUHAN atas dosa-dosa mereka akan berpaling dari mereka.

Setahun sekali, Imam Besar akan mempersembahkan kurban pendamaian dengan masuk menghadap Tabut beserta Tutup Pendamaian itu agar umat Israel mendapatkan pengampunan dosa mereka. Di dalam Imamat 16:15 dijelaskan bahwa Imam Besar harus memercikan darah domba jantan sebanyak tujuh kali ke bagian atas dan depan Tutup Pendamaian itu. Mengapa harus dengan darah...?

Karena Ibrani 9:22 menuliskan bahwa tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan dosa. Jika tidak ada pengampunan dosa, maka tidak ada berkat, kebaikan, dan kemurahan Tuhan.

Frasa Tutup Pendamaian ini digunakan dalam Roma 3:25 yang diterjemahkan sebagai "Jalan Pendamaian" (hilastérion) untuk menggambarkan Kristus. Dalam bahasa Inggris disebut juga sebagai Mercy Seat atau Tahta Kasih Karunia. Tutup Pendamaian dan darah melambangkan pengampunan yang tersedia untuk umat berdosa melalui korban pendamaian Kristus.

Kristus telah mengambil hukuman atas dosa-dosa kita dan memalingkan murka TUHAN yang layak kita terima karena dosa-dosa kita. Yesus adalah tempat kita memperoleh Kasih Karunia, penggenapan yang sepenuhnya dari Hari Raya Pendamaian.

Allah itu Maha Kasih dan Maha Adil, Kasih-Nya memberikan pengampunan atas mereka yang bersalah tetapi Keadilan-Nya juga memberikan hukuman atas dosa. Dia mengasihi manusia dan tidak ingin manusia mengalami hukuman atas dosa. Dan melalui kurban itulah, Kasih dan Keadilan Allah bertemu tanpa harus saling bertentangan. Di dalam Hukum Taurat, hewan yang dikurbankan menjadi tebusan bagi kesalahan manusia. Secara harafiah, kata "tebusan" atau kofer dalam bahasa Ibrani bermakna "penutup". Dilambangkan melalui darah hewan yang disembelih itu, kesalahan manusia tidak lagi nampak/diperhitungkan dalam pandangan Allah. Melalui ritual ini, nyawa hewan tersebut menjadi harga yang harus dibayar untuk sebuah keselamatan. Sehingga manusia yang seharusnya mengalami hukuman akibat dosa, telah digantikan oleh hewan yang dikurbankan. Inilah essensi dari Hukum Taurat, darah hewan itu tidak menyelamatkan tetapi dijadikan gambaran penebusan sejati di dalam Kristus.

Jika manusia mengikat perjanjian diatas secarik kertas bermeterai, maka Bapa mengikat perjanjian dengan Darah Anak-Nya sendiri yang mana hal ini terlihat jelas ketika Tuhan Yesus menyelesaikan misi-Nya di dunia ini.

Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan, telah menggenapi Hukum Taurat yang berbicara tentang Kurban Penebusan Salah (Imamat 5:14-19), Kurban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35, 5:1-13) dan Kurban Keselamatan (Imamat 3:1-17) secara sempurna.

Sebagai Kurban Persembahan yang sempurna, Anak Domba yang akan menghapus dosa dunia haruslah tidak bernoda, tidak bercacat cela (Imamat 22:18-22, Ulangan 15:21) dan tidak berdosa; bahkan tulangnya pun tidak boleh dipatahkan (Keluaran 12:46). Jika Tubuh dan Darah Yesus terutama Sifat-Nya berasal dari ibu-Nya tentu Dia tidak bisa memenuhi ketentuan itu karena ibu-Nya adalah perempuan berdosa.

Sebab sama seperti seekor anak domba yang disediakan ALLAH bagi Abraham untuk menggantikan anaknya, Ishak (Kejadian 22: 13-14). Demikian juga Bapa melalui Roh Kudus-Nya menyediakan Tubuh dari Daging dan Darah bagi Anak-Nya kemudian mengutus Dia ke dalam dunia sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia (Mat 1:20, Luk 1:35, Ibrani 10:5).

Pun demikian dengan Sifat-Nya (Kemanusiaan-Nya), itu semua berasal dari Allah karena Yesus menyatakan diri-Nya berasal dan keluar dari Bapa (Yoh 6:38, 8:23, 42).

TUHAN sendiri sudah menyatakan dalam Firman-Nya ketika menyatakan itu kepada nabi Yesaya tentang Sifat dan Karakteristik Tunas Daud yang hanya bisa disematkan kepada Pribadi Manusia yang berasal dari Allah (Yesaya 11:1-3).

Selain itu, tradisi Yahudi memang benar menganggap kurban Paskah sebagai penebus; yakni, domba itu menghapuskan dosa dari pandangan Allah. Domba Paskah mati di bawah murka Allah, menutupi dosa orang yang mempersembahkannya. Dalam kaitannya dengan sifat domba Paskah, Rashi, seorang penafsir Yahudi dari abad pertengahan: 

"Aku melihat darah Paskah dan berdamai denganmu… Dengan belas kasih Aku mengasihanimu melalui sarana darah Paskah dan darah penyunatan, dan Aku berdamai dengan jiwamu" (Ex. R. 15, 35b, 35a).

Pada tulah kesepuluh dan terakhir di Mesir, pengurbanan Paskah secara harafiah menyelamatkan orang dari kematian (Keluaran 12:23). Atas dasar persembahan penyelamat darah Paskah, anak sulung bertahan hidup. Sekali lagi, Rashi menafsir:

"Hampir seperti seorang raja berkata pada putra-putranya: 'Ketahuilah bahwa Aku menghakimi orang dengan hukuman mati dan mengutuk mereka. Oleh karena itu berilah aku hadiah, supaya jika engkau dibawa menghadap aku dalam penghakiman Aku dapat mengesampingkan tuduhan yang dibebankan kepadamu.' Jadi Allah berfirman kepada Israel: 'Aku sekarang sedang membagikan hukuman mati, namun Aku sekarang memberitahu kamu cara supaya Aku berbelas kasih padamu, dan demi darah Paskah dan darah sunat Aku akan berdamai bagimu" (Ex. R. 15.12, terkait Keluaran 12.10).

Domba Paskah mengadakan pendamaian bagi rumah tangga Yahudi yang percaya pada malam penghakiman dan penyelamatan itu. Rabbi Abraham ibn Ezra juga mengaitkan Paskah dengan pendamaian: 

"Tanda darah itu dirancang sebagai pendamai bagi mereka di dalam rumah tangga yang mengambil bagian dalam persembahan Paskah, tetapi juga merupakan pertanda bagi malaikat penghancur supaya melewati rumah itu" (Soncino Chumash, hal. 338).

Ketika Yohanes Pembaptis melihat Kristus, ia menunjuk pada-Nya dan berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" (Yohanes 1:29). Yesus adalah "domba Paskah" yang diam di hadapan penuduh-Nya (Yesaya 53:7) dan dalam kematian-Nya menanggung murka Allah, menyelamatkan nyawa mereka yang percaya pada-Nya, dan membebaskan budak-budak dosa.

1 Petrus 1:18-19 (TB) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal [[timios / most precious]], yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

1 Yohanes 1:7 (TB) ... dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan [[katharizó / purify, cleanse]] kita dari pada segala dosa.

Sang Juruselamat adalah Allah - Manusia; dimana sebagai Allah, Dia berkuasa untuk mengampuni dosa manusia dan sebagai Manusia, Dia adalah Kurban Persembahan yang sempurna, tidak bernoda, tidak bercacat cela dan tidak berdosa.

Dengan Tanda Darah-Nya, Dia berkata di kayu salib "TETELESTAI" (It is finished/Sudah Selesai - Yoh 19:30) dalam suatu bentuk kalimat yang sempurna yaitu "tindakan sekali untuk selamanya".

Paskah adalah mengenang Kematian Kristus yang oleh Darah-NYA, telah menebus umat-NYA dari dosa.

 

Referensi:

1. Tafsiran Full atas Tutup Pendamaian.

2. Buku "Sejarah Penyaliban Kristus Dalam Islam dan Kristen" hlm 27 oleh Leonardo Winarto.

3. Buku "Mari Berfikir Tentang Alkitab: Apa Yang Tertulis Didalamnya" hlm 40,43 oleh Mark Tabb.

4. Gotquestion

Tidak ada komentar:

Posting Komentar