30 Januari 2014

Apakah Zefanya 3:9 Menubuatkan Hadirnya Agama Islam...?

Tidak diragukan lagi, Alkitab memang menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi semua orang. Bahkan bagi mereka yang mencoba mengambil keuntungan tidak jujur dari Lembaran-Lembaran Suci tersebut. Yang saya maksudkan ialah mereka yang mencoba mencari pembenaran dari Alkitab untuk mendukung keyakinannya.

Tentu kita menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita. Yang terpenting mereka melakukan kebenaran dan hidup dalam kasih pada sesama (Kisah Para Rasul 10:35). Allah sendirilah Hakim yang akan memutuskan siapa saja yang dianggap-Nya berkenan kepada-Nya. Sebagai umat Kristiani, tugas memberitakan Kabar Baik (Baca: Injil) tidak harus pula menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan kebenaran. Ketulusan dan hati nurani yang murni, artinya tidak berlaku licik dan memalsukan kebenaran,menjadi pagar pemberitaan Injil (1 Petrus 3:15; 2 Korintus 4:2).

Karena itu sebagai umat Kristen, kami juga menolak segala macam perbuatan licik, baik dari mereka yang mengaku Kristen tetapi melenceng dari kebenaran, maupun bukan Kristen yang menafsirkan Alkitab tidak jujur. Penolakan yang tentunya tidak didasarkan atas kebencian, namun kesetiaan pada kebenaran dan kasih yang tidak menginginkan kebinasaan mereka karena salah menafsirkan Alkitab.

Dalam hal ini terkait dengan pernyataan kelompok tertentu mengenai Kitab Zefanya 3:9. Menurut mereka, ayat tersebut dianggap menubuatkan datangnya keyakinan (baca: agama) tertentu yang juga berasal dari Timur Tengah. Dari sudut pandang kebebasan berpendapat, tentu pandangan tersebut sah-sah saja. Namun berbarengan dengan itu, yang berhak atas ayat yang dikutip tersebut, yakni umat Kristen, memiliki hak yang sama untukmenyatakan makna yang benar dengan cara mengkritisi penafsiran mereka itu.

Sebelum membahas lebih lanjut pernyataan tentang akan hadirnya agama tertentu dalam kitab Zefanya, ada baiknya saya tuliskan bunyi ayat tersebut:

כי־אז אהפך אל־עמים שׂפה ברורה לקרא כלם בשׁם יהוה לעבדושׁכם אחד

Ki az ehpok el-'ammim safah berurah liqro kullam be syem YHWH le'abdo syekem ekhad

Artinya:
Kemudian Aku akan memurnikan bibir bangsa-bangsa (goyim) agar mereka hanya memanggil nama TUHAN, beribadah pada Dia bahu membahu.

Seperti yang sudah dinyatakan diatas, Zefanya 3:9 dipahami oleh sebagian kelompok agama lain sebagai nubuatan tentang datangnya agama mereka.

Benarkah demikian...?

Kita akan membahas masing-masing argumentasi mereka tersebut dibawah ini:

1. Ki az ehpok el-‘ammim safah berurah

'Kemudian Aku akan memurnikan bibir bangsa-bangsa', ayat ini diartikan oleh kelompok tersebut sebagai nubuatan datangnya agama baru dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Israel. Mereka mengeluarkan makna ayat ini yang semula dengan menggunakan terjemahan LAI, 'Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan BIBIR LAIN kepada bangsa-bangsa'.

Ungkapan 'Bibir Lain' dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia ini dijadikan kesempatan oleh mereka untuk memaksakan pandangan mereka. Mereka berkata, bibir lain artinya bahasa. Dan dikatakan lebih lanjut oleh mereka bahwa bangsa Ibrani tidak memenuhi nubuatan ini, karena bahasa Ibrani adalah bahasa yang khusus untuk orang Israel. Kesalahan penafsiran semacam ini muncul karena titik pijak awal mereka salah dalam melihat iman Kristen. Mereka menilai iman Kristen dalam sudut pandang mereka sendiri.

Pada bagian ini kita bisa melihat soal penggunaan bahasa tertentu dalam kekristenan. Iman Kristen tidak pernah mengagungkan bahasa tertentu untuk beribadah pada Tuhan. Dalam Yudaisme sendiri, meskipun ada beberapa pandangan para rabbi yang sangat mengagungkan bahasa Ibrani, tetapi itu tidak mewakili keseluruhan Yudaisme, secara khusus Kitab Perjanjian Lama sendiri.

Apalagi disimpulkan sendiri bahwa bahasa Ibrani hanya digunakan untuk orang Israel, seolah-olah hendak dinyatakan bahwa Perjanjian Lama hanya untuk orang Ibrani saja. Mereka sengaja melupakan atau tidak tahu, bahwa Allah mengharapkan melalui Abraham dan keturunan-Nya, secara khusus adalah Sang Mesias, keselamatan-Nya menjangkau bangsa-bangsa lain (Kejadian 12: 1-3; Yesaya 2:1-5; Galatia 3:29). Tak kalah penting juga ayat-ayat selanjutnya dari Zefanya 3:10-20 yang berisi janji pemulihan Tuhan pada bangsa Israel, yang sengaja tidak mereka kutip secara utuh.

Lalu apakah maksud firman Tuhan tentang bibir yang murni dalam ayat diatas...?

Jawabannya bisa kita temukan dalam Zefanya 3:13

שׁארית ישׂראל לא־יעשׂועולה ולא־ידברו כזב ולא־ימצא בפיהם לשׁון תרמית כי־המה ירעו ורבצו ואין מחריד

Sye'erit Yisra'el lo ya'asu 'awlah we lo yedabberu kazav welo-yimmatse' befihem lesyon tarmit ki-hemmah yir'u we rabtso we eyn makharid

Artinya:
Yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut merekatidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makanrumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.

Bibir yang murni adalah kehidupan yang saleh, kata-kata yang jujur dan tidak menipu. Kesalehan semacam ini adalah lawan dari 'teme sefatayim', bibir yang najis (Yesaya 6:5), yang sering diulang-ulang dalam Kitab Suci sebagai lawan dari bibir yang murni sebagai kualitas rohani yang dikehendaki Allah ada pada umat-Nya. Model kehidupan rohani kaum sisa orang Israel yang dipulihkan Tuhan inilah yang akan menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Jadi ayat ini jelas sama sekali tidak berbicara mengenai bahasa tertentu, baik Ibrani, Yunani atau Arab. Namun, ayat ini berbicara mengenai karya Tuhan atas bangsa-bangsa lain dan Israel yang dipahami oleh para rabbi akan terjadi pada jaman Sang Mesias.

Pemahaman para rabbi tersebut dapat kita lihat dalam literature keagamaan mereka sendiri,yakni dalam Abodah Zarah 24a:

سوف تتبارك الام باسرائيل في ايام المسيح

Saufa tatabaroku al-umam bi Isro’il fi ayyam al-Masih

Artinya:
Bangsa-bangsa akan diberkati melalui Israel pada jaman Sang Mesias

Para rabbi menafsirkan ayat ini terkait dengan akan datangnya suatu masa ketika orang-orang kafir akan menyembah Tuhan bersama-sama dengan orang Yahudi. Dan peristiwa itu dipahami akan terjadi ketika Sang Mesias menyatakan diri sesuai dengan nubuatan dalam Zefanya 3:9.

Dalam tafsiran nyeleneh kelompok tersebut yang menghubungkannya dengan keistimewaan bahasa tertentu, dan digunakannya bahasa tersebut sebagai bahasa liturgi agama tertentu, sama sekali tidak sesuai dengan maksud kitab Zefanya serta pemahaman Yudaisme dan Kekristenan sendiri.

2. Beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu

Ungkapan dalam bahasa Ibrani, 'Syekhem ekhad' yang arti harafiahnya satu bahu, diartikan oleh mereka sebagai gambaran tata cara ibadah agama mereka yang, shaf-shaf sembahyang dirapatkan dari bahu ke bahu, seolah-olah seperti digambarkan dalam Zefanya 3:9. Saya katakan seolah-olah, karena mereka hanya mengutip terjemahan bahasa Indonesia dan mengabaikan arti ungkapan tersebut dalam bahasa aslinya.

Bahkan kalau kita memahami terjemahan tersebut dalam bahasa Indonesia pun, artinya juga tidak seperti dengan yang dimaksudkan mereka, yakni sebagai gambaran tata cara sembahyang agama mereka. Ungkapan bahu-membahu dalam bahasa Indonesia bermakna tolong menolong atau gotong royong. LAI menerjemahkan 'Syekhem Ekhad' dengan 'bahu-membahu', dengan maksud untuk mencari makna yang paling dekat dengan teks aslinya.

Ungkapan metaforis tersebut diambil dari gambaran seseorang yang mengangkat kuk atau beban secara bersama-sama. Artinya, mereka akan sepakat meninggalkan berhala-berhala mereka dan dengan bulat hati menyembah Tuhan yang benar. Bandingkan dengan firman Tuhan dalam Yeremia 32:39

Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.

Jadi,ayat diatas sama sekali tidak menunjuk tata cara sembahyang agama tertentu seperti yang dinyatakan oleh mereka.

Kesimpulan
Yesus sendiri pernah menyatakan bahwa seluruh nabi-nabi berbicara tentang Dia (Lukas 24:44). Pernyataan Yesus ini juga sesuai dengan keyakinan para rabbi/ulama Yahudi yang menyatakan bahwa seluruh nabi hanya bernubuat tentang Sang Mesias (Sanhedrin 99a yg bisa dibaca disini http://come-and-hear.com/sanhedrin/sanhedrin_99.html). Artinya, seluruh kitab
Perjanjian Lama itu hanya berpusat pada kedatangan Mesias yang sudah digenapi dalam diri Yesus Kristus. Dengan demikian, segala usaha untuk mencari nubuatan-nubuatan akan hadirnya nabi atau agama lain di dalam Alkitab, sama sekali tidak sesuai dengan maksud dan tujuan nubuatan Alkitab itu sendiri.

TUHAN Yesus memberkati

Source:
Leonardo Winarto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar