31 Januari 2014

Perjalanan Kasih ALLAH Bagi Manusia dan Pendapat Para Ahli Tentang Manuskrip Alkitab

 

Ketika orang yang menulis Alkitab mengambil sebuah pena dan mulai menulis, mereka tidak hanya asal menulis. Rasul Petrus berkata "..Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah..".

Hal ini berarti bahwa TUHAN bekerja di dalam fikiran dan roh para penulis Alkitab sehingga mereka menulis dengan tepat apa yang TUHAN ingin supaya dituliskan.
Masing-masing kitab dalam Alkitab masih mencerminkan kepribadian dari manusia yang menulisnya. Namun hal tersebut tidak meniadakan inspirasinya. TUHAN memilih orang-orang tertentu untuk menjadi penulis Firman-Nya.

TUHAN menciptakan mereka, merancang kepribadian mereka dan menempatkan mereka dalam dinamika kehidupan yang unik, yang kesemuanya itu bekerja bersama-sama untuk menghasilkan Lembaran-Lembaran Suci yang ingin Dia berikan kepada umat manusia lewat tulisan. Ketika Kita mengambil Alkitab, Kita memegang Firman TUHAN dalam bentuk buku.

Walaupun Alkitab sepenuhnya benar, itu tidak berarti bahwa beberapa bagian tidak menyebabkan anda menggaruk kepala dan menggumam bingung. Anda tidak perlu menunggu lama untuk menemukan hal-hal yang membingungkan. TUHAN mengatur Alkitab sedemikian rupa sehingga kebingungan terbesar sudah langsung anda jumpai pada sebelas pasal pertama kitab Kejadian.
Cobalah memeriksanya sendiri. Kejadian 1 mengatakan "..TUHAN menciptakan terang pada hari pertama, langit dan laut ada hari kedua, lalu daratan kering dan tanaman pada hari ketiga. Namun, dan hal ini akan mengejutkan anda, DIA tidak menciptakan matahari, bulan dan bintang hingga pada hari keempat.

Jika anda tidak bertanya pada diri anda,"Bagaimana mungkin hal ini terjadi...?" maka anda sedang tidak memperhatikan.
Kejadian juga menyebutkan bahwa manusia hidup hingga tujuh, delapan hingga sembilan ratus tahun pada masa-masa awal sejarah manusia.

Bagaimana mungkin...?
Tidak ada seorang pun yang tahu. 

Bagaimanapun, ketidaksanggupan Kita untuk memahami bagaimana TUHAN melakukan sesuatu tidak berarti bahwa Alkitab itu salah. Inilah tempatnya dimana iman bergerak masuk.
Mempercayai kebenaran mutlak Alkitab berarti mempercayai bahwa ketika semua fakta dikumpulkan maka Alkitab akan tampil sebagai Kebenaran.

Baris pertama dalam kitab pertama memberi  petunjuk kepada Kita. Alkitab diawali "..Pada mulanya ALLAH..", apapun isi buku ini, Kita langsung mengetahui bahwa tokoh sentralnya adalah ALLAH.
Ketika terus membacanya anda akan menemukan bahwa buku ini tidak mendefinisikan TUHAN seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan, juga tidak menyajikan daftar sifat-NYA seperti para Theolog. Sebaliknya, saat anda membaca, anda akan menjumpai TUHAN sebagai Pribadi. DIA berfirman dan menciptakan dunia, menciptakan manusia dan menempatkan mereka di dunia. TUHAN tidak berada jauh dari mereka, DIA bercakap-cakap dengan mereka  dan menghabiskan waktu bersama mereka. Namun rupanya itu tidak cukup bagi manusia. Mereka memalingkan diri dan mengabaikan apa yang difirmankan-NYA. Dan itu ........ Baru permulaan kisahnya.

Apalagi yang Kita dapat temukan dalam Alkitab...?
Ketika anda melihat Alkitab sebagai satu kesatuan, anda akan menemukan kisah yang sama tersingkap dalam 66 kitabnya. Tiap bagian, tiap Kitab, tiap Mazmur, tiap Amsal, tiap Surat, tiap Nubuatan, tiap Hukuman -- semua terangkai serasi untuk menceritakan kisah tentang TUHAN.
Perjanjian Lama menceritakan bagian pertama dan Perjanjian Baru menceritakan bagian kedua dari kisah tersebut.

Ada satu alur cerita yg bergulir dari awal hingga akhir, sebuah alur yang tidak hanya dituliskan TUHAN dalam Alkitab, tetapi juga disepanjang sejarah manusia.
Disepanjang alur tersebut, anda akan menemukan beragam tokoh dan aneka situasi. Topik yang berulang akan menolong Kita untuk memahami tokoh-tokoh dan alur ceritanya.

Ada berbagai gaya penulisan dalam Alkitab dan semuanya terangkai bersama menceritakan kisah TUHAN. Namun kisah nyata ini tidak sama dengan kisah-kisah lain yang pernah ditulis, Kita tidak hanya membacanya, namun menjadi bagian dari kisah tersebut.

Perjanjian Lama mengandung perjanjian yang TUHAN buat sebelum kedatangan Firman-NYA (Yesus) dalam rupa manusia dan menceritakan apa yang terjadi ketika umat TUHAN melanggar janji mereka dan meninggalkan DIA, sementara Perjanjian Baru mengutarakan Perjanjian yang TUHAN buat melalui Anak-NYA, sebuah perjanjian yang menggenapi perjanjian sebelumnya. 

Rasul Paulus menuliskan :
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

Penulis kitab Ibrani menuliskan :
Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.

Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya..

Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi.
Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua.

Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: "Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka," demikian firman Tuhan.

"Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku.

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka."

Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Dalam Perjanjian Lama, TUHAN menciptakan dunia dan menyerahkannya kepada manusia untuk memeliharanya, unfortunately, dua manusia pertama menginginkan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik, mereka ingin seperti TUHAN. Ketidaktaatan mereka memisahkan manusia dari TUHAN, menyebabkan seluruh keturunan mereka masuk dalam kegelapan rohani. TUHAN menciptakan manusia untuk mengenal DIA, mengasihi DIA dan memiliki hubungan intim dengan DIA, sama seperti mereka menikmati dunia dimana mereka ditempatkan. Namun tentang hubungan ini, TUHAN memberi manusia sebuah pilihan. Mereka bukanlah robot yg diprogram untuk mencintai TUHAN dan tidak membutuhkan waktu lama bagi Adam dan Hawa untuk menentukan pilihannya dan mereka lebih memilih untuk menjadi seperti TUHAN daripada tunduk kepada-NYA. Sebagai hasilnya mereka mati secara rohani dan kemudian mati secara fisik. Karena tidak boleh ada dosa dihadapan ALLAH Yang Maha Kudus. ALLAH menjauhkan mereka dari-NYA.
Bagaimana mereka bisa dibawa kembali…?

Manusia telah menggali jurang yang memisahkan TUHAN dengan manusia.

Bagaimana TUHAN akan memulihkan kembali hubungan yang intim dengan manusia yang lebih memilih dosa ketimbang TUHAN, dan mengapa DIA melakukannya…?

Sebelum dosa memasuki manusia, tidak ada pertanyaan siapakah TUHAN itu. Setelah jatuh dalam dosa, hati manusia menjadi begitu gelap dan dingin sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui siapakah TUHAN.

Namun, TUHAN sedemikian mencintai manusia sehingga Dia tidak bisa membiarkan mereka di dalam kegelapan untuk selamanya. Dia mengulurkan pertolongan-NYA bagi manusia untuk membangun kembali sebuah hubungan dengan mereka.
Hal ini menimbulkan pertanyaan lainnya :
Bagaimana bisa manusia yg berdosa hidup dalam hadirat ALLAH yg kudus...?
Alkitab adalah kisah pembuktian Kasih ALLAH kepada manusia.
TUHAN menetapkan untuk memilih satu bangsa, satu umat pilihan untuk melayani sebagai "utusan-utusan" TUHAN dan untuk menceritakan Mesias yang akan datang, semua ini dikisahkan dalam Perjanjian Lama.
Akhirnya, pada waktu yg telah ditentukan, Mesias datang dalam dunia, yaitu FIRMAN Allah yg menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus.

Manusia menjadi TUHAN itu mustahil tetapi TUHAN menjadi manusia itu dapat terjadi. TUHAN maha segalanya dan karena kasih-NYA yang besar, Bapa mengutus Firman-Nya menjadi manusia, dan sebagai Juruselamat mati untuk menggantikan hukuman dosa. TUHAN tahu bahwa manusia tidak mungkin mampu sampai ke Rumah-NYA di langit dan bumi yang baru hanya dengan berbuat baik, karena semua itu tidak ada yg sempurna, sedangkan TUHAN adalah sempurna, dan TUHAN menunjukan kasih-NYA dengan menyelamatkan Kita melalui Anak-NYA sendiri.

TUHAN yang Maha Kuasa adalah TUHAN yang Maha Adil, tetapi juga TUHAN yang Maha Kasih.
Bagaimana keadilan dan kasih ini bersatu...?

Karena TUHAN yang Maha Adil harus menghukum manusia karena dosa sedangkan TUHAN yang Maha Kasih harus mengampuni manusia dari dosa.

Ini adalah satu dilema, dan jawabannya hanya ada didalam Yesus. TUHAN sangat mengasihi manusia, sehingga Dia menyerahkan Anak-NYA yang tunggal sebagai Kurban Tebusan Dosa bagi banyak orang yang percaya kepada-Nya.

Para rasul Kristus mengajarkan, Yesus telah menjadi serupa dengan manusia untuk satu maksud dan tujuan, yakni mati sebagai korban yang sempurna bagi penebusan dosa-dosa Kita. Dosa-dosa Kita telah memisahkan Kita dari TUHAN.

Hubungan TUHAN dengan umat-NYA tidaklah didasarkan pada perbuatan, Kita menemukan kata “KASIH” muncul berulang kali. TUHAN memilih bangsa Israel untuk menjadi objek kasih-NYA dan DIA menginginkan agar mereka juga mengasihi-NYA. Ketaatan pada Hukum bukanlah suatu cara untuk mendapatkan kemurahan hati TUHAN. Sebaliknya, ketaatan tersebut harusnya merupakan tindakan kasih kepada TUHAN, sebuah pelajaran dalam Perjanjian Baru yang tidak pernah dapat dimengerti oleh orang Farisi berikut Imam Besar mereka pada saat itu.

Kita tidak memiliki kemampuan yang cukup ampuh untuk mengangkat diri Kita sendiri untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, betapapun baiknya perbuatan Kita. Tidak ada seorang pun yg dapat melakukan itu. Itulah sebabnya TUHAN sendirilah yang membayar lunas segala dosa Kita. TUHAN melakukan itu karena DIA mengasihi setiap orang diantara Kita.

Ajaran dalam Kekristenan disepanjang abad menyatakan bahwa hanya ada 'Satu' Allah yang hadir dalam Tiga Pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), ajaran ini dikenal sebagai Tritunggal Maha Kudus.

Secara sederhana, pengajaran Tritunggal adalah upaya yang dilakukan oleh bapa-bapa Gereja untuk menggambarkan Hubungan Bapa-Anak-Roh Kudus didalam Keesaan dan Kemahakuasaan-Nya yang tidak terjangkau oleh fikiran dan logika manusia.

Meskipun frasa Tritunggal tidak muncul di Alkitab, tetapi kata tersebut telah membedakan Ajaran Kristiani sejati dengan ajaran-ajaran yang menyimpang sejak zaman Gereja mula-mula. Ketika Kita melihat sejarah, orang-orang percaya untuk pertama kalinya mengalami TUHAN saat DIA mengungkapkan diri-NYA kepada bangsa Israel, kemudian melalui Pribadi dan karya Yesus Kristus, dan akhirnya melalui kehadiran Roh Kudus yang berdiam dan menyertai setiap orang percaya. Ketika Kita membuka Alkitab, Kita mendapati disana hanya ada satu TUHAN, tetapi BAPA, Anak dan Roh Kudus selalu dirujuk sebagai TUHAN, meskipun Mereka jelas dibedakan satu sama lain.

Bahkan, tindakan penyelamatan pun adalah karya ALLAH Tritunggal. Kita mencari Sang Bapa, tetapi satu-satunya jalan bagi Kita untuk dapat mencapai-NYA adalah melalui DIA yang menjembatani jurang antara TUHAN dan manusia, Yesus Kristus (Yohanes 14:6). Lalu setelah sampai kepada BAPA, Kita menyadari bahwa keinginan yang membuat Kita pertama-tama mencari-NYA tidak datang dari diri Kita sendiri, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja di dalam Kita (Yohanes 16:13). Kita mungkin tidak memahami Tritunggal seutuhnya namun sebagai pengikut Kristus jelas Kita telah mengalaminya.

Itulah sebabnya dari awal Saya  mengatakan: 

Alkitab adalah cerita kasih ALLAH kepada manusia dan biarlah secara sederhana Kita bisa mengasihi DIA karena DIA sudah terlebih dahulu mengasihi Kita.

Rasul Yohanes mengajarkan :
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

(1 Yohanes 4:8-10, 19-21)

** Pendapat para ahli tentang manuskrip Alkitab dan terjemahannya **

Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman ALLAH dan bahwa penulis dari semua bagiannya adalah nabi dan rasul TUHAN. Kita yakin TUHAN telah mengaruniakan firman itu kepada mereka.
Namun pandangan Kita tentang para nabi dan rasul yg menerima dan menuliskan Firman itu berbeda jauh dengan pandangan Non Kristiani (terutama Islam). Kita tidak pernah mengatakan para nabi dan rasul itu pingsan atau kesurupan ketika menerima firman ALLAH dan sepenuhnya dikuasai oleh Roh Kudus. TUHAN memberikan kepada mereka pemikiran dan memperkenankan mereka memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya, tetapi TUHAN membimbing mereka sehingga mereka menuliskan Kebenaran yang sempurna. Itulah sebabnya karakter penulis dapat Kita lihat dalam cara mereka menuliskan kitab-kitab itu. TUHAN dengan sukacita memperkenankan Kita berekspresi sesuai kepribadian Kita pada saat melayani DIA.
Para penulis Kitab Suci itu secara jujur mengungkapkan kelemahan mereka sebagai manusia namun mereka membiarkan Roh ALLAH membimbing mereka untuk menulis apa adanya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Dan karena setiap perkataan dalam Alkitab adalah benar, bagaimana mungkin Kita mengharapkan semua isinya tentang sinar matahari yang hangat, anak-anak anjing yang lucu, bunga-bunga yang mekar dan hal-hal yang menyenangkan sementara dunia dimana Kita hidup tidak demikian...?

Terkait tentang naskah-naskah Alkitab, para kritikus mengatakan bahwa Alkitab mengandung unsur-unsur yang bertentangan didalamnya, lalu mereka menunjukan ratusan ayat yang 'kelihatannya bertentangan' yang menuntut jawaban langsung dari Kita. Apabila Kita kurang cepat maka mereka akan mengejek dan berkata, "..Nah.. Lihat itu ! Khan sudah Saya bilang kalau Alkitab anda penuh pertentangan..".

Pada kenyataannya, semua permasalahan mengenai pertentangan Ayat-Ayat Suci itu sudah diselesaikan secara terperinci, bahkan sampai ke masalah yang terkecil sekalipun. Semuanya sudah diuraikan dengan cara yang rasional bertahun-tahun yang lampau dan masih terus dilakukan hingga saat ini.

Apabila ada dua orang saksi menggambarkan satu peristiwa yang sama, maka seringkali kisah itu tidak sama bentuknya, karena mereka mengingat dan menuliskan dengan perincian yang berbeda, contohnya :


Markus dan Matius menceritakan peristiwa yang sama, yaitu peristiwa Yesus menyembuhkan seorang anak laki-laki yang dirasuk setan (Mat 17:14-18 dan Mark 9:14-27), Markus menguraikan lebih terperinci tentang percakapan Yesus dengan ayah anak-anak laki-laki itu.

Kadang-kadang peristiwa yang sama dipandang dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kaum perempuan memasuki kubur Yesus dan menemukan kuburan itu kosong pada hari pertama Paskah, Markus 16:5 menyatakan mereka melihat seorang malaikat sedang duduk disebelah kanan dan Lukas 24:2 mengatakan ketika mereka sedang menatap kubur kosong itu, tiba-tiba dua orang malaikat berdiri disamping mereka.

Ini bukanlah dua hal yang bertentangan, mungkin saja mereka melihat ada seorang malaikat sedang duduk dan ketika mereka mendekatinya, malaikat itu berdiri dan seorang malaikat lain lagi datang bergabung disampingnya. Markus dapat saja melukiskan peristiwa ini dari sudut pandang seorang wanita sementara Lukas menuturkannya berdasarkan kesaksian rombongan wanita itu secara keseluruhan.

Para rasul saling mengenal satu sama lain dan tidak diragukan lagi mereka sudah membaca buku karya mereka masing-masing. Mereka tidak mengubah bagian-bagian yg nampaknya tidak sejalan, sebab mereka yakin bahwa tulisan mereka saling mengisi dan melengkapi dan lagi-lagi ini merupakan bukti kebenaran yang sesungguhnya dan tentu saja lebih baik ketimbang mushaf-mushaf Quran yang dibakar hanya untuk menghilangkan pertentangan-pertentangan didalamnya yang masih terus ada hingga saat ini dan belum ada jawabannya.

Ketika Kita menceritakan kebenaran, Kita tidak perlu "membenarkan" cerita Kita karena cerita itu sudah benar. Seringkali yang menjadi masalah bukanlah kebenarannya melainkan hati yang tidak ingin disalahkan hingga akhirnya menyalahkan Kebenaran.

Berikut adalah kutipan-kutipan para pakar Kitab Sucitentang betapa pentingnya salinan awal sebagai bukti keotentikan sebuah teks/naskah (dalam hal ini dikaitkan dengan naskah Alkitab).

  1. “Terjemahan-terjemahan ini dibuat bukan dengan maksud untuk menyingkirkan darah dari Alkitab atau untuk memperlemah Kitab Suci. KJV, NKJV, NASB dan NIV semuanya diterjemahkan dengan niat yang sebaik mungkin. Para penerjemah ingin menghasilkan terjemahan Alkitab yang akurat. Mereka semua mempunyai motif yang benar. Versi-versi tersebut ada karena ada perbedaan dalam keluarga naskah dari mana mereka diterjemahkan. Tidak ada konspirasi untuk menghapuskan bahan dari Alkitab. Para penerjemah hanya menerjemahkan apa yang dikatakan dalam naskahnya. Tetapi ada naskah yang berbeda dari naskah yang lainnya, dan pilihan naskah yang dipergunakan tentu menentukan bagaimana hasil terjemahannya. Lalu, mengapakah kelompok penerjemah yang satu memilih naskah yang satu, sementara kelompok penerjemah lain memilih naskah yang lain?
    Masing-masing kelompok penerjemah harus menilai, naskah mana yang mereka rasakan paling jelas mewakili otograf orisinil dari Kitab Suci itu. Hal ini merupakan suatu tindakan iman. Para penerjemah yang bermaksud baik, percaya bahwa mereka mempergunakan naskah yang terbaik. Mungkin anda tidak sependapat dengan kesimpulan mereka, tetapi anda tidak bisa tidak setuju dengan niat mereka.”
    (Dr. Kroll dalam buku ‘Bagaimana Alkitab Dilahirkan" Hal. 18)

  2. Greenlee yang menulis dalam Introduction to New Testament Textual Criticism tentang rentang waktu diantara naskah asli (otograf) dan naskah yang ada sekarang (salinan kuno yang selamat), berkata bahwa “karena para cendekiawan secara umum mengakui kredibilitas karangan-karangan klasik kuno meskipun naskah pendukungnya yang tertua ditulis jauh setelah naskah aslinya dan jumlah naskah yang selamat pada beberapa kasus sangat sedikit, maka kredibilitas teks Perjanjian Baru dapat dikatakan sudah diakui.”
    (Greenlee, J. Harold. Introduction to New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1964. hal 16).

  3. F. F. Bruce, seorang professor Rylands dari Biblical Criticism and Exegesis di Universitas Manchester berkata: “Naskah yang ada dari karya-karyanya yang kurang terkenal (Dialogus de Oratoribus, Agricola, Germania) semuanya disalin dari sebuah kodeks dari abad ke-10. Naskah sejarah karangan Thucydides (sekitar tahun 460 sampai 400 SM) sampai kepada kita melalui empat buah naskah kuno, yang tertua berasal dari sekitar tahun 900 M, dan beberapa sobekan papirus, dari masa sekitar permulaan zaman Kristen. Begitu pula halnya dengan karya sejarah Herodotus (tahun 488-428 SM). Namun tidak ada cendikiawan klasik yang mau tahu bahwa keaslian karya Herodotus atau Thucydides patut diragukan karena naskah tertua dari karya mereka yang dapat kita peroleh terpisah lebih dari 1300 tahun daripada tulisan aslinya.”
    (F. F. Bruce. The New Testament Documens: Are They Reliable? Downers Grove; IL 60515: Inter-Varsity Press, 1964. hal 16,17).
  1. Kenyon, dalam The Bible and Archaeology berkata: “Jarak diantara waktu penulisan karangan asli dan bukti tertua yang masih ada telah menjadi sedemikian kecil sehingga dapat dikatakan tidak ada artinya, sehingga dasar terakhir untuk meragukan bahwa Kitab Suci Perjanjian Baru telah diwariskan kepada kita secara utuh sebagaimana ia ditulis sekarang sudah tidak berlaku lagi. Jadi, baik keaslian maupun integritas umum kitab-kitab Perjanjian Baru pada akhirnya dapat dianggap telah ditetapkan.”
    (Kenyon, Frederic G. The Bible and Archaeology. New York: Harper & Row, 1940. hal 288).
  1. J. Harold Greenlee: "Jumlah naskah Perjanjian Baru yang ada jauh melebihi naskah kesusasteraan kuno lain yang manapun. Di lain pihak, salinan naskah Perjanjian Baru tertua yang ada ditulis pada jarak waktu yang paling dekat dengan naskah aslinya daripada kesusasteraan kuno lainnya.”
    (J. Harold Greenlee. Introduction to New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1964. hal 15).
  1. Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D. Seorang Profesor Studi Perjanjian Baru, pendiri The Center for the Study of New Testament Manuscripts, berkata: “Varian yang diutamakan biasanya varian yang terdapat dalam MSS terawal. Sebab, lebih kecil selang waktu antara MSS itu dan teks aslinya, dan lebih sedikit salinan yang memuat kesalahan-kesalahan. Semakin dekat jarak antara suatu MSS dan aslinya, semakin besar kemungkinannya mengandung kata-kata yang tepat.”
    (Meletakkan Dasar: Kritik Tekstual Perjanjian Baru. hal 36).
  1. Philip Schaff seorang ahli sejarah (mengutip Tregelles dan Scrivener) berkata: “Kita memiliki begitu banyak naskah Alkitab, dan kita didukung oleh begitu banyak versi, sehingga kita tidak pernah perlu memakai metode dugaan untuk memperbaiki kesalahan tulis atau cetak.”
    (Tregelles, Greek New Testament, “Protegomena,” P.X.)

Seluruh kutipan ini menunjukkan betapa pentingnya manuskrip/naskah awal untuk menentukan keotentikan dan kredibilitas suatu tulisan.

Ketika berbicara mengenai berbagai versi terjemahan Alkitab yang berbeda, Kita harus mengakui bahwa bahasa terus-menerus berubah, arti dan kalimat semakin berkembang. terjemahan harus diperbaharui. Kalau tidak, terjemahan akan segera berhenti memenuhi tujuan dari penerjemahan Alkitab, yaitu memungkinkan para pembaca modern membaca teks-teks kuno dan memahaminya tanpa harus berjuang seumur hidup mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani.

CS Lewis mengatakan, "Jika Kita serius untuk menerjemahkan, Kita harus membuat terjemahan ulang secara berkala. Tidak mungkin menerjemahkan sebuah buku ke dalam sebuah bahasa hanya sekali dan untuk selamanya, sebab bahasa adalah sesuatu yg berubah. Jika anda mau agar putera anda berpakaian, tidak baik membelikannya baju hanya sekali dan untuk selamanya, dia akan bertumbuh besar sehingga jelas harus dibelikan baju lagi"

Jika demikian, terjemahan mana yang terbaik...?

Jawabannya tidak mudah diberikan. Setiap penerjemahan memiliki kekuatan dan kelemahannya. Karena itu, daripada menghabiskan 20 tahun kedepan untuk belajar menguasai bahasa Yunani dan Ibrani, pendekatan terbaik adalah membaca dan membandingkan beberapa terjemahan.
Dengan membandingkan versi-versi yang berbeda, Kita dapat menangkap berbagai nuansa makna dari bahasa aslinya. Memakai terjemahan yang berbeda membuat Kita "lebih awas" dan menolong Kita untuk tetap peka mendengar Sabda TUHAN.

Apakah itu berarti bahwa semua terjemahan sama baiknya...?

Tidak semua.Akan tetapi dengan membandingkan terjemahan, Kita dapat mengenali yang dimaksud oleh para penulis asli Alkitab. Apabila ada sebuah versi terjemahan secara radikal menggunakan kata-kata dengan makna yang sama sekali berbeda dari semua terjemahan lainnya, Kita harus waspada pasti ada sesuatu yang keliru disitu.

Seluruh Perjanjian Baru isinya akurat, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul diserang bertahun-tahun  lamanya, tetapi setiap kali ada pihak yang mengatakan bahwa apa yg ditulis Lukas adalah salah, sesuatu ditemukan, dan apa yang ditulis Lukas terbukti benar. Geisler menunjukan bahwa Lukas menyebutkan nama-nama dari 32 negara, 54 kota dan 9 pulau tanpa membuat kesalahan. Bertahun-tahun kritik dilontarkan. Dikatakan bahwa kolam kota Bethesda hanyalah sebuah fantasi karena tidak pernah ditemukan jejaknya, namun Dr Rami Arav menemukannya disebelah utara tepi laut Galilea.

  1. William Albright, seorang arkeolog terkenal pada pertengahan abad 20 mengatakan, ''Semua sekolah radikal yang mengkritik Perjanjian Baru, baik yang telah ada pada waktu lampau, atau yang ada sekarang, adalah sekolah-sekolah yang bersifat pra-arkeolog dan arena itu .... sudah kuno untuk masa sekarang ini.''
    (Geisler and Brooks, p.202)
  1. Nelson Glueck, salah seorang pemimpin arkeolog lainnya, secara langsung mengatakan, ''Bahkan, sebenarnya dapat dikatakan bahwa secara kategoristik tidak ada penemuan arkeologi yang pernah menentang suatu acuan dalam Alkitab. Hasil dari penemuan arkeologi telah membenarkan secara jelas garis besar atau perincian sejarah yang ada dalam Alkitab.''
    (Mc Dowell, The New Evidence, p.65)
  1. AN Sherwing White mengatakan, ''Untuk Kisah Perjanjian Baru, pembenaran sejarahnya sangat luar biasa … untuk segala percobaan untuk menyerang latar belakang sejarahnya Nampak tidak masuk akal. Sejarahwan Romawi telah mengakui hal ini jauh sebelumnya.”
    (Mc Dowell, The New Evidence, p.65)
  1. Sir Wiliam Ramsay mengunjungi Israel beberapa tahun yang lampau, dia berharap menemukan sesuatu yang bisa membuktikan Alkitab itu salah, tetapi semua yang ditemukannya dari penggalian membenarkan catatan kebenaran Alkitab. Oleh sebab itu dia menjadi pengikut Kristus yang berani berbicara tentang ini.

Umat Islam sering mengatakan bahwa Alkitab Perjanjian Baru palsu karena tidak ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram. Kebenarannya adalah bahwa murid-murid TUHAN Yesus diperintahkan untuk pergi kepada semua bangsa, sehingga mereka menulis dalam bahasa Yunani, yang merupakan bahasa internasional pada masa itu. Bahasa Ibrani dan Aram hanyalah bahasa lokal pada masa itu, sedangkan Injil Keselamatan bukan hanya untuk area lokal melainkan seluruh umat manusia. Fakta membuktikan bahwa hampir seluruh kitab dalam Perjanjian Baru telah selesai ditulis pada tahun 70M dan masih banyak saksi mata pada masa itu untuk mengkonfirmasi kebenarannya.

Kaum kritikus dan Islamis seringkali mengimplikasikan ada keraguan pada masa ini tentang kitab mana yang dapat masuk dalam Perjanjian Baru. Faktanya adalah tidak ada buku yg dipilih untuk masuk dalam bagian Alkitab. Hampir semua kitab dalam Perjanjian Baru diterima sebagai Firman TUHAN sejak semula karena kitab2 itu ditulis oleh para rasul Kristus kecuali Lukas dan Markus.
Sebagai contoh, umat Kristiani akan membaca surat dari rasul Paulus di Gereja kecil mereka yang berupa rumah, mereka akan berkumpul  sepanjang malam membaca surat dari rasul Paulus dan membicarakan bagaimana mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Pada hari berikutnya mereka sudah menyiapkan salinannya untuk umat Kristiani yang lain, itu adalah akar dari Gereja dan penulisan serta penyalinan Kitab Suci dalam Perjanjian Baru.
Kitab-kitab yang tidak langsung diterima secara universal pada masa itu adalah kitab Ibrani, Yakobus, 2 & 3 Yohanes, 2 Petrus, Yudas dan Wahyu. Namun, kitab-kitab ini dibaca di dalam Jemaat Gereja mula-mula secara rutin dan akhirnya diterima secara universal.

Generasi Kristen berikutnya tidak pernah bingung perihal kitab mana yang firman Tuhan dan mana yang bukan, keadaan tidak berubah sampai akhir abad pertama. Rasul Yohanes masih hidup sampai lanjut usia dan dia menulis kitab Wahyu pada saat berada di pembuangan di pulau Patmos. Ketika rasul Yohanes meninggal, untuk pertama kalinya Gereja tidak memiliki bimbingan dari seorang rasul.

Setelah kematian rasul Yohanes, muncul beberapa tulisan yang bukan dari para rasul. Mungkin mereka berniat baik, tetapi mereka tidak mengikuti semangat yang sama yg ada pada Tulisan-Tulisan Kudus para rasul. Mereka tidak memiliki kuasa yang sama yang ada pada para rasul. Beberapa diantaranya dibaca oleh beberapa kalangan Gereja, bahkan beberapa orang mengakuinya sebagai firman Tuhan untuk beberapa waktu lamanya. Namun, sebagian besar umat Kristen dapat langsung mengetahui perbedaannya, Kitab itu tidak pernah dapat diterima secara luas oleh Jemaat Kristus sebagai firman ALLAH.

Pada abad kedua, ada beberapa kitab palsu yang dikeluarkan dari Alkitab dan hal ini memacu argumentasi dengan pihak Kristen konservatif yang tetap setia mengikuti pengajaran para rasul. Secara khusus aliran Gnostik menyebabkan beberapa masalah besar, mereka adalah orang-orang yang sangat ketat dengan peraturan dan berorientasi pada perbuatan. Gnostik menulis beberapa kitab palsu dan semuanya itu berisikan pengajaran yang salah sehingga tidak diterima oleh umat Kristen.
Mereka mencoba untuk menuliskan nama para rasul dalam kitab yang mereka tulis karena umat Kristen sangat mempercayai tulisan para rasul. Mereka akan berkata,: ”Saya tahu bahwa kalian mengikuti pengajaran para rasul Kristus. Kitab ini adalah kitab yang sudah lama hilang dan ditulis oleh para rasul.” Ironisnya, sekarang setelah hampir 2000 tahun kemudian, para pembenci Kristus masih menggunakan Kitab-Kitab yang ditulis oleh kaum Gnostik 100-200 tahun setelah kematian dan kebangkitan Kristus, lalu mereka berkata ,”Lihatlah, ini adalah Injil yang asli.
Luar biasa…
Mereka masih menggunakan kebohongan yang sama. Injil Gnostik dan tulisan-tulisan yg berkaitan dengan itu merupakan bagian dari pseudogripha / apokripa Perjanjian Baru. Tulisan itu disebut demikian karena penulisnya menggunakan nama salah satu rasul dan bukan nama mereka sendiri, misalnya Injil Petrus. Dan dengan berpura-pura menggunakan otoritas kerasulan untuk mengembangkan ajaran mereka sendiri. 

Kitab-Kitab ini mengajarkan doktrin-doktrin bidat yang paling awal, yang menyangkal inkarnasi Ilahi berikut realitanya. Mereka berkata bahwa Yesus sesungguhnya adalah roh yang tampak sebagai manusia. Tidak ada yang menerima kitab ini kecuali faksi bidat yang menciptakannya. Kitab itu bukan merupakan bagian dari tradisi Kristen, tetapi hanya catatan mitos yang muncul dari luar arus utama Kekristenan.

Pada akhirnya, "Kekristenan menemukan jawabannya dalam Lembaran-Lembaran Alkitab yang mendapat dukungan dari bukti-bukti historis dan arkeologi yang terus membuktikan kebenaran Alkitab. Orang yang tidak percaya memiliki pertanyaan yang bagus dan umat Kristen memiliki jawaban yang bagus dan ALLAH meminta Kita untuk memberikan jawaban yang mereka cari."

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
(Yudas 1:3)

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.
(1 Petrus 3:15-16)

TUHAN Yesus memberkati



Daftar Pustaka
  1. Ketika Alkitab Dipertanyakan – Norman Geisler & Ron Brooks
  2. Mari Berfikir Tentang Alkitab dan Apa Yg Tertulis Di Dalamnya – Mark Tabb
  3. Sang Putera & Sang Bulan; Kristen dan Islam – Curt Fletemier
Oleh :
Sesandus Demaskus

1 komentar:

  1. Slots and Video Poker - DrmCD
    We op 사이트 have 안동 출장샵 you covered! Slots and Video Poker is a high quality 용인 출장마사지 casino 김제 출장안마 experience 남원 출장마사지 that is accessible across most desktop and mobile devices. We also offer a

    BalasHapus