Selasa, 28 Januari 2014

Tentang Taurat dan Injil ( THE INFALLIBITY OF THE TORAH AND THE GOSPEL)

Kesempurnaan Taurat dan Injil
Judul Asli:
THE INFALLIBITY OF THE TORAH AND THE GOSPEL
Iskander Jadeed

Preface
Ribuan tahun yang silam, Allah memerintahkan bangsa Yahudi melalui nabi Musa, “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN,Allahmu, yang Kusampaikan kepadamu” (Ulangan 4:2). Perintah ini diulangi dalam perintah yang sama “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya” (Ulangan 12:32).
Beberapa abad kemudian, raja Salomo menyaksikan, “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang –orang yang berlindung padaNya. Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta “ (Amsal 30:5-6).
Pada bagian penutup Alkitab, kita temui peringatan keras ini, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam kitab ini” (Wahyu 22:18-19).

Dengan adanya peringatan-peringatan keras seperti itu, apakah masih ada seorang yang beriman kepada Allah, dan yang percaya pada kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya, berani memalsukan firman Allah yang akan mengakibatkan ia kehilangan semua berkat rohani yang telah disiapkan Allah baginya dan jaminan keselamatan dan hidup kekal yang dijanjikan Allah bagi umat manusia…?

Sedangkan orang kafir sendiri tidak sanggup memalsukan kitab-kitab illahi itu karena mereka tidak dapat mengumpulkan naskah yang tersebar di seluruh dunia ini supaya dipalsukan.

Patut disayangkan bahwa pada akhir zaman ini masih ada orang yang dengan tegar menuduh rasul-rasul Kristus yang tidak bersalah itu memalsukan Injil yang dipercayakan kepad mereka. Satu hal yang bertentangan dengan Alkitab dan Al Qur’an kitab umat Islam yang menyaksikan tentang para rasul itu sebagai orang yang dikenal karena ketulusan dan kejujuran mereka bahkan mereka disebut”Penolong-penolong dari Allah” (QS Ali Imran 3:52).

Ada banyak bukti yang menguatkan keaslian alkitab dan keterlepasannya dari bentuk-bentuk penyelewengan, pemalsuan maupun pemutar balikkan.

Asal Usul Dan Perkembangan Alkitab
Allah mengamati perjalanan kitab-Nya secara seksama dengan penuh hikmat dan bijaksana. Mereka yang meneliti Perjanjian Lama akan menemukan bahwa kitab illahi itu sendiri mengungkapkan tentang pembentukannya melalui tiga periode sejarah.

Periode pertama : Adam sampai Musa
Kitab suci yang diilhamkan Allah, menjelaskan pada kita, bahwa Allah membawa semua jenis binatang dan burung kepada Adam agat tahu bagaimana ia memberi nabi pada binatang-binatang tersebut (Kejadian 2:15-19). Tetapi bagian ini tidak menyebutkan bagaiman Allah berbicara dengan manusia untuk pertama kalinya. Sebab itu banyak di antara kita mengambil jalan menerka dan berkhayal dalam memberi penilaian atas sejarah kudus ini dengan melupakan jutaan tahun yang memisahkan kita dari peristiwa-peristiwa yang ditulis pada bagian awal kitab Kejadian tersebut.
Kita tidak tahu pasti kapan Allah menyatakan diri pada umat manusia. Namun isi Alkitab menolong kita sampai pada satu kesimpulan. Henokh yang disebut dalam kitab Kejadian pasal 5, menurut Yudas adalah seorang nabi generasi ke VII sesudah Adam. Alkitab menceritakan bahwa Henokh “Hidup bergaul dengan Allah”. Tidak dapat diragukan bahwa nabi ini memiliki informasi tentang masa silam karena menurut silsilah Alkitab, ia masih mengenal Adam dan bercakap-cakap dengannya. Metusalah, anak Henokh yang hidup sampai zaman Nuh adalah seorang saleh pada generasinya dan hidup dekat dengan Allah.
Tidak dapat diragukan Nuh, yang mengkhotbahkan keadilan dan kebenaran tentulah telah menyampaikan hikayat kudus ini pada generasi-generasi sesudah air bah (2 Petrus 2:5). Sem, anak Nuh, masih hidup sampai zaman Abraham (Kejadian 10:21 dan 11:10,26). Alkitab menjelaskan pada kita bahwa peristiwa-peristiwa dari hikayat kudus itu telah disampaikan kepada Abraham. Dalam Galatia 3:8 kita baca : “Dan kitab suci yang sebelumnya mengetahui bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh iman telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham, ‘olehmu segala bangsa akan diberkati’. Ayat ini meyakinkan kita bahwa Abraham telah memiliki informasi jelas tentang kejadian-kejadian sebelumnya yang kemudian pada gilirannya ia teruskan kepada anak-anaknya. Dalam Kejadian 18:19: ”Sebab Aku telah memilih dia,supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menerut jalan yang ditunjukan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya. “ Dari ayat ini dapat dibuktikan bahwa hubungan antara Adam dan Musa tidak sulit tercapai.

Periode Kedua : Generasi-generasi Musa
Mulai dari kitab Keluaran satu urutan dari banyak kejadian yang ditulis secara rinci dalam kitab kudus selaras dengan apa yang diperintahkan Allah kepada Musa untuk dicatat.
“Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa, ‘Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua’ (Keluaran 17:14).

Kita tahu bahwa “Diambilnyalah (Musa) kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu” (Keluaran 24:7) dan “Musa menuliskan perjalanan meeka dari tempat persinggahan ke tempat persingggahan sesuai dengan titah TUHAN” (Bilangan 33:2). Juga “Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian’ambillah kitab taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi disitu terhadap engkau”(Ulangan 31:24-26).

Periode ke tiga : Yosua sampai Maleakhi
Allah berfirman kepada Yosua: ”Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya” (Yosua 1:8). Dan “Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah” (Yosua 24:26).
“Kemudian Samuel menguraikan pada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan, menuliskannya pada satu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN (I Samuel 10:25).
Menjelang akhir masa raja-raja, pada masa pemerintahan raja Yosia. Tulisan-tulisan kudus itu membawa satu kebangkitan iman ketika dibacakan oleh safan seorang sekretaris kerajaan sesuai dengan perintah Hilkia, imam besar diwaktu itu (2 Raja-raja 22:8-13).
Nabi Yesaya menghimbau umatnya agar kembali kepada firman Allah dengan membacanya untuk membuktikan kesempurnaannya. Ia berkata : ”Carilah dalam kitab TUHAN dan bacalah: Satupun dari semua makhluk itu tidak ada yang ketinggalan dan yang satu tidak kehilangan yang lain; sebab begitulah perintah yang keluar dari mulut TUHAN; dan Roh TUHAN sendiri telah mengumpulkan mereka”(Yesaya 34:16).
Nabi Yeremia yang diperintahkan Allah menuliskan nubuat-nubuatnya, berkata: ”Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa.”(Yeremia 36:2).
Nabi Daniel bersaksi tentang naskah-naskah kudus ini dalam kitab nubuatannya, dengan berkata, “Aku, Daniel memperhatikan dalam kumpulan kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun” (Daniel 9:2).
Pada masa pemerintahan Artahsasta, raja Persia, Ezra dan Nehemia memusatkan diri meneliti hukum Musa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Alkitab berkata : ”Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti taurat TUHAN”(Ezra 7:10). Dalam kitab Nehemia :”Maka serentak berkumpullah seluruh rakyat dihalaman depan pintu gerbang air…..imam Ezra membawa kitab taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Ia membacakan beberapa bagian dari kitab itu dihalaman pintu gerbang air dari pagi sampai tengah hari”(Nehemia 8:1-3).
“Firman Tuhan datang kepada Zakharia, bunyinya : Beginilah firman Tuhan semesta alam, laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih saying kepada masing-masing. Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melauli rohNya dengan perantaraan para nabi yang dahulu”(Zakharia 7:8-12).
Maleakhi berbicara tentang Alkitab yang disebutnya ”Sebuah kitab peringatan” dalam kata-kata berikut ini : ”Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN,TUHAN memperhatikan dan mendengarkannya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapannya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya.” (Maleakhi 3:16).
Hal-hal di atas menyatakan kepada kita secara jelas bahwa Allah mengamati dengan teliti atas perkembangan alkitab dari generasi-generasi, mengilhami orang-orang kudus untuk menuliskan nubuatan-nubuatan mereka dan pengajaran-pengajaran bagi kebaikan umat manusia. Sesudah menurunkan hukum-hukumnya Allah yang hidup mengamatinya agar hukum-hukum itu terpelihara sesuai dengan kehendak dan janjinya.

Kesaksian Dari Ilham
Kesaksian Allah tentang kekekalan firmanNya
Alkitab berisikan sejumlah pernyataan dan janji Allah bahwa firmanNya kekal adanya dan tidak akan berubah. Di bawah ini beberapa kutipan diantaranya:
“Tetapi kasih setiaKu tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaanKu. Aku tidak akan emlanggar perjanjianKu dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan Kuubah.” (Mazmur 89:34-35).
“Karena Aku berkata kepadamu;’Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum taurat sebelum semuanya terjadi.”(Matius 5:18).
“Aku berkata kepadamu:’Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.”(Matius 24:34-35).
“Kitab suci tidak dapat dibatalkan.”(Yohanes 10:35).

Kesaksian Allah tentang nabi-nabiNya
Firman Allah kepada nabi Yeremia,”Jangan takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN. Lalu TUHAN mengulurkan tanganNya dan menjamah mulutku, TUHAN berfirman kepadaku;’Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu.’”(Yeremia 1:8-9).
Kepada Hosea, Ia berfirman,”Aku berbicara kepada para nabi dan banyak kali memberi penglihatan dan memberi perumpamaan dengan perantaraan para nabi.”(Hosea 12:11).
FirmanNya kepada nabi Yesaya,”Adapun Aku, inilah perjanjianKu dengan mereka, firman TUHAN;’ RohKu yang menghinggapi engkau dan firmanKu yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.’”(Yesaya 59:21).
Kepada Yehezkiel Allah berfirman sebagai berikut,”Hai anak manusia, bangun dan berdiri, Aku hendak berbicara kepada engkau.. Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak melawan Aku…Jangan takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya. Sampaikan perkataan-perkataanKu kepada mereka, baik mereka mau mendengar atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak….ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.”(Yehezkiel 2:1-8).
Allah berfirman kepada Maleakhi,”Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirim perintah ini kepadamu, supaya perjanjianKu dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam. PerjanjianKu dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya – pada pihak lain kekuatan – dan ia takut kepadaKu dan gentar terhadap namaKu. Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya.”(Maleakhi 2:4-6).
Dia juga berfirman kepada nabi Zakharia,”Tetapi segala firman dan ketetapanKu yang telah Kuperintahkan kepada hamba-hambaKu, para nabi, bukankah itu telah sampai kepada nenek moyangmu ? Maka bertobatlah mereka serta berkata:’Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita.’”(Zakharia 1:6).

Kesaksian Para Nabi Dan Rasul
Para nabi dan rasul Allah menyaksikan bahwa Allah telah berfirman dan mengilhami mereka dalam menuliskan semua nubuat dan ajaran itu menjadi satu hukum yang kekal bagi umat manusia. Berikut ini kami kutipkan beberapa kesaksian mereka.
  1. Daud berkata: ”Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku,firmanNya ada di lidahku.”(2 Samuel 23:2).
  2. Yesaya berkata: ”Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”(Yesaya 40:7-8).
  3. Yeremia berkata: ”Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku bunyinya;’Apakah yang kau lihat, hai Yeremia ?’ Jawabku:’Aku melihat sebatang dahan pohon badam.’ Lalu firman TUHAN kepadaku:’Baik penglihatanmu sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firmanKu.’” (Yeremia 1:11-12).
  4. Yehezkiel berkata: ”Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku;’Hai anak manusia, Aku telah menempatkan engkau menjadi penjaga Israel. Bila mana engkau mendengarkan sesuatu firman dari padaKu, peringatkanlah mereka atas namaKu.’”(Yehezkiel 3:16-17).
  5. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya,”Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia akan berkata-kata di dalam kamu.”(Matius 10:20).
  6. Rasul Paulus berkata,”Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menfsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia tetapi oleh Roh.”(I Korintus 2:12-13).
  7. Rasul Petrus berkata,”Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Sebab:’Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’”(I Petrus 1:23-25).” Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”(2 Petrus 1:20-21).

Kesaksian Tradisi Para Penerus Rasuli
Sejarah mencatat bahwa sarjana-sarjana di bidang keagamaan yang sejaman dengan rasul-rasul dan yang meneruskan pelayanan para rasul itu dalam gereja banyak mengutip dari Alkitab, khususnya dari kitab-kitab Injil dalam khotbah-khotbah maupun karya-karyanya, karena mereka telah yakin, bahwa kitab-kitab Injil itu adalah kitab ilahi dan ilhami Allah, sebab itu ia bebas dari pemalsuan.
Beberapa orang diantaranya.
  1. Clement, pemimpin gereja di Roma bekerjasama dengan rasul Paulus seperti yang disebutkan dalam Filipi 4:3.
  2. Dionysius, pemimpin gereja di Korintus meninggal pada tahun 100.
  3. Hermas, yang hidup sejaman dengan Paulus, menulis buku dalam tiga jilid edngan banyak mengutip dari Perjanjian Baru.
  4. Ignatius, seorang yang dipilih menjadi Pimpinan gereja di Antiokhia 37 tahun sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga.
  5. Polikarpus, seorang sahid, murid rasul Yohanes dan Pimpinan gereja di Smyrna. Ia meninggal kaena imannya (dianiaya) pada tahun 166. Hanya satu dari sekian banyak karya tulisnya yang terpelihara, yakni sebuah surat yang penuh kutipan dari kitab-kitab Injil.
Sebagai tambahan dapat disebutkan pemuka-pemuka gereja abad ke II yang mengutip dari Alkitab dalam menyokong ajaran mereka.
  1. Papias, pemimpin gereja di Hierapolis, di daerah Phrygia (Turki), dikenal sebagai seorang sarjana berbakat pada tahun 110. Ia berkenalan dengan Polikarpus dan menulis tafsiran Alkitab dalam 6 jilid. Ia mengatakan bahwa kitab-kitab Injil yang ditulis dalam bahasa Yunani beredar dikalangan gereja dan menyaksikan bahwa Markus, penulis Injil adalah rekan sekerja Petrus dan Injilnya banyak beredar di kalangan umat Kristen.
  2. Yustinus, seorang sahid, lahir tahun 89, mulanya adalah seorang ahli pikir yang kafir. Kerinduannya untuk mencari kebenaran memimpin dia kepada iman Kristen. Pemikir yang tersohor ini menulis banyak buku dalam membela iman Kristen berdasarkan keempat Injil. Dalam salah satu buku dia menulis tentang kunjungannya ke gereja-gereja di Roma, Aleksanderia dan Efesus. Ia mencatat bahwa orang-orang Kristen di daerah itu menyembah Allah dengan membaca kitab-kitab Injil dengan suara keras di gereja masing-masing.
  3. Hegius seorang yang menonjol 30 tahun kemudia sesudah Yustinus. Kesaksiannya menjadi sangat penting karena perjalanannya dari Palestina ke Roma dan perjumpaannya dengan banyak pimpinan gereja. Ia menyaksikan orang-orang Kristen dimana-mana mengajarkan satu ajaran, berdasarkan hukum, para nabi dan Tuhan Yesus Kristus.
  4. Irenius, seorang Yunani dari Asia kecil lahir tahun 140. Ia termasuk salah seorang murid jPolikarpus yang sempat menjadi murid Yohanes. Kegiatannya berpusat di Lyon tempat ia ditetapkan sebagai Pemimpin gereja. Penerus Bonitus yang mati sahid tahun 177. Ia menulis sebuah surat yang sarat dengan kutipan-kutipan dari kitab-kitab Injil. Pada salah satu bagian, ia berkata: “Kami tidak menerima keselamatan dari sumber lain kecuali dari mereka yang telah menyampaikan Injil kepada kami, yang mula-mula dikhotbahkan dan kemudian ditulis menurut kehendak Allah menjadi dasar dan tiang penyangga iman kita. Karena sesudah kebangkitan Kristus dari kematian, Allah melengkapi para rasul dengan kuasa Roh Kudus sehingga mereka mengenal Injil secara penuh dengan baik. Mereka pergi ke ujung-ujung (yang waktu itu dikenal) dunia memberitakan kabar baik dari anugerah damai sejahtera surga bagi umat manusia. Masing-masing membawa Injil Allah.”
  5. Matius menulis Injilnya untuk orang Yahudi ketika Paulus dan Petrus berada di Roma memberitakan Injil damai sejahtera dan mendirikan gereja di sana. Setelah mereka tiada, Markus, seorang murid dan rekan sekerja Petrus menulis Injil yang berintikan khotbah Petrus. Lukas seorang dokter dan rekan seperjalanan Paulus menulis Injil sesuai engan pengajaran Paulus. Sesudah itu, Yohanes Murid Kristus yang pernah bersandar di dadaNya, menulis Injil sewaktu ia berada di Efesus.
  6. Sarjana yang terkenal ini menambahkan,”Ajaran-ajaran yang disampaikan pada rasul itu, terus menyebar ke seluruh dunia. Semua orang yang mencari kebenaran akan menemui di mana ajaran-ajaran ini dipelihara dan dianggap kudus oleh setiap gereja.”
  7. Ia juga berkata,”Kita masih dapat mengenang mereka yang ditetapkan oleh para rasul sebagai pemimpin-pemimpin gereja, termasuk semua yang meneruskan pelayanan mereka sampai saat ini:dan kita patut mengucap syukur atas adanya mata rantai kewibawaan ini di mana kita telah menerima hikayat-hikayat yang ada dalam gereja dan ajaran-ajaran kebenaran seperti yang dikhotbahkan oleh kitab-kitab Injil.”
  8. Clement, pemimpin gereja di Aleksanderia hidup 16 tahun sesudah Irenius. Ia menyaksikan bahwa semua gereja percaya pada keempat Injil. Sarjana yang terkenal ini mengutip banyak ayat dari keempat Injil tersebut dalam pengajaran dan banyak karya tulisnya dan mengakui bahwa “keempat Injil itu asli adanya”.
  9. Tertulianus, lahir pada tahun 160 dan diperkirakan wafat tahun 220. Sarjana ini menulis tentang para rasul: “Yohanes dan Matius mengajarkan kita tentang iman. Lukas dan Markus, rekan seperjalanan meeka menyegarkan dan mengilhami kita”. Setelah menghitung gereja-gereja yang didirikan Paulus di Korintus, Galatia, Efesus, Filipi dan Tesalonikan dan gereja-gereja yang didirikan oleh Yohanes dan gereja di Roma yang didirikan Petrus dan Paulus ia berkata: ”Keempat Injil ini telah digunakan gereja sejak awal.”  Ia juga menambahkan: ”Kami sebagai orang kristenberibadah bersama dan membaca Kitab-kitab Kudus itu dan merawat iman kami, membangkitkan harapan kami dan menguatkan keyakinan kami melalui firman yang kudus itu.”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
  1. Semua Pemimpin Kristen, mulai dari mereka yang sejaman dengan para rasul dan penerus mereka, sampai para sarjana yang terkenal, menyebutkan ayat-ayat yang menonjol dalam kitab suci dan mengutipnya dalam percakapan mereka sehari-hari.
  2. Kepercayaan terhadap Kitab Suci dengan kutipan-kutipan yang ada menggambarkan keyakinan mereka bahwa Kitab Suci sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam menyelesaikan segala bentuk perdebatan yang ada.
  3. Mereka membaca dan menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci dalam ibadah bersama.
  4. Mereka menulis tafsiran Kitab Suci dalam beberapa jilid meneguhkan keselarasan tulisan para rasul itu sebagai diilhami Roh Kudus.
  5. Semua orang Kristen, dari mulanya telah percaya pada Kitab Suci tanpa memandang kebangsaan atau pengakuan iman masing-masing.

Kesaksian Dari Salinan – Salinan Kuno
Di antara pusaka yang dipelihara orang Kristen terdapat salinan-salinan tua yang sejarah pembuatannya melewati banyak generasi jauh sebelum munculnya Islam. Di antaranya adalah:
  1. Codex Aleksanderia, sesuai nama kota tempat penulisannya. Salinan ini menempati tempat teratas di antara tiga salinan yang lainnya, dipersembahkan kepada Raja Inggris Charles I oleh Cyril Lucar, seorang pejabat di Konstantinopel 1628. Salinan ini dibawa dari Aleksanderia sewaktu ia menjadi uskup agung di sana yang ditulis dalam bahasa Yunani dan berisikan seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada halaman pertama dibagian catatan pinggir tertera sebuah tulisan kecil menunjukkan bahwa seluruh isi kitab itu ditulis dengan tangan oleh seorang wanita bangsawan Mesir bernama Taqla disekitar tahun325. Cyril mengomentari catatan pinggir ini dengan tulisannya sendiri, mengatakan bahwa tanggal itu benar dan sesuai dengan pendapatnya. Salinan ini ditulis di atas perkamen (kertas yang dibuat dari kulit binatang) yang lazim digunakan waktu itu dengan dua kolom pada setiap halaman dengan 50 baris setiap kelompoknya. Salinan ini masih dipamerkan di British Museum di London.
  2. Codex Vatikanus, dinamakan demikian karena tersimpan di perpustakaan Vatikan. Salinan ini ditulis atas perkamen yang indah dalam bentuk kecil.Setiap halaman terdapat tiga kolom, masing-masing untuk 42 baris. Salinan mencakup seluruh isi Alkitab dalam bahasa Yunani. Para sarjana berpendapat, Naskah ini ditulis sekitar tahun 300.
  3. Codex Sinaitikus, menyaingi salinan Vatikanus dari segi usia karena mungkin sedikit lebih tua darinya. Salinan ini besar kegunaannya untuk membandingkan naskah-naskah. Dinamakan salinan Sinai karena ditemukan di Sinai oleh seorang sarjana Jerman Tischendorf di biara St.Catherine pada tahun 1844. Ditulis pada kulit binatang besar yang lazim digunakan waktu itu. Naskah ini dipersembahkan oleh penemunya kepada Kaisar Aleksander dari Rusia dan tersimpan di sana sampai revolusi Bolshevik dan kemudian dibeli oleh British Museum di London dan disimpan di sana sampai saat ini.
  4. Codex Ephraem, disimpan di Perpustakaan nasional di Paris dan berisikan seluruh Alkitab dalam bahasa Yunani. Ditulis di atas perkamen dlaam bentuk tulisan yang baik tanpa jarak huruf dan tanda baca. Huruf pertama pada setiap halaman, lebih besar dari lainnya. Naskah ini kemungkinan ditulis sekitar tahun 450.
Semua salinan kuno ini memberi sanggahan atas pernyataan Al Qur’an yang berpendapat bahwa Alkitab sudah dipalsukan, sekaligus mereka membuktikan bahwa Alkitab adalah asli karena ditulis sebelum Al Qur’an . Alkitab yang ada pada kita saat ini tidak berbeda sedikitpun dari salinan-salinan kuno tersebut.

Kesaksian Dari Gulungan-Gulungan Tua
Gulungan-gulungan Qumran
Di antara harta karun yang ditemukan di gua-gua Qumran tahun 1947, terdapat satu naskah utuh dari kitab Yesaya, seorang nabi, ditulis dalam bahasa Ibrani atas kulit binatang dalam bentuk gulungan. Gaya penulisan dan perbendaharaan kata yang ada menunjukkan bahwa naskah ini ditulis pada abad kedua sebelum Masehi. Para sarjana yang sudah menelitinya berpendapat bahwa naskah itu tidak berbeda dengan apa yang kita miliki saat ini.
Sebuah salinan dari kitab Imamat, Ayub, Mazmur, dan Habakuk juga ditemukan di gua-gua Qumran ini. Isinya sama dengan kitab-kitab tersebut seperti yang ada ditangan kita. Ada juga sejumlah daftar kitab Perjanjian Lama berisi semua kitab kecuali kitab Ester.

Gulungan-gulungan Arsoinoe
Pada tahun 1877 ditemukan sejumlah besar dokumen di Arsoinoe, sebelah selatan Kairo, ditulis di atas papiris dan ditanam dalam pasir. Di antaranya terdapat salinan Injil Yohanes yang tidak berbeda dengan yang kita miliki sekarang.

Gulungan-gulungan Sinai
Baru-baru ini ditemukan satu salinan keempat Injil dalam bahasa Siria di biara St.Catherine di Sinai. Penulisannya terjadi sekitar abad 5. Sebuah salinan yang merupakan terjemahan yang dikerjakan orang-orang Kristen pada abad ke II, yang tidak berbeda dengan versi Injil yang kita miliki sekarang ini.

Pencarian dan penemuan gulungan-gulungan tua ini dengan demikian menegaskan kembali naskah-naskah keaslian Alkitab dalam cara yang mengagumkan. Sungguh luar biasa di mana kitab ilahi dapat sejalan dengan sejarah sampai pada soal-soal kecil. Kami berharap bahwa masih banyak penemuan lagi akan terjadi. Sarjana-sarjana yang sedang berupaya keras dalam penggalian-penggalian mereka, dan dalam segala perkara hanya menunjuk pada satu kenyataan bahwa tidak ada landasan lagi bagi para pengeritik dan penentang Perjanjian Baru dan waktu penulisannya. Tidak perlu disangsikan,kesesuaian antara hasil penemuan ini dengan Alkitab telah memberi bukti yang paling kuat atas keaslian ilham ilahi dan ketulusan penulisannya.
Dr.Albright, seorang ahli benda purba berkata: “Dengan adanya penemuan-penemuan di Qumran, maka kita dapat yakin bahwa Perjanjian Baru yang sekarang ini sama dengan waktu ia dituliskan dan berisikan pengajaran-pengajaran Kristus dan murid-muridNya. Waktu penulisan terjadi pada periode antara tahun 25 dan tahun 80.”

Kesaksian Arkeologi
Sejak dahulu , Kitab Suci telah diserang habis-habisan oleh kaum ateis, liberalis Kristen dan non Kristen karena tidak sejalan dengan pendapat mereka. Banyak di antara mereka telah berupaya keras mendapatkan sesuatu dari peninggalan-peninggalan kuno dan prasasti-prasasti yang bertentangan dengan Kitab Suci, tetapi penemuan-penemuan yang ada justru mengecewakan mereka. Prasasti-prasasti yang ditemukan ahli-ahli benda kuno di Palestina dan Mesopotamia, menguatrkan isi Alkitab lagi sampai ada kaum ateis itu menjadi percaya, karena prasasti-prasasti itu menyaksikan akan kemurnian isi Alkitab.
Para ahli purba lazimnya berkeyakinan bahwa tulis-menulis belum digunakan di Palestina sebelum tahun 540 Sebelum Masehi. Ini berarti bahwa Musa bersama yang lainnya di masa Perjanjian Lama tidak menulis kitab-kitab yang diberikan pada mereka. Kaum yang tidak beriman berpendapat penulis Taurat terlalu membesar-besarkan peristiwa sejarah dan penyampaian budaya di Timur Tengah dari sudut ketidakcocokan antara kitab-kitab mereka dengan penemuan-penemuan para ahli sejarah purba.
Bagaimanapun, penemuan-penemua ini menolak total akan pendapat tersebut saat mereka menegaskan kembali keaslian kitab-kitab ilahi dalam penulisannya mengenai kebudayaan dan Mesir, Babilonia dan Syria. Juga membenarkan apa yang dikemukakannya tentang Sanherib, Tiglant, Pileser, Nebukadnezar dan lain-lainnya.
Kita patut bersyukur dengan adanya penemuan-penemuan ini, kita diberi kesempatan menyaksikan lempengan-lempengan berisikan surat-surat yang pernah digunakan Musa, Yosua, Yesaya, Samuel dan lain-lainnya. Kita juga diyakinkan bahwa hal tulis-menulis telah dikenal pada masa Abraham, Musa, Ayub dan Nehemia sama seperti sekarang ini.
Kita sungguh berbahagia dengan ucapan Kristus, bahwa “batu-batu akan berbicara”, telah digenapi pada generasi kita ini. Batu-batu itu telah berbicara melalui prasasti-prasasti yang tertulis atasnya, mencakup hampir seluruh peristiwa yang diutarakan dalam Alkitab.

Cerita Penciptaan
Prasasti-prasasti Babilonia dan Asyur berisikan kisah penciptaan yang pada pokoknya sejalan dengan isi Alkitab, hanya pada beberapa hal kecil. Alkitab mengemukakan: “Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang” (Kejadian 1:16). Prasasti Babilonia berbunyi:”Allah menciptakan nebulae (kabut bercahaya) dan bintang-bintang”. Alkitab berkata bahwa Allah menciptkan ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar”menurut jenis masing-masing” (Kejadian 1:24), dan prasasti Babilonia mengemukakan, “binatang-binatang ini diciptakan oleh dewa-dewa”. Alkitab berkata, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari tanah”(Kejadian 2:7), sedang versi Babilonia berbunyi,”dewa Mardokh menciptakan manusia dari daging dan tulang-tulang”.

Monotheisme dan Polytheisme
Alkitab menegaskan bahwa manusia telah murtad, melupakan Allah yang hidup dan memuja dewa-dewa, sehingga para nabi berupaya mengembalikan mereka menyembah hanya kepada Allah saja; sedangkan kaum yang tidak percaya berpendapat, bahwa manusia sejak dahulu telah menyembah banyak dewa. Pendapat ini berlaku dikalangan orang banyak sampai Dr.Herbert seorang ahli benda purba dan guru besar pada bidang Asyur di Universitas Oxford menolaknya. Ia mengemukakan bahwa kebiasaan menyembah ALLAH yg esa di kalangan bangsa Sem dan Sumeria telah ada sebelum kebiasaan menyembah dewa-dewa.
Temuan-temuan belakangan ini, menolak paham yang sudah lazim di kalangan cendekiawan yang mengatkan bahwa, kebiasaan menyembah satu Tuhan dalam agama Yahudi tidak ditemui sebelum diberitakan nabi-nabi pada abad ke 7 dan 8 Sebelum Masehi.
Ada banyak ilham membenarkan bahwa Musa telah mengajarkan keesaan Allah sebelum bangsa Ibrani memasuki tanah Kanaan.

Kisah Air Bah
Ilmu purbakala telah memberikan kita satu kisah air bah yang luar biasa dari prasasti-prasasti Babilonia, yang sesuai dengan isi kitab Kejadian. Kedua-duanya menyebutkan bahwa air bah terjadi seturut rencana illahi. Keduanya juga menyinggung tokoh dalam kisah itu yang memperingatkan datangnya malapetaka dunia; dan sesudah menyampaikan peringatan yang perlu itu, ia membangun sebuah kapal baginya bersama keluarga. Kemudian ia membawa binatang-binatang ke dalam kapal tersebut sepasang untuk setiap jenisnya guna memelihara kelangsungan hidup mereka. Waktu air surut, pahlawan itu melepaskan burung-burung untuk mengetahui apakah air sudah benar-benar surut. Setelah air bah berlalu, ia mempersembahkan korban kepada Allah yang menjawab dan menjanjikan keselamatan baginya.

Ur-Kasdim
Sebelum diadakan penggalian di Mesopotamia, para sarjana Alkitab tidak mengetahui banyak tentang perkembangan budaya dan peradaban yang ada di sana. Sebenarnya di atas padang belantara ini, pernah ada taman firdaus dengan sungai-sungai mengalir dan sebuah kota besar dari satu bangsa dengan peradaban yang mengagumkan. Penggalian-penggalian di tempat ini menyatakan bahwa pada zaman purba sejumlah orang Sumeria datang ke tempat ini kemudian menetap dan membangun kebudayaan yang besar. Sesuai dengan agama mereka, orang Sumeria ini dikenal sebagai bangsa yang menyembah banyak dewa. Setiap keluarga mempunyai dewa masing-masing. Hal mana menjelaskan tingkah laku Rahel ketika ia mencuri dewa-dewa ayahnya Laban sebelum ia melarikan diri bersama suaminya Yakub.
Penggalian inipun membuktikan bahwa Abraham bukanlah seorang sheik dari suku terasing yang menetap dikemah-kemah, tetapi ia termasuk dalam satu bangsa dengan peradaban tinggi yang hidup di Haran. Semua ini sesuai Kejadian 11:28-31. Kalau kita amati perjalanan panjang Abraham, akan kita dapati bahwa bapa orang yang setiawan ini melewati Dothan, Bethel dan Sikhem, kota-kota seperti disebutkan dalam Alkitab. Malahan reruntuhan yang ditemukan di Palestina sehubungan dengan keaslian Alkitab, mengungkapkan satu daerah di bagian selatan laut mati, tempat Abraham menetap sebentar, berpenduduk padat dan beraneka ragam dizaman Abraham.

Kisah Yusuf
Yusuf adalah contoh korban perlakuan kejam dari saudara-saudaranya. Ia dijual pada kafilah Mesir. Karena ia tidak bersalah dan benar, Allah menjadikan pengalaman pahitnya itu menjadi berkat. Ia berkenan di hadapan raja Firaun yang kemudian mengangkatnya menjadi kepala perbendaharaan Mesir. Kisah ini dibenarkan oleh lempengan yang ditemukan dalam kubur seorang Mesir yang terpandang dan yang hidup sezaman dengan Yusuf. Sarjana-sarjana menduga dari pertemuan ini bahwa masa kelaparan yang mengerikan terjadi pada zamannya dan negara telah membagi-bagi makanan yang telah dikumpulkan oleh bendahara dalam tahun-tahun kelimpahan dan sebagai imbalan negara mengambil alih harta kekayaan pribadi. Laporan ini sesuai dengan Kejadian 47:18-22.

Perbudakan Bangsa Ibrani di Mesir
Sebuah patung batu dari bangsa Ibrani yang sedang membangun sebuah kuil untuk raja Firaun dizaman Thotmes III. Ditemukan di Mesir. Dari banyak reruntuhan lainnya, ditemukan dinding-dinding dengan ketebalan 8 kaki yang dibuat dari jerami dan tanah liat yang dikeringkan di bawah panas matahari. Penemuan ini menunjang apa yang dituliskan dalam Keluaran 5:7.

Keluarnya Bangsa Ibrani dari Mesir
Sebuah lempengan hasil temuan di Tell-el-Amarna tahun 1888 dengan prasasti yang dituliskan dalam gaya penulisan kuno (dalam bentuk baji), mengatakan bahwa gubernur Palestina mengirimkan lempengan-lempengan kepada Firaun yang isinya memohon bantuan untuk menghadapoi serangan bangsa yang dikenal dengan bangsa Ibrani.

Musa dan Hukum Taurat
Ada satu pendapat yang umum diterima beberapa sarjana bahwa hukum taurat ada sesudah zaman Musa. Tetapi melalui penggalian dibawah pimpinan Morga tahun1884 membenarkan Alkitab dengan mengemukakan bahwa hukum taurat diberikan melalui Musa. Mereka menemukan satu harta karun berupa naskah-naskah di istana Shushan, seperti disebutkan dalam kitabEster. Naskah-naskah ini menunjang isi Alkitab mengenai hukum taurat dari Musa.

Laporan Alkitab mengenai beberapa rumpun bangsa Kuno
Di Ras Shamra beberapa puluh mil utara Lataqiah di Syria ditemukan sisa-sisa kota Ugarit. Kota ini didirikan tahun 2000 Sebelum Masehi. Ratusan lempengan yang ditemukan sesuai dengan laporan Alkitab tentang bangsa Het, Hewi dan Peris.

Lempengan- lempengan orang Mesir menetapkan adanya bangsa Het
Belum lama berselang, sejarahwan menyangsikan adanya bangsa Het, sedangkan Alkitab melaporkan bahwa Abraham membeli sebuah goa di Makhpela untuk kuburan isterinya, Sarah dalam Kejadian 23:20. Kesangsian ini sirna ketika catatan bangsa Het itu ditemukan atas lempengan-lempengan kuno bangsa Mesir. Salah satu catatan menceritakan pertempuran antara bangsa Het dan pasukan Ramses II dekat Kadesh pada tahun 1287 Sebelum Masehi.

Pertanyaan Yang Tidak Terelakan
Setelah membahas pokok-pokok seperti yang telah dipaparkan, kita merasa perlu mengajukan pertanyaan pada mereka yang berpendapat bahwa Alkitab itu sudah diselewengkan, agar mengajukan bukti ilmiah dan sejarah, menyangkut waktu dimana pemalsuan itu terjadi.

Selanjutnya kita merasa berkewajiban mengajukan pertanyaan :
  1. Kapan pemalsuan akan Injil terjadi …?
  2. Apakah sebelum atau sesudah Al Qur’an diturunkan …?
Kita ingin bertanya kepada semua penganut paham “pemalsuan”, apakah yang merangsang orang-orang Kristen memalsukan Alkitabnya… ?

Tanggapan Sarjana-Sarjana Muslim Tentang Pemalsuan
Pada abad-abad yang lalu, Al Qur’an dengan jelas sekali mengakui Taurat dan Injil sebagai firman Allah tidak dapat diubah. Jika kesaksian ganda ini benar, maka hal ini merupakan satu perintah sebagai kesimpulan bahwa Taurat dan Injil tidak dipalsukan, sebelum dan sesudah Al Qur’an.

Sebagai contoh, sarjana-sarjana Muslim di India setelah meneliti masalah ini secara rinci dipandang dari Al Qur’an, mereka disadarkan bahwa Alkitab, perjanjian lama dan perjanjian baru, tidak pernah diubah, diganti atau dipalsukan seperti yang biasanya dijamin; tetapi ada petunjuk akan adanya sekelompok orang Yahudi yang bertindak ceroboh dalam menafsirkannya.

Sarjana-sarjana yang ini mendasari keyakinan mereka atas tafsiran sarjana-sarjana Muslim yang ada mengenai ayat-ayat Al Qur’an seperti Ar Razi, Al Jalalan dan Abu Ja’far At Tabari. Saya kutipkan beberapa diantaranya :
 “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata :”Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) :”Dengarlah “sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) :”Raa’ina), dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan :”Kami mendengar dan menuruti, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS An Nisaa 4:46).

Inti dari penjelasan Ar Razi tentang ayat ini berhubungan dengan adanya sekelompok orang Yahudi yang biasanya mendatangi Muhammad untuk mendapatkan jawaban atas beberapa pertanyaan yang memang sering dijawab Muhammad.

Sedangkan penjelasan Al Jalalan mengenai ayat tersebut diutarakan seperti berikut ini: Sekelompok orang Yahudi mengubah beberapa kata dalam Taurat dari kata aslinya, khususnya yang berhubungan dengan Muhammad. Mereka berkata pada Muhammad, sekiranya Muhammad memerintahkan sesuatu, “Kami dengar, tetapi kami durhakai”. Mereka juga berkata kepadanya, “Dengarlah tanpa terdengar “, yang artinya “Engkau tidak pernah mendengar apa-apa”. Akhirnya mereka mengatakan kepadanya,”Ra’ina”, dalam bahasa Arab yang artinya “Dengarkanlah kami”, tetapi digunakan sebagai kutuk dalam bahasa mereka. Demikianlah mereka memutar lidah dan mencaci Islam (Jalalan 112).
Dalam tafsir At Tabari kita membaca, bahwa kaum Yahudi sedang mengutuk dan menyinggung perasaan Muhammad dengan ucapan-ucapan terburuk,berbunyi “dengarkanlah kami seperti seorang yang tidak bertelinga, seperti layaknya seseorang yang sedang menghina yang lain, ‘dengarlah, kiranya Allah menjadikan engkau tuli !’” Karena kata “Ra’ina’, sebagaiman ia tafsirkan (mengutip Ibn Wahb) sebagai “mendengarkan ocehan yang salah”!
Menurut uraian di atas kaum Yahudi tidak pernah menghilangkan sesuatu dari naskah kitab atau menambahkan sesuatu padanya; mereka hanya mengubah arti kata-katanya dengan memutar lidah. (At Tabari 8,433).

 “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. (QS Al Maa-Idah 5:15).

Ar Razi menyatakan dalam uraiannya mengenai ayat ini, yang berhubungan dengan orang-orang Yahudi, ketika membaca Taurat (Ulangan 22:23-24) memutar lidah mereka dan mengubah arti “melempari batu” dengan “mencambuk”.
At Tabari menjelaskan ayat ini dengan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi pergi menemui Muhammad untuk menanyakan soal “pelemparan batu” Mereka bertemu disalah satu rumah dan Muhammad bertanya kepada mereka, “Siapa yang paling cerdas diantar kamu ?” Mereka menunjuk Ibn Suria. Kemudian Muhammad bertanya padanya, engkaukah yang paling cerdas dari mereka ini ?” Ibn Suria menghimbau kepada Muhammad agar semua pertanyaan ditujukan padanya. Muhammad bertanya kembali,”Apakah engkau yang tercerdas diantara mereka ?”
 “Demikianlah menurut mereka “, jawab Ibn Suria. Kemudian Muhammad mendesaknya dengan nama Dia yang memberikan Taurat dan meninggikan gunung Tur. Ia begitu mendesaknya dengan satu perjanjian bersama yang membuat Ibn Suria menggigil dan berkata :” Kaum wanita kami sangat cantik, sedangkan hukuman lemparan batu semakin meningkat diantara kami. Untuk menyelamatkan jiwa mereka, kami memilih jalan pintas (dari hukum) dengan menjatuhkan seratus kali cambuk dan penggundulan kepala”.

Kemudian Muhammad memerintahkan merajam mereka dengan batu (At Tabari 11,116).
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata :” Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah:” Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya ?”. Katakanlah :”Allahlah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka ), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS Al An’aam 6:91)

Al Baidawi, Ar Razi dan At Tabari sependapat bahwa yang dimaksudkan dengan pengubahan disini hanya satu bentuk tafsiran yang salah atas fakta-fakta dengan menggunakan beberapa bagian dalam Taurat, maksudnya, mereka ingin menunjukkan dengan bangga kepada orang-orang Yahudi bahwa merekalah yang menuliskan Taurat itu pada gulungan-gulungan perkamen dan juga mengungkapkan banyak hal tentang tulisannya kepada khalayak ramai. Tetapi sekaligus menutupi banyak hal yang ditambahkan pada gulungan-gulungan itu, dengan demikian meeka menahannya dari khalayak ramai.

Kita sependapat bahwa perbuatan tersebut merupakan satu tindakan yang tak terpuji dan tercela. Namun “menyembunyikan” perkamen tentunya berbeda dengan “mengganti naskah”.
 “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah. Lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui ?” (QS Al Baqarah 2:75)

Tafsir At Tabari menguraikannya sebagai berikut : “Beberapa pria cendekia berkata kepada Musa, ‘tidaklah mungkin kami dapat melihat Allah (keagungan dan kemuliaanNya), karena itu biarlah kami mendengar firmanNya waktu Ia berfirman kepadamu’.Musa memohon izin Allah dan kepadanya difirmankan, ‘ya’ suruhlah mereka menyucikan diri, membersihkan pakaian dan berpuasa ‘. Mereka melakukan seperti yang diperintahkan dan kemudian Musa membawa mereka ke Gunung Tur. Ketika kabut turun menyelimuti mereka, Musa mendengar perintah dan mereka rebah tak berdaya. Selanjutnya Allah berfirman kepada Musa dan mereka mendengar firman berisikan perintah dan larangan dan mengerti seluruhnya. Musa kembali bersama mereka ke tengah-tengah bangsa Israel. Setiba disana, sebagian mengubah perintah yang disampaikan Allah kepada mereka”.

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, terlihat adanya beberapa orang Yahudi yang cerdas mengubah makna kata-kata yang mereka dengar sesudah dipahami, sedangkan yang lain tetap berpegang sesuai dengan apa yang didengarnya itu (At Tabari 1’334).

“Dan juga diantara orang-orang Yahudi, orang-orang yahudi itu amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan- perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya.(QS Al Maa-Idah 5:41).

Tafsir Al Jalalan menjelaskan ayat ini seperti berikut, “ayat ini membicarakan sekelompok orang Yahudi Khaibar yang tidak mau menjatuhkan hukuman dengan “lemparan batu” atas dua orang umat mereka yang telah menikah. Mereka mengutus sebuah delegasi dari Quraidha kepada Muhammad untuk menanyakan bentuk hukuman yang layak dijatuhkan pada kedua orang itu sesuai isi Taurat yang berhubungan dengan hukuman “pelemparan batu”. Adapun bentuk pengubahan yang dituduhkan berhubungan dengan pesan orang Yahudi Khaibar kepada delegasi itu,”jika Muhammad memberikan hukuman”cambuk”, terimalah, tetapi jika ia memberi hukuman “lemparan batu”, maka hati-hatilah menerimanya’” (Al Jalalan 150).

Barangkali pertanyaan berikut ini tepat diajukan di sini :
”Siapakah di antara orang-orang Yahudi yang sudah memalsukan Taurat dan pada zaman apa itu terjadi …?”

Ar Razi berkata, secara khusus mereka hidup sejaman dengan Muhammad. Tapi ia meneliti dalam jilid tiga dari kitab tafsir Al Qur’an yang ditulisnya, bahwa ‘memalsukan “berarti menghilangkan keragu-raguan yang tak berguna, membaca naskah dan mengungkapkannya secara keliru dengan terjemahan-terjemahan palsu dan terpaksa bersilat kata seperti yang dilakukan kaum bidat sepanjang sejarah atas ayat-ayat yang bertentangan dengan paham-paham mereka yang tertentu.

Disini kita tidak bermaksud membela ketulusan kaum Yahudi. Namun kita ingin agar dimaklumi bahwa orang-orang Yahudi tidak berani mengubah isi taurat, hal mana tidak termasuk dalam daftar tuduhan Al Qur’an. Disamping itu masih ada satu hal lain yang perlu kita ketengahkan bahwa Al Qur’an tidak pernah menuduh orang-orang Kristen dengan memutar balikkan Injil.

Bagaimanapun juga kita merasa perlu menekankan pada mereka yang menganut paham “pemalsuan” Alkitab dari segi isinya atau mereka yang tetap keras beranggapan bahwa naskah asli Alkitab sudah tidak mungkin didapat, bahwa anggapan demikian sangat bertentangan dengan isi Al Qur’an yang pada hakekatnya menyatakan bahwa Alkitab itu adalah asli dan lepas dari segala bentuk pemalsuan. Kita berkesimpulan bahwa salah satu tugas utama Al Qur’an adalah untuk membenarkan Alkitab.

Sesungguhnya, tidak seorangpun yang percaya pada Allah, kitab-kitab dan rasul-rasulNya, berani menghubungkan Allah, yang penuh kemuliaan itu dengan satu kenyataan bahwa Ia telah menurunkan Al Qur’an untuk membuktikan bahwa kitab yang dipalsukan dan diselewengkan, memiliki kesempurnaan dan kelestarian Taurat dan Injil.

Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun
(Ibrani 4:12)

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
(Yesaya 55:11)

Bila tersingkap, firman-firmanMu memberi terang.
 (Mazmur 119:130)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar