Jumat, 24 Agustus 2012

Benarkah Alkitab Dipalsukan...?


"Kami orang-orang Muslim telah dipilih Allah karena Dia telah menjadikan Al-Qur'an dan di dalamnya termasuk semua agama surgawi. Jadi, Islam telah meniadakan semua agama-agama sebelumnya".
Dari seorang Koresponden di Tunisia.

Damai sejahtera dan anugerah dari Allah bagimu.
Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab yaitu: "Mengapa saya harus percaya kepada Al-Masih yang mati dikayu salib sedangkan Al-Qur'an berkata bahwa Allah telah mengangkat-Nya".

Memang benar, apa yang dikatakan Al-Qur'an yang berkata bahwa Allah telah mengangkat Dia, tetapi itu terjadi setelah Dia wafat, karena Al-Qur'an berkata, "Hai, Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (Inni mutawaffika) dan mengangkat kamu kepadaKU dan membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu diatas orang-orang kafir hingga hari kiamat". (Ali Imran 55).
Walaupun ayat-ayat ini cukup jelas, para cendikiawan Islam mempunyai pendapat berbeda dalam menafsirkan maksud ayat tersebut. Satu golongan berkata bahwa "al-wafat" (ayat) disini bukan berarti "mati", dan ada golongan lain berkata arti kata itu mati dan masih ada berbagai penafsiran yang masing-masing golongan memakai sebagai pendukungnya.

Golongan pertama menjelaskan sebagai berikut:
  1. Tidur: "Dari Al-Muthana yang diceritakan oleh Ishaq yang diperoleh dari Abdullah bin Jafar dan dia memperoleh dari ayahnya yang diperoleh dari Rabia bahwa "Inni mutawaffka" berarti "wafat sedang tidur". Dan Allah membangunkan dia dari tidurnya" (H. At-Tabari 7133).
  2. Meninggalkan dunia ini: Dikutip dari Ali bin Sahil, dari Dhmiri anak Rabia, anak Shudab dari Matar Al-Waraq ketika ia berkata, "Mengambilnya dari dunia ini dan bukan lewat kematian". (H. At-Tabari 7134).
  3. Memiliki seorang atau sesuatu: Dari Yunis yang berkata,: "Kami diceritakan oleh Ibnu Wahab yang mengutip dari Ibnu Zaid bahwa Inni mutawaffika berarti Qabidhak atau saya memiliki anda" (H. At-Tabari 7139).
Dan golongan kedua mengakui bahwa al-wafat disini berarti wafat (mati) dan mereka mempunyai alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Dari Al-Muthana, dari Abdullah bin Saleh dari Ali dan dari Ibnu Abbas yang berkata: Innimutawaffika berarti "Aku memanggil kamu supaya wafat" (H. At-Tabari 7142).
  2. Ibnu Haid berkata bahwa Selma menceritakan dari Ibnu Ishaq yang diterima dari Wahab Ibnu Munabi Al-Timani yang berkata: "Allah membiarkan Isa bin Mariam (Yesus, anak dari Maria) mati selama tiga jam dan kemudian membangkitkannya" (H. At-Tabari 7142).
  3. Ibnu Hamid berkata: "Kami diceritakan oleh Selma, dikutip dari Ibnu Ishaq bahwa orang-orang Kristen mengatakan bahwa Allah memanggil dia selama 7 jam kemudian Allah membangkitkan dia lagi." (H. At-Tabari 7143).
Golongan ketiga berkata bahwa "al-wafat" disini berarti "menunda atau menangguhkan". Golongan ini bergantung kepada beberapa perkataan yang diturunkan dari Muhammad yang berkata bahwa Isa anak Maryam akan datang kembali dan membantai orang-orang anti Al-Masih, kemudian tinggal di Dunia untuk beberapa saat (para pembawa cerita berbeda pendapat tentang lama waktunya) dan kemudian dia akan mati dan orang-orang Muslim akan menyembahyangi dia dan menguburkannya (H. At-Tabari 204/3).

Karena adanya perbedaan pandangan di antara teolog Muslim dan perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang hari-hari terakhirnya Al-Masih maka seorang penyelidik yang sungguh-sungguh hanya bisa mengambil jalan mencari ayat-ayat Injil karena Injil tidak ada pertentangan tentang kematian Al-Masih, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke Surga.

Sebenarnya, ada ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang dapat dengan pasti menjawab pertanyaan tentang kematian Al-Masih walaupun demikian ada beberapa penafsiran tetap berpegang pada penafsiran harafiah dari ayat: "Mereka tidak membunuh dia dan juga tidak menyalibkan dia "(An-Nissa 157). Yang pertama dari ayat-ayat Al-Qur'an ini dimana Allah berfirman: Hai putra Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? Isa menjawab: Maha suci Engkau..... Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku.....maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka". (Al-Maaidah 116-117).

Ada gagasan yang tersebar di antara orang muslim yang mengatakan bahwa Al-Qur'an telah membatalkan agama Tuhan sebelumnya yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Banyak yang memegang secara fanatik pendapat ini dan melawan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang menakjubkan.

Mereka mengatakan bahwa semua nabi pada zaman Musa dan yang kemudian setelah dia berjalan dalam Hukum Musa dan mengikuti ajaran yang dibawa, setiap nabi pada zaman Al-Masih dan sesudahnya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Al-Masih sampai masa Muhammad; dan Hukum dari Muhammad tidak pernah akan dibatalkan lagi sampai hari Penghakiman. Kita dapat membaca bahwa beberapa cendikiawan Islam sudah memutuskan bahwa Muhammad adalah nabi untuk zaman ini dan bahwa agamanya telah menghapuskan agama-agama nabi terdahulu. Untuk menanggapi pernyataan yang demikian, kita perlu memberitahukan bahwa pernyataan semacam itu sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, karena Al-Qur'an sendiri tidak pernah mengatakan sama sekali tidak berlaku dan gagal dalam segala aspeknya; itu hanya sebuah pendapat belaka, karena hal itu hanya memutar-balikkan ajaran Al-Qur'an, membingungkan dan membuat suatu pernyataan yang tidak pernah Al-Qur'an katakan.

Dalam kenyataan, pernyataan ini tidak dapat bertahan terhadap ujian kebenarannya sebagai berikut:
  1. Pembatalan berarti "membuat tidak berlaku" dan "menggeser pengaruh" dan ini tidak dapat diberlakukan terhadap isi Taurat dan Injil karena kebenarannya sampai sekarang masih berlaku dan mengikat ratusan juta jiwa manusia di seluruh dunia. Kita hidup menurut kuasa ini. Penguasa-penguasa yang terbesar di dunia ini, yang memiliki keahlian dan kemajuan di dalam bidang ilmu dan penemuan, mengikuti pandangan Taurat dan Injil. Tidak ada seorangpun dapat membantah bahwasanya kebanyakan bangsa berhutang budi, karena peradaban yang sekarang dicapai di dalam negaranya adalah karena penyebaran Taurat dan Injil di antara penduduknya.
  2. Seandainya Al-Qur'an datang untuk membatalkan Taurat dan Injil dan membuat kewibawaannya tidak berlaku, maka Al-Qur'an tidak dengan tegas-tegas memerintahkan manusia untuk tetap berpegang kepada keputusan-keputusan dan mengikuti doktrin-doktrin yang ada sebelumnya dan Al-Qur'an tidak akan berkata "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil "(Al-Maaidah 68).

    Sebaliknya bunyi ayat tersebut mesti begini "Hai Ahli Alkitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hinga kamu menegakkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dari pada Taurat dan Injil yang sudah dibatalkan itu". Selanjutnya, andaikata Al-Qur'an diturunkan untuk membatalkan Injil, maka tidak tepat ayat yang berikutnya berkata "Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik" (Al-Maaidah 47). Lagi pula andaikata Allah menghendaki tidak berlakunya Taurat dan Injil dengan menurunkan Al-Qur'an, maka tentunya Allah tidak mengijinkan Al-Qur'an berkata kepada Muhammad "Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah..." (Al-Maaidah 43). Andaikata Allah telah mengirimkan Muhammad untuk membatalkan agama Musa dan Al-Masih, inipun tidak sesuai dengan Al-Qur'an yang berkata "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu" (Yunus 94).
  3. Andaikata Al-Qur'an membatalkan Taurat dan Injil dan mengambil alih kedudukannya, maka seharusnya isi Al-Qur'an itu berisi semua perintah-perintah, keputusan-keputusan dan jalan keselamatan dari Taurat dan Injil atau seharusnya paling tidak berisi ajaran-ajaran yang lebih baik yang lebih mengangkat martabat dan kehidupan manusia. Tetapi terbuktinya tidak ada penggantian di antara seluruh umat manusia dalam segala masa yang berisi seperti di dalam kitab-kitab itu dan Al-Qur'an sendiri menyaksikan kenyataan ini ketika ia berkata "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui" (An-Nahl 43). Al-Jallalain menguraikan bahwasanya, "Orang yang mempunyai pengetahuan" itu adalah ahli-ahli Taurat dan Injil. Kalau ada yang tidak mengerti sesuatu, mereka pasti akan mengetahuinya (Al-Jallalain hal. 357).
Al-Qur'an yang menyatakan sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya wahyu ini benar-benar diturunkan oleh Allah, diturunkan oleh roh suci ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang dari antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dan sesungguhnya ayat-ayat itu benar-benar dalam kitab-kitab orang yang terdahulu" (Asy-Syu'araa 192-196).
Ini berarti bahwa di dalam Taurat dan Injil ada semuanya yang ada dalam Al-Qur'an tentang ajaran-ajarannya, keputusan-keputusan dan ajaran-ajaran rohani sehingga Al-Qur'an tidak dapat membatalkan Taurat dan Injil karena Taurat dan Injil adalah hukum Allah.

Mungkin pendapat tentang pembatalan ini dipengaruhi oleh situasi pada waktu itu, di mana manusia banyak dipengaruhi oleh kritik ahli-ahli teolog liberalisme/modern yang muncul oleh orang-orang atheis (fasik) di Eropa yang mengatakan bahwa penciptaan bumi dan Adam dalam Taurat itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Tetapi bagaimanakah orang-orang Muslim dapat melupakan bahwa kritik-kritik ini juga telah mengkritik peristiwa yang sama yang terdapat dalam Al-Qur'an, misalnya, "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian ia bersemayam di atasnya untuk mengatur segala urusanNya (Yunus 3). Dan Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar dan Ia menciptakan jin dari nyala api" (AR Rachmat 14-15).

Ahli-ahli teolog liberalisme/modern telah mengatakan bahwa Injil tidak menuliskan kabar tentang Al-Masih secara tepat dan bahwasanya Markus dan Lukas bukanlah murid Al-Masih maka mereka tidak melihat Dia dan tidak dapat menuliskan apa yang dikatakan oleh Al-Masih. Mereka juga mengatakan bahwa Yohanes telah menulis Injilnya lima puluh tahun setelah Al-Masih naik ke Surga. Kami tidak dapat menerima karena bagaimana mungkin dia dapat menghafal dan mengingat semua apa yang dikatakan dan dilakukan Al-Masih serta menuliskannya semua secara rinci perkataan dan perbuatan Al-Masih pada waktu itu.

Menanggapi dalil-dalil seperti itu, kita akan bertanya, "Seandainya Injil tidak menceritakan Al-Masih dengan tepat dan penulisan Injil menurut Markus dan Lukas tidak ditulis oleh orang-orang ini, dan bahwa Yohanes tidak dapat mengingat semua apa yang dikatakan dan dilakukan Al-Masih secara rinci, lalu Injil apa yang diteguhkan Al-Qur'an?" Ada satu hal lain yang perlu kita sebutkan, bahwasanya di dalam Al-Qur'an ada beberapa penulisan tentang penciptaan bumi dan manusia. Kalau begitu kita akan bertanya "Apakah waktu antara penciptaan dan turunnya Al-Qur'an lebih pendek dari pada waktunya kenaikan Al-Masih ke surga dan ketika Yohanes menulis Injilnya yang telah diilhami oleh Allah sendiri?"

Dalam kenyataannya, pembatalan itu sebenarnya tidak dapat ditujukan kepada Taurat dan Injil, tetapi justru dikenakan kepada beberapa ayat-ayat dalam Al-Qur'an sendiri. Para cendikiawan Islam tidak membantah hal ini. Ketika seseorang terkenal yang bernama Al-Souyouti berkata "Pembatalan itu hanya sesuatu yang Allah lakukan berkenan dengan bangsa ini!" Dalam kenyataannya, pembatalan di dalam Al-Qur'an disebutkan sampai dua kali.
  1. "Adapun tiap-tiap ayat yang kami batalkan atau buang kami membawa yang lebih baik. Ketahuilah Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu" (Al-Baqarah 106).

    At-Tabari menafsirkan ayat ini sebagai berikut: "Apabila kami membatalkan suatu ayat, merubah kekuatannya serta penerapannya, maka kami akan membawa ayat yang lebih baik dari sebelumnya" (H. At-Tabari1/280).

    Al-Jallalain menguraikan, "Apabila kami membatalkan atau membuat kamu lupa atau meniadakan sekian ayat kami, maka kami akan membawa sesuatu yang lebih baik".
  2. "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seseorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayatnya" (Al-Hajj 52).

    Al-Jallalain menafsirkan ayat ini sebagai berikut: "Nabi membaca Surat An-Naam di Mekka dan ketika ia sampai pada ayat ke 26 yang berbunyi, 'Dan beberapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoiNya', Setan meletakkannya dilidahnya tanpa sepengetahuan dia, ia berkata, 'Polytheis berkata, "dia tidak menyebutkan dewa-dewa yang disenanginya sebelumnya dan mereka sembahyang dan sembahyang", jadi ayat selanjutnya turun, "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seseorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, dan seterusnya" (H. Al-Jallalain 447). Ibnu Hatim mengutip Ibnu Abbas yang berkata, "Mungkin ilham yang datang kepada nabi pada waktu malam dan ia lupa pada keesokan harinya dan Surat itu turun dengan kalimat, "Kami tidak membatalkan atau meniadakan sebuah ayat tanpa membawa sesuatu yang lebih baik". Jadi kita bisa melihat dari semua komentar-komentar dan penafsiran-penafsiran ini, bahwa pendapat tentang pembatalan Zabur menggantikan Taurat, Injil menggantikan Zabur dan Al-Qur'an menggantikan Injil, tidak benar dan tidak berdasar.
Haji Rahmat Allah Al-Hindi dalam bukunya "Idhhar Al-Haqq" berkata, "Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat telah dibatalkan oleh Zabur dan Zabur telah dibatalkan oleh Injil dan Injil oleh Al-Qur'an tidak mempunyai dasar apapun baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Hadis". Cendikiawan Islam ini telah berbicara menurut kebenaran yang ada. Al-Qur'an menentang pernyataan-pernyataan yang tidak terbukti itu dan menyangkal semua pendapat orang-orang yang percaya akan pembatalan tersebut sebagaimana dikatakannya: "Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang diwasiatkannya kepada Nuh dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu, tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya" (Asy-Syuura 13).

Pandangan Al-Qur'an terhadap agama sebelumnya yaitu sangat menggelikan untuk berkata bahwa Al-Qur'an telah membatalkan Alkitab atau bahwa Islam telah membatalkan agama Allah yang datang sebelumnya yang ada di dalam Taurat dan Injil. Tidak bisa dimengerti mengapa dan bagaimana seorang Muslim membiarkan dirinya terikat oleh pandangan ini, sedangkan tujuan utama Al-Qur'an adalah untuk membimbing dia kepada ajaran dan hukum manusia yang tertulis dalam kitab karena Al-Qur'an berkata "Allah hendak menerangkan hukum syariatNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan menerima taubatmu. Dan Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui". (An-Nissa 26).

Kita juga dapat membaca pernyataan Surat Al-Baqarah, "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismael, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya ". (Al-Baqarah 136).

Menurut ayat ini setiap orang Islam diminta untuk percaya kepada nabi yang datang sebelum Al-Qur'an. Prinsip hukum nabi ini menyatakan pendapat tentang pembatalan seluruhnya bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an yang menekankan fakta dengan berkata, "Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka".

At-Tabari dalam penafsiran terhadap ayat ini berkata "Apa yang telah diberikan kepada Musa dan para nabi (Taurat yang dibawa Musa dan Injil yang dibawa Al-Masih dan semua kitab-kitab yang dibawa para nabi yang telah kami teguhkan dan kami tegakkan) semuanya itu adalah pembimbing yang benar dan kebenaran dan cahaya dari Allah. Semua yang disebut para nabi tentang Allah adalah kebenaran dan petunjuk yang benar dan mereka itu sesuai dan tetap di dalam diri sendiri, semuanya mengikuti sistem panggilan untuk percaya kepada Allah yang Esa dan mentaatiNya". (H. At-Tabari 3109).

Bagaimana mungkin Al-Qur'an membatalkan Injil, justru dia berkata untuk membenarkannya...?
Al-Qur'an berkata "Apabila kitab dari Allah datang untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya". Ini merupakan kesaksian yang jelas yang mengakui bahwa tidak membolehkan ada penafsiran, perubahan atau pun penyisipan lain, karena pengesahan ini tidaklah cocok dengan membatalkan yang membuatnya tidak berlaku. Dengan kata lain, adalah mustahil untuk sebuah buku lain yang datang untuk mengesahkannya. Dalam Surat Al-Imran ditulis demikian, "Dia menurunkan Alkitab kepadamu dengan sebenarnya membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum Al-Qur'an menjadi petunjuk bagi manusia" (Al-Imran 3).

Kita membaca dalam penafsiran dari Al-Jallalain bahwa "Sebelum turunnya Al-Qur'an, Taurat dan Injil diturunkan untuk membimbing manusia dari kesalahan" (Al-Jallalain 66). Sebagai yang dikatakan Al-Tabari, "Al-Qur'an datang untuk membenarkan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya, yang diturunkan Allah melalui mulut para nabi dan rasulnya dan membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul Allah karena mereka mempunyai jabatan yang sama".

Jadi, tidak ada pertentangan, Dia menurunkan Taurat kepada Musa dan Injil kepada Isa sebelumnya sebagai pembimbing manusia, dan bimbingan Allah yang sangat jelas ini tentunya tidak ada pertentangan". (H. At-Tabari 6/160-1).

Kita mau mengatakan bahwa bimbingan Allah tidak dihapuskan dan kitab-kitabnya yang diilhami Allah sebagai bimbingan tetap dianggap berlaku, karena dunia masih membutuhkannya untuk membawa manusia keluar dari kegelapan kepada terang kebenaran.
Tidak!, tidak ada satu ayatpun dalam Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa dia membatalkan Alkitab suci itu atau ajaran-ajarannya. Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa Al-Qur'an justru menganjurkan pengikut Taurat dan Injil untuk mengikuti hukum-hukum rohani dari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Ahli-ahli penafsir yang terkemuka seperti AL-Zamak-shari, Al-Baidawi dan Al-Jallalain telah sepakat bahwa Al-Qur'an datang tidak untuk membatalkan kitab-kitab sebelumnya.

Seorang Muslim menyatakan secara singkat bahwa Al-Qur'an adalah penyempurnaan dari semua nubuatan dan Muhammad adalah penutup para nabi atau mahkota para nabi dan karena alasan inilah Al-Qur'an membatalkan Taurat dan Injil dan membatalkan semua agama yang datang sebelumnya. Mungkin anak muda ini, seperti anak muda lainnya telah dipengaruhi oleh orang-orang yang berprasangka buruk dengan tujuan untuk menjauhkan manusia membaca Taurat dan Injil dan menikmati berkat dari padanya. Jadi, manusia akan diterangi oleh apa yang ada di dalamnya dan ajaran-ajaran rohani yang membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan, sambil mencoba mencapai tujuannya sendiri dengan tidak mengakui ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bawa Alkitab adalah kitab dari segala kitab dan sebuah tanda kasih bagi umat manusia seperti ditulis dalam QS  Al-Ahqaaf 12 "Dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat". Itulah yang memisahkan orang percaya yang sungguh-sungguh memperhatikan keputusan-keputusannya seperti ditulis dalam Al-Baqarah 89-90. Lebih jauh, Al-Qur'an menunjuk bahwa Alkitab adalah alat untuk menjauhkan orang dari keragu-raguan seperti ditulis dalam QS Yunus 94. Ada banyak lagi ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an membenarkan Alkitab dan menjaga serta mendukungnya. Karena itu, adalah sangat aneh dan mengacaukan untuk mengatakan bahwa Al-Qur'an telah membatalkan dan membuat tidak berlakunya apa yang ada di dalam Taurat dan Injil, yaitu suatu ajaran yang telah diterima oleh manusia di seluruh dunia.

Siapa yang membaca Alkitab dengan cermat akan menemukan bahwa semua ajaran ini semuanya cocok satu dengan yang lain dan semua ajaran menuju kepada satu arah, yaitu mengumumkan tujuan Allah terhadap manusia. Jadi, sangat jelas di dalam ayat-ayatnya tidak ada pembatalan atau yang dibatalkan, karena kita menemukan dalam Perjanjian Lama bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi dan menciptakan manusia dan bagaimana dosa masuk ke dalam dunia. Setelah itu, kita membaca bagaimana janji kudus yaitu seorang Juruselamat yang datang dari benih perempuan dan akan datang untuk menggenapinya. Sambil menanti peristiwa itu Tuhan Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham, di mana ia menjanjikan bahwa Juruselamat akan datang dari keturunannya. Dia kemudian memperbaharui janjinya kepada Ishak dan Yakub. Kemudian kita membaca bagaimana Juruselamat ilahi mengisi penglihatan dari pada para nabi dan menjadikan ini pokok dari pemberitaan mereka dari tahun ke tahun. Ketika Musa muncul, Taurat diberikan kepadanya dan di dalamnya ada janji-janji yang berharga dan mendasar dan dengan demikian penglihatan para nabi menjadi lebih jelas. Mereka yang menyusul Musa berbicara bagaimana Juruselamat itu akan datang dalam nama Tuhan.

Selanjutnya, buku-buku yang mereka tulis itu cocok dengan apa yang ditulis Musa. Beberapa dari mereka memberi gambaran yang jelas, Juruselamat yang ilahi yang akan datang itu di dalam nama Tuhan.

Mereka juga melukiskan di dalam nubuatan-nubuatan mereka mujizat-mujizat yang akan menyertai ajaran-ajarannya dan kematiannya yang menyelamatkan itu. Mereka membuat tulisan mereka begitu jelas sampai mereka menyebutkan tempat kelahiran sang Juruselamat dengan tepat. Injil sendiri memberitakan setiap peristiwa mengenai kehidupan Juruselamat, ajaran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga sebagai penggenapan dari setiap nubuatan para nabi yang ada dalam Taurat dan Zabur.

Barangsiapa membaca Taurat Musa dan merenungkan lambang-lambangnya dan pengorbanan-pengorbanannya akan menjadi sadar akan tujuan Allah sehubungan dengan pernyataan anugerahnya. Mereka akan mencondongkan kepada Dia dan ingin menyembah Dia. Keinginan hatinya akan ditarik kepada kedatangan Juruselamat dan di dalam Dia mereka akan menemukan jawaban dari pengharapan dan cita-cita mereka. Rasul Paulus menunjukkan kepada aspirasi umat Allah dalam Perjanjian Lama yang Paulus katakan bahwa mereka telah mati dalam pengharapan keselamatan. Ia berkata, "Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya" (Ibrani 11:13).

Di dalam buku-buku para nabi dan nubuatan-nubuatan Mazmur, dinyatakan dengan jelas, bahwa beberapa hamba Tuhan mengajar bahwa Allah pada mulanya telah memisahkan segolongan orang kepadanya dan melatih mereka secara teratur dan Allah memikul tegar hati mereka dan perbuatan-perbuatan jahat mereka. Dia memerintahkan mereka untuk mengawasi beberapa upacara dan ajaran sembahyang dengan pandangan untuk meletakkan pemisahan antara orang Yahudi dan orang kafir sehingga pada suatu saat Juruselamat yang dijanjikan datang dengan berkat bagi seluruh umat manusia. Tetapi upacara-upacara ini, walaupun ditegakkan oleh perintah yang kudus, tidak membawa keuntungan sama sekali kecuali mereka disertai dengan kehidupan kudus dan pengabdian. Kebenaran ini dinyatakan kepada nabi Mikha ketika ia sedang berdiri terkejut dan mempertanyakan apakah Allah puas dengan lebih banyak pengorbanan dan persembahan bakaran karena Allah berkata kepadanya, "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Dengan kata lain, semua upacara dan ritual Musa seperti pengorbanan dan persembahan bakaran, pendupaan, penyucian merupakan lambang kepada kenyataan-kenyataan dan kenyataan-kenyataan ini telah dipenuhi secara penuh dalam Perjanjian Baru di mana Al-Masih datang sebagai perantara bagi semua yang percaya kepadaNya, apapun bangsa, suku bangsa, bahasa dan warna kulit seperti dikatakan oleh nabi, "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunungKu yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN seperti air laut yang menutupi dasarnya". (Yesaya 11:9).

Jadi, Perjanjian Baru tidak membatalkan Perjanjian Lama, tetapi menjelaskan dan menggenapinya. Ia menggambarkan bentuk rohani dari Perjanjian Lama yang cocok dengan manusia dari segala abad dan segala tempat.

Saya ingin menjelaskan kepada semua orang bahwa Hukum dalam Taurat ada dua macam: hukum dari upacara-upacara yang diberikan untuk sementara kepada orang-orang di Perjanjian Lama untuk memisahkan mereka dari bangsa kafir, dan yang lebih tinggi dari itu adalah hukum moral yang melindungi mereka dari penurunan ke dalam praktek-praktek yang hina sekali oleh orang kafir ketika mereka menanti Juruselamat yang akan datang dalam anugerah dan kebenaran.

Firman Tuhan menunjukkan kepada pernyataan ini, "Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus..... itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, disamping makanan minuman dan berbagai macam persembahan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan". (Ibrani 9:1-10).

Nabi Yesaya mengumumkan bahwa pengorbanan dan persembahan yang bersifat lahiriah menunjukkan kepada Anak Domba Allah yaitu Al-Masih Penebus yang merupakan penggenapan Hukum. Bandingkan Yesaya 53 dan 55 dan Wahyu 3, 18.

Karena semua pengorbanan dan persembahan hanya merupakan lambang menuju ke " Pengorbanan Besar" dan karena Al-Masih telah menjadi korban untuk menghapus dosa seluruh dunia dan Al-Masih adalah korban yang sempurna dan lengkap, karena itu orang Kristen tidak perlu lagi memberikan korban apa-apa untuk menghapus dosa-dosanya.

Yang mengherankan adalah orang Yahudi dipaksakan menghentikan upacara pengorbanan tahunan mereka, karena hukum memerintahkan mereka untuk membuat korban itu di Bait Allah di Yerusalem dan Bait Allah telah dihancurkan. Tidak ada jalan untuk menghidupkan kemuliannya kembali karena bait perjanjian dan segala isinya telah lenyap.

Sedangkan hukum moral itu kekal dan perlu diperhatikan pada setiap tempat dan waktu karena perintah-perintahnya adalah suatu norma yang kudus yang menentukan hubungan antara Allah dan manusia. Setiap pelanggaran terhadap perintah-perintah ini adalah melawan Allah. Perintah-perintah ini tidak dibatalkan oleh Injil Al-Masih. Bahan mereka diperluas dan ditafsirkan dan diberi kekuatan dan mereka mewujudkannya oleh pekerjaan dari penebusan Al-Masih yang diselesaikan di kayu salib.

Kesimpulan dari masalah ini ialah ajaran-ajaran Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu tetap dan tidak menyerahkan diri kepada sesuatu pembatalan apapun karena Alkitab mewakili kehendak Allah bagi manusia, kehendak Dia yang baik dan sempurna dan mendasar.

Penekanan-penekanan ini bagi kita bahwasanya jalan keselamatan Allah adalah sama pada setiap saat dan tempat dan bangsa, dan semua yang tidak percaya dalam Al-Masih akan dihukum, hari Al-Masih yang Abraham nantikan dan ia bersuka cita ketika melihat Dia.

Iskandar Jadeed

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar