Jumat, 24 Agustus 2012

The False Doctrine of Pope (Vicar of Christ) / Pengajaran yg salah tentang Paus



Perkembangan ke-Paus-an :
  1. Cyprian (pertengahan abad ke 3) berkata bahwa Bishops ( uskup- uskup) adalah pengganti rasul-rasul dan mempunyai otoritas yang sama dengan rasul-rasul.
  2. Innocent I, bishop Roma (402-417 M), untuk pertama kalinya mengclaim bahwa bishop Roma lebih tinggi tingkatnya dari para bishop yang lain dan semua kontroversi / pertentangan harus diputuskan dengan restu / persetujuan bishop Roma.
  3. Leo I, Bishop Roma (440-461 M), mengclaim bahwa dalam Mat 16:18, Petrus adalah batu karang di atas mana gereja didirikan; dan pengganti Petrus (bishop Roma) adalah ahli waris Petrus dan lebih tinggi tingkatnya dari bishops yang lain.
  4. Kaisar Valentinian (445 M) mengeluarkan keputusan bahwa semua orang harus mengakui keulungan bishop Roma atas Gereja.
  5. Gregory I yang juga disebut Gregory the Great (590-604 M) menjadi bia-rawan pertama yang menjadi bishop Roma.
  6. Pada tahun 604 M, Kaisar Phocas memberi gelar 'Paus' kepada Gregory I, tetapi ditolak oleh Gregory I.
  7. Pada tahun 607 M, Boniface III, pengganti kedua dari Gregory I, mene-rima gelar 'Paus' itu.
  8. Paus Nicholas I (858-867 M) mendesak supaya Paus diberi otoritas atas Gereja dan pemerintah.
  9. Pada tahun 1870 M, Vatican Council menyatakan bahwa Paus tidak bisa salah (infallible) kalau:
  •     Ia berbicara dari kursinya (EX CATHEDRA).
  •     Ia berbicara tentang iman dan moral.
  •     Ia berbicara kepada gereja.
10.Pada tahun 1885, Paus Leo XIII menyatakan bahwa Paus adalah pengganti Allah Yang Maha Kuasa di bumi ini.


Hal-hal yang perlu dibahas tentang Paus

Paus sebagai kepala gereja dan segala sesuatu

Perhatikan kepercayaan Roma Katolik tentang Paus dalam New York Catechism di bawah ini:

"The pope takes place of Jesus Christ on earth ... By divine right the pope has supreme and full power in faith and morals over each and every pastor and his flock. He is the true vicar of Christ. He is the infallible ruler, the founder of dogmas, the author of and the judge of councils; the universal ruler of truth, the arbiter of the world, the supreme judge of heaven and earth, the judge of all, being judged by no one, God himself on earth"

( Paus menggantikan Yesus Kristus di bumi ... Dengan / oleh hak ilahi Paus mempunyai kuasa tertinggi dan penuh dalam iman dan moral atas setiap gembala dan domba gembalaannya. Ia adalah wakil yang benar / sejati dari Kristus. Ia adalah pemerintah / pemimpin yang tidak bisa salah, pendiri dari dogma-dogma, pengarang / sumber dan hakim dari sidang-sidang gereja, pemimpin kebenaran di seluruh dunia, penengah / wasit dunia ini, hakim tertinggi dari surga dan bumi, hakim dari semua, tidak dihakimi oleh siapapun, Allah sendiri di bumi ini)
- Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 127.

Loraine Boettner lalu menambahkan:

"Thus the Roman Catholics holds that the pope, as the vicar of Christ on earth, is the ruler of the world, supreme not only over the Roman Church itself but over all kings, presidents, and civil rulers, indeed over all peoples and nations"

[Jadi orang Roma Katolik beranggapan bahwa Paus, sebagai wakil Kristus di bumi, adalah pemerintah dunia, mempunyai kedudukan / otoritas terting-gi bukan hanya atas gereja Roma (Katolik) sendiri tetapi atas semua raja, presiden, dan pemerintah sipil, bahkan atas semua orang dan bangsa ) - 'Roman Catholicism', hal 127-128.

Penjelasan kristen:

Satu-satunya kepala gereja adalah Tuhan Yesus sendiri (Ef 4:15) dan Ia tidak pernah memberikan jabatan itu kepada orang lain.

Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya hamba Tuhan atau bah-kan rasul yang superior / lebih tinggi dari yang lain.

Contoh:

Petrus pernah ditegur di depan umum dengan keras oleh Paulus (Gal 2:11-14). Padahal Roma Katolik mengakui Petrus sebagai bishop Roma / Paus yang pertama.

Paulus menyejajarkan dirinya dengan banyak orang:
Dalam Fil 1:1 ia menyejajarkan dirinya dengan Timotius dengan menyebut dirinya dan Timotius sebagai 'hamba-hamba Kristus Yesus'.
Dalam Fil 2:25 ia menyejajarkan dirinya dengan Epaphroditus dengan menyebutnya sebagai 'saudaraku', 'teman sekerjaku' dan 'teman seperjuanganku'.
Dalam Fil 4:3 ia menyejajarkan dirinya dengan Sunsugos, Eudia dan Sintikhe, Klemens dll, dengan menyebut mereka sebagai 'temanku yang setia', dan 'kawan-kawanku sekerja'.
Dalam Kol 1:7 ia menyejajarkan dirinya dengan Epafras dengan menyebutnya sebagai 'kawan pelayan'.

Sidang Yerusalem dalam Kis 15 menunjukkan bahwa tidak ada rasul yang superior / lebih tinggi dari yang lain, karena keputusan tidak didapatkan dari keputusan satu orang saja, tetapi didapatkan melalui perundingan / pertukaran pikiran para rasul dan penatua (Kis 15:6,7).

Kitab Suci mengajarkan adanya jabatan tua-tua / penatua / penilik jemaat dan diaken (1Tim 3:1-13 Tit 1:5-9), tetapi tidak pernah mengajarkan adanya jabatan Paus.

Petrus adalah bishop I dari Roma / Paus I:

Roma Katolik menafsirkan Mat 16:13-19, sebagai berikut:
'Batu karang' menunjuk kepada Petrus.
'Alam maut' menunjuk pada kuasa jahat.
'kunci' merupakan simbol otoritas.
Jadi Petrus mempunyai hak / kuasa untuk menerima seseorang untuk masuk ke dalam surga / gereja dan / atau menolak seseorang untuk masuk ke dalam surga / gereja.

Mat 16:13-19 menunjukkan bahwa Petrus diangkat oleh Yesus menjadi Paus I.

Penjelasan  Kristen

1. Exegesis / penafsiran dari Mat 16:13-19:

a) Kata 'Petrus' dalam bahasa Yunaninya adalah PETROS, yang ada dalam bentuk masculine (= laki-laki), dan artinya adalah 'batu kecil'.

Kata 'batu karang' dalam bahasa Yunaninya adalah PETRA, yang ada dalam bentuk feminine (= perempuan), dan artinya adalah batu besar (rock).

Tuhan Yesus tidak berkata bahwa Ia mendirikan gereja / jemaatnya di atas PETROS tetapi di atas PETRA. Yang dimaksud dengan PETRA adalah pengakuan Petrus pada Mat 16:16, yaitu pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

b) Alam maut tidak akan menguasainya' (Mat 16:18b).

Roma Katolik menafsirkan bahwa:

'alam maut' menunjuk pada kuasa jahat.
kata 'nya' menunjuk kepada Petrus.

Jadi Roma Katolik mengatakan bahwa kalimat ini merupakan jaminan Tuhan Yesus bahwa kuasa jahat tidak akan menguasai Petrus.

Tetapi tafsiran ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat di bawah ini yang menunjukkan Petrus dikuasai (bukan dirasuk!) oleh kuasa jahat / setan:
  • Mat 16:22-23 dimana Petrus menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem sehingga disebut oleh Yesus sebagai 'Iblis'.
  • Mat 26:69-75 dimana Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3x.
  • Gal 2:11-14 dimana Petrus bersikap munafik.
Penjelasan yang benar:

Kata 'nya' menunjuk kepada Gereja. Jadi kalimat itu berarti bahwa Gereja tidak akan bisa hancur.

Catatan:

Ingat bahwa dalam theologia, kata 'Gereja' (dengan G huruf besar) menunjuk pada semua orang percaya di seluruh dunia, sedangkan kata 'gereja' (dengan g huruf kecil) menunjuk pada gereja lokal. Satu gereja lokal bisa saja hancur / tersesat, tetapi Gereja secara keseluruhan tidak mungkin bisa hancur / tersesat.

c) 'Kuasa mengikat dan melepaskan' (Mat 16:19).

Ingat bahwa kalimat ini tidak hanya dikatakan kepada Petrus saja tetapi juga kepada murid-murid lainnya (Mat 18:18).

Jadi jelas bahwa kuasa ini bukan berarti kuasa / hak untuk memasukkan / menolak orang ke / dari surga. Hak seperti itu hanya ada pada Allah / Yesus Kristus (Wah 1:18 3:7).

Kalau demikian, apa arti kuasa yang diberikan kepada murid-murid Yesus itu...?
Itu adalah kuasa untuk menyatakan saja.
Dalam memberitakan Injil, mereka menyatakan syarat-syarat untuk masuk surga berdasarkan Firman Allah, dan kalau ada orang yang menolak syarat-syarat itu maka mereka berhak menyatakan bahwa orang itu tidak akan diampuni dan tidak akan masuk surga. Sebaliknya kalau ada orang yang menerima syarat-syarat itu maka mereka berhak menyatakan bahwa orang itu sudah diampuni dan pasti akan masuk surga.

2. Bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang bertentangan dengan ajaran Roma Katolik dalam hal ini:

a) Ajaran Tuhan Yesus sendiri.

Yesus tidak pernah mengajar bahwa Petrus lebih besar dari rasul-rasul yang lain. Dalam Mark 9:33-35 dan Mark 10:35-44, pada waktu para murid meributkan siapa yang terbesar di antara mereka atau menginginkan menjadi yang terbesar (Mark 9:33-34 Mark 10:35-37), maka Yesus tidak mengatakan bahwa Petruslah yang terbesar, tetapi Ia berkata bahwa orang yang mau merendahkan dirinya dan menjadi pelayan / hamba bagi semua, dialah yang terbesar (Mark 9:35 Mark 10:43-45).

b) Ajaran Petrus sendiri.

Sekalipun Petrus menyebut dirinya sendiri sebagai rasul (1Pet 1:1), tetapi:
  • Dalam 1 Pet 5:1 Petrus menyebut dirinya sebagai fellow elder (= teman / sesama penatua). Ini jelas merupakan sebutan yang menyejajarkan dirinya dengan para penatua yang lain.
  • Dalam 1 Pet 5:2-3 Petrus melarang untuk memaksa / memerintah. Ini tentu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para Paus dalam gereja Roma Katolik.
  • Dalam Kis 10:25-26, Petrus menolak penyembahan. Ini lagi- lagi berbeda dengan sikap para Paus yang menerima saja pada waktu jemaat Katolik Roma mencium kakinya (tradisi penciuman kaki Paus dimulai oleh Paus Constantine pada tahun 709 Masehi).
c) Sikap Paulus terhadap Petrus:
  • Pada waktu ia dipanggil untuk menjadi rasul / pemberita Injil, Paulus tidak bertanya atau meminta persetujuan Petrus (Gal 1:15-17).
  • Paulus menyejajarkan dirinya dengan Petrus, hanya saja tugas mereka berbeda, karena Petrus adalah rasul untuk orang bersunat / Yahudi sedangkan Paulus adalah rasul untuk orang tak bersunat / non Yahudi (Gal 2:7-10).
  • Paulus menyebut Yakobus lebih dulu dari Petrus (Gal 2:9).
  • Dalam Gal 2:11-14, Paulus menegur Petrus di depan umum.

Semua ini jelas tidak menunjukkan bahwa Paulus menganggap Petrus sebagai Paus I yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain.

d) Sikap rasul-rasul lain terhadap Petrus:

Rasul-rasul mengutus Petrus (Kis 8:14). Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi kalau Petrus memang adalah Paus I yang mempunyai derajat tertinggi dari semua rasul yang lain.
Bagaimana mungkin orang yang memegang otoritas tertinggi bisa diutus oleh bawahannya...?
Dalam sidang di Yerusalem, Petrus berbicara setelah ada diskusi, dan yang menyampaikan hasil keputusan bukannya Petrus tetapi Yakobus (Kis 15).

Semua ini tidak menunjukkan Petrus sebagai Paus I, yang lebih tinggi kedudukannya daripada rasul-rasul yang lain.

3. Sejarah Kitab Suci menunjukkan bahwa Petrus tidak pernah pergi ke Roma.

Tradisi Katolik Roma berkata bahwa Petrus menjabat sebagai bishop I Roma mulai 42-67 M dan mati syahid di Roma pada tahun 67 M.

Anehnya Kitab Suci tidak pernah menyinggung hal itu sedikitpun. Dalam Kitab Suci kata 'Roma' digunakan 9 x tetapi tidak pernah dihubungkan dengan Petrus:

Dalam surat Petrus juga tidak disebut apa-apa tentang hal itu.

Dalam Gal 2:7-8, dikatakan bahwa Petrus adalah rasul untuk orang Yahudi, ini tidak memungkinkan dia untuk menjadi bishop di Roma.

Surat Roma ditulis oleh Paulus kira-kira pada tahun 58 M (berarti termasuk diantara 'masa jabatan' Petrus, yang menurut gereja Roma Katolik berlangsung tahun 42-67 M), tetapi dalam Ro 1:7, Paulus hanya menujukan suratnya kepada 'kamu sekalian' dan tidak menyebut nama Petrus, juga dalam Ro 1:11-13, ia tidak minta ijin 'bishop Roma' itu untuk mengunjungi jemaatnya. Juga, apa gunanya Paulus pergi ke Roma kalau Petrus sudah di sana...?

Paulus dipenjarakan di Roma selama 2 tahun (mulai 61 M; bdk. Kis 28:30) dan selama itu ia menulis beberapa suratnya, seperti: Efesus, Filipi, Kolose, Filemon. Dalam surat-surat itu ia menyebut nama banyak orang-orang yang bekerja dengan dia, tetapi tidak menyebut nama Petrus. Ini adalah sesuatu yang aneh, kalau Petrus menjadi bishop di Roma pada saat itu.

Surat 2Timotius ditulis oleh Paulus pada saat pemenjaraannya yang ke dua sesaat sebelum ia mati pada tahun 67 M (bdk. 2Tim 4:6-8). Dalam 2Tim 4:10-11, Paulus berkata bahwa semua meninggalkan dia kecuali Lukas.
Dimana Petrus pada saat itu...?
Kalau ia sudah mati, mengapa Paulus tidak menyebut-nyebut kematian 'bishop I Roma' itu...?
Kalau pada saat itu Petrus masih hidup, bagaimana mungkin ia tidak mengunjungi / menyertai Paulus, sehingga Paulus berkata bahwa semua telah meninggalkannya, kecuali Lukas...?

Kesimpulan:

Petrus tidak pernah pergi ke Roma, apalagi menjadi bishop I di Roma.

Infallibility of the Pope:

Pada tahun 1870, sidang Vatican di Roma menyatakan bahwa Paus itu infallible (tidak bisa salah) kalau ia berbicara:
  1. EX CATHEDRA ( from the chair / dari kursinya), sebagai kepala gereja.
  2. Ditujukan kepada seluruh gereja.
  3. Tentang iman dan moral.
Karena kata-katanya itu infallible (tidak bisa salah), maka kata-katanya itu irreformable (tidak bisa diperbaiki / dibetulkan).

Jadi memang Roma Katolik sebetulnya tidak beranggapan bahwa semua kata-kata Paus itu infallible (tidak bisa salah). Jadi misalnya Paus berbicara kepada pembantunya tentang hal makanan, maka itu tidak dianggap infallible.

Tetapi persoalannya adalah:
  1. Pada waktu Paus berbicara, pada umumnya ia tidak mengatakan apakah kata-katanya termasuk EX CATHEDRA atau tidak.
  2. Iman dan moral itu sangat luas, sehingga akhirnya hampir setiap pernyataan Paus dianggap pasti benar.

Bantahan / serangan dari pihak kristen:

1. Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya orang yang infallible (tidak bisa salah). Hanya Tuhan Yesus / Allah / Kitab Suci / Firman Tuhan sajalah yang infallible.

Petrus sendiri, yang dianggap orang Roma Katolik sebagai Paus I, sering berbicara secara salah, misalnya pada waktu ia menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-23), atau pada waktu ia menyombongkan dirinya dan menganggap dirinya pasti tidak akan menyangkal Yesus (Mat 26:31-35), atau pada waktu ia menyangkal Yesus sampai 3 x sambil mengutuk dan bersumpah (Mat 26:69-75 Mark 14:66-72).

2. Doktrin ini baru muncul hampir 18 abad setelah Kitab Suci selesai ditulis, dan ini menunjukkan bahwa memang doktrin ini tidak ada da-sar Kitab Sucinya. Kalau memang ada dalam Kitab Suci, mengapa membutuhkan hampir 18 abad untuk menemukan doktrin ini?

3. Pada tahun 1415 Council ( sidang gereja) of Constance memecat Paus John XXIII, dan pada tahun 1432 Council of Basle menyatakan bahwa 'Paus sekalipun harus tunduk kepada councils' (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 241). Hal-hal ini jelas bertentangan dengan doktrin yang menyatakan bahwa Paus itu infallible (tidak bisa salah). Yang mana yang benar? Padahal pada tahun 1545 Council of Trent menyatakan bahwa tradisi (yang mencakup keputus-an council) mempunyai otoritas yang setingkat dengan Kitab Suci / Firman Tuhan.

4. Mulai tahun 1378 ada 2 Paus, yaitu:
  •     Paus Urban VI (1378-1389).
  •     Paus Clement VII (1378-1394).
Perpecahan yang ditandai oleh adanya 2 Paus itu terus berlangsung (masing-masing Paus punya penggantinya sendiri-sendiri) sampai pada tahun 1409 dimana Council di Pisa memecat kedua Paus yang ada saat itu dan mengangkat Paus yang baru yaitu Paus Alexander V (1409-1410). Tetapi ternyata kedua Paus lama yang sudah dipecat itu tidak mau turun tahta sehingga lalu ada 3 Paus. Keadaan ini terus berlangsung sampai tahun 1417 dimana Council of Constance memecat ketiga Paus yang ada dan mengangkat Paus baru, yaitu Paus Martin V (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 241-242).

Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa cocok dengan doktrin infallibility of the Pope (ketidakbersalahan Paus)...?

5. Sebelum tahun 1870 (tahun dimana doktrin tentang infallibility of the Pope ini muncul), ada suatu Catechism / Katekisasi yang disebut Keenan's A Doctrinal Catechism.

Dalam catechism itu ada tanya jawab sebagai berikut:

Question / pertanyaan:
Haruskah orang Katolik percaya bahwa Paus itu infallible...?

Answer / jawab:
Ini adalah penemuan Protestan, bukan ajaran Roma Katolik. Ajaran Paus, kecuali kalau itu diterima oleh semua bishops, tidak mengikat.

Tetapi pada tahun 1870, ketika doktrin doktrin infallibility of the Pope (Ketidakbersalahan Paus) itu keluar, bagian ini dihapus dari catechism itu secara diam-diam, tanpa penjelasan- Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 243.

6. Adalah suatu fakta bahwa para Paus sering bertentangan satu dengan yang lain.

Contoh:

a) Gregory I (590-604) menolak gelar 'Paus' dari kaisar Phocas, dan ia mengatakan bahwa orang-orang yang menggunakan gelar 'Uni-versal Bishop' adalah anti Kristus. Tetapi pada tahun 607, Boniface III menggunakan gelar 'Paus' itu, dan demikian juga Paus-paus sesudahnya (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 125,249).

b) Paus Hadrian II (867-872) menyatakan bahwa pernikahan sipil adalah sah, tetapi Paus Pius VII (1800-1823) menyatakan bahwa pernikahan sipil itu tidak sah (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 249).

c) Pada tahun 1590 Paus Sixtus V mengeluarkan edisi Latin Vulgate (Kitab Suci bahasa Latin), yang dinyatakannya sebagai edisi yang terakhir, dan ia melarang dengan ancaman kutukan bagi siapapun untuk mengeluarkan edisi yang baru, kecuali persis sama dengan edisi yang ia keluarkan. Tetapi ia lalu mati, dan para ahli theologia menemukan banyak kesalahan pada edisi Latin Vulgate yang ia keluarkan itu. Dua tahun setelah itu Paus Clement VIII menge-luarkan edisi Latin Vulgate yang baru, dan edisi inilah yang dipakai sampai sekarang (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 88).

d) Pada tahun 1773 Paus Clement XIV memberi pernyataan yang menekan golongan Jesuit, tetapi pada tahun 1814 Paus Pius VII memberi pernyataan yang memulihkan / mengangkat golongan Jesuit (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

e) Paus Eugene IV (1431-1447) menghukum Joan of Arc dengan jalan dibakar hidup-hidup sebagai tukang sihir / dukun, tetapi pada tahun 1919 Paus Benedict XV menyatakan Joan of Arc sebagai orang suci (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

f) Paus Sixtus V (1585-1590) menganjurkan pembacaan Kitab Suci, tetapi Paus Pius VII (1800-1823) dan banyak Paus yang lain mengutuk tindakan itu (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250).

Catatan:
Ini jelas kutukan yang bertentangan dengan Kitab Suci, karena Kitab Suci justru menyuruh orang membaca dan merenungkan Kitab Suci (Maz 1:1-2).
Bagaimana mungkin kutukan yang tidak alkitabiah ini bisa infallible / tidak bisa salah...?

7. Paus-paus sering mengubah pandangannya.

Contoh:

a) Zozimus (417-418) mula-mula menyatakan Pelagius (ini orang sesat!) sebagai guru yang orthodox, tetapi Zozimus lalu mengubah pernyataannya atas desakan Agustinus (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248).

b) Vigilinus (538-555) mula-mula tidak mau mengutuk guru-guru sesat pada waktu terjadi pertentangan tentang ajaran Monophysite (ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya mempu-nyai 1 hakekat, yang bersifat campuran ilahi - manusia) dan ia memboikot Council of Constantinopel (tahun 553). Tetapi setelah Council itu mengancam untuk mengucilkan dan mengutuknya, Vigilinus lalu tunduk kepada Council itu dan mengakui bahwa ia telah menjadi alat setan (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248).

c) Bahkan Petrus yang diakui oleh orang Katolik sebagai Paus I, juga pernah berubah pandangan, seperti dalam Kis 10:34-35 (kalau mau jelas, bacalah seluruh Kis 10).

Kalau Paus memang infallible (tidak bisa salah), maka tentu mereka juga tidak bisa berubah pandangan. Bahwa mereka bisa berubah pandangan, menunjukkan secara jelas bahwa mereka bisa salah dan sering salah.

8) Para Paus sering mempunyai kepercayaan / mengajarkan ajaran yang salah, bahkan sesat, karena tidak ada dalam Kitab Suci, atau bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

Contoh:

a) Callistus (221-227) adalah seorang Unitarian ( orang yang meng-anut kepercayaan bahwa Allah itu tunggal secara mutlak) - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248.

Ini tentu bertentangan dengan semua orang kristen yang alkitabiah yang termasuk Trinitarian ( orang yang percaya kepada Allah Tri-tunggal).

b) Liberius (358) menganut ajaran Arianism, padahal ajaran Arianism ini adalah ajaran sesat yang:
  • Menganggap bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah ciptaan, bukan Allah.
  • Menjadi dasar dari ajaran Saksi Yehovah jaman sekarang.
Disamping itu Liberius ini juga menentang dan mengutuk Athanasius (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 248), padahal Athanasius sampai saat ini diakui oleh gereja yang Alkitabiah sebagai orang yang mati-matian mempertahankan doktrin Allah Tritunggal yang benar.

c) Paus Honorius (625-638) mengajarkan ajaran Monothelitism (ajaran sesat yang mengatakan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kehendak yang bersifat ilahi - manusia). Paus ini akhirnya dikutuk dan dikucilkan (excommunication by name) oleh Council of Constantinople pada tahun 680 (Loraine Boettner, 'Roman Catholi-cism', hal 248-249.

d) Pada tahun 593, Gregory I mengajarkan doktrin tentang api pencucian, padahal doktrin ini sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci.

e) Pada tahun 1079, Paus Gregory VII mengajarkan bahwa hamba Tuhan harus hidup celibat (tidak menikah). Ini jelas bertentangan Kitab Suci yang mengijinkan imam untuk menikah (Im 21:1-15). Bahkan Kitab Suci menyatakan bahwa Petrus ('sang Paus I') dan rasul-rasul juga mempunyai istri (Mark 1:30 1Kor 9:5).

f) Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengajarkan doktrin Immaculate Conception (doktrin yang mengatakan bahwa Maria dikandung, lahir dan hidup tanpa dosa sedikitpun).

g) Pada tahun 1950, Paus Pius XII mengajarkan kenaikan Maria ke surga.

h) Pada tahun 1965, Paus Paulus VI mengajarkan bahwa Maria ada-lah Ibu / Bunda gereja.

9) Paus mengajarkan hal yang bertentangan dengan fakta.

Paus Paulus V (1605-1621) dan Paus Urban VII (1623-1644) menge-cam Galileo karena teori Galileo yang mengatakan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi tetapi bumilah yang mengelilingi ma-tahari. Galileo dipenjara dan disiksa karena teorinya dianggap berten-tangan dengan Firman Tuhan, padahal sekarang teori Galileo ini terbukti benar! - Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 250.

10) Banyak Paus hidup tidak bermoral.

Contoh:

a) Paus Sergius III mempunyai anak haram dari Marioza dan anak itu akhirnya menjadi Paus John XI (931-936).

b) Paus John XII (956-964) melakukan pembunuhan, sumpah palsu, pelanggaran terhadap hal-hal yang dianggap keramat, perzinahan, dan incest (perzinahan dalam keluarga). Ia akhirnya dipecat oleh Kaisar Otto.

c) Paus John XXIII (1410-1415) menjual pengampunan gereja dan melakukan percabulan sehingga akhirnya dipecat oleh Council of Constance.

d) Paus Alexander VI (1492-1503) mempunyai 6 anak haram, 2 orang di antaranya lahir setelah ia menjadi Paus.

(Semua ini diambil dari buku Loraine Boettner, 'Roman Catholi-cism', hal 250-251).

Sekalipun Roma Katolik tidak pernah mengatakan bahwa Paus itu infallible dalam hidupnya, tetapi rasanya sukar terbayangkan bahwa para Paus yang hidupnya begitu brengsek bisa infallible kata-katanya.

Memang perlu diakui bahwa juga ada banyak pendeta Protestan yang melakukan hal-hal yang sangat berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa Protestan tidak pernah mengclaim bahwa pendeta itu infallible baik dalam kata-katanya maupun hidupnya.

11) Banyak Paus yang tidak injili / Alkitabiah.

Khotbah-khotbah mereka (yang zaman ini sering bisa saudara baca dalam surat kabar pada Natal maupun Paskah / Jum'at Agung dsb) hanya berbau politik, sosial, ekonomi, tetapi tidak ada Injil di dalamnya (mereka tidak mendorong orang untuk datang kepada Yesus). Ini jelas tidak sesuai dengan Mat 28:19.

12) Ada beberapa Paus yang menyatakan bahwa dirinya tidak infallible, yaitu: Vigilius, Innocent III, Clement IV, Gregory XI, Hadrian VI, Paul IV (Loraine Boettner, 'Roman Catholicism', hal 252)

Bagaimana mungkin Paus, yang oleh gereja Roma Katolik dinyatakan infallible itu, bisa menyatakan bahwa dirinya tidak infallible...?

13) Kalau Paus itu memang infallible, mengapa tidak ada Paus yang pernah membuat tafsiran tentang Kitab Suci...?
Bahkan exposisi dari satu pasal Kitab Sucipun tidak pernah ada. Kalau memang ia bisa berbicara / mengajar secara infallible (tidak bisa salah), maka seharusnya ia membuat buku tafsiran tentang Kitab Suci.



Disadur dari tulisan bpk Pdt Budi Asali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar