Jumat, 24 Agustus 2012

Father Irenaeus Berperang Melawan Gnostisisme



Irenaeus dilahirkan di Smirna, Asia Kecil sekitar tahun 120 Masehi. Sebagai pemuda, ia mendapatkan pembelajaran iman Kristennya dari seorang uskup agung yang bernama Polycarpus dari Smirna. Polycarpus sendiri adalah murid dari rasul Yohanes, yang di akhir hidupnya menjadi seorang martir bagi Injil Kristus. Selanjutnya pada pertengahan abad kedua, Irenaeus diutus menjadi penatua untuk komunitas imigran Kristen dari Asia Kecil di Gaul, Perancis. Dia menetap di Lyons pada tepi sungai Rhone yang terletak di bagian selatan Gaul. Pelayanannya yang sungguh-sungguh menjadikan ia pemimpin Kristen yang disegani.

Pada tahun 177 Masehi, Kaisar Marcus Aurelius mengadakan suatu penganiayaan hebat kepada komunitas Kristen di lembah Rhone sehingga menewaskan ratusan bahkan ribuan orang-orang Kristen awam dan penatua. Peristiwa penganiayaan ini begitu mengerikan untuk diingat karena penduduk lokal mengembangkan metode-metode sadis untuk membunuh orang Kristen secara perlahan-lahan. Salah satu bentuk penyiksaan itu ialah menaruh orang-orang Kristen pada ruang yang kecil tanpa jendela sehingga mereka mati perlahan-lahan karena sesak nafas.

Irenaeus luput dari penganiayaan anti Kristen di Gaul karena pada saat itu dia sedang dikirim ke Roma untuk melawan ajaran sesat yang pada waktu itu merongrong gereja. Akibat perjalanan ke beberapa daerah di Roma, dalam waktu singkat, dia memperoleh reputasi di antara orang-orang Kristen sebagai pribadi yang pandai berdiplomasi dan menjadi mediator. Namun ada hal yang sangat membuatnya sedih ketika dia kembali ke Gaul, yaitu jemaat di sana mulai tertarik pada ajaran Gnostisisme.

Irenaeus menjadi uskup bagi komunitas Kristen di Lyons. Ia menghabiskan waktunya untuk memerangi pengaruh Gnostisisme yang semakin kuat. Dia menulis lima volume buku dalam bahasa Latin dan Yunani yang dikenal dengan judul Against Heresies (judul lengkapnya A Refutation and Subversion of Knowledge Falsely So-Called). Buku ini berisi kajian kritis dan penolakan atas ajaran Gnostisisme karena tidak setia kepada ajaran para rasul. Dia menyelidiki sumber-sumber yang berotoritas dimulai dari Polycarpus hingga rasul Yohanes. Buku yang ditulisnya mampu membuat pengaruh ajaran Gnostisisme surut.[1] Selain itu, dalam prosesnya melawan ajaran sesat, Irenaeus juga mengembangkan penafsiran doktrin penebusan yang kelak sangat memengaruhi seluruh arah theologi Kristen, khususnya di wilayah Eropa Timur yang berbahasa Yunani. Karena itu, sangat sulit untuk mengecilkan pengaruh pemikirannya.[2]

Dia meninggal di Lyons pada tahun 202 Masehi ketika terjadi pembunuhan massal terhadap orang-orang Kristen. Secara detail, peristiwa kematiannya tidak diketahui. Dia diterima sebagai martir dan orang suci baik bagi Gereja Timur yang berbahasa Yunani maupun bagi Gereja Barat yang mencakup kekaisaran Roma yang berbahasa Latin. Tetapi pengaruh terbesarnya dalam theologi berada di wilayah Timur, di mana dia dilahirkan.

Tulisan Irenaeus, meski bersifat intelektual, tidak pernah kehilangan sentuhan kelembutan hati seorang gembala. Dia dengan setia menegakkan kebenaran melawan ajaran sesat, Gnostisisme, melalui pemikirannya yang menyeluruh tentang dosa asal (original sin) dan penebusan (redemption). Permasalahan utama pada masanya adalah menjamurnya ajaran sesat yang melekat pada gereja-gereja di seluruh wilayah kekaisaran Romawi. Irenaeus bertheologi dalam konteks memberikan perlawanan terhadap injil palsu yang ditawarkan Gnostisisme. Itulah sebabnya jika kita mendalami theologinya mengenai penebusan, akan mendapatkan kesan-kesan spekulatif di beberapa tempat. Hal ini semata-mata bertujuan untuk menarik kembali orang-orang Kristen pada zaman itu untuk kembali pada Injil yang sejati, yaitu Injil yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusia mengenai asal dosa dan pengharapan akan penebusan.[3]

Serangan Irenaeus pada Gnostisisme sangatlah keras dan sinis, di mana ajaran itu dianggap suatu kebodohan. Bahasa yang digunakan dalam bukunya sangatlah lugas dan tegas bahkan cenderung sarkastik. Tujuannya ialah menunjukkan dan menghapus kerusakan yang menyeluruh dari injil Gnostik yang terselubung di dalam ajaran tentang hikmat yang lebih tinggi untuk orang-orang rohani guna mencapainya keselamatan. Untuk membuka kedok Gnostisisme, Irenaeus menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mempelajari sedikitnya 20 guru Gnostik beserta perbedaan ajarannya. Dia menemukan satu yang paling berpengaruh, Valentinian Gnostisisme. Ajarannya memengaruhi gereja hingga ke Roma di bawah seorang pemimpin yang bernama Ptolemaeus. Taktik Irenaeus adalah dengan menghancurkan ajaran palsu yang paling berpengaruh ini, agar aliran-aliran Gnostik lainnya ikut jatuh dan hancur.

Pendekatan kritik Irenaeus dalam bukunya Against Heresies terdiri dari 3 rangkap. Pertama, ia menunjukan absurditas wawasan dunia Gnostik melalui argumen bahwa ajaran ini dibangun di atas mitologi dan imajinasi semata. Termasuk dalam rangkap pertama ialah membuktikan kontradiksi dan sifat tidak koheren dalam ajaran Gnostisisme sendiri. Kedua, ia menunjukkan kesalahan klaim Gnostik yang menyatakan bahwa ajarannya berdasarkan otoritas dari Yesus dan para rasul. Ketiga, ia menyerang interpretasi ajaran Gnostik terhadap Kitab Suci dengan menyatakan penafsiran mereka tidak masuk akal dan bahkan tidak mungkin.

Dengan demikian Irenaeus mempunyai beberapa pengandaian yang penting untuk diketahui berkenaan dengan pembelaannya. Dia senantiasa memosisikan dirinya sebagai seseorang yang memiliki peran khusus mengingat bahwa dia adalah murid Polycarpus yang adalah juga murid dari rasul Yohanes. Banyak pengikut ajaran Gnostik yang melihat rasul Yohanes sebagai kelompok inti dari murid Tuhan Yesus di mana menerima suatu ajaran rahasia. Ajaran rahasia ini bersifat eksklusif karena diperuntukkan hanya kepada orang-orang Kristen yang telah memiliki tingkat kerohanian tinggi supaya bisa memahaminya. Ajaran ini juga berlandaskan pada tradisi lisan sebagai sumber yang berotoritas. Jikalau memang benar maka seharusnya Polycarpus mengetahui ajaran rahasia itu, akan tetapi pada kenyataannya tidak ada uskup atau penatua yang memperoleh ajaran Gnostik dari Polycarpus. Argumen ini mengalahkan klaim para pengikut Gnostisisme itu.[4]

Pengandaian penting lainnya adalah serangan Irenaeus kepada para pengikut Gnostik yang menghancurkan kesatuan gereja pada waktu itu. Dia sangat menghormati kesatuan gereja yang kelihatan di mana nyata melalui persekutuan yang erat antar uskup yang ditunjuk oleh para rasul. Argumen ini bagi pembaca buku Irenaeus merupakan serangan terbesar melawan Gnostisisme.

Seluruh aliran sekte Gnostik memandang rendah akan penciptaan yang bernatur fisik serta menyangkalnya karena Allah bersifat baik dan terang yang agung (hanya bernatur rohani). Sebagian besar dari aliran tersebut, termasuk sekte Valentinus mengajarkan tingkat-tingkat emanansi dari Allah yang murni roh dan terang di mana secara bertahap memancarkan cahaya-Nya sehingga tercipta dunia materi, termasuk tubuh manusia. Namun proses penciptaan ini sesungguhnya tidak dikehendaki oleh Allah, hanya terjadi begitu saja. Akibatnya jiwa manusia teperangkap di dalam tubuh. Terhadap ajaran ini, dengan tegas Irenaeus menegakkan doktrin Kristen dari Allah yang adalah Pencipta sekaligus Penebus baik untuk dunia material maupun rohani. Dia mengutip Yohanes 1:3, ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”.[5]

Meski kritik Irenaeus pada Gnostisisme memainkan peran yang signifikan di dalam sejarah theologi Kristen dengan menegaskan kesesatan sistem kepercayaan itu berdasarkan kebenaran Kitab Suci dan Pengakuan Iman Rasuli, kontribusi sesungguhnya terletak pada cara pandang alternatifnya kepada Gnostisisme. Theologi historis memberi nama atas kontribusi Irenaeus, teori rekapitulasi (theory of recapitulation) yang berarti menyediakan kepala baru[6]. Kepala di sini berarti sumber yang darinya segala sesuatu berasal. Maka dalam konteks keselamatan, karya penebusan Kristus merupakan suatu pekerjaan untuk menyediakan sumber kehidupan yang baru bagi umat manusia. Hal ini dapat disebut juga rekapitulasi.

Pemikiran Gnostik memandang karya penebusan Kristus hanya bersifat murni spiritual serta menyangkal inkarnasi-Nya. Dia hanya seolah-olah turun ke dunia dan mengambil rupa manusia untuk sementara waktu supaya dapat memberitakan ajaran-Nya. Dalam pemikiran Gnostik, tubuh Kristus bukanlah sungguh-sungguh tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging melainkan sebatas penampakan fisik semata. Dengan demikian pekerjaan Kristus tidak memerlukan diri-Nya untuk berinkarnasi, melainkan hanya cukup menggunakan sarana roh untuk menyatakan pesan-Nya. Oleh sebab itu ketika Yesus disalibkan, Kristus tidak ada di dalam ataupun bersama tubuh Yesus. Dengan demikian, Gnostik menolak historisitas, kehidupan fisik, dan kematian Kristus dalam ajaran keselamatan mereka.

Sebaliknya, theologi Irenaeus menunjukkan dengan kuat berita Injil sejati tentang keselamatan yang diajarkan para rasul di mana berpusatkan pada inkarnasi Kristus, keberadaan Firman hidup, serta Anak Allah yang memiliki darah dan daging. Oleh sebab itu ia menekankan setiap detail dari kehidupan Yesus sebagai suatu persyaratan mutlak keselamatan. Bagi Irenaeus dan Bapa-bapa Gereja setelahnya dengan jelas menekankan bahwa inkarnasi Kristus itu sendiri adalah bagian karya penebusan Kristus, bukan hanya ajaran-Nya saja. Artinya Kristus Anak Allah adalah Firman kekal yang menjadi daging yang terbatas untuk menebus dan memulihkan kejatuhan manusia berdosa melalui beriman kepada-Nya. Ajaran terkait inkarnasi penebusan Kristus ini menjadi sangat krusial dan memberikan arah baru bagi perkembangan doktrin keselamatan para theolog setelah masa Irenaeus di mana mereka menjadi sangat peka terhadap ajaran-ajaran yang menyelewengkan kebenaran inkarnasi Kristus. Bila Kristus bukan sepenuhnya ilahi dan manusia, maka keselamatan manusia menjadi tidak mungkin. Keseluruhan proses penebusan tergantung pada kenyataan Kristus yang lahir dalam dunia, memiliki darah dan daging, hidup, menderita, mati, dan bangkit menerima kemuliaan yang kekal sebagai Anak Tunggal Bapa.[7]

Selanjutnya, Irenaeus memandang bahwa inkarnasi merupakan kunci dari sejarah penebusan Allah dan keselamatan pribadi orang percaya. Inkarnasi itu sendiri bersifat transformatif, mampu mengubah kerusakan total manusia akibat kejatuhannya dalam dosa yang mengakibatkan keterpisahan dengan Allah serta kematian. Teori rekapitulasinya memberikan ekspresi akan kuasa inkarnasi Kristus yang sanggup mengubah manusia berdosa. Secara literal maka manusia berdosa mengalami kelahiran kembali melalui inkarnasi Kristus. Manusia berdosa menerima sumber baru yang menjadi dasar keberadaannya yang murni, kekal, pulih, dan berkemenangan. Maka dalam kehidupan penebusan, umat manusia menerima hidup dalam kelimpahan, baik dalam aspek rohani maupun fisik. Sangat berlawanan dari ajaran keselamatan Gnostik yang di mana tidak memberikan harapan kepada umat manusia untuk diselamatkan, tetapi hanya bagi sedikit manusia saja yang diselamatkan melalui roh dan pengetahuan rahasia (gnosis).

Bagaimana mekanisme teori rekapitulasi bekerja...? Pertama, Irenaeus mengandaikan solidaritas umat manusia baik dalam dosa maupun penebusan. Pengandaian ini mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang Kristen modern yang lebih banyak menggunakan cara berpikir individualistik. Sedangkan pada masanya, karya penebusan Kristus dipandang memberikan pengaruh secara otomatis kepada umat manusia. Sama seperti Adam pertama dalam kejatuhannya berdampak pada seluruh umat manusia, maka Kristus sebagai Adam kedua menjadi wakil yang menjadi sumber hidup manusia ketika Dia mengambil natur manusia. Dengan demikian teori rekapitulasi Irenaeus merupakan penafsiran yang mendalam dari kitab Roma pasal 5.[8]

Kedua, Kristus menyediakan penebusan melalui keseluruhan hidup-Nya yang suci dan benar di dunia. Setiap aspek hidup-Nya merupakan bentuk ketaatan-Nya pada Allah yang gagal dilakukan oleh Adam. Ketika Adam gagal dan jatuh, maka keberadaan seluruh umat manusia menjadi rusak dan pasti mati. Sedangkan kehidupan Kristus membuat manusia kembali kepada rencana-Nya semula bahkan berada dalam kondisi yang lebih tinggi dari Adam karena memiliki keselamatan. Salib merupakan ujian terbesar Kristus untuk taat kepada Bapa dan menang atas pencobaan Iblis. Melalui penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib, Kristus menyelesaikan penebusan, menang atas kuasa dosa dan maut. Iblis telah ditaklukkan dan dikalahkan. Tidak hanya sampai di sana, kebangkitan Kristus merupakan puncak rekapitulasi pekerjaan Kristus. Bagi setiap orang yang bertobat dan percaya melalui iman kepada Kristus maka akan berpartisipasi dalam karya penebusan-Nya melalui pemberian korban yang terbesar yakni diri-Nya serta menaklukkan kematian. Manusia akan ditransformasi menjadi ciptaan baru yang ikut ambil bagian dalam natur ilahi yang mulia dan kekal.[9]

Dapat disimpulkan bahwa ajaran Irenaeus tentang penebusan Kristus menekankan akan proses restorasi ciptaan berlawanan dengan ajaran Gnostik yang justru hendak melepaskan manusia dari dunia ciptaan Allah. Penebusan merupakan proses pembalikan kejatuhan dan kerusakan manusia yang masuk ke dunia karena dosa Adam menjadi manusia baru yang seutuhnya dipulihkan dan menerima natur ilahi akibat inkarnasi Kristus. Kemuliaan Allah dipancarkan melalui orang-orang percaya yang telah ditebus oleh Kristus. Manusia akan berbagian di dalam natur ilahi (2Ptr. 1:4). Bukan berarti manusia akan menjadi Allah, melainkan berkat inkarnasi Kristus, kerusakan manusia akan digantikan oleh karakter ilahi yang terus dibentuk dalam diri orang percaya sehingga kehidupan kita menjadi serupa dengan Kristus.

Dengan adanya pemikiran Irenaeus tersebut telah terjadi lompatan refleksi intelektual cukup besar dalam theologi melampaui pengetahuan moral yang sederhana dari Bapa-bapa Gereja mula-mula. Pada akhir abad kedua, sejarah theologi Kristen telah mengalami kemajuan yang jauh dari permulaannya. Meski demikian, masih ada pertanyaan yang belum dijawab oleh Irenaeus, seperti bagaimanakah relasi dan kesatuan antara Allah Bapa dan Allah Anak dan juga Allah Roh Kudus...?
Selanjutnya, tentang bagaimana penerapan karya penebusan dalam masing-masing pribadi orang percaya dan mengapa tidak semua umat manusia diselamatkan...?
Pada abad selanjutnya pertanyaan-pertanyaan ini akan menimbulkan banyak perdebatan dan kontroversi[10]. Akan tetapi kisah akan pekerjaan Allah terus berlangsung di dalam menjawab tantangan-tantangan yang muncul di kemudian hari. Demikianlah salah satu kisah dalam sejarah theologi Kristen yang telah berbagian dalam pemberian nilai perjuangan hidup kekristenan sampai kepada kita hari ini dan masih akan terus dilanjutkan sampai kedatangan-Nya kedua kali.


Endnotes
[1] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, BPK Gunung Mulia: 2005, Hal. 9-11.
[2] Op.Cit., Olson, Hal. 69.
[3] Ibid., Hal. 70.
[4] Ibid., Hal. 71.
[5] Ibid., Hal. 72-73.
[6] Dalam bahasa Yunani, Irenaeus menggunakan kata anakephalaiosis dan recapitulatio yang secara literal berarti menyediakan kepala baru.
[7] Op.Cit., Olson, Hal. 74.
[8] Ibid., Hal. 75.
[9] Ibid., Hal. 76.
[10] Ibid., Hal. 77-78.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar