Jumat, 24 Agustus 2012

Penampakan Maria dan Doktrin Roma Katolik

Di bawah ini adalah terjemahan terhadap tulisan Timothy Kauffman tentang Hubungan Penampakan Maria dan Doktrin Roma Katolik serta ajaran Alkitab.
Tulisan ini diambil dari situs Trinity Foundation.

Catatan Editor :
Februari 2008 merupakan peringatan ke 150 penampakan Maria di Lourdes, Perancis, kepada seorang anak perempuan petani yang buta huruf bernama Bernadette Soubirous. Sejak saat itu Lourdes menjadi tujuan jutaan penganut Roma Katolik yang ingin mencari kesembuhan dan keselamatan. Tahun 2007 Benedict XVI menetapkan penerbangan reguler dari Roma ke Lourdes dan menawarkan indulgensia paripurna bagi penganut Katolik Roma demi mendorong ziarah ke tempat penampakan tersebut. Bulan ini dijadwalkan akan diumumkan Jubilee of Lourdes. Kami menawarkan sebuah esai tentang penampakan-penampakan Maria di Lourdes dan perannya dalam perkembangan ajaran Roma Katolik.

Timothy Kauffman dibesarkan sebagai seorang penganut Roma Katolik dan menjadi Kristen tahun 1991 ketika berumur 21 tahun. Sejak kecil dia diajarkan ibunya mengikuti Penampakan Maria, mengucakan doa rosario, dan mengenakan scapular dan Miraculous Medal. Saat ini dia bekerja sebagai teknisi di Huntsville, Alabama, bersama dengan istri dan tiga anaknya. Dia telah menulis dan menerbitkan beberapa buku sejak peralihan kepercayaannya, di antaranya Quite Contrary: A Biblical Reconsideration of the Apparitions of Mary; Graven Bread: The Papacy, the Apparitions of Mary, and the Worship of the Bread of the Altar; and Geese in Their Hoods: Selected Writings on Roman Catholicism by Charles Haddon Spurgeon.

Sejauh kutipan bermakna, sulit untuk menandingi ringkasan kemenangan Julius Caesar dalam pertempuran Zela yaitu: Veni, vidi, vici: Aku datang, Aku melihat, Aku menaklukkan. Kalau tidak dapat dikatakan setara, paling tidak dapat dikatakan bahwa kutipan tersebut berada pada kelompok yang sama dengan apa yang dipercaya sebagai laporan Sir Charles James Napier’s tahun 1843 bahwa dia telah mengendalikan Provinsi Sindh di India: Peccavi, atau secara harafiahnya berarti Aku telah berdosa (tetapi yang pengucapannya hampir sama dengan I have Sindh atau Aku telah memiliki Sindh). Sir Francis Drake berada pada kelompok yang sama melalui laporannya tentang kekalahan armada Spanyol tahun 1588 yaitu Cantharides, yaitu nama dari perangsang nafsu birahi, dia menggunakannya secara cerdas sebagai proposisi: The Spanish fly (bisa berarti Spanyol tenggelam maupun nama zat perangsang nafsu birahi).

Pernyataan-pernyataan ini (yang sebagian di antaranya mungkin bersifat apokrifa) telah menjadi masyhur karena ada begitu banyak arti yang dijejalkan ke dalam sedikit kata. Kepadatan semantiknya menakjubkan, setiap pernyataan yang dikeluarkan bahkan menjadi lebih bermakna sesuai dengan batasan waktu dan konteksnya. Hal ini diangkat di sini karena dalam kaitan dengan Penampakan Maria, menonjolnya pesan dari Lourdes di antara teolog Katolik Roma karena singkatnya pesan dan isi pesannya sama menonjolnya dengan kutipan dari Caesar, Napier, dan Drake di antara pakar sejarah.

Penampakan Maria biasanya muncul dengan pesan panjang bagi Paus serta kaum peziarah. Penampakan Maria di Paris tahun 1830 memberikan penganut Roma Katolik devosi dan rancangan “Miraculous Medal” yang terkenal itu. Penampakan Maria di La Salette tahun 1846 memberikan pesan yang jelas dan kadang-kadang rahasia melalui anak-anak yang sebagian di antaranya ditujukan dan dikirimkan langsung kepada Paus. Penampakan Maria di Fátima tahun 1917 bertemu dengan Lucia Abóbora yang diberi visi tersebut, ditambah dengan pesan terbuka dan rahasia bagi Paus yang diakhiri dengan penampakan cahaya yang dramatis. Penampakan Maria (yang mendapat persetujuan resmi) di Medjugorje sejak tahun 1980-an memberikan lebih dari 30.000 pesan yang karena banyaknya telah dikumpulkan dalam bentuk konkordansi besar yang disebut Words from Heaven, bersama dengan lebih banyak lagi rahasia bagi para pelihat dan bagi Yohanes Paulus II. Dalam penampakan-penampakan ini dan lebih banyak lagi penampakan lain, pelihat didorong untuk menulis pesan (atau gambar) dan menyebarkannya kepada orang lain.

Penampakan Maria di Lourdes, Perancis, 1858
Namun penampakan Maria di Lourdes berbeda. Pada penampakan ketiga dari 18 penampakan, si Bernadette yang buta huruf membawa pena dan kertas dan meminta penampakan tersebut untuk menulis pesan untuknya. Penampakan tersebut menjawab, “Tidak perlu aku menulis apa yang harus aku katakan kepadamu.” Di samping ada perintah sekali-kali untuk mengarahkan ziarah dan kapela, serta beberapa rahasia untuk Bernadette, tidak ada berita yang memiliki substansi bagi siapapun. Penampakan di Lourdes hampir sepenuhnya bisu dalam hal doktrin. Hampir.

Setelah ada tekanan umum bagi Bernadette untuk mengidentifikasi penampakan tersebut, maka penampakan itupun akhirnya menyebutkan namanya. Pada penampakan ke-16, saat Bernadette sekali lagi meminta nama, si perempuan dalam penampakan itu menjawab: Que soy era Immaculada Conceptiou, atau, Aku adalah Immaculate Conception. Waktu dan konteks dari pesan itu memiliki signifikansi monumental bagi penganut Roma Katolik. Biarlah implikasinya dikutip langsung dari pernyataan mereka sendiri :

Pengumuman dogma Immaculate Conception memberi kembali kebugaran/semangat pada gereja yang telah kelelahan di abad kesembilan belas…. Adalah sesuatu yang menakjubkan bahwa empat tahun setelah pengumuman dogma ini, pada tanggal 11 Februari 1858, Bunda kita menampakkan diri di Lourdes dengan menyebut dirinya Immaculate Conception, [sehingga] mengkonfirmasi dogma tersebut[1].

Dogma Immaculate Conception Santa Perawan Maria memiliki arti penting politis bagi Katolisisme pada abad ke-19.… [Dogma ini] bagi sebagian besar orang merupakan dogma yang tidak terselami seperti halnya dogma Trinitas itu sendiri. Namun demikian, antusiasme terhadap dogma yang mengagumkan ini merupakan bagian penting dari upaya kaum klerus Perancis untuk memimpin upaya kebangkitan keagamaan abad ke-19. Hampir tidak ada nama yang lebih dapat diterima atau lebih tidak terduga yang dapat diberikan Bernadette[2].

Pesan [Lourdes] dapat diringkas menjadi empat poin [hanya yang pertama dibahas di sini]:
1. Pesan tersebut adalah konfirmasi surgawi terhadap dogma Immaculate Conception yang telah didefinisikan Gereja beberapa tahun sebelumnya[3].

Yang dikutip di atas hanyalah beberapa kutipan dari sumber Roma Katolik sendiri. Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah : Pada tahun 1854 Pius IX memproklamirkan “dogma baru yang mengagumkan” bahwa Maria dikandung tanpa dosa, dan saat ada kontroversi besar, Penampakan di Lourdes mengkonfirmasi bahwa dogma itu benar. Dengan demikian, Penampakan yang banyak dikenal karena singkatnya itu dipercaya telah memainkan peran penting dalam mengkonfirmasi doktrin kontroversial Roma Katolik, dan pada saat yang sama mengkonfirmasi otoritas Paus untuk berbicara tanpa salah, hanya dengan dengan mengulangi lima kata dalam dialek asli si Bernadette yang buta aksara. Waktu yang tepat. Substansi yang tepat. Pantas jadi rekor.

Dengan demikian Lourdes memiliki keutamaan di antara semua penampakan Maria, karena merupakan puncak dari pengaruhnya terhadap kePausan dan juga menjadi dasar bagi dua lagi doktrin Roma Katolik yang paling arogan sepanjang masa yaitu ketidakbersalahan Paus dan Pengangkatan/Kenaikan Maria ke Surga.

Imacculate Conception Maria
Kepercayaan bahwa Maria dikandung tanpa dosa bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bukan sesuatu yang dicatat dalam Alkitab dan tidak pernah disuarakan gereja secara tegas dalam 1800 tahun sejarahnya. Lebih jauh lagi, ini jelas bukan pengakuan iman. Tetapi tahun 1830, melalui penampakan kepada Catherine Labouré, si penampakan tersebut meminta dibuatkan medali untuk menghormati Maria dan secara eksplisit merujuk kepada Immaculate Conception:

Pada saat ini, dimana aku berada atau tidak berada aku tidak tahu, sesuatu bebentuk oval terbentuk di sekitar Santa Perawan di atasnya tertulis kata-kata ini dengan emas: “O Maria dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang meminta bantuan kepadamu.” Kemudian ada suara yang terdengar: “Buatlah medali sesuai dengan model ini. Mereka yang mengenakannya akan menerima anugerah besar; anugerah berlimpah akan diberikan kepada mereka yang percaya.”[4]

Medali ini kemudian dikenal dengan Miraculous Medal (Medali Mujizat), dan sekali lagi mereka yang mengetahui dan mempelajari Penampakan [Maria] memahami betapa berpengaruhnya penampakan terhadap agama Roma Katolik. Penampakan ini tidak hanya memperkuat kepercayaan yang sudah ada; tetapi juga memperkenalkan dan mempengaruhi ajaran dan praktek baru Roma Katolik:

Walaupun diakui secara luas bahwa kepopuleran “Miraculous Medal” membantu menyiapkan jalan bagi Paus Pius IX untuk mengumumkan dogma Immaculate Conception pada tahun 1854, namun dia juga tampaknya memiliki kontribusi besar terhadap pengakuan formal Gereja tentang otentisitas visi Catherine[5].
  
Penampakan dan Kepausan
Hubungan erat antara kepausan dan penampakan menjadikan Lourdes begitu penting. Tidak ada lagi hubungan timbal balik antara Penampakan dan Kepausan yang lebih jelas daripada deklarasi doktrin Immaculate Conception:

Bahwasanya, adalah sesuatu yang pasti bahwa Penampakan Miraculous Medal kepada Catherine Labouré pada tahun 1830 mempercepat pengumuman resmi doktrin Immaculate Conception pada tahun 1854, sama seperti halnya Penampakan di Lourdes, dimana Bunda kami menyatakan: “Akulah Immaculate Conception,” memberikan meterai persetujuan kepada doktrin tersebut. Ada sukacita besar di Perancis pada tahun 1858 saat diketahui bahwa Maria menampakkan diri kepada  Bernadette Soubirous, seorang gadis petani di Perancis Pyrenees. Tidak ada yang lebih bahagia daripada  Catherine Labouré. “Anda liat,” teriaknya, “itu adalah Bunda Perawan, sang Imakulata!”[6]

Walaupun bukan ajaran resmi Roma Katolik bahwa Penampakan Maria secara langsung mempengaruhi kebijakan dan ajaran Vatican, namun itu adalah sejarah resmi Roma Katolik. Hal itu juga sangat jelas merupakan konsep yang sangat disayangi dan memikat yang dipegang oleh kaum klerus maupun kaum awam. Sebagai contoh perintah dari Penampakan Maria di Fátima tahun 1917. Pelihat Lucia Abóbora menjelaskan: “Yang diinginkan Bunda adalah Paus dan semua uskup di seluruh dunia perlu melakukan konsekrasi terhadap Russia bagi Hati Immakulata pada satu hari khusus. Jika ini dilakukan, maka dia akan mempertobatkan Russia dan akan ada damai.”[7]

Pada tanggal 25 Maret 1984, Yohanes Paulus II melakukan konsekrasi seperti diperintahkan Penampakan tersebut tanpa merahasiakan fakta bahwa dia “menjawab permintaan Bunda kita di Fatima.”[8]

Demikian pula, Penampakan Maria di La Salette mengirimkan pesan rahasia kepada Pius IX tahun 1846.[9] Dua puluh empat tahun kemudian, hanya lima bulan sebelum Konsili Vatikan pertama mengumumkan doktrin ketidakbersalahan Paus, Pius IX menerima pelihat Don Bosco dalam sebuah audiensi pribadi. Bosco menerima “wahyu” tertentu dari Penampakan tersebut yaitu tentang peningkatan status doktrin Ketidakbersalahan Paus dan perlunya untuk menghubungkan visi tersebut dengan Paus. Penampakan tersebut memberikan arah kepada Pius IX terkait dengan doktrin dimaksud walaupun hanya ada dua uskup yang mendukungnya.[10] Tanggal 18 Juli 1870, Konsili Vatikan mengambil keputusan dan Pius IX mendapatkan ketidakbersalahan yang diinginkannya,[11] dan menunjukkan bahwa Penampakan juga berkaitan erat dengan formalisasi doktrin ketidakbersalaahn [Paus].

Mengingat bahwa kaum klerus dan awam setuju bahwa Penampakan Maria berpengaruh terhadap proklamasi doktrin Immaculate Conception dan Ketidakbersalahan Paus, perlu ditunjukan bahwa pencapain dogmatis Pius IX tidak terelakkan mengarahkan ke prokmalasi “tanpa salah” berikutnya. Tahun 1950 Pius XII memproklamirkan doktrin Pengangkatan Maria [ke Surga]. Pada bagian pembukaan proklamasi dogma baru tersebut, Pius XII merujuk kepada Maria sebagai Tidak berdosa saat dalam kandungan, dan ototitas Paus yang memampukannya untuk secara tidak bersalah memproklamirkan dogma ini.[12] Dengan demikian, Dogma Pengangkatan Maria didasarkan pada dua dua pilar signifikan yang dibantu ditegakkan Penampakan Maria di Lourdes, dua pular yang secara simultan menuntut dan memungkinkan proklamasi dogma tersebut: Maria diangkat dalam tubuh ke surga tanpa kerusakan atau korupsi, karena dia lahir tanpa dosa; dan Paus dapat memproklamirkan Pengangkatan ke Surga karena Paus tidak bersalah. Penampakan Maria di Lourdes memiliki posisi sentral bagi keduanya. Begitu signifikannya ucapan sederhana pada tahun 1858 yang berbunyi : Que soy era Immaculada Conceptiou.

Penampakan Demonis
Tidak mengejutkan bahwa sesaat setelah Pius XII memproklamirkan Pengangkatan Maria, Penampakan memulai kampanye baru agar dogma Maria yang lain diresmikan.[13]Namun dari segi kesederhanaan dan dalamnya dampak terhadap ajaran Roma Katolik, Penampakan di Lourdes mencapai lebih banyak hal dan mengatakan lebih sedikit dibanding Penampakan lain dalam sejarah. Terkait dengan itu, hal yang tidak tidak dapat dihilangkan dari diskusi tentang Penampakan Maria adalah bahwa disamping berbicara dengan kaum klerus dan kaum awam, penampakan-penampakan ini secara kategoris bersifat demonis dan hal ini tampaknya tidak disadari oleh Paus. Sejauh mana kepausan dan Penampakan [Maria] saling berkomunikasi/terkait satu dengan yang lain telah didokumentasikan dalam tulisan lain[14], yang juga menunjukkan bahwa Penampakan adalah musuh Kristus. Sebagai contoh, Penampakan Maria di Fátima secara eksplisit menolak finalitas pengorbanan Kristus dan mengajarkan bahwa kita harus mengalami penderitaan dari Allah demi membayar hutang dosa orang lain:

Apakah kamu mau mempersembahkan dirimu kepada Allah, untuk menjalani semua pengorbanan yang dia mau berikan kepadamu, sebagai tindakan perbaikan atas dosa-dosa yang membuat-Nya tersinggung dan untuk meminta pertobatan bagi orang berdosa? …Berdoa, berdoalah terus, lakukanlah pengorbanan untuk orang berdosa, karena banyak jiwa yang pergi ke neraka karena tidak ada yang berkorban dan berdoa untuk mereka[15].

Penampakan Maria di La Salette mengajarkan bahwa Maria menderita menggantikan kita dan bahwa Maria berposisi sebagai mediatrix untuk melindungi kita dari murka Anak-nya:

Begitu lama aku telah menderita untukmu; jika kamu tidak mau Anak-ku meninggalkanmu, Aku harus berdoa kepada-Nya tanpa henti. Kamu tidak perhatikan. Berapapun yang dapat kamu lakukan, kamu tidak dapat membayar penderitaan yang aku alami bagimu[16].

Kalau umatku tidak taat aku terpaksa melepaskan tangan Anak-ku. Sangat berat, sangat menekan sehingga aku tidak dapat lagi menahannya[17].

Perhatikan bahwa adalah tangan Yesus, murka Yesus, dan amarah Yesus yang suci yang akan menghancurkan kita seandainya Maria tidak menderita, bersyafaat, dan memberi persembahan untuk kita. Ini adalah inti diabolis (berasal/bersifat dari iblis) dari ajaran-ajaran penampakan-penampakan tersebut bahwa Maria menyelamatkan kita dari murka Yesus : Allah begitu murka dengan luka-luka yang diderita Anak-Nya dan akan menuntut balas dari kita karena kejahatan itu. Penampakan Maria di Medjugorje mengajarkan, “Anaku terkasih, malam ini aku berdoa bahwa engkau akan memuliakan Hati Anak-ku, Yesus. Lakukanlah penggantian terhadap luka yang diderita Hati Anak-ku. Hati itu terluka oleh setiap dosa.”[18]Pernyataan ini menggambarkan penderitaan Kristus sebagai penyebab pemisahan antara kita dengan Allah, padahal sebenarnya adalah penderitaan Kristus yang merupakan penyebab rekonsilitasi kita dengan Allah.

Ajaran-ajaran jahat ini begitu tidak alkitabiah sehingga seorang anak kecilpun bisa membantahnya dengan menggunakan Alkitab: “..dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka. Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.” (Ibrani 10:17-18). “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5). “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11). “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Roma 5:10).

Bahwa penampakan-penampakan tersebut [memiliki pandangan yang] begitu salah tentang Injil, itu menunjukkan asal-usulnya yang sebenarnya. Dalam Galatia 1:8 Rasul Paulus menulis: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Dengan demikian ada pesan sederhana yang dapat diambil dari penampakan Maria di Lourdes Lourdes, namun pesan itu bukanlah bahwa Maria dikandung tanpa dosa, bukan pula bahwa Paus tidak bisa bersalah, demikian pula bukan bahwa Maria diangkat secara tubuh jasmani ke Surga. Namun pesan itu dapat dideduksi dari Matius 16:18: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.“

Penampakan Maria berasal dari neraka itu sendiri dan penampakan tersebut ditampung di dalam Gereja Roma Katolik dan menempatkan Roma dalam posisi terkutuk karena menyebarluaskan ajaran setan. Kesimpulannya tidak dapat dihindari:
  1. Alam maut tidak akan menguasai Gereja Kristus.
  2. Alam maut telah menguasai Gereja Roma Katolik.
  3. Karena itu, Gereja Roma Katolik bukan Gereja Kristus dan Paus bukan Jurubicara-Nya.
Orang yang sebenarnya pintar (James Dobson, Billy Graham, Pat Robertson, Charles Colson, Joel Osteen, dan banyak lagi yang lain) telah mengabaikan kebenaran sederhana ini. Namun para reformator mengetahui kebenaran ini, memeluknya, dan bahkan mati karena mempercayainya. Marilah kita berpegang teguh pada iman nenek moyang kita, dan seiring dengan peringatan ke-150 Penampakan Maria di Lourdes kita mengakui kebenaran tak terelakkan ini: Alam maut telah menguasai telinga Gereja Roma Katolik dan telah berbicara melalui Pemimpinnya. Efesus 5:11 mengharuskan kita berkata, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Caesar, Napier, dan Drake mengirim pesan tentang pertempuran terkenal, perang, dan kapal karam. Pastikanlah bahwa turunan spiritual kita mendengar laporan yang baik dari kita juga:

Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka [1 Timotius 1:18-19].

 
Mengakui kebenaran tentang Penampakan Maria di Lourdes adalah awal yang baik.
Sumber: http://www.trinityfoundation.org/journal.php?id=250


[1] Vincenzo Sansonetti, dalam wawancara dengan  ZENIT, “Dogma of Immaculate Conception Opened a New Era,” Rome, 7 Januari, 2005.
[2] Patrick Marnham, Lourdes: A Modern Pilgrimage. New York, 1980, 4, 8-9. Tanda kurung ditambahkan supaya lebih jelas
[3] (Uskup) Donald Montrose, The Message of the Virgin at Lourdes, dikutip dari CatholicCulture.org
[4] Ann Ball, A Litany of Mary. Huntington, Indiana, 1988, 73.
[5] Sandra L. Zimdars-Swartz, Encountering Mary. New York, 1991, 26.
[6] Joseph Dirvin, D.M., Saint Catherine Labouré of the Miraculous Medal. Lihat www.ewtn.com/library/MARY/CATLABOU.htm
[7] William Thomas Walsh, Our Lady of Fátima. New York [1947] 1954, 221
[8] ZENIIT.org, “John Paul II Again Entrusts World to Mary, Renews Act of Consecration of 1984,” 24 Maret 24, 2000
[9] Zimdars-Swartz, 177-179
[10] Dreams, Visions & Prophecies of Don Bosco, Eugene M. Brown, editor. New Rochelle, New York, 1986, 114
[11] Vatican Council, Session IV, Chapter IV, 18 July 1870
[12] Pope Pius XII, Munificentissimus Deus, AAS 42 (1950):761
[13] Zimdars-Swartz, 257-258
[14] Sebagai contoh, Quite Contrary: A Biblical Reconsideration of the Apparitions of Mary
[15] Walsh, Our Lady of Fátima, 51-52, 120
[16] Zimdars-Swartz, 30. Message of September 19, 1846
[17] Bob and Penny Lord, The Many Faces of Mary: A Love Story. Westlake Village, California, 1987, 70. Message of September 19, 1846
[18] Words from Heaven: Messages of Our Lady from Medjugorje, fifth edition. Birmingham, Alabama, 1991, 162. Message of April 5, 1985

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar