Jumat, 24 Agustus 2012

St Cyprianus : Advokat Kesatuan Gereja Abad ke-3

Thascius Caecilius Cyprianus, demikian nama lengkap dari Cyprianus, adalah uskup gereja Karthago, bagian dari provinsi Romawi di Afrika Utara (Tunisia hari ini), pada pertengahan abad ke-3. Lahir dalam keluarga yang kaya namun tidak mengenal Tuhan, Cyprianus akhirnya bertobat dan memberikan dirinya untuk dibaptis sekitar tahun 245 M. Saat itu ia memberikan sebagian dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin, kemudian menyerahkan diri untuk melayani jemaat sebagai diaken, dan tidak lama kemudian diangkat menjadi penatua (presbyter). Cyprianus sangat populer di kalangan rakyat jelata karena kepeduliannya terhadap orang-orang miskin. Namun sebagian penatua lain tidak menyukainya, kemungkinan disebabkan oleh iri hati akan status sosial, kekayaan, dan talentanya dalam ranah publik. Setelah Cyprianus dipilih sebagai Uskup Karthago di sekitar pertengahan tahun 248 M, perselisihan ini justru semakin mengeruh dan menimbulkan banyak kontroversi, di antaranya adalah kontroversi mengenai lapsi.

Lapsi
Di awal tahun 250-an, terjadi penganiayaan hebat terhadap jemaat di bawah pemerintahan Kaisar Decius. Karena begitu hebatnya penganiayaan, banyak jemaat yang meninggalkan iman mereka (disebut lapsi), bahkan kembali mengikuti praktik-praktik penyembahan berhala. Namun setelah penganiayaan mereda, banyak dari mereka memohon untuk diterima kembali ke dalam gereja. Permasalahan timbul karena sebagian pastor dengan mudah menerima para lapsi ini kembali, di samping permintaan Cyprianus dan sebagian lain pastor agar para lapsi ini menunjukkan tanda-tanda pertobatan sejati termasuk dengan melakukan penyesahan diri (penitence) sebelum diterima kembali ke dalam gereja. Masalah ini sampai dibawa ke dalam konsili uskup-uskup Afrika Utara pada tahun 251 M, di mana para uskup berketetapan untuk menerima kembali para lapsi secara langsung kecuali mereka yang jatuh kembali ke dalam praktik-praktik penyembahan berhala selama masa penganiayaan, yang baru diterima kembali ke dalam gereja jika mereka menunjukkan keseriusan pertobatan sampai sesaat sebelum meninggal dunia.
Setelah kasus kontroversi mengenai lapsi, terjadilah perebutan jabatan uskup di Karthago, di mana pihak-pihak yang merasa tidak puas mengangkat uskup tandingan untuk menyaingi Cyprianus. Namun permainan politik di kalangan uskup ini justru memperkuat dukungan jemaat terhadap Cyprianus dan memperlemah kedudukan oposisinya. Cyprianus semakin dicintai oleh jemaat khususnya setelah mereka menyaksikan tindakan penyangkalan dirinya dalam melayani orang-orang yang miskin dan berpenyakit ketika terjadi bencana kelaparan dan penyakit menular. Dia memberikan penghiburan bagi jemaat melalui tulisan-tulisannya "De mortalitate" dan "De eleomosynis", di mana dia mengingatkan jemaat untuk secara aktif menolong orang-orang miskin mengikuti teladan hidupnya.

Mati Martir
Di akhir tahun 256 M, Gereja kembali dianiaya di bawah pemerintahan Kaisar Valerian II di mana Paus Stephen I dan Paus Sixtus II, penerusnya, mati secara martir di Roma. Pada masa itu Cyprianus mempersiapkan jemaat di Afrika terhadap perintah penganiayaan oleh kaisar melalui tulisannya "De exhortatione martyrii" (Penghiburan Martir), bahkan Cyprianus sendiri menjadi teladan bagi jemaat ketika dia menolak perintah Gubernur Romawi Aspasius Paternus untuk mempersembahkan korban kepada berhala, dan dengan terang-terangan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan. Dalam pembuangannya di Korba, Cyprianus sedapat mungkin tetap menggembalakan jemaatnya yang sedang dianiaya dan memberi penghiburan bagi hamba-hamba Tuhan yang berada dalam pembuangan. Akhirnya pada tanggal 13 September 258 M, Gubernur Romawi yang baru Galerius Maximus menjatuhkan hukuman pancung atas Cyprianus, di mana dia menjawab dengan kalimat, "Thanks be to God!"

Kesatuan Gereja
Pemikiran Cyprianus banyak dipengaruhi oleh Bapa Gereja yaitu Tertullian. Namun tulisan-tulisan Cyprianus dikenal untuk tidak mengajukan argumen atau spekulasi theologis. Dia lebih banyak menulis mengenai Gereja, khususnya pembinaan jemaat dan perbaikan tingkah laku orang-orang beriman. Bahkan lebih khusus lagi, ajaran Cyprianus sangat sarat dengan Doktrin Gereja, dengan jelas membedakan antara gereja lokal yang kelihatan dan hierarkis dengan Gereja yang tidak kelihatan dan bersifat mistis. Tulisannya yang paling penting adalah "De unitate ecclesiae" (Kesatuan Gereja). Dalam ajarannya Cyprianus menekankan bahwa "Tidak ada keselamatan di luar gereja" dan "Tidak ada seorang pun yang dapat menyebut Allah sebagai Bapanya jikalau gereja tidak menjadi ibu baginya". Baginya, kesatuan adalah karakteristik gereja yang tidak dapat digeser kepentingannya, seperti kain jubah Kristus yang tidak terpotong.

Dalam usahanya untuk mempersatukan gereja, Cyprianus tidak berkompromi terhadap oposisi. Hal ini nyata dalam keberaniannya untuk berbeda pendapat dengan sekelompok pastor yang terlalu mudah menerima para lapsi. Meskipun praktik seleksinya terhadap para lapsi yang mewajibkan penyesahan diri patut dipertanyakan, namun tuntutannya akan pertobatan yang sungguh-sungguh patut kita teladani. Dorongan untuk menjaga kesatuan tubuh Kristus tidak membenarkan kita untuk berkompromi terhadap apa yang salah. Kasih terhadap orang yang berdosa juga tidak membenarkan kita untuk memberi 'diskon' dan kemudahan dalam hal pertobatan yang sungguh-sungguh dalam kehidupan orang beriman, "karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Mat. 7:14).

Kritik terhadap Pemikiran Cyprianus
Akan tetapi kita tidak dapat setuju dengan pemikiran Cyprianus yang mendasarkan kesatuan Gereja di atas kursi Petrus (red- jabatan Paus). Dalam tulisannya De unitate ecclesiae, dia berkata, "Jika seseorang mengabaikan kursi Petrus, di mana gereja dibangun di atasnya, mungkinkah dia menjadi bagian dari Gereja?" Argumen ini mendapatkan proponent yang kuat, khususnya di kalangan Katolik Roma karena dipercaya sebagai interpretasi yang akurat dari kalimat Tuhan Yesus di dalam Matius 16:18-19, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Berdasarkan kalimat ini Gereja Katolik Roma meresmikan kedudukan Paus di Roma sebagai otoritas tertinggi dalam gereja di seluruh dunia dan bahwa Paus sebagai penerus rasul Petrus bersifat infallible (tidak mungkin salah) dalam ajarannya.

Kita dapat belajar banyak dari argumen-argumen yang diajukan oleh kaum Protestan dan Reformed khususnya, sejak zaman reformasi sebagai keberatan terhadap konsep kepausan yang dipegang oleh Katolik Roma. Paling tidak ada dua hal kunci yang menjadi kelemahan ajaran Cyprianus dalam hal ini: 1) interpretasi dari Matius 16:18-19 dan 2) dasar yang sejati dari kesatuan Gereja.

Pertama-tama, interpretasi yang tepat dari kalimat Tuhan Yesus dalam Matius 16:18-19 terletak pada pengertian yang benar dari batu karang yang dimaksud, posisi rasul Petrus di dalam gereja, dan apakah yang menjadi dasar di mana Gereja Tuhan dibangun. Cyprianus mengasosiasikan batu karang yang dimaksud dengan pribadi rasul Petrus karena nama Petrus juga berarti batu. Namun kalau kita selidiki secara saksama, Tuhan Yesus tidak menjadikan pribadi rasul Petrus sebagai batu karang di mana gereja dibangun. Melainkan rasul Petrus disebut sebagai batu karang karena saat itu dia mengaku (sebagai confessor) bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16). Dalam hal ini para rasul beserta murid-murid Tuhan Yesus setelah para rasul juga memiliki peranan yang sama sebagai confessor ketika kita menyatakan pengakuan yang sama seperti pengakuan Petrus. Inilah batu karang bagi Gereja Tuhan, confession yang di-confess oleh para umat Allah sebagai confessors di tengah dunia ini.

Apakah posisi Rasul Petrus di dalam gereja dan di kalangan para rasul secara khusus...?
Apakah Rasul Petrus seperti para Paus yang diakui oleh Gereja Katolik Roma, memiliki otoritas tertinggi dalam jemaat dan bersifat infallible...?
Sama sekali tidak demikian. Rasul Petrus memang tergolong di dalam inner circle (lingkaran inti) di antara kedua belas rasul, bersama dengan Yakobus dan Yohanes. Namun itu tidak berarti bahwa Petrus diberikan otoritas lebih tinggi dibandingkan rasul-rasul lainnya. Rasul Paulus pun dapat menegur rasul Petrus di depan umum dalam Galatia 2:11-14. Kalau kita perhatikan dengan teliti, di dalam Kisah Para Rasul, Petrus diutus oleh para rasul yang lain untuk pergi ke Samaria (pasal 8), dan harus memberikan pertanggungjawaban ketika ia kembali ke Yerusalem (pasal 11). Bahkan di dalam Kisah Para Rasul 15, Rasul Petrus dianggap satu suara di antara para rasul dan harus diteguhkan oleh suara Rasul Yakobus untuk keputusan final. Alkitab juga dengan jelas tidak menggambarkan Rasul Petrus sebagai sosok yang infallible. Dia didapati bersalah ketika bersikap munafik di hadapan jemaat yang berasal dari kalangan Yahudi. Dan Tuhan Yesus pun menegurnya dengan keras ketika dia berniat menghalangi Tuhan untuk naik ke atas kayu salib (Mat. 16:23).

Jadi siapakah yang menjadi fondasi Gereja...? 
Sekalipun Alkitab mengatakan bahwa Gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, namun Kristuslah batu penjuru dan fondasinya yang sejati. Di Matius 16:18-19, Tuhan Yesus tidak sedang menetapkan jabatan Paus menurut Katolik Roma. Tuhan Yesus sedang menubuatkan suatu komunitas yang terdiri dari orang-orang beriman yang menaati ajaran-Nya. Salah satu konsep yang dipulihkan pada masa reformasi oleh Martin Luther dan para reformator lainnya adalah the priesthood of all believers, yaitu konsep imamat seluruh orang percaya. Martin Luther menegaskan kembali ajaran di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai maksud Allah di dalam rencana keselamatan-Nya membentuk bagi-Nya suatu umat yang dikuduskan bagi-Nya menjadi suatu kerajaan imam, yaitu suatu kerajaan di mana penduduknya adalah imam-imam (semua orang percaya) dan Yesus Kristus adalah Raja dan Imam Besarnya.
Konsep priesthood of all believers ini berarti:
  1. Kita melayani yang terutama bukan berdasarkan otoritas secara jabatan, tetapi pertama-tama berdasarkan karunia Roh Kudus (spiritual gift), dan jabatan hanyalah konsekuensi dari karunia dan tanggung jawab kita
  2. Sebagai imamat yang rajani kita semua memiliki tanggung jawab yang sama atas kemajuan dan kondisi komunitas tubuh Kristus, termasuk untuk saling mendorong dan saling menegur tanpa pandang bulu (termasuk jabatan gerejawi) sebagai ungkapan saling mengasihi antar orang yang percaya.
Priesthood of all believers tidak sama dengan konsep demokrasi di mana semua orang punya suara yang sama dan suara mayoritas menjadi keputusan final. Kerajaan imam kita berada di bawah satu pimpinan yaitu Raja dan Tuhan kita, Tuhan Yesus Kristus. Otoritas Kristus sebagai Raja dimeteraikan dengan Roh Kudus yang diberikan kepada setiap orang percaya. Roh Kudus yang adalah Pribadi Allah menginspirasikan Alkitab sebagai firman Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kita akan apa yang Tuhan Yesus ajarkan (Yoh. 14:26). Jadi dasar yang sejati dari kesatuan Gereja adalah Yesus Kristus yang menjadi Batu Penjurunya. Bukan manusia ataupun jabatan gerejawi yang dapat mempersatukan tubuh Kristus, seperti yang Cyprianus ajarkan, melainkan Yesus Kristus sendiri melalui kesatuan iman berdasarkan kebenaran Alkitab yang mempersatukan kita. "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua" (Ef. 4:3-6).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar