Jumat, 24 Agustus 2012

Penampakan Maria dan Doktrin Roma Katolik

Di bawah ini adalah terjemahan terhadap tulisan Timothy Kauffman tentang Hubungan Penampakan Maria dan Doktrin Roma Katolik serta ajaran Alkitab.
Tulisan ini diambil dari situs Trinity Foundation.

Catatan Editor :
Februari 2008 merupakan peringatan ke 150 penampakan Maria di Lourdes, Perancis, kepada seorang anak perempuan petani yang buta huruf bernama Bernadette Soubirous. Sejak saat itu Lourdes menjadi tujuan jutaan penganut Roma Katolik yang ingin mencari kesembuhan dan keselamatan. Tahun 2007 Benedict XVI menetapkan penerbangan reguler dari Roma ke Lourdes dan menawarkan indulgensia paripurna bagi penganut Katolik Roma demi mendorong ziarah ke tempat penampakan tersebut. Bulan ini dijadwalkan akan diumumkan Jubilee of Lourdes. Kami menawarkan sebuah esai tentang penampakan-penampakan Maria di Lourdes dan perannya dalam perkembangan ajaran Roma Katolik.

Timothy Kauffman dibesarkan sebagai seorang penganut Roma Katolik dan menjadi Kristen tahun 1991 ketika berumur 21 tahun. Sejak kecil dia diajarkan ibunya mengikuti Penampakan Maria, mengucakan doa rosario, dan mengenakan scapular dan Miraculous Medal. Saat ini dia bekerja sebagai teknisi di Huntsville, Alabama, bersama dengan istri dan tiga anaknya. Dia telah menulis dan menerbitkan beberapa buku sejak peralihan kepercayaannya, di antaranya Quite Contrary: A Biblical Reconsideration of the Apparitions of Mary; Graven Bread: The Papacy, the Apparitions of Mary, and the Worship of the Bread of the Altar; and Geese in Their Hoods: Selected Writings on Roman Catholicism by Charles Haddon Spurgeon.

Sejauh kutipan bermakna, sulit untuk menandingi ringkasan kemenangan Julius Caesar dalam pertempuran Zela yaitu: Veni, vidi, vici: Aku datang, Aku melihat, Aku menaklukkan. Kalau tidak dapat dikatakan setara, paling tidak dapat dikatakan bahwa kutipan tersebut berada pada kelompok yang sama dengan apa yang dipercaya sebagai laporan Sir Charles James Napier’s tahun 1843 bahwa dia telah mengendalikan Provinsi Sindh di India: Peccavi, atau secara harafiahnya berarti Aku telah berdosa (tetapi yang pengucapannya hampir sama dengan I have Sindh atau Aku telah memiliki Sindh). Sir Francis Drake berada pada kelompok yang sama melalui laporannya tentang kekalahan armada Spanyol tahun 1588 yaitu Cantharides, yaitu nama dari perangsang nafsu birahi, dia menggunakannya secara cerdas sebagai proposisi: The Spanish fly (bisa berarti Spanyol tenggelam maupun nama zat perangsang nafsu birahi).

Pernyataan-pernyataan ini (yang sebagian di antaranya mungkin bersifat apokrifa) telah menjadi masyhur karena ada begitu banyak arti yang dijejalkan ke dalam sedikit kata. Kepadatan semantiknya menakjubkan, setiap pernyataan yang dikeluarkan bahkan menjadi lebih bermakna sesuai dengan batasan waktu dan konteksnya. Hal ini diangkat di sini karena dalam kaitan dengan Penampakan Maria, menonjolnya pesan dari Lourdes di antara teolog Katolik Roma karena singkatnya pesan dan isi pesannya sama menonjolnya dengan kutipan dari Caesar, Napier, dan Drake di antara pakar sejarah.

Penampakan Maria biasanya muncul dengan pesan panjang bagi Paus serta kaum peziarah. Penampakan Maria di Paris tahun 1830 memberikan penganut Roma Katolik devosi dan rancangan “Miraculous Medal” yang terkenal itu. Penampakan Maria di La Salette tahun 1846 memberikan pesan yang jelas dan kadang-kadang rahasia melalui anak-anak yang sebagian di antaranya ditujukan dan dikirimkan langsung kepada Paus. Penampakan Maria di Fátima tahun 1917 bertemu dengan Lucia Abóbora yang diberi visi tersebut, ditambah dengan pesan terbuka dan rahasia bagi Paus yang diakhiri dengan penampakan cahaya yang dramatis. Penampakan Maria (yang mendapat persetujuan resmi) di Medjugorje sejak tahun 1980-an memberikan lebih dari 30.000 pesan yang karena banyaknya telah dikumpulkan dalam bentuk konkordansi besar yang disebut Words from Heaven, bersama dengan lebih banyak lagi rahasia bagi para pelihat dan bagi Yohanes Paulus II. Dalam penampakan-penampakan ini dan lebih banyak lagi penampakan lain, pelihat didorong untuk menulis pesan (atau gambar) dan menyebarkannya kepada orang lain.

Penampakan Maria di Lourdes, Perancis, 1858
Namun penampakan Maria di Lourdes berbeda. Pada penampakan ketiga dari 18 penampakan, si Bernadette yang buta huruf membawa pena dan kertas dan meminta penampakan tersebut untuk menulis pesan untuknya. Penampakan tersebut menjawab, “Tidak perlu aku menulis apa yang harus aku katakan kepadamu.” Di samping ada perintah sekali-kali untuk mengarahkan ziarah dan kapela, serta beberapa rahasia untuk Bernadette, tidak ada berita yang memiliki substansi bagi siapapun. Penampakan di Lourdes hampir sepenuhnya bisu dalam hal doktrin. Hampir.

Setelah ada tekanan umum bagi Bernadette untuk mengidentifikasi penampakan tersebut, maka penampakan itupun akhirnya menyebutkan namanya. Pada penampakan ke-16, saat Bernadette sekali lagi meminta nama, si perempuan dalam penampakan itu menjawab: Que soy era Immaculada Conceptiou, atau, Aku adalah Immaculate Conception. Waktu dan konteks dari pesan itu memiliki signifikansi monumental bagi penganut Roma Katolik. Biarlah implikasinya dikutip langsung dari pernyataan mereka sendiri :

Pengumuman dogma Immaculate Conception memberi kembali kebugaran/semangat pada gereja yang telah kelelahan di abad kesembilan belas…. Adalah sesuatu yang menakjubkan bahwa empat tahun setelah pengumuman dogma ini, pada tanggal 11 Februari 1858, Bunda kita menampakkan diri di Lourdes dengan menyebut dirinya Immaculate Conception, [sehingga] mengkonfirmasi dogma tersebut[1].

Dogma Immaculate Conception Santa Perawan Maria memiliki arti penting politis bagi Katolisisme pada abad ke-19.… [Dogma ini] bagi sebagian besar orang merupakan dogma yang tidak terselami seperti halnya dogma Trinitas itu sendiri. Namun demikian, antusiasme terhadap dogma yang mengagumkan ini merupakan bagian penting dari upaya kaum klerus Perancis untuk memimpin upaya kebangkitan keagamaan abad ke-19. Hampir tidak ada nama yang lebih dapat diterima atau lebih tidak terduga yang dapat diberikan Bernadette[2].

Pesan [Lourdes] dapat diringkas menjadi empat poin [hanya yang pertama dibahas di sini]:
1. Pesan tersebut adalah konfirmasi surgawi terhadap dogma Immaculate Conception yang telah didefinisikan Gereja beberapa tahun sebelumnya[3].

Yang dikutip di atas hanyalah beberapa kutipan dari sumber Roma Katolik sendiri. Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah : Pada tahun 1854 Pius IX memproklamirkan “dogma baru yang mengagumkan” bahwa Maria dikandung tanpa dosa, dan saat ada kontroversi besar, Penampakan di Lourdes mengkonfirmasi bahwa dogma itu benar. Dengan demikian, Penampakan yang banyak dikenal karena singkatnya itu dipercaya telah memainkan peran penting dalam mengkonfirmasi doktrin kontroversial Roma Katolik, dan pada saat yang sama mengkonfirmasi otoritas Paus untuk berbicara tanpa salah, hanya dengan dengan mengulangi lima kata dalam dialek asli si Bernadette yang buta aksara. Waktu yang tepat. Substansi yang tepat. Pantas jadi rekor.

Dengan demikian Lourdes memiliki keutamaan di antara semua penampakan Maria, karena merupakan puncak dari pengaruhnya terhadap kePausan dan juga menjadi dasar bagi dua lagi doktrin Roma Katolik yang paling arogan sepanjang masa yaitu ketidakbersalahan Paus dan Pengangkatan/Kenaikan Maria ke Surga.

Imacculate Conception Maria
Kepercayaan bahwa Maria dikandung tanpa dosa bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bukan sesuatu yang dicatat dalam Alkitab dan tidak pernah disuarakan gereja secara tegas dalam 1800 tahun sejarahnya. Lebih jauh lagi, ini jelas bukan pengakuan iman. Tetapi tahun 1830, melalui penampakan kepada Catherine Labouré, si penampakan tersebut meminta dibuatkan medali untuk menghormati Maria dan secara eksplisit merujuk kepada Immaculate Conception:

Pada saat ini, dimana aku berada atau tidak berada aku tidak tahu, sesuatu bebentuk oval terbentuk di sekitar Santa Perawan di atasnya tertulis kata-kata ini dengan emas: “O Maria dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang meminta bantuan kepadamu.” Kemudian ada suara yang terdengar: “Buatlah medali sesuai dengan model ini. Mereka yang mengenakannya akan menerima anugerah besar; anugerah berlimpah akan diberikan kepada mereka yang percaya.”[4]

Medali ini kemudian dikenal dengan Miraculous Medal (Medali Mujizat), dan sekali lagi mereka yang mengetahui dan mempelajari Penampakan [Maria] memahami betapa berpengaruhnya penampakan terhadap agama Roma Katolik. Penampakan ini tidak hanya memperkuat kepercayaan yang sudah ada; tetapi juga memperkenalkan dan mempengaruhi ajaran dan praktek baru Roma Katolik:

Walaupun diakui secara luas bahwa kepopuleran “Miraculous Medal” membantu menyiapkan jalan bagi Paus Pius IX untuk mengumumkan dogma Immaculate Conception pada tahun 1854, namun dia juga tampaknya memiliki kontribusi besar terhadap pengakuan formal Gereja tentang otentisitas visi Catherine[5].
  
Penampakan dan Kepausan
Hubungan erat antara kepausan dan penampakan menjadikan Lourdes begitu penting. Tidak ada lagi hubungan timbal balik antara Penampakan dan Kepausan yang lebih jelas daripada deklarasi doktrin Immaculate Conception:

Bahwasanya, adalah sesuatu yang pasti bahwa Penampakan Miraculous Medal kepada Catherine Labouré pada tahun 1830 mempercepat pengumuman resmi doktrin Immaculate Conception pada tahun 1854, sama seperti halnya Penampakan di Lourdes, dimana Bunda kami menyatakan: “Akulah Immaculate Conception,” memberikan meterai persetujuan kepada doktrin tersebut. Ada sukacita besar di Perancis pada tahun 1858 saat diketahui bahwa Maria menampakkan diri kepada  Bernadette Soubirous, seorang gadis petani di Perancis Pyrenees. Tidak ada yang lebih bahagia daripada  Catherine Labouré. “Anda liat,” teriaknya, “itu adalah Bunda Perawan, sang Imakulata!”[6]

Walaupun bukan ajaran resmi Roma Katolik bahwa Penampakan Maria secara langsung mempengaruhi kebijakan dan ajaran Vatican, namun itu adalah sejarah resmi Roma Katolik. Hal itu juga sangat jelas merupakan konsep yang sangat disayangi dan memikat yang dipegang oleh kaum klerus maupun kaum awam. Sebagai contoh perintah dari Penampakan Maria di Fátima tahun 1917. Pelihat Lucia Abóbora menjelaskan: “Yang diinginkan Bunda adalah Paus dan semua uskup di seluruh dunia perlu melakukan konsekrasi terhadap Russia bagi Hati Immakulata pada satu hari khusus. Jika ini dilakukan, maka dia akan mempertobatkan Russia dan akan ada damai.”[7]

Pada tanggal 25 Maret 1984, Yohanes Paulus II melakukan konsekrasi seperti diperintahkan Penampakan tersebut tanpa merahasiakan fakta bahwa dia “menjawab permintaan Bunda kita di Fatima.”[8]

Demikian pula, Penampakan Maria di La Salette mengirimkan pesan rahasia kepada Pius IX tahun 1846.[9] Dua puluh empat tahun kemudian, hanya lima bulan sebelum Konsili Vatikan pertama mengumumkan doktrin ketidakbersalahan Paus, Pius IX menerima pelihat Don Bosco dalam sebuah audiensi pribadi. Bosco menerima “wahyu” tertentu dari Penampakan tersebut yaitu tentang peningkatan status doktrin Ketidakbersalahan Paus dan perlunya untuk menghubungkan visi tersebut dengan Paus. Penampakan tersebut memberikan arah kepada Pius IX terkait dengan doktrin dimaksud walaupun hanya ada dua uskup yang mendukungnya.[10] Tanggal 18 Juli 1870, Konsili Vatikan mengambil keputusan dan Pius IX mendapatkan ketidakbersalahan yang diinginkannya,[11] dan menunjukkan bahwa Penampakan juga berkaitan erat dengan formalisasi doktrin ketidakbersalaahn [Paus].

Mengingat bahwa kaum klerus dan awam setuju bahwa Penampakan Maria berpengaruh terhadap proklamasi doktrin Immaculate Conception dan Ketidakbersalahan Paus, perlu ditunjukan bahwa pencapain dogmatis Pius IX tidak terelakkan mengarahkan ke prokmalasi “tanpa salah” berikutnya. Tahun 1950 Pius XII memproklamirkan doktrin Pengangkatan Maria [ke Surga]. Pada bagian pembukaan proklamasi dogma baru tersebut, Pius XII merujuk kepada Maria sebagai Tidak berdosa saat dalam kandungan, dan ototitas Paus yang memampukannya untuk secara tidak bersalah memproklamirkan dogma ini.[12] Dengan demikian, Dogma Pengangkatan Maria didasarkan pada dua dua pilar signifikan yang dibantu ditegakkan Penampakan Maria di Lourdes, dua pular yang secara simultan menuntut dan memungkinkan proklamasi dogma tersebut: Maria diangkat dalam tubuh ke surga tanpa kerusakan atau korupsi, karena dia lahir tanpa dosa; dan Paus dapat memproklamirkan Pengangkatan ke Surga karena Paus tidak bersalah. Penampakan Maria di Lourdes memiliki posisi sentral bagi keduanya. Begitu signifikannya ucapan sederhana pada tahun 1858 yang berbunyi : Que soy era Immaculada Conceptiou.

Penampakan Demonis
Tidak mengejutkan bahwa sesaat setelah Pius XII memproklamirkan Pengangkatan Maria, Penampakan memulai kampanye baru agar dogma Maria yang lain diresmikan.[13]Namun dari segi kesederhanaan dan dalamnya dampak terhadap ajaran Roma Katolik, Penampakan di Lourdes mencapai lebih banyak hal dan mengatakan lebih sedikit dibanding Penampakan lain dalam sejarah. Terkait dengan itu, hal yang tidak tidak dapat dihilangkan dari diskusi tentang Penampakan Maria adalah bahwa disamping berbicara dengan kaum klerus dan kaum awam, penampakan-penampakan ini secara kategoris bersifat demonis dan hal ini tampaknya tidak disadari oleh Paus. Sejauh mana kepausan dan Penampakan [Maria] saling berkomunikasi/terkait satu dengan yang lain telah didokumentasikan dalam tulisan lain[14], yang juga menunjukkan bahwa Penampakan adalah musuh Kristus. Sebagai contoh, Penampakan Maria di Fátima secara eksplisit menolak finalitas pengorbanan Kristus dan mengajarkan bahwa kita harus mengalami penderitaan dari Allah demi membayar hutang dosa orang lain:

Apakah kamu mau mempersembahkan dirimu kepada Allah, untuk menjalani semua pengorbanan yang dia mau berikan kepadamu, sebagai tindakan perbaikan atas dosa-dosa yang membuat-Nya tersinggung dan untuk meminta pertobatan bagi orang berdosa? …Berdoa, berdoalah terus, lakukanlah pengorbanan untuk orang berdosa, karena banyak jiwa yang pergi ke neraka karena tidak ada yang berkorban dan berdoa untuk mereka[15].

Penampakan Maria di La Salette mengajarkan bahwa Maria menderita menggantikan kita dan bahwa Maria berposisi sebagai mediatrix untuk melindungi kita dari murka Anak-nya:

Begitu lama aku telah menderita untukmu; jika kamu tidak mau Anak-ku meninggalkanmu, Aku harus berdoa kepada-Nya tanpa henti. Kamu tidak perhatikan. Berapapun yang dapat kamu lakukan, kamu tidak dapat membayar penderitaan yang aku alami bagimu[16].

Kalau umatku tidak taat aku terpaksa melepaskan tangan Anak-ku. Sangat berat, sangat menekan sehingga aku tidak dapat lagi menahannya[17].

Perhatikan bahwa adalah tangan Yesus, murka Yesus, dan amarah Yesus yang suci yang akan menghancurkan kita seandainya Maria tidak menderita, bersyafaat, dan memberi persembahan untuk kita. Ini adalah inti diabolis (berasal/bersifat dari iblis) dari ajaran-ajaran penampakan-penampakan tersebut bahwa Maria menyelamatkan kita dari murka Yesus : Allah begitu murka dengan luka-luka yang diderita Anak-Nya dan akan menuntut balas dari kita karena kejahatan itu. Penampakan Maria di Medjugorje mengajarkan, “Anaku terkasih, malam ini aku berdoa bahwa engkau akan memuliakan Hati Anak-ku, Yesus. Lakukanlah penggantian terhadap luka yang diderita Hati Anak-ku. Hati itu terluka oleh setiap dosa.”[18]Pernyataan ini menggambarkan penderitaan Kristus sebagai penyebab pemisahan antara kita dengan Allah, padahal sebenarnya adalah penderitaan Kristus yang merupakan penyebab rekonsilitasi kita dengan Allah.

Ajaran-ajaran jahat ini begitu tidak alkitabiah sehingga seorang anak kecilpun bisa membantahnya dengan menggunakan Alkitab: “..dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka. Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.” (Ibrani 10:17-18). “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5). “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11). “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Roma 5:10).

Bahwa penampakan-penampakan tersebut [memiliki pandangan yang] begitu salah tentang Injil, itu menunjukkan asal-usulnya yang sebenarnya. Dalam Galatia 1:8 Rasul Paulus menulis: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Dengan demikian ada pesan sederhana yang dapat diambil dari penampakan Maria di Lourdes Lourdes, namun pesan itu bukanlah bahwa Maria dikandung tanpa dosa, bukan pula bahwa Paus tidak bisa bersalah, demikian pula bukan bahwa Maria diangkat secara tubuh jasmani ke Surga. Namun pesan itu dapat dideduksi dari Matius 16:18: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.“

Penampakan Maria berasal dari neraka itu sendiri dan penampakan tersebut ditampung di dalam Gereja Roma Katolik dan menempatkan Roma dalam posisi terkutuk karena menyebarluaskan ajaran setan. Kesimpulannya tidak dapat dihindari:
  1. Alam maut tidak akan menguasai Gereja Kristus.
  2. Alam maut telah menguasai Gereja Roma Katolik.
  3. Karena itu, Gereja Roma Katolik bukan Gereja Kristus dan Paus bukan Jurubicara-Nya.
Orang yang sebenarnya pintar (James Dobson, Billy Graham, Pat Robertson, Charles Colson, Joel Osteen, dan banyak lagi yang lain) telah mengabaikan kebenaran sederhana ini. Namun para reformator mengetahui kebenaran ini, memeluknya, dan bahkan mati karena mempercayainya. Marilah kita berpegang teguh pada iman nenek moyang kita, dan seiring dengan peringatan ke-150 Penampakan Maria di Lourdes kita mengakui kebenaran tak terelakkan ini: Alam maut telah menguasai telinga Gereja Roma Katolik dan telah berbicara melalui Pemimpinnya. Efesus 5:11 mengharuskan kita berkata, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Caesar, Napier, dan Drake mengirim pesan tentang pertempuran terkenal, perang, dan kapal karam. Pastikanlah bahwa turunan spiritual kita mendengar laporan yang baik dari kita juga:

Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka [1 Timotius 1:18-19].

 
Mengakui kebenaran tentang Penampakan Maria di Lourdes adalah awal yang baik.
Sumber: http://www.trinityfoundation.org/journal.php?id=250


[1] Vincenzo Sansonetti, dalam wawancara dengan  ZENIT, “Dogma of Immaculate Conception Opened a New Era,” Rome, 7 Januari, 2005.
[2] Patrick Marnham, Lourdes: A Modern Pilgrimage. New York, 1980, 4, 8-9. Tanda kurung ditambahkan supaya lebih jelas
[3] (Uskup) Donald Montrose, The Message of the Virgin at Lourdes, dikutip dari CatholicCulture.org
[4] Ann Ball, A Litany of Mary. Huntington, Indiana, 1988, 73.
[5] Sandra L. Zimdars-Swartz, Encountering Mary. New York, 1991, 26.
[6] Joseph Dirvin, D.M., Saint Catherine Labouré of the Miraculous Medal. Lihat www.ewtn.com/library/MARY/CATLABOU.htm
[7] William Thomas Walsh, Our Lady of Fátima. New York [1947] 1954, 221
[8] ZENIIT.org, “John Paul II Again Entrusts World to Mary, Renews Act of Consecration of 1984,” 24 Maret 24, 2000
[9] Zimdars-Swartz, 177-179
[10] Dreams, Visions & Prophecies of Don Bosco, Eugene M. Brown, editor. New Rochelle, New York, 1986, 114
[11] Vatican Council, Session IV, Chapter IV, 18 July 1870
[12] Pope Pius XII, Munificentissimus Deus, AAS 42 (1950):761
[13] Zimdars-Swartz, 257-258
[14] Sebagai contoh, Quite Contrary: A Biblical Reconsideration of the Apparitions of Mary
[15] Walsh, Our Lady of Fátima, 51-52, 120
[16] Zimdars-Swartz, 30. Message of September 19, 1846
[17] Bob and Penny Lord, The Many Faces of Mary: A Love Story. Westlake Village, California, 1987, 70. Message of September 19, 1846
[18] Words from Heaven: Messages of Our Lady from Medjugorje, fifth edition. Birmingham, Alabama, 1991, 162. Message of April 5, 1985

Gereja dan Sola Scriptura

Doktrin Sola Scriptura adalah doktrin yang menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya kebenaran.

Sola Scriptura merupakan hal utama yang menyebabkan terjadinya reformasi di abad 16 yang dimulai oleh Luther dan para reformer lainnya.

Banyak yang menyangka bahwa Sola Scriptura adalah doktrin yang hanya dianut oleh umat Protestant dan bukan oleh Gereja awal. Hal ini adalah tidak benar, sebab baik dalam Alkitab maupun Gereja awal, doktrin ini dapat ditemukan dan diajarkan.

Ada 4 hal yang harus diingat sebelum seseorang mengerti akan ajaran Sola Scriptura.
  1. Sola Scriptura tidak berkata bahwa Alkitab memuat semua ilmu pengetahuan yang ada tp ilmu pengetahuan diceritakan didalam Akitab.Yang diajarkan oleh doktrin ini adalah bahwa Alkitab memuat seluruh hal yang manusia perlu ketahui untuk mengenal ALLAH dengan benar dan untuk memperoleh keselamatan.
  2. Sola Scriptura tidak mengajarkan bahwa Firman Tuhan tidak pernah diutarakan secara lisan. Firman Tuhan memang pernah disampaikan secara lisan oleh TUHAN Yesus, para nabi dan rasul pada saat mereka ada di dunia, namun semua yg disampaikan secara lisan itu kemudia ditulis didalam Alkitab.Setelah Alkitab selesai ditulis, maka yang ada hanyalah Firman yang berbentuk secara tertulis dan bukan lisan lagi.
  3. Sola Scriptura bukan berarti bahwa Gereja tidak punya otoritas apapun terhadap umat Tuhan. Yang menjadi permasalahan adalah bahwa gereja, yang adalah mempelai Kristus, mempunyai otoritas tapi tidak sebanding dengan Firman Tuhan (Holy Scripture) yg adalah hembusan nafas ALLAH sendiri.
  4. Sola Scriptura bukan pengajaran yg menyangkal ROH KUDUS bekerja didalam GerejaNya dengan memberikan penerangan dan bimbingan.
Jadi secara positif, Sola Scriptura mengajarkan bahwa Alkitab adalah satu-satunya pedoman yang manusia perlukan untuk memperoleh keselamatan. Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai pedoman lainnya, tapi melainkan bahwa setiap pedoman lainnya harus disesuaikan oleh Firman Tuhan yang adalah Alkitab.
Alkitab merupakan otoritas tertinggi bagi umat TUHAN, dan apa yang tidak terdapat didalamnya tidak bisa dijadikan sebagai sesuatu yang mengikat hati nurani manusia.

Gereja dan Sola Scriptura

Reformasi abad 16 bertanggung jawab dalam mengembalikan ke dalam Gereja prinsip Sola Scriptura, prinsip yang pernah berpengaruh dalam Gereja dari sejak permulaan setelah masa kerasulan.
Awalnya para rasul mengajar secara lisan, namun dengan berakhirnya masa kerasulan, semua wahyu khusus yang Tuhan kehendaki untuk dipertahankan bagi manusia disusunkan kedalam Ayat-Ayat Suci tertulis.
Sola Scriptura adalah ajaran, didasarkan pada Ayat-Ayat Suci itu sendiri, bahwa hanya ada satu wahyu khusus yang berasal dari Tuhan yang dimiliki oleh manusia sekarang ini, yaitu Ayat-ayat Suci (Holy Scriptures) tertulis atau Alkitab.

Sebab itu Scriptures secara materi cukup dan secara pokok (sebagai yang diilhami oleh Allah) merupakan kekuasaan absolut bagi Gereja. Ini berarti tak satu pun bagian wahyu tersebut yang masih dipertahankan dalam bentuk tradisi Scriptures lisan yang terpisah. Kita tak memiliki satu pun ajaran lisan dari seorang Rasul saat ini. Hanya Scriptures yang merekam bagi kita ajaran para rasul dan wahyu terakhir dari Allah.

Dimana segalanya menjadi salah - Dewan Trent menyangkal kecukupan materi Scriptures

Dewan Trent pada abad ke 16 meyatakan bahwa wahyu Allah tidak hanya terdapat dalam Ayat-ayat suci. Akan tetapi, sebagian terdapat dalam Ayat-ayat suci tertulis dan sebagian dalam bentuk tradisi lisan, sehingga Ayat-ayat suci secara materi dikatakan tak cukup.

Ini merupakan pandangan umum para teolog Katolik Roma selama berabad-abad setelah Dewan Trent tersebut. Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa bagaimanapun, dalam lingkungan Katolik Roma sekarang ini berlangsung debat yang berkelanjutan diantara para teolog mengenai keberadaan Tradisi. Tak ada pengertian yang jelas mengenai apa Tradisi itu dalam Katolik Roma saat ini. Sebagian menyetujui Trent dan lainnya tidak.


Bapa-bapa Gereja dan Para Apologis berpegang pada Sola Scriptura

Pandangan yang dipromosikan oleh Dewan Trent menyangkal kepercayaan dan praktek Gereja pertama. Gereja pertama bersandar pada prinsip sola Scriptura. Dimana bahwa semua doktrin harus dibuktikan berdasarkan Skriptur dan bila bukti tersebut tak dapat diperlihatkan, doktrin tersebut akan ditolak.

Bapak-bapak Gereja pertama (Ignatius, Polycarp, Clement, Didache, dan Barnabus) mengajarkan doktrin dan membela kekristenan melawan bidah. Untuk melaksanakannya, mereka berpegang hanya kepada Ayat-ayat Suci saja. Tulisan-tulisan mereka secara literal bernapaskan Perjanjian Lama dan Baru. Dalam tulisan para apologis seperti Martir Justin dan Anthenagoras juga terlihat hal yang sama. Tak ada tersirat dalam tulisan-tulisan ini, yang merujuk pada kewewenangan Tradisi sebagai suatu bentuk wahyu yang terpisah dan berdiri sendiri.


Irenaeus dan Tertullian berpegang pada Sola Scriptura

Berdasarkan tulisan-tulisan Irenaeus dan Tertullian pada pertengahan hingga akhir abad kedua inilah pertama kalinya kita mendapati konsep Tradisi Kerasulan (tradisi yang diteruskan ke dalam gereja oleh para rasul secara lisan). Istilah “tradisi” hanya berarti ajaran. Irenaeus dan Tertullian secara tegas menyatakan bahwa semua ajaran para Uskup yang diberikan secara lisan berakar pada Ayat-ayat Suci dan dapat dibuktikan dari Ayat-ayat Suci tertulis.

Kedua orang ini menyatakan makna kedoktrinan yang sebenarnya dari Tradisi Kerasulan yang secara lisan disampaikan dalam gereja-gereja.Dari sini, dapat dilihat secara jelas bahwa semua doktrin mereka tersebut berasal dari Ayat-ayat Suci. Tak satupun doktrin, yang mereka sebut sebagai Tradisi kerasulan, yang tak terdapat dalam Ayat-ayat Suci.

Dengan kata lain, Tradisi kerasulan yang didefinisikan oleh Irenaeus dan Tertullian hanyalah ajaran Ayat-ayat Suci. Irenaeus lah yang menyatakan bahwa sementara para Rasul yang pada mulanya berkotbah secara lisan, ajaran mereka kemudian dibuat tulisan (Ayat-ayat Suci), dan sejak saat itu Ayat-ayat Suci menjadi tonggak dan dasar keyakinan Gereja. Pernyataannya secara jelas adalah sebagai berikut:

"Kita telah belajar tentang rencana keselamatan kita dari mereka yang lewat mana kabar baik turun kepada kita, yang telah mereka sampaikan di depan umum, dan, kemudian, dengan kehendak Allah, diteruskan kepada kita dalam Ayat-ayat Suci, sebagai dasar dan tiang kepercayaan kita." [1]

Tradisi, saat dikaitkan pada pernyataan lisan seperti khotbah atau pengajaran, dipandang terutama sebagai penyampaian kebenaran Scriptures secara lisan, atau penyusunan kebenaran alkitab dalam ekspresi keimanan. Tak ada seruan dalam tulisan Irenaeus atau Tertullian tentang Tradisi mengenai doktrin yang tak terdapat dalam Scriptures

Sebaliknya, kedua orang ini harus menghadapi kaum Gnostic yang adalah orang-orang yang pertama-tama kali menyarankan dan mengajarkan bahwa mereka memiliki Tradisi kerasulan lisan yang terpisah dari Ayat-ayat Suci.
Irenaeus dan Tertullian menolak ide tersebut dan bersandar hanya pada Ayat Suci untuk pernyataan dan pembelaan terhadap doktrin.

Sejarawan gereja, Ellen Flessman-van Leer menegaskan kebenaran ini:
"Bagi Tertullian, Ayat Suci adalah satu-satunya metode untuk menolak dan mensahkan suatu doktrin berdasarkan isinya… Bagi Irenaeus doktrin Gereja pasti tak akan pernah murni tradisional; sebaliknya, pemikiran bahwa disana ada beberapa kebenaran, disampaikan semata-mata hanya lewat mulut (lisan), adalah merupakan jalan pikiran kaum Gnostic… Bila Irenaeus ingin membuktikan kebenaran suatu doktrin secara material, ia merujuk kepada Ayat Suci, karena disitulah ajaran para rasul dapat diperoleh secara obyektif. Bukti dari tradisi dan Ayat Suci menyodorkan akhir yang tunggal dan sama: untuk memperkenalkan ajaran Gereja sebagai ajaran Kerasulan yang asli. Yang pertama membuktikan bahwa ajaran Gereja adalah ajaran rasul, dan yang kedua, apa ajaran rasul itu." [2]

Alkitab adalah otoritas terakhir bagi Gereja permulaan. Secara materi cukup, dan merupakan mediator akhir dalam segala permasalahan tentang kebenaran doktrin. Sebagaimana yang dikatakan J.N.D. Kelly:
"Bukti yang paling jelas mengenai martabat Ayat Suci adalah kenyataan bahwa hampir semua usaha keagamaan para Bapa rasul, apakah tujuan mereka menimbulkan polemik atau pun konstruktif, dicurahkan pada apa yang disebut sebagai penjelasan Alkitab secara terperinci. Selanjutnya, sudah menjadi anggapan dimanapun bahwa, agar suatu doktrin dapat diterima, haruslah pertama-tama menunjukkan dasar Ayat Sucinya". [3]

Heiko Oberman memberikan komentar tentang hubungan antara Ayat Suci dan Tradisi dalam Gereja Pertama:
"Ayat Suci dan tradisi bagi Gereja Pertama tak mungkin saling terpisah: kerygma (pesan kabar baik), Ayat Suci dan Tradisi sepenuhnya sama. Gereja mengajarkan kerygma, yang ditemukan secara keseluruhan dalam bentuk tertulis dalam kitab-kitab kanonik. Tradisi tidak dianggap sebagai suatu pelengkap bagi kerygma yang termuat dalam Ayat Suci namun sebagai penyampaian kerygma yang sama dalam bentuk hidup: dengan kata lain semuanya terdapat dalam Ayat Suci dan disaat yang sama semuanya terkandung dalam Tradisi yang hidup". [4]


Cyril dari Yerusalem berpegang pada Sola Scriptura

Kenyataan bahwa Gereja awal setia kepada prinsip Ayat Suci semata (sola Scriptura) jelas terlihat lewat karya Cyril dari Yerusalem (uskup dari Yerusalem pada pertengahan abad ke-4). Beliau adalah pengarang apa yang dikenal sebagai Kuliah-kuliah Kateketik (Catechetical Lectures). Karya ini adalah serentetan panjang kuliah yang disampaikan kepada para penganut baru yang menjelaskan secara terperinci doktrin-doktrin prinsip keimanan. Ini adalah penjelasan lengkap tentang keimanan Gereja pada masa ia hidup. Ajarannya sepenuhnya berdasarkan Ayat Suci. Malah tak ada satu pun seruan dari keseluruhan Pengajaran merujuk kepada Tradisi Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Suci.

Ia menyatakan dengan tegas bahwa seandainya ia memberikan suatu ajaran apapun kepada para katekumen ini yang tidak dapat disahkan berdasarkan Ayat Suci, mereka akan menolaknya. Kenyataan ini memperkuat bahwa kekuasaannya sebagai seorang uskup tergantung dari kesetiaannya kepada Ayat-ayat Suci tertulis dalam ajarannya. Kutipan-kutipan berikut adalah beberapa pernyataannya tentang kekuasaan akhir Ayat Suci.

"Tanda ini telah membuatmu berpikir; manakah sekarang berdasarkan ikhtisar yang telah diberkati, dan jika Tuhan mengabulkan, dapatlah kemudian disusun sesuai kekuatan kita, dengan pembuktian Ayat Suci. Mengenai keagungan dan kekudusan Misteri Iman, kita tak dapat mengeluarkan ucapan sesederhana bagaimanapun tanpa Ayat-ayat Suci: ataupun dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan belaka dan kecerdikan argumen. Jangan pula kemudian mempercayai saya karena saya memberitahukan kamu hal-hal ini, kecuali kamu menerimanya dari Ayat-ayat Suci bukti dari apa yang tertulis: karena keselamatan ini, yang adalah dari iman kita, bukan lewat alasan-alasan yang berakal, namun dengan bukti dari Ayat-ayat Suci." [5]

"Namun anggaplah dirimu dan pegang iman tersebut seperti halnya seorang yang baru mulai dan dengan pernyataan, yang mana lewat Gereja disampaikan padamu, dan berdasarkan keseluruhan Ayat Suci.

Oleh karena semua yang tidak dapat membaca Ayat Suci, beberapa karena kebodohan, yang lainnya karena pekerjaan, menjadi terhalang dari pengetahuan tentang Ayat-ayat Suci; agar jiwa tak mati karena ketiadaan pengajaran, dalam Artikel-artikel yang sedikit ini kita memahami doktrin Iman secara keseluruhan.. Dan untuk sekarang, hafalkan Keimanan, simak saja perkataan-perkataan; dan lihat pada saatnya bukti tentang setiap bagian-bagiannya dari Ayat-ayat Suci yang Agung. Karena Artikel-artikel Keimanan tidak disusun berdasarkan kehendak manusia: namun pokok-pokok yang terpenting dipilih dari semua Ayat-ayat Suci, membentuk satu ajaran tentang Iman.

Dan, sebagaimana mustard tersemai dari bebijian kecil memiliki banyak cabang, demikian juga Iman ini, dalam beberapa kata, menyertakan keseluruhan pengetahuan keilahian yang terkandung dalam Perjanjian Lama dan Baru. Lihatlah, oleh karena itu, saudara-saudara dan peganglah tradisi yang kamu terima sekarang, dan tulis semua itu sepenuh hatimu". [6]

Perhatikan tulisan di atas dimana Cyril menyatakan bahwa para katekumen menerima tradisi, dan ia mendorong mereka untuk berpijak kepada tradisi, yang mereka terima sekarang.
Dari sumber manakah tradisi ini berasal...?
Sudah jelas berasal dari Ayat-ayat Suci, ajaran atau tradisi atau wahyu Tuhan, yang dijalankan para Rasul dan disampaikan kepada Gereja, dan yang sekarang dapat di diperoleh hanya lewat Ayat Suci.

Jelas bahwa Cyril dari Yerusalem, yang menyampaikan keseluruhan dari keimanan kepada para penganut baru ini, tidak membuat satu pun seruan terhadap tradisi lisan untuk mendukung ajaran-ajarannya. Keseluruhan keimanan didasarkan pada Ayat Suci dan hanya Ayat Suci saja.


Gregory dari Nyssa berpegang pada sola Scriptura

Gregory dari Nyssa juga menyerukan prinsip ini. Ia mengatakan:

"Manusia secara umum masih berubah-ubah pendapatnya tentang hal ini, dimana kekeliruan mereka sama banyaknya dengan jumlah mereka. Bagi kita sendiri, bila filosofi Gentile (non-Yahudi), yang secara metodologi berhubungan dengan semua pokok-pokok ini, benar-benar memadai untuk suatu peragaan, sudah tentu menjadi sangat berlebihan untuk menambahkan suatu diskusi mengenai kejiwaan pada spekulasi-spekulasi itu. Namun sementara yang terakhir tersebut dilanjutkan, mengenai masalah jiwa, sejauh dalam konsekuensi yang telah diperkirakan yang membuat bahagia sang pemikir, kita tidak memiliki hak dalam perijinannya, maksud saya tentang mensahkan apa yang kita mau kita membuat Ayat-ayat Suci sebagai kendali dan takaran untuk setiap prinsip; kita harus memperhatikan itu, dan dan menyetujui hal itu sendiri yang mungkin dibuat untuk dipadukan dengan maksud tulisan-tulisan itu." [7]


Gereja pertama diselenggarakan berdasarkan sola Scriptura

Kutipan-kutipan di atas mewakili bapa-bapa Gereja secara keseluruhan. Cyprian, Origen, Hippolytus, Athanasius, Firmilian, dan Augustine hanyalah sebagian dari antaranya yang dapat dikutip sebagai pendukung prinsip sola Scriptura selain daripada Tertullian, Irenaeus, Cyril dan Gregory dari Nyssa.

Gereja pertama beroperasi dengan berlandaskan prinsip sola Scriptura. Prinsip historis inilah yang para Reformis cari untuk dikembalikan ke dalam Gereja.

Penggunaan secara luas dari Scriptures oleh para bapa Gereja Pertama sejak permulaan telah terlihat dari fakta-fakta berikut ini:

Irenaeus:
Ia mengenal Polycarp yang merupakan murid rasul Yohanes. Ia hidup sekitar tahun 130 hingga 202 AD. Ia mengutip duapuluh empat dari duapuluh tujuh buku-buku Perjanjian Baru, mengambil 1,800 kutipan dari Perjanjian Baru sendiri.

"We have learned from none others the plan of our salvation, than from those through whom the Gospel has come down to us, which they did at one time proclaim in public, and, at a later period, by the will of God, handed down to us in the Scriptures, to be the ground and pillar of our faith. For it is unlawful to assert that they preached before they possessed "perfect knowledge," as some do even venture to say, boasting themselves as improvers of the apostles." (Irenaeus, Against Heresies, book 3, 1, 1)

"Since therefore we have such proofs, it is not necessary to seek the truth among others which it is easy to obtain from the Church; since the apostles, like a rich man [depositing his money] in a bank, lodged in her hands most copiously all things pertaining to the truth: so that every man, whosoever will, can draw from her the water of life. For she is the entrance to life; all others are thieves and robbers. On this account are we bound to avoid them, but to make choice of the thing pertaining to the Church with the utmost diligence, and to lay hold of the tradition of the truth. For how stands the case?
Suppose there arise a dispute relative to some important question among us, should we not have recourse to the most ancient Churches with which the apostles held constant intercourse, and learn from them what is certain and clear in regard to the present question?
For how should it be if the apostles themselves had not left us writings?
Would it not be necessary, [in that case,] to follow the course of the tradition which they handed down to those to whom they did commit the Churches?
To which course many nations of those barbarians who believe in Christ do assent, having salvation written in their hearts by the Spirit, without paper or ink, and, carefully preserving the ancient tradition, believing in one God, the Creator of heaven and earth, and all things therein, by means of Christ Jesus, the Son of God; who, because of His surpassing love towards His creation, condescended to be born of the virgin, He Himself uniting man through Himself to God, and having suffered under Pontius Pilate, and rising again, and having been received up in splendour, shall come in glory, the Saviour of those who are saved, and the Judge of those who are judged, and sending into eternal fire those who transform the truth, and despise His Father and His advent. Those who, in the absence of written documents, have believed this faith, are barbarians, so far as regards our language; but as regards doctrine, manner, and tenor of life, they are, because of faith, very wise indeed; and they do please God, ordering their conversation in all righteousness, chastity, and wisdom. If any one were to preach to these men the inventions of the heretics, speaking to them in their own language, they would at once stop their ears, and flee as far off as possible, not enduring even to listen to the blasphemous address. Thus, by means of that ancient tradition of the apostles, they do not suffer their mind to conceive anything of the [doctrines suggested by the] portentous language of these teachers, among whom neither Church nor doctrine has ever been established. (Irenaeus, Against Heresies, book 3, 4, 1-2)

"When, however, they are confuted from the Scriptures, they turn round and accuse these same Scriptures, as if they were not correct, nor of authority, and [assert] that they are ambiguous, and that the truth cannot be extracted from them by those who are ignorant of tradition. For [they allege] that the truth was not delivered by means of written documents, but wherefore also Paul declared, "But we speak wisdom among those that are perfect, but not the wisdom of this world." And this wisdom each one of them alleges to be the fiction of his own inventing, forsooth; so that, according to their idea, the truth properly resides at one time in Valentinus, at another in Marcion, at another in Cerinthus, then afterwards in Basilides, or has even been indifferently in any other opponent, who could speak nothing pertaining to salvation. For every one of these men, being altogether of a perverse disposition, depraving the system of truth, is not ashamed to preach himself. But, again, when we refer them to that tradition which originates from the apostles, [and] which is preserved by means of the succession of presbyters in the Churches, they object to tradition, saying that they themselves are wiser not merely than the presbyters, but even than the apostles, because they have discovered the unadulterated truth. For [they maintain] that the apostles intermingled the things of the law with the words of the Saviour; and that not the apostles alone, but even the Lord Himself, spoke as at one time from the Demiurge, at another from the intermediate place, and yet again from the Pleroma, but that they themselves, indubitably, unsulliedly, and purely, have knowledge of the hidden mystery: this is, indeed, to blaspheme their Creator after a most impudent manner! It comes to this, therefore, that these men do now consent neither to Scripture nor to tradition. (Irenaeus, Against Heresies, Book 3, Ch 2, 1-2).

"Since, however, it would be very tedious, in such a volume as this, to reckon up the successions of all the Churches, we do put to confusion all those who, in whatever manner, whether by an evil self-pleasing, by vainglory, or by blindness and perverse opinion, assemble in unauthorized meetings; [we do this, I say,] by indicating that tradition derived from the apostles, of the very great, the very ancient, and universally known Church founded and organized at Rome by the two most glorious apostles, Peter and Paul; as also [by pointing out] the faith preached to men, which comes down to our time by means of the successions of the bishops. For it is a matter of necessity that every Church should agree with this Church, on account of its preeminent authority, that is, the faithful everywhere, inasmuch as the apostolical tradition has been preserved continuously by those [faithful men] who exist everywhere" (Irenaeus, Against Heresies, Book 3, Ch 3, 2).

Dari kutipan diatas, Irenaeus menyatakan bahwa Injil pertama kali diwahyukan (disingkapkan) secara lisan, kemudian Injil tersebut dicatat (dituliskan) dalam Kitab Suci dan juga menyebutkan bahwa Kitab Suci tersebut adalah tiang penopang dan dasar iman. Hal ini pastilah mengguncangkan sandaran dari setiap orang Roma Katolik dan Ortodoks karena adalah suatu interpretasi yang jelas dari 1 Timotius 3:15 dimana ungkapan (ekspresi) yang sama digunakan oleh gereja. Kemudian dengan jelas, Irenaeus melihat bahwa gereja muncul di urutan kedua dalam otoritas dibawah kitab suci. Adalah jelas juga bahwa kamu tidak boleh membuat suatu perubahan dari apa yang rasul ajarkan karena hal itu adalah standard pengajaran (doktrin) yang tidak dapat diubah.

Irenaeus mengidentifikasi (mengenal) bahwa kedua-duanya baik itu bahasa lisan kerasulan yang diilhamkan (diinspirasikan) dan juga tradisi tertulis dijaga dengan hati-hati oleh gereja secara terus menerus dari waktu ke waktu. Adalah jelas dari kutipan tersebut bahwa kitab suci adalah termasuk dalam kategori tradisi kerasulan zaman dahulu. Mengatakan bahwa hal itu berada di luar kitab suci sebagaimana gereja Roma Katolik dan Ortodoks mengatakan demikian, dan kemudian mengatakan bahwa teks itu hanya membicarakan tradisi lisan, adalah tidak beralasan (tidak dapat dibenarkan) juga bodoh. Dengan mengatakan bahwa tradisi lisan ini telah mengandung doktrin kunci yang tidak terdapat dalam kitab suci, maka tentu saja gereja Roma Katolik dan Ortodoks akan mempunyai petunjuk (titik) yang kuat. Malahan, pandangan kita tentang sola scriptura justru diperkuat oleh kutipan ini. Sebenarnya bagian (kutipan) ini sedang membicarakan sesuatu sampai sekarang dimana ketika kita dengan spontan dan tiba-tiba membicarakan Injil secara lisan kepada orang dosa di taman kota pada saat kebetulan tidak mempunyai (membawa) Alkitab di tangan pada saat itu. Jadi, kita bersandar‚ tradisi lisan‚ (cara lisan) dengan ketidakhadiran dokumen tertulis (Alkitab) tersebut. Jika memang kredo Irenaeus benar-benar telah mengandung berbagai macam tambahan pada doktrin (pengajaran) yang Alkitabiah seperti, keperawanan Maria yang terus-menerus dan asumsi Maria (asumsi-asumsi Maria versi Katolik Roma), pembaptisan pada waktu bayi, baptis tiga kali, tanda salib dsb, maka pembela (pendukung) Roma Katolik dan Ortodoks paling banter hanya akan mempuyai argumen yang lemah. Tetapi karena tidak ada tambahan pada doktrin (pengajaran) yang Alkitabiah, hal itu justru mendukung pandangan kita bahwa semua‚tradisi kerasulan yang diinspirasi (diilhamkan) juga terkandung dalam kitab suci. Kita disini tidak sedang menyanggah ‚tradisi lisan kerasulan, kita hanya mengatakan bahwa hal itu adalah identik (persis sama) dengan Alkitab.

Irenaeus menunjukkan bahwa kitab suci adalah garis terdepan dalam menyerang guru palsu dimana guru palsu ini dengan tegas disanggah oleh tradisi tertulis dari para rasul. Perhatikan berapa banyak aliran Gnostik ini kedengarannya mirip pemimpin Roma Katolik dan Ortodoks ketika mereka mengatakan bahwa kamu tidak dapat mengerti Alkitab KECUALI KALAU kamu mempunyai tradisi yang benar dan bahwa kebenaran itu lebih banyak (lengkap) diwahyukan secara lisan daripada kitab suci. Kita telah melihat hal ini secara langsung ketika mengajarkan Roma Katolik dan Ortodoks. Kamu mungkin dengan tegas menyangkal mereka (Katolik Roma) sesuai dengan Kitab Suci, kemudian Katolik Roma akan membalas demikian :‚ kamu tidak mengerti Alkitab tanpa tradisi Gereja kami. Ketika kamu menunjukkan fakta bahwa bukan hanya praktek Ortodoks kontradiksi dengan kitab suci, tetapi juga kontradiksi dengan sejarah (bapa gereja), mereka‚ mengizinkan (tidak tergantung) pada kitab suci begitu juga dengan tradisi, seperti pernyataan Irenaeus mengenai Gnostik. Tradisi yang berasal dari para rasul dan ‚dipelihara secara terus menerus oleh penilik dalam Gereja bukanlah beberapa satuan pengajaran yang terpisah dari Kitab Suci, tetapi adalah bukti hidup dari apa yang Kitab Suci katakan dalam gereja lokal. Irenaeus menunjukkan bahwa Gnostik menolak Kitab Suci. Ia (Irenaeus) kemudian menunjukkan doktrin (pengajaran) yang dapat dilihat (nyata) dari gereja (yang identik dengan Kitab Suci) dan kemudian mereka menolaknya juga. Roma Katolik dan Ortodoks tidak menemukan harapan (pertolongan) pada sanggahan Irenaeus terhadap Gnostik karena tradisi gereja (alat yang dipakai Gnostik) mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan Kitab Suci.

Irenaeus mengatakan kita melihat kebenaran bahwa tradisi gereja (kerasulan) telah dipelihara secara terus menerus. Sekali lagi, pernyataan ini tidak menunjukkan bukti apapun bahwa tradisi lisan dengan serangkain doktrin (pengajaran) yang berbeda terdapat sesuatu yang tidak terwahyukan dalam tradisi tertulis kerasulan (gereja). Faktanya, kita cukup yakin bahwa tradisi tertulis kerasulan harus tercakup dalam pernyataan ini.
Bukankah gereja Roma Katolik dan Ortodoks percaya bahwa mereka memelihara Kitab Suci... ?
Tentu saja, mereka percaya.
Jika gereja mula-mula tidak memelihara tradisi tertulis, kita bahkan tidak akan mempunyai Kitab Suci sekarang karena akan hilang.

Clement dari Alexandria: Hidup pada tahun 150 hingga 215 AD. Ia mengutip semua Perjanjian Baru, kecuali Filemon, Yakobus dan 2 Petrus. Ia memberikan 2,400 kutipan dari Perjanjian Baru.

Tertullian:
Hidup pada tahun 160 hingga 220 AD. Ia menyerahkan 7,200 kutipan Perjanjian Baru.

"From this, therefore, do we draw up our rule. Since the Lord Jesus Christ sent the apostles to preach, (our rule is) that no others ought to be received as preachers than those whom Christ appointed; for "no man knoweth the Father save the Son, and he to whomsoever the Son will reveal Him." Nor does the Son seem to have revealed Him to any other than the apostles, whom He sent forth to preach-that, of course, which He revealed to them. Now, what that was which they preached-in other words, what it was which Christ revealed to them-can, as I must here likewise prescribe, properly be proved in no other way than by those very churches which the apostles rounded in person, by declaring the gospel to them directly themselves, both viva voce [living voice], as the phrase is, and subsequently by their epistles. If, then, these things are so, it is in the same degree manifest that all doctrine which agrees with the apostolic churches-those moulds and original sources of the faith must be reckoned for truth, as undoubtedly containing that which the (said) churches received from the apostles, the apostles from Christ, Christ from God. Whereas all doctrine must be prejudged as false which savours of contrariety to the truth of the churches and apostles of Christ and God. It remains, then, that we demonstrate whether this doctrine of ours, of which we have now given the rule, has its origin in the tradition of the apostles, and whether all other doctrines do not ipso facto proceed from falsehood. We hold communion with the apostolic churches because our doctrine is in no respect different from theirs. This is our witness of truth." (Tertullian, The prescription against the heretics, Ch 21


If you had not purposely rejected in some instances, and corrupted in others, the Scriptures which are opposed to your opinion, you would have been confuted in this matter by the Gospel of John, when it declares that the Spirit descended in the body of a dove, and sat upon the Lord. (Tertullian, The Flesh of Christ, ch 3)

"But there is no evidence of this, because Scripture says nothing." ... "The Scripture says nothing of this, although it is not in other instances silent" ..."I do not admit what you advance of your own apart from Scripture." (Tertullian, The Flesh of Christ, ch 6; ch 7)

"But to what shifts you resort, in your attempt to rob the syllable ex (Indicating the material or ingredient, "out of.") of its proper force as a preposition, and to substitute another for it in a sense not found throughout the Holy Scriptures! (Tertullian, The Flesh of Christ, ch 20)

"We have, however, challenged these opinions to the test, both of the arguments which sustain them, and of the Scriptures which are appealed to, and this we have done ex abundanti; so that we have, by showing what the flesh of Christ was" (Tertullian, The Flesh of Christ, ch 25)

"And how long shall we draw the saw to and fro through this line, when we have an ancient practice, which by anticipation has made for us the state, i.e., of the question? If no passage of Scripture has prescribed it, assuredly custom, which without doubt flowed from tradition, has confirmed it. For how can anything come into use, if it has not first been handed down? Even in pleading tradition, written authority, you say, must be demanded. Let us inquire, therefore, whether tradition, unless it be written, should not be admitted. Certainly we shall say that it ought not to be admitted, if no cases of other practices which, without any written instrument, we maintain on the ground of tradition alone, and the countenance thereafter of custom, affords us any precedent. To deal with this matter briefly, I shall begin with baptism. When we are going to enter the water, but a little before, in the presence of the congregation and under the hand of the president, we solemnly profess that we disown the devil, and his pomp, and his angels. Hereupon we are thrice immersed, making a somewhat ampler pledge than the Lord has appointed in the Gospel. Then when we are taken up (as new-born children), we taste first of all a mixture of milk and honey, and from that day we refrain from the daily bath for a whole week. We take also, in congregations before daybreak, and from the hand of none but the presidents, the sacrament of the Eucharist, which the Lord both commanded to be eaten at meal-times, and enjoined to be taken by all alike. As often as the anniversary comes round, we make offerings for the dead as birthday honours. We count fasting or kneeling in worship on the Lord's day to be unlawful. We rejoice in the same privilege also from Easter to Whitsunday. We feel pained should any wine or bread, even though our own, be cast upon the ground. At every forward step and movement, at every going in and out, when we put on our clothes and shoes, when we bathe, when we sit at table, when we light the lamps, on couch, on seat, in all the ordinary actions of daily life, we trace upon the forehead the sign. If, for these and other such rules, you insist upon having positive Scripture injunction, you will find none. Tradition will be held forth to you as the originator of them, custom as their strengthener, and faith as their observer. That reason will support tradition, and custom, and faith, you will either yourself perceive, or learn from some one who has. (Tertullian, The crown or De Corona, ch 3-4)

"Now, with regard to this rule of faith-that we may from this point acknowledge what it is which we defend-it is, you must know, that which prescribes the belief that there is one only God, and that He is none other than the Creator of the world, who produced all things out of nothing through His own Word, first of all sent forth; that this Word is called His Son, and, under the name of God, was seen "in diverse manners" by the patriarchs, heard at all times in the prophets, at last brought down by the Spirit and Power of the Father into the Virgin Mary, was made flesh in her womb, and, being born of her, went forth as Jesus Christ; thenceforth He preached the new law and the new promise of the kingdom of heaven, worked miracles; having been crucified, He rose again the third day; (then) having ascended into the heavens, He sat at the right hand of the Father; sent instead of Himself the Power of the Holy Ghost to lead such as believe; will come with glory to take the saints to the enjoyment of everlasting life and of the heavenly promises, and to condemn the wicked to everlasting fire, after the resurrection of both these classes shall have happened, together with the restoration of their flesh. This rule, as it will be proved, was taught by Christ, and raises amongst ourselves no other questions than those which heresies introduce, and which make men heretics." (Tertullian, the Prescription Against Heretics, Chapter XIII)

"With whom lies that very faith to which the Scriptures belong. From what and through whom, and when, and to whom, has been handed down that rule, by which men become Christians?" For wherever it shall be manifest that the true Christian rule and faith shall be, there will likewise be the true Scriptures and expositions thereof, and all the Christian traditions. (Tertullian, The prescription against the heretics, Ch 19)

"Silence! Silence on such blasphemy. Let us be content with saving that Christ died, the Son of the Father; and let this suffice, because the Scriptures have told us so much. For even the apostle, to his declaration-which he makes not without feeling the weight of it-that "Christ died," immediately adds, "according to the Scriptures," in order that he may alleviate the harshness of the statement by the authority of the Scriptures, and so remove offence from the reader." (Tertullian, Against Praxeas, ch 29)

What, therefore, did not exist, the Scripture [Gnostic false doctrine] was unable to mention; and by not mentioning it, it has given us a clear proof that there was no such thing: for if there had been, the Scripture would have mentioned it. (Tertullian, Against Hermogenes, ch 20)

11.I revere the fulness of His Scripture, in which He manifests to me both the Creator and the creation. In the gospel, moreover, I discover a Minister and Witness of the Creator, even His Word. But whether all things were made out of any underlying Matter, I have as yet failed anywhere to find. Where such a statement is written, Hermogenes' shop must tell us. If it is nowhere written, then let it fear the woe which impends on all who add to or take away from the written word. (Tertullian, Against Hermogenes, ch 22)

"Suppose now I should say the city built a theatre and a circus, but the stage ... But this example may be an idle one as being derived from a human circumstance; I will take another, which has the authority of Scripture itself. It says that "God made man of the dust of the ground"" (Tertullian, Against Hermogenes, ch 31)

Tertullian dengan jelas menyatakan bahwa doktrin dan praktek mereka adalah identik (persis sama) dengan apa yang diajarkan para rasul secara lisan dan dengan kitab suci. Tertullian menggunakan ekspresi (ungkapan) dan viva voice (living voice) yang semata-mata adalah sebuah acuan untuk wahyu yang diilhamkan (diinspirasikan) secara lisan. Gereja Roma Katolik dan Ortodoks telah mengubah arti mula-mula dari viva voice dari kata yang diucapkan oleh rasul yang diberi ilham, berubah kepada praktek dan dogma gereja apa saja pada masa sekarang ini.
Ini adalah buktinya :
Tetapi daya tarik zaman dulu adalah pengkhianatan dan bidah. Disebut pengkhianatan karena menolak suara Ilahi dari Gereja pada saat ini, dan disebut bidah karena menolak suara yang menjadi Ilahi. Bagaimana kita dapat mengetahui zaman dahulu (sejarah) kecuali melalui gereja ...?
Saya boleh mengatakan dengan kebenaran yang tegas (keras) bahwa Gereja tidak mempunyai zaman dahulu (kuno). Ia hanya bersandar pada keajaiban yang dimilikinya sendiri dan kesadaran (pemikiran) yang abadi (terus-menerus).
Bukti Ilahi satu-satunya kepada kita terhadap sesuatu yang lampau adalah bukti dan suara Gereja pada saat ini.
(Henry Edward Manning, The Temporal Mission of the Holy Ghost: Or Reasin and Revelation, 1865,p 227-22.)
Henry Edward Manning ini adalah pendukung Katolik Roma

Kepada siapa saja yang memiliki pengertian yang sedikit, pernyataan ini tidak hanya berlawanan dengan apa yang Tertullian maksud, ini adalah pengungkapan bidah karena mengabaikan sejarah (bapa gereja) dan kitab suci. Siapa saja yang telah (pernah) berbicara kepada pengkhotbah dari Roma Katolik atau Ortodoks, mengetahui bahwa ini adalah suatu hal yang sungguh-sungguh mereka pikirkan.

Tertullian tertarik kepada Kitab Suci sebagai standard doktrin (pengajaran) yang utama dan terdepan tanpa menyebutkan tradisi lisan. Pemimpin Roma Katolik dan Ortodoks pada saat sekarang ini hanya mengatakan tradisi umum (masa kini) dari gereja adalah standard. Lebih lanjut lagi, pemimpin ini bahkan tidak percaya bahwa kitab suci dapat dimengerti oleh orang-orang pada umumnya dengan begitu jelas dan mereka merasa bahwa Tertullian sedang menghabiskan waktunya bahkan ketika sedang berargumen kitab suci dengan aliran Gnostik.

Dalam menyanggah (menyangkal) aliran Gnostik, Tertullian tertarik kepada Kitab Suci yang tidak mengatakan apa-apa (nothing) sebagai bukti bahwa mereka salah. Sedangkan gereja Roma Katolik dan Ortodoks sekarang ini secara terbuka memberitakan (mengatakan) bahwa kita harus mempraktekkan banyak hal yang tidak terwahyu dalam Kitab Suci, sedangkan Tertullian mengatakan sebaliknya. Oleh karena itu, Tertullian tidak hanya menunjukkan bahwa kita jangan melampaui apa yang tertulis, juga hanya Kitab Suci itulah all-sufficient standard. Patut juga dicatat bahwa ketika Gnostik sebenarnya membuat perbandingan dengan tradisi lisan mereka, Tertullian pada mulanya melawan balik, dengan tidak mengatakan : bahwa gereja tidak mengatakan hal yang demikian, tetapi bahwa kitab sucilah yang tidak mengajarkan yang sedemikian. Aliran Gnostik berargumen dengan tradisi lisan dan Tertullian membalasnya dengan kitab suci (tertulis).
Kita setuju dan melakukan hal yang sama terhadap gereja Roma Katolik.
Kita melawan tradisi mereka dengan kitab suci sebagaimana halnya Tertullian lakukan.

Tertullian tertarik dengan penafsiran pribadi akan kata depan dari suatu kata yang ditemukan dalam kitab suci. Dalam cara yang bukan Roma Katolik, ia mengharapkan bahwa Gnostik memiliki kemampuan untuk mengerti dan dengan tepat menafsirkan hal ini, bahkan bagi seorang bidat ! Dengan jelas Tertullian percaya bahwa kitab suci dapat dimengerti dengan hanya membacanya. Paulus mengatakan banyak dalam Efesus 3:3-5. Efesus 3:3 yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat
Efesus 3:4 Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus,
Efesus 3:5 yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,

Tertullian mengatakan bahwa ia dengan berlimpah-limpah tertarik kepada Kitab Suci untuk menyanggah (menyangkal) bidat. Ortodoks terkejut dengan hal ini dan mengharapkan bahwa Tertullian hanya mengatakan, itu tidak ada dalam tradisi gereja kami saat ini. Hal yang sama juga berlaku pada Katolik

Kita menyukai pernyataan Tertullian ini karena hal ini membuktikan poin kita bahwa ia menggunakan Alkitab (bentuk tertulis) hanya untuk menentukan doktrin disamping tradisi lisan. Kita terkejut bahwa ahli Roma Katolik dan Ortodoks pernah mengacu pada teks ini karena hal itu sungguh-sungguh menyanggah (menyangkal) klaim mereka bahwa ada tradisi lisan dengan doktrinnya yang berbeda, dan tidak ada (hilang) dari kitab suci.
Jika pendukung anti-sola Scriptura ini adalah benar, maka kita harus mengikuti, sebagaimana Tertullian lakukan yaitu tradisi, tapi mengapa tidak seorangpun gereja Roma Katolik dan Ortodoks mengatakan bahwa adalah masalah liturgi sebelum mereka dibaptis mengatakan :
Dengan sungguh-sungguh (formal) menyatakan bahwa kami menyangkal iblis (secara liturgi mengatakan (verbatim / kata demi kata) : solemnly profess that we disown the devil(In English)).

Kenapa pihak Ortodoks dalam perkara baptisan diselam (dibenamkan) tiga kali sebagaimana halnya Tertullian katakan bahwa kamu seharusnya melakukan dalam tradisimu diselam (dibenam) tiga kali, namun mengapa pihak Katolik menolak tradisi ini dan hanya dipercik...?
Setelah dibaptis, kenapa kedua-duanya baik gereja Katolik dan Ortodoks tidak mematuhi tradisi kerasulan (gereja) dari Tertullian‚ dengan tidak melakukan seperti pernyataan ini campuran dari susu dan madu, dan mulai dari hari itu menahan diri dari (menjauhkan diri) dari mandi sehari-hari selama satu minggu penuh...?
Pada faktanya mereka semua tidak mematuhi tradisi kerasulan (gereja) dimana setelah dibaptis mereka segera mandi ketika sudah sampai di rumah.
Betapa bidahnya !!!
Tentu saja, liturgi (kebiasaan) baptis tiga kali‚ tidak diajarkan dalam kitab suci begitu juga dengan minum susu/madu dan juga tidak mandi dalam satu minggu. Hal ini hanya menggambarkan kebiasaan lokal (setempat) yang mungkin agak berguna. Semua gereja telah menempatkan kebiasaan dan mereka bervariasi, dari perkumpulan yang satu ke perkumpulan yang lain. Ingat, ada tiga macam tradisi yang bapa gereja maksudkan. Ini adalah jenis tradisi yang kedua yang optional (boleh ya boleh tidak) karena hal ini melibatkan pilihan kebudayaan manusia yang tidak telalu dipermasalahkan oleh Allah. Seperti Tertullian katakan, kita merunut (menelusuri) pada tanda di dahi. Jika pada peraturan ini, dan peraturan lainnya kamu berkeras ingin mendapatkan (mengkorelasikannya) dengan harapan ada perintah yang tegas dalam (menurut) kitab suci, maka kamu tidak akan menemukan apapun. Itulah mengapa hal itu adalah optional (boleh ya boleh tidak) menurut gereja lokal dan menurut individu (orang) Kristen itu sendiri. Pada faktanya, bahkan gereja Roma Katolik dan Ortodoks tidak membuat tanda salib pada dahi sebagaimana tradisi kerasulan (gereja), dan mereka mengubah tradisi kerasulan (gereja) dan mulai membuat tanda salib di dada.

Ini adalah hal yang mungkin dianggap berguna dan menjadi tradisi dan jelas-jelas adalah optional (boleh ya boleh tidak) dimana kitab suci tidak membicarakan (menyinggung) apapun mengenai hal ini. Contoh lain dari tradisi yang sama dengan jenis (mirip kategori) ini adalah dengan membuat air untuk pembaptisan tepat 77 derajat (ini adalah dalam satuan Fahrenheit (satuan suhu dalam pembicaraan di Amerika , yang bila dikonversi menjadi 25 derajat Celcius (satuan di Indonesia) yang adalah suhu pada suhu lingkungan sekitar pagi hari atau malam hari ; menahan seseorang dalam air baptisan selama tepat tiga detik, satu detik berkenaan untuk Bapa, satu detik lagi berkenaan untuk Putra, dan satu detik lagi berkenaan untuk Roh Kudus. Jadi bagian (kutipan) oleh Tertullian ini yang oleh pendukung anti sola Scriptura dari pihak Roma Katolik dan Ortodoks adalah kutipan untuk menyangkal (menyanggah) Sola Scriptura, justru menyangkal (menyanggah) diri mereka sendiri.

Bagian kutipan ini juga dengan jelas menunjukkan dengan jelas kategori (jenis) dari tradisi dimana semua Bapa Gereja memandangnya sebagai sesuatu hal yang tidak ditemukan dalam Kitab Suci. Tidak seperti classical reformers (Reformer mula-mula) seperti Keith A. Matheson, yang menyatakan dalam bukunya The shape of Sola Scriptura, terhadap pendapat yang menyatakan bahwa adalah hal penting untuk menjaga (memelihara) tradisi lisan dari post-apostolic church (gereja post-apostolic), kita menolak secara utuh hal ini (liturgi dan tata cara) karena hal ini adalah jelas keluar dari doktrin (pengajaran) Perjanjian Baru dan liturgi yang dengan segera mengikuti kematian para rasul. Bagi kita, jika itu tidak tertulis dalam Alkitab, kita tidak melakukannya.

Gereja Roma Katolik dan Ortodoks senang mengutip (Tertullian, the Prescription Against Heretics, Chapter XIII) sebagai bukti bahwa Tertullian telah mempunyai tradisi lisan kerasulan (gereja) yang berbeda dari kitab suci. Kita yang mengajarkan Sola Scriptura, sebenarnya tidak mempunyai masalah untuk setuju.
Tertullian menyebut tradisi lisan ini,the rule of faith.

Kita setuju bahwa itu adalah suatu kredo, tetapi perhatikan bahwa hal itu mutlak tidak mengandung apa-apa, kecuali apa yang kitab suci secara rinci telah wahyukan. Akan menjadi bukti yang kuat untuk gereja Roma Katolik dan Ortodoks jika rule of faith tersebut benar-benar mengandung rincian doktrin yang tidak terkandung dalam kitab suci seperti : keperawanan abadi dari Maria, baptis waktu bayi, baptis tiga kali, tanda salib dan lain sebagainya.
Pada faktanya, rule of faith dari Tertullian adalah bukti dari dugaan utama kita, yakni, bahwa semua tradisi kerasulan yang esensial (utama), keseluruhannya adalah berdasarkan (100%) berdasarkan kitab suci.
Bahkan dalam gereja Tuhan yang benar sekarang, semua anggota secara acak, jika ditanya dari atas mimbar, dapat memberikan ringkasan satu alinea (yang mirip) dari iman yang benar. Bahkan rasul Paulus memberikan tipe (model) yang sama dari ringkasan satu alinea dari doktrin dalam 1 Korintus 15:3-8.

1 Korintus 15:3-8
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita,sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal .Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

Tentu saja, kita tidak setuju dengan rule of faith Tertullian pada satu titik kunci yakni : Ketika dia memandang tambahan pada Kitab Suci, dokumen buatan manusia adalah bersifat otoritas dengan sendirinya, bahkan jika itu didasarkan pada Kitab Suci, pendekatan yang tepat adalah dengan tidak memberikan otoritas daripada bermacam-macam ringkasan satu alinea iman yang tiap anggota mungkin berikan. Kredo Tertullian mulai menjadi suatu kecenderungan yang berbahaya dimana pada akhirnya, sebagaimana yang kita lihat pada banyak denominasi sekarang (akibat Katolik Roma), kredo sebenarnya relah menggantikan kitab suci sebagai otoritas yang ultima (puncak dan akhir).

Adalah jelas bahwa Tertullian menerima kredo, yang ia sebut the rule of faith sebagai tambahan pada kitab suci (extra-biblical). Tetapi adalah juga jelas, bahwa dia menulis dalam (Tertullian, Prescription Against Heretics, Chapter XIII, lihat pada kata yang digaris miring) bahwa kredo tidak mengandung apa-apa selain yang Kitab Suci ajarkan.

Tertullian mengambil pandangan bahwa jika Kitab Suci membicarakan subjek (pokok pembicaraan), maka itu adalah otoritaslah yang diperlukan.

Tertullian membuat pernyataan yang mendalam bahwa Gnostik adalah salah karena Kitab Suci tidak mengajarkan doktrin (pengajaran) yang demikian. Jika memang ada jalur terpisah dari otoritas doktrin, sebagaimana gereja Roma Katolik dan Ortodoks katakan demikian, maka Gnostik akan meng-counter Tertullian dengan mengatakan : Itu pernyataan bodoh Tertullian, karena kamu tahu bahwa banyak doktrin dari pengajaran gereja yang tidak diketemukan dalam kitab suci, tetapi dianggap benar, karena mereka semua berbentuk tradisi lisan kerasulan. Kita tidak menyanggah tradisi lisan kerasulan yang dianggap otoritas dalam gereja mula-mula, hanya bagaimanapun juga itu tidak berbeda dari apa yang terdapat dalam kitab suci. Keduanya baik gereja dan Gnostik mengerti ini dan itulah mengapa Tertullian menyanggah (menyangkal) mereka berdasarkan kitab suci dengan mengatakan bahwa Kitab Suci tidak pernah mengajarkan demikian.

Tertullian pertama mengklaim bahwa Kitab Suci adalah all-sufficient dan kemudian berpendapat bahwa jika doktrin Gnostik tidak ada dalam kitab suci, maka mereka adalah salah.

Setelah menggunakan argumen (pendapat) bedasarkan kehidupan sehari-hari, Tertullian kemudian menggarisbawahi (menekankan) bahwa pendapat (argumen) berikutnya ini adalah otoritas karena berasal dari Kitab Suci. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat (opini) dari pemimpin gereja seharusnya tidak dianggap bersifat otoritas. Tentu saja, sekarang, uskup dan biarawan (imam) menuntut ketaatan bahkan ketika mereka mengkutip yang bukan dari Kitab Suci dengan alasan menyebutnya tradisi.

Origen:
Hidup pada tahun 185 sampai 254 AD. Ia menggantikan Clement dari Alexandria di sekolah Kateketik di Alexandria. Ia membuat hampir 18,000 kutipan Perjanjian Baru.

200 AD: Hippolytus:

"There is, brethren, one God, the knowledge of whom we gain from the Holy Scriptures, and from no other source. For just as a man, if he wishes to be skilled in the wisdom of this world, will find himself unable to get at it in any other way than by mastering the dogmas of philosophers, so all of us who wish to practice piety will be unable to learn its practice from any other quarter than the oracles of God. Whatever things, then, the Holy Scripture declare, at these let us look; and whatsoever things they teach, these let us learn; and as the Father wills our belief to be, let us believe; and as He wills the Son to be glorified, let us glorify Him; and as He wills the Holy Spirit to be bestowed, let us receive Him. Not according to our own will, nor according to our own mind, nor yet as using violently those things which are given by God, but even as He has chosen to teach them by the Holy Scriptures, so let us discern them." (Hippolytus, Against Noetus, ch 9)

And certain other (heretics), contentious by nature, (and) wholly uniformed as regards knowledge, as well as in their manner more (than usually) quarrelsome, combine (in maintaining) that Easter should be kept on the fourteenth day of the first month, according to the commandment of the law, on whatever day (of the week) it should occur. (But in this) they only regard what has been written in the law, that he will be accursed who does not so keep (the commandment) as it is enjoined. They do not, however, attend to this (fact), that the legal enactment was made for Jews, who in times to come should kill the real Passover. And this (paschal sacrifice, in its efficacy,) has spread unto the Gentiles, and is discerned by faith, and not now observed in letter (merely). They attend to this one commandment, and do not look unto what has been spoken by the apostle: "For I testify to every man that is circumcised, that he is a debtor to keep the whole law." In other respects, however, these consent to all the traditions delivered to the Church by the Apostles. (Hippolytus. Refutation of All Heresies, book 8, ch 11, The Quartodecimans).

Keterangan untuk Hippolytus

Ini adalah kontradiksi dan penyanggahan (penyangkalan) terhadap cara pandang Roma Katolik modern dan Ortodoks. Meskipun Hyppolitus Meskipun Hyppolytus sepenuhnya sadar bahwa Injil pertama kali diberitakan (dikhotbahkan) 100% secara lisan melalui para rasul dan nabi bahkan sebelum buku pertama dari Perjanjian Baru ditulis, pada sekitar 200 AD, ia mengakui bahwa Kitab Suci adalah sumber otoritas satu-satunya. Hal ini juga membuktikan bahwa meskpun Hyppolytus mungkin juga mengakui bukti tradisi gereja, ia melihat bahwa tradisi akhirnya diturunkan dari Kitab Suci, karena tidak ada para rasul yang diilhamkan (diinspirasikan) yang masih hidup yang dengannya sesuatu dapat dirundingkan (dikonsultasikan).

Quartodecimans (14th Day Christians: Nissan 14 & Easter controversies) menghitung tanggal untuk Paskah menurut Hukum Musa. Hippolytus adalah uskup Roma dan untuk alasan yang tidak diketahui, muncul dengan jalan yang sepenuhnya baru untuk menghitung tanggal untuk Paskah. (Easter) Apa yang begitu penting tentang contoh ini adalah bahwa Hyppolytus mencap orang-orang Quartodecimans dan menyebut mereka bidah. Namun Quartodecimans melakukannya menurut apa yang Alitab katakan) dan menjaga (memelihara) tradisi 1700 tahun Yahudi kuno dalam menghitung Paskah yang jatuh pada Nissan 14. Tetapi penghitungan Yahudi mempunyai maksud bahwa Paskah (Easter) jatuh pada hari yang berbeda tiap minggu dan gereja Roma tidak menyukai hal ini dan menginginkan Paskah selalu jatuh pada hari Minggu.
Jadi, bertentangan dengan Kitab Suci dan tradisi, mereka akhirnya menyanggah (menyatakan tidak sah) cara pandang Quartodeciman dengan kredo Nicene. Hyppolytus menekankan bahwa Quartodecimans menjaga semua tradisi kerasulan, kecuali penolakan mengenai bagaimana cara menghitung Paskah dengan benar. Sekarang Easter Controversy (Kontroversi Paskah) adalah suatu contoh bagaimana doktrin buatan manusia mulai merasuki (merembes) kedalam gereja dengan praktek yang tidak pernah dilakukan sekalipun oleh praktek abad pertama. Perayaan Paskah Tahunan tidak diketemukan satupun baik itu dalam kitab suci maupun bapa gereja.
Apa yang kita temukan dalam bapa gereja adalah bahwa hari Minggu adalah perayaan dari kebangkitan Kristus. Kita menjaga (memelihara) hari kedelapan (hari Minggu) dengan sukacita, hari yang juga dimana Yesus bangkit dari kematian (The Epistle of Barnabas, 100-130 AD,ch 15).

Jadi, disini kita mempunyai uskup Roma, yang bertentangan baik itu dengan Kitab Suci maupun tradisi gereja mula-mula. Hal ini tidak pernah dibereskan karena Paskah (Easter) adalah hari suci buatan manusia.
Kristus tidak pernah mengatakan untuk mengingat kelahirannya pada Christmas (hari Natal), tetapi mengatakan untuk memperingati kematiannya ....dan tidak sekali setahun menurut Paskah, tetapi setiap Hari Tuhan (Lord's Day), melalui komuni (persekutuan ...> dengan roti dan anggur sama seperti ketika Yesus mau ditangkap, mungkin ini artinya --red). Oleh karena itu Easter (Paskah) pada gereja mula-mula adalah suatu peristiwa yang dilakukan tiap minggu.

Dalam hal lain, kita merayakan Natal (Christmas) karena kita ingin mengenang kelahiran-Nya dimana pd saat itu, Firman ALLAH yg maha kuasa, merendahkan diri-Nya, keluar dari kemuliaan-Nya dan menjadi manusia untuk hidup bersama manusia.

Cyprian pada tahun 250 AD, berkata dalam Easter Controversy :
Mereka yang berada di Roma tidak memeriksa hal itu pada semua hal yang disampaikan dari semula (mula-mula) dan dengan sia-sia menganggap diri otoritas dari rasul.(Cyprian, Epistle 74,6)
Ini adalah kabar buruk bagi pihak Roma Katolik yang mengklaim otoritas kerasulan yang tidak terputus yang kembali pada abad pertama.

Hingga akhir abad ke 3, hampir keseluruhan Perjanjian Baru dapat di rekonstruksi dari karya-karya Bapa-bapa Gereja.

180 AD: Clement of Alexandria:

"But those who are ready to toil in the most excellent pursuits, will not desist from the search after truth, till they get the demonstration from the Scriptures themselves."
(Clement of Alexandria, book 7, ch 16, Scripture the Criterion by Which Truth and Heresy are Distinguished)

."For we have, as the source of teaching, the Lord, both by the prophets, the Gospel, and the blessed apostles, "in divers manners and at sundry times," [Heb 1:1] leading from the beginning of knowledge to the end. He, then, who of himself believes the Scripture and voice of the Lord, which by the Lord acts to the benefiting of men, is rightly [regarded] faithful." ... "For those are slothful who, having it in their power to provide themselves with proper proofs for the divine Scriptures from the Scriptures themselves, select only what contributes to their own pleasures. And those have a craving for glory who voluntarily evade, by arguments of a diverse sort, the things delivered by the blessed apostles and teachers, which are wedded to inspired words; opposing the divine tradition by human teachings , in order to establish the heresy"
(Clement of Alexandria, book 7, ch 16, Scripture the Criterion by Which Truth and Heresy are Distinguished)

Keterangan untuk Clement of Alexandria

Alangkah pernyataan anti-Katolik yang indah yang diucapkan oleh Clement! Clement tidak akan menerima berbagai doktrin (pengajaran), sampai dia dapat melihat bahwa itu jelas-jelas diajarkan dalam kitab suci.

Clement menunjukkan urutan wahyu yang dimulai oleh Yesus, bergerak melalui para nabi, kemudian berhenti pada injil yang tertulis. Perhatikan, bahwa pada akhir prosesnya, orang Kristen, dari dirinya sendiri (menggunakan kekuatannya dalam penafsirannya) percaya kepada kitab suci. Perhatikan bahwa Clement menyebut pemalas yaitu kepada orang yang tidak mengerjakan penafsiran Alkitab bagi dirinya sendiri.

Guru palsu ini (aliran bidah) hanya dengan ceroboh memegang segala sesuatu yang mereka temui untuk mendukung pengajaran (doktrin) mereka tanpa melalui studi (pembelajaran) yang tepat. Sekali lagi, pernyataan ini kedengarannya mirip untuk ditujukan kepada Katolik Roma atau Ortodoks‚ karena mereka malas dan ingin agar para imamlah (seperti Paus, kardinal, uskup, dan para biarawan) yang menceritakan kepada mereka apa yang Alkitab katakan, daripada bekerja dan mempelajari kitab suci bagi diri mereka sendiri.


Kebiasaan dan Praktek sebagai Tradisi Kerasulan Lisan

Adalah benar bahwa Gereja Pertama juga berpegang kepada konsep tradisi bila merujuk kepada kebiasaan dan praktek-praktek gerejawi. Kerap dipercaya bahwa praktek-praktek seperti itu sebenarnya diturunkan para Rasul, walau begitu semua itu tidak dapat begitu saja disahkan dari Ayat Suci. Praktek-praktek ini, bagaimanapun, tidak termasuk doktrin-doktrin keimanan, dan sering bertentangan diantara berbagai segmen Gereja.

Contohnya ditemukan pada awal abad ke 2 di dalam perdebatan tentang waktu perayaan Paskah. Beberapa Gereja di Timur merayakannya pada hari yang berbeda dengan gereja-gereja di Barat, masing-masing menyatakan bahwa praktek mereka diturunkan secara langsung kepada mereka dari para rasul. Ini benar-benar mengakibatkan konflik dengan Uskup Roma yang menuntut para Uskup Timur untuk tunduk kepada praktek gereja Barat. Mereka menolak melakukannya, dengan tegas mempercayai bahwa mereka mengikuti tradisi kerasulan.

Manakah yang benar...?
Tidak mungkin untuk menentukan yang mana, jika keduanya, adalah benar-benar berasal dari Kerasulan.
Adalah menarik, bagaimanapun, melihat bahwa satu dari para pendukung pandangan Timur adalah Polycarp, yang merupakan murid Rasul Yohanes. Ada banyak contoh lainnya mengenai pernyataan senada dalam sejarah Gereja. Hanya karena satu Bapa Gereja tertentu menyatakan bahwa suatu praktek tertentu tersebut adalah berasal dari kerasulan bukan berarti bahwa itu memang sebagaimana adanya. Maksudnya adalah bahwa ia memang mempercayainya. Namun adalah mustahil untuk membuktikan bahwa itu adalah tradisi para Rasul.

Ada banyak praktek yang dilakukan Gereja Awal yang konon bermula dari Kerasulan (dicatat oleh Basil yang Agung), namun tidak dipraktekkan sekarang. Jelaslah oleh karena itu, seruan-seruan senada terhadap Tradisi kerasulan lisan yang merujuk kepada kebiasaan dan praktek-praktek adalah tak memiliki arti.

Seruan Gereja Katolik Roma terhadap Tradisi sebagai suatu kekuasaan adalah tidak sah.

Gereja Katolik Roma menyatakan memiliki suatu Ajaran Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Suci, dan yang mengikat manusia. Mereka merujuk pada pernyataan Paulus dalam 2 Tesalonika 2:15: "Sebab itu, saudara-saudaraku, berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang diajarkan padamu, baik secara lisan maupun secara tertulis".

Katholik Roma menegaskan bahwa, berdasarkan ajaran Paulus dalam ayat ini, ajaran sola Scriptura adalah salah, karena ia menyampaikan ajaran-ajaran kepada penduduk Tesalonika secara lisan maupun tertulis. Namun yang menarik dalam penegasan tersebut adalah bahwa para pendukung Katholik Roma tidak pernah mendokumentasikan doktrin-doktrin khusus Paulus yang mereka katakan ada pada mereka, dan menurut mereka mengikat manusia. Dari Francis de Sales hingga karya-karya Karl Keating dan Robert Sungenis terdapat ketiadaan yang amat nyata tentang dokumentasi dari doktrin-doktrin khusus yang Rasul Paulus tunjukkan.

Sungenis mengedit suatu buku sebagai pembelaan bagi ajaran Katolik Roma tentang tradisi yang berjudul Not By Scripture Alone. Karya ini dipuji sebagai suatu sangkalan yang pas terhadap ajaran Protestant tentang sola Scriptura (hanya Ayat Suci). Bukunya terdiri dari 627 halaman.Tak sekalipun dalam buku itu pengarang menjelaskan kandungan doktrinal dari apa yang dianggap sebagai Tradisi kerasulan yang mengikat semua manusia.
Bagaimanapun, kita diberitahu bahwa itu ada, bahwa Gereja Katolik Roma memilikinya, dan bahwa kita diikat, oleh karena itu, supaya tunduk pada gereja ini yang memiliki wahyu Tuhan secara utuh dari para Rasul.

Apa yang Sungenis dan pengarang Katolik Roma lainnya gagal untuk menjelaskan, adalah isi dan doktrin-doktrin yang jelas dari apa yang disebut “Tradisi kerasulan”. Alasan sederhana bahwa mereka tidak melakukannya adalah karena itu tidak ada. Bila tradisi seperti itu ada dan penting mengapa Cyril dari Yerusalem tidak menyinggungnya dalam Kuliah-kuliah Kateketik (Catechetical Lectures) karyanya...?

Satu-satunya wahyu khusus yang manusia miliki sekarang dari Tuhan yang disampaikan kepada para Rasul adalah Scripture Tertulis.

Ini adalah keyakinan dan praktek Gereja pertama. Prinsip ini dianut oleh para Reformis. Mereka mencoba untuk mengembalikan itu kepada Gereja setelah korupsi kedoktrinan masuk lewat pintu tradisi.

Ajaran tentang suatu bagian yang terpisah dari wahyu kerasulan yang dikenal sebagai Tradisi yang adalah lisan sifatnya berkembang bukan dengan Gereja Kristen tapi lebih dengan ajaran Gnostic. Ini adalah usaha kaum Gnostic untuk mendukung kekuasaan mereka dengan memaksakan bahwa Ayat-ayat Suci tidaklah cukup. Mereka menyatakan memiliki wahyu Kerasulan yang utuh karena mereka tidak hanya memiliki wahyu yang tertulis mengenai kerasulan dalam Ayat-ayat Suci tapi juga tradisi lisannya, dan juga, kunci untuk menafsirkan dan memahami wahyu tersebut.

Sebagaimana Para Bapa Gereja awal membantah ajaran tersebut dan menegaskan dengan suatu kepercayaan terbatas terhadap dan seruan kepada Skriptur tertulis, maka kita juga harus.

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku" Yohanes 10:27.



Source :
Om Google yg baik hati dan tidak sombong