Sabtu, 04 Juni 2011

Tischendorf Menemukan Kembali Harta Alkitab

BERABAD-ABAD yang lampau, mendapatkan alat tulis tidaklah semudah sekarang. Lembaran-lembaran perkamen atau bahan lainnya digunakan lagi dengan cara mengerik atau menghapus tinta pada naskah yang sudah tidak dibutuhkan. Hasilnya dikenal sebagai palimpsest, kata yang berasal dari bahasa Yunani, yang artinya ”dikerik lagi”. Bahkan, ada naskah Alkitab yang dikerik dari halaman-halamannya yang terbuat dari kulit (vellum), agar halaman-halaman itu dapat digunakan lagi untuk mencatat informasi lain.
Salah satu palimpsest Alkitab yang terkenal adalah Kodeks Efraem Siria reskriptus. Reskriptus artinya ”ditulis di atasnya”. Kodeks ini sangat berharga karena merupakan satu-satunya salinan tertua dari beberapa bagian Kitab-Kitab Yunani Kristen yang masih ada. Karena itu, kodeks ini menjadi salah satu sumber terbaik untuk meneguhkan keakuratan bagian dari Firman Allah tersebut.
Teks Alkitab yang awalnya terdapat pada kodeks abad kelima ini telah dihapus pada abad ke-12 M, lalu kodeks itu ditulisi lagi atau ditimpa dengan terjemahan 38 buah khotbah pakar Siria bernama Efraem dalam bahasa Yunani. Pada akhir abad ke-17, untuk pertama kalinya para pakar melihat teks Alkitab yang tertulis di bawahnya. Selama beberapa tahun berikutnya, ada kemajuan dalam memulihkan tulisan yang semula terdapat pada manuskrip itu. Namun, ternyata sangat sulit untuk dapat membaca semuanya karena terhapus, tintanya sudah kabur dan samar-samar, banyak lembarannya robek-robek, dan teksnya tumpang-tindih. Bahan-bahan kimia digunakan pada manuskrip dalam upaya untuk memperjelas dan membaca kembali teks Alkitabnya—tidak membuahkan banyak hasil. Maka, kebanyakan pakar menyimpulkan bahwa secara keseluruhan bahan yang terhapus itu mustahil dipulihkan kembali.
Pada awal tahun 1840-an, Konstantin von Tischendorf, seorang linguis yang mahir berkebangsaan Jerman, berupaya keras untuk mempelajari kodeks itu. Tischendorf menghabiskan dua tahun untuk bisa membaca kembali kodeks itu. Apa yang membuatnya berhasil sedangkan yang lain-lain gagal?
Tischendorf memiliki pemahaman yang saksama tentang tulisan uncial Yunani—yang menggunakan huruf kapital yang besar-besar serta terpisah.* Karena dikaruniai penglihatan yang baik, ia mendapati bahwa hanya dengan menaruh perkamen itu menghadap cahaya, ia dapat melihat teks aslinya. Untuk melakukan hal yang sama dewasa ini, para pakar menggunakan alat optik, termasuk sinar inframerah, ultraviolet, dan sinar yang terpolarisasi.
Tischendorf menerbitkan naskah yang dipulihkan atau diartikannya dari Kodeks Efraem itu pada tahun 1843 dan 1845. Hal ini membuat dia terkenal sebagai pakar tulisan-tulisan kuno berbahasa Yunani.
Kodeks Efraem berukuran 31 sentimeter kali 23 sentimeter, dan merupakan contoh manuskrip paling awal yang hanya terdiri dari satu kolom per halaman. Dari 209 lembar yang berhasil ditemukan, 145 lembarnya berisi bagian-bagian dari semua buku dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen kecuali 2 Tesalonika dan 2 Yohanes. Lembaran-lembaran lainnya memuat terjemahan sebagian Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani.
Kini, kodeks ini disimpan di Perpustakaan Nasional di Paris, Prancis. Dari mana asal usul manuskrip ini tidak diketahui, meskipun Tischendorf berpendapat bahwa itu berasal dari Mesir. Para pakar menilai Kodeks Efraem sebagai satu dari empat manuskrip yang penting dari Alkitab berbahasa Yunani dengan huruf uncial, sedangkan yang tiga lainnya adalah manuskrip Sinaitikus, Aleksandrinus, dan Vatikanus 1209, yang semuanya berasal dari abad keempat dan kelima Masehi.
Berita dari Kitab Suci telah dilestarikan bagi kita secara menakjubkan dalam berbagai bentuk, termasuk palimpsest. Meskipun dalam peristiwa ini ada orang-orang yang karena kurang penghargaan berupaya menghapus teks Alkitab, namun beritanya tetap terpelihara. Hal ini membuat kita semakin yakin akan kata-kata Petrus, ”Perkataan Yehuwa tetap untuk selama-lamanya.”—1 Petrus 1:25.

[Catatan Kaki]
* Tischendorf lebih terkenal karena temuannya di Biara St. Catherine yang terletak di kaki Gunung Sinai, yakni sebuah terjemahan Kitab-Kitab Ibrani dalam bahasa Yunani—salah satu naskah tertua yang pernah ditemukan. Manuskrip itu dikenal sebagai Kodeks Sinaitikus.
Salinan dari MP 1/9/09

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar