Kamis, 02 Juni 2011

TUHAN Yesus Tentang Poligami dan Perceraian

Yesus meluruskan pandangan tentang poligami dan tidak membiarkan orang-per-orang mengikuti nafsu-diri dan tegar-tengkuknya untuk mencari-cari celah berpoligami.

Sampai sekarangpun, manusia tidak berhenti berdalih bahwa poligami itu adalah bagian dari perbuatan mulia, sejajar dengan menolong, "mensedekahkan" dirinya kepada perempuan yang belum mandiri atau para janda, atau menyeimbangkan statistik porsi wanita yang jumlahnya lebih banya ketimbang jumlah pria, dst…

Pendalihan bahkan belanjut dengan membawa keabsahan sejumlah nama-nama nabi-nabi dan raja yang berpoligami yang dicatat dalam Alkitab. padahal poligami nabi-nabi dan praktek menceraikan istri dimasa lalu tidaklah berarti bahwa Allah pernah melegalkan hal tersebut. Tak ada sepotongpun Firman dan izin Allah untuk itu. Yesus meluruskannya dan menuding asal-usul kesalahan ini sebagai akibat dari ketegaran hati manusia yang cenderung memaksakan perceraian dan poligami :
Matius 19:4-8
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Terbukti sampai kinipun orang-orang tetap sama memaksakannya dengan pelbagai dalil.

Yesus memperingatkan agar manusia kembali kepada fitrahnya, yaitu bahwa sejak semula Allah men-design institusi perkawinan dengan mempersatukan satu orang laki-laki kepada satu orang perempuan :
Matius 19:4-6
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Begitu seriusnya persatuan dan kesatuan suami istri itu terlihat ketika Yesus mencela kasus peceraian (yang terjadi bukan karena zinah) yang sekalipun sudah terlanjur cerai, namun statusnya masih dianggapNya tetap terikat dalam kesatuan perkawinan.

STATUS-QUO ini dicerminkan lewat ayat-ayat sbb :
"Setiap orang yang menceraikan istrinya, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan siapapun yang kawin dengan perempuan itu, ia berbuat zinah!"
(Matius 1-9; Markus 10:1-12).

MONOGAMI YESUS 

Matius 19:5
"Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya (bentuk tunggal), sehingga keduanya itu menjadi satu daging."

KJV, And said, For this cause shall a man leave father and mother, and shall cleave to his wife: and they twain shall be one flesh?

TR Translit, "KAI EIPEN ENEKEN TOUTOU KATALEIPSEI ANTHROPOS TON PATERA KAI TEN METERA KAI PROSKOLLETHESETAI TE GUNAIKI AUTOU KAI ESONTAI OI DUO EIS SARKA MIAN"
Tunggal:
Nominatif, GUNE
Genitif, GUNAIKOS
Datif, GUNAIKI
Akusatif, GUNAIKA

Jamak:
Nominatif, GUNAIKES
Genitif, GUNAIKON
Datif, GUNAISIN
Akusatif, GUNAIKAS

Kita lihat juga rujukan ayat-ayat lain dalam Perjanjian Baru :
Efesus 5:33 "
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu (bentuk tunggal) seperti dirimu sendiri dan isteri (bentuk tunggal) hendaklah menghormati suaminya."

KJV, Nevertheless let every one of you in particular so love his wife even as himself; and the wife see that she reverence her husband.

TR Translit, "PLEN KAI HUMEIS HOI KATH HENA HEKASTOS TEN HEAUTOU GUNAIKA HOUTOS AGAPATO HOS HEAUTON HE DE GUNE HINA PHOBETAI TON ANDRA"
Titus 1:6
"yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu istri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib."

KJV, If any be blameless, the husband of one wife, having faithful children not accused of riot or unruly.

TR Translit, "EI TIS ESTIN ANEGKLETOS MIAS GUNAIKOS ANER TEKNA EKHON PISTA ME EN KATEGORIA ASOTIAS E ANUPOTAKTA".

Itulah monogami ajaran Yesus yang tidak berkompromi dengan pelbagai akal-akalan zinah dan cerai-modern yang mengatasnamakan macam-macam istilah dan "kepraktisannya", antara lain :
1. Poligami sosial, demi menolong si-dia dan/ atau keluarganya
2. Kawin kontrak, demi menghindari zinah kepelacuran, atau melonggarkan ikatan seumur hidup yang sulit diantisipasikan.
3. Free-sex atas dasar suka-sama suka, tak akan merugikan siapa-siapa, mutlak urusan prive.
4. Kumpul-kebo, uji-coba perkawinan untuk mengurangi resiko cerai, serta meringankan dosa zinah, dan menghemat biaya perkawinan.
5. Cerai karena tidak cocok, daripada-daripada hidup seperti di neraka, setiap hari berdosa ?
6. Cerai karena mandul, kan kawin untuk itu, untuk pembenihan generasi ? Dll.

Hubungan suami-istri yang dianggap tidak lagi menguntungkan, melainkan yang membawa penderitaan tragis, kini telah menjadi dasar yang absah untuk perceraian. Istilah tipuan untuk menjagoi perecraian adalah : DARI PADA. "Daripada-daripada hidup seperti di neraka, lebih baik…." dan Anda tahu apa terusan kalimatnya! (bercerai, bunuh diri, membunuh si dia, membakar/ meracuni …ooh…begitu mengerikan!).

Namun perkawinan yang dianggap gagal belum mesti gagal. Paradigma, ekspektasi (harapan) dan usaha, masih bervariasi sangat luas yang dapat diteroboskan secara determinatif didalam Tuhan. Perkawinan yang "gagal" bukanlah suatu neraka-final. Ia adalah sebuah perjalanan keras, pencobaan berat. Sebaliknya, perceraian yang "sukses", bukanlah sukses kehidupan. Malahan dihadapan Tuhan "perceraian sukses" adalah lebih gagal ketimbang "perkawinan yang dianggap gagal". Perecraian sukses ini bukan keluar dari neraka, melainkan sedang masuk kedalam neraka-zinah, baik bagi suami maupun istrinya. Tidak banyak lagi pasangan yang sadar bahwa itu adalah tipu-daya dan cengkeraman setan.

Kita percaya pasangan yang siap-siap cerai telah berjuang keras mencoba segala sesuatu. Mengandalkan teman dan famili, penasihat perkawinan, sampai-sampai kepada "orang-pintar" dan pengacara-perceraian. Namun kita lebih percaya bahwa mereka belum cukup berseru melibatkan Yesus yang Imanuel, "Allah yang menyertai kita" yang berjanji : "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5).

Suami dan istri yang siap-siap bercerai adalah orang-orang yang rebutan menempatkan dirinya masing-masing menjadi penguasa rumah-tangga. Mereka lupa bahwa Tuhanlah kepala-keluarganya yang sejati, sebab cinta dan perkawinan itu adalah design Tuhan. Namun seringkali Tuhan tidak dilibatkan dalam kasus yang satu ini secara memadai, dalam kuasa Roh Kudus. Padahal Yesus berjanji bahwa : "Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."(Lukas 11:13). Dan Dia membuktikannya kepada murid-muridNya : "Terimalah Roh Kudus" (Yohanes 20:22) yang memampukan murid-murid ini menghadapi segala medan perjuangan tanpa kecuali, hingga mati! Ini adalah kuasa ilahi yang memampukan kita untuk mematahkan supremasi setan, yang tidak bisa kita patahkan sendirian dengan akal Einstein. Sebab "segala perkara dapat kutangung didalam Dia (bukan diluarnya) yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 3:14). Sangat banyak sekali kesaksian yang bisa diberikan, bahwa jiwa yang tak putus-putusnya menjerit memohon belas-kasih Tuhan – Sang designer perkawinan – mendapati rumah-tangganya dipulihkan kembali pada saat yang "mustahil".




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar