29 Desember 2022

Pentingnya Makna Kebangkitan Yesus Bagi Persekutuan Jemaat (Tubuh Kristus)

 

BPJ GKII Adonay bersama tamu undangan

Ketika Yesus bangkit dari kematian, Dia tidak saja mendamaikan hubungan kita dengan Allah tetapi juga satu sama lain. Kematian Yesus untuk menyelamatkan setiap orang berdosa yang berkenan kepada-Nya dan mengembalikan mereka kedalam komunitas yang dirancang Allah bagi mereka.

Didalam Efesus 5:23-30, Paulus menjelaskan bagaimana Yesus memberikan hidup-Nya bagi segenap umat pilihan yang berada didalam Komunitas umat Allah yang menjadikan Dia sebagai Juruselamat mereka, kita mengenal Komunitas ini sebagai umat Kristen (Kis 11:26) dan Alkitab mengenalkan Komunitas ini sebagai Persekutuan Jemaat (umat) Kristus.

Keselamatan yang kita terima sebagai individu tidak dapat dipisahkan dari Komunitas umat Allah, karena kita telah menerima keselamatan itu maka kita menjadi bagian dari Komunitas tersebut.

Komunitas ini meliputi semua orang yang telah ditebus tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dimana pun mereka berada saat ini, Pengakuan Iman Rasuli mengenalkan Komunitas ini sebagai Persekutuan Orang Kudus. Jadi, ketika menjadi bagian dari sebuah Gereja lokal, kita benar-benar terjalin didalam iman dengan orang lain yang telah lahir baru didalam Kristus.

Perjanjian Baru menggunakan beberapa kata yang menggambarkan komunitas ini, salah satu yang menarik menunjukkan betapa hidup kita menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas ini setelah kita menerima anugerah keselamatan.

Paulus juga menggambarkan bagaimana kita bersama-sama adalah Tubuh Kristus dan kita semua adalah bagian-bagian yang berbeda. Beberapa dari kita ada yang menjadi kaki, tangan, telinga dsb; sama seperti tubuh jasmani kita bekerja dengan baik apabila setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya seperti yang sudah dirancangkan Tuhan (1 Korintus 12:12-27).

Hubungan didalam komunitas ini mempunyai lebih dari satu fungsi, kita bertumbuh secara rohani melalui hubungan kita dengan anggota tubuh yang lain.

Efesus 4:16 (TB) Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Kehidupan rohani kita juga bergantung dengan bagaimana kita berhubungan dengan sesama, anggota Tubuh Kristus yang lain, sama seperti setiap bagian tubuh fisik kita yang perlu tetap berhubungan satu sama lain supaya dapat tetap hidup.

Alkitab selanjutnya mengatakan bahwa hubungan didalam Persekutuan ini disebut Keluarga Allah.

Efesus 2:19-20 (TB) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Dan didalam Keluarga Allah ini, Tuhan berkenan supaya kita memanggil Dia, "Bapa", dan kita adalah anak-anakNya. Setiap jemaat didalam Persekutuan ini telah menjadi saudara seiman didalam Tuhan. Dan sebagai keluarga, sudah selayaknya kita untuk menghidupi ajaran-ajaran dari Alkitab yang mengajarkan tentang prinsip "saling", seperti saling mengasihi (Yoh 13:34), saling mendoakan (Yakobus 5:16), saling menghormati (Galatia 12:10), saling mengampuni (Efesus 4:32) bahkan saling menegur dan menasihati (1 Tesalonika 5:14, 2 Timotius 4:2) serta masih banyak lagi yang lain yang mana prinsip "saling" ini menurut Yesus adalah ujian sekaligus bukti dari hubungan yang kita miliki dengan Dia.

Yohanes 13:35 (FAYH) Kasih kalian yang teguh seorang kepada yang lain akan membuktikan kepada dunia ini, bahwa kalian adalah murid-murid-Ku.

Mengapa semua ini diperlukan...?

Mengapa Tuhan begitu mementingkan hubungan kita didalam Keluarga-Nya...?

Stanley Grenz dan John Franke menjelaskan:

Pada inti pemahaman kita tentang Gereja ada kesadaran bahwa panggilan kita sebagai manusia adalah untuk mencerminkan karakter Ilahi. Memang ada aspek personal didalam panggilan ini. Meskipun demikian, karena Allah adalah Pribadi-Pribadi yang Esa didalam hubungan Tritunggal, ada suatu hubungan yang ditandai dengan kebersamaan yang hanya dapat digambarkan sebagai Kasih, manusia sebagai imago dei (gambar Tuhan) -- dalam hubungannya dengan peristiwa penciptaan (Kejadian 1:27) -- seharusnya adalah pribadi-pribadi dalam hubungan kasih. Hanya dalam relasi -- sebagai pribadi-pribadi didalam komunitas -- kita mampu mencerminkan kepenuhan karakter Ilahi. Dan karena kumpulan murid-murid Kristus dipanggil untuk menjadi citra Ilahi, Persekutuan Jemaat (Gereja) ada dasarnya adalah sebuah komunitas yang ditandai oleh Kasih, orang-orang yang mencerminkan karakter Sang Pencipta dalam hubungan satu sama lain dan dengan semua ciptaan.

Oleh:

Stanley J. Grenz dan John R. Franke

Beyond Foundationalism: Shaping Theology in a Postmodern Context.

(Louisville, KY: Westminster John Knox Press 2001), hlm 228.

Ketika kita menghidupi prinsip "saling" didalam Keluarga Tuhan, kita menunjukan karakter Ilahi untuk dapat dilihat oleh dunia.

Tujuannya tidak hanya untuk menarik perhatian, kehadiran Komunitas yang sejati akan menggerakkan orang-orang yang belum mengenal Kristus -- iman yang timbul oleh pendengaran dan kesaksian sehingga Roh Kudus bekerja didalam hati mereka untuk mengenal Kristus -- karena mereka juga diciptakan untuk mengalami hubungan tersebut didalam Gereja sehingga mereka juga mendapat bagian untuk menjadi umat pilihan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

 

Daftar pustaka:

Mark Tabb -- Mari Berfikir Tentang Teologi Apa Yang Kita Yakini?

 

Oleh:

Sesandus Demaskus

Jemaat GKII Adonay desa Mekar Baru, Kab. Kubu Raya, Kalbar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar