Minggu, 02 September 2012

Benarkah Yesus Kristus Adalah Copycat Osiris...?

Dengan mengamati ciri-ciri yang akan saya paparkan di kalimat selanjutnya, apakah Anda dapat menebak siapakah tokoh yang saya maksudkan…?
Ia adalah seorang manusia-ilahi. Ia dibunuh, dan kemudian dibangkitkan kembali. Ia disembah oleh manusia, dan dipercaya sebagai penguasa alam maut, pemberi kehidupan dan kebangkitan.
Siapakah dia…?
Ciri-cirinya tidak terdengar asing bukan…?
Maka tidak akan terasa aneh jika saya temukan jawaban spontan orang Kristen seperti ini (meminjam kalimat Petrus): Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!
Tetapi sebenarnya tokoh yang ingin saya gambarkan dengan ciri-ciri di atas adalah Osiris. Ia adalah dewa kematian yang disembah oleh orang Mesir sejak paling tidak dua milenium sebelum Kristus datang ke dunia. Mungkin ini membuat sebagian dari kita sangat terkejut, karena kita tidak akrab dengan agama-agama Timur Tengah kuno. Kisah hidup dewa ini memang mempunyai beberapa paralel dengan kisah Yesus Kristus, seperti yang sudah dituliskan di atas.
Sebagai seorang Kristen yang diperhadapkan dengan informasi di atas, apa yang mungkin terpikirkan oleh Anda…?
Apakah Anda merasa biasa-biasa saja…?
Atau sebaliknya, logika Anda yang lincah itu mulai bermain-main dengan hipotesa-hipotesa yang tampaknya masuk akal, menghubung-hubungkan satu cerita dengan cerita yang lain, dengan bantuan frase yang merangsang imajinasi: “Bagaimana jika …?
Bagaimana jika Yesus yang kita kenal sekarang bukanlah Yesus yang ada dalam sejarah…?
Bagaimana jika Yesus yang kita sembah hari ini hanyalah manusia biasa yang, karena manipulasi para rasul dan penulis kitab Injil, kita kenal dalam bungkusan kejadian-kejadian menarik dan spektakuler dari mitos-mitos Mesir kuno…?
Bagaimana jika para penulis Injil ternyata memplagiat cerita populer yang sudah beredar beribu-ribu tahun di Timur Tengah, lalu menghubung-hubungkannya dengan konteks Yudaisme mereka, sehingga terciptalah sebuah kisah yang sangat unik…?

Menariknya adalah, di dalam sejarah gereja, tampaknya hampir tidak ada yang mempermasalahkan kesamaan ciri-ciri tersebut, sampai tahun 1922, Sir James Frazer menerbitkan buku “The Golden Bough“. Melalui buku tersebut, ia mempopulerkan hipotesanya bahwa cerita tentang Yesus yang kita kenal hari ini bukanlah cerita yang sebenarnya. Ia menyebutnya 'The Christ Myth'. Di dalam buku tersebut, ia menjelaskan kisah dari dewa-dewa kuno seperti Adonis, Attis, Osiris, Isis, dan Dionysus dan juga penyembahan kepada dewa-dewa ini. Kemudian ia bermain-main dengan ‘bagaimana jika ...’ yang kita coba gunakan tadi di paragraf sebelumnya. Setelah ‘mencocokkan’ semua puzzle yang dibuatnya, konklusinya berbunyi : Kristus adalah mitos.
Banyak tulisan sudah diterbitkan untuk mengkritik isi buku tersebut, dan sepertinya pada masa sekarang, sudah banyak sekali ahli yang meninggalkan argumentasinya. Ada yang mengatakan, ini disebabkan antara lain oleh sumber Frazer yang tidak akurat atau relevan, dan pemanfaatannya yang tendensius. Selain itu, bukti-bukti terbaru bukannya mendukung hipotesanya, tetapi malah menggugurkannya.[1]

Meskipun buku Frazer tersebut sudah mulai ditinggalkan, akhir-akhir ini tampak cukup banyak penulis yang melanjutkan perjuangannya. Salah seorang di antaranya adalah Acharya S. (nama aslinya adalah D. M. Murdock), yang menulis buku “The Christ Conspiracy” (1999). Di dalam bukunya, Murdock berhipotesa bahwa agama Kristen lahir dari sekumpulan kaum Mason (kelompok kebatinan) dari bangsa Yahudi maupun kafir yang berkumpul di suatu tempat, kemudian meramu cerita tentang Yesus dan para rasul untuk merancang sebuah sistem agama yang diharapkan dapat berfungsi sebagai agama Kerajaan Roma dan pemersatu seluruh dunia.

Sebuah artikel panjang kemudian ditulis oleh Mike Licona untuk melawan buku ini.[2] Di dalamnya, Licona membantah argumen Murdock dengan mengutip atau bertanya pada ahli yang berotoritas di dalam bidangnya. Misalnya, Murdock berpendapat bahwa ide tentang juruselamat yang disalibkan dipinjam oleh agama Kristen dari cerita Krisna. Untuk mendapat dukungan dari orang yang memang berotoritas di dalam agama Hindu, Licona mengkonsultasi Dr. Edwin Bryant, Profesor Hinduisme di Rutgers University, yang menerjemahkan Bhagavata-Purana (Kisah Hidup Krisna) untuk Peguine World Classics. Saat Licona menulis artikel itu, Dr. Bryant sedang menulis buku “In Quest of Historical Krishna”. Licona bertanya padanya, apakah yang dikatakan Murdock itu benar. Jawaban yang diberikan cukup pedas, “That is absolute and complete non-sense. There is absolutely no mention anywhere which alludes to a crucifixion.” Belum lagi, Murdock memparalelkan Kristus dengan Buddha, yang karenanya ia mendapat respon yang lebih menyakitkan lagi dari ahli Buddhisme di Rutgers, Profesor Chun-Fang Yu. "[The woman you speak of] is totally ignorant of Buddhism. It is very dangerous to spread misinformation like this. You should not honor [Ms. Murdock] by engaging in a discussion. Please ask [her] to take a basic course in world religion or Buddhism before uttering another word about things she does not know." demikian pesan Professor Yu pada Licona.

Terlihat jelas di sini bahwa Murdock tidak memahami betul apa yang menurut dia dapat mendukung argumentasinya. Pernyataannya tentang banyak hal terbukti tidak tahan uji ketika diperhadapkan dengan ahli yang berotoritas. Tiga di antara tujuh kesimpulan Licona setelah mengomentari buku Murdock adalah: Pertama, Hampir semua sumbernya bersifat secondary   dan mengandung kesalahan di sana-sini. Kedua, Sumber dia banyak berasal dari yang bukan sarjana (scholar). Ketiga, Dia membuat klaim sembarangan tanpa ada dukungan.

Licona menambahkan, bahkan seorang atheis, Dr. Bob Price, yang juga adalah anggota Jesus Seminar, memberi komentar yang merendahkan ketika menulis review untuk “The Christ Conspiracy” (yang kemudian dikutip oleh Licona),
“She is quick to state as bald fact what turn out to be, once one chases down her sources, either wild speculation or complex inference from a chain of complicated data open to many interpretations. One of the most intriguing claims made repeatedly in these books is that among the mythical predecessors of Jesus as a crucified god were the Buddha, the blue-skinned Krishna, and Dionysus. Is there any basis to these claims, which Murdock just drops like a ton of bricks? Again, she does not explain where they come from, much less why no available book on Buddha, Krishna, or Dionysus contains a crucifixion account. . . . When Murdock speaks of the ‘Christ Conspiracy,’ she means it. She really believes that ‘people got together and cooked up’ early Christianity like a network sitcom. And who were these conspirators? The, er, Masons (pp. 334 ff.). It is remarkable how and where some people’s historical skepticism comes crashing to a halt. But it gets much, much weirder than that. We start, in the last chapters, reading bits and pieces drawn from James Churchward, promoter of the imaginary lost continent of Mu; Charles Berlitz, apologist for sunken Atlantis; Zechariah Sitchen, advocate of flying saucers in ancient Akkadia; and of course all that stuff about the maps of the ancient sea kings. The Christ Conspiracy is a random bag of (mainly recycled) eccentricities, some few of them worth considering, most dangerously shaky, many outright looney.(123)”

Selain tidak punya dukungan sumber yang kuat, kelihatannya terdapat masalah logika di dalam pembandingan yang dilakukan oleh Murdock. Sebagai contoh, mari kita lihat beberapa ‘kesamaan’ Horus dengan Yesus yang Murdock permasalahkan: Horus dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan ayahnya bernama Seb (ingat “Joseph”? Karena itu ide cerita Yesus pasti, menurut Murdock, dipinjam dari cerita Horus). Kita tahu bahwa Alkitab sama sekali tidak pernah menyebut tanggal lahir Yesus, dan kesamaan (?) bunyi satu suku kata (“Seb” dengan “-seph”) pada sebuah nama tidak membuktikan apa-apa.

Pemikiran-pemikiran sejenis Frazer dan Murdock ternyata tidak hanya beredar di Barat. Serangan yang serupa terhadap kekristenan juga terjadi di Indonesia. Tahun 2005, penerbit Hikmah menerbitkan buku M. Hashem yang berjudul “Misteri Darah dan Penebusan Dosa”. Dengan tak kenal lelah Hashem memaparkan sederetan panjang dewa-dewa ‘penebus dosa’ dan memperlihatkan kesamaan-kesamaan mereka dengan Yesus. Dengan begitu, diharapkan pembaca menyadari banyaknya peminjaman ide oleh agama Kristen dari agama-agama Timur Tengah Kuno. Namun, di tengah-tengah hujan serangan yang dilontarkan, lega juga melihat bahwa salah satu sumber yang paling sering dikutip oleh Hashem, dan sumber ini diandalkan di hampir semua bab dalam bukunya, adalah “The Christ Conspiracy” karya Acharya S., alias D. M. Murdock, yang sudah diakui oleh para ahli tidak mempunyai dasar dan dukungan kuat. Terhibur, karena kita mengetahui bahwa pihak lawan menembak dengan peluru kosong.

Sebagai sebuah pengamatan yang fair, meskipun dengan riset yang benar maka banyak detail kesamaan yang diajukan oleh Murdock akan sirna, namun agama-agama di Timur Tengah Kuno memang menceritakan tentang dewa yang mati dan bangkit. Lalu apa komentar kita mengenai hal ini…?
Jawaban yang paling cepat untuk mengakhiri diskusi adalah bahwa kita percaya Alkitab adalah firman Tuhan, bukan cerita karangan manusia. Alkitab bersifat self-authentic dan kebenarannya bersifat mutlak dan tidak perlu dibuktikan lagi. Alkitab benar karena Alkitab berkata dirinya benar, sehingga keotentikan Alkitab dikonfirmasikan oleh dirinya sendiri sebagai standar tertinggi di dunia ini. Jadi apa yang dikatakan oleh Alkitab adalah seluruhnya benar, termasuk Yesus Kristus benar-benar mati dan bangkit, serta kematian dan kebangkitan Yesus tidak turun derajatnya dengan adanya fakta bahwa pernah ada agama kuno yang dewanya mati dan bangkit. (Meskipun jika diteliti lebih dalam, konsep ‘mati dan bangkit’ agama-agama kuno tersebut berbeda dengan konsep Kristen).

Tulisan ini dapat kita akhiri sampai di sini, namun marilah kita memperkaya pengetahuan kita dengan melihat peta perdebatan yang terjadi antara penulis Kristen dan lawannya bersangkutan dengan tuduhan plagiat ini. Demikian pesan pengamsal, “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya.” Maka pembaca yang tidak puas dengan jawaban di atas diharapkan dapat menemukan jawaban yang memuaskan di bawah ini.

Banyak respon yang sudah diberikan untuk menjawab tuduhan-tuduhan bahwa Yesus adalah copycat. Usaha yang dilakukan pada umumnya adalah: Pertama, para pembela iman mempelajari cerita dewa-dewa yang diduga memberi inspirasi bagi penulis Injil, lalu mereka menemukan perbedaan yang sangat mencolok, dan dengan demikian menyimpulkan bahwa tidak mungkin cerita tentang Yesus dipinjam dari cerita dewa-dewa kuno tersebut. Kedua, penulis Kristen mengajukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu karya dapat dikatakan mendapat pengaruh dari karya lain, dan menyimpulkan bahwa kesamaan yang terdapat dalam cerita-cerita dewa kuno tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa cerita Injil mendapat pengaruh dari mitos-mitos tersebut.
Namun demikian, jawaban yang diberikan oleh para penuduh Kristen kepada kedua jenis usaha yang dilakukan di atas memang terdengar masuk akal. Mark Smith misalnya, berpendapat bahwa, memang penulis Injil tidak menyalin persis mitos-mitos kuno itu, tetapi mereka mencontek idenya dan menggabungkannya dengan ide mereka sendiri. Plagiat tidak berarti harus sama seratus persen, tetapi yang pasti ada bagian yang adalah contekan. Maka konsep kematian-kebangkitan Kristus tidak harus sama persis dengan konsep kematian-kebangkitan Osiris baru dapat dianggap plagiat.[3]
Untuk menghadapi tuduhan seperti ini, saya memilih mengikuti cara Brian Lawson di dalam memberikan jawaban. Di dalam artikel yang ditulis untuk mengomentari polemik perdebatan antara Mark McFall (Kristen) dengan Farrel Till (lawan), yang mengalami jalan buntu tentang paralel dan kesamaan Yesus dan Osiris, Lawson mengajukan beberapa pertanyaan:[4]
  1. Apakah mungkin bahwa adanya paralel dan kesamaan di antara dua tulisan tidak harus berarti tulisan yang lebih akhir adalah hasil pencurian ide dan modifikasi (“spin-off”) dari tulisan yang lebih awal…?
  2. Berapa banyakkah detail yang harus sama sebagai syarat untuk memastikan bahwa memang terjadi “spin-off”, atau seberapa sedikitkah kesamaan, sebagai syarat untuk membuktikan tidak terjadi “spin-off”…?
  3. Paralel dan kesamaan semacam apa yang dapat dijadikan bukti kuat untuk menentukan bahwa sebuah cerita hanyalah kopian dari cerita yang lain…?
  4. Paralel semacam apa yang dapat meyakinkan orang bahwa cerita yang belakangan ditulis adalah fiksi karena kemiripannya dengan cerita yang pernah ditulis sebelumnya (baik fiksi maupun non-fiksi)…?
Lawson memberikan contoh-contoh yang mematahkan argumentasi bahwa kesamaan yang terjadi antara dua buah cerita harus berarti cerita yang muncul belakangan adalah fiksi. Misalnya, di dalam sejarah Amerika, pernah ada kisah hidup dua orang tokoh yang sangat mirip. Keduanya adalah warga negara Amerika, sama-sama masuk militer, menjadi anggota House of Representatives, menjadi presiden AS, sama-sama Republican, dan kalah di dalam pemilu untuk termal kedua mereka. Orang pertama adalah Gerald Ford, yang kedua adalah George Bush. Apakah dapat ditarik kesimpulan bahwa George Bush adalah tokoh fiksi…?

Ilustrasi kedua yang diberikan oleh Lawson lebih mengena pada kasus yang sedang kita bicarakan, di mana seorang tokoh sejarah mempunyai paralel yang mencengangkan dengan tokoh fiksi yang dibuat lebih awal satu abad darinya. Keduanya adalah laki-laki. Nama belakang mereka sama-sama mempunyai huruf “A” di depan, “D” di tengah, dan “N” di belakang, sehingga bunyi nama belakang mereka hampir sama. Keduanya adalah warga negara AS. Keduanya sama-sama dikatakan pernah melakukan perjalanan ke bulan untuk mengadakan penelitian ilmiah. Keduanya pergi dengan dua orang rekan perjalanan. Keduanya tinggal landas dengan disaksikan penonton dari seluruh dunia. Keduanya berhasil mendarat di bulan. Keduanya berhasil kembali dengan selamat dan mendarat di Samudera Pasifik. Yang satu adalah tokoh fiksi, Michel Ardan, di dalam novel "From the Earth to the Moon" (1865) dan "Round the Moon" (1870) karya Jules Verne. Yang satunya lagi adalah Edwin E. Aldrin yang berangkat ke bulan pada tanggal 16 Juli 1969 dengan Apollo 11 bersama rekan-rekannya, Neil Armstrong and Michael Collins. Berdasarkan paralel yang kita temukan di sini, tentu saja kita tidak perlu menghipotesakan bahwa Edwin Aldrin adalah tokoh fiksi ciptaan pers Amerika yang mendapat inspirasi dari novel Verne.

Bahkan, jika kita kokoh memegang prinsip tidak boleh ada kesamaan di antara dua cerita sebagai syarat untuk membuktikan cerita yang datang belakangan itu bukan fiksi, maka kita harus menerima kesimpulan yang akan sulit sekali kita terima, yaitu bahwa Napoleon Bonaparte adalah tokoh fiksi karangan penulis sejarah, karena kisah hidupnya mengandung sangat banyak paralel dengan dewa matahari, Apollon (Apollo). Apollon adalah kata yang sama dengan Apoleon. Kedua kata tersebut berasal dari akar kata Apollyo atau Apoleo, yang artinya “bunuh”, “hancurkan”. Dikisahkan juga bahwa, sama dengan Apollon, Napoleon dilahirkan di sebuah pulau di Mediterranean. Paralel-paralel yang lain tidak akan dilanjutkan di sini.[5]

Sampai di sini kita dapat mencapai satu titik kesepakatan: Di satu sisi, perbedaan antara mitos kuno dengan cerita Yesus tidak membuktikan ketidakadaan plagiat; tetapi di sisi yang lain, persamaan antara keduanya juga tidak membuktikan adanya plagiat. Maka ini bukanlah jalur yang dapat digunakan untuk menjatuhkan kepercayaan Kristen, sehingga perdebatan berlarut-larut mengenai hal ini hanya akan menabrak jalan buntu. Perdebatan tidak dapat bergerak lebih jauh lagi dari posisi ini, tetapi argumentasi orang Kristen tidak harus berhenti sampai di sini. Yang saya maksudkan adalah, dari awal artikel ini, kita mempermasalahkan keberadaan cerita tentang Yesus di tengah-tengah cerita dewa-dewa Timur Tengah kuno. Namun yang tidak boleh kita lupakan adalah latar belakang di mana Yesus hidup, yaitu Israel dan Yudaisme. Di sinilah sebenarnya kita dapat menemukan paralel yang sebenarnya antara hidup Yesus dengan cerita-cerita “lain”. Daripada paralel dan kesamaan yang dipaksakan oleh para penuduh, di sini kita menemukan betapa hidup Yesus begitu tersulam dan mendarah daging dengan Perjanjian Lama, sehingga posisi kita adalah, kalaupun ada cerita yang mempengaruhi cerita tentang Yesus, itu adalah cerita di dalam Perjanjian Lama.
N. T. Wright menulis sebanyak 1200 halaman (“The New Testament and the People of God” (1992) ditambah “Jesus and the Victory of God” (1996)) untuk menjelaskan hal ini. Menurut N. T. Wright untuk mengenal jati diri Yesus, kita harus bertanya lima pertanyaan berikut:
  1. Bagaimanakah hidup Yesus pas dengan konteks Yudaisme di masa-Nya…?
  2. Apa yang ingin Ia capai…?
  3. Mengapa Ia mati…?
  4. Bagaimana gereja mula-mula terbentuk, dan mengapa mereka mengambil bentuk sebagaimana bentuk mereka pada saat itu…?
  5. Mengapa kitab Injil dapat berbentuk sebagaimana mereka ada sekarang…?
N. T. Wright mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mencoba masuk ke dalam worldview Yudaisme, gereja mula-mula (ini dilakukannya di dalam bukunya “The New Testament and the People of God”) dan worldview Yesus (“Jesus and the Victory of God”).
Ada empat hal menurutnya, yang membentuk sebuah worldview: cerita, pertanyaan, simbol, dan praxis.
Berbicara tentang worldview seseorang selalu melibatkan empat hal ini:
  1. Manusia menceritakan kepada dirinya sendiri sebuah cerita yang dipercayainya menjelaskan realita.
  2. Dari cerita ini, didapatkan jawaban terhadap pertanyaan ‘siapakah kita?’, ‘di manakah kita?’, ‘apa yang salah?’, dan ‘apa solusinya?’.
  3. Cerita dan jawaban-jawaban untuk pertanyaan di atas akan terekspresikan di dalam simbol-simbol yang dapat kita amati dengan indera kita.
  4. Cerita yang diceritakan pada diri sendiri akan terekspresikan ke dalam tindakan sehari-hari (praxis/action).[6]
Di dalam buku pertamanya, N. T. Wright mengontraskan worldview orang Yahudi dan jemaat gereja mula-mula dan memperlihatkan adanya gap yang lebar di antara keduanya.
Mengapa bisa begitu…?
Apa yang dapat menjelaskan peralihan worldview ini…?
Apa penghubung kedua kelompok ini…?
Jawabannya diuraikan di dalam bukunya yang kedua. Penghubung itu adalah Yesus. Yesus bagaikan potongan puzzle yang begitu pas ketika ditempatkan di tengah-tengah gap itu. “Jesus cannot be separated from his Jewish context, but neither can he be collapsed into it so that he is left without a sharp critique of his contemporaries.”[7]
Para sarjana yang berpendapat bahwa Yesus hanyalah seorang guru moral agung sama sekali tidak memperhitungkan konteks Yudaisme di mana Yesus hidup dan apa saja yang dikerjakan Yesus terhadap Yudaisme sehingga mengakibatkan kematian-Nya. ‘Sekedar guru moral’ tidak mungkin menyebabkan Ia diseret ke pengadilan dan disalibkan. Apa yang dikerjakan oleh Yesus…?
Cerita apa yang dia ceritakan…?
Jawaban apa yang Ia berikan untuk ekspektasi dan pengharapan (eskatologi) orang Israel…?
Simbol apa yang menjadi ekspresi worldview-Nya…?
Tindakan apa yang menjadi ekspresi dari cerita yang Ia ceritakan pada Diri-Nya dan orang lain…?

Jika kita menyelidiki ini di dalam kitab Injil, jawaban yang kita dapatkan adalah: cerita yang kontroversial (perumpamaan yang membuat imam-imam, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua marah), jawaban yang kontroversial (Ia adalah Mesias), simbol yang kontroversial (Diri-Nya sebagai pengganti bait suci, yang sudah menjadi simbol Yudaisme selama beratus-ratus tahun), dan tindakan yang kontroversial (mengampuni dosa, “melanggar” hari sabat).

Tidak memungkinkan untuk menjelaskan semua hal di atas sekarang. Karena ruang yang terbatas, dari keempat hal di atas, saya memilih untuk mengangkat tentang cerita yang dikisahkan oleh Yesus, karena dari keempat hal itu, cerita adalah elemen paling mendasar.

Di dalam hidupnya, Yesus menceritakan banyak perumpamaan. Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas tentang satu-satunya perumpamaan dari-Nya, yang membuat pendengar-Nya marah dan ingin membunuh-Nya. Cerita ini sangat membukakan kepada kita bagaimana Yesus memahami Diri-Nya dan realita di sekitar-Nya: perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Mrk. 12:1-11). Perumpamaan ini mengikuti pola alegori dari nyanyian tentang kebun anggur di dalam Yes. 5:1-7. Di dalam perumpamaan ini, Yesus jelas-jelas menarik perbedaan antara Dia dengan orang-orang yang diutus Allah mendahului-Nya, karena mereka adalah ‘hamba’, sedangkan Dia, yang terakhir, adalah ‘anaknya yang kekasih’. Dan di dalam perumpamaan ini Ia menubuatkan kematian-Nya sendiri. Dari cerita ini, kita dapat melihat bagaimana Yesus menegakkan identitas Diri-Nya: Dia adalah utusan Allah yang terakhir, datang untuk mati.

Pada malam perjamuan terakhir, Yesus mengangkat cawan dan berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” Yesus sedang mengacu pada nubuat nabi Yeremia, di mana Tuhan berkata, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka . . .” (Yer. 31:31-34).
Bukti-bukti di atas menyatakan dengan sangat jelas bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus tidak dapat dipisahkan dari konteks Yudaisme-Nya. Perjanjian Lama dipenuhi dengan nubuat-nubuat tentang Dia, dan dikumandangkan untuk mempersiapkan jalan-Nya[8] bahkan dari awal kisah dunia ini diciptakan dan ketika kejatuhan manusia. Tanpa mitos-mitos kuno yang beredar di luar Israel pun, cerita tentang Yesus tetap akan sama dengan cerita yang kita dengar hari ini. Dari semua dewa-dewa yang konon mengalami kematian dan kebangkitan, Yesuslah Sang Domba sejati, yang disembelih bagi kita, yang sudah bangkit dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa untuk memerintah dunia.
Terpujilah Dia !!!.
Ada implikasi yang mendesak dibalik argumentasi yang dibangun di seluruh artikel ini. Jika Yesus hanyalah variasi dari Osiris, Ia hanya perlu ditempatkan di dalam buku sejarah, menjadi cerita dongeng sebelum tidur, dan menjadi salah satu dewa yang sudah boleh ditinggalkan manusia karena tidak relevan lagi. Namun realitanya bukan demikian adanya, Yesus benar-benar adalah Sang Mesias, Domba yang disembelih itu, maka Ia bukan pilihan, tetapi kepadaNya-lah bergantung seluruh nasib dan keselamatan manusia. Dan itu berarti pula bahwa Ia harus ditempatkan di dalam pusat hidup kita, menjadi Raja yang memerintah kita, karena Ia tidak akan pernah menjadi tidak relevan, karena Ia adalah Alfa dan Omega, Sang Kebenaran yang tidak akan pudar sampai selama-lamanya. Dialah Anak Domba Allah yang menanggung dosa umat-Nya.


Source :
  1. http://web.archive.org/web/20051227230743/www.tektonics.org/copycat/pagint.html
  2. http://www.answeringinfidels.com/answering-skeptics/answering-acharya-s/a-refutation-of- archary-ss-book-the-christ-conspiracy-pt-1.html
  3. http://www.theskepticalreview.com/tsrmag/023dna.html
  4. http://www.frontline-apologetics.com/A_Sigh_About_Osiris.html
  5. Sebuah artikel ditulis dengan tujuan menyindir para penuduh yang anti paralel. Penulis artikel ini membandingkan Napoleon dan Apollo. Lihat di http://www.tektonics.org/lp/nappy. htm
  6. The New Testament and the People of God. hlm. 122-124.
  7. Jesus and the Victory of God. hlm. 98.
  8. Nubuat tentang kebangkitan-Nya terdapat di dalam Mzm. 16:10.
Referensi:
  1. Robertson, O. P (1980). The Christ of the Covenants. Philipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing.
  2. Wright, N. T. (1992). The New Testament and the People of God. Minneapolis: Fortress Press
  3. Wright, N. T. (1996). Jesus and the Victory of God. Minnea

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar