Selasa, 11 September 2012

Uraian Singkat Terhadap Klaim Supremasi Kepausan di Roma

Gereja Roma menganggap dirinya didirikan oleh Petrus, dan karena kedudukannyadi ibu kota sebagai gereja yang terkaya dan terbesar; dikala Arius mengancam di daerah Jerman, mereka masih mempertahankan imannya yang benar, maka kedudukan dan nama dari keuskupan Roma lambat laun melebihi dari daerah- daerah yang lain.
 
Proses terjadinya sistem Paus disebabkan oleh :

a. Innocent 1(402-417 A.D.)
Ia adalah orang yang istimewa, ia menganggap gereja Roma mewarisi kekuasaan rasul (Apostolic Succession) Gereja Barat di mulai dari Gereja Roma . Ia menggabungkan sidang Sardica di bawah sidang Nicea, dan berdasarkan keputusan kedua sidang tersebut menetapkan keuskupan gereja Roma mempunyai hak untuk mengadili gereja yang lain .

b. Leo 1(440-461 A.D.)
Leo 1 mempunyai pengaruh yang kuat terhadap sidang Chalcedon, ia mengatakan baik dalam iman kepercayaan ataupun dalam organisasi / administrasi Petrus selalu sebagai pemimpin dari para rasul-rasul; ia berpendapat semua kekuasaan Petrus telah diberikan pada pewarisnya. Ia memaksakan usul ini, kekuasaannya sampai di Spanyol dan Afrika Utara. Pada 445 A.D, ia meminta kaisar Valentania III memberikan perintah pada seluruh rakyat harus taat pada keuskupan Roma maka ia menduduki kedudukan rasul Petrus. Tetapi pada 451 A.D. adalah sidang Chalcedon menetapkan bahwa Constantinopel mempunyai kedudukan yang sama dengan Roma, Leo I sangat menentang sehingga menimbulkan unsur-unsur perpecahan gereja timur dan barat, di mana unsur politik lebih kuat dari unsur agama.

c. Philip III ( 483-492 A.D)
Pada saat itu kaisar Teno dan uskup Constantinopel Akacu ingin memakai teori kesatuan untuk merubah keputusan sidang Chalcedon, tetapi di tolak oleh uskup Roma, maka Philip III memecat Akacu dari jabatannya sebagai uskup, perselisihan gereja timur dan barat berakhir pada 519 A.D dengan kemenangan Paus.

d. Dalam perselisihan ini, Clausius 492-496 A.D yang menggantikan Philips III menulis sepucuk surat pada kaisar Anatasius yang berbunyi:”untuk menguasai duniua ini ada 2 otoritas, yang satu kuasa rohani dari imam, yang lain kuasa dari sang raja, di antara kedua kuasa ini kuasa imam yang lebih besar, karena raja juga harus diadili di hadapan Tuhan yang dapat mangadili Paus”.


Gagasan penetapan sistem Paus ini ada sejak permulaan abad ke – 6, tetapi perkembangannya sangat lambat, baru setelah perancis merdeka di luar kuasa Roma. Raja jerman memeluk agama Roma Khatolik, serta terjadinya penggabungan kuasa raja dengan pimpinan gereja, maka makin berkembanglah kekuasaan keuskupan Roma, sehingga menetapkan uskup agung dari Roma sebagai Paus.



Sekelumit Sejarah Klaim Supremasi Kepausan di Roma

Pada titik waktu tertentu, referensi berikut yang dikutip untuk mendukung klaim kepausan berasal dari Ignatius, Uskup Antiokia (111). Kepada gereja di Roma dia menulis bahwa gereja Roma adalah “dia yang memiliki kepemimpinan (presidency) di daerah orang Roma..” Namun kata-kata Ignatius ini tidak memproklamirkan otoritas universal Uskup Roma tetapi malah membatasi yurdisdiksi yang gereja di Roma. Referensi yang lebih baik untuk keutamaan paus ditemukan dalam tulisan Irenaeus (130-200 M). Dia menulis lima buku melawan ajaran sesat pada jamannya dan darai tulisan-tulisannya hanya ada satu bagian yang terkait dengan keutamaan Roman See (Keuskupan Roma?). Berbicara tentang gereja Roma, dia berkata “Karena kepada gereja inilah yang memiliki kedudukan utama di antara gereja-gereja, setiap gereja – yaitu gereja yang setia dimana saja – harus merujuk/kembali sejauh tradisi apostolik dipelihara oleh yang setia dimana-mana.

Sekali lagi, isu yang dibahas dan konteks tulisan ini tidak ada kaitan dengan ajaran Cathedra Petri sama sekali. Sebaliknya Irenaeus menghubungkan gereja Roma dengan rasul Petrus dan Paulus dan tidak mengatakan apa-apa tentang keutamaan rasul Petrus. Jelas keprihatinan tulisan ini adalah penekanan akan tradisi apostolis. Konteks tulisan ini argumen Irenaeus bahwa gereja Roma didirikan oleh Paulus dan Petrus sehingga orang percaya harus merujuk kepadanya. Fakta bahwa gereja Roma “memiliki posisi utama di antara gereja-gereja” tidak berarti bahwa Uskup Roma merupakan kepala atas uskup lainnya. Paus-paus di kemudian hari dengan seenaknya mengeluarkan Paulus dari daftar, tetapi terus menggunakan asosiasi kerasulan untuk mendukung klaimnya tentang kekuasaan mutlak.

Referensi lebih lanjut yang walaupun meragukan keotentikannya/keasliannya namun yang menjadi dasar penting bagi klaim kepausan adalah kanon Konsili Sardica (346). Kalaupun ini asli, kanon ini hanya berlaku di Barat dan tidak mengakui supremasi kepausan sama sekali. Yang diberikan kepada Roma adalah yurisdiksi banding bagi uskup yang merasa mendapat ketidakadilan. Sebelum ini tidak ada aturan banding sinode provinsi bagi uskup yang merasa mendapat ketidakadilan. Mirip dengan itu, Kaisar Valentian mengeluarkan undang-undang pada tahun 372 yang “memberdayakan Uskup Roma untuk memeriksa dan menilai/menghakimi Uskup lain sehingga pertikaian keagamaan tidak diputuskan oleh pengadilan sekuler yang duniawi.” Karena itu tidaklah mengejutkan bahwa para Uskup Roma yang dipersenjatai prestise “apostolisitas ganda” dan otoritas yurisdiksi banding dipenuhi dengan keyakinan bahwa mereka memiliki otoritas tertinggi terhadap gereja secara keseluruhan.

Paus Damascus menggunakan istilah “the apostolic see” (keuskupan rasuli?) bagi keuskupan Roma pada tahun 378. Ini adalah konsep yang sangat tidak alkitabiah. Kekuasaan para rasul bersifat luar biasa dan tidak kompatibel dengan pembatasan keuskupan lokal. Bagaimana mungkin seorang rasul, apalagi Petrus, dibatasi dalam batas-batas kepastoratan lokal tanpa mengabaikan tugas apostolisnya…? 

Walaupun ada pertanyaan demikian, istilah di atas diadopsi tanpa oposisi yang nyata. Agustinus menggunakannya sekita tahun 416. Namun demikian, dia tidak menggunakannya untuk mendukung doktrin supremasi kepausan. Mengutip Agustinus yang mengatakan “Roma locuta est, causa finita est” (Roma telah berbicara, masalah selesai) dan berkesimpulan bahwa dia mendukung supremasi kepausan, sama saja dengan mendistorsi kebenaran. Jelas, dia memandang keputusan Paus hanya sebagai salah satu elemen dalam kesaksian bersama dari gereja Barat. Tetapi dia membiarkan penyamaan “Roman See” (keuskupan Roma?) dengan “apostolic see” (keuskupan Rasuli?). Yang dibutuhkan sekarang adalah seseorang yang akan menggabungkan “keutamaan” dan “keuskupan rasuli.” Hal ini tercapai melalui Boniface I tahun 432 dan dipermanenkan oleh Leo I (440-461). Leo berargumen bahwa karena Kristus memberi mandat kepada Petrus, dan karena dia adalah wakil Petrus, maka kekuatan yurisdiksi yang diberikan kepada Petrus juga diberikan kepadanya. 

Sejauh mana klaim Leo diakui, masih diperdebatkan. Menjelang abad ke-5, keuskupan Roma memiliki posisi yang sangat dihormati. Seperti dikatakan sebelumnya, Roma mendapat yurisdiksi banding atas uskup-uskup dari kekaisaran. Tetapi rincian pelaksanaan otoritas ini menyimpan fakta yang menarik. Sebagai contoh, kita mengambil kasus Aprianus. Dia adalah imam dari Afrika yang dipecat uskupnya. Dia mengajukan banding kepada Paus Zosimus (417-418) dan juga kepada Paus Celestine (422-423). Banding-banding ini menimbulkan kontroversi. Dengan demikian implikasinya adalah bahwa tidak ada pengakuan umum terhadap supremasi kepausan. Lebih jauh lagi, selama kontroversi, terjadi sesuatu yang menggarisbawahi tidak adanya penundukan diri total kepada Uskup Roma. Kutipan dari kanon Konsili Niscea (325) memberi kejelasan bahwa otoritas yurisdiksi dianggap terbatas dan tidak universal. Bahkan seperti ditunjukkan Ulmann, gereja Roma bahkan tidak memainkan peranan kecil sekalipun dalam Konsili Besar di Nicea walaupun di tahun-tahun kemudian dia dipuji karena kepemimpinannya dalam Konsisl tersebut. 

Pada Konsili Epesus (431) sebuah utusan kecil kepausan beranggotakan tiga orang juga hadir. Mereka mengemukakan pandangan bahwa Petrus adalah kepala dari para rasul, batu penjuru sesungguhnya dari gereja universal, dan penerusnya adalah Paus di Roma. Pernyataan ini muncul kembali dalam berbagai dokumen kepausan dari abad kelima sampai ke Konsili Vatikan pada tahun 1870. Namun demikian, walaupun ada klaim seperti ini, peranan delegasi kepausan dalam konsili dapat diabaikan. Bahkan dalam konsili Kalsedon (451) dimana posisi Paus Leo mendapat pengakuan tinggi, terdapat batasan-batas yang tidak dapat dibantah dari otoritas yuridiksinya. Salah satu buktinya adalah dikeluarkannya kanon yang memberikan hak kepada sinode untuk berindak terpisah (independen) dari Roma. Kepada Konstantinopel juga diberi hak dan hak istimewa yang sama dengan yang diberikan bapa gereja kepada Roma. Saat utusan Roma mendengar keputusan ini, mereka keberatan. Mereka kemudian menyusun versi Kanon Nicea sendiri yang mengklaim “Ecclesia Roman semper habituit principatum” (Gereja Roma telah selalu memimpin). Mereka kemudian dikonfrontasi dengan versi bahasa Yunani yang asli dan klaim itupun terbantahkan. Mereka tampaknya tidak sadar bahwa kata-kata tersebut ditambahkan di Roma. Terkait dengan masalah utusan kepausan dari Roma, konsili ke-29 di Chartage (424) keberatan, dan mengajukan pertanyaan “Apakah dipercaya bahwa iluminasi Roh Kudus hanya diperuntukkan bagi satu orang (paus) dan tidak bagi persekutuan para uskup?” 

Walaupun ada keberatan konsili seperti itu, tampaknya jelas bahwa landasan bagi pengembangan kepausan dibentuk pada abad kelima. Pada kurun waktu ini juga karya sastra yang tidak lebih dari sekedar legenda dan cerita bohong tercampur ke dalam konsep dasar tersebut. Karya pertama yang mendukung klaim kepausan di masa depan tentang kekuasaan di dunia adalah Legenda Santo Silvester yang muncul antara tahun 480-490. Tujuan penulis tidak dikenal ini adalah menggarisbawahi peranan Paus Silvester (314-336) dalam mempengaruhi dijadikannya Konstantinopel sebagai ibukota kekaisaran yang baru. Karena itu, pujian karena terangkatnya posisi Konstantinopel didapatkan oleh kepausan. Dalam salah satu adegan, si penulis menggambarkan Konstantin tanpa simbol kekaisarannya tergeletak sujud di depan Silvester. Setelah tindakan pengakuan dosa ini, Konstantin dipasangi kembali lambang-lambang kekaisarannya dan segera setelah itu memindahkan ibukotanya ke Konstantinopel. Tentu saja tidak ada sedikitpun kebenaran dalam cerita tersebut. Namun demikian dianut sedemikian rupa sehingga menjelang abad ke-8, ceritera ini digabungkan ke dalam cerita bohong yang lebih berpengaruh yang disebut Donation of Constantine. Dalam dokumen ini, sebelum berangkat ke Konstantinopel, Konstantin memberikan kepada Silvester sebuah wilayah besar di bagian Barat Eropa.

Sebelum abad ke-5, cerita bohong yang mendukung kekuasaan kepausan muncul.  Cerita-cerita ini dikarang di tengah-tengah perpecahan antara dua calon paus. Menariknya, kedua faksi ini bertindak terpisah satu dengan yang lain, melakukan pemilihan pada hari yang sama dan waktu yang hampir sama. Symmachus akhirnya memang atas Laurentius – bukan karena konsesi damai, tetapi karena adanya intervensi dari Raja Gothic Theodoric yang memihak Symmachus. Pertikaian antar faksi ini mendorong munculnya sejumlah cerita bohong yang secara khusus terkait dengan Sinode. Salah satu cerita bohong tersebut berisi pidato yang diberikan pada sinode khayalan selama masa Diocletian (284-305). Cerita lainnya menggambarkan sinode yang dipimpin Silvester dan diikuti Konstantin. Secara keseluruhan inti dari apa yang disebut Apokripa Symmachus ini adalah menggabungkan rincian sejarah dan cerita fiksi sehingga cocok dengan keadaan saat itu dan mendukung klaim kepausan Symmachus. Salah satu contoh dari bentuk dukungan tersebut datang dari konsili khayalan yang dipimpin Silvester. Bentuknya adalah sebuah keputusan yang mengatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang menghakimi keuskupan rasuli yang memberi keadilan kepada semua. Tidak ada kaisar, kaum klerus, maupun raja atau rakyat biasa yang boleh menghakimi hakim agung.” Pentingya cerita bohong dapat dilihat dari fakta bahwa di kemudian hari cerita-cerita ini menjadi bagian dari sejumlah Hukum Kanon (Canon Law), sehingga menjadi bagian dari hukum Roma Katolik. Cerita-cerita ini menambahkan prestise mistis yang memungkinkan klaim paus yang berlebihan pada abad-abad pertengahan.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa walaupun tanpa legenda dan cerita bohong tersebut, prestise gereja Roma akan terus berkembang. Keadaan historis mendukungnya. Memang seharusnya sesuatu yang diharapkan kalau Uskup dari ibu kota dianggap  sebagai Uskup pertama dalam gereja. Diharapkan? Ya, kemungkinan oleh Uskup ibu kota, tetapi seperti telah dikatakan, tidak diharapkan oleh uskup lain. Di Kalsedon, diputuskan bahwa Konstantinopel sama status dan posisinya dengan Roma. Dari bagian Timur kekaisaran ada semacam penghormatan, tetapi bukan pengakuan atas yurisdiksi yang sebenarnya terhadap Roma. Peralihan keutamaan politik dari Roma ke Konstantinopel menyebabkan peralihan yang sepadan pada penekanan klaim kepausan. Tidak ada lagi klaim tentang keutamaan kepausan karena posisinya di ibukota. Jika status politik menentukan status gerejani, maka Konstantinopel harusnya dinaikkan posisinya. Roma menjawab ini dengan mengalihkan penekanan kepada klaim berdasarkan teori tentang Petrus. Namun demikian, walaupun ada penekanan baru tersebut, gereja Barat tidak bisa menganugerahkan keutamaan yurisdiksi yang tak terbantahkan.


Sedikit Informasi Yang Perlu Dipertimbangkan Mengingat Klaim Roma

…..Bahkan [istilah] “Paus” tidak secara eksklusif digunakan oleh Uskup Roma. Dalam tulisannya yang berjudul Illustrating Papal Authority A.D 96-454, E. Giles mengutip bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa penggunakan terawal dari “Papa” untuk Uskup Roma adalah sekitar abad ke-4. Dia juga menunjukkan bahwa Uskup Kartage dan Uskup Alexandria sama-sama disebut “Paus” setidak-tidaknya lima puluh tahun sebelumnya. Seperti yang dikatakan beberapa sejarahwan gereja, petunjuk awal bagi kekuasaan “Paus” terdapat dalam surat Clement, Uskup Roma ketiga, kepada jemaat di Korintus (tahun 95 Masehi). Namun demikian, hal itu hanyalah sebuah kesimpulan tersebut yang meragukan. Clement tidak menegaskan otoritas yurisdiksi, tetapi keprihatinan rohani terhadap orang-orang Kristen di Korintus yang saling bermusuhan, dan dia menegur mereka atas perilakunya yang tidak bisa diatur. Secara analogis, ini tidak ada bedanya dengan seorang pendeta yang menulis surat menegur saudara-saudara Kristen di jemaat lain yang bukan jemaatnya. Tentu saja ini tidak sama dengan berkuasa atas mereka.

Cyril C. Richardson dalam tulisan pengantarnya terhadap Surat Clement yang Pertama menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Tidak ada bukti bahwa gereja Korintus meminta pertimbangan gereja di Roma
  2. Bukanlah hal yang luar biasa bagi pemimpin di satu gereja untuk mengirim surat yang bersifat nasehat dan peringatan kepada gereja lain. Praktek apostolik ini merupakan contoh yang diikuti oleh Ignatius, Polykarpus, Dionysius dari Korintus, Serapion dan banyak lagi yang lain.
  3. Setiap komunitas Kristen merasa semacam tanggung jawab terhadap komunitas Kristen lain. Gereja-gereja lokal tidak dipandang sebagai unit-unit terpisah sama sekali dan otonom mutlak.
  4. Dokumen ini ditulis atas nama jemaat.
  5. Surat tersebut sangat berbeda dari keputusan Paus dan tidak mengklaim sebagai memiliki otoritas yang lebih tinggi.
  6. Mendasari tegurannya pada otorotas Kitab Suci dan melakukan persuasi untuk mencapai tujuannya.

Renungkan Kutipan Ini Dan Bandingkan Dengan Alkitab Anda

“The union between the Immaculata and the Holy Spirit is so inexpressible, yet so perfect, that the Holy Spirit acts only by the Most Blessed Virgin, his Spouse. This is why she is the mediatrix of all graces given by the Holy Spirit. And since every grace is a gift of God the Father through the Son and by the Holy Spirit, it follows that there is no grace which Mary cannot dispose of as her own, which is not given to her for this purpose.”

“Persekutuan antara sang Imakulata dengan Roh Kudus begitu sulit diungkapkan, tetapi begitu sempurna, sedemikian hingga Roh Kudus hanya bertindak melalui Sang Bunda Perawan Suci, yang adalah pasangan/isteri-Nya. Karena itu dia adalah perantara semua anugerah yang diberi oleh Roh Kudus. Karena setiap anugerah merupakan pemberian Allah Bapa melalui Anak dan oleh Roh Kudus, maka jelas tidak ada anugerah yang tidak Maria dapat berikan sendiri, yang tidak diberikan kepadanya untuk tujuan ini”

St. Maximillian Kolbe (ditetapkan sebagai orang Santo oleh Paus Yohanes Paulus II)

Sumber :
  • Papal Power: Its Origin and Development, Henry T. Hudson, Halaman 44-50 (terjemahan Ma Kuru)
  • Henry T. Hudson,  Papal Power: Its Origin and Development, terbitan Trinity Foundation halaman 43 (terjemahan Ma Kuru)
  • St. Maximilian Kolbe, Letter to Father Mikolajczyk, 28 July 1935. Manteau-Bonamy, Immaculate Conception and the Holy Spirit, p. 99.
  • Google

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar