Senin, 03 September 2012

Studi Komparasi Perspektif Injili Dan Gereja Arus Utama Tentang Kristus sejarah

Studi Komparasi Perspektif Injili Dan Gereja Arus Utama Tentang Kristus sejarah
Oleh :
Pardomuan Sihombing


Pendahuluan

Adalah suatu fakta yang tidak terhindari bahwa sepanjang sejarah, sejak kelahiran Kristus, nama Kristus banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca. Namun nama itu juga tetap disebut, dipercaya, dicinta, dimuliakan bahkan disembah oleh mayoritas penduduk dunia. Sejak kelahiranNya, Kristus dianggap pribadi yang kontraversial, bahkan tidak dianggap istimewa oleh lingkunganNya. Orang Farisi pernah menyebutnya 'Beelzebul' atau penghulu setan (Matius 12:24) dan ketika akan disalib Dia di caci maki, diolok-olok, dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh yang penuh dengan dosa, bernama 'Barabas' (Matius 27:21). Keragu-raguan pada Kristus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-muridNya. Sebut saja Thomas 'meragukan kebangkitanNya' (Yohanes .20:25), dan Yudas menyerahkan Kristus untuk di salib. Bahkan saat Kristus sebelum naik ke sorga dan memberi pesan terakhirNya yang penulis yakini menjadi tugas utama para pengikut Kristus, ada beberapa murid dan pengikutNya yang meragukan diriNya (Matius 28:16-20).

Namun fakta dan data Alkitab juga membuktikan bahwa para Rasul melandaskan ajaran gereja pada Kristus sebagai Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Kristus sebagai fondasi iman Kristen. Paulus mengatakan: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (I Korintus 15:17). Bagi Paulus kebangkitan Kristus dari kematianNya merupakan titik tolak dan dasar mutlak keselamatan untuk semua manusia. Kristus menjadi satu-satunya mediator antara manusia yang berdosa dengan Tuhan Allah yang kudus untuk sampai ke sorga yang kekal (I Timotius 2:5). 

Pro dan kontra tentang Kristus sejak kelahiranNya sampai masa kini menjadi berbincangan terbuka, khususnya dikalangan agamawan yang bersentuhan langsung dengan diskusi tentang Kristus. Masalah studi 'Kristus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog saja, namun dalam era informasi yang sangat maju ini, dipacu oleh peberitaan di surat kabar, majalah, buku, TV dan internet, membuat studi ini menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang hangat, apalagi dengan adanya komentar-komentar yang sangat provokatif.


Latar Belakang Dan Tujuan Kristus Sejarah

Persoalan teologi, soteriologi-kristologi pada era post-modern ini dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia, yaitu renaissance (zaman bangkitnya gelombang pemikiran humanisme, yaitu kebebasan berteologia, kebebasan berilmu pengetahuan, dan kebebasan dalam gereja. Penekanan humanisme adalah, bahwa manusia sebagai pusat hidup bagi dirinya sendiri–puncaknya abad 15-16), rasionalism (membuang segala hal yang berbau supranatural dalam teologia tradisional-segala sesuatu dimengerti melalui akal budi, serta perhatian manusia beralih dari Allah kepada manusia - abad ke-17) dan enlightment (menonjolkan kemampuan dan kemandirian akal budi, akal budi menempati otoritas tertinggi bagi manusia. Pada zaman tersebut muncul banyak filsuf dan mempengaruhi dunia teologia dan kekristenan - abad ke-18).
Ketiga gerakan diatas melatarbelakangi lahir dan berkembangnya teologi liberal. Kristus Sejarah yang bermula dari persoalan kritik Alkitab, dan mempertajam persoalan teologi Kristen, Soteriologi-Kristologi.

Dalam perjalanan peradaban sejarah gereja, sudah menjadi suatu fakta bahwa dalam kelompok Kristen ada yang berusaha dengan keras untuk mengembangkan ajaran Kristen supaya dapat di terima oleh agama-agama lain. Tujuannya adalah agar agama Kristen mampu terlibat dalam dialog antar-agama, dan mampu memberikan sumbangan kepada kemanusiaan melalui kerjasama antar umat beragama. Namun jika ditelusuri lebih dalam, maka ditemukan bahwa ada masalah dalam Soteriologi-Kristologi yang merintangi Kekristenan untuk dapat melakukan dialog yang korelasional dengan agama-agama lain. Untuk memediasi rintangan tersebut maka kaum gereja arus utama (pluralis) mencoba merekonstruksi bangunan Soteriologi-Kristologi dengan cara mereka agar dapat masuk ke ranah dialog antar-agama.

Pada umumnya kelompok gereja arus utama menganggap bahwa konsep Soteriologi-Kristologi Injili (Orthodoks) yang selama ini telah di pegang kekristenan selama berabad-abad ternyata tidak memberi peluang untuk membuka kemungkinan ke arah dialog yang korelasional. Untuk itu kelompok gereja arus utama mencoba menggagas kembali, mengadakan penelitian atau mengkaji ulang doktrin Soteriologi-Kristologi Kristen agar dapat masuk ke dalam dialog yang lebih terbuka dengan agama-agama lain.

Kelompok Kristus Sejarah memulai dengan kritik Alkitab yang menggunakan metode-metode ilmiah untuk menyelidiki Kristus dalam Alkitab. Penyelidikan ini menghasilkan rumusan teologi baru, Soteriologi-Kristologi baru yang sangat bertolak belakang dengan rumusan tradisional /orthodok (Injili).


Jesus Seminar

'Jesus Seminar' senyawa dengan Kristus Sejarah yang diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan tentang Kristus, tepatnya 'ucapan-ucapan Kristus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' Robert W Funk, profesor Perjanjian Baru di Montana University, sebagai ketua dari Seminar ini dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab, beliau seorang profesor di De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. 

Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama dilakukan pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab. Buku, Jesus Seminar tersebut berisi dan memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Buku tersebut disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dianggap merupakan versi yang mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern, seperi jemaat abad pertama. 

Adapun cara kerja yang dilakukan :
  1. Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Kristus' baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang dapat dikumpulkan. Ada ucapan-ucapan berjumlah sekitar 1500, kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang, ditambahi, dan dimodifikasi.
  2. Kedua, dilakukan pemungutan suara oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan Kristus. Metode dalam menentukan keaslian dari ucapan Kristus tersebut tersedia empat pilihan.
Yang dianggap ucapan Kristus :
  1. Asli diberi warna merah, yang dianggap ucapan Kristus sendiri;
  2. Mungkin Asli diberi warna merah muda, masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan;
  3. Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, tidak diucapkan oleh Kristus tetapi mengandung gagasan Kristus; dan
  4. Tidak Asli diberi warna hitam, ucapan yang dianggap bukan dari Kristus namun ditulis pengikutnya yang setia. Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan kembali secara otentik sejarah tentang apa yang dikatakan dan diperbuat semasa Kristus hidup.

Mengapa Jesus Seminar diadakan…?

Tujuan utama Jesus Seminar adalah untuk membungkam Kristus dan kitab-kitab Injil. Kristus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Firman Allah yang menjadi daging', Dia tidak berbicara mengenai kedatanganNya kedua kali, Dia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, Dia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan Dia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil. 

Kesimpulan seperti itulah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan teologi dan gereja. Dalam prakata buku tentang hasil Jesus Seminar tersebut ditulis bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja para ahli pendidikan di universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. 

Pada kenyataannya, mayoritas dari anggotanya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang ada wakilnya, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. 

Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princetown, Duke, Union, dan Chicago, tidak ada yang hadir. Para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi, kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas. Umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia dan tidak ada yang mewakili seminari teologia, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi. 

Dengan menyimak peserta seminar, adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu telah mewakili dunia teologi.

Setelah diadakan survey ternyata para ahli yang berkumpul adalah kelompok teolog yang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen. Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami “pendewasaan”. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka. 

Penemu 'Jesus Seminar' Robert Funk, berkata bahwa tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Kristus dan Injil yang berbeda dengan isi Injil tradisional. Gagasan kontroversial dan provokatif ini menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya dari gereja Roma Katolik. Jesus Seminar diadakan bukan untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. 

Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat mudah dijual. Modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. 

Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota ke kota mass media diundang untuk meliputnya. Di Amerika Serikat ada banyak lembaga yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan bahwa Kristus yang diimani adalah benar tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku dijual melalui mass media.


Perspektif Kaum Injili Atas Kristus Sejarah

Selama berabad-abad, Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, menjadi acuan dan sumber utama dan penting untuk mempelajari Kristologi dan Soteriologi. Bagi kaum Injili, Alkitab adalah Firman Allah merupakan sebuah harga mati. Bahkan pada abad ke 16 (1517) tokoh reformasi seperti Martin Luther menyerukan bahwa otoritas Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi bagi iman, keselamatan dan menjadi dasar dari seluruh doktrin Kristen.

Pada abad 18 seiring dengan masa pencerahan, sebagaimana telah disinggung ditulisan ini, dimana rasio manusia dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan sebuah kebenaran, maka pernyataan-pernyataan Alkitab yang telah dipercaya dan diterima selama berabad-abad mulai diganggu gugat dan dicoba dibongkar sampai ke akar-akarnya. Hal yang sama dilakukan untuk doktrin Soteriologi-Kristologi. Kristus yang telah diakui dan diterima sebagai Allah, oknum kedua Tritunggal, selama berabad-abad juga digugat dan dicoba ditafsirkan ulang.

Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat dunia. Sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab sejak abad ke XVIII dan juga pada abad ke-XIX yang dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan). Ada cukup banyak tokoh yang mewakili The Quest ini, seperti David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer, dan puncaknya adalah dalam diri Rudolf Bultmann pada pertengahan abad ke-XX. Strauss mempersoalkan mujizat Kristus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan menyebutnya sebagai mitos. Albert Schweitzer menolak mujizat. Anti-supranatural memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Kristus Iman dan Kristus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'.

Istilah Kristus sejarah dimunculkan untuk membedakannya dengan istilah lain, yaitu "Kristus yang diimani". Istilah pertama dimengerti sebagai Yesus yang sesungguhnya, atau "the real Jesus", sedangkan istilah kedua mengacu kepada pribadi Kristus yang telah dipoles oleh para rasul. Para peneliti “Kristus Sejarah” menuduh bahwa para penulis Alkitab tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, baik itu ucapan, karya serta istilah-istilah yang diberikan kepada Kristus yang mengacu kepada ke-Allahan-Nya, tapi hanya merupakan ciptaan atau kreasi para rasul, bukan menggambarkan Kritus yang sesungguhnya.

Para ahli Kristus Sejarah ingin `menemukan' kembali apa sesungguhnya yang diucapkan dan dilakukan oleh Kristus. Sebagai hasilnya, lahirlah apa yang disebut "the first, the second and the third Quest.” Perbedaan yang mencolok dan penting dari masa 'the quest' dengan 'the new dan third quest' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak. Dalam penyelidikan berikutnya kebenaran kitab Injil yang ditolak dan isi kitab dinilai dari sudut pandang pemikiran rasionalisme, logika dan Injil dianggap rekaan manusia. Jika kita membaca dan mengamati seksama tulisan dan pandangan para ahli tersebut di atas, maka kita dapat menemukan beberapa hal : 
  1. Penelitian yang dilakukan tidak menjelaskan tentang siapa Kristus, wajah Kristus yang dibangun tidak utuh tapi tercabik-cabik.
  2. Peneliti memisahkan Kristus sejarah dari Kristus yang diimani. Ketiga, untuk `menemukan' kembali Kristus yang sebenarnya terlepas dan terpisah dari tulisan para rasul, bukan didasari motivasi mencari Yesus yang sesungguhnya.
Manakah lebih logis untuk menerima `Kristus Sejarah' nya para ahli dan menolak Krsitusnya para rasul…?
Bukankah para rasul telah hidup bersama Yesus, mendengar sabda-Nya dan menyaksikan sendiri karya-karyaNya…?
Alkitab berkata:"…apa yang telah kami dengar, kami lihat dengan mata kami,telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami… itulah yang kami tuliskan kepadamu (1 Yohanes 1:1).
Kisah dan kuasa Kristus didalam Alkitab adalah dongeng…?
Pernyataan itulah yang dilawan oleh Alkitab itu sendiri: "Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng dan isapan jempol manusia…tetapi kami adalah saksi mata" (2 Petrus.1:16).
Para rasul subjektif dan tidak objektif menuliskan Kristus yang sesungguhnya…?
Sekiranya tuduhan itu benar, maka itulah gambaran terbaik dan terlengkap dari Yesus sejarah yang pernah ada.

Barangkali yang tidak disadari para peserta Kristus Sejarah ini adalah kelemahan mutlak dari metode mereka tentang penyelidikan Jesus Seminar, mereka hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa Gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid. Suatu usaha menarik dari sekelompok kecil teolog yang begitu yakin bahwa pandangan mereka mengenai Kristus Sejarah dianggap benar dan ingin menghapus keyakinan sejarah gereja yang sudah melalui dua milenium yang memproklamasikan bahwa 'Kristus itu Tuhan.' Raymod E. Brown seorang tokoh Katolik Roma yang adalah mantan profesor studi Alkitab di Union Theological Seminary, New York City, dan anggota ‘Komisi Alkitab Pontificiat Roma. 

Berkenaan dengan tokoh-tokoh dibalik Kristus Seminar, Raymon mengatakan: “When we read the historical Jesus written by these scholars, we actually got nothing about Jesus. They only show who they are they are very subjective and lack of the historical facts."


Perspektif Gereja Arus Utama Atas Kristus Sejarah

Pada umumnya kelompok ini penganut teologi Liberal. Dalam melihat Soteriologi-Kristologi, mereka mempersoalkan Kristus imani. Kelompok ini melakukan studi kritis mengenai keorisinilan teks-teks Alkitab dan melihat relasi antara peristiwa Kristus dan waktu penulisan. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah, apa yang ditulis oleh para penulis Injil tentang Kristus, sesungguhnya bukanlah Kristus yang benar-benar ada secara historis, melainkan Kristus menurut pikiran (perasaan) para murid atau para penulis Injil. 

Jadi pada umumnya perspektif liberal mendasarkan soteriologi-kristologi mereka pada Kristus sejarah, Kristologi harus didasarkan pada Kristus Sejarah.

Marcus J. Borg, seorang peneliti Yesus sejarah menyimpulkan bahwa : Yesus adalah seorang pribadi yang diisi oleh roh Allah, guru hikmat yang bijaksana, seorang nabi sosial, dan seorang pendiri gerakan pembaharuan. Jadi dalam kristologi perspektif liberal, mereka tidak memandang lagi keunikan Kristus. Mereka menganggap bahwa Kristus bukanlah Allah. Kristus adalah sama dengan para pempin agama-agama yang lain.

Kelompok ini menolak bahwa keselamatan hanya di dalam Kristus. Penolakan terhadap finalitas karya Kristus mutlak. Seperti apa yang dikatakan oleh Stanley Samartha, ”All Christian approaches to other religions based on a theory of anonymous Christianity or cosmic Christology.” Ioanes Rakhmat memegang konsep sub-ordinasionisme dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ioanes Rahmat merupakan penganut Kristus Sejarah. Ia percaya bahwa kematian tentang Kristus dalam kitab Injil adalah ciptaan penulis, dan ia pun membedakan ucapan asli Kristus dan yang produk dari para penulis. Kristus Seminar menyatakan bahwa: Kristus tidak pernah menuntut diriNya disebut dan diakui sebagai Mesias.

Memisahkan antara Kristus menurut iman dan Kristus menurut sejarah, dapat menjadikan seseorang melihat tokoh Kristus bukan sebagai tokoh yang sebenarnya, sebab orang tersebut dapat membentuk sendiri tokoh Yesus, menurut kehendak dan pemahamannya pribadi. Inilah salah satu akibat kesimpulan dari “Jesus Seminar” yang kontroversial itu. Dengan cara pandang serupa, Robert Bultmann, ahli Alkitab dari Jerman, mengambil kesimpulan bahwa secara historis, yang dapat diketahui tentang Kristus hanyalah bahwa ia adalah seorang Yahudi Palestina yang mati di salib. Ini disebabkan karena para ahli Alkitab itu terus memisahkan segala hal yang sifatnya supernatural yang tertulis dalam Kitab Suci.

Ioanes Rahmat berkata: ”Dengan adanya sub-ordinasionisme fungsional di dalam Injil Yohanes, penulis Injil Yohanes memandang figur ”Anak Manusia” sebagai suatu ”oknum” atau ”hakikat” adikodrati yang lebih rendah kedudukan-Nya dari Allah, yang dalam ketaklukan-Nya kepada Allah menerima tugas pengutusan untuk turun ke dalam dunia. Kedudukan Anak Manusia yang ”lebih rendah” ini menyiratkan bahwa oknum ”Anak Manusia” itu adalah oknum atau suatu hakikat adikodrati yang terpisah dari Allah.”

Choan Seng Song juga sangat tidak menyetujui jika orang Kristen menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena bagi dia tindakan itu adalah penyembahan kepada berhala. Bagi Song Kristus bukan Tuhan dan Kristus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan. 

Adolf Harnack menegaskan bahwa kita tidak dapat membangun doktrin Kristologi dari Injil. Menurut Harnack, Injil tidak bicara mengenai Kristus, tetapi mengenai Bapa. Harnack menulis, “The Gospel, as Jesus proclaimed it, has to do with the Father only and not with the Son.” Di pihak lain, H. J. Holtzmann berbeda dengan Harnack, karena dia mengakui adanya pengajaran Kristus didalam Injil. Namun demikian, Holtzmann tidak mengakui ke-Allahan Yesus. Karena baginya Injil tidak mengajarkan Kristus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia saja. Holtzmann menulis, “This Gospel describes a purely human Jesus for whom no claims to divinity are made.” Pandangan negatif lainnya diberikan oleh David F. Strauss yang mengatakan, “Jesus was a legendary figure whose historicity was debatable.”

Setelah melihat beberapa pandangan tersebut di atas, kelihatannya, kurang lengkap jika kita tidak menyebut pandangan theolog yang satu ini, yaitu Rudolph Bultmann. Diakui atau tidak, Bultmann telah banyak mempengaruhi teolog sejagad, termasuk teolog Indonesia. Bultmann juga menolak Yesus yang disaksikan Alkitab. Bagi Bultmann, Kristus yang disaksikan Alkitab adalah Kristus yang diimani para Rasul, bukan Kristus yang sesungguhnya. Karena itu, perlu diragukan. Bultmann menegaskan: “It is impossible to recapture Jesus as He moved in Galilee and Jerusalem and to know precisely what took place in the years AD 30-33.”

Dengan mengatakan demikian, itu tidak berarti bahwa Bultmann secara mutlak menolak pengakuan tentang Kristus. Dia tetap mengakui Yesus, tetapi bukan Kristus dalam Alkitab yang menurutnya telah dipoles oleh para Rasul. Bultmann menegaskan: “The mere thatness is sufficient.” Pandangan yang paling negatif dari semuanya adalah pandangan G. A. Wells, di mana bagi Wells, Kristus tidak pernah ada. “Did Jesus ever exist?”,  Menurut Wells, “Jesus was a mythical figure arising out of Paul's mystical experience, for whom an earthly 'history' had later to be invented.”


Kajian Kritis Dan Kesimpulan
Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan jelas siapa Kristus, bahwa Dia adalah Allah yang patut dipuji dan dipuja, namun cukup banyak ahli (scholars) memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Ada banyak teolog yang memilki pandangan yang sangat negatif terhadap Kristus. Melalui tulisan mereka, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka telah meninggalkan pengajaran yang Alkitabiah dan membangun pandangan sendiri yang seringkali bersifat spekulatif.

Teolog-teolog Kristus sejarah menolak pengajaran Alkitab, seperti apa adanya kata Alkitab. Karena menurut mereka penulis-penulis Alkitab, khususnya Injil, tidak menulis Kristus yang sesungguhnya (the real Jesus), tapi para penulis Injil telah memoles Kristus sesuai dengan kehendak penulis yang cenderung terlalu meninggikan Kristus. Tuduhan seperti itu khususnya ditujukan kepada Injil Yohanes yang menegaskan bahwa Kristus, yang disebut dengan Firman itu, bukan saja sejak kekekalan telah bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia sendiri adalah Allah. (Yohanes.1:1) Kristus Sejarah memberi istilah “Yesus sejarah” (the historical Jesus) dan “Kristus yang diimani” (Christ of faith). 

Mereka menolak Kristus yang diimani oleh para rasul, tapi menerima Yesus sejarah.

Merupakan sebuah kesombongan yang tidak berlogika bahwa seolah-olah hanya orang-orang bodoh dan kaum fundamentalis saja yang mempercayai Alkitab, apa adanya. Dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sikap meragukan serta menolak atau percaya dan menerima Alkitab ternyata adalah masalah sikap hati dan iman, bukan masalah bodoh atau pintar. Artinya, jika hati dan pikirannya sudah ditetapkan untuk menganut satu pemahaman tertentu, apa pun kata Alkitab serta para ahli lainnya, hal itu tidak terlalu berarti baginya.
Sebaliknya, jika dengan iman, orang belajar dan membuka diri kepada pernyataan-pernyataan Alkitab, maka orang tersebut tidak bisa tidak akan dibawa kepada pengenalan dan penyembahan kepada Yesus.

Mayoritas kelompok gereja arus utama yang meyakini Kristus Sejarah menganggap bahwa Kristus sama saja dengan tokoh-tokoh agama lain, Kristus yang ada di dalam Injil, yang dipercaya para penulis Injil adalah mitos atau Kristus yang diimani. Kristus adalah seorang manusia bukan Allah, bukan Tuhan dan bukan jalan satu-satunya untuk ke surga.

Kaum Injili merespon bahwa perspektif Kristus Sejarah adalah pendekatan yang kompromistis yang dapat merusak sendi-sendi jantung kekristenan. Karena pendekatan Kristus Sejarah akan memaksa orang Kristen untuk menyembunyikan finalitas Kristus dan kemutlakkan kebenaran Alkitab, serta memaksa orang Kristen untuk mengakui adanya keterbatasan Kristus dan sejarah adalah pembatasnya. Kristus bukan seperti yang ada dalam sejarah yang dicatat dalam kitab suci, tapi Kristus terbatas, Kristus benar jika diimani. Kelompok Kristus Sejarah menolak kebenaran yang dipercaya kaum Injili, karena hampir dalam tiap metode yang mereka kemukakan, mereka menyatakan bahwa sulit untuk mencapai suatu kebenaran yang objektif.

Kaum Injili seharusnya mampu mewartakan kemanusiaan dan keilahian Kristus secara berimbang. Jikalau selama ini, beberapa pengkritik Alkitab telah melemparkan ide pemisahan Yesus historis dengan Kristus-imani, maka kelompok Injili seharusnya dapat menjawabnya dengan membuktikan kemanusiaan Kristus dan keilahian Kristus. Kebenaran Allah tidak tergantung pada pengalaman dan interpretasi individu atau kelompok manapun, betapapun pengalaman dan interpretasi itu terasa kuat dan berpengaruh secara budaya. .
Ada benarnya bahwa semua tulisan sejarah dapat memiliki efek distorsi dan itupun tergantung dari pihak mana yang menuliskannya, karena kemungkinan penulis akan menitik beratkan kepada apa yang dipahami oleh kelompoknya. Hal ini terjadi karena sifat subyektifitas penulis terlibat di dalamnya. Namun, kaum Injili mengimani bahwa Kitab Suci bukanlah kitab yang dituliskan oleh manusia, tetapi oleh ilham Roh Kudus walaupun tetap melibatkan akal budi manusia penulisnya. Bagi kaum Injili, Ilham Roh Kudus inilah yang memungkinkan Kitab Suci ditulis dengan benar dan obyektif, karena yang dituliskan dalam Kitab Suci adalah kehendak Allah, bukan apa yang dikehendaki penulis.

Kelompok Injili percaya bahwa tidak ada distorsi antara Kristus yang diimani dan Kristus menurut sejarah, sebab tidak mungkin ilham Roh Kudus menghasilkan tulisan yang tidak sinkron antara apa yang harus diimani dan apa yang sebenarnya terjadi. Kaum Injili sangat percaya bahwa Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah yang masuk dalam sejarah manusia.

Pada akhirnya, harus diakui bahwa soal menerima ke-Tuhan-an Kristus adalah soal iman. Bagi kaum Injili bukti sejarah otentik sampai sedetail-detail-nya bukanlah persoalan, sebab Kristus tidak hanya mewakili kemanusiaan, tapi Dia adalah Allah yang mustahil dipahami secara detail dengan kekuatan dan kapasitas kemanusiaan semata seperti yang dilakukan oleh peneliti Kristus Sejarah.

Kristus tidak hanya memiliki dimensi kemanusiaan tapi juga memiliki dimensi keillahian yang mustahil untuk dipahami dengan indera lengkap. Kristus tidak hanya immanen yang mudah dan dekat untuk diselidiki, tapi juga trasenden yang melampaui indera lengkap dan teknologi canggih manusia. Tapi bagi peneliti Kristus Sejarah, bukti yang sudah nyata disertai dengan saksi yang lengkap, tertulis, dan detail sekalipun tidak cukup.

Barangkali yang paling tepat untuk meyakini Kristus Sejarah dan Kristus yang diimani, peneliti membutuhkan sebuah keputusan yang melibatkan pikiran-logika, perasaan-keyakinan dan perbuatan.



TUHAN YESUS MEMBERKATI.

Daftar Pustaka
  1. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
  2. Gnanakan, Ken, the Pluralistic Predicament, Bangalore: Theological Book Trust, 1992.
  3. Herlianto, Yesus Sejarah – Siapakah Aku Ini? Bandung: Yabina, 1997.
  4. Hick, John & Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
  5. Knitter, Paul F., Pengatar Teologi Agama-Agama, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
  6. Lumintang, Stevri Indra, Teologi Abu-Abu Pluralisme Iman, Malang: YPPII, 2002.
  7. Newbigin, Lesslie, Injil Dalam Masyarakat Majemuk, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
  8. Susabda, Yakub, Kaum Injili – Membangkitkan Kembali Iman Ortodoks, Malang: Gandum Mas, 1991.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar