Sabtu, 08 September 2012

Kajian Kritis Terhadap Kitab Didache

SIGNIFIKASINYA TERHADAP KEKRISTENAN MASA KINI

 
Oleh :
Teguh Hindarto
 
 
 
Penemuan Naskah[1] 

Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan Monastery of the Most Holy Sepulchre di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama "ManuskripYerusalem" (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.

Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon Penyalin dan pendosa (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalender Yunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.
Isi Manuskrip Yerusalem[2]

Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:
  1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian-­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.
  2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.
  3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.
  4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.
  5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).
  6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).
Otentisitas Naskah[3]

Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­-bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.

Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, "Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian," dan menisbahkan teks tersebut kepada Kitab Suci.

Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Sejarah Gereja, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, "Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul." Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, "Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala." Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.

Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Sejarah Gereja, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan'. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.

Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.

St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.

Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis.

Kepenulisan kitab tersebut masih dipertanyakan apakah ditulis oleh rasul-rasul sebagaimana klaim penulis kitab tersebut atau ditulis beberapa ratus kemudian oleh murid yang mengatasnamakan rasul-rasul, tidaklah dapat dipastikan[4]. Kapan kitab ini mulai ditulis masih simpang siur. Ada yang menempatkan pada Abad IV Ms dan ada pula yang menempatkan pada Abad I Ms[5]. Keberadaan kitab Didake memang sudah disinggung dalam tulisan para Bapa Gereja seperti Eusebeius, Athanasius, Clement[6]
 
Isi Kitab Didake[7]

Kitab Didake berisi 16 pasal, yaitu:
  1. Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan).
  2. Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-­motong roti (pasal9 dan 10).
  3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
  4. Pasal 16: menunggu kedatangan Tuhan.
Kitab Kanonik dan Ekstrakanonik

Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja.

Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.

Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan.

Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a) Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c)Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[8]

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilahkan kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus(Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms),Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikarpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

Geisler menempatkan Didake dalam daftar Apokrifa. Namun tidak semua penulis Kristen sepakat dengan penempatan Kitab Didake dalam daftar Apokrifa Perjanjian Baru.

Dalam situs Early Christian Writing justru Kitab Didake tidak masuk dalam daftar Apokrifa. Berikut daftar Apokrifa menurutt Early Christian Writing:
  1. The Gospel of Thomas
  2. Oxyrhynchus 1224 Gospel
  3. The Egerton Gospel
  4. The Gospel of Peter
  5. Secret Mark
  6. The Gospel of the Egyptians
  7. The Gospel of the Hebrews
  8. The Apocalypse of Peter
  9. The Secret Book of James
  10. The Preaching of Peter
  11. The Gospel of the Ebionites
  12. The Gospel of the Nazoreans
  13. The Oxyrhynchus 840 Gospel
  14. The Traditions of Matthias
  15. The Gospel of Mary
  16. The Dialogue of the Savior
  17. The Gospel of the Savior
  18. The Epistula Apostolorum
  19. The Infancy Gospel of James
  20. The Infancy Gospel of Thomas
  21. The Acts of Peter
  22. The Acts of John
  23. The Acts of Paul
  24. The Acts of Andrew
  25. The Acts of Peter and the Twelve
  26. The Book of Thomas the Contender
  27. The Acts of Thomas[9]
Gereja Orthodok memasukkan Kitab Didake dalam daftar kanonnya yang berjumlah 81 kitab[10]. Sementara Katolik, Orthodox, Protestan tidak memasukkan dalam daftar kanon namun menjadikan kitab tersebut sebagai sumber sejarah yang mengungkap kehidupan jemaat perdana.
 
Benarkah Kitab Didake Adalah Versi Surat Rasul-Rasul
Dalam Kisah Rasul 15:27?
Akhir-akhir ini munjul kelompok jemaat yang menamakan diri mereka dengan sejumlah nama al., Jemaat Yerusalem (Assembly of Jerusalem), Esseni Nasrani dll. Mereka mengklaim sebagai Bunda Gereja yang merupakan jemaat yang dipimpin oleh garis keturunan kerabat Yesus yang disebut Shemishqo atau Desposyni. 

Mereka mendasarkan Kitab Suci mereka pada Peshitta Aramaik dan sejumlah kitab lainnya seperti Sefer Av Kadmonim, Sefer Shakanyah, Injil Thomas dll. Mereka menyalahkan kepemimpinan Gereja Katolik dan Ortodox sebagai bentuk kemurtadan Gereja terhadap Bunda Gereja yaitu Jemaat Yerusalem. Berikut pernyataan Rabbi (Sh’masha) Hotman Lumbantoruan selalu salah satu dari orang yang ditahbiskan oleh Jemaat Yerusalem di Indonesia sbb: “Keliru besar Gereja Kristen yang mendasarkan kepemimpinan pada Shimon Keipha, saudara Keipha dan anaknya Keipha sebagai Ketua dan Wakil Tuhan seperti Roma Katolik, Gereja Ortodoks Antiokhia, Konstantinople dan Koptik. Shimon Keipha BUKAN Kohen (Imam), tetapi hanya “Uskup” yang masuk kelompok Penatalayanan (Servanthood) yang merupakan perpanjangan dari Keimamatan ( Kehunnah /Kohaneim – Priesthood)”[11]


Eksistensi gereja di luar Jemaat Yerusalem digelari dengan istilah Aramaik “Klal Kristiana” yang artinya “Bidat Kristen” sebagaimana pernyataan Hotman Lumbatoruan sbb, “Mereka ini dikenal sebagai kelompok-kelompok orang percaya “Teologia Pengganti” yang sudah mulai sejak abad ke-2 masehi sampai sekarang yang umumnya disebut dengan istilah Aramaik “Klal Kristiana” (Bidat-bidat sesat Kristen). Mereka bisa saja menang melawan Jemaat Yerusalem secara fisik, dan segala kekuatan duniawi yang dimilikinya tetapi pada akhirnya nanti nasib mereka akan berujung pada ucapan Yeshua, “ENYAHLAH”![12]

Mengenai Kitab Didake, mereka meyakini bahwa Kitab ini adalah surat yang ditulis rasul-rasul yang disinggung dalam Kisah Rasul 15:27 sbb, “Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu”. Berikut pernyataan Hotman Lumbantoruan sbb:

Salah satu dari kesetiaan Jemaat Yerusalem mempertahankan naskah Peshitta Brith Khadasha, yakni kitab Sefer Maasei haShlikhim, pasal 15 yang berisi Sidang Majelis Sanhedrin Rasuliah Perjanjian Baru yang mengulas Perjanjian bagi kaum Goyim orang percaya. Dalam naskah-naskah terjemahan berbahasa Yunani, Latin, Koptik dan Aramaik Non-Yerusalem telah menghapuskan Isi Surat yang dituliskan oleh Yaaqub HaTzadik sebagai “Jalan Hidup” yang mereka harus jalani dalam mengikut Mshikha, Jalan Tuhan, naskah ini dikenal sebagai “Ajaran-ajaran 12 Rasul” yang otentik hasil Keputusan Roh Kudus dan Rasul-rasul (Kis.15:28)”

Kemudian beliau menuliskan interpretasinya mengenai Kisah Rasul 15:29 sbb: “Banyak orang tidak sadar atau buta mata rohaninya saat membaca teks Kisah Rasul 15: 29 yang berkata: “Kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala,dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. SEKIANLAH, SELAMAT.” – Kis. 15:29. Ayat ini terlihat jelas mengulang-ulang perkataan dari ayat 20. Dan juga sebagai pengalih dari suatu teks yang sengaja dibuang dari Pasal 15 ini! Akhir kata ditutup dengan Dua kata: SEKIANLAH, SELAMAT. Apanya yang sekianlah? Dari ayat 23 - 28 adalah kalimat“Salam Pembuka”, sedangkan “Isi Surat” seharusnya mulai ayat 29, tetapi langsung digantikan kalimat ulangan ayat 20 dan ditutup dengan kata Sekian, selamat! Ini seperti menonton Film yang baru saja mengekspose nama-nama pemain dan gambaran sekilas isi cerita, tiba-tiba Film tersebut diakhiri dengan kata “the End” alias Tamat. Apanya yang tamat mulai ceritapun belum!?

Puji Tuhan ternyata, masih ada Jemaat Yerusalem yang melestarikan naskah asli dari Kisah Rasul pasal 15 ini utuh dengan Isi Surat Hasil Sidang Yerusalem....”[13] 

Benarkah pernyataan beliau yang mewakili eksistensi Jemaat Yerusalem atau Esseni Nasrani di Indonesia? Pertama, Bapa Gereja tidak pernah menghubungkan Kitab Didake dengan Kisah Rasul 15:27. Kedua, penggalan isi dari surat rasul-rasul yang disitir dalam Kisah Rasul 15:27 salah satunya adalah, “kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat” (Kis 15:29). Dan pernyataan mengenai larangan memakan makanan yang dikategorikan di atas, tidak ditemukan dalam 16 pasal dari Kitab Didake, sebagaimana kita akan membahas terjemahan Kitab Didake dibagian berikutnya.

Jadi pernyataan bahwa Kitab Didake adalah isi dari surat rasul-rasul yang disebutkan dalam Kisah Rasul 15:27, tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
 

Terjemahan Kitab Didake[14]
Pasal 1. Mengenai Dua Jalan dan Hukum Yang Terutama.
Ada dua jalan, satu menuju kehidupan dan satu menuju kematian, namun ada perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Jalan Kehidupan adalah sebagai berikut: Pertama, engkau harus mengasihi Tuhan yang mencipatakanmu; kedua, kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri dan janganlah melakukan kepada orang lain apa yang engkau tidak ingin orang lain melakukannya bagimu. Dan kata-kata ajaran itu adalah: Berkatilah mereka yang menganiaya kamu dan berdoalah bagi musuh-musuhmu dan bertahanlah terhadap mereka yang menganiaya kamu. Sebab upah apakah yang akan engkau terima jika engkau mengasihi orang yang mengasihimu? Bukankah orang-orang bangsa-bangsa (non Yahudi) melakukan hal yang sama? Sebaliknya kasihilah mereka yang membencimu dan janganlah kamu memiliki musuh. Hindarilah keinginan daging dan duniawi. Jika seseorang menampak pipi kananmu, berikan padanya pipi yang lain dan kamu akan menjadi sempurna. Jika seseorang menyuruhmu berjalan untuk satu mil, berjalanlah bersamanya sepanjang dua mil. Jika seseorang meminta jubahmu maka berikanlah pada dia pakaianmu. Jika seseorang mengambil dari apa yang kamu miliki, janganlah kamu meminta kembali, karena kamu termasuk yang tidak memiliki kemampuan. Berilah kepada siapapun yang meminta daripadamu dan jangan meminta kembali; karena kehendak Bapa bahwa semua orang harus diberikan berkat-berkat yang kita miliki. Berbahagialah mereka yang memberi berdasarkan perintah, karena dia adalah orang yang suci. Celakalah dia yang menerima; karena jika seseorang menerima apa yang dia perlukan, maka dia suci; namun jika dia menerima apa yang tidak diperlukan maka akan membayar dengan hukuman, mengapa dia menerima dan untuk apa dia menerima. Dan saat mendatangi penjara, dia akan dihakimi berdasarkan sesuatu yang telah dia kerjakan dan dia tidak akan lolos dari sana hingga dia membayar uang yang terakhir. Dan juga mengenai hal ini telah terlebih dahulu dikatakan, hendaklah sedekahmu melekat di tanganmu, hingga engkau tahu kepada siapa engkau memberikan sedekahmu.

Pasal 2. Perintah KeduaLarangan Terhadap Kebusukan Dosa.
Dan perintah kedua dari Ajaran itu adalah; janganlah kamu melakukan pembunuhan, janganlah kamu melakukan perzinahan, janganlah kamu melakukan praktek homoseksualitas, janganlah kamu melakukan kecemaran, janganlah kamu mencuri, janganlah melakukan praktek magis, janganlah melakukan sihir, jangan membunuh bayi melalui aborsi janganlah pula membunuh bayi yang lahir tersebut. Janganlah mengingini dengan cemburu sesuatu yang dimiliki sesama, janganah kamu bersumpah, jangan mengucapkan saksi dusta, janganlah kamu berkata-kata jahat, janganlah mendendam, janganlah kamu bercabang pikiran dan bercabang lidah, karena menjadi orang yang bercabang lidah adalah jebakan maut. Ucapanmu janganlah palsu, janganlah sia-sia namun lengkapilah dengan perbuatan. Janganlah kamu iri hati, jangan pula serakah, jangan pula munafik, janganlah memiliki keinginan jahat, janganlah sombong. Janganlah engkau memberi nasihat jahat terhadap sesamamu. Janganlah membenci siapapun namun beberapa diantaramu seharusnya menegur dan beberapa diantaramu seharusnya berdoa dan beberapa orang diantaramu seharusnya mengasihi lebih dari hidupnya.


Pasal 3. Dosa-Dosa Lain Yang Dilarang.
Anakku, menjauhlah dari segala sesuatu yang jahat dan dari hal yang serupa dengan itu. Jangan mudah marah, karena kemaraham mendorong pada pembunuhan. Jangan pula menjadi cemburu juga jangan mudah bertengkar dan jangan pula mudah terbakar amarah. Karena semua hal tersebut melahirkan pembunuhan. Anakku, janganlah menjadi seseorang yang penuh nafsu, karena nafsu menuntun pada perzinahan. Jangan sekali-kali menjadi orang yang berbicara kotor, jangan pula bermata angkuh, karena semua hal tersebut melahirkan perzinahan. Anakku, janganlah menjadi peneliti pertanda, karena hal itu mendorong pada penyembahan berhala. janganlah menjadi penyihir, tidak pula menjadi astrolog, jangan pula menjadi seorang pembersih, janganlah memiliki keinginan untuk memperoleh hal-hal tersebut, karena menjadi pendusta, semua hal tersebut melahirkan perzinahan. Anakku, janganlah menjadi pendusta, karena hal itu mendorong pada pencurian. Janganlah menjadi pencinta uang, jangan pula menjadi orang yang besar kepala, karena semua hal tersebut melahirkan berbagai tindakan pencurian. Janganlah menjadi pembaca mantra, karena hal tersebut menuntun pada kutukan. Jangan menjadi orang yang mementingkan diri sendiri dan jangan pula menjadi seseorang yang berpikiran jahat, karena semua hal tersebut melahirkan berbagai kutukan.

Pasal 4. Berbagai Aturan Lainnya
Anakku, ingatlah siang dan malam terhadap mereka yang menyampaikan Firman Tuhan bagimu dan hormatilah mereka sebagaimana engkau menghormati Sang Junjungan Agung Yesus karena dimanapun hukum yang agung diucapkan, di sanalah Junjungan Agung Yesus berada. Dan carilah hari demi hari wajah orang-orang kudus, agar kamu bersandar pada perkataan-perkataan mereka. Janganlah mendukung perselisihan sebaliknya bawalah mereka yang berselisih untuk berdamai. Hakimilah dengan adil, jangan membedakan orang saat mengadili pelanggaran. Janganlah engkau ragu-ragu apakah perkara ini harus diputuskan atau tidak. Janganlah menjadi orang yang mengulurkan tangannya untuk menerima dan menjadi perancang sehingga orang yang memberi kembali memberi sesuatu. Jika kamu memili sesuatu, melalui tangnu engkau harus memberi tebusan bagi dosa-dosamu. Janganlah ragu-ragu untuk memberi, jangan pula mengeluh saat memberi; karena engkau akan mengetahui siapakah pengganjar yang baik dari pemberian tersebut. Jangan menghindar dari mereka terhadap apa yang diperlukannya, sebaliknya berbagilah bersama saudaramu dan janganlah berkata kepada mereka bahwa itu milikmu. Sebab jika engkau ambil bagian dalam hal-hal yang fana tersebut, betapa lebih lagi terhadap hal-hal yang kekal? Janganlah menjauhkan tanganmu dari anakmu laki-laki atau anak –anakmu perempuan; sebaliknya, ajarlah mereka takut akan Tuhan dari sejak mereka muda. Janganlah memerintah apapun dengan kepahitan terhadap pembantumu laki-laki atau pembantumu perempuan, yang berharap pada Tuhan yang sama, sehingga mereka tidak menjadi takut akan Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu; Karena Dia datang bukan untuk memanggil yang nampak secara lahiriah namun bagi mereka yang telah disiapkan oleh Roh Kudus. Dan wahai engkau para pelayan lelaki, hendaklah kamu menghormati tuanmu sebagaimana terhadap YHWH dalam kesopanan dan rasa takut. Engkau harus membenci semua kemunafikan dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Junjungan Agung kita. Janganlah dalam hal apapun melupakan perintah-perintah dari YHWH; namun jagalah apa yang telah kamu terima, janganlah kamu menambahi atau menguranginya. Dalam jemaat, engkau harus saling mengaku dosamu dan engkau tidak akan datang mendekat untuk doa-doamu dengan pikiran yang jahat. Inilah jalan kehidupan.

Pasal 5. Jalan Kematian.
Jalan kematian adalah: Pertama adalah semua hal yang jahat dan terkutuk yaitu: pembunuhan, perzinahan, keinginan daging, penyembahan berhala, pencurian, seni magis, sihir, perkosaan, kesaksian palsu, kemunafikan, mendua hati, menipu, kesombongan, kemerosotan moral, mementingkan diri sendiri, berbicara yang kotor, keirihatian, percaya diri yang berlebihan, keangkuhan, membual, penganiaya orang baik, membenci kebenaran, mencintai dusta, tidak mengetahui upah bagi orang benar, tidak membedakan mana yang baik tidak pula keputusan yang adil, tidak memperhatikan apa yang baik melainkan memperhatikan apa yang jahat; menjauh dari hal kelemahlembutan dan kesabaran, mencintai kesia-siaan, mengejar dendam, tidak berbelaskasihan terhadap orang miskin, tidak membantu orang yang mengalami kemalangan, tidak mengetahui Dia yang menciptakan mereka, para pembunuh anak-anak, yang menghancurkan karya Tuhan, berpaling dari mereka yang membutuhkan, menambah kesusahan orang yang sedang menderita, membela orang-orang kaya, mengadili perkara orang miskin dengan tidak sesuai hukum, melahirkan para pendosa. Bebaskanlah dari semua itu wahai anak-anak.



Pasal 6. Melawan Guru-guru palsu dan makanan yang dipersembahkan pada berhala.
Perhatikanlah bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat menyebabkanmu melangar dari Jalan Pengajaran, karena mereka yang mengajar demikian akan terpisah dari Tuhan. Jika kamu sanggup menanggung seluruh kuk dari YHWH maka engkau menjadi sempurna namun jika kamu tidak mampu menanggungnya, maka lakukan apa yang kamu mampu. Dan mengenai makanan, pikullah ap yang kamu mampu lakukan; namun janganlah makanan yang telah dipersembahkan secara khusus kepada berhala-berhala; sebab ini adalah persembahan terhadap dewa-dewa yang mati.



Pasal 7. Mengenai Baptisan.
Dan mengenai baptisan, baptislah dengan cara sebagai berikut: Pertama-tama katakanlah semua hal berikut, baptislah ke dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam air yang mengalir. Jika tidak ada air yang mengalir, baptiskanlah ke dalam air yang lain; dan jika engkau tidak dapat melakukannya di air yang dingin, lakukanlah di air yang hangat. Namun jika engkau tidak menemukan apapun, maka tuangkanlah air sebanyak tiga kali ke atas kepala ke dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Namun sebelum baptisan hendaklah orang yang akan dibaptis melakukan puasa dan kemudian dibaptis, dan siapapun dapat melakukannya; namun engkau harus memerintahkan pada orang yang dibaptis untuk berpuasa selama satu atau dua hari sebelumnya.



Pasal 8. Berpuasa dan Berdoa (Doa Bapa Kami).
Namun janganlah kamu berpuasa bersama orang-orang munafik, karena mereka berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam seminggu. Sebaliknya, berpuasalah pada hari keempat dan Hari Persiapan (Jumat). Janganlah berdoa seperti orang-orang munafik namun sebagaimana diperintahkan Sang Junjungan Agung Yesus dalam Injilnya, yaitu:Berdoalah setiap tiga kali sehari.



Pasal 9. Eukaristi.
Mengenai Eukaristi, lakukanlah pengucapan syukur dengan cara berikut. Pertama, mengenai cawan: “Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa kami, oleh karena anggur suci-Mu yaitu Daud, hamba-Mu yang telah Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus hamba-Mu, bagi-Mu kemuliaan selama-Nya”. Dan mengenai roti yang dipecah sbb: “Kami bersyukur pada-Mu, Bapa kami, karena kehidupan dan pengetahuan yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus, hamba-Mu; bagi-Mulah kemuliaan untuk selama-lamanya. Sebagaimana roti yang terpecah ini telah diserakkan di sepanjang gunung-gunung dan telah dikumpulkan bersama dan menjadi satu, biarlah Jemaat-Mu dikumpulkan bersama dari ujung-ujung dunia ke dalam Kerajaan-Mu; karena kepunyaan-Mu kemuliaan dan kekuatan melalui Yahshua Sang Mesias selamanya.. Janganlah seorangpun makan atau minum Eukaristi, sampai mereka telah menerima baptisan ke dalam nama Junjungan Agung; karena mengenai hal ini telah dikatakan oleh Junjungan Agung kita: Janganlah memberikan sesuatu yang kudus kepada anjing-anjing”



Pasal 10. Doa setelah Perkumpulan.
Dan setelah kamu menyelesaikkan semua itu, ucaplah syukur dengan cara berikut: “Kami bersyukur pada-Mu, Bapa Yang Kudus, karena nama kudus-Mu yang Engkau jadikan berkemah di dalam hati kami dan atas pengetahuan dan iman serta ketidakbinasaan yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus, hamba-Mu; bagi-Mu kemuliaan selama-lamanya. Engkaulah, Tuan, Penguasa yang telah menciptakan segala sesuatu demi nama-Mu saja; Engkau telah memberikan makanan dan air bagi manusia untuk dinikmati, sehingga mereka mampu memberikan ucapan syukur pada-Mu; namun bagi kami Engkau telah memberikan secara Cuma-Cuma makanan rohani dan minuman serta kehidupan kekal melalui hamba-Mu. Sebelum semua itu ada, kami mengucap syukur pada-Mu bahwa Engkau saja yang berkuasa; Bagi-Mu kemuliaan untuk selamanya. Ingatlah, Junjungan Agung, Jemaat-Mu, bebaskanlah dari semua hal yang jahat dan sempurnakanlah di dalam kasih-Mu dan kumpulkanlah dari empat penjuru angin, kuduskanlah bagi kerajaan-Mu yang telah Engkau sediakan bagi kami, karena bagi-Mu saja kekuatan dan kemuliaan sampai selamanya. Datanglah segera anugrah dan biarlah dunia ini berlalu. Hosana bagi Tuhan(nya) Dawid! Jika ada seorang  yang suci, biarlah dia segera datang. Jika ada seorang yang tidak suci, bertobatlah. Maranata, Amen”. Namun ijinkanlah para nabi melakukan Pengucapan Syukur sebagaimana yang dia kehendaki.

Pasal 11. Mengenai Para Guru, Rasul-rasul dan Nabi-nabi.
Siapapun yang datang dan mengajarmu mengenai semua hal yang telah disampaikan sebelumnya, terimalah dia. Namun jika sang guru kembali dan mengajarkan ajaran yang lain untuk merusakkan ajaran, janganlah mendengarkan dia. Namun jika dia mengajar selayaknya untuk menumbuhkan kebenaran dan pengetahuan tentang Junjungan Agung, maka terimalah dia sebagai Junjungan Agung. Dan mengenai para rasul dan para nabi, bertindaklah berdasarkan ketetapan Besorah. Biarlah setiap rasul yang datang kepadamu diterima sebagai Junjungan Agung. Namun janganlah dia tinggal lebih dari satu hari atau dua hari, jika ada suatu kebutuhan. Namun jika dia tinggal selama tiga hari, maka dia adalah nabi palsu. Dan ketika rasul itu berlalu, biarkanlah dia tidak mengambil apapun kecuali roti sampai dia memperoleh tempat menginap. Jika dia meminta uang, dia adalah nabi palsu. Dan setiap nabi yang berbicara dalam Roh, janganlah kamu menghakimi dan janganlah pula menggoda; karena semua dosa akan diampuni namun dosa (menghakimi orang yang berbicara dalam Roh Kudus) tidak akan diampuni. Namun tidak semua orag yang berbicara dalam Roh adalah nabi, kecuali apabila dia tetap memelihara berbagai jalan Junjungan Agung. Selanjutnya, dari perilakunya dapat diketahui nabi tersebut palsu. Dan setiap nabi yang memerintahkan untuk makan dalam Roh namun dia sendiri tidak makan, maka dia adalah nabi palsu. Dan setiap nabi, terbukti benar, mengerjakan misteri Jemaat dalam dunia, tidak mengajarkan berdasarkan dirinya sendiri, maka janganlah kamu menghakiminya, karena Tuhan yang menghakiminya; demikianlah telah dilakukan terhadap nabi-nabi terdahulu. Namun siapapun yang berbicara dalam Roh, berikanlah uang atau sesuatu yang lain, maka engkau janganlah mendengarnya. Namun jika dia menyampaikan padamu untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkan, janganlah engkau menghakimi nabi itu.


Pasal 12. Mengenai Penyambutan terhadap orang-orang Kristen.
Terimalah setiap orang yang datang dalam nama Junjungan Agung dan kenalilah dia selanjutnya; karena engkau harus memiliki pemahaman mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Jika dia yang datang kepadamu adalah seorang musafir, bantulah dia semampu yang kamu lakukan; karena dia tidak akan tetap berada bersamamu selama lebih dari dua atau tiga hari, jika memang diperlukan. Namun jika dia ingin tinggal bersamamu dan memiliki kemampuan, biarlah dia bekerja dan makan. Namun jika dia tidak memiliki kemampuan berdasarkan pengertianmu, lihatlah hal itu, bahwa sebagai orang Kristen, dia tidak pantas bermalas-malasan. Namun jika dia tidak berkeinginan melakukan sesuatu, maka dia adalah penjual Mesias. Perhatikanlah agar kamu terhindar dari perilaku sedemikian.



Pasal 13. Mengenai Dukungan Terhadap Para Nabi.
Namun setiap nabi yang sungguh-sungguh nabi yang menginginkan tinggal bersamamu, adalah layak untuk menopang dirinya. Demikianlah guru yang sejati adalah yang dirinya sendiri layak sebagai seorang pekerja untuk menopang kehidupannya. Selanjutnya, setiap buah sulung dari hasil buah anggur dan mesin pengirik, dari lembu jantan dan domba, harus kamu berikan bagi para nabi, karena mereka adalah imam besarmu. Namun jika mereka tidak memiliki nabi, berikan itu bagi orang miskin. Jika kamu membuat adonan, ambilah buah sulung dan berikanlah berdasarkan perintah. Demikian pula jika engkau membuka kendi anggur atau minyak, ambilah buah sulung dan berikanlah pada para nabi; dan uang dan pakaian serta setiap yang kamu miliki, ambilah buah sulung sehingga itu nampak baik bagimu dan berikanlah berdasarkan perintah.



Pasal 14. Perkumpulan Kristen pada Hari Tuhan.
Namun pada tiap-tiap hari Junjungan Yang Agung, berkumpulah bersama dan pecahkanlah roti dan ucapkanlah syukur setelah mengakui dosa-dosamu, sehingga korbanmu menjadi murni. Namun janganlah dia yang berselisih dengan sesamanya jangan berada bersamamu, sampai mereka melakukan perdamaian, sehingga korbanmu tidak menjadi cemar. Karena inilah yang dikatakan oleh Junjungan Yang Agung: “Dalam setiap tempat dan waktu, persembahkanlah kepadaku persembahan yang kudus; karena Aku adalah Raja Besar, firman Junjungan Yang Agung dan nama-Ku adalah agung di antara segala bangsa”



Pasal 15. Para Bishop dan Diaken.
Teguran Cara Kristen. Selanjutnya, pilihlah bagi dirimu, para bishop dan diaken yang layak bagi Junjungan Yang Agung, seorang yang rendah hati dan tidak mencintai uang dan jujur serta dapat dipercaya, karena mereka menyampaikan bagimu pelayana para nabi dan para guru. Selanjutnya, janganlah memandang rendah mereka, karena mereka orang yang layat dihormati, bersama para nabi dan para pengajar. Dan tegurlah satu sama lain, bukan dalam kemaraham namun dalam damai sebagaimana yang kamu miliki dalam Injil. Namun terhadap seseorang yang bertindak salah terhadap yang lain, janganlah seorangpun berbicara, jangan pula biarkan dia mendengar apapun darimu sampai dia bertobat. Namun doamu dan perbauatn baikmu dan seluruh amalan baikmu, kerjakanlah sebagaimana yang kami miliki dalam Injil Junjungan Agung kita.

Pasal 16. Mengenai Memperhatikan
Kedatangan Junjungan Agung yang kedua kali. Perhatikanlah demi hidupmu. Jangan biarkan lampumu meredup dan jangan biarkan pinggangmu tidak berikat; namun sebaliknya bersiagalah karena kamu tidak menetahui waktu mana Junjungan Agung kita akan datang. Namun sering-seringlah bersama, carilah sesuatu yang bermanfaat bagi jiwamu; karena keseluruhan waktu imanmu tidak menguntungkan dirimu, jika kamu tidak menyempurnakannya di zaman akhir ini. Karena di zaman akhir, para nabi palsu dan para pencuri semakin banyak dan para domba akan dibawa kepada serigala dan kasih akan dibawa kedalam kebencian; namun ketika angkara murka berkembang, mereka akan memenci dan saling menyerahkan satu sama lain dan kemudian akan muncul penyesat duniawi yang mengaku sebagai Putra Tuhan dan akan membuat banyak tanda dan keajaiban dan bumi akan diserahkan pada tangannya dan dia akan melakukan kekejian yang belum pernah ada sebelumnya. Kemudian apa yang diperbuat manusia akan diuji dan banyak orang akan tersandung dan binasa namun mereka yang bertahan dalam iman akan diselamatkan dari kutukannya. Dan akan muncul tanda-tanda kebenaran; Pertama, tanda terhampar di surga kemudian tanda suara terompet berbunyi. Ketiga, kebangkitan orang mati – meski belum semuanya namun telah dikatakan: “YHWH akan datang dan semua orang kudus-Nya bersama-Nya. Kemudian semua penduduk dunia akan melihat YHWH datang dia atas awan di Sorga.



Signifikasi Kitab Didake Bagi Kekristenan Masa Kini


Sekalipun Kitab Didake tidak memiliki kewibawaan Kanonik (sekalipun ada yang memasukannya dalam daftar Kanonik) namun Kitab Didake bukan sama sekali tidak memiliki manfaat. Apalagi Gereja Ortodox Etiophia memasukannya dalam daftar kanon Kitab Suci mereka.


Kitab Didake memberikan beberapa rujukan penting sbb:

Pertama, Petunjuk penerapan halakah atau syariat hidup sebagai orang Kristen.


Didake adalah penting karena minimnya soal teologi atau persoalan teologis. Ini berfokus pada cara hidup yang diajarkan oleh Yesus dan rasulnya, doa dan puasa, dan sakramen-sakramen Kristen sederhana. Ini menunjuk ke sebuah tanggal yang sangat awal untuk penulisannya. Persoalan-persoalan teologi dibahas sekitar tahun 100 Ms dan sebelum tahun itu lebih ditekankan persoalan-persoalan etika[15]

Berkaitan dengan istilah syariat, kita harus mengerti terlebih dahulu apa arti “syariat” karena ini merupakan terminologi Arab yang terkait dengan Agama Islam.

Menurut M. Hasibullah Satrawi, “Secara kebahasaan syariat berarti jalan. Di dalam Alquran terdapat tiga ayat yang bermakna jalan (Qs. 45: 18, 5: 48, dan 42: 13). Syariat Islam berarti jalannya umat Islam. Syariat Kristen berarti jalannya umat Kristen. Begitu pula dengan syariat Yahudi. Lebih jauh Alquran menyebutkan, masing-masing agama mempunyai syariat tersendiri (Qs. 5: 48). Umat beragama dianjurkan mengikuti jalannya (syariat) masing-masing. Para ulama kemudian memaknai jalan dengan ajaran. Jalan Islam berarti ajaran Islam. Mengikuti jalan Islam berarti mengamalkan ajarannya”[16]

Dari kutipan di atas, bahwasanya kata “syariat” adalah “aturan”. Jadi semua agama pasti memiliki syariat termasuk Kekristenan yang melandaskan pada ajaran dan kehidupan Yesus Sang Mesias Putra YHWH Semesta Alam. Dalam istilah Yahudi, kata yang setara dengan “syariat” adalah “halakhah”. Dalam kaitannya dengan kepercayaan kita, maka saya sebut Halakah Ha Mashiakh atau Syariat Al Masih.

Halakhah dapat menunjuk pada dua hal. Pertama, gaya hidup seseorang yang berlandaskan Torah dan perintah-perintah YHWH. Kedua, sekumpulan fatwa-fatwa atau keputusan para pemimpin agama berkaitan dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari mengenai apa yang boleh dan tidak boeh dilakukan. Sumber atau rujukan  Halakhah Mesias  adalah Kitab TaNaKh (singkatan dari Torah, Neviim, Kethuvim) yang disebut orang Kristen pada umumnya disebut Kitab Perjanjian Lama dan juga uacapan dan perbuatan Yesus Sang Mesias yang terekam dalam Kitab-kitab Euanggelion atau Injil.

Yesus telah mengatakan dalam Yohanes 13:15 sbb: “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Rasul Petrus (Kefa) pun menegaskan hal yang sama dalam suratnya sbb: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena (Mesias) pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejaknya”(1 Petrus 2:21).
Kata “teladan” dalam Yohanes 13:15 dipakai kata Yunani υποδειγμα (hupodeigma) dan dalam 1 Petrus 2:21 dipergunakan kata Yunani υπογραμμον (hupogrammos) dan diterjemahkan dalam bahasa Ibrani menjadi מופת (mofet) yang artinya “contoh”. Berarti Mesias Yesus telah meninggalkan bagi kita suatu contoh. Baik Mesias Yesus maupun Rasul Petrus menekankan bahwa contoh atau teladan yang ditinggalkan Yesus Sang Mesias harus dilakukan. Kalimat “supaya kamu mengikuti jejak-Nya” dalam terjemahan berbahasa Ibrani, “Wayehi lakem lemofet laleket beiqqvotaiw”. Katalaleket  berasal dari kata halak yang artinya “berjalan”. Dalam terjemahan Peshitta Aramaik diterjemahkan dengantahalakon. Berdasarkan pemahaman bahasa di atas, maka sebagai Pengikut Mesias (apapun namanya, Orthodox, Katholik, Kristen, Mesianik) kita harus menjalankan dan melaksanakan Halakah Mesias dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain kita menjalankan dan melaksanakan Syariat Al Masih dalam kehidupan sehari-hari[17].

Apa saja yang termasuk Halakah Mesias itu...? 
Pertama
, Yesus mengatakan dalam Matius 5:17-20 sbb: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Torah, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Torah sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah Torah, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.
Dari kutipan di atas kita mendapat penegasan bahwa Torah yang diturunkan YHWH di Sinai kepada Moshe dan Bangsa Israel tetap menjadi pedoman moral dan perilaku kita, sebagaimana Mesias Yesus tetap melakukan ketentuan Torah.


Torah sebagai sumber Halakah Mesias memerintahkan kita untuk:
  1. Mengesakan Tuhan (Ulangan 6:4-5)
  2. Memelihara Shabat (Keluaran 20:8-11)
  3. Menghindari makanan yang tahor dan tame (Imamat 11:1-47)
  4. Memelihara Moedim (hari-hari raya)
  5. Menegakkan keadilan (Yesaya 56:1)
  6. Membela dan melindungi janda dan anak yatim (Keluaran 22:22, Yesaya 1:17)
  7. Memperlakukan orang miskin dengan selayaknya (Imamat 25:35)
  8. Menghindari riba (Imamat 25:36)
  9. Menghindari pemerasan (Imamat 19:13)
  10. Menghindari suap (Keluaran 23:8, Ulangan 16:19)
  11. Menjaga kebersihan (Imamat 13:1-11)
  12. Menjaga kesehatan (Bilangan 19:14-17)
  13. dll.

Kedua, sumber Halakah Mesias berikutnya adalah ucapan, ajaran, perintah dan tindakan Yesus Sang Mesias yang terekam dalam Kitab Injil (Ibrani: Besorah/Yunani: Euanggelion). Yesus mengajarkan hal-hal berikut:
  1. Mengesakan Tuhan (Markus 12:29)
  2. Memelihara Shabat (Lukas 6:5)
  3. Memelihara Moedim (Yoh 7:37-38)
  4. Menegakkan keadilan (Matius 23:23)
  5. Menghormati pernikahan (Matius 19:1-12)
  6. Mengasihi Tuhan dan sesama sebagai inti Torah (Matius 22:37-40)
Apa saja perbuatan Yesus Sang Mesias yang harus diteladani sebagai sumber Halakah Mesias?
  1. Yesus menghargai orang miskin (Lukas 4:18, Yohanes 12:8)
  2. Yesus tetap mengampuni meskipun disalibkan oleh musuh-Nya (Lukas 23:34)
  3. Yesus menghormati kemanusiaan (Yohanes 8:1-11)
  4. Yesus menghindari kekerasan (Yohanes 18:10)
  5. Yesus empati terhadap orang berdosa agar mereka bertobat (Matius 9:10,13, Lukas 7:37)
  6. dll.[18]
Kitab Didake merefleksikan Torah sebagai pedoman moral, perilaku, syariat, halakah pengikut Mesias. Konsep “Dua Jalan” yaitu Jalan kehidupan (Pasal 1) dan Jalan kematian (Pasal 5) menggemakan kembali isi Torah dan ajaran Yesus Sang Mesias.

Torah kerap menggunakan istilah Derek YHWH atau  Jalan YHWH untuk menggambarkan petunjuk perilaku sebagai umat beriman sbb:

Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada YHWH dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus. Hanya takutlah akan YHWH dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu. Tetapi jika kamu terus berbuat jahat, maka kamu akan dilenyapkan, baik kamu maupun rajamu itu." (1 Sam 12:23-25)

sebab aku tetap mengikuti jalan YHWH dan tidak menjauhkan diri dari Tuhanhku sebagai orang fasik. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang” (2 Sam 22:22-23)
Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah YHWH Tuhanmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia” (Ul 8:6)

Jalan YHWH atau Derek YHWH adalah seperangkat sistem dan kepercayaan pada YHWH yang ditunjukkan dalam peribadatan dan ketaatan melakukan hukum, aturan, perintah serta ketetapan YHWH. Dimanakah kita dapat menemukan hukum, aturan, ketetapan YHWH itu? Jawabannya, Torah!

Yesus pun bersabda mengenai pintu dan jalan yang lebar dan yang sempit, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya"(Mat 7:13-14).

Oleh karenanya, orang Kristen masa kini tidak boleh mengajarkan bahwa Torah sudah dibatalkan dan tidak berlaku bagi orang Kristen. Torah –sebagaimana ajaran Yesus- adalah pedoman moral, perilaku, akhlak, halakah, syariat orang Kristen yang sudah menerima karunia kehidupan kekal. Kitab Didake sebagai produk Abad II Ms meneguhkan Kitab Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa orang Kristen tidak seharusnya hidup bebas dari Torah melainkan diatur oleh Torah. Kekristenan masa kini telah menjauhkan hidupnya dari Torah dan membebaskan dirinya dari syariat yang diatur dalam Torah.


Kedua, petunjuk pelaksanaan dan pelestarian ibadah yang berakar pada Yudaisme.


Pasal 7 (Baptisan) Pasal 8 (Puasa), Pasal 9 (Ekaristi) memberikan petunjuk jelas bagaimana ibadah Yudaisme dalam Torah masih dipelihara oleh umat Kristen perdana dengan penghayatan yang berpusat pada karya Yesus Sang Mesias yang wafat dan bangkit.

Kitab Didake menyinggung perintah soal ibadah harian Yudaisme yang tetap dipelihara dalam bingkai pengikut Yesus Sang Mesias. Pada Pasal 8 perihal berpuasa dan berdoa dikatakan, “Berpuasa dan Berdoa (Doa Bapa Kami). Namun janganlah kamu berpuasa bersama orang-orang munafik, karena mereka berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam seminggu. Sebaliknya, berpuasalah pada hari keempat dan Hari Persiapan (Jumat). Janganlah berdoa seperti orang-orang munafik namun sebagaimana diperintahkan Sang Junjungan Agung Yesus dalam Injilnya, yaitu. Berdoalah setiap tiga kali sehari”.

Dalam naskah Yunani tertulis, “tri te hemera outoi proseuchethe”[19]. Kalimat ini memberikan rujukan yang jelas mengenai aplikasi Doa Bapa Kami diletakkan dalam Tefilah harian jemaat Kristen yang berakar pada keyahudian. Praktek penggunaan Doa Bapa Kami memiliki konteks dalam spirit Yudaisme yaitu merupakan bagian dari liturgi doa harian orang percaya.

Jika kita tidak memahami latar belakang Yudaisme Abad I Ms maka kita akan gagal dalam memahami sejumlah konsep ibadah yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru khususnya mengenai ibadah harian tiga kali sehari yang disebut Tefilah.

Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:[20]
  1. Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3) [21]
  2. Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44)[22]
  3. Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17)
  4. Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8)[23].
Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb:

Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi”[24]

Rashid Rahman mengatakan, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme”[25] Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[26]

Tulisan-tulisan paska rasuli sampai masa Kontantinus Agung (Abad I-IV M) banyak mengulas eksistensi mengenai ibadah harian berikut varian pemahaman dan pelaksanaannya[27]. Kitab Didache (50-70 M) menasihatkan para orang Kristen untuk berdoa Bapa Kami tiga kali sehari. Surat pertama Klemens (96-98 M) dari Roma kepada orang Korintus mengenai kewajiban berdoa yang telah ditentukan oleh Tuhan. Surat Plinus kepada Trajanus (112 M) mengenai doa sebelum matahari terbit. Klemens dari Alexandria (150-215 M) menolak pola doa harian Yudaisme dan menggantikan dengan doa sebelum, selama dan sesudah makan dan menjelang tidur serta bangun tidur. Hypolitus (215 M) menambahkan doa harian tiga kali sehari dengan doa tidur, tengah malam dan saat ayam berkokok. Tertulianus (220 M) menyarankan doa harian tiga kali sehari dengan menghadap ke Timur kea rah matahari terbit. Origenes (254 M) menggarisbawahi empat jam doa harian yaitu pagi, siang, malam dan sebelum tidur. Sikap tangan terentang sebagai tanda korban petang serta pembacaan Mazmur 140 sebagai isi doa malam. Siprianus (258 M) melestarikan doa harian Yudaisme.

Gereja Orthodox dan Katholik yang berkembang diluar Yerusalem, masih tetap memelihara pola ibadah harian yang diwariskan dari Yudaisme, meskipun dalam corak dan pemahaman teologis yang berbeda. Mereka melakukan doa harian sebagai ekspresi penghayatan terhadap pengalaman Mesias menjelang di salibkan dan bangkit dari kematian. Dalam tradisi gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut , Ashabush Sholawat, [28] yang terdiri dari :
  1. Sholat Sa’atul Awwal (Sholat jam pertama, jam 06.00)
  2. Sholat Sa’atuts Tsalits, (Sholat jam ketiga, jam 09.0)
  3. Sholat Sa’atus Sadis, (Sholat jam keenam, jam 12.00)
  4. Sholat Sa’atut Tis’ah, (Sholat jam kesembilan, jam 15.00)
  5. Sholat Ghurub, (Sholat terbenamnya matahari, jam 18.00)
  6. Sholat Naum (Sholat malam, jam 19.00)
  7. Sholat Satar (Sholat tutup malam, jam 24.00)
Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal yang disebut De Liturgia Horarum [29] yaitu :
  1. Laudes (Doa pagi)
  2. Hora Tertia (Doa jam ketiga)
  3. Hora Sexta (Doa jam keenam)
  4. Hora Nona (Doa jam kesembilan)
  5. Verper (Doa senja)
  6. Vigil (Doa malam)
  7. Copletorium (Doa penutup)
Istilah Liturgia Horarum dalam bahasa Inggris disebut Liturgy of the Hours (Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini[30]. Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan[31].

Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[32].

Namun demikian, gereja-gereja Barat secara perlahan-lahan mengabaikan peranan doa harian dengan sikap-sikap tubuh tertentu dan jam-jam tertentu dan menjadikannya sebagai doa yang berkaitan dengan tugas para imam. James F. White menjelaskan kenyataan tersebut sbb: “Di Barat, ibadah umat menghilang dalam beberapa abad, kerugian besar bagi kekristenan. Ibdah umum harian, selain melaksanakan ekaristi, menjadi tradisi rohaniawan dan biarawan yang hamper-hampir ekslusif selama berabad-abad”[33]


Kesimpulan

Sekalipun Kitab Didake masih menjadi kontroversi baik otensitasnya dikaitkan dengan rasul-rasul Perjanjian Baru, tahun penulisannya serta kanonisitasnya bahkan keterkaitannya dengan Sidang Yerusalem dalam Kisah Rasul 15, namun Kitab Didake layak untuk menjadi bacaan tambahan bagi umat Kristen mengingat signifikasinya terkait sebagai tulisan kuno yang mendukung adanya syariat atau akhlaq atau halakah Mesias. Bukan itu saja melainkan sebagai sebuah catatan kuno yang memberikan kekayaan data bahwa umat Kristen awal tetap beribadah sebagaimana ibadah Yudaisme khususnya ibadah harian tiga kali sehari atau Tefilah.

Tulisan ini bermaksud untuk mencari bukti, data dan fakta yang mendukung suatu visi mengenai Kekristenan yang berakar pada Yudaisme di zaman Yesus yang berpusat pada Torah serta tidak menghilangkan pola pikir Semitik dalam membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Ini adalah bagian dari kajian Judeochristianity. Dan Kitab Didake, merupakan salah satu bukti yang mendukung eksistensi Judeochristianity.


End Notes
[1] “Didache” (www.wikipedia.org) diunduh Tgl 15 Oktober 2009

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Chris Thomas, The Didache: Its Origin And Significancehttp://www.earlychurch.org.uk/article_didache.html 

[5] Ibid.,

[6] The Didache: When Was It Written? Part 1 , http://thedidache.org/tag/new-testament-canon/

[7] Ibid

[8] Geisler, Normal L., and Nix, William E., A General Introduction to the Bible, Revised and Expanded, (Chicago, IL: Moody Press) 1986.

[9] Apocrypha, http://www.earlychristianwritings.com/apocrypha.html

[10] The Bible  (http://ethiopianorthodox.org/english/canonical/books.html)

[11] Perjanjian Limudah Dihilangkan Kaum Kristen,  hal 4, Unpublished

[12] Ibid., hal 26

[13] Ibid., hal 15

[14]Diterjemahkan dari teks berbahasa Inggris yang diunduh dari  www.earlychristianwritings.com/didache-roberts.html

[15] The Didache: When Was It Written? Part 2 

http://thedidache.org/didache-internal-evidence/

[16]Membendung Perda Syariat , Jumat, 29 September 2006 (www.radarsulteng.com)

[17] Teguh Hindarto, Akhlaq Al Masih – Halikot ha Mashiakh

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/akhlak-al-masih-halikot-ha-mashiakh.html

[18] Teguh Hindarto, Halakah ha Mashiakh-Syariat Al Masih (Cara Hidup Pengikut Mesias)

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/halakah-ha-mashiakh-syariat-al-masih.html

[19] www.user.unu-bremen.de.didache.htm

[20] Teguh Hindarto, Pilar Ibadah Kristiani

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/10/pilar-ibadah-kristiani.html

[21] Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html

[22] Teguh Hindarto, Shabat: Ibadah Pekanan Kekristenan

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/03/shabat-ibadah-pekanan-kekristenan.html

[23] Teguh Hindarto, Tujuh Hari Raya YHWH Sebagai Bayangan Mesias

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/04/tujuh-hari-raya-yhwh-sheva-moedim.html

[24] Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16

[25] Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5

[26] Ibid., hal 36

[27] Op.Cit., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja, hal 19-22

[28] Bambang Noorsena, Sekilas Soal Sholat Tujuh Waktu Dalam Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996

[29] Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni 1998_________________

[30] Op. Cit., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua, hal 10

[31] Ibid 10

[32] Ibid., hal 11-12

[33] Pengantar Ibadah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2005, hal 120

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar