Kamis, 06 September 2012

Kajian Kritis Tentang Kitab Makabe


Dalam beberapa diskusi tentang api penyucian, salah satu alasan yg dijadikan argument bahwa dalam tradisi Yahudi ada prosesi mendoakan orang mati.
Selain itu, Sy juga akan menguraikan sedikit tentang kitab Makabe ini hingga mencapai sebuah kesimpulan mengapa kitab ini tidak dimasukan dalam daftar kanonisasi Alkitab Protestan.
Landasan argument yg digunakan adalah :
Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur.
Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi.
Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu.
Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.
2 Makabe 12 :40-45
Dasar dari pemahaman dan dasar adanya iman akan Api Penyucian terdapat di dalam kitab Makabe yang Kedua, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan korban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat-jimat, yang dilarang oleh hukum Taurat; Kitab Suci mencatat, “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya.” (12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (12:45). Ayat ini membuktikan praktek bangsa Yahudi mempersembahkan doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal.
Apakah pernyataan dibawah ini benar..?
Yudas Makabe menjadi imam dan melakukan praktek itu sehingga membuktikan ada praktek bangsa Israel mempersembahkan doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal...?

<<<< Tanggapan Kristen >>>>
Untuk membahas lebih lanjut tentang ini, Sy akan mencoba memberikan penelusuran berdasarkan dalam Alkitab dimulai dari imam dan siapa saja yg  layak menjadi imam dan mempersembahkan korban kepada ALLAH.
Dalam Perjanjian Lama tugas imam ada tiga macam, yaitu:
  1. Mempersembahkan korban karena dosa dihadapan orang banyak,
  2. Memasuki tempat kudus serta mendoakan orang banyak,
  3. Keluar dari tempat itu serta memberkati orang banyak.
Imam-imam dalam Perjanjian Lama boleh masuk ke dalam "Tempat Kudus" pada kemah, tetapi hanyalah Imam Besar yang boleh masuk ke dalam tempat "mahakudus" setahun sekali pada "hari pendamaian".
Para ahli berpendapat bahwa kata-kata berkat yang diucapkan sesudah Imam Besar keluar dari tempat "Maha Kudus" terdapat dalam Bilangan 6:22-27.

TUHAN berfirman kepada Musa:
"Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."
Bilangan 6:22-27
Menurut Perjanjian Lama, yg boleh menjadi imam adalah keturunan Lewi, tetapi ada pengecualian untuk beberapa contoh seperti misalnya nabi Samuel.
Nabi Samuel sendiri menjadi nabi sekaligus imam karena nazar ibunya.
“TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."1 Samuel 1:11

Fungsi terpenting imam besar adalah memimpin semua upacara pada Hari Raya Perdamaian setiap tahun. Pada hari itu, imam besar dapat memasuki ruang mahakudus di kemah pertemuan itu dan memercikkan darah kurban penghapus dosa ke atas tutup perdamaian. Dengan melakukan hal ini, ia mengadakan perdamaian bagi segala kesalahannya, bagi kesalahan keluarganya, dan bagi kesalahan seluruh Israel (Imamat 16:1-25). Imam besar itu juga harus memercikkan darah kurban penghapus dosa didepan tabir tempat kudus dan pada tanduk-tanduk mezbah (Imamat 4:3-21).
Imamat dalam Perjanjian Lama yang terkenal adalah imamat Harun, dan di mana selanjutnya seorang yang dapat ditahbiskan menjadi imam adalah mereka yang menjadi keturunan Harun. Bagi orang yang akan ditahbiskan menjadi imam harus dapat menunjukkan identitas yang jelas bahwa dia adalah keturunan dari Harun. Dan saat ia dapat membuktikan maka ia pun akan ditahbiskan menjadi imam. Jika tidak maka selama-lamanya orang itu tidak akan dapat menjadi imam. Seperti ketika bangsa Yahudi kembali dari pembuangan Babel ke Yerusalem, ada keluarga imam yang tidak dapat menunjukkan surat asal-usulnya dengan jelas. Oleh karena itu, maka mereka tidak dapat menjadi imam untuk selama-lamanya (Ezr. 2 : 61-63; Neh. 7 : 63-65). Jadi dalam hal ini garis keturunan menjadi sebuah syarat yang mutlak bagi mereka yang ingin menjadi imam.
Selain garis keturunan yang jelas-jelas menjadi syarat utama dalam menentukan imam menurut peraturan Harun dalam Perjanjian Lama, maka sebenarnya masih ada banyak hal yang membuat seseorang tidak layak untuk menjadi imam.
Beberapa hal tertulis secara terperinci dalam Imamat 21:16-23,
... setiap orang dari antara keturunanmu turun-temurun yang bercacat badannya, janganlah datang mendekat untuk mempersembahkan santapan Allahnya, karena setiap orang yang bercacat badan tidak boleh datang mendekat: orang buta, orang timpang, orang yang bercacat mukanya, orang yang patah kakinya atau tangannya, orang yang berbongkol atau yang kerdil badannya atau yang bulat matanya, orang yang berkedal atau berkurap atau yang rusak buah pelirnya....... karena badannya bercacat janganlah ia datang dekat untuk mempersembahkan santapan Allahnya....”
Jadi banyak syarat yang berkenaan dengan fisik seseorang. Dikatakan bahwa mereka yang cacat boleh saja memakan persembahan-persembahan kudus, namun untuk datang sampai ke tabir dan mezbah adalah suatu hal yang pantang karena dianggap akan melanggar kekudusan tempat kudus Allah.
Sedangkan untuk upacara pentahbisan imam diuraikan dalam Imamat 8, dengan berbagai macam syarat pula:
  1. Ia dibasuh dengan air dan melalui upacara itu ia dianggap suci
  2. Ia mengenakan 4 jenis pakaian imamat; celana lenan sepanjang lutut, sehelai jubah lenan panjang, sabuk baju efod untuk dadanya, dan serban tutup kepala
  3. Ia diurapi dengan minyak
  4. Ujung telinga kanannya, ibu jari kanannya, ibu jari kaki kanannya, dijamah dengan darah korban yang sudah disediakan lebih dahulu
Setiap bagian dari upacara itu sangat berpengaruh pada tubuh sang imam. Sekali ia ditahbiskan, ia harus mentaati begitu banyak pembersihan dengan air, pengurapan dengan minyak, juga harus memotong rambutnya dengan cara tertentu. Semua hal tersebut mengenai imamat Yahudi ini tergantung pada hal-hal lahiriah, sedangkan untuk watak, kemampuan, dan juga kepribadian tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
Selanjutnya adalah bagaimana jika yg melakukan persembahan kepada ALLAH itu orang lain, bukan imam atau yg sejenisnya.
Dalam sepanjang Alkitab Perjanjian Lama, tidak ada seorang pun yg bukan imam layak memberikan korban penghapus dosa, korban keselamatan dan korban penebusan salah kepada ALLAH.
Yang menyediakan korban adalah orang yg melakukan kesalahan tapi yg melakukan prosesi adalah imam yg diurapi. (Imamat 4:1-31 ; 5:1-13 dan 6:24-30 ttg korban penghapus dosa ;  5:14-19 ; 6:1-7 ; 7:1-10 ttg korban penebus salah dan 7:11-21 ttg korban keselamatan)

Selain garis keturunan dan uraian yg panjang dalam Imamat 8, beberapa ayat dibawah ini akan menunjukan bahwa yg harus melakukan prosesi korban penghapus dosa dan korban penebus salah adalah seorang imam atau imam yg diurapi.

Imam yang diurapi harus membawa sebagian dari darah lembu itu ke dalam Kemah Pertemuan.
(Imamat 4:16)

Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu,dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya.
(Imamat 5:5-6)

Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.
Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, sebagai korban penebus salah. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan.
Itulah korban penebus salah; orang itu sungguh bersalah terhadap TUHAN.

(Imamat 5:17-19)

Dari uraian singkat diatas, maka ketika Yudas Makabe mempersembahkan korban penebus salah, dia harus diurapi dulu sebagai imam baru bisa melakukan praktik korban penebus salah meskipun dia adalah seorang keturunan Lewi.

Unfortunately, tidak ada indikasi bahwa Yudas Makabe menerima pengurapan sebagai imam dan ini berarti dia sudah melanggar ketentuan untuk mengadakan korban penebus salah.
Kajian selanjutnya adalah “…Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan….”
Korban penghapusan dosa untuk kebangkitan…?
Sesuatu yg sangat tidak masuk akal karena memang korban penghapus dosa sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebangkitan.
Korban penghapus dosa dalam Imamat 4:1-31 ; 5:1-13 dan 6:24-30 diuraikan sebagai berikut :
Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu seorang dari rakyat jelata, dan ia melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, sehingga ia bersalah, maka jikalau dosa yang telah diperbuatnya itu diberitahukan kepadanya, haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosa yang telah diperbuatnya itu seekor kambing betina yang tidak bercela.
Lalu haruslah ia meletakkan tangannya ke atas kepala korban penghapus dosa dan menyembelih korban itu di tempat korban bakaran.
(Imamat 4:27-29)
Dari uraian singkat diatas Qt bisa menemukan bahwa prosesi dari korban penghapusan dosa dilakukan dan diberikan untuk orang yang masih hidup, bukan untuk orang yg sudah mati.

Dalam ayat selanjutnya dari kitab Makabe diatas berbunyi demikian :
....Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka....
Bagi orang awam, tindakan yg dilakukan oleh Yudas Makabe itu sah-sah saja, tapi ketika dikembalikan lagi dalam kebenaran Hukum Taurat maka untuk yg ke3nya Yudas Makabe melakukan kesalahan yaitu mengadakan korban penebusan salah untuk orang mati.
Dalam Imamat  5:14-19 ; 6:1-7 ; 7:1-10 ttg korban penebus salah diuraikan sebagai berikut :
Apabila seseorang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN, maka haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salahnya seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, dinilai menurut syikal perak, yakni menurut syikal kudus, menjadi korban penebus salah.
Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.
Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, sebagai korban penebus salah. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan.
Imamat 5:15,18-19

Selanjutnya adalah kaitannya dengan tradisi, benarkah ada tradisi umat Israel yang mendoakan orang mati…?
Dalam referensi Alkitab, ketika Lazarus mati sebelum dibangkitkan, tidak ada satupun keluarganya yg mendoakan dia.
Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
Yohanes 14: 19, 31
Pernyataan Katholik Roma bahwa “…praktek bangsa Yahudi mempersembahkan doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal…” sungguh sangat mengada-ngada dan cenderung dibuat-buat untuk mencocokan dengan dalil api penyucian yg dikeluarkan oleh Katholik Roma.
Peristiwa yg dialami oleh Lazarus membuktikan bahwa tidak ada praktik doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal.
Kesimpulan yg bisa diambil adalah :
  1. Tidak ada praktik penebusan dosa dan penebusan salah untuk orang meninggal.
  2. Kedua praktik itu dilakukan oleh orang yg melakukan kesalahan itu dan yg melaksanakan prosesi itu adalah imam yg diurapi.
  3. Tidak ada praktik doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal.
  4. Dengan menguraikan kisah Yudas Makabe ini, Qt bisa mencapai sebuah kesimpulan bersama bahwa adalah sesuatu yg wajar mengapa Kitab Makabe tidak dimasukan dalam kanonisasi Alkitab oleh kelompok Kristen Reformed karena cerita dalam kisah ini bertentangan dengan Hukum Taurat dan tradisi Israel itu sendiri

TUHAN Yesus memberkati

Revolusi Yudas Makabe

Source :
  • Sarapan Pagi
  • Google
  • https://www.facebook.com/notes/duke-archangel-demaskus/antara-darah-kristus-dan-api-penyucian-purgatory/439013049476188

1 komentar:

  1. Kitab Makabe, dalam Katolik masuk kelompok Deuterokanonika, semantara oleh Protestan tidak digunakan

    BalasHapus