Senin, 23 Mei 2011

Apakah Yesus Itu Mesias...?

Apakah ada bukti bahwa Yesus adalah seperti yang Ia klaim?  

Bagaimana kita bisa tahu bahwa Yesus bukanlah sejenis penipu atau penyamar?  

Coba perhatikan beberapa penyamar terkenal dan lihat apakah gelar penipu itu cocok untuk Yesus, atau apakah ada bukti yang mendukung pernyataan-Nya.

Ferdinand Waldo Demara Jr digelar sebagai penyamar ulung.   
Demara memiliki identitas palsu sebagai ahli psikologi, dosen, ketua jurusan sebuah perguruan, guru sekolah, dan kepala penjara. Ia malah melakukan pembedahan sebagai dokter palsu.

Sebagian orang malah mengakui bahwa Frank Abagnale adalah penyamar yang lebih ulung lagi.   Di antara umur 16 dan 21 tahun, Abagnale adalah salah satu dari artis palsu yang paling sukses di dunia.   Ia mencairkan 2,5 juta dollar melalui cek palsu di 50 nataga bagian AS dan di 26 negara asing.  Ia juga meloloskan dirinya sebagai pilot pesawat, pengacara, professor pada sebuah perguruan, dan dokter spesialis anak, sebelum akhirnya ditangkap oleh polisi Perancis.

Jika cerita ini tedengar akrab di telinga anda, maka anda mungkin telah menonton film tahun 2002, Catch Me If You Can, di mana tokoh Abagnale diperankan oleh Leonardo Di Caprio (yang juga berperan di dalam Titanic).

Apa yang harus dilakukan untuk menunjang peran Abagnale sebagai seorang penipu? 
Jika Yesus bukan Mesias seperti yang dikatakan-Nya, maka hal ini bukan tandingan Abagnale.   
Kita tidak sedang berbicara tentang menipu ribuan orang seperti Abagnale.   
Jika Yesus Kristus adalah penipu, Ia telah menipu milyaran orang dan membelokkan jalannya sejarah selama 2000 tahun.

Jadi, apakah mungkin bahwa Yesus adalah Mesias palsu yang membodohi para pakar agama? 

Apakah mungkin bahwa Ia diajar oleh kedua orang tuanya atau para mentor yang tidak dikenal untuk menjadi raja yang telah lama dijanjikan dan yang sedang ditunggu-tunggu oleh Israel?
Pada kenyatannya, jika Yesus adalah seorang penyamar, maka Ia bukanlah orang pertama di dalam sejarah Israel yang berdusta dan mengaku diri sebagai Mesias.  Sepanjang abad-abad sebelum dan sesudah kelahiran Yesus, ada banyak pengaku-pengaku Mesias yang bermunculan, hanya untuk menampakaan bahwa mereka semua hanyalah sekedar para penipu sinting.
Nubuatan Ibrani kuno dengan jelas meramalkan tentang munculnya seorang raja masa depan yang akan membawa damai di Israel dan menjadi Juruselamat mereka.  
Semacam penantian memenuhi negeri dan menguasai harapan dan aspirasi orang-orang Yahudi.  
Dalam suasana seperti yang dimiliki Israel, apakah tidak mungkin ada seseorang yang kurang layak yang telah memajukan diri ke depan atau telah mencocokkan diri sendiri ke dalam cetakan Mesias?
Jawaban untuk pertanyaan ini bergantung pada nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama yang merujuk ke Mesias.

Juru Bicara Allah
Menurut Kitab Suci, Allah orang Ibrani berbicara kepada umat pilihan-Nya melalui para nabi, yaitu pria dan wanita yang secara khusus disiapkan untuk Allah dan yang menjadi bagian atau tidak menjadi bagian di dalam pembentukan religius.  Sebagian dari pesan-pesan para nabi dalah untuk waktu sekarang, dan sebagian untuk masa depan.  Fungsi para nabi adalah untuk untuk menyampaikan pernyataan-pernyatan dan penyingkapan-penyingkapan dari Allah.

Secara umum, mejadi seorang nabi adalah seperti pada pabrik pengepakan daging di antara penduduk bumi yang sangat penuh dengan risiko. Walaupun mereka mengatakan yang benar, para nabi bisa terbunuh atau dimasukkan ke dalam penjara oleh orang-orang yang tidak senang pada apa yang mereka sampaikan.  (Sebagian raja benci mendengar berita buruk.) 
  
Menurut cerita sejarah, nabi Yesaya digergaji menjadi dua bagian.
Jadi, coba pertimbangkan dilema yang dihadapi para nabi; mati, jika mereka ternyata keliru dan mati juga, jika mereka benar.  Tidak ada nabi yang benar yang mau menentang Allah, dan tidak ada juga yang mau digergaji menjadi dua bagian.  Karena itu hampir semua nabi menunggu sampai mereka yakin benar bahwa Allah telah berbicara, atau mereka akan tetap berdiam diri.   Raja-raja akan mulai merasa ngeri dan juga jijik ketika mereka berbicara. 
Seorang nabi yang benar tidak pernah keliru.
Sekarang pertanyaannya:
Bagaimanakah tingkat ketepatan nubuatan nabi-nabi Alkitab jika dibandingkan dengan para peramal sekarang ini?

Para Nabi atau Para Peramal
Untuk mempertimbangkan apakah ketepatan ramalan-ramalam moderen mendekati ketepatan nubuatan-nubuatan Alkitab, ambil Jean Dixon sebagai bahan perbandingan. Peramal Amerika ini seperti memiliki kemampuan istimewa untuk meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang.  Tetapi, hasil analisa memperlihatkan bahwa reputasinya tidak bisa dijamin.
Sebagai contoh, Dixon mendapat penglihatan bahwa pada tanggal 5 Februari 1962, seoang bayi yang lahir di Tumur Tengah akan memgubah dunia pada tahun 2000. Pria yang istimewa ini akan menciptakan sebuah agama persatuan di dunia dan membawa perdamaian abadi di dunia.   
Ia melihat sebuah salib yang berkembang di atas orang ini, sampai menutupi seluruh bumi.   Menurut Dixon, bayi ini adalah keturunan ratu Mesir kuno, Nefertiti.1
Di manakah orang itu sekarang?
Pernahkah anda melihatnya? 
Lalu bagaimana dengan kedamaian abadi di dunia – indah sekali, huh?
Kenyataannya, penelaahan yang mendalam terhadap ramalannya menghasilkan dua hal yang tidak terbantah.   Tingkat ketepatannya sama dengan mengira-mengirakan masa depan, dan kepenuhan ramalannya yang paling digembar-gemborkan ternyata dinubuatkan sedemikan kaburnya sehingga sembarang jumlah dan jenis kejadian-kejadian dapat saja diklaim sebagai pemenuhan ramalannya.
Sampaipun pada nubuatan-nubuatan dari Nostradamus yang sangat luas disebarkan, sudah sering terbukti tidak benar, walaupun diramal dengan sangat samar-samar, sehingga sangat sulit untuk dibantah.2 Sebagai contoh, inlah salah satu ramalan Nostradamus:

 “Ambil dewi Bulan, sebab Hari dan Geraknya: seorang pengembara yang bingung dan saksi dari Hukum Allah, di dalam kebangunan bagian besar dari dunia kepada kehendal Allah (Kehendak-Nya)”3

Ramalan ini diklaim sebagai yang berhubungan dengan kematian Puteri Diana. (Anda mungkin berpikir tentang Margaret Tatcher).  Nubuatan seperti ini tidak terdefiniskan, sama seperti melihat bayangan di awan-awan.   Begitupun, sebagian orang memaksa bahwa kejadian ini adalah bukti dari pemenuhan nubuatan Nostradamus.    Sangat mencurigakan tetapi sangat sulit untuk dibantah.
Umumnya, seperti beginilah keberhasilan para peramal.  

Ketika “The People’s Almanac” meneliti ramalan dari 25 orang peramal, 92% dari semua ramalan mereka terbukti tidak benar.  Delapan persen sisa dapat dipertanyakan dan dapat dijelaskan sebagai kebetulan atau sebagai hal umum yang diketahui tentang keadaan tertentu.4 Penelitian lain terhadap para peramal terkemuka di dunia, terlihat bahwa tingkat ketepatan ramalan mereka mengambang di sekitar 11%, yang mungkin secara rata-rata tidak terlalu buruk, jika tidak melihat fakta lain bahwa orang melakukan perkiraan acak tentang masa depan, juga memiliki tingkat ketepatan sekitar 11%.   Hal ini tidak dapat digunakan untuk membantah semua ramalam masa depan, tetapi hal ini menjelaskan mengapa peramal tidak pernah menang lotere.  

Sepertinya, perbedaan antara para peramal dengan para nabi lebih pada siapa mereka dan bukan pada ketepatan mereka.   Para nabi memberikan pernyataan khusus tentang kejadian-kejadian masa depan di dalam hubungannya dengan kepastian rencana dan tindakan Allah, dengan ketepatan yang tidak tergoyahkan.   Para peramal lebih merupakan tentara bayaran yang meyediakan gambaran samar-samar tentang masa depan bagi pasar yang bersedia membayar layanan mereka.  Mereka menawarkan informasi yang sensasional, tetapi dengan tingkat keberhasilan yang parah.

Nubuatan Keagamaan Dalam Perspektif
Nubuatan bisa lebih bersifat mistik, metafisika, dan jika dapat dikatakan-menyeramkan.  Nubuatan menimbulkan bayang-bayang tentang hal-hal spiritual dan dunia-dunia yang lain.   Di dalam film Star Wars ada nubuatan tentang seseorang yang akan membawa keseimbangan di dalam pemerintahan.  Film The Lord of the Rings menyulam tema-tema khayalan di sekitar adegan tentang penyampaian-penyampaian nubuatan.   Tetapi itu semua terdapat di dalam dunia khayalan.

Untuk dunia nyata, dikatakan bahwa seseorang yang tahu tentang sesuatu satu menit sebelumnya akan memerintah dunia.  Coba bayangkan, bahwa Anda tahu tentang kartu yang akan dibagi satu menit sebelumnya pada Trump Casino.  Anda akan menjadi orang terkaya di dunia dan Donald Trump akan menjadi seperti tukang pos.

Tetapi di dalam dunia religius, nubuatan sangat berarti.  Nubuatan menjadi salah satu cara untuk mengetahui apakah seseorang berbicara dari Allah atau bukan, sebab hanya Allah yang Mahatahu yang sanggup mengetahui mesa depan.   Di atas dasar inilah nubuatan-nubuatan di dalam Perjanjian Lama menjadi istimewa, sebab hampir semua buku suci terkenal dari agama-agama lain tidak memiliki nubuatan. Sebagai contoh, sementara Buku Mormon dan Weda (Hindu) diklaim sebagai ilham surgawi, dengan tidak bermaksud untuk membenarkan klaim mereka, anda akan sampai pada ucapan, “Ya, itu terdengar seperti sesuatu yang Allah mungkin ucapkan.”
Seorang pakar Alkitab, Wilbur Smith, yang membandingkan nubuatan-nubuatan Alkitab dengan berbagai buku sejarah, menyatakan bahwa, “Alkitab-lah satu-satunya kumpulan buku yang dihasilkan oleh seorang atau beberapa orang, yang di dalamnya terkandung nubuatan-nubuatan yang begit luas untuk berbagai bangsa, untuk Israel, untuk semua orang di Bumi, untuk kota-kota tertentu, dan untuk kedatangan seseorang yang akan menjadi Mesias.”5
 Jadi, Alkitab membeberkan claimnya tentang inspirasi atau ilham sedemikain rupa sehingga bisa dibuktikan dan disetujui atau ditolak.
Jika Anda meletakan tingkat keakurasian seperti ini ke dalam hidup keseharian, Anda akan melihat betapa luar biasanya itu.  Sebagai contoh, adalah suatu mujizat jika pada tahun 1910 Anda sudah meramalkan bahwa George Bush akan memenangkan Pemilu 2000.   
Bayangkan jika saja Anda juga menyertakan beberapa dari rincian kemenangan Bush berikut ini di dalam ramalan anda;
  1. Kandidat dengan suara total terbanyak akan kalah.
  2. Semua TV terkenal akan memgumunkan pemenang mereka tetapi kemudian meralat pernyataan mereka.
  3. Satu Negara Bagian (Florida) akan memutar arah pemilu.
  4. Pengadilan Tertinggi AS akan harus memutuskan pemenangnya.
Karena semua rincian itu menjadi kenyataan, akan ada gereja-geraja yang diberi nama menurut nama Anda, dan rupa Anda akan menjadi hiasan di atas dashboard.   Tetapi Anda tidak meramalkannya.  Sebagaimana sulitnya (atau mustahilnya) untuk meramalkan urut-urutan peristiwa tersebut pada tahun 1910 dengan tepat, kemungkinan peluang akan jauh lebih sulit lagi untuk Yesus, atau siapapun orang itu, untuk memenuhi semua nubuatan Ibrani untuk Mesias. Yang dimuat di dalam Perjanjian Lama, dan ditulis ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus, ada 61 buah nubuatan khusus dan sekitar 300 referensi atau catatan tentang Mesias.6

Menurut persyaratan bangsa Ibrani, sebuah nubuatan harus memiliki tingkat ketepatan 100%, dan Mesias Israel yang benar harus memenuhi semua itu atau ia bukan Mesias sama sekali.  Jadi, pertanyaan yang akan mendukung keabsahan Yesus atau menjadikan Yesus sebagai kebohongan dunia yang terbesar adalah, “Apakah Ia cocok dengan dan menggenapi semua nubuatan Perjanjian Lama?”

Berapakah kemungkinannya…?
Mari perhatikan dua nubuatan khusus tentang Mesias di dalam Perjanjian Lama.
 “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1)
 “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”    (Yesaya 7:14)
Sekarang, sebelum mempertimbangkan ke 59 nubuatan yang lain, Anda harus berhenti dan bertanya pada diri sendiri, berapa banyak orang yang memiliki potensi untuk menjadi Mesias di sepanjang sejarah yang lahir dari seorang perawan di Betlehem? 
“Hmm..coba saya pikir, ada tetangga saya Grorge, tetapi…tidak, lupakan saja, ia lahir di Brooklyn.”  
Di dalam hal menggenapi 61 rincian nubuatan khusus oleh satu orang saja, kita sedang berbicara tentang suatu ketidakmungkinan.
Ketika ilmuwan forensik menemukan kecocokan DNA, kemungkinan untuk salah orang sering di bawah satu di antara beberapa milyar (catat bahwa ada juga sedikit penyimpangan).  Kelihatannya kita tidak jauh terpaut dari tingkat kemungkinan ini dengan urutan angka-angka nol, untuk seorang pribadi yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan tersebut.
Professor matematika Peter Stoner menugaskan 600 mahasiswa untuk menganalisa soal probabilitas matematis yang menyatakan kemungkinan bagi seseorang untuk memenuhi 8 nubuatan khusus. (Ini tidak sama dengan menentil koin 8 kali berturut-turut dan menghasilkan muka setiap kali).   Pertama, para mahasiswa menghitung kemungkinan bagi seseorang untuk menggenapi semua ketentuan pada satu nubuatan khusus, seperti dikhianati oleh seorang sahabat untuk 30 keping perak. Kemudian, para mahasiwa membuat perkiraan terbaik tentang kemungkinan untuk menggenapi gabungan kedelapan nubuatan tersebut.
Hasil perhitungan tentang kemungkinan seseorang menggenapi delapan nubuatan adalah (1) satu dari (1021) sepuluh pangkat dua puluh satu.    
Untuk mengilustrasikan angka tersebut, Stoner memberikan contoh berikut. “Pertama, selimuti daratan seluruh Bumi dengan dollar perak setinggi 120 feet (» 36,5 m).  Kedua, beri tanda salah satu dollar dan tanamkan secara acak.  Ketiga, suruhlah seseorang menelusuri Bumi dengan mata ditutup untuk mendapatkan dollar yang bertanda dari antara trilyunan keeping dollar yang lain.”7
Orang bisa saja melakukan hal-hal yang bisa dipelintir dengan menggunakan angka-angka (khususnya dengan suatu nama belakang seperti itu), sehingga sangat perlu dicatat bahwa pekerjaan Professor Stoner ini diperiksa oleh American Scientific Association, yang menyatakan bahwa, “Analisis matematis berbasis pada prinsip-prinsip probabilitas yang sepenuhnya kompeten, dan Professor Stoner telah menerapkan prinsip-prinsip ini dengan cara yang tepat dan meyakinkan.”8

Dengan pengantar di atas, coba tambahkan enam perkiraan ke dua perkiraan yang kita diskusikan, untuk mengenapi delapan perkiraannya Professor Stoner:
Nubuatan: Mesias akan muncul dari keturunan Daud - Yeremia 23:5 600 S.M.
Penggenapan: “Yesus … anak Daud …” Lukas 3:23, 31 4 A.D.
Nubuatan: Mesias akan dikhianati untuk 30 keping perak. - Zakharia 11:13 487 S.M.
Penggenapan: “Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.” Matius 26:15 30 A.D.
Nubuatan: Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk. - Mazmur 22:16 1000 S.M. 
Penggenapan: “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” Lukas 23:33 30 A.D.
Nubuatan: Orang akan membuang undi untuk pakaian Mesias. Mazmur 22:18 1000 S.M.
Penggenapan: “The soldiers … took his robe, but it was seamless, woven in one piece from the top. So they said, ‘Let’s not tear it but throw dice to see who gets it.’ “
Sesudah prajurit-prajurit itu…. mengambil pakaian-Nya…–dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.” Yohanes 19:23-24 30 A.D.
Nubuatan: Mesias akan datang dengan mengendarai seekor keledai. Zakharia 9:9 500 S.M.
Penggenapan: Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.Matius 21:7 30 A.D.
Nubuatan: Seorang utusan akan memberitakan tentang Mesias. Maleakhi 3:1 500 S.M. 
Penggenapan: “Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,”Yohanes 1:26 27 A.D.
Kedelapan nubuatan tentang Mesias yang kita pelajari ini ditulis oleh manusia dari waktu dan tempat yang berbeda-beda, antara 500 sampai 1000 tahun sebelum Yesus lahir.  
Dengan demikian, tidak ada kemungkinan kolusi bagi para penulis nubuatan tersebut.  Ini bukanlah sejenis ramalan Nostradamus –  

“Ketika bulan berubah hijau, kacang putih akan terletak terbungkus di tepi jalan.”

Di Luar Kontrol-Nya
Bayangkan bahwa Anda menang loterei Powerball dengan hanya memiliki satu karcis di antara puluhan juta karcis yang terjual.    
Sekarang bayangkan bahwa Anda menang loterei ini sebanyak seratus kali berturut-turut.
Apa yang akan dipikirkan orang? 
Betul, “pasti main curang!”
Klaim yang sama – kecurangan, juga dilontarkan para skeptis selama bertahun-tahun terhadap penggenapan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama oleh Yesus.  
Mereka mengakui bahwa Yesus memang menggenapi nubuatan-nubuatan tentang Mesias, tetapi mereka menuduh-Nya telah dengan sengaja menjalani hidup-Nya sedemikian rupa untuk memenuhi nubuatan-nubuatan tersebut.    
Sebuah keberatan yang bisa dimengerti, tetapi tidak masuk akal seperti kedengarannya.
Perhatikan sifat dasar dari hanya empat nubuatan berikut ini:
  1. Ia adalah keturunan Daud (Yeremia 23:5)
  2. Ia akan lahir di Betlehem (Mikha 5:2)
  3. Ia akan mengungsi ke Mesir (Hosea 11:1)
  4. Ia akan tingal di Nazaret (Yesaya 8:23)
Lalu, apakah yang bisa Yesus lakukan untuk menggenapi nubuatan-nubuatan ini?
Baik Yesus maupun orang-tua-Nya tidak bisa mengatur masalah keturunan-Nya.   
Kelahiran-Nya di Betlehem adalah akibat dari sensus Kaisar Agustus.   
Pengungsian orang-tua-Nya ke Mesir disebabkan oleh upaya pembunuhan yang dilakukan Herodes. Setelah Herodes mati, maka wajar kalau orang-tua Yesus memutuskan untuk tinggal di Nazaret.
Sekalipun pada masa muda-Nya, Yesus si penyamar (katakanlah begitu) ini membaca nubuatan-nubuatan yang kebetulan digenapi-Nya, lalu memutuskan untuk melihat apakah Ia bisa malanjutkannya untuk menjadikan diri-Nya Mesias (seperti seseorang yang mencoba menembak bulan di dalam permainan kartu Hati), sementara tumpukan kartu akan merupakan susunan yang tidak memungkinkan bagi-Nya.   
Pikirkan beberapa faktor yang sudah disinggung sebelumnya: Sang Mesias akan dihianati untuk 30 keping perak, Ia akan mati disalibkan, dan orang akan membuang undi untuk jubahnya.   
Semua nubuatan ini menjadi kenyataan untuk Yesus, tetapi apakah Yesus bisa mengontrol semua itu untuk menjadikan diri-Nya sebagai pemenuhan nubuatan-nubuatan tersebut?

Para pakar Alkitab mengatakan bahwa hampir 300 catatan untuk 61 nubuatan khusus tentang Mesias digenapi oleh Yesus Kristus.    
Kemungkinan bagi seseorang untuk mememnuhi begitu banyak nubuatan akan berada di atas kemampuan probabilitas matematika.    
Hal ini tidak akan pernah terjadi, sebanyak apapun waktu yang dialokasikan.    
Seorang pakar matematika memperkirakan bahwa ketidakmungkinan ini setara dengan “satu kesempatan di antara satu trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun, trilyun.”10

Bertrand Russell, seorang ateis yang kokoh, ditanya di dalam interview majalah Look, kira-kira bukti apa yang akan membuat dia percaya kepada Allah.  Russell menjawab, “Ya, jika saya mendengar suara dari surga dan suara itu meramalkan sederatan kejadian yang kemudian terjadi, maka saya pikir saya harus percaya tentang adanya semacam sosok adikodrati.”
Pakar Alkitab, Norman Geisler merespon sikap skeptik dari Russell. “Saya harus katakan, Mr. Russell, memang sudah ada suara dari surga, yang meramalkan banyak hal dan tidak bisa ditolak bahwa kita sudah melihat semuanya itu menjadi kenyataan.”11 Geisler sedang mengarahkan kita kepada kenyataan bahwa hanya Pribadi mahakuasa di luar kerangka waktu yang akan sanggup meremalkan masa depan dengan tepat.

Bukti di dalam sebuah Toples
Kita sudah melihat bukti-bukti penggenapan nubuatan-nubuatan mesianik oleh Yesus dari hampir semua sudut, dan masih ada satu yang tinggal.    
Bagaimana jika para cendekiawan Kristen yang menyalin perkamen kitab Yesaya dan kitab-kitab nubuatan Perjanjian Lama lainnya dan mengaturnya sedemikian rupa agar sesuai dengan kehidupan Yesus?
Banyak cendekiawan dan para skeptis yang mempertanyakan hal ini.  
Dan sekilas pandang, hal ini bisa diterima dan malah sangat masuk akal.    
Hal ini akan mencegah kita untuk menjadikan Yesus sebagai pembohong yang menyamar, yang sangat tidak mungkin dan hal ini juga akan menjelaskan tentang ketepatan yang luar biasa dari penggenapan nubuatan-nubuatan oleh Yesus.   
Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa kitab-kitab nubuatan seperti Yesaya, Daniel dan Mikha, yang ditulis ratusan tahun sebelum Kristus, mengandung kebenaran?  
Dan jika memang mengandung kebenaran, bagaimana kita bisa yakin bahwa orang-orang Kristen tidak mengubah teksnya di kemudian hari?
Selama 1900 tahun, banyak para skeptis yang bertahan pada teori mereka yang didasarkan pada ketidakmungkinan manusia untuk memperdiksi peristiwa-peristiwa di masa depan secara tepat.  
Tetapi kemudian sesuatu muncul sehingga membenamkan rasa antusias tentang kemungkinan adanya semacam persekongkolan rahasia dalam hal ini.   
Sesuatu itu disebut Dead Sea Scrolls (Perkamen-Perkamen Laut Mati).
Sekitar setengah abad lalu, penemuan Dead Sea Scrolls melengkapi para pakar Alkitab dengan salinan kitab-kitab Perjanjian Lama yang jauh lebih tua dari yang lain, yang diketahui pernah ada.    
Pengujian ekstensif membuktikan bahwa banyak dari salinan-salinan ini dibuat bahkan sebelum Yesus hidup di dunia ini.  Dan, salinan-salinan tesebut hampir sempurna identik dengan Alkitab yang kita miliki sekarang.
Alhasilnya, para cendekiawan yang menolak Yesus sebagai Mesias, menerima kenyataan bahwa naskah Perjanjian Lama ini ditulis sebelum kelahiran Yesus, dan mengakui bahwa nubuatan-nubuatan tentang Mesias yang terkandung di dalamnya tidak pernah diatur atau diubah untuk mencocokannya kepada Yesus.
Jika nubuatan-nubuatan tersebut digenapi sedemikian akurat melalui kehidupan Yesus, masuk akal kalau timbul rasa heran, mengapa tidak semua orang di Israel mampu melihat hal ini.   
Memang, penyaliban-Nya tidak disaksikan oleh semua oang.  
Tetapi seperti yang dikatakan rasul Yohanes tentang Yesus, “Bahkan di tanah kelahiran-Nya dan di antara bangsa-Nya, Ia tidak diterima.” (Yohanes 1:11)
Mengapa?
Dengan memperhatikan sejarah perjuangan dan peperangan Israel, tidaklah sukar untuk memahami bahwa Mesias yang dinantikan adalah seorang pahlawan kemerdekaan politik.   
Apa yang mungkin dipikirkan oleh orang-orang Yahudi abad pertama dapat dimengerti, bagaimana Mesias sudah datang sementara Israel tetap dibawah penjajahan Romawi?
Yesus memang menggenapi nubuatan-nubuatan mesianik, tetapi Ia menggenapinya dengan cara yang tidak seorangpun harapkan.    
Ia melakukan revolusi moral dan spiritual, bukan revolusi politik; memenuhi tujuan-Nya melalui pengorbanan diri dan pelayanan dalam kerendahan hati, menyembuhkan dan mengajar.    
Sementara itu, Israel menanti-nantikan seseorang seperti Musa atau Yosua, yang akan memimpin mereka untuk mengembalikan kejayaan Israel.
Tentu saja ada banyak orang Yahudi pada zaman Yesus yang menerima-Nya sebagai Mesias – seluruh fondasi gereja Kristen mula-mula adalah orang-orang Yahudi.  Walaupun demikian, mayoritas menolak Yesus sebagai Mesias dan hal ini tidak terlalu sukar untuk dimengerti.
Untuk memahami kesalah-pahaman orang-orang Yahudi abad pertama dengan lebih baik, pikirkan bahwa nubuatan-nubuatan mesianik ini ditulis 700 tahun sebelum kelahiran Yesus, oleh nabi Yesaya.
Apakah nubuatan-nubuatan ini mengarah ke Yesus?
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? 
Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.   
Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.  Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
(Yesaya 53:6-11)
Ketika Yesus tergantung di salib, mungkin saja ada yang berpikir, “Bagaimana mungkin Dia ini Mesias?” Pada saat yang sama, yang lain mungkin berpikir, “Siapa lagi kalau bukan Yesus yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya?”

Ketidakmungkinan Penyamaran
Lalu, apa yang harus kita buat tentang Yesus yang telah menggenapi begitu banyak nubuatan yang ditulis ratusan tahun sebelum klahiran-Nya?
Leonardo Di Caprio...maksud saya, Frank Abagnale mungkin adalah penyamar ulung, tetapi dia pun dipergoki ketika dia sudah cukup dewasa untuk minum bir secara legal.
Yesus tidak terlihat seperti lebih kompeten dari Frank Abagnale.   
Yesus masuk kategori yang sepenuhnya berbeda.   
Tidak ada seorang penyamar pun yang dapat memenuhi kemungkinan seperti yang disajikan oleh nubuatan Ibrani.
Jadi, apa artinya ini? 
Dua kesimpulan yang muncul:
Pertama, hanya Pribadi yang mahakuasa yang dapat merancang peristiwa-peristiwa seperti itu. 
Kedua, kenyataan ini membuat semua klaim Yesus yang lain dapat dipercaya dan layak untuk dipertimbangkan secara serius.

Di dalam Injil Yohanes, Yesus mengklaim bahwa, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”    
Bukti-bukti yang luar biasa sepertinya memperlihatkan bahwa ‘tanda tangan pada check tersebut tidak palsu’ (bahwa klaim tersebut memang terbukti benar).

But when he saw the strong wind he became afraid. And starting to sink, he cried out, 1 “Lord, save me!”

Immediately Jesus reached out his hand and caught him, saying to him, “You of little faith, why did you doubt?”

Footnote :
  1. Terence Hines, Pseudoscience and the Paranormal (Buffalo, NY: Prometheus Books, 2003), 193.
  2. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s Life Publishers, 1999), 194.
  3. Prediction 3, Quatrain 2, 28.
  4. McDowell, Ibid.
  5. Quoted in McDowell, 12-13.
  6. McDowell, 164-193.
  7. Peter W. Stoner, Science Speaks (Chicago: Moody Press, 1958), 97-110.
  8. Stoner, 5.
  9. The Hebrew word netzer, appearing in Isaiah 11:1, is believed by many to refer to Nazareth, Jesus’ hometown.
  10. Lee Strobel, The Case for Faith (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2000), 262.
  11. Quoted in Strobel, 14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar