Senin, 23 Mei 2011

Apakah Yesus Pribadi Yang Nyata...?

 
Apakah Yesus Kristus pernah ada ataukah Ia hanya semacam cerita karangan orang-orang Kristen yang didasarkan pada legenda?

Ada beberapa cendekiawan yang mempertanyakan keberadaan Yesus, dan ada pula musuh-musuh Kristen yang berusaha untuk membuktikan bahwa Yesus tidak nyata.

Di dalam sebuah gugatan pengadilan terhadap Vatikan, Gereja dituduh telah mengarang cerita tentang keberadaan Yesus. Setelah kasusnya dibatalkan pada bulan Februari 2006, penggugat, Luigi Cascioli, kembali mengajukan tuntutan yang sama, tetapi pada akhirnya kasusnya memang benar-benar telah ditutup.
Pernyataan yang menentang keberadaan Yesus dipublikasikan lewat TV CNN, ketika Ellen Johnson, presiden dari kelompok Ateis Amerika menyatakan:

“Kenyataannya adalah bahwa tidak ada secuilpun bukti sekular bahwa Yesus Kristus pernah ada. Yesus Kristus dan kekristenan adalah kepercayan moderen. Yesus Kristus adalah kompilasi dari berbagai allah seperti Osiris dan Mithras, yang memiliki cerita kelahiran dan kematian yang sama seperti mitosnya Yesus Kristus” – Ellen Johnson, ateis 

Di dalam acara Larry King Live di TV CNN, Ellen Johnson dan panelis khusus para pemimpin berbagai agama membahas pertanyaan:
"Apa yang terjadi setelah kita meninggal?”
Mereka sama sekali tidak terganggu oleh selaan berulang-ulang dari Larry King, yang kemudian diakhiri oleh pertanyaan, “Jadi, anda tidak percaya bahwa Yesus Kristus pernah ada?”
Dengan penuh keyakinan Johnson menjawab, “Tidak pernah. Saya tidak percaya; tidak ada bukti sekular bahwa YK, Yesus Kristus, pernah ada.”
Larry King tidak melanjutinya tapi langsung ke jedah komersial. Tidak ada diskusi sediktipun tentang bukti dan fakta yang menentang keberadaan Yesus. Para pemirsa televisi international ditinggalkan di dalam kebingungan.
Lima puluh tahun sebelumnya, di dalam bukunya yang berjudul “Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen” (Why I Am Not A Christian), seorang ateis bernama Bertrand Russell mengejutkan orang-orang pada zaman itu dengan mempertanyakan keberadaan Yesus. Ia menulis: “Dari sisi sejarah, ada keraguan bahwa Kristus itu pernah ada, dan jika Ia memang ada, kita tidak tahu apa-apa tentang Dia, dan karena itu saya tidak terlalu mau pusing dengan pertanyaan sejarah, yang memang sangat sulit.”
Apakah ada kemungkinan bahwa Yesus yang dipercayai sedemikan banyak orang memang tidak pernah ada?
Di dalam buku “Cerita Tentang Peradaban” (The Story of Civilization), seorang sejarawan sekuler, Will Durant mengajukan pertanyaan berikut:  
“Apakah Yesus pernah ada?
Apakah cerita tentang ‘pendiri kekristenan’ ini adalah produk dari penderitaan, imajinasi dan harapan manusia – sebuah mitos yang sejajar dengan Osiris, Attis, Adonis, Dionysus dan Mithras?” .
Durant menunjukkan adanya “banyak kesamaan yang mencurigakan antara cerita tentang kekristenan dengan legenda tentang para ilah atau allah penyembah berhala.“  
Kita akan lihat bagaimana serajawan besar ini menjawab pertanyaannya sendiri tentang keberadaan Yesus.
Dengan begitu, bagaimana kita bisa yakin bahwa seseorang yang dipuja banyak orang tetapi yang juga dicerca oleh yang lain, memang adalah pribadi yang nyata...?
Apakah Ellen Johnson benar ketika mengatakan bahwa Yesus Kristus hanyalah “kompilasi dari allah-allah lain”...?
Apakah Russel benar dengan pernyataannya bahwa keberadaaan Yesus memang “cukup meragukan”...?

Mitos vs Kenyataan
Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan mendasar: “Apakah yang membedakan mitos dari kenyataan”...?
Bagaimana kita bisa tahu, misalnya bahwa Alexander Agung memang pernah ada...?

Diceritakan bahwa pada tahun 336 SM, Alexander Agung menjadi raja Macedonia di usia 20 tahun. Seorang militer jenius, si tampan dan pemimpin yang angkuh ini merambah jalan kepada kejayaannya melalui desa, kota dan kerajaan-kerajaan di dunia Persia-Yunani sampai ia menguasai semuanya. Dalam 8 tahun, tentaranya telah menguasai daerah seluas 22.000 mil persegi.

Ada cerita yang mengatakan bahwa Alexander menangis jika harus meninggalkan daerah yang seharusnya ditaklukannya (Saya pikir, bagi saya orang ini bukan teman yang baik untuk diajak bermain monopoli.)
Sebelum meniggal di usia 32 tahun, Alexander telah mencapai keberhasilan militer terbesar di sepanjang sejarah, yang bukan saja melebihi raja-raja sebelum dia tetapi juga melebihi semua raja yang ada setelah dia, hingga sekarang ini. Tetapi sekarang ini, selain dari beberapa kota yang bernama Alexandria, sebuah filem yang membosankan dari Oliver Stone, dan beberapa buah buku, segala warisan Alexander telah terlupakan. Kenyataannya, malah nama seperti Colin Farrell lebih memiliki daya tarik di dunia hiburan (box office) dari nama Alexander.
Tetapi, walaupun kalah dalam hal ketenaran di dunia hiburan, para sejarawan percaya bahwa Alexander Agung pernah ada karena tiga alasan utama:
  1. Dokumen tertulis dari para sejarawan sebelumnya
  2. Pengaruhnya dalam sejarah
  3. Bukti sejarah dan arkeologi yang lain
Dokumen Sejarah Tentang Yesus
Cerita sejarah tentang Alexander Agung dan tentaranya diambil dari lima sumber kuno, yang semuanya bukanlah merupakan kesaksian langsung (saksi mata). Walaupun ditulis 400 tahun setelah Alexander, tulisan Plutarch, “Kehidupan Alexander” (The Life of Alexander) adalah catatan utama tentang kehidupan Alexander.

Karena Plutarch dan beberapa penulis lain terpaut ratusan tahun dari masa hidup Alexander, mereka mendasari tulisannya pada informasi dan catatan sebelumnya. Dari dua puluh cerita sejarah kontemporer tentang Alexander, tidak ada yang tertinggal sekarang. Cerita yang lebih baru memang ada, tetapi masing-masingnya mengemukakan ‘Alexander’ yang agak berbeda, yang sebagian besarnya tergantung pada imajinasi para pembaca. Tetapi, walaupun terpaut ratusan tahun, para sejarawan bisa diyakinkan bahwa Alexander adalah pribadi yang nyata dan bahwa pokok-pokok penting yang kita baca tentang kehidupannya adalah fakta.

Dengan menggunakan Alexander Agung sebagai acuan, kita lihat bahwa untuk Yesus, terdapat kedua-duanya, cerita sejarah sekuler dan cerita sejarah keagamaan. 
Begitupun, kita harus mempertanyakan, apakah semuanya itu ditulis oleh sejarawan yang bisa dipercaya dan objektif...?

Perjanjian Baru
Ke-27 buku di dalam Perjanjian Baru diklaim sebagai buku-buku yang ditulis oleh para penulis yang mengenal Yesus secara pribadi atau yang tahu tentang Yesus dari orang-orang yang mengenal Yesus secara pribadi. Keempat Injil mencatat kehidupan dan ajaran Yesus dari sudut pandang yang berbeda-beda. Keempat Injil ini sudah sangat dipertanyakan dan sangat dalam dicermati serta sangat serius diteliti oleh para cendekiawan, baik dari luar Kristen maupun dari kalangan Kristen sendiri.

Cendekiawan John Dominic Crossan percaya bahwa kurang dari 20% yang kita baca di dalam Injil adalah ucapan Yesus. Begitupun, para skeptik (peragu, pendebat dan penantang Kristen) tidak memberikan sanggahan menentang kenyataan bahwa Yesus memang benar ‘pernah’ hidup di dunia.

Terlepas dari pendapat Crossan dan para cendekiawan lain seperti dia, kesepakatan umum dari sebagian besar sejarawan adalah bahwa catatan Injil telah memberikan gambaran yang jelas tentang Yesus Kristus.
Sekarang, kita akan menelusuri sumber-sumber non-Kristen untuk mendapatkan jawaban, apakah Yesus memang pernah ada.

Catatan-Catatan Dari Non-Kristen di Awal Kekristenan
Sejarawan abad pertama manakah yang menulis tentang Yesus tetapi bukan untuk mendukung kekristenan...?

Yang pertama, mari kita perhatikan para musuh Yesus.
Para penentang dari kelompok Yahudi adalah yang akan paling diuntungkan dengan penyangkalan akan keberadan Yesus. Tetapi, bukti menunjuk ke arah yang lain. “Beberapa tulisan orang Yahudi malah memuat cerita tentang kehadiran Yesus di dalam darah dan daging. Kedua Gemaras dari Talmud Yahudi juga merujuk kepada Yesus. Walaupun hanya terdiri dari beberapa paragraf pendek dan pahit, karena dimaksudkan untuk menentang keilahian Yesus, tulisan-tulisan Yahudi abad pertama ini tidak pernah memberikan kesan bahwa Yesus bukanlah tokoh sejarah.”

Flavius Josephus adalah seorang sejarawan Yahudi terkenal, yang mulai menulis di bawah kekuasaan Romawi pada tahun 67 AD, dan yang lahir beberapa tahun setelah Yesus mati, sangat-sangat merasakan adanya pengaruh reputasi Yesus di antara orang-orang Romawi dan orang-orang Yahudi. Di dalam bukunya yang terkenal, Keunikan Orang-Orang Yahudi (Antiquities of the Jews, thn. 93 AD.), Josephus menggambarkan Yesus sebagai pribadi.
“Pada waktu itu hidup seorang yang bernama Yesus, seorang manusia kudus, jika ia memang bisa disebut seorang manusia, karena ia melakukan berbagai mujizat, mengajar, dan menerima kebenaran dengan sukacita. Ia diikuti oleh banyak orang Yahudi da orang Yunani. Ia adalah Mesias.”
Walaupun ada perbedaan pendapat tentang beberapa kata di dalam tulisannya, terutama tantang Yesus sebagai Mesias (bahwa ada sebagian cendekiawan yang menuduh orang Kristen menyisipkan istilah tersebut), Josephus tetap memberikan konfirmasi yang kuat tentang keberadaan Yesus.

Bagaimana dengan para sejarawan sekuler, mereka yang hidup pada zaman dahulu tetapi yang tidak termotivasi sercara religius...?

Menurut konformasi terkini, paling tidak ada 19 tulisan sekuler yang memberikan rekomendasi tentang Yesus sebagai pribadi yang nyata.

Salah satu sejarawan besar masa lalu, Cornelius Tacitus, menegaskan bahwa Yesus menderita di bawah pemerintahan Pilatus. Tacitus lahir 25 tahun setelah Yesus mati dan dia melihat penyebaran kekristenan yang mulai mempengaruhi Romawi. Sejarawan Romawi ini menulis yang negatif tentang Kristus dan orang Kristen, dan mengindetifikasi mereka pada tahun 115 AD sebagai “sekelompok manusia yang ditindas karena kegiatan-kegiatan kegelapan, yang umumnya disebut Chrestiani. Nama itu berasal dari Chrestus, seseorang yang di pada zaman Tiberius, menderita di bawah pemrintahan Pontius Pilatus, gubernur Yudea.”

Fakta-fakta berikut ini ditulis oleh sumber-sumber non-Kristen di awal kekristenan
  1. Yesus berasal dari Nazaret
  2. Yesus adalah tokok bijaksana yang hidup luhur
  3. Yesus disalibkan di Palestina di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, di dalam masa kekaisaran Cesar Tiberius, pada masa-masa Paskah, sebagai Raja Orang Yahudi.
  4. Yesus dipercayai oleh para murid-Nya, telah mati dan bangkit dari kematian pada hari yang ketiga.
  5. Para musuh Yesus mengakui bahwa Ia melakukan banyak mujizat yang mereka sebut ‘sihir’
  6. Kelompok murid Yesus yang kecil itu kemudian berlipat dengan capat dan menyebar sampai ke Romawi.
  7. Murid-murid Yesus menolak politeisme, hidup kudus dan memuja Kristus sebagai Allah.
Norman Geisler, seorang teolog berkata:
”Gambaran umum ini sama dan sebangun secara sempurna dengan Perjanjian Baru.”
Seluruh catatan terpisah, baik religius maupun sekuler, menceritakan tentang pribadi yang nyata, yang sungguh sama dengan Yesus di dalam Injil. Ensiklopedia Britannica menguitip berbagai catatan sekuler tentang kehidupan Yesus sebagai bukti yang meyakinkan tentang keberadaan-Nya.
Dikatakan di sana bahwa:
“Semua cerita terpisah ini membuktikan bahwa pada zaman dahulu, walaupun oleh musuh-musuh Kristen sekalipun, tidak ada yang meragukan keabsahan sejarah tentang Yesus.”
Pengaruh Dalam Sejarah
Hal penting yang membedakan seorang dalam mitos dan seseorang yang nyata adalah bagaimana orang tersebut mempengaruhi jalannya sejarah. Sebagai contoh, banyak buku sudah ditulis dan banyak filem sudah dibuat tentang Raja Arthur dari Camelot dan Para Ksatria Meja Bundar-nya. Orang-orang ini sudah menjadi begitu terkenal dengan reputasi negatifnya sehingga banyak orang percaya bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang nyata. Tetapi para sejarawan yang telah meneliti dan mencari tanda-tanda tentang keberadaan mereka, tidak berhasil menemukan pengaruh apapun yang mereka akibatkna terhadap hukum, etika atau agama dan kepercayaan. Sebuah kerajaan dengan kebesaran seperti Camelot seharusnya meninggalakan ‘jejak-jejak kaki’ di dalam sejarah kontemporer. Ketiadaan pengaruh dalam sejarah mengindikasikan bahwa Raja Arthur dan Para Satria Meja Bundar-nya hanyalah sebuah mitos semata.
Seorang sejarawan, Thomas Carlyle berkata, “Tidak ada orang besar yang hidup sia-sia. Sejarah dunia ini tidak lain adalah biografi dari orang-orang besar.”  
Seperti yang dikemukakan Carlyle, hanya pribadi yang nyata, bukan di dalam mitos, yang mempengaruhi jalannya sejarah.
Sebagai seseorang pribadi yang nyata, Alexander Agung mempengaruhi jalannya sejarah dengan penaklukan-penaklukan militernya, mengubah kerajaan dan pemerintahan serta mempengaruhi hukum.
Tetapi adakah sesuatu dari Yesus Kristus yang mempengaruhi dunia kita...?

Pemerintahan Israel dan Romawi pada abad pertama hampir tidak tersentuh oleh kehidupan Yesus. Rata-rata penduduk Romawi malah tidak tahu tentang Yesus, hingga puluhan tahun setelah kematian-Nya. Kebudayaan Romawi tetap tidak tersentuh oleh ajaran Yesus dan kebiasan membunuh orang-oang Kristen di dalam koliseum berlangsung selama berabad-abad. Sementara itu, bagain dunia yang lain hanya tahu sedikit tentang Yesus, itupun kalau tahu. Yesus tidak memimpin pasukan tentara. Yesus tidak menulis buku atau mengubah undang-undang. Para pemimpin Yahudi berharap dapat menghapus ingatan orang tentang Yesus dan sepertinya mereka akan berhasil.

Bagaimanapun juga, sekarang ini kerajaan Romawi kuno tinggal puing. Angkatan perang Caesar yang luar biasa dan kemegahan kerajaan Romawi sudah masuk urutan di dalam daftar yang terlupakan.
Lalu, bagaimanakah ingatan orang tentang Yesus sekarang?
Apa sajakah pengaruh-Nya yang terus bertahan ?
  1. Lebih banyak buku yang ditulis tentang Yesus daripada tentang siapapun juga di sepanjang sejarah dunia.
  2. Berbagai negara telah menggunakan perkatan dan ajaran Yesus sebagai dasar pemerintahan mereka. Menurut Durant, “Kemenangan Kristus adalah permulaan demokrasi.”
  3. Khotbah Yesus di bukit telah membentuk paradigma baru di dalam etika dan moral manusia.
  4. Berbagai sekolah, rumah sakit dan misi kemanusiaan didirikan di dalam Nama Yesus. Harvard, Yale, Princeton dan Oxford adalah sebagian dari universitas-universitas yang harus berterima kasih kepada orang-oang Kristen sebagai pendirinya.
  5. Peningkatan peranan wanita di dalam budaya Barat mengakar pada Yesus. (Di dalam zaman Yesus, wanita dianggap sebagai pribadi kelas dua, sampai setelah ajaran Yesus diikuti).
  6. Penghapusan perbudakan di Inggris dan Amerika adalah karena ajaran Yesus bahwa hidup setiap orang itu berharga.
  7. Para pecandu alkohol dan narkoba, para prostitusi dan orang-orang jahat yang mencari arti kehidupan mereka, mengatakan bahwa Yesus adalah alasan dari perubahan kehidupan mereka.
  8. Dua milyar orang menyebut diri mereka Kristen. Sementara sebagian hanya namanya saja yang Kristen, sebagian yang lain tetap mempengaruhi budaya kita dengan mengajarkan prinsip-prinsip ajaran Yesus bahwa kehidupan setiap orang itu berharga dan bahwa kita harus saling mengasihi.
Bukan main!
Yesus telah membawa pengaruh yang begitu besar dari hasil pelayanan-Nya yang hanya berumur tiga tahun. Jika Yesus tidak nyata, seseorang pasti akan bertanya, bagaimana mungkin mitos dapat mempengaruhi jalannya sejarah sedemikian rupa...? 
Ketika seorang sejarawan dunia, H.G. Wells, ditanya, siapa yang meninggalkan warisan terbesar di dalam sejarah, ia menjawab: “Menurut standar pengujian ini, Yesus-lah yang pertama.”

Bukti-bukti berupa dokumen dan pengaruh di dalam sejarah menunjuk kepada fakta bahwa Yesus memang pernah ada. Jika Yesus memang nyata, kita juga bisa menemukan ‘jejak-jejak kakinya’ di dalam rincian sejarah. Mitos tidak akan meninggalkan rincian yang meyakinkan seperti itu.

Salah satu kunci bagi Durant dan para cendekiawan lain adalah faktor waktu. Mitos dan legenda biasanya membutuhkan waktu ratusan tahun untuk berkembang cerita bahwa George Washington tidak pernah berkata dusta mungkin adalah cerita dusta dan cerita itu membutuhkan waktu dua abad untuk berubah menjadi legenda. Pada sisi yang lain, berita tentang kekristenan menyebar terlalu cepat untuk disebut sebagai mitos atau legenda. Jika Yesus tidak nyata, mereka-mereka yang menentang kekristenan akan mencap Yesus sebagai legenda sejak awalnya, tetapi mereka tidak melakukannya.

Bukit yang sedemikian, ditambah dengan catatan-catatan di awal kekristenan dan pengaruh Yesus Kristus di dalam sejarah telah meyakinkan para sejarawan skeptik bahwa ‘Pendiri Kekristenan’ bukanlah mitos dan bukan pula legenda. Tetapi, seorang pakar mtologi tidak yakin.

Seperti Muggeridge, seorang cendekiawan Oxford, C.S. Lewis, pada mulanya yakin bahwa Yesus tidak lebih dari sekedar mitos. Lewis pernah menyatakan, “Semua agama, yang adalah mitology, tidak lain dari ciptaan manusia sendiri – Kristus sama dengan Loki”
(Loki adalah dewa tua Norse-Norwegia dulu. Seperti Thor tetapi tidak berkuncir.)

Sepuluh tahun setelah menyatakan Yesus sebagai mitos, Lewis menemukan rincian sejarah termasuk beberapa dokumen kesaksian langsung yang membuktikan keberadaan Yesus.
Yesus Kristus telah membawa pengaruh terhadap ‘lahan sejarah’ seperti gempa bumi yang dahsyat. Gempa bumi ini telah meninggalkan alur bukti yang lebih lebar dari Grand Canyon. Alur bukti inilah yang meyakinkan para candekiawan bahwa Yesus memang pernah ada 2000 tahun yang lalu dan mempengaruhi sejarah dunia hinga kini.
Seorang skeptik lain yang juga menganggap Yesus sebagai mitos adalah jurnalis Inggris bernama Malcolm Muggeridge. Tetapi, ketika menjalankan tugas televisi ke Israel, Muggeridge dihadapkan kepada bukti-bukti tentang Yesus Kristus yang keberadaannya dia tidak tahu dulunya. Setelah ia mengecek semua lokasi sejarah, tempat kelahiran Yesus, Nazareth, tempat penyaliban, dan kubur yang kosong, perasaan tentang realitas Yesus mulai menguak.
Ia kemudian menyatakan,
“Hal itu terjadi ketika saya berada di Tanah Suci untuk membuat tiga program televisi B.B.C tentang Perjanjian Baru, bahwa suatu kepastian tentang kelahiran Yesus, pelayananan-Nya dan penyaliban mencengkeram saya. Saya mulai menyadari bahwa dahulu benar-benar ada seseorang yang bernama Yesus, yang juga adalah Allah.” 
Beberapa cendekiawan Jerman yang sangat kritis pada abad ke 18 dan ke 19 juga mempertanyakan keberadan Yesus, dengan mengatakan bahwa realitas para tokoh kunci seperti Pontius Pilatus dan Yoseph Kayafas di dalam Injil belum pernah dikonformasi. Tidak ada bantahan atas pernyataan ini hingga pertengahan abad ke 20.

Pada tahun 1962, para arkeolog memberikan konfirmasi tentang keberadaan Pilatus ketika mereka menemukan namanya tercatat pada semacan prasasti, pada batu hasil penggalian. Demikian juga, tidak ada kepastian tentang keberadaan Kayafas hingga tahun 1990, ketika sebuah kotak tulang (bone box) yang ditemukan bertuliskan namanya. Para arkeolog juga telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai rumah dari Simon Petrus, dan sebuah kolam dimana Yohanes Pembaptis biasa membaptis orang.

Pada akhirnya, bukti sejarah yang barangkali paling meyakinkan bahwa Yesus benar-benar nyata adalah perkembangan kekristenan yang sangat pesat.

Bagaimana ha ini bisa dijelaskan tanpa Kristus...?

Bagaimana mungkin, sekelompok nelayan dan pekerja biasa menciptakan cerita tentang Yesus di dalam beberapa tahun...?

Durant menjawab pertanyaan pendahuluannya – Apakah Yesus benar ada? – dengan kesimpulan berikut:
“Bahwa beberapa orang sederhana di dalam satu generasi bisa menciptakan suatu kepribadian yang begitu berkuasa dan menarik, dengan etika yang begitu tinggi dan dengan pendangan yang memeberi inspirasi kepada persaudaraan manusia, akan merupakan sebuah mujizat yang jauh lebih luar biasa dari semua mujizat yang dicatat di dalam Injil. Setelah dua abad di bawah sorotan para pakar Alkitab, gambaran kehidupan, karakter dan ajaran Kristus tetaplah sangat jelas dan membentuk keistimewaan yang sangat mengagumkan di dalam sejarah manusia di Barat.”

Vonis Para Cendekiawan
Clifford Herschel Moore, seorang professor pada Universitas Harvard mengomentari kisah Yesus sebagai, “Orang Kristen mengenal Juruselamat dan Penebus mereka bukan sebagai beberapa allah yang sejarahnya dikandung di dalam kepercayaan dan iman kepada mitos. Yesus adalah tokoh sejarah dan bukan semacam makhluk mitos. Tidak ada secuil mitos atau pencemaran mitos yang menerobos masuk ke dalam orang-orang Kristen yang percaya; iman mereka berdiri di atas fakta sejarah yang positif dan dapat diterima.”

Kalaupun ada, hanya sedikit sekali sejarawan yang setuju dengan pernyataan Ellen Johnson dan Bertrand Russell bahwa Yesus itu tidak nyata. Dokumentasi yang luas tentang kehidupan Yesus oleh para penulis kontemporer, pengaruh yang sangat besar di dalam sejarah, dan bukti sejarah yang jelas telah mendorong para cendekiawan kepada kenyataan tentang keberadaan Yesus.

Apakah mungkin semua ini karena mitos...?

Semua cedekiawan, kecuali beberapa yang sangat skeptis, menjawab, tidak.

Dr. Michael Grant dari Cambridge menulis, “Kesimpulannya, semua metode kritik moderen telah gagal untuk menunjang teori motologi tentang Kristus.” Teori ini sudah berulang-ulang kali ‘dijawab dan digugurkan oleh para cendekiawan jajaran teratas.’ Di dalam tahun-tahun belakangan ini, ‘tidak ada cendekiawan yang serius yang berspekulasi untuk merumuskan ketidak-sejarahan Yesus.

Seorang sejarawan dari Yale, Jaroslav Pelikan, menyatakan, “Terlepas dari apapun yang secara pribadi, orang pikir atau percaya tentang-Nya, Yesus dari Nazaret telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di dalam kebudayaan Barat selama hampir 20 abad. Dari kelahiran-Nya-lah, sebagian besar suku dan bangsa mendasarkan kalender mereka, dan oleh NamaNya-lah jutaan orang mengutuk dan di dalam NamaNya-lah jutaan orang berdoa.”

 
Footnote
  1. Ellen Johnson and Larry King, “What Hap¬pens After We Die?” Larry King Live, CNN, April 14, 2005.
  2. Bertrand Russell, Why I Am Not a Chris¬tian (New York: Simon & Schuster, 1957), 16.
  3. Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 553.
  4. Ibid., 557.
  5. D. James Kennedy, Skeptics Answered (Sisters, OR: Multnomah, 1997), 76. The Gemaras are early rabbinical commentaries of the Jewish Talmud, a body of theological writings, dated a.d. 200–500.
  6. Quoted in Durant, 554.
  7. Durant, 73.
  8. Quoted in Durant, 281.
  9. Norman Geisler and Peter Bocchino, Un¬shakable Foundations (Grand Rapids, MI: Bethany House, 2001), 269.
  10. Quoted in Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict, vol. 1 (Nashville: Nelson, 1979), 87.
  11. Quoted in Christopher Lee, This Sceptred Isle, 55 B.C.–1901 (London: Penguin, 1997), 1.
  12. Will Durant, The Story of Philosophy (New York: Pocket, 1961), 428.
  13. Quoted in Bernard Ramm, Protestant Christian Evidences (Chicago: Moody Press, 1957), 163.
  14. Malcolm Muggeridge, Jesus Rediscov¬ered (Bungay, Suffolk, U.K.: Fontana, 1969), 8.
  15. Durant, Caesar and Christ, Ibid.
  16. David C. Downing, The Most Reluctant Convert (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2002), 57.
  17. Quoted in McDowell, 193.
  18. Michael Grant, Jesus (London: Rigel, 2004), 200.
  19. Jaroslav Pelikan, Jesus through the Cen¬turies (New York: Harper & Row, 1987), 1.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar