Rabu, 18 Mei 2011

Migdal Eder (Menara Kawanan Domba)

1 Samuel 17: 15, menyatakan Betlehem sebagai kota Daud, “tetapi Daud pergi dan kembali dari Saul untuk memberi makan kambing domba ayahnya di Betlehem.
Tetapi di Betlehem manakah Yesus dilahirkan?
Faktanya adalah Perjanjian Baru tidak menyebutkan letak yang tepat di Betlehem dimana Yesus lahir dan juga apakah Alkitab mencatat bahwa Yesus dilahirkan di dalam kandang hewan (seperti bangunan) yang didiami oleh keledai, ayam, sapi dan domba seperti banyak tampilan-tampilan kelahiran Kristus saat ini?

Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus dibaringkan di sebuah palungan/malaf [manger] di Betlehem dan tidak disebutkan sebuah kandang hewan [stable] atau bahwa Yesus dilahirkan di belakang rumah penginapan. Tempat kelahiran Yesus bukanlah sebuah kecelakaan tetapi tanda yang diberikan 700 tahun sebelumnya yang memprediksikan dimana Dia akan dilahirkan.

Pada umumnya konsep kata “palung(an)” [manger] merujuk pada sebuah bak tempat hewan-hewan diberi makan mungkin akurat. Tetapi, secara sederhana kata “palung(an)” dapat berarti “kandang” [stable]. Kata Yunani yang diterjemahkan ke dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, “manger” adalah Yatnh phat-ne (diucapkan: fat’-nay). Definisi dari kata itu adalah sebuah kandang [stall] tempat hewan-hewan dipelihara dan di Lukas 13: 15 diterjemahkan seperti itu. Di Septuaginta (Alkitab PL bahasa Yunani) kata Yatnh phat-ne berarti sebuah kandang [stable] atau sebuah tempat tidur bayi [crib]. Pertanyaannya adalah “kandang” atau palung(an) jenis apa yang dimaksudkan Perjanjian Baru dan hewan jenis apa yang diberi makan atau yang ditempatkan disana.

Meskipun Perjanjian Baru tidak memberitahu kita tempat Yesus dilahirkan di Betlehem, tetapi Perjanjian Lama menyatakannya tempat spesifiknya. Mikha 4: 8 menyebutkan “Dan engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem".
Dengan demikian Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa Mesias akan dilahirkan di “Menara Kawanan Domba” (Migdal Eder).

Frasa “Menara Kawanan Domba” dalam frasa Ibrani disebut “Migdal Eder” [mig-dawl ay-der] yang berarti “menara pengawas kawanan domba.” Pada zaman dulu, ini adalah menara militer yang dipakai untuk memandang bukit di pinggiran Betlehem untuk melindungi kota itu.

Sesudah itu berangkatlah Israel [Yakub], lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder.
(Kejadian 35: 21)

Dalam Kej. 35: 16-27, kita mengetahui bahwa Setelah Yakub meninggalkan Betel, dia datang ke Eder (Menara itu) sebelum akhirnya dia sampai di tempat ayahnya, Ishak di Mamre dekat Kiryat-Arba, Hebron. Ditengah perjalanan dekat Efrata, Rahel sangat sulit bersalin dan ia meninggal ketika melahirkan Benyamin lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata yaitu Betlehem. Setelah menguburkan Rahel, isterinya itu, Yakub melanjutkan perjalanannya dan menetap di negeri itu (Efrata) untuk sementara waktu di seberang Migdal-Eder [‘Menara kawanan domba’]. Sangat jelas sekali terlihat bahwa pada zaman Alkitab, letak Migdal-Eder ada di dalam kota Efrata yang kemudian disebut Betlehem.

Tradisi kuno (berdasarkan Kej.35: 16-20; 48: 7) mengarah pada suatu tempat 1 mil arah utara kota Betlehem modern dan 4 mil dari arah selatan Yerusalem, kita tidak tahu batas-batas daerah Betlehem kuno ketika Yesus lahir disana, tapi kita tahu bahwa luas kota Betlehem kuno yang disebutkan dalam Alkitab kemungkinannya lebih luas dan besar daripada Betlehem yang sekarang ini. Referensi-referensi untuk Migdal Edel modern adalah referensi untuk Betlehem modern bukannya Betlehem pada zaman Alkitab yang kemungkinanya lebih luas dan besar.

Menara pengawas pada zaman kuno digunakan oleh para gembala sebagai perlindungan dari ancaman para musuh dan binatang buas. Ini adalah tempat bagi domba betina untuk beranak. Domba-domba khusus ini berasal dari suatu kawanan ternak yang unik dan ditetapkan sebagai hewan-hewan kurban di Bait Allah di Yerusalem.

Berdasarkan Endersheim dalam The Life And Times Of Jesus The Messiah, in Book 2, Chapter 6, menyebutkan bahwa “Migdal-Eder ini bukanlah menara pengawas untuk kawanan domba biasa yang digembalakan di tanah tandus bagi kambing domba di luar Betlehem, tetapi bangunan ini berdiri dekat kota, di jalan menuju Yerusalem.
Sebuah tulisan dari Mishnah (Shekelim 7:4) menuju ke satu kesimpulan bahwa kawanan-kawanan domba yang digembalakan disana ditetapkan sebagai kurban-kurban sembelihan di dalam Bait Allah…”

Targum Yonatan, dipaparkan oleh Rabbi Munk, memparafrasakan Kej.35:23 dan Mikha 4:8, “Dia [Yakub] memasang kemahnya diseberang Migdal-Eder, tempat Raja Mesias akan menyetakan diri-Nya pada hari terakhir.”

Kita tahu bahwa Migdal Eder adalah menara pengawas yang melindungi kawanan domba Bait Allah yang sedang dipelihara untuk dipersembahkan sebagai hewan kurban dalam Bait Allah. Kawanan ternak ini bukan seperti kawanan domba atau ternak yang lain. Para gembala yang menjaga kawanan-kawanan domba itu adalah orang-orang yang terlatih secara khusus untuk tugas kerajaan ini. Mereka dididik untuk menentukan hewan mana yang layak untuk di kurbankan dan ini adalah pekerjaan mereka untuk juga memastikan tidak ada satupun dari hewan-hewan itu yang sakit, terluka, atau cacat. Domba-domba ini diselimuti oleh “kain-kain bedung” untuk melindungi mereka dari luka. Kain bedung ini juga digunakan untuk menyelimuti bayi Yesus.

Demikianlah, dengan penempatan Bait penyembahan di Yerusalem, padang-padang diluar Betlehem menjadi tempat bagi suatu kelompok para gembala untuk memelihara domba-domba yang akan dikurbankan di Yerusalem. Oleh karena mereka berada dibawah pengawasan dan otoritas rabinik, mereka harus mengurus dengan ketat sebuah kandang bersih dengan upacara sebagai sebuah tempat berkembang biak.

Menara Kawanan Domba digunakan bagi domba-domba betina untuk beranak, dan padang-padang disekitarnya merupakan tempat para gembala menggembalakan kambing dombanya. Para gembala ini biasanya menjaga kambing dombanya diluar selama 24 jam dalam sehari, setiap hari dalam setahun, tetapi membawa domba-domba betina masuk untuk mengantarkan domba-domba ke tempat mereka dapat di rawat secara intensif.

Dan engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem.
(Mikha 4: 8)

Pada ayat 8, Bukit (Ibrani: ‘opel) puteri Sion, mengacu pada ujung selatan dari Bukit Sion (tepat sebelah selatan gunung Moria / Yerusalem) dan juga kata “Menara Kawanan Domba” (‘Eder’) digunakan sebagai sebuah penanda dari Betlehem, yang diibaratkan mewakili garis kerajaan Daud yang diturunkan dari Betlehem.

Lukas 2: 8-18 mencatat bahwa disana ada para gembala yang tinggal di padang sedang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Siapakah pada gembala itu? Mereka pastilah para gembala yang tinggal di (dekat) kota Betlehem, mereka tidak lain adalah para gembala dari “Migdal Eder” yang menyadari dengan baik bahwa Targum menunjuk dan banyak rabi mengajarkan bahwa kedatangan Mesias pasti akan di beritahukan dari “Migdal Eder” di Betlehem.

Para malaikat hanya memberitahukan satu tanda pada para gembala bahwa mereka akan menemukan seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan di kota Daud. Agaknya para malaikat tidak perlu untuk menjelaskan kepada para gembala letak dimana Yesus dilahirkan di kota itu secara detail karena mereka sudah tahu dimana letak bayi Yesus. Lukas 2 mengindikasikan, sebab tanda sebuah palungan hanya dapat berarti palungan mereka di Menara Kawanan Domba! Anda tidak dapat menjelaskan arti atau arah dari tanda yang mereka terima atau respon mereka jikalau anda telah menemukan palungan dan gembala yang tepat!

Secara khusus, “Migdal Eder”, (Menara Kawanan Domba) di Betlehem adalah tempat yang sempurna bagi Kristus untuk lahir. Dia dilahirkan di tempat persalinan dimana puluhan dari ribuan domba-domba yang telah dan akan di kurbankan untuk mengkiaskan diri-Nya. Allah menjanjikan, menggambarkan dan menampilkan hal ini di “Migdal Eder”. Kesemuanya sangatlah tepat, sebab itu adalah tempat domba-domba kurban dilahirkan!

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum-kaum Yehuda, dari pada mu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel,..
(Mikha 5: 1)

Yesus tidak dilahirkan di belakang penginapan, dalam kandang yang bau dimana keledai para pelancong/musafir dan hewan-hewan yang lain berada. Dia lahir di Betlehem, di tempat domba-domba kurban beranak, yaitu domba-domba yang dipersembahkan di Bait Allah di Yerusalem yang Mikha 4: 8 sebut “Menara Kawanan Domba”. Yohanes pembabtis dalam Yoh.1: 29 berseru bagi Yesus, “Lihatlah Anak Domba yang menghapus dosa dunia.” Yesus dinyatakan dalam Alkitab serupa dengan seekor domba kurban. Yesus mengindentikan kematian-Nya dengan kegiatan ibadat Paskah. Petrus berkata bahwa dosa kita ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Pet. 1: 19); dan Paulus berkata bahwa “…sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus (1 Kor.5: 7). Bahkan Yesus dinyatakan di sorga sebagai Anak Domba (Why. 5: 6-13).

Edersheim mengatakan bahwa Migdal Eder dekat dengan kota, dekat jalan menuju Yerusalem. Peta modern menunjukan tempat tradisional padang para gembala berjarak 300 meter dari Basilica Kelahiran Kristus. Firman Allah mengatakan bahwa Yesus Kristus dilahirkan di Betlehem, Yehuda di kota Daud di suatu tempat bernama “Menara Kawanan Domba”, tidak lah penting kalau kita hari ini pergi ke titik pasti dimana Yesus lahir.
Saya [Cooper P Abrams III] pernah ke Israel dan melihat Yerusalem dan banyak tempat-tempat yang pernah dicatat di Alkitab, tetapi apa yang saya lihat adalah sebagian kecil kemiripan dari apa yang terlihat di zaman Yesus.

Yesus dilahirkan dimenara Kawanan Domba (Migdal Eder)

Migdal Eder

Ringkasan singkat dari Bambang Noorsena
Dalam banyak rincian tulisannya, khususnya Kisah Para Rasul, keterangan Lukas dibuktikan sangat tepat oleh para archeolog akhir-akhir ini. Nah, dalam kaitan dengan tanggal perayaan Natal, 25 bulan Tebeth/Desember. Lukas menulis: Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal dipadang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Lukas 2:8). Pertanyaan yang lazim dikemukakan, "Mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?". Pertanyaan ini, tentu saja memustahilkan penanggalan Gereja seperti yang sudah kita bahas mengenai tanggal Kelahiran al-Masih.

Pertanyaan itu memang menarik. Tetapi sayang sekali, semua sikap yang cenderung meremehkan kisah-kisah seperti itu dalam Alkitab, kurang dilengkapi dengan pemahaman yang memadai mengenai latarbelakang tradisi Yahudi. Khususnya mengenai pengharapan Yahudi mengenai kedatangan Messiah. Pertanyaan di atas, dapat dijawab dengan mengemukakan 2 fakta dasar sebagi berikut :

Pertama, sesuai dengan pengharapan Yahudi tampaknya yang dimaksudkan Lukas dengan padang gembala itu bukan padang gembala biasa. Tetapi menunjuk kepada Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" yang disebut dalam Targum Yonathan. Latar belakangnya, seperti dicatat dalam Kejadian 35:16-22. Di situ dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu ia melahirkan Benyamin, yang lalu dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu Bethlehem. Kubur Rahel itu ada di Bethlehem hingga sekarang. Di sebuah bangunan dengan kubah putih, di situ ada Menorah dan tulisan Ibrani: Qubr Rahel, "kuburan Rahel". Dalam Targum Yonathan, Migdal Eder, "Menara kawanan domba",[2] tempat Israel memasang kemahnya (Kejadian 35:21), disebut sebagai tempat Messiah akan dinyatakan. Menurut literatur Yahudi: Mishnah, Sheki-nah 7,4 domba-domba yang disebut dalam kaitan dengan Migdal Eder itu bukan domba-domba biasa, tetapi domba-domba kurban Bait Allah, yang dijaga oleh gembala-gembala khusus pula yang diikat oleh peraturan rabbi-rabbi Yahudi. Karena itu, letak Migdal Eder menurut keterangan Mishnah tadi di suatu jalan tertutup dalam perjalanan dari Bethlehem menuju ke Yerusalem. Yang jelas, apa yang sekarang disebut Sahl al-Ra’wat (The Sepherd s Field) di Beyt Sahour, itu hanya kira-kira saja. Artinya, jauh dari keterangan yang diberikan Mishnah. Nah, karena tempat itu memang tempat tertutup, mungkin semacam benteng begitu, maka "domba-domba di padang itu dibiarkan digembalakan, baik pada saat musim panas maupun musim hujan". Demikian keterangan yang terbaca dalam Talmud, tractate: Bezah 40a, Tsepta Bezah 4:6. [3] Nah, untuk ukuran domba-domba biasa di padang belantara memang tidak mungkin, sebab domba-domba pada umumnya paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turunnya hujan pertama (kira-kira bulan Nopember)". Bahwa Bait Allah di Yerusalem mempunyai persediaan khusus seperti itu, jelas dari fakta bahwa tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban hampir dalam semua lingkaran tahun liturgis. Dalam penanggalan liturgi Yahudi, perayaan yang jatuh pada bulan 25 Kislew sampai 2 Tebeth (Desember/Januari) adalah Hari Hanuka ("penahbisan Bait Allah"). Hari raya ini memperingati kemenangan Yuhuda Makabe pada tahun 165-164 sebelum Masehi, karena kejahatan Anthiokus Epifanes yang menajiskan Baitul Maqdis itu (2 Makabe 10:6). Dalam Yohanes 10:22 disebutkan bahwa perayaan itu jatuh pada musim dingin. Ciri khas perayaan ini adalah penyalaan lampu-lampu terang, sehingga sejarahwan Flavius Yosephus menyebutnya : "Hari Raya Terang" (Antiquities 12:325).[4] Barangkali dari upacara inilah, ummat Kristen mengadaptasi penyalaan lilin-lilin dan lampu Natal. Jadi, tidak usah curiga dulu bahwa ritus-ritus Natal itu asalnya dari paganisme, meskipun kita tidak mengecilkan makna kontekstualisasi yang dalam pada agama apapun di dunia ini.

Kedua, secara umum biasanya pada musim dingin, maka gembala tidak menggembalakan domba-dombanya di padang. Ya, ini kan pada umumnya. Apa di dunia ini tidak pernah terjadi waktu-waktu yang khusus?
Jawabnya: Ya, tentu saja pernah terjadi. Jadi, biasanya memang pada bulan Tebeth/Desember curah hujan sangat besar. Orang-orang akan menggigil kedinginan bila berada di luar. Tapi, ternyata tidak selamanya pada bulan Tebeth turun hujan. Nah, kalau saya berkata ada yang luar biasa, supra-Natural, pasti saya akan diejek tidak ilmiah. Tapi saya berbicara berdasarkan bukti.
Dalam Talmud, Ta’anith 6b, saya membaca: "Tahun baik dalam bulan Tebeth (Desember) tidak turun hujan". [5] Apa maksud-nya?
Ya, memang pernah terjadi "salah mangsa, salah musim". Dalam hubungan dengan itu, Talmud malah secara eksplisit mencatat bahwa pada musim dingin: "domba-domba digembalakan di padang". Untuk lebih mantabnya, saya kutip bahasa Ibraninya: alu hen midbariyot. The flocks which pastured in the wilderness. [6] Kini saya mau bertanya, "Apakah tidak masuk akal apabila kita berfikir bahwa pernah ada waktu yang disiapkan secara khusus oleh Allah: suasana ramah, hari biak dan cuaca yang bagus?". Kelahiran Messiah sendiri, Putra Allah yang lahir dari seorang perempuan Yahudi di Palestina itu terjadi: Fa lama tamma al-Zaman. "When the fullness of the times had come" (Galatia 4:4). Ya, mungkin penafsiran saya ini terlalu jauh. Tapi begitulah saya haqqul yaqin, mengimani misteri Ilahi. Kesimpulan saya, sekali lagi tidak ada yang janggal dengan kelahiran Sayidina Almasih pada bulan Tebeth/ Desember, sebagaimana yang ditetapkan dalam hitungan liturgi Gereja selama ini.

TUHAN Yesus memberkati

Footnote :
1. Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" ini mempunai makna penting dalam pengharapan Mesianik Yahudi. Tempat itu letaknya antara Bethlehem menuju ke Yerusalem, dan itu bukan padang
biasa seperti yang saya buktikan dalam tulisan ini.
2. Alfred Edhersheim, The Life and Times of Jesus The Messiah (Hendrickson Publisher, 1995), pp. 130.
3. Ibid, p. 131.
4. William Wiston, A.M. (ed.), The Works of Flavius Josephus (Philadelpia: J.B. Lippicott & Co, 1872), p. 421.
5. Alfred Edersheim, Loc. Cit.
6. Alfred Edersheim dalam bukunya juga mengutip hasil penelitian Dr. Chaplin, Palestinian Exploration, Januari 1883. Rata-rata pada pertengah-an bulan musim dingin di Palestina, curah hujan mencapai 4.718 inci pada bulan Desember, 5.479 inci pada bulan Januari, dan 5.207 inci pada bulan Pebruari. Jadi sangat dingin. Tetapi pernah terjadi pada tahun 1876-1877 kita mendapatkan angka-angka yang mengejutkan: 0.490 inci pada pertengahan Desember, 1.595 inci pada bulan Pebruari, dan 8.750 pada bulan Pebruari. Jadi, bukan mustahil keterangan Talmud: "Tahun yang baik dalam bulan Tebeth tanpa Hujan", terjadi pada saat kelahiran Yesus (Ibid). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar