Senin, 23 Mei 2011

Apakah Yesus Mengklaim Diri-Nya Sebagai Allah...?


Banyak orang rela menerima Yesus Kristus sebagai orang baik, atau seorang nabi besar, tetapi menolak ketuhanan Yesus dengan alasan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Allah.  Mereka yang menolak keilahian Yesus mengutip beberapa ayat Alkitab untuk mendukung pendapat mereka bahwa Yesus tidak pernah berniat untuk disembah sebagai Allah.

Tetapi, bukti-bukti mengindikasikan bahwa sejak zaman para Rasul, Yesus disembah sebagai Tuhan.  Setelah para Rasul meninggal, beberapa pemimpin jemaat/Gereja abad pertama dan kedua menulis tentang kelilahian Yesus.  Akhirnya, pada tahun 325 A.D, para pemimpin Gereja menyatakan iman mereka bahwa Yesus adalah Allah seutuhnya.

Ada sebagain orang yang mengataka bahwa Gereja “mengarang” keilahian Yesus dengan mengubah cerita Injil. Kenyataannya, buku cerita fiktif terlaris di dunia, The Da Vinci Code terjual sebanyak 40 juta exemplar dengan membuat klaim yang sama.

Walaupun buku tersebut menjadikan pengarangnya, Dan Brown, kaya-raya, cerita fiktifnya dicerca para cendekiaan sebagai sejarah yang buruk. Kenyataannya, Perjanjian Baru telah dianggap sebagai “dokumen sejarah kuno yang paling bisa dipercaya.”

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan istilah “Anak Manusia” dan “Anak Allah?” 
Jika Yesus bukan Allah, mengapa musuh-musuh-Nya menuduh Dia dengan tuduhan “menghujat?” 
Yang lebih penting lagi, jika Yesus bukan Allah, mengapa Ia menerima penyembahan?

Apa yang orang Kristen percayai tentang Yesus.

Pencipta menjadi Tukang Kayu ?
Inti Kekristenan berisikan kepercayaan bahwa Allah datang ke bumi di dalam Pribadi Anak-Nya, Yesus Kristus.   Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bukanlah makshluk ciptaan seperti para malaikat, tetapi adalah Pencipta alam semesta sendiri.  Sebagai seoang teolog, J.I. Parker menulis, “Injil menyatakan kepada kita bahwa Pencipta kita telah menjadi Juruselamat kita.”2

Perjanjian Baru menyatakan bahwa, sejalan dengan kehendak Bapa-Nya, untuk sementara Yesus mengesampingkan kuasa dan kemuliaan-Nya untuk menjadi seorang bayi yang tidak berdaya.  Setelah tumbuh menjadi dewasa, Yesus bekerja di bengkel tukang kayu, merasakan lapar, menjadi lelah dan merasakan sengsara serta kematian seperti kita.  Lalu pada umur 30 tahun, Ia memulai pelayanan-Nya.

Satu Allah
Alkitab menyatakan Allah sebagai pencipta alam semesta.   
Ia tidak terbatas, kekal, mahakuasa, mahatahu, memiliki kepribadian, benar, kasih, adil, dan kudus.   
Ia menciptakan kita manurut gambar-Nya dan untuk kesenangan-Nya.   
Menurut Alkitab, Allah menciptakan kita untuk memiliki hubungan yang kekal dengan-Nya.
Ketika Allah berbicara kepada Musa di tengah semak yang terbakar, 1500 tahun sebelum Kristus, Ia menegaskan ulang bahwa hanya Dia-lah Allah. Allah mengatakan kepada Musa bahwa nama-Nya adalah YHVH, (I AM).  (Kebanyakan kita lebih terbiasa dengan terjemahan dari bahasa Inggrisnya, Jehovah/Yehova atau LORD/TUHAN.6)   Sejak saat itu, dasar dari Firman Allah (Shema) untuk Yudaisme adalah:

 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Keluaran 6:4)

Ke dalam dunia dengan kepercayaan monoteis inilah Yesus datang, melayani dan mulai membuat pernyataan-pernyataan yang mencengangkan mereka yang mendengar-Nya.  

Menurut Ray Stedman, Yesus adalah pusat dari Kitab Suci Ibrani. 
“Di sini, di dalam bentuk manusia hidup dan bernafas, seseorang yang memenuhi dan menggenapi semua lambang dan nubuatan dari kitab Kejadian sampai Maleakhi. Ketika kita bergeser dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, kita akan temukan satu Pribadi, Yesus dari Nazaret, sebagai titik fokus dari kedua Perjanjian tersebut.” 7
Tetapi jika Yesus adalah kegenapan dari Perjanjian Lama, maka pernyataan-pernyatan-Nya haruslah memastikan bahwa “Allah itu Tuhan yang Esa,” dimulai dengan apa yang Ia katakan tentang diri-Nya sendiri. 
 
Nama Allah yang SUCI
Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya dan ajaran-ajaran-Nya yang radikal menarik banyak orang dan menimbulkan pergolakan dan kehebohan.  Ketika popularitas-Nya bertambah seiring dengan bertambahnya masa yang mengikuti-Nya, para pemimpin Yahudi (Orang Farisi, Saduki dan Ahli Taurat) mulai memandang Yesus sebagai ancaman.   Mereka segera berusaha mencari jalan untuk menjebak-Nya.

Suatu hari, ketika Yesus sedang berdebat dengan orang-orang Farisi di Bait Allah, tiba-tiba Ia mengatakan kepada mereka bahwa Ia adalah “terang dunia.”    
Situasi ini terlihat sungguh janggal dimana seorang tukang kayu keliling dari dataran rendah Galilea mengatakan kepada para doktor teologia tersebut bahwa Ia adalah “terang dunia.”   
Karena mereka percaya bahwa YHVH adalah terang dunia, dengan marah mereka menjawab Dia:

“Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar.”
(Yohanes 8:13)

Kemudian Yesus mengatakan kepada mereka bahwa 2000 tahun yang lalu, Abraham sudah menubuatkan tentang Dia.  Mereka menjawab dia dengan nada tidak percaya:

“Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”   
(Yohanes 8:57)

Yesus kemudian membuat mereka lebih terpukul dengan pernyataan:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada [I AM]” 
(Yohanes 8:58)

Tidak diduga, tukang kayu keliling tanpa ijazah kesarjanaan di dalam bidang agama, mengklaim kekekalan keberadaan diri-Nya.    
Lebih dari itu, ia telah menggunakan gelar “I AM” (ego eimi)8, nama yang suci dari Allah sendiri!  

Para ahli agama ini hidup dan bernafaskan Kitab-kitab Perjanjian Lama yang menyatakan Yahwe sebagai satu-satunya Allah.  Mereka tahu tentang Firman yang berbicara melalui nabi Yesaya:

 Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” 
(Yesaya 43:10, 11)

Karena hukuman untuk penghujatan adalah dirajam dengan batu sampai mati, dengan marah para pemimpin Yahudi memungut batu untuk melempari Yesus.  Mereka pikir ia telah menyebut diri-Nya sendiri, “Allah.”  Dalam keadaan itu, Yesus bisa saja berkata, “Tunggu!  Kalian salah paham terhadap perkatan-Ku — Saya bukan YHVH.”  Tetapi, Yesus tidak mengeluarkan pernyataan ini, walaupun di dalam keadaan terancam untuk dibunuh.

Lewis memberikan penjelasan tentang kemarahan ini:
"Ia berkata…’Akulah Anak Allah yang tunggal itu, sebelum Abraham ada, Aku ada (I Am) dan ingat apa artinya kata “I Am” di dalam bahasa Ibrani.  “I Am” tersebut  adalah nama Allah yang tidak boleh diucapkan oleh manusia, nama dengan acaman kematian bila diucapkan.” 9

Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa hal ini terjadi secara kebetulan.  Tetapi, Yesus menggunakan nama “I AM” untuk diri-Nya sendiri di dalam beberapa peristiwa lain.  
Mari kita lihat beberapa di antaranya, dan mencoba membayangkan reaksi kita ketika mendengar klaim Yesus yang radikal seperti:
  1. “[I AM] Aku adalah terang dunia” (Yohanes 18:12) 
  2. “[I AM] Aku adalah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6) 
  3. “[I AM] Aku adalah satu-satunya jalan kepada Bapa” (Yohanes 14:6) 
  4. “[I AM] Aku adalah kebangkitan dan hidup” ((Yohanes 11:25) 
  5. “[I AM] Aku adalah Gembala yang baik” ((Yohanes 10:11) 
  6. “[I AM] Aku adalah pintu” (Yohanes 10:9) 
  7. “[I AM] Aku adalah roti hidup” (Yohanes 6:51) 
  8. “[I AM] Aku adalah pokok anggur yang benar (Yohanes 15:1) 
  9. “[I AM] Aku adalah alfa dan omega” (Wahyu 1:7,8)
Seperti yang diamati oleh Lewis, jika pernyataan-pernyataan ini tidak diklaim oleh Allah sendiri, maka Yesus sudah dianggap sebagai seorang idiot atau gila.  Tetapi yang membuat Yesus dapat dipercayai oleh mereka yang mendengar-Nya adalah mujizat-mujizat yang diadakan-Nya dan hikmat serta kuasa dari ajaran-ajaran-Nya.

Anak Manusia
Sebagian orang mengatakan bahwa Yesus tidak bermaksud menggunakan I AM untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah.   Mereka beralasan bahwa Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia,” membuktikan bahwa ia tidak mengklaim keilahian-Nya. 

Kalau begitu, apakah hubungan dari gelar “Anak Manusia” dan apakah artinya?
Packer menulis bahwa nama “Anak Manusia” terkait dengan peran Yesus sebagai Raja-Penyelamat, yang memenuhi nubuatan Mesianik dari Yesaya 53.10 Yesaya 54 adalah bagian yang paling lengkap memuat nubuatan tentang Mesias yang akan datang, dan dengan jelas menggambarkan Sang Mesia sebagai Penyelamat Yang Menderita.   Yesaya juga menyatakan Sang Mesias sebagai “Allah Yang Perkasa”, “Bapa Yang Kekal” dan “Raja Damai” (Yesaya 9:6).
Sebagai tambahan, banyak cendekiawan yang mengatakan bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pemenuhan terhadap nubuatan Daniel tentang “anak Manusia.”  Daniel bernubuat bahwa “anak manusia” akan diberikan kuasa atas manusia dan berhak menerima pujian-sembah:
“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.  Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.”
(Daniel 7:13,14)
Jadi, siapakah “Anak Manusia,” dan mengapa ia disembah, jika hanya Allah yang patut disembah?
Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa ketika Ia kembali ke bumi, 

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya”
(Lukas 21:17).  

Apakah di sini Yesus sedang mengaakan bahwa Ia adalah kegenapan dari nubuatan Daniel?

Anak Allah
Yesus juga mengklaim diri-Nya sebagai “Anak Allah.”   
Gelar ini tidak berarti Yesus adalah anak lelaki biologis dari Allah.   
Istilah “Anak Laki-Laki” juga tidak menyatakan keadaan ‘lebih rendah’ seperti halnya anak manusia terhadap ayahnya. Seorang anak memiliki DNA yang sama dengan ayahnya, dan walaupun ia berbeda, mereka berdua adalah manusia. Para cendekiawan mangatakan bahwa istilah “Anak Allah” di dalam bahasa aslinya menyatakan kesamaan, atau “dari tingkatan yang sama.”  Dengan mengatakan demikian, Yesus bermaksud menyatakan bahwa Ia memiliki sifat dasar ilahi, atau di dalam istilah abad 21, “DNA-nya Allah.”  
Professor Peter Kreeft menjelaskan:
“Apa yang dimaksudkan Yesus ketika menamai diri-Nya ‘Anak Allah’?   Anak dari seorang manusia adalah manusia. (Kedua istilah ‘anak’ dan ‘manusia’ di dalam bahasa tradisional, sama menunjuk kepada pria dan wanita).   Anak dari seekor kera adalah kera. Anak dari seekor anjing adalah anjing.  Anak dari seekor ikan hiu adalah ikan hiu.  Dengan demikian, Anak Allah adalah Allah.  ‘Anak Allah’ adalah gelar keilahian.”11
Di dalam Yohanes 17, Yesus berkata tentang kemuliaan yang Ia dan Allah miliki sebelum dunia diciptakan. 
Tetapi apakah dengan menyebut diri-Nya “Anak Allah,” Yesus mengklaim diri-Nya sama dengan Allah?  

Packer menjawab:
“Ketika Alkitab menyatakan Yesus sebagai Anak Allah, pernyataan itu berfungsi sebagai penegasan tentang kenyatan kepribadian keilahian-Nya.“12

Kesimpulannya, nama-nama yang Yesus gunakan untuk diri-Nya menunjuk kepada kenyataan bahwa Ia mengklaim kesamaan diri-Nya dengan Allah.
Tetapi apakah Yesus berkata-kata dan bertindak dengan kuasa Allah?

Mengampuni Dosa
Di dalam agama Yahudi, pengampunan dosa adalah wewenang Allah sendiri.  Pengampunan adalah masalah pribadi dan orang lain tidak dapat mengampuni atas nama orang yang diperlakukan salah, terlebih lagi kalau orang tersebut adalah Allah. Tetapi pada beberapa kesempatan, Yesus bertindak seakan-akan Ia adalah Allah dengan mengampuni orang-orang berdosa.   Para pemuka agama yang panas hati akhirnya meledak ketika Yesus mengampuni dosa-dosa seorang pria lumpuh di depan hidung mereka.
 “Mengapa orang ini berkata begitu?
Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
(Markus 2:7)
Lewis membayangkan bagaimana mereka yang mendengar Yesus menjadi terpana.
 ‘Lalu datanglah kejutan yang luar biasa,’ 
Tulis Lewis: ‘
Dari antara orang Yahudi tersebut tiba-tiba ada seorang lelaki yang muncul dan berkata-kata seakan-akan Dia adalah Allah. Ia mengaku berhak mengampuni dosa.  Ia berkata bahwa Ia sudah ada sebelumnya. Ia berkata bahwa Ia akan datang untuk menghakimi dunia pada akhir zaman. Sekarang mari kita buat penjelasannya. Di antara para panteis (orang yang percaya bahwa Allah dan alam semesta itu sama), seperti orang Indian, setiap orang mungkin mengatakan bahwa dia adalah bagian dari Allah, atau satu dengan Allah. Tetapi Lelaki ini, karena Dia adalah seorang Yahudi, maka klaim tersebut tidak mungkin berarti Allah semacam itu.  Allah, di dalam bahasa mereka, berarti Pribadi di luar dunia, yang telah diciptakan-Nya dan jauh berbeda dari semua yang lain.  Dan ketika Anda telah memahaminya, Anda akan melihat bahwa apa yang dikatakan-Nya itu adalah, cukup sederhana, hal yang paling mengejutkan yang pernah diucapkan oleh bibir manusia.”13
Menyatakan Diri-Nya dan Allah adalah Satu
Mereka yang mendengar Yesus dapat menangkap kesempurnaan moral-Nya, melihat-Nya melakukan berbagai mujizat, bertanya di dalam hati apakah Ia ini Mesias yang telah lama dinantikan. 
Pada akhirnya, para lawan yang mengelilingi-Nya di Bait Allah, bertanya:
“Berapa lama lagi Engkau akan membiarkan kami di dalam kebingungan?
Jika Engkau adalah Mesias, katakanlah seadanya.”
Yesus menjawab, “Buktinya adalah apa yang Aku lakukan di dalam nama Bapa.”  
Ia membandingkan para pengikut-Nya dengan domba dengan mengatakan, “Aku memberikan hidup kekal kepada mereka, dan mereka tidak akan pernah lenyap.”  Ia kemudian menyatakan kepda mereka bahwa, “Bapa lebih besar dari segalanya,” dan bahwa tindakan-tindakan-Nya “seturut dengan kehendak Bapa.” 
Kerendahan hati Yesus pasti telah ditanggalkan. 
Lalu Yesus kemudian menjatuhkan bom dengan mengatakan kepada mereka, 
(Yohanes 10:25-30)
“Bapa dan Aku adalah satu.”

Jika Yesus hanya bermaksud mengatakan bahwa Ia sejalan dengan Allah, maka tidak akan ada reaksi.   Tetapi, orang-orang Yahudi mengambil batu untuk membunuh-Nya. Yesus kemudian bertanya kepada mereka, “Aku telah melakukan banyak hal menurut  kehendak Bapa-Ku untuk menolong orang.  Untuk perbuatan baik manakah kalian hendak membunuh Aku?”
“Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” (Yohanes 10:33)

Ketika menyiapkan para murid-Nya untuk menghadapi kematian-Nya nanti di Salib dan kembali-Nya ke Surga, Tomas ingin tahu ke mana Ia akan pergi dan bagaimana jalan ke situ.   
Yesus menjawab Tomas,
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”
(Yohanes 14:5-7)

Mereka kebingungan. Filipus lalu berbicara dan meminta Yesus untuk “menunjukkan Bapa kepada mereka.”   Yesus menjawab Filipus dengan kata-kata yang mengejutkan sebagai berikut,

 Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;“

Yesus seakan-akan berkata, “Filipus, jika engkau ingin melihat Bapa, lihatlah Aku!” 
Di Dalam Yohanes 17 Yesus menyatakan bahwa kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya telah ada semenjak kekekalan, “sebelum dunia mulai.   
Menurut Yesus, tidak pernah ada suatu waktu ketika ia tidak berbagi kemuliaan dan esensi Allah.

Otoritas Allah
Orang Yahudi selalu menganggap Allah sebagai penguasa atau otoritas tertinggi.  Otoritas atau kekuasaan adalah istilah yang sangat dipahami di dalam daerah jajahan Romawi seperti Israel.   Pasa masa itu, maklumat Caesar dapat menyeret pasukan ke dalam peperangan, menghukum atau membebaskan penjahat, dan menetapkan hukum dan aturan pemerintah.  Kenyataannya, otoritas Caesar adalah sedemikian besar sehingga ia mengklaim dirinya sebagai tuhan.
Sebelum meninggalkan dunia, Yesus memberikan penjelasan tentang lingkup otoritas-Nya dengan berkata:

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”
(Matius 28:18)

Dengan ucapan yang yang luar biasa ini, Yesus mengaku sebagai penguasa tertinggi, bukan hanya di bumi, tetapi juga di surga. 
John Piper mengamati,
“Inilah sebabnya mengapa teman dan musuh-musuh Yesus terhenyak berulang kali dengan apa yang Dia katakan dan lakukan.  Dia akan berjalan di jalan seperti layaknya orang awam lain, lalu berbalik dan mengatakan sesuatu seperti, “Sebelum Abraham jadi, Aku ada.”  Atau,  “Jika engkau telah melihat Aku, engkau telah melihat Bapa.”Atau, dengan sangat tenang, setelah dituduh menghujat, Ia akan berkata, “Anak Manusia berkuasa di bumi untuk mengampuni dosa.”  Untuk yang sudah mati, ia mungkin hanya mengatakan, “Mari keluar” atau, “Bangkitlah.". Dan mereka akan mematuhi-Nya.  Untuk badai di laut ia akan berkata, “Diamlah.”  Dan untuk sepotong roti, Ia akan berkata, ”Jadilah seribu porsi.”  Dan hal itu segera terjadi.”14
Sebagian mungkin akan mengatakan bahwa karena otoritas itu berasal dari Bapa, hal itu tidak ada hubungannya dengan Yesus sebagai Allah.  Tetapi Allah tidak pernah memberikan otoritas-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya sehingga mereka harus disembah.  Melakukan hal itu berarti melanggar Perintah-Nya.

Menerima Penyembahan
Tidak ada yang lebih mendasar di dalam Kitab Suci Yahudi daripada kenyataan bahwa Allah sendirilah yang harus disembah. 
Malahan, hukum pertama dari ke – Sepuluh Perintah Allah berbunyi,

 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3)

Artinya, dosa yang paling parah yang dapat dilakukan seorang Yahudi adalah menyembah makluk ciptaan lain sebagai allah, atau menerima penyembahan.  Jadi, jika Yesus bukan Allah, maka menerima penyembahan adalah sebuah penghujatan terhadap Allah.

Setelah kebangkitan Yesus, para murid mengatakan kepada Thomas mereka telah melihat Tuhan yang hidup (Yohanes 20:24-29). Thomas mencibir dan mengatakan kepada mereka dia hanya akan percaya kalau ia bisa meletakkan jari-jarinya pada bekas luka-luka paku di tangan Yesus dan lambung-Nya yang ditikam.  Delapan hari kemudian murid-murid semua sedang bersama-sama di ruangan terkunci ketika Yesus tiba-tiba muncul di depan mereka. Yesus memandang Thomas dan menyuruhnya, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku. Letakkan tanganmu ke dalam bekas luka di lambungku.”
Tomas tidak membutuhkan bukti lanjut.  Ia segera percaya dan berseru kepada Yesus,
 “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Tomas menyembah Yesus sebagai Allah!   
Jika Yesus bukan Allah Ia pasti akan menegor Tomas saat itu juga.   
Tetapi bukannya menegor Tomas karena menyembah-Nya sebagai Allah, Yesus mengomentari tindakan Tomas dengan berkata:
"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Tercatat ada sembilan kali Yesus menerima penyembahan.  

Di dalam konteks kepercayaan Yahudi, ‘penerimaan Yesus terhadap penyembahan menyuarakan klaim Yesus sebagai Tuhan.  Tetapi sampai setelah Yesus naik ke surga barulah murid-Nya memahami hal itu sepenuhnya.  Sebelum Yesus meninggalkan bumi, ia mengatakan kepada para rasul-Nya untuk “membaptis murid baru dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus” (Matius 28:19), dengan meletakkan Roh Kudus dan diri-Nya sendiri pada tingkat yang sama dengan Bapa.15

Alfa dan Omega
Pada waktu rasul Yohanes berada di dalam pengasingan di pulau Patmos, Yesus menyatakan kepadanya di dalam penglihatan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. 
Di dalam penglihatannya, Yohanes menggambarkan peristiwa luarbiasa berikut ini:
“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia…. ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”
Jadi siapakah Pribadi yang disebut “Alfa dan Omega,” “Tuhan Allah,” “Yang Mahakuasa”?
Kita diberitahu bahwa Ia telah “ditikam.”  Hal ini menyatakan bahwa Alfa dan Omega adalah Yesus.  Dia-lah yang ditikam di kayu salib.
Yohanes sebagai murid yang terdekat dengan Yesus dibandingkan dengan murid-murid yang lain, melihat gambaran dari Pribadi yang berbicara kepadanya. 
Ia menulis,

“Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api…. dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.”
(Wahyu 1:13, 14, 16b)

Adalah tidak mungkin untuk menangkap emosi Yohanes ketika ia melihat Pribadi yang bersinar seperti matahari pada kekuatan penuh, dengan mata bagaikan nyala api. Ia jatuh seperti orang mati di depan Pribadi yang dilihatnya.  

Jika ini adalah Yesus, mengapa Yohanes tidak mengenal Dia? 
Mungkin ia pikir Pribadi tersebut adalah seorang malaikat? 
Mari dengarkan kata-kata Yohanes.
“tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya” (Wahyu 1:17-18).
Pribadi yang berbicara kepada Yohanes mengidentifikasi diri-Nya sebagai, “yang Awal dan yang Akhir,” yang dengan jelas menggambarkan keabadian-Nya.  Oleh karena hanya Allah yang abadi, Pribadi ini haruslah Allah.  Tetapi di dalam kalimat yang sama Ia mengatakan kepada Yohanes bahwa “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup.” Jadi kita tahu bahwa Pribadi ini pasti bukan Allah Bapa sebab Bapa tidak pernah menderita kematian sebagai manusia.
 “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.“
(Wahyu 20:11; 21:6)
Pribadi itu adalah Tuhan Yesus Kristus yang memerintah dari takhta putih yang besar. Yesus telah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa Dia akan menjadi hakim terakhir terhadap manusia. Dia berjanji bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan dari hukuman dosa, tetapi mereka yang menolak Dia akan diadili.

Kesimpulan
Jadi apakah Yesus mengaku atau megklaim diri-Nya sebagai Allah ataukah Ia hanya salah dimengerti? 
Mari kita cermati lagi klaim-klaim Yesus dan tanyakan : akankah Yesus membuat pernyataan-pernyataan radikal seperti itu jika Ia bukan Allah?
  1. Yesus menggunakan nama Allah untuk diri-Nya
  2. Yesus menyebut diri-Nya “Anak Manusia”
  3. Yesus menyebut diri-Nya “Anak Allah”
  4. Yesus mengklaim otoritas mengampuni dosa
  5. Yesus mengkalim bahwa Ia dan Allah adalah satu
  6. Yesus menerima penyembahan
  7. Yesus menyebut diri-Nya “Sang Alfa dan Omega”
 Sebagian orang mungkin mengatakan,
 “bagaimana kita bisa percaya pada klaim Yesus?
Bukti apa yang Ia berikan?” 
Tiga hari setelah penyaliban-Nya, murid-muridnya mengklaim bahwa mereka melihat Dia hidup. 
Jika cerita mereka hanyalah omong-kosong, maka cerita itu akan mati ketika Romawi menghadapkan mereka pada aniaya yang paling mengerikan di dalam sejarah umat manusia.
Tetapi keyakinan dan ketulusan mereka mengalahkan Romawi dan mengubah dunia.
Lewis menjelaskan alasan di balik keyakinan mereka sebagai:
“Apa yang melampaui semua ruang dan waktu, apa yang tidak diciptakan, abadi, datang ke dalam alam, turun ke dalam jagat-raya milik-Nya dan naik kembali.” 16
Pada awalnya, cendekiawan ulung ini menganggap Yesus adalah sebuah mitos, sama seperti para dewa ciptaan manusia pada zaman Yunani dan Romawi kuno.   
Tetapi ketika ia mulai meneliti bukti-bukti tentang Yesus Kristus, ia sadar bahwa kisah di Perjanjian Baru tentang Yesus Kristus dibangun di atas dasar yang kokoh dari sejarah.
Orang yang awalnya skeptis ini menutup penyelidikannya terhadap bukti-bukti tentang Yesus Kristus melalui ungkapan pikiran sebagai berikut:
“Anda harus membuat pilihan: Apakah orang ini adalah Anak Allah: atau seorang gila atau yang lebih buruk dari itu. Tetapi marilah kita tidak mengemukakan omong-kosong yang merendahkan tentang Yesus sebagai seorang mahaguru. Ia tidak membuka kemungkinan itu kepada kita.” 17
 Footnote
  1. Ravi Zacharias, Jesus Among Other 1. Gods (Nashville: Word, 2000), 38.
  2. J. I. Packer, Knowing God (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1993), 189.
  3. George A. Barton, Jesus of Nazareth (New York: Macmillan, 1931), 395.
  4. Zacharias, 89.
  5. C. S. Lewis, God in the Dock (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2000), 157, 158.
  6. The Hebrew Scriptures sometimes join Yahweh (Jehovah) with an additional word to emphasize God’s dealing with man. “Yahweh Elohim” and “Adonai Yahweh” are translated “Lord God,” and “Yahweh Sabaoth” is translated “Lord of hosts.” (C.I Scofield, The Scofield Reference Bible (New York: Oxford University Press, 1996), 6, 983.
  7. Ray C. Stedman, Adventuring Through the Bible (Grand Rapids, MI: Discovery House, 1997), 479.
  8. Ego eimi is the Greek equivalent of the Hebrew name Isaiah used to describe God in Isaiah 43:10, 11. Dr. James White notes, “The closest and most logical connection between John’s usage of ego eimi and the Old Testament is to be found in the Septuagint rendering of a particular Hebrew phrase, ani hu in the writings (primarily) of Isaiah. The Septuagint translates the Hebrew phrase ani hu as ego eimi in Isaiah 41:4, 43:10 and 46:4.” (http://www.aomin.org/EGO.html)
  9. Lewis, 157.
  10. Packer, 198.
  11. Why I am a Christian, Norman L. Geisler, Paul K. Hoffman, eds, “Why I Believe Jesus is the Son of God” (Grand Rapids, MI: Baker Books, 2001), 223. 11.
  12. Packer, 57.
  13. C.S. Lewis, Mere Christianity (San Francisco: HarperCollins, 1972), 51.
  14. John Piper, The Pleasures of God (Sisters, OR: Multnomah, 2000), 35.
  15. Christians believe that there is one God who exists in three distinct, equal Persons: the Father, the Son, and theHoly Spirit (trinity). No earthly analogy can adequately explain how one God can exist as three Persons. However, two scientific examples illustrate how one entity can exist in multiple forms. 1. Light exists as a duality, appearing in nature as both a wave and a particle. 2. The H20 molecule is one essence, yet exists as steam, water, and ice. The God of the Bible, however, is beyond our full comprehension, being infinite, eternal, immutable, omniscient, omnipresent, and omnipotent. 15.
  16. Lewis, God in the Dock, 80.
  17. Lewis, Mere Christianity, 52.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar