Sabtu, 28 Mei 2011

The Uniquest Book And Its Scriptures

Ungkapan seperti berikut ini terdengar berulang kali, layaknya piringan yang sudah tergores,
“Wah, Anda tidak membaca Alkitab, bukan?”
Kadangkala ungkapannya agak lain, “Lho, Alkitab hanyalah sebuah buku yang lain; Anda seharusnya membacanya . . . dsb.”
Ada mahasiswa yang merasa bangga karena Alkitabnya terletak pada rak buku di antara buku-bukunya yang lain, mungkin berdebu, tidak pernah dibaca, namun kenyataannya bahwa Alkitab itu ada di sana bersama dengan “buku-buku hebat” lainnya.

Lalu ada juga dosen yang menghina Alkitab di hadapan para mahasiswanya dan menertawakan gagasan untuk membacanya, apa lagi untuk menyimpannya di dalam perpustakaan.

Pertanyaan-pertanyaan dan pengamatan di atas sangat mengganggu pikiran kita ketika, sebagai seorang yang belum percaya, kita berusaha untuk menyanggah keyakinan bahwa Alkitab itu Firman Allah kepada manusia. Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa semuanya itu hanyalah ungkapan usang berdasarkan pandangan orang, baik pria maupun wanita, yang dipengaruhi oleh kecenderungan, prasangka atau keterbatasan pengetahuan mereka karena kurang membaca.

Alkitab seharusnya ada di tempat teratas pada rak buku, tanpa ada yang mendampinginya. Alkitab itu “unik.” Memang demikian! Gagasan-gagasan yang terangkum untuk mendefinisikan Alkitab hanya dengan satu kata “unik.”

Tentu dalam pikiran Webster terlintas gagasan “Kitab di atas segala kitab” itu ketika ia memformulasikan definisi kata “unique”: “1. One and only; single; sole. 2. different from all others; having no like or equal.” (1. Hanya satu-satunya; sendiri; tunggal. 2. berbeda dari semua yang lain; tidak ada yang sama atau setara).

Profesor M. Montiero-Williams, mantan dosen Sansekerta di Boden, yang menggunakan masa 42 tahun untuk mempelajari kitab-kitab Timur, ketika membandingkan semuanya itu dengan Alkitab berkata:

“Susunlah kitab-kitab itu, jika Saudara mau, pada sebelah kiri di atas meja belajar Saudara; tetapi letakkan Alkitab Saudara di sebelah kanan – sendiri, tanpa didampingi yang lain – dengan jarak yang lebar di antara keduanya. Karena, . . . ada jurang di antara Alkitab dengan yang disebut sebagai kitab-kitab suci dari Timur itu, dan jurang itu sungguh-sungguh memisahkan satu dari yang lain secara mutlak, tanpa dapat dipertemukan, dan untuk selamanya . . . suatu jurang pemisah yang demikian luas dan dalam sehingga tidak dapat dijembatani oleh ilmu pengetahuan agamawi yang manapun.”
  
Alkitab ( Bible / Bibel ) merupakan buku yang dapat dipercayai, oleh karena isinya yang terjamin keasliannya. Memang tak satu pun dari naskah Alkitab yang ditulis oleh para penulis aslinya yang masih utuh sampai sekarang. Semuanya telah hilang atau rusak dimakan waktu yang berabad-abad ( sejak jaman dalulu kala dari dahulu kala ).

Hal ini memang sering menjadi sasaran serangan orang-orang yang mempersoalkan keaslian Alkitab. Alkitab juga sering di serang atau di lecehkan karena terdapat kata-kata yang janggal ataupun kurang masuk akal ( bagi sebagian pembaca pemula ) dari tulisan yang terdapat pada terjemahan Alkitab. Namun, setelah kita membaca keseluruhan Alkitab maka kita dapat meyakini bahwa Alkitab yang ada pada kita sekarang ini terjamin keaslian isinya. Karena Alkitab telah disalin dan diterjemahkan dari naskah yang sama dengan aslinya.
Kalaupun ada perbedaan tulisan dari Alkitab terjemahan, maka itu adalah disebabkan gaya bahasa dari si penterjemah. Namun kalau kita baca secara keseluruhan, maka akan kita temui bahwa makna yang terkandung dari tulisan Alkitab tersebut akan selalu sama.
Perjanjian Lama ( Old Testaments ).
Kitab-kitab Perjanjian Lama yang asli, sebagian besar ditulis dalam bahasa Ibrani, sebagian kecil ditulis dalam bahasa Aram.
Kitab-kitab ini disalin atas papyrus ( irisan batang semacam tumbuhan ilalang yang diproses menjadi seperti kertas) atau perkamen ( kulit binatang yang dikerjakan dan diolah menjadi lembaran yang halus sekali), jika salinan ini sudah tua atau rusak, maka akan dibuat salinan yang baru, sedangkan yang telah tua atau rusak itu dimusnahkan.

Pekerjaan ini tentunya tidaklah mudah, karena saat itu belum ada mesin fotokopi seperti sekarang ini. Semuanya harus ditulis ulang dengan tangan. Dalam hal ini para penyalin kitab benar-benar cermat mengikuti pedoman yang telah ditentukan untuk menghindari kemungkinan kesalahan dalam penyalinan tersebut.

Metode penyalinan ulang yang telah digunakan selama berabad-abad ini, dari tahun 500-900 SM ( Sebelum Masehi ), adalah Metode Masorit.
Sistem yang dipakai para sarjana Ibrani ini adalah dengan menghitung secara teliti. Pertama-tama mereka harus menghitung semua huruf yang terdapat dalam satu halaman. Kemudian, setelah mereka selesai menyalin, mereka harus mencocokkan lagi jumlah huruf yang mereka salin.
Hal ini akan membuat mereka terhindar dari kemungkinan mengulang ataupun menghilangkan kata-kata atau baris kalimat. Kalau ternyata jumlah yang mereka hitung tidak cocok, mereka harus menghancurkan salinan yang telah mereka buat dengan susah payah itu dan memulai proses penyalinan yang baru lagi.

Metode ini membuat salinan menjadi selalu seperti aslinya , bahkan tidak merubah satu katapun , walau arti kata-kata seolah-olah janggal.

Namun bagaimana dengan naskah-naskah sebelum tahun 900 SM ( sebelum metode Masorit)
Pertanyaan semacam ini memang tidak akan terjawab dengan pasti sebelum ditemukannya naskah-naskah dari Laut Mati.
Pada suatu hari yang panas berdebu di tahun 1947, seorang pemuda Arab melemparkan batu ke salah satu di antara ratusan goa yang terdapat di sekitar Laut Mati. Anak itu kemudian terkejut, karena terdengar bunyi pecahnya suatu benda dalam goa tersebut. Ketika ia merangkak masuk ke dalam goa untuk menyelidiki, anak itu menemukan sebuah guci yang pecah beserta naskah-naskah kuno, termasuk di dalamnya kitab Yesaya.

Dan dengan ditemukannya naskah-naskah tersebut , bisa dibuktikan bahwa tidak ditemukannya perbedaan antara naskah-naskah yang ditemukan di sekitar Laut mati dengan naskah-naskah yang dikerjakan oleh sarjana Masorit.

Berdasarkan bukti-bukti yang menakjubkan ini, kita tentu dapat menjadi lebih yakin bahwa Perjanjian Lama yang telah begitu cermat diselidiki dan dibuktikan keasliannya, benar-benar adalah sumber yang berisi firman-firman Allah yang dapat dipercayai.

Perjanjian Baru ( New Testaments ).
Apa yang telah dinyatakan tentang Perjanjian Lama di atas berlaku juga untuk Perjanjian Baru. Kitab-kitab Perjanjian Baru juga terlindung dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama berabad-abad, meskipun kitab-kitab ini telah disalin ribuan kali dan tersebar di gereja-gereja purba.

Dua penemuan penting terjadi lagi beberapa tahun terakhir ini, yang semakin mendukung bukti-bukti otentik naskah Perjanjian Baru ( New Testaments ).

Pertama, Papyrus Perpustakaan Rylands yang berisi cuplikan Yohanes 18 yang bertanda tahun 125 sesudah Masehi.
Kedua, kumpulan Papylus Chester Beatty yang berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru dan bertanda tahun antara 200-275 sesudah Masehi.
Isi Alkitab yang terjamin keabsahannya ini melengkapi alasan kita untuk dapat mempercayai Alkitab.

Fakta / Keajaiban Pada Alkitab
Tulisan atau karangan manusia sering memperlihatkan ketidakselarasan dan kontadiksi. Buku-buku yang penulisnya lebih dari satu orang biasanya akan memuat banyak ketidaksesuaian dalam hal falsafah, fakta, gaya ataupun gagasannya.
Tidak jarang tulisan yang dibuat oleh satu orang pun akan memuat berbagai kontradiksi dalam hal maupun logika.
Namun orang-orang yang telah mengabadikan dirinya untuk menyelidiki Alkitab secara terus menerus, menemukan keselarasan dan konsistensi pengajaran yang terdapat dalam Alkitab.

Keselarasan isi Alkitab yang menakjubkan dalam Alkitab patut membuat kita percaya. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, Alkitab terus-menerus memberitakan satu hal, yakni Yesus Kristus sang Mesias ( Al Masih ) .

Perjanjian Lama memberitakan pengharapan akan kedatangan-Nya, dan Perjanjian Baru menyampaikan penggenapan dari semua pengharapan yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
Kalau saja Alkitab ditulis oleh satu orang dan dalam satu kurun waktu tertentu, bukan hal istimewa kalau isinya selaras dalam semua uraiannya.

Ditulis dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun.

Penulis pertama kitab-kitab Perjanjian Lama adalah Musa yang hidup pada sekitar tahun 1500 S.M. Sedangkan Yohanes adalah penulis terakhir bagian dari Kitab Perjanjian Baru (Injil Yohanes, surat-surat kiriman Yohanes dan surat Wahyu).

Ditulis dalam 40 generasi lebih.

Jika satu generasi diperhitungkan 40 tahun, maka paling kurang ada 40 generasi dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun itu.

Ditulis oleh lebih daripada 40 penulis dari setiap tataran kehidupan termasuk raja-raja, petani kecil, filsuf, nelayan, penyair, negarawan, cendekiawan, dsb.:
  1. Musa adalah seorang tokoh politik yang terlatih di pelbagai universitas di Mesir.
  2. Petrus adalah seorang nelayan.
  3. Amos adalah seorang gembala.
  4. Yosua memainkan peranan sebagai seorang jenderal militer.
  5. Nehemia adalah pembawa cawan minuman raja dalam masa pembuangan di Persia.
  6. Daniel adalah seorang perdana menteri.
  7. Lukas penulis Injil dan kitab Kisah Para Rasul itu adalah seorang dokter.
  8. Salomo penulis yang sangat berhikmat itu adalah seorang raja.
  9. Matius penulis Injil itu adalah seorang pemungut cukai sehingga gaya tulisannya demikian rinci.
  10. Paulus adalah seorang anggota Farisi. 
Demikianlah menyebutkan beberapa penulis sebagai contoh.

Ditulis di tempat yang berbeda-beda.

Bagian-bagian Alkitab itu tidak ditulis di satu tempat yang sama. Musa menulis sementara ia berada di padang belantara. Yeremia menulis kitabnya ketika ia berada dalam ruang tahanan. Daniel menulis kitabnya di dua tempat, di lereng perbukitan dan di istana. Paulus menulis surat-suratnya di balik dinding penjara, sementara lukas menulis Injil dan Kisah Para Rasul ketika sedang dalam perjalanan. Yohanes menulis Injil di Efesus dan surat-surat kirimannya serta kitab Wahyu ketika dalam pembuangannya di pulau Patmos. Penulis-penulis lainnya ada di tengah kancah peperangan.

Ditulis pada masa yang berbeda

Masa penulisan tiap kitab berbeda satu dari lainnya. Daud menulis pada masa peperangan. Sedangkan Salomo menulis dalam masa damai.

Ditulis dalam suasana yang berbeda

Kitab-kitab itupun ditulis dalam suasana yang berbeda-beda. Ada penulis yang menggoreskan penanya ketika ia ada di puncak sukacita yang dialaminya. Yang lain menulis dalam suasana yang penuh duka dan keputusasaan.

Ditulis di tiga benua

Wilayah penulisan kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab itu meliputi Asia, Afrika dan Eropah.

Ditulis dalam tiga bahasa

Ibrani adalah bahasa yang digunakan pada masa Perjanjian Lama. Dalam II Raja-raja 18:26-28 disebut sebagai “bahasa Yehuda” sementara dalam Yesaya 19:18 disebut “bahasa Kanaan.”

Bahasa Aram adalah “lingua franca” (bahasa pengantar) di kawasan Timur Dekat sampai dengan masa pemerintahan Iskandar Agung (abad ke-6 S.M. sampai dengan abad ke-4 M.) sehingga beberapa bagian kitab Daniel yang mengandung pesan yang ditujukan kepada bangsa non-Yahudi ditulis dalam bahasa Aram.

Bahasa Yunani adalah bahasa Perjanjian Baru, yang merupakan bahasa internasional (dipakai dalam wilayah dengan batas-batas Spanyol sampai dengan India Barat dan Jerman Selatan sampai dengan Afrika Utara) pada masa Yesus Kristus melawat dan tinggal di tengah dunia.

Memuat ratusan topik kontroversial.

Topik kontroversial adalah topik yang akan menimbulkan pelbagai pendapat yang menentangnya ketika topik itu disebut atau dibicarakan. Para penulis kitab-kitab dalam Alkitab berbicara tentang ratusan topik kontroversial yang disertai keselarasan dan kesinambungan dari Kejadian sampai dengan Wahyu. Ada satu kisah yang dibeberkan: “Penebusan manusia oleh Allah.”

Geisler dan Nix mengungkapkannya sebagai berikut: “Sorga yang Hilang dalam Kejadian menjadi Sorga yang Ditemukan Kembali dalam Wahyu. Sementara gerbang menuju pohon kehidupan itu ditutup dalam kitab Kejadian, gerbang itu dibuka kembali untuk selamanya dalam kitab Wahyu.”

F. F. Bruce menuliskan pengamatannya: “Bagian tubuh manusia yang manapun dapat diuraikan dengan tepat hanya dalam hubungan dengan seluruh tubuh. Dan bagian Alkitab yang manapun dapat dijelaskan dengan tepat dalam hubungan dengan Alkitab secara keseluruhan.”

Bruce menyimpulkan: “Pada pandangan pertama, Alkitab nampak sebagai kumpulan sastra – terutama kesusasteraan Yahudi. Jika kita meneliti lingkungan demi lingkungan di mana pelbagai dokumen Alkitab itu ditulis, kita temukan bahwa dokumen-dokumen itu ditulis dalam masa yang berbeda-beda meliputi kurun waktu hampir 1400 tahun. Para penulis itu berkarya di pelbagai negeri, dari Italia di sebelah barat sampai dengan Mesopotamia dan mungkin Persia di sebelah timur. Para penulis itu sendiri adalah kelompok yang memiliki kepelbagaian, mereka tidak hanya saling terpisah ratusan tahun dan ratusan mil, namun mereka menjadi bagian dari tataran kehidupan yang sangat berbeda. Dalam hubungan dengan pangkat, kita memiliki raja, gembala, tentara, pembuat undang-undang, nelayan, negarawan, bangsawan, imam dan nabi, ulama Yahudi pembuat tenda dan tabib non-Yahudi, belum lagi tokoh-tokoh lain yang tidak kita kenal selain karya tulis yang mereka tinggalkan bagi kita itu. Karya tulis mereka sendiri tergolong pada jenis kesusasteraan yang sangat bervariasi. Jenis tersebut meliputi sejarah, hukum (sipil, pidana, etika, ibadah, kebersihan), sastra keagamaan, uraian pengajaran, prosa lirik, perumpamaan dan kiasan, biografi, surat-menyurat pribadi, riwayat hidup dan catatan pribadi, selain jenis khusus Alkitabiah yang disebut nubuat dan wahyu.”

“Karena untuk semua orang yang memandang Alkitab tidak semata-mata sebagai suatu antologi; ada kesatuan yang mengikat seluruh bagian Alkitab itu menjadi satu. Suatu antologi dikumpulkan oleh seorang antolog, tetapi tidak ada seorang antolog pun yang telah mengumpulkan kitab-kitab itu menjadi Alkitab.”

Rangkuman kesinambungan Alkitab – perbandingan dengan Kitab-kitab Besar Dunia Barat.

Seorang yang mewakili Kitab-kitab Besar Dunia Barat datang ke rumah saya dalam rangka merekrut salesman untuk menjajakan seri buku yang mereka produksi. Ia membuka suatu bagan tentang seri Kitab-kitab Besar Dunia Barat. Ia pergunakan waktu lima menit untuk berbicara kepada kami tentang seri Kitab-kitab Besar Dunia Barat, dan kami menggunakan waktu satu setengah jam untuk memberitahukan kepadanya tentang Kitab Terbesar itu.

Saya menantangnya untuk memilih 10 saja di antara para penulis, semuanya dari lapisan masyarakat yang sama, satu generasi, satu tempat, satu masa, satu suasana, satu benua, satu bahasa dan hanya satu topik kontroversial (Alkitab berbicara tentang ratusan topik kontroversial yang memiliki keselarasan dan kecocokan).

Lalu saya bertanya kepadanya: “Apakah para penulis itu sefaham?”
Ia berhenti sejenak lalu menjawab, “Tidak!”
“Apa yang Saudara temukan?” saya menanyakan dengan nada tajam.
Ia segera menjawab, “Hal yang campur aduk.”

Dua hari kemudian ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus Kristus (yang menjadi tema Alkitab).

Mengapa terjadi seperti itu?
Sederhana sekali!
Siapa saja yang dengan tulus mencari kebenaran akan sekurang-kurangnya mempertimbangkan sebuah kitab yang memiliki persyaratan unik di atas.

Unik dalam Peredarannya & Unik dalam Penerjemahannya

Angka-angka ini tersedia dalam Encyclopaedia Britannica, Encyclopaedia Americana, One Thousand Wonderful Things About the Bible (Pickering), All About the Bible (Collett), Protestant Christian Evidences (B. Ramm) dan A General Introduction to the Bible (Geisler and Nix).

Penerbitan Alkitab

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : s.d. th. 1804 (Britain Bible Society)
Jumlah Alkitab : 409,000,000
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1928 (Gideons of America)
Jumlah Alkitab : 965,000
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (National Bible Society – Scotland)
Jumlah Alkitab : 88,070,068
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (Dublin Bible Society)
Jumlah Alkitab : 6,987,961
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (German Bible Society, 1927)
Jumlah Alkitab : 900,000
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1930
Jumlah Alkitab : 12,000,000
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : s.d. th. 1932
Jumlah Alkitab : 1,330,213,815
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1947
Jumlah Alkitab : 14,108,436
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1951
Jumlah Alkitab : 952,666
Jumlah Perjanjian Baru : 1,913,314
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 13,135,965

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1955
Jumlah Alkitab : 25,393,161
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : 1950 - 1960 (setiap tahun)
Jumlah Alkitab : 3,037,898
Jumlah Perjanjian Baru : 3,223,986
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 18,417,989

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1963
Jumlah Alkitab : 54,123,820
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1964 (American Bible Society)
Jumlah Alkitab : 1,665,559
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : Lain-lain
Jumlah Alkitab : 69,852,337
Jumlah Perjanjian Baru : 2,620,248
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 39,856,207

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1965
Jumlah Alkitab : 76,953,369
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1966
Jumlah Alkitab : 87,398,961
Jumlah Perjanjian Baru : --
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : --

Alkitab telah dibaca oleh lebih banyak orang dan diterbitkan dalam lebih banyak bahasa dibandingkan dengan kitab-kitab lain. Lebih banyak jumlah eksemplar Alkitab secara lengkap, kitab demi kitab dan bagian-bagian tertentu yang telah dicetak dibandingkan dengan kitab lain yang manapun sepanjang sejarah. Ada orang-orang yang akan mendebatnya dengan mengatakan bahwa dalam bulan atau tahun yang dikhususkan ada kitab tertentu yang terjual lebih banyak. Tetapi, secara keseluruhan, secara mutlak tidak ada kitab yang mencapai atau mulai menyamai peredaran Kitab Suci. Kitab utama yang dicetak untuk pertama kali adalah Vulgata dalam bahasa Latin. Kitab itu dicetak di percetakan Gutenberg.

Hy Pickering mengatakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu, agar Lembaga Alkitab British dan Manca Negara dapat memenuhi tuntutan kebutuhan akan Alkitab, maka lembaga tersebut harus menerbitkan “satu eksemplar setiap tiga detik dengan bekerja siang malam; 22 eksemplar setiap menit dengan bekerja siang malam; 1,369 eksemplar setiap jam dengan bekerja siang malam; 32,876 eksemplar setiap hari dalam satu tahun itu. Dan sungguh-sungguh menarik untuk diketahui bahwa jumlah Alkitab yang menakjubkan ini disebarkan ke pelbagai bagian dunia dalam 4,583 kotak dengan berat keseluruhan 490 ton

The Cambridge History of the Bible mencatat: “Tidak ada kitab lain yang tercatat telah mendekati peredaran seperti peredaran Alkitab yang demikian mantap.”
Memang benar komentar para kritikus yang berbunyi: “Hal ini tidak membuktikan bahwa Alkitab itu Firman Allah!” Namun fakta ini menunjukkan bahwa Alkitab itu unik.
Alkitab adalah salah satu dari kitab-kitab utama yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain (Septuaginta: terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang dikerjakan pada tahun 250 S.M.)
Alkitab telah diterjemahkan dan diterjemahkan lagi serta diterjemahkan dengan ungkapan-ungkapan yang secara gramatikal tidak terikat kepada teks aslinya, tidak ada kitab lain yang telah mendapat perlakuan seperti itu.
Encyclopedia Britannica mengatakan bahwa “pada tahun 1966 seluruh Alkitab telah ada . . . dalam 240 bahasa dan dialek . . . salah satu kitab atau lebih yang menjadi bagian Alkitab itu diterbitkan dalam 739 bahasa lain, sehingga jumlah penerbitannya ada dalam 1,280 bahasa.”

Ada 3,000 penerjemah Alkitab yang menerjemahkan Kitab Suci pada kurun waktu 1950-1960.

Berdasarkan fakta yang ada, Alkitab itu unik (“tidak ada duanya”) dalam hubungan dengan penerjemahannya

Bertahan terhadap masa.

Sebagai karya yang ditulis pada bahan yang dapat hancur, yang mengalami proses penyalinan berulang kali selama ratusan tahun sebelum mesin cetak dibuat oleh manusia, Alkitab tidak kehilangan gayanya, ketepatannya dan keberadaannya. Alkitab, jika dibandingkan dengan karya tulis kuno lainnya, mempunyai lebih banyak naskah yang berfungsi sebagai bukti daripada 10 karya tulis klasik lainnya dijadikan satu.

John Warwick Montgomery mengatakan bahwa “untuk menjadi orang yang bersikap skeptis terhadap teks kitab-kitab Perjanjian Baru yang telah dihasilkan berdasarkan temuan naskah-naskah kuno, berarti mengizinkan semua peninggalan klasik beralih ke dalam kegelapan, karena tidak ada dokumen kuno lain dari masa kuno yang mendapat pembuktian bibliografis seperti Perjanjian Baru.

Bernard Ramm memberikan ulasan tentang ketepatan dan jumlah naskah-naskah alkitabiah:
“Orang-orang Yahudi memeliharanya demikian berbeda dibandingkan dengan pemeliharaan naskah-naskah lain. Dengan massora (parva, magna dan finalis) mereka mengadakan penghitungan atas setiap huruf, suku kata, kata dan paragraf. Mereka mempunyai kelompok khusus pria di dalam budaya mereka yang mempunyai tugas satu-satunya memelihara dan menyalin dokumen-dokumen yang secara praktis dengan ketepatan yang sempurna – para ahli kitab, ahli hukum, massoret (penulis yang menyimpan catatan-catatan penelitian dan penjelasan tentang teks Ibrani Perjanjian Lama yang disebut Massora).
Siapakah yang pernah menghitung huruf-huruf, suku kata dan kata-kata Plato atau Aristoteles? Cicero atau Seneca?”

John Lea dalam bukunya berjudul The Greatest Book in the World (Kitab Teragung di Dunia) membandingkan Alkitab dengan karya-karya Shakespeare:
"Pada suatu artikel yang termuat dalam North American Review, seorang penulis mengadakan suatu perbandingan yang menarik antara karya-karya Shakespeare dengan Kitab Suci, Perbandingan ini menunjukkan bahwa kepada naskah-naskah alkitabiah harus diberikan perhatian yang lebih besar daripada kepada tulisan-tulisan lain. Bahkan ketika ada kesempatan yang lebih besar untuk memelihara teks yang benar dengan cara menyimpan naskah-naskah cetak daripada ketika semua naskah masih harus ditulis tangan. Ia berkata:
“’Nampaknya ganjil bahwa naskah Shakespeare, yang ada selama kurang dari dua ratus delapan tahun, demikian tidak pasti dan rusak dibandingkan dengan naskah-naskah Perjanjian Baru, yang sekarang berusia lebih dari delapan belas abad, yang selama hampir lima belas abad ada hanya dalam bentuk naskah. . . . Mungkin dengan perkecualian dua belas atau dua puluh saja, sejauh ini teks setiap ayat Perjanjian Baru dapat dikatakan tidak diperdebatkan lagi berdasarkan persetujuan umum para cendekiawan, sehingga perbedaan yang ada tentang suatu bagian dari teks berhubungan dengan penafsiran kata bukan berhubungan dengan keraguan terhadap kata-kata itu sendiri. Namun, pada setiap bagian dari ketigapuluh tujuh drama karya Shakespeare itu mungkin terdapat ratusan variasi teks yang masih tetap diperdebatkan, sebagian besar di antaranya sangat mempengaruhi arti kalimat-kalimat yang ada di dalamnya. ”

Bertahan terhadap usaha penghancuran

Alkitab telah bertahan dalam menghadapi serangan-serangan musuhnya yang demikian ganas, keganasan yang belum pernah dialami oleh buku lain. Banyak orang yang telah berusaha untuk membakarnya, melarang pengedarannya, dan “menyatakannya sebagai kejahatan dari sejak zaman kekaisaran Romawi sampai dengan pemerintahan negara-negara moderen yang dikuasai oleh orang-orang Komunis.”

Sidney Collett dalam bukunya berjudul All About the Bible (Apa Alkitab Itu Sebenarnya) mengatakan, “Voltaire, orang kafir berkebangsaan Perancis terkenal yang meninggal pada tahun 1778 itu, pernah mengatakan bahwa dalam masa seratus tahun dari sejak masa hidupnya, Kekristenan akan tersapu habis dan berubah menjadi sekadar sejarah.
Tetapi apakah yang telah terjadi?
Voltaire telah berubah, kini hanya sebagai sejarah, sementara peredaran Alkitab terus bertambah luas sampai hampir ke seluruh bagian dunia ini, dengan membawa berkat ke tempat-tempat yang menjadi tujuan Alkitab itu berkelana. Misalnya, Katedral Inggris di Zanzibar dibangun di atas tanah yang semula adalah tempat Pasar Perbudakan Kuno, dan Meja Perjamuan ada di tempat tiang untuk mengikat budak yang harus didera! Dunia penuh dengan hal-hal seperti itu. . . . Seperti yang dengan tepat dikatakan oleh seseorang, ‘Mungkin juga usaha untuk menghentikan peredaran Alkitab itu ibarat kita menempelkan pundak kita pada roda matahari yang menyala-nyala dan berusaha untuk menghentikan peredarannya yang membara itu.’ ”

Tentang kesombongan Voltaire atas penghapusan Kekristenan dan Alkitab dalam masa 100 tahun, Geisler dan Nix menunjukkan bahwa “hanya dalam waktu lima puluh tahun sesudah kematiannya Lembaga Alkitab Jenewa mempergunakan percetakan dan rumahnya untuk menerbitkan bertumpuk-tumpuk Alkitab.” SINDIRAN HISTORIS YANG LUAR BIASA!

Dalam tahun 303 M., Diocletian mengeluarkan ketetapan (Cambridge History of the Bible, Cambridge University Press, 1963) untuk melarang orang-orang Kristen melaksanakan ibadah mereka serta menghancurkan Kitab Suci mereka: “. . . surat kerajaan diumumkan di mana-mana, yang isinya adalah memerintahkan agar gedung-gedung gereja dihancurkan sama sekali dan Kitab Suci dibakar, serta mencanangkan bahwa mereka yang mempunyai kedudukan tinggi akan kehilangan semua hak kewarganegaraann mereka, sementara itu mereka yang tinggal di rumah, apabila mereka bersikeras untuk mempertahankan pengakuan iman Kristen mereka, maka mereka tidak akan diberi kebebasan lagi.”

Ironi historik surat perintah untuk menghancurkan Alkitab tersebut, menurut catatan Eusebius, adalah bahwa surat perintah yang dikeluarkan 25 tahun kemudian oleh Constantine, kaisar penerus Diocletian, menyatakan agar 50 eksemplar Kitab Suci disiapkan dengan biaya dari pemerintah.

Alkitab itu unik dalam ketahanannya. Hal ini tidak membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Namun fakta ini membuktikan bahwa Alkitab saja yang mampu bertahan di antara kitab-kitab lain. Siapapun yang sedang mencari kebenaran harus mempertimbangkan sebuah kitab yang mempunyai syarat-syarat unik di atas.

Bertahan terhadap kritikan

H. L. Hastings, sebagaimana dikutip oleh John W. Lea, memberikan ilustrasi demikian kuat tentang cara unik Alkitab untuk bertahan terhadap pelbagai serangan yang dilontarkan oleh kekafiran serta ketidakpercayaan:
“Orang-orang kafir selama seribu delapan ratus tahun telah berusaha untuk membantah kebenaran dan menggulingkan kitab ini, dan saat ini kitab ini masih berdiri tegak seperti batu karang. Peredarannya bertambah luas, dan saat ini lebih disayang dan lebih dihargai serta dibaca oleh lebih banyak orang dibanding pada masa-masa yang silam. Orang-orang kafir, dengan segala macam serangan mereka, telah menciptakan kesan tentang kitab ini seperti usaha seseorang yang berusaha menghancurkan Piramid-piramid di Mesir itu dengan sebuah palu untuk paku payung. Ketika raja Prancis menyarankan rencana penganiayaan terhadap orang-orang Kristen yang ada di kawasan kerajaannya, seorang negarawan dan pejuang tua berkata kepadanya, ‘Baginda, Gereja Allah adalah ibarat landasan besi yang telah menyebabkan banyak palu godam menjadi usang.’ Oleh karena itu, palu godam orang-orang kafir tak henti-hentinya menghantam kitab ini selama berabad-abad, namun ketika palu godam itu menjadi usang, landasan besi itu sendiri masih tetap berdiri tegar di tempatnya. Jika kitab ini bukan kitab dari Allah, maka manusia telah berhasil menghancurkannya sejak lama. Para maharaja dan paus, para raja dan imam-imam, para pangeran dan para penguasa telah berusaha sekeras tenaga untuk menghancurkannya; mereka telah sirna dan kitab itu masih tetap bugar.”

Bernard Ramm menambahkan: “Lebih dari seribu kali, lonceng kematian Alkitab telah dibunyikan, arak-arakan untuk pemakaman telah dibentuk, prasasti telah terukir pada batu nisan dan pengantar penguburan jenazah telah dibacakan. Namun, bagaimana pun juga jenazahnya tidak pernah terletak di dalam peti mati.

“Tidak ada kitab lain mengalami pukulan, pemotongan, penyaringan, penelitian dan penghinaan seperti Alkitab. Kitab apakah yang berkaitan dengan filsafat atau agama atau psikologi atau sastra kuno maupun moderen yang pernah mengalami serangan sehebat serangan terhadap Alkitab?
Dengan racun dan ketidakpercayaan seperti itu ?
Dengan ketelitian dan pengetahuan yang demikian luas ?
Atas setiap bab, kalimat dan prinsip ?"

“Alkitab masih disayang oleh jutaan orang, dibaca oleh jutaan orang, dan diselidiki oleh jutaan orang.”

Ungkapan yang biasa terdengar adalah “hasil-hasil yang pasti dari higher criticism (penelitian yang dilakukan atas Alkitab dengan tujuan mengokohkan fakta-fakta yang berhubungan dengan kepengarangan, tahun penulisan, juga penyediaan dasar untuk usaha penafsiran yang tepat),” namun sekarang para peneliti yang melakukan usaha tersebut telah berguguran di tepi jalur sejarah.
Ambillah sebagai contoh, “Hipotesa Dokumenter.” Salah satu alasan dasar untuk pengembangan cara penelitiannya, selain pemakaian nama yang berbeda untuk menyebut Allah dalam kitab Kejadian, adalah bahwa Pentateukh (sebutan untuk kelima kitab pertama Perjanjian Lama) tidak mungkin telah ditulis oleh Musa seorang diri karena “hasil-hasil yang pasti dari higher criticism membuktikan bahwa tulis-menulis belum dikenal pada zaman Musa atau, andaikan ada pada zaman itu, kegiatan tulis-menulis itu dipakai sangat jarang. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Pentateukh itu adalah hasil karya tulis orang yang hidup jauh sesudah zaman Musa. Pikiran para peneliti itu terus berkembang: Penulis-penulis J, E, P, D adalah yang menyusun naskah-naskah itu menjadi satu. Para kritikus itu bahkan sampai pada pemikiran demikian jauh sehingga mereka membagi-bagi satu ayat kepada tiga pengarang. Mereka membentuk pelbagai struktur penelitian yang sangat besar. Untuk mempelajari lebih dalam Hipotesa Dokumenter [More EvidenceThat Demands a Verdict (terbitan Here’s Life Publishers, Inc.)]

Namun kemudian, beberapa orang peneliti menemukan “batu peninggalan hitam.” Prasasti yang tertera padanya berbentuk seperti mata kapak, memuat hukum Hammurabi yang demikian rinci.
Apakah prasasti ini peninggalan dari zaman sesudah Musa ?
Tidak!
Batu prasasti itu dari zaman pra-Musa; tidak hanya demikian, tulisan itu mendahului karya tulis Musa paling kurang tiga abad. Yang menakjubkan adalah, batu prasasti itu diperkirakan berusia lebih tua daripada Musa, yang diduga sebagai orang primitif yang belum mempunyai abjad.

Sindiran historis yang luar biasa! Hipotesa Dokumenter masih bertahan kuat, namun banyak di antara dasar aslinya (“hasil-hasil pasti higher criticism”) telah terkikis dan terbukti salah.

“Hasil-hasil pasti higher criticism” mengatakan bahwa pada zaman Abraham tidak ada bangsa yang disebut Het, karena tidak ada catatan tentang bangsa itu selain dalam Perjanjian Lama. Tentu itu hanya sebuah mitos. Wah, nampaknya salah lagi. Sebagai hasil penemuan usaha arkeologis, sekarang tersedia ratusan referensi yang secara serempak menyatakan bahwa kebudayaan Het dikenal keberadaannya selama 1200 tahun. Keterangan lebih lanjut dapat dibaca dalam buku More Evidence That Demands a Verdict oleh pengarang yang sama (Josh McDowell).

Earl Radmacher, presiden Western Conservative Baptist Seminary, mengutip Nelson Glueck (diucapkan Glek), yang pernah menjadi presiden Jewish Theological Seminary pada Hebrew Union College di Cincinnati dan salah seorang dari tiga arkeolog terbesar, ketika berkata: “Saya mendengarkannya (Glueck) ketika ia berada di Temple Emmanuel di Dallas, dan mukanya berubah agak kemerah-merahan sambil berkata, ‘Saya telah dituduh bahwa saya mengajarkan pewahyuan Kitab Suci secara lisan dan mutlak. Saya ingin agar tidak ada orang yang tidak memahami bahwa saya tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Apa yang pernah saya katakan adalah bahwa dalam semua penelitian arkeologis yang saya lakukan saya tidak pernah menemukan bahwa satupun dari benda-benda peninggalan purbakala itu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Firman Allah.’ ”

Robert Dick Wilson, orang yang dapat berbicara dengan lancar dalam lebih dari 45 bahasa dan logat tertentu, sesudah mengadakan penelitian atas Perjanjian Lama sepanjang hidupnya, menyimpulkan:
“Dapat saya tambahkan bahwa sebagai hasil penelitian saya selama empat puluh lima tahun atas Alkitab telah senantiasa menuntun saya kepada iman yang lebih kokoh tentang kenyataan bahwa di dalam Perjanjian Lama kita miliki catatan historis yang benar tentang sejarah bangsa Israel.”

Alkitab itu unik dalam menghadapi kritikan-kritikan yang dilontarkan kepadanya. Tidak dijumpai adanya kitab seperti itu di dalam semua khazanah sastra. Orang yang sedang mencari kebenaran pasti akan mempertimbangkan sebuah kitab yang memiliki persyaratan-persyaratan di atas.

Unik dalam Pengajarannya

Nubuat

Wilbur Smith, yang memiliki perpustakaan pribadi dengan kapasitas 25 ribu jilid buku, menyimpulkan bahwa “apapun yang dipikirkan oleh seseorang tentang otoritas dan pesan yang disajikan di dalam kitab yang kita namai Alkitab, ada persetujuan yang diterima di seluruh muka bumi bahwa dalam banyak hal, tidak hanya dalam satu hal, Alkitab adalah sebuah jilid kitab yang paling menarik yang pernah dihasilkan umat manusia dalam kurun waktu masa perkembangan karya sastra sekitar lima ribu tahun.
“Ini adalah satu-satunya jilid kitab yang pernah dihasilkan manusia, atau sekelompok manusia, yang di dalamnya ditemukan sekumpulan nubuat yang sangat besar yang berhubungan dengan bangsa-bangsa secara individu, tentang Israel, tentang semua bangsa di dunia, tentang kota-kota tertentu, dan tentang kedatangan Pribadi yang akan menjadi Mesias. Dunia kuno mempunyai banyak alat untuk menetapkan masa depan, yang dikenal sebagai ilmu ramal, namun tidak terdapat di dalam keseluruhan literatur Yunani dan Latin, walaupun mereka menggunakan kata nabi dan nubuat, kita tidak dapat menemukan nubuat khusus yang secara nyata berhubungan dengan peristiwa besar bersejarah yang akan terjadi dengan tenggang waktu lama, ataupun nubuatan tentang seorang Juruselamat yang akan bangkit di tengah umat manusia. . . .”

“Agama Islam tidak dapat menunjuk kepada suatu nubuat tentang kedatangan Muhammad yang diungkapkan ratusan tahun sebelum kelahirannya. Juga tidak ada pendiri agama apapun di negeri ini secara tepat mengidentifikasi teks kuno yang secara khusus meramalkan kehadiran mereka.”

Sejarah

Dari I Samuel sampai dengan II Tawarikh ditemukan sejarah bangsa Israel, yang meliputi kurun waktu sekitar lima abad. The Cambridge Ancient History, (Jilid 1, h. 222) mengatakan: “Memang bangsa Israel menyatakan kebolehannya dalam hubungan dengan penyusunan sejarah,dan Perjanjian Lama memuat dokumen penulisan sejarah tertua.”

Ahli arkeologi terkenal , Profesor Albright,mengawali karya tulis klasiknya yang berjudul The Biblical Period (Periode Waktu Alkitab) sebagai berikut:
“Tradisi bangsa Ibrani mengungguli tradisi bangsa-bangsa lain dalam hal memberikan gambaran yang jelas tentang asal-usul suku dan keluarga yang menjadi bagiannya. Di Mesir dan Babilonia, di Asyur dan Phoenicia, di Yunani dan Roma, kita tidak akan dapat menemukan sesuatu yang sebanding dengan itu. Tidak ada hal seperti tradisi itu di kalangan bangsa-bangsa Germania (bangsa-bangsa yang tersebar di daratan Eropa). Demikian juga bangsa India maupun China tidak dapat menghasilkan sesuatu yang serupa itu, karena kenangan historis tertua mereka berupa peninggalan-peninggalan tradisi keturunan raja-raja yang sudah tidak terpelihara kebenarannya, tanpa ada jejak tentang gembala atau petani kecil yang melatar belakangi anak dewa atau raja yang menjadi awal dari catatan tentang mereka. Demikian juga di dalam tulisan-tulisan tertua sejarah bangsa India (Purana) atau di dalam sejarah Yunani tertua tidak ditemukan tanda tentang kenyataan bahwa kedua bangsa itu Indo-Aryan dan Yunani adalah pada mulanya bangsa pengembara yang kemudian beralih ke negeri mereka itu dari utara. Bangsa Asyur, secara pasti, hanya ingat dengan samar-samar bahwa penguasa-penguasa awal mereka, dengan nama-nama yang masih tetap mereka ingat namun tanpa dapat menyebutkan secara rinci perbuatan mereka, adalah orang-orang yang tinggal di tenda-tenda, namun dari mana asal mereka sudah lama terlupakan.

“Daftar Bangsa-bangsa” dalam Kejadian 10 adalah suatu catatan sejarah dengan ketepatan yang menakjubkan. Menurut Albright:“Catatan ini secara mutlak sangat menonjol di dalam literatur kuno tanpa ada yang menyamai sedikit pun bahkan di antara orang-orang Yunani. . . . ‘Daftar Bangsa-bangsa’ tetap merupakan dokumen yang sangat tepat. . . . (Itu) menunjukkan pemahaman yang sangat modern tentang situasi etnik dan linguistik di dunia modern, walaupun demikian rumit, sehingga para cendekiawan gagal untuk memperoleh kesan yang menakjubkan tentang pengetahuan sang penulis dalam hubungan dengan topik tersebut.”

Pribadi-pribadi

Lewis S. Chafer, pendiri dan mantan presiden Dallas Theological Seminary, mengungkapkan sebagai berikut: “Alkitab bukanlah sejenis kitab yang ditulis manusia seandainya ia dapat menulisnya, atau yang dapat ditulisnya seandainya ia mau menulisnya.” Alkitab menangani dosa tokoh-tokoh yang termuat di dalamnya dengan sangat terbuka. Bacalah buku-buku biografi modern, dan perhatikan bagaimana mereka berusaha menutupi,melupakan atau mengabaikan bagian yang kelam dari kehidupan manusia. Ambillah contoh pakar-pakar sastra besar, pada umumnya mereka dilukiskan sebagai orang-orang suci. Alkitab tidak melakukan hal seperti itu. Alkitab mengungkapkan segala sesuatu sesuai dengan apa adanya.
Dosa-dosa bangsa Israel dikecam – Ulangan 9:24.
Dosa-dosa cikal-bakal bangsa Israel – Kejadian 12:11-13; 49:5-7
Para penginjil melukiskan kesalahan-kesalahan mereka sendiri dan kesalahan-kesalahan para rasul – Matius 8:10-26; 26:31-56; Markus 6:52; 8:18; Lukas 8:24-25; 9:40-45;Yohanes 10:6;16:32.
Kekacauan di gereja – 1 Korintus 1:11; 15:12; 2 Korintus 2:4; dsb.
Banyak orang akan berkata,
“Mengapa mereka harus menuliskan dalam pasal itu tentang Daud dan Betsyeba?”
Memang, Alkitab mempunyai kebiasaan untuk bertutur sesuai dengan apa adanya.

Unik Pengaruhnya Atas Kepustakaan di Sekitarnya

Cleland B. McAfee menulis di dalam The Greatest English Classic (Buku Klasik Inggris Terbesar): “Jika setiap Alkitab di dalam kota besar dihancurkan, semua bagian penting Kitab itu dapat ditulis kembali dengan menggunakan kutipan-kutipan yang tersedia pada rak-rak perpustakaan umum di kota itu. Banyak karya, meliputi hampir semua penulis sastra terkenal, yang dipersembahkan secara khusus untuk menunjukkan betapa besar pengaruh Alkitab terhadap mereka.”

Sejarawan Philip Schaff (The Person of Christ, American Tract Society, 1913) melukiskan dengan jelas keunikan Alkitab bersama dengan Juruselamat-nya: Yesus dari Nazaret ini, tanpa uang dan senjata, menaklukkan jutaan orang lebih banyak dibandingkan Iskandar Agung, Kaisar, Muhammad, dan Napoleon; tanpa ilmu pengetahuan dan pendidikan, Ia memberikan pengertian tentang banyak hal baik yang manusiawi maupun yang Ilahi jika dibandingkan dengan usaha bersama semua filsuf dan cendekiawan; tanpa kefasihan yang diperoleh dari pelbagai sekolah, Ia mengungkapkan kata-kata kehidupan yang tiada taranya, baik sebelum ataupun sesudahnya, dan memberikan dampak di luar jangkauan orator atau pujangga; tanpa menuliskan sebuah kalimat pun, Ia menggerakkan lebih banyak pena untuk berkarya, dan menyediakan tema demi terciptanya lebih banyak khotbah, orasi,diskusi, berjilid-jilid buku berhikmat, karya seni, dan lagu-lagu pujian jika dibandingkan dengan seluruh tokoh besar baik dari zaman kuno maupun zaman modern.”

Bernard Ramm menambahkan: “Ada demikian banyak hal yang sangat rumit dalam penelitian biografis yang tidak tertandingi dalam cabang ilmu atau bagian lain dari pengetahuan manusiawi. Dari Bapak-bapak Gereja zaman Rasul-rasul dari tahun 95 M. sampai dengan zaman modern terbentuklah aliran sastra agung yang diinspirasi oleh Alkitab – kamus-kamus Alkitab, ensiklopedia Alkitab, leksikon Alkitab, atlas Alkitab, dan geografi Alkitab. Ini semua mungkin diterima sebagai suatu penggerak. Lalu secara acak, kita dapat menyebutkan bibliografi yang demikian besar jumlahnya, yang berhubungan dengan teologi, pendidikan agama, ilmu tentang puji-pujian,misi, bahasa alkitabiah, sejarah gereja, biografi religius, karya-karya ibadah, tafsiran, filsafat agama, bukti-bukti, apologetika, dan sebagainya. Nampaknya tak akan habis-habis jumlahnya.”

Kenneth Scott Latourette, mantan sejarawan Yale, berkata: “Inilah bukti keunggulan-Nya, tentang pengaruh yang dihasilkan-Nya atas sejarah dan agaknya, tentang rahasia yang membingungkan mengenai keberadaan-Nya karena tidak ada seorang lain pun yang pernah hidup di planet ini telah menyebabkan dihasilkannya literatur yang demikian banyak di antara demikian banyak bangsa dan bahasa, dan bahwa, tanpa pernah surut sedikit pun, samudera literatur itu terus meluap.”

Alkitab itu unik, berbeda dari kitab-kitab yang lain; tidak ada yang sama atau setara.
“Jika Anda adalah seorang cendekiawan, Anda akan membaca sebuah kitab yang telah menarik lebih banyak perhatian dibandingkan kitab-kitab lain, jika Anda sedang berupaya untuk mencari kebenaran.”

Note :
Alkitab adalah kitab agamawi pertama yang dibawa ke angkasa luar (dalam bentuk film mikro). Alkitab adalah kitab pertama yang dibaca yang menguraikan tentang asal mula bumi (para antariksawan membaca kitab Kejadian 1:1 – “Pada mulanya Allah . . .”).
Pikirkan, Voltaire mengatakan bahwa Alkitab akan hilang dari peredarannya pada tahun 1850.
Alkitab adalah juga salah satu dari antara kitab-kitab termahal (jika bukan yang termahal). Alkitab Vulgata berbahasa Latin dari Guttenberg terjual mencapai lebih dari $100,000. Orang-orang Rusia menjual Kodeks Sinaiticus (Alkitab dalam salah satu bentuk awalnya) ke negara Inggris seharga $510,000.

Dan pada akhirnya, telegram terpanjang yang dikenal dunia adalah Alkitab Perjanjian Baru Revised Version (Versi yang Diperbaiki), dikirim dari New York ke Chicago.

Naskah-naskah Alkitab

Teks Masorit.
Teks Alkitab yang kita miliki kerap kali adalah Tulisan-tulisan tangan  (- Tulisan tangan salinan Alkitab), terjemahan-terjemahan yang merupakan  sebuah hasil proses sastera selama ratusan tahun. Teks asli Alkitab sudah hilang. Teks Alkitab yang asli pada umumnya diwariskan oleh para pengarang kepada kita tanpa perubahan yang hakiki.
Teks Alkitab dari PERJANJIAN LAMA. Saksi yang paling penting mengenai Teks Alkitab Ibrani adalah teks Masorit. Teks itu merupakan sebuah hasil karya para Masorit, yaitu para pengkritik naskah Yahudi (yang bekerja antara tahun 750-1000 sesudah masehi.). Mereka adalah orang-orang yang menyanggupkan diri untuk memikul tugas untuk menetapkan naskah Alkitab menurut orthografinya ( penentuan konsonan-konsonan dan huruf hidup yang ditulis dalam KITAB SUCI), menurut ungkapannya dan bagaimana perkembangannya sampai pada ketentuan yang terakhir. Penelitian yang ketat itu mereka lakukan dengan maksud untuk melindungi KITAB SUCI, agar tidak ada perubahan yang tersisip di dalamnya. Sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa teks Alkitab Ibrani mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis konsonan-konsonan sejak tahun 100 sesudah masehi. Teks Alkitab pada saat itu pada garis besarnya dapat dikatakan identik dengan teks Masorit. Tetapi juga kelihatan jelas, bahwa di banyak tempat digunakan sebuah teks Ibrani oleh para - Septuaginta, yang menyimpang cukup jauh dari Naskah Masorit, bukan hanya dalam soal-soal kecil, melainkan juga dalam pengaturan dan tambahan-tambahannya. Cetakan ketiga dari Biblica Hebraica, yang diterbitkan Kittel (1937) dan teks yang sedang diterbitkan, Biblica Hebraica Stuttgartensia adalah edisi teks Masorit yang paling baik. 

Teks Alkitab dari PERJANJIAN BARU.  Jumlah tulisan tangan yang banyak sekali mengenai Alkitab, diatur menurut kelompok-kelompok tertentu. Tiap kelompok mempunyai coraknya sendiri. Orang tahu akan adanya kelompok Alexandria (B), kelompok Eropa (D), kelompok Antiokhia (A, atau disebut juga "koine"). Sejak abad 19 telah diterima secara merata, bahwa kelompok B itu paling dekat dengan teks aslinya. Tetapi kelompok A lebih dipakai dalam tradisi tulisan di waktu kemudian. Kelompok A menjadi bentuk percontohan pada Teks Alkitab yang disahkan kembali di waktu berikut, bahkan menjadi dasar untuk penerbitan-penerbitan yang pertama. 

Teks  Septuaginta (LXX).
 Terjemahan tertua dan terpenting dari PERJANJIAN LAMA ke dalam bahasa Yunani. Nama Septuaginta berasal dari legenda yang diwariskan dalam  surat Aristeas. Di dalam legenda itu disebutkan bahwa 72 orang Yahudi menyelesaikan terjemahannya selama 72 hari. 
 
Asal Dan Sejarah
Septuaginta dibuat di  Aleksandria untuk memenuhi kebutuhan  orang  Yahudi diaspora (kelompok-kelompok kecil yang disingkirkan) yang berbicara bahasa Yunani. Semula diterjemahkanlah - Pentateukh (5 kitab Musa, pertengahan abad 3 sebelum masehi.), kemudian secara lambat laun diterjemahkan pula Kitab-kitab PERJANJIAN LAMA lainnya (sampai menjelang tahun 100 sebelum masehi.). Terjemahan Septuaginta segera digunakan menjadi Alkitab resmi dalam Yudaisme helenis di dalam sinagoga-sinagoga. Para penulis PERJANJIAN BARU lebih suka mengutip PERJANJIAN LAMA dari naskah terjemahan itu. Setelah hancurnya Yerusalem, kewibawaan Septuaginta diserang oleh orang-orang Yahudi sendiri. Padahal sampai saat itu Septuaginta tidak pernah mengalami serangan demikian. Di dalam perdebatannya dengan orang-orang Kristen, orang Yahudi meragukan kesetiaan penterjemahan naskah Ibrani oleh kelompok Septuaginta (misalnya: Kitab Yesaya 7:14; dan Kitab Mazmur 95:10).  Kecuali itu isi daripada Septuaginta tidak cocok dengan  Kanon (kumpulan kitab-kitab) seperti yang di tetapkan oleh Yudaisme (90/95 sesudah masehi). Akhirnya naskah Septuaginta tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah Rabi Akiba. Dari situlah timbul terjemahan baru bagi orang-orang Yahudi helenis dalam abad kedua (Akwila, Theodotion, Syamkhus;  Terjemahan-terjemahan Alkitab I.1. b-d). 

Mengenai sejarah Septuaginta di dalam gereja Kristen sebelum Origenes sedikitlah yang diketahui.  Sekitar tahun 200 naskah Septuaginta sudah begitu rusak, sehingga Origenes berusaha meniadakan perbedaan yang telah terjadi dengan membuat Heksapla ( naskah Ibrani dan terjemahan-terjemahan Yunani dalam 6 kolom yang sejajar) dan memulihkan kembali naskah-naskah aslinya.  Heksapla dan usaha di waktu berikut untuk memperbaiki naskah menimbulkan adanya resensi-resensi dan bentuk-bentuk naskah yang lain lagi. 

Nilai Terjemahan
Septuaginta itu tidak membentuk sebuah kesatuan, sehingga nilai  terjemahan tiap kesatuan itu berbeda jauh; Misalnya: Pentateukh (5 kitab Musa)  diterjemahkan dengan baik sekali. Kitab Yesaya dan para Nabi Kecil diterjemahkan secara jelek sekali. Kitab Dan lebih baik dikatakan sebuah saduran bebas daripada sebuah terjemahan.  Tetapi terjemahan Septuaginta masih tetap tidak dirubah-rubah sejak adanya usaha mempersatukan  naskah-naskah Alkitab pada abad pertama/kedua.  Dari segi pandangan lain Septuaginta adalah hasil usaha Kristen untuk mempersatukan naskah karena adanya maksud liturgis.  Penemuan Kitab-kitab Suci di  Kumran menyatakan, bahwa pada abad terakhir sebelum masehi. ada sebuah bentuk naskah Ibrani yang beredar dan dekat sekali bentuknya dengan naskah Septuaginta.  
Setiap perbedaan naskah harus diperiksa sendiri-sendiri; Misalnya: di dalam memberi huruf vokal pada nama-nama pribadi, kelihatan, bahwa Septuaginta lebih baik daripada naskah Masorit yang kita miliki ( yang lebih muda). 

Tulisan Tangan Dari Kumran.
Di dalam musim semi 1947 ada gembala-gembala yang menemukan "gulungan" yang pertama. Tempatnya di padang gurun Yehuda, 3 km di sebelah utara en Feskha dan dekat dengan puing-puing sebuah bangunan besar di sebelah utara pantai Laut Mati. Orang-orang Arab menamakan puing-puing itu Khirbet Kumran. Di kemudian waktu naskah-naskah lain ditemukan di wadi Murrabba'at sejauh 18 km barat-daya dari Khirbat Kumran dan ada tambahan penemuan lagi di Khirbet Mird. Setelah gurun itu diselidiki secara sistematis ditemukanlah naskah-naskah ( kebanyakan berbentuk fragmen-fragmen) yang berada di dalam 11 gua. Publikasi dari keseluruhan bahan itu masih akan makan waktu bertahun-tahun. 

Penyelidikan arkeologis (1952-1956) telah memastikan, bahwa di Khirbet Kumran ditemukan pusat satu-satunya "perserikatan Kumran" ( oleh kebanyakan para penyelidik, perserikatan itu disamakan dengan gerakan  Esseni). Sebuah ekspedisi Israel. menemukan naskah-naskah Alkitab maupun profan di dalam (wadi) Nahal Heber dan di  Masada, sebuah benteng di lereng timur pegunungan Yehuda di dekat Laut Mati, tidak jauh dari En-gedi. Terletak pada suatu dataran tinggi padas yang curam. Diperluas secara megah oleh Herodes dan menjadi tempat pertahanan terakhir dalam perang Yahudi melawan Roma (66-73 sesudah Masehi). Di situ antara lain ditemukan surat-surat dari Bar Kokhba pada saat perang kemerdekaan Yahudi yang kedua (132-135;  Papiri, yaitu tanaman pandan-air yang tersebar luas di zaman Mesir kuno (Kitab Keluaran 2:3) dan kini sudah jarang lagi tumbuh. Tanaman itu dipakai untuk anyaman (Kitab Keluaran 2:3), untuk pembuatan perahu (Kitab Yesaya 18:2) dan terutama sebagai  bahan untuk menulis ( kata "paper" = kertas). Dari batang yang ditaruh dalam bentuk tumpang-silang, orang mengepres dan membuatnya halus, sehingga timbullah lembaran-lembaran yang dilem menjadi gulungan.). 
 
Tulisan Alkitab
Tulisan tangan yang paling penting adalah gulungan Yesaya yang hampir lengkap. Gulungan itu ditemukan pada tahun 1947 dan diumumkan pada tahun 1950. Di samping itu masih ada sebuah naskah Alkitab dengan komentar atas Habakuk 1-2. Gua tempat menyimpan fragmen-fragmen semua Kitab PERJANJIAN LAMA-Ibrani dengan pengecualian Ester. Dalam gua 11 ditemukan sejumlah sisa besar sebuah gulungan Mazm., yang saat ini merupakan tulisan Alkitab yang nomor dua besarnya. Gua-gua lainnya memuat fragmen-fragmen Alkitab yang lebih kecil. Hukum (terutama kitabUlangan.), Yesaya. dan Mazmur., termasuk penemuan yang paling besar. Di dalam "perserikatan Kumran" kitab-kitab itu barangkali merupakan bagian kitab-kitab yang paling disayangi. 
 
Titik tanggal yang pasti merupakan masalah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan Alkitab. Kini rasanya seperti sudah pasti, bahwa kebanyakan buku-buku Alkitab berasal dari dua abad terakhir sebelum masehi., atau dari abad pertama sesudah masehi. Penyelidikan tentang keadaan penemuan itu memberi petunjuk bahwa buku-buku itu ditaruhkan dalam gua-gua tadi pada tahun atau bahkan sebelum tahun 68 sesudah masehi. Barangkali beberapa di antaranya berasal dari abad 1 atau 2 sebelum masehi. Beberapa fragmen lainnya mungkin tergolong lebih tua (abad 3 atau 4 sebelum masehi). 

Tulisan-tulisan tangan dari Kumran memberikan sebuah Naskah Alkitab yang ditulis seribu tahun lebih tua daripada kodeks-kodeks Ibrani yang kita miliki sebelum penemuan itu. Meskipun demikian naskahnya itu di dalam keseluruhannya tidak lebih baik daripada naskah Masorit. Dengan demikian terbuktilah bahwa naskah Masorit pada hakekatnya termasuk jauh lebih tua daripada yang diperkirakan. Ejaan baik (ortografi) yang ditemukan,- penting bagi pelajaran sejarah bahasa Ibrani -, nampak berbeda dalam naskah-naskahnya. Selanjutnya nampak dari beberapa fragmen yang ditemukan, bahwa LXX (SEPTUAGINTA) termasuk pada teks-teks yang katanya diterjemahkan secara bebas atau atas keinginan pribadi perorangan tertentu, barangkali juga dikembalikan pada asal Ibrani-nya. Dari penemuan-penemuan itu tersingkap bahwa naskah PERJANJIAN LAMA yang berbahasa Ibrani itu belum ditetapkan secara pasti pada tahun 68 sesudah masehi. Pada tahun 132-135 orang baru mempunyai sebuah naskah kesatuan, yang dalam garis besarnya nampak seperti naskah Masorit. Tetapi naskah ini bukan satu-satunya naskah yang beredar.
 
Tulisan - Tulisan Bukan Alkitab
Tulisan-tulisan itu boleh jadi berasal dari zaman yang sama dengan zaman naskah-naskah Alkitab. Tetapi orang harus membedakan tuanya tulisan-tulisan bukan Alkitab itu dengan tuanya teks aseli dari tulisan itu. Sebab tulisan yang ditemukan sudah merupakan edisi kesekian kalinya daripada teks aselinya. 

Jemaat Kumran tentunya memiliki sebuah perpustakaan komentar yang cukup luas mengenai KITAB SUCI. Eksegese di situ caranya aneh dan menyimpang dari tipe midrasy seperti yang dikenal orang sampai sekarang. Mereka suka menghubungkan kata-kata Kitab dengan dirinya dan dengan zamannya. Anggapan mereka, bahwa zaman merekalah yang terakhir. Adapun komentar yang paling luas isinya adalah komentar Habakuk atas Habakuk 1-2. Isinya menarik sekali oleh permainan yang dipakai untuk menyinggung keadaan zaman penyusun. Mengenai komentar-komentar lainnya hanya dikenal fragmen-fragmen melulu (komentar Hosea., Mikha., Mazmur., Yesaya.). 

Peraturan-peraturan. Yang paling penting adalah peraturan sekte atau pengaturan jemaat. Oleh penerbitnya yang pertama (1951) disebut Manual of Discipline. Naskah itu (11 kolom) hanya sedikit yang rusak. Peraturan itu mengajar para anggota jemaat, bagaimana mereka akan hidup, sesuai dengan penafsiran pimpinan, memenuhi hukum ( taurat). Peraturan jemaat ini boleh jadi diperuntukkan para pengikutnya yang nampaknya hanya pria melulu. Masih ditambah lagi dengan sebuah dokumen yang juga membicarakan soal para istri dan anak-anak. 
Barangkali peraturan-peraturan itu diperuntukkan bagi zaman keselamatan yang akan datang, sebab di situ antara lain dibicarakan tentang kemungkinan, bahwa Mesias itu akan hadir di dalam perjamuan. Tulisan tangan Damsyik menurut isi dan coraknya termasuk ke dalam sastra Kumran. Hal itu dapat dibuktikan lagi dari kenyataan, bahwa fragmen-fragmen dari berbagai eksemplarnya ditemukan dalam gua-gua Kumran. Sudah hampir dapat dipastikan, bahwa tulisan itu berasal dari periode yang lain daripada aturan jemaat itu. Ada tulisan soal peraturan berperang. Tulisan itu berusaha melukiskan sebuah perang yang dilakukan oleh para putera cahaya, artinya: oleh para anggota perserikatan, yang berperang pada akhir zaman melawan seluruh bagian dunia yang lainnya. Para imam memegang peran besar di situ. 

Di luar Mazmur Alkitab, jemaat Kumran masih mendoakan Mazmur-nya sendiri. Sebetulnya mereka doakan nyanyian pujian, yang di dalam tinjauan sastranya merupakan sebuah mosaik kata-kata Mazm Alkitab, tetapi menunjukkan sebuah kesatuan konsepsi theologi tersendiri. Oleh karenanya perlu dipandang sebagai karya satu orang pribadi. Sebagai ungkapan cara berpikir religius di Kumran, maka Mazm-Mazm itu mempunyai nilai yang besar bagi kita.
Sisa naskah lainnya. Di antara naskah-naskah ini, kesaksian-kesaksian sebuah sastra apokrif-apokaliptik sangat meluas isinya dan mengambil tempat yang besar di dalamnya. Padanya termasuk tulisan-tulisan yang sudah terkenal (Yub., Hen., Test XII) seperti yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya: sebuah gambaran tentang Yerusalem baru, sebuah doa dari Nabonid dan tiga buah fragmen lain dari siklus Daniel. Menyolok pula banyaknya naskah liturgi, yang dalam cara tertentu bisa dijadikan pendahulu surat Ibrani dan Why.: Liturgi dan kenisah di surga nampak sebagai contoh dari liturgi dan kenisah di dunia. 

Arti Dan Nilai Pertemuan
Penemuan Kumran  telah memberikan cahaya terang baru pada Yudaisme  Palestina dalam zaman pergantian PERJANJIAN LAMA menuju PERJANJIAN BARU Kini kita telah tahu, bahwa Yudaisme zaman Yesus mempunyai lebih banyak segi-segi pandangan lainnya daripada anggapan orang sebelumnya. Naskah-naskah Kumran memberikan kelonggaran atas pandangan-pandangan baru tentang dunia tempat agama kristen timbul. Pada banyak tempat di PERJANJIAN BARU yang dulunya diperkirakan mempunyai pengaruh helenis, kini lebih mudah dinyatakan sebagai pengaruh dari kalangan Yahudi sendiri. 

Theology
Meskipun pendiri perserikatan Kumran (ia disebut "guru keadilan") maupun sebab-musabab konkrit mengenai pendirian jemaat itu tidak dikenal (rupanya pertanyaan atas "penanggalan yang tepat" menjadi penentu yang penting), namun di dalam Kitab-kitab yang ditemukan harus diakui adanya sebuah konsepsi theologi yang mengesankan: Jemaat Kumran  yang yakin, bahwa Allah membuka kembali dan memberikan kepada jemaat itu persekutuan denganNya dan dengan para malaekatNya. Mereka secara khusus dijiwai semangat untuk menjadi mirip dengan Tuhan dalam segala-galanya. Mereka bukan hanya merasa berkewajiban memenuhi nasihat yang diberikan oleh Tuhan dengan tepat, melainkan harus juga memisahkan diri dari semua orang dosa dan dari a pa saja yang mengandung dosa. Sebab Tuhan sendiri memberi rokh kegelapan, sehingga semua para anggota Kumran wajib membenci semua hal yang mengandung dosa dan menolaknya. Bahkan setiap anggota yang melanggar sebuah perintah dari hukum, artinya: memberikan tempat pada rokh kejahatan, harus dipisahkan dari perserikatan untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Memiliki rokh itu sekaligus menentukan tempat setiap orang sesuai peraturan perserikatan. Di dalam peraturan itu harus dicerminkan "peraturan surgawi": Tak seorangpun boleh ada di atas tempat nasibnya (yang ditentukan Tuhan). Petunjuk-petunjuk yang disingkapkan oleh Rokh Allah tidak cukup hanya dijadikan norma belaka. Dengan bantuan sebuah tanggalan yang hanya mengikuti perhitungan matahari, yang dianggap sebagai "tanggalan surgawi", orang harus memberi susunan peraturan pada hidupnya sendiri. Ia harus membantu perserikatan, menjawab kurnia Tuhan sesuai waktunya. Justru karena Kumran merupakan perserikatan yang sadar, bahwa terpanggil oleh Tuhan sebagai hadiah melulu yang penuh rakhmat, maka para saudara sewarga berusaha untuk tidak menyombongkan diri dalam menghayati perserikatan itu, melainkan memasuki jalan yang dibuka Tuhan baginya di dalam hukumNya.

 Original written by Herbert Haag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar