Senin, 23 Mei 2011

Biography Singkat The Apostles

Sejarah tradisi gereja banyak sekali memberikan informasi mengenai kehidupan sampai dengan bagaimana wafatnya para rasul. Satu penulis sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan tulisannya berdasarkan bukti-bukti nyata ialah Eusebius.

Saint Eusebius dari Vercelli
St Eusebius

Lahir kira-kira tahun 283 di pulau Sardinia, Italia. Namanya yang berarti ‘kesayangan’ sesuai benar dengan kenyataan hidupnya di kemudian hari. Ia disayangi Tuhan dan seluruh Gereja. karena dengan gigih membela ajaran iman yang benar di hadapan para penganut Arianisme dan dengan penuh kasih sayang menggembalakan umatnya di Vercelli hingga meninggal dunia.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Lalu ia dibawa ibunya ke Roma untuk belajar di sana. Di kota Roma ia ditahbiskan menjadi Lektor dan menjadi pelayan imam dalam setiap perayaan Kurban Misa. Untuk melanjutkan studinya, ia pindah ke Vercelli, Italia Utara. Di sana ia terus bertumbuh menjadi seorang yang saleh hidupnya. Pada tahun 340, ia ditahbiskan menjadi Uskup Vercelli. Sebagai Uskup, ia herusaha membina imam-imam yang berkarya di keuskupannya agar hidup lebih sesuai dengan jabatan mereka. Untuk itu ia membentuk suatu persekutuan hidup seperti biara bersama imam-imamnya. Konon persekutuan hidup bersama yang didirikannya merupakan tahap awal kehidupan monastik di dalam Gereja Barat. Dengan cara hidup itu, Eusebius bermaksud mendidik imam-imamnya menjadi pelayan umat yang tidak saja pandai, tetapi juga suci dan tidak terikat batin dengan hal-hal duniawi. Usahanya itu diberkati Tuhan dengan hasil yang gilang gemilang. Banyak dari imam-imam binaannya menjadi imam dan uskup yang saleh hidupnya.

Menyaksikan kesalehan dan keberhasilan Eusebius, pada tahun 354 Paus Liberius (352-366) bersama uskup-uskup lainnya mengutus dia kepada Kaisar Konstantius untuk meminta kesediaan kaisar membuka sebuah konsili demi terciptanya ketenteraman di dalam tubuh Gereja dari gangguan bidaah Arianisme. Pada tahun 355 diadakan sebuah sinode para uskup di Milano, Italia untuk membicarakan hukuman atas Uskup Saint  Athanasius. Banyak Uskup Arian hadir dalam sinode itu. Mereka berusaha keras mempengaruhi uskup-uskup lainnya untuk mengikuti mereka. Eusebius yang hadir juga dalam sinode itu dengan gigih membela ajaran Athanasius dan menentang ajaran sesat para Uskup Arian, yang tidak mengakui Keallahan Yesus Kristus. Ia pun dengan tegas menolak menandatangani surat keputusan hukuman atas diri Uskup Saint  Athanasius.

Karena sikapnya itu, Eusebius menanggung banyak penderitaan dari para Uskup Arian. Sejak bidaah itu didukung oleh Kaisar Kontantius, Eusebius diancam dengan hukuman mati dan dibuang ke Scytopolis, Palestina di bawah pengawasan Uskup Arian Patrophilus. Di sana selama beberapa tahun ia disiksa oleh para musuhnya. Dari Scytopolis, ia dikirim ke Kapadokia dan ke Mesir. Kendatipun banyak siksaan yang dialaminya, ia tetap teguh berpegang pada kebenaran imannya. Sepeninqgal Kaisar Konstantius pada tahun 361, Eusebius dibebaskan. Sebelum kembali ke Vercelli, ia masih menghadiri sinode uskup-uskup Aleksandria pada tahun 362 atas izinan Kaisar Yulianus, pengganti Konstantius. Oleh uskup-uskup lainnya, Eusebius diutus ke Antiokia untuk menyelesaikan pertikaian antara pengikut Saint Eustakius dan pengikut Uskup Arian Miletus. Misinya itu tidak berhasil. Sebagai gantinya ia tanpa mengenal lelah meneruskan usahanya untuk menjaga ketenteraman umat menghadapi pengaruh Arianisme. Ia pergi ke Illiricum, mengunjungi berbagai Gereja dan mendesak para pemimpinnya agar tetap memegang teguh ajaran iman yang benar dari para rasul. Dari sana ia pulang ke Vercelli, Italia Utara pada tahun 363. Dia disambut umatnya seperti seorang pahlawan yang kembali dengan kemenangan.

Sisa-sisa hidupnya dimanfaatkannya untuk mengajari umat perihal ajaran iman yang benar. la masih meninggalkan kepada umatnya satu buku tafsiran Mazmur-mazmur. Bersama Saint Hilarius dari Poite, Eusebius tampil sebagai seorang penentang Uskup Arian Auxensius Eusebius akhirnya meninggal dunia di Vercelli pada tahun 371. Oleh Gereja ia dihormati sebagai seorang martir karena kesengsaraan yang dialaminya sewaktu dibuang oleh kaisar dan para penganut Arianis.

Ia menulis buku mengenai cara meninggalnya para Rasul di tahun 325 yang berjudul: "Rasul dan murid dari Juruselamat telah menyebarkan dan mengkotbahkan Injil ke seluruh dunia". Tulisan dari Eusebius telah ditelusuri dan diselidiki ulang oleh penulis sejarah gereja kondang Mr. Schumacher untuk membuktikan akan kebenaran dari tulisan tersebut.

Berikut catatan dari Saint  Eusebius dan beberapa referensi lainnya.

Injil Matius (Matius 10:1-4) menunjukkan daftar para Rasul dalam urut-urutan seperti ini: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Thomas, Matius, Yakobus, Yudas Thadeus, Simon dan Yudas Iskariot. Matias diangkat untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot. Paulus menjadi Rasul oleh panggilan khusus dari Yesus Kristus.

Dua diantara empat penulis kitab Injil yaitu Yohanes dan Matius, termasuk dalam bilangan 12 rasul. Dua yang lainnya, Lukas dan Yohanes Markus sangat erat hubungannya dengan kumpulan para Rasul.

Rasul Petrus
Peter The Apostle
Menurut Injil Yohanes, Petrus lahir di Betsaida, Galilea, dan ayahnya bernama Yohanes (Yohanes 1:42)/Yunus (Matius 16:17). Dikisahkan juga bahwa Yesus pernah menyembuhkan ibu mertua Petrus yang berarti Petrus sudah menikah. Sebelum ia mengikuti Yesus, ia dan saudaranya, Andreas bekerja sebagai penjala ikan (nelayan).
Dinamakan Kefas (bahasa Aram) atau Petrus (transliterasi dalam bahasa Yunani) yang berarti batu karang, oleh Yesus Kristus (Yohanes 1:42, Matius 16:18) yang menjadikannya pemimpin para Rasul dan kepala Gereja sebagai imam-Nya.

Popularitas Rasul Petrus diantara bilangan para Rasul sangat menyolok. Analisa secara statistik menunjukkan bahwa namanya disebutkan sebanyak 195 kali dalam keempat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, sedangkan gabungan ke-11 rasul lainnya disebutkan sebanyak 130 kali saja. Rasul Yohanes dalam posisi runner-up namanya hanya disebutkan sebanyak 29 kali saja. Rasul Petrus selalu disebutkan sebagai yang pertama dalam bilangan para Rasul dalam ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) maupun Kisah Para Rasul.
Dalam Injil Matius dan Markus diceritakan bahwa Petrus sedang mencari ikan di danau Genesaret ketika Yesus menghampiri mereka dan berkata, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Matius 4:19).

Dalam Injil Lukas diceritakan bahwa Yesus naik ke perahu Peturs untuk mengajar orang banyak di tepi danau Genesaret, kemudian ia menunjuk Petrus untuk menebarkan jalanya karena ia tahu bahwa Petrus semalaman tidak mendapatkan ikan. Petrus mematuhi petunjuk Yesus dan ia serta nelayan lainnya mendapat ikan dalam jumlah besar. Dengan mujizat tersebut Petrus menjadi percaya kepada Yesus bersama-sama dengan Yakobus dan Yohanes. Andreas tidak disebutkan dalam kisah ini.

Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa Andreas adalah salah satu murid Yohanes Pembaptis yang pergi untuk mengikut Yesus. Ia lalu memanggil saudaranya, Simon dan menceritakan bahwa ia telah menemukan Mesias. Andreas lalu membawa Petrus kepada Yesus dan Yesus menamakan Simon Kefas (bahasa Aram untuk 'batu', bahasa Yunani maskulin: Petros, feminim: Petra). Di kemudian hari nama Yunaninya banyak digunakan karena bahasa Yunani adalah bahasa universal pada waktu itu.

Yesus menamai Simon sebagai Petrus atau 'batu karang' mengisyaratkan bahwa Yesus akan meletakkan landasan gerejanya di atas Petrus. (Matius 16:18)

Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa ketika Petrus menolak kakinya dicuci oleh Yesus yang mencuci kaki murid-muridnya (karena ia merasa tidak layak), Yesus menjawabnya "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Petrus lalu menjawab Yesus, "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" (Yohanes 13:6-9)

Dalam Injil Matius diceritakan Petrus yang berjalan di atas air ketika ia melihat Yesus yang berjalan di atas air, namun karena ia takut, maka ia tengglam lalu ditolong oleh Yesus. (Matius 14:22-32). Injil Markus juga menceritakan Yesus yang berjalan di atas air namun tidak menceritakan Petrus yang berjalan di atas air.

Petrus yang pertama kali mengakui imannya akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16:16, Markus 8:29, Lukas 9:20). Petrus juga hadir dan berbicara dalam kisah-kisah yang lebih banyak jumlahnya daripada rasul-rasul yang lain, misalnya dalam transfigurasi Yesus, Petrus menegor Yesus yang berkata bahwa Ia akan disalibkan, kisah Petrus dan pemungut bea Bait Allah, kisah Yesus berdoa di taman Getsemani, kisah Yesus dan pohon ara, dan lain-lainnya.

Yesus memperingati Petrus bahwa setelah Ia ditangkap nanti, Petrus akan menyangkalNya tiga kali, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." (Matius 26:34) Sebelum dan sesudah Yesus mengatakan itu, Petrus masih bersikeras bahwa ia adalah murid yang paling setia. Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." (Matius 26:33) Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga. (Matius 26:35)

Pada akhirnya diceritakan bahwa tepat seperti perkataan Yesus, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok.
Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu."Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud" Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu" Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu."Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu" Dan pada saat itu berkokoklah ayam. (Matius 26:69-74)

Bersama Rasul Yakobus bin Zebedeus dan Rasul Yohanes, Rasul Petrus menjadi saksi atas dibangkitkannya putri Yairus dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus Kristus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di Taman Getsemani (Matius 26:36-46).

Petrus masih belum berkarya banyak pasca kenaikan Yesus ke Surga. Petrus dan murid-murid yang lain masih tinggal di dalam kota Yerusalem, berkumpul untuk bertekun dan berdoa bersama dengan sekitar seratus dua puluh orang, sampai tiba hari Pentakosta, di mana Roh Kudus dicurahkan seperti lidah-lidah api. Setelah peristiwa itulah, Petrus memberikan kotbah yang akhirnya menyebabkan tiga ribu orang memberi diri percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptis. Saat itu belum disebut Paus, namun Petrus telah menjadi kepala Konsili Para Rasul di Yerusalem pada tahun 50. Selain berkhotbah, Petrus juga menulis surat-surat yang kini berada dalam kesatuan Perjanjian Baru.

Di kemudian hari Petrus pergi dan tinggal di Roma. Roma kala itu adalah pusat seluruh Kekaisaran Romawi. Di sana Petrus mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, jemaat di sana memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan. Petrus bertanya kepada-Nya, “Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?” (dalam bahasa Latin: "Quo Vadis?") Jawab Yesus, “Aku datang untuk disalibkan kedua kalinya.” Kemudian Petrus berbalik dan kembali ke Roma. Ia mengerti bahwa penglihatannya berarti bahwa ia harus menderita dan wafat bagi Yesus. Petrus wafat di Roma dimana dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dan menjadi martir dengan cara disalibkan pada tahun 64 atau 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero dengan mati disalib dengan kepala di bawah. Kayu salib untuk Petrus dipasangnya berbeda, ialah secara huruf X, karena itulah permohonan yang ia ajukan sebelum ia disalib, dimana ia memohon untuk disalib dengan cara demikian. Ia merasa tidak layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus. Hal ini tepat seperti yang dikatakan Yesus kepadanya sebelum Dia naik ke Surga dalam  Yohanes 21 :18-19 :
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Petrus dimakamkan di tempat yang kini persis di bawah altar utama Basilika Saint Petrus di Vatikan.

Patut dicatat bahwa meskipun diketahui bahwa Rasul Petrus meninggal di Roma sesuai Tradisi Apostolik dan catatan sejarah, tetapi tidak diketahui dimana tepatnya letak makamnya. Pada tahun 315, kaisar Romawi, Konstantinus, yang bersikap baik terhadap umat Kristen, membangun gereja yang altarnya tepat berada di atas makam Rasul Petrus. Di kemudian hari basilika (gereja ukuran raksasa) yang baru dibangun di atas bangunan gereja tersebut dan setiap kali bangunan yang baru dibangun di atas pondasi bangunan yang lama sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi Basilika Saint  Petrus, Vatikan, seperti yang kita kenal sekarang ini. Sepanjang masa tersebut, pengetahuan akan letak makam Rasul Petrus sudah menghilang dari sejarah. Sekitar 1500 tahun kemudian, dengan diawali oleh sebuah sebuah peristiwa kecelakaan seorang pekerja di tahun 1939, pada tahun 1958 makam Rasul Petrus akhirnya ditemukan di salah satu catacomb dan letaknya persis di bawah altar yang terletak di bawah kubah Rasul Petrus, Vatikan. Salah satu tulisan yang diukirkan disana berbunyi: "Petrus berbaring di dalam sini". Tidak bisa tidak, kita pasti akan teringat akan kata-kata Yesus pada Matius 16:18-19, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
Kepastian penemuan letak makam Rasul Petrus tersebut telah memberikan dimensi tambahan terhadap makna Injil Matius 16:18.

Dalam dunia seni, Rasul Petrus dilambangkan membawa dua kunci, simbol kekuasaannya dalam Gereja. Lambang lainnya juga serupa, dengan dua kunci bersilangan lambang kekuasaannya dan sebuah salib yang diposisikan terbalik yang merujuk pada posisi penyalibannya. Dirayakan tiap tanggal 29 Juni (bersama Rasul Paulus) dan 22 Februari (Tahta Petrus).
  1. 1 Petrus - Surat ini untuk menguatkan penerima suratnya dalam penderitaan mereka dan agar mereka tetap rendah hati.
  2. 2 Petrus - Membicarakan mengenai batin tiap pribadi, peringatan mengenai ajaran palsu, dan menyinggung mengenai Hari Tuhan.
Rasul Andreas
Andrew The Apostle
Lahir di Bethsaida, saudara dari Simon Petrus, murid dari Yohanes Pembaptis, seorang nelayan, Rasul yang pertama dipanggil (Matius 4:18, Markus 1:16, Yohanes 1:40). Ketika Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus dan berkata: "Lihatlah Anak Domba Allah" dengan serta merta dia meninggalkan Yohanes Pembaptis untuk mengikuti Yesus. Menurut legenda, dia mewartakan Kabar Gembira di Yunani bagian Utara, yaitu Epirus dan Scythia, dan menjadi martir di Patras sekitar tahun 70 dengan cara disalibkan pada salib yang berbentuk huruf X. Dia tidak dipakukan pada kayu salib tetapi diikatkan. Sebelum ia meninggal, ia disiksa dengan hukum cambuk oleh tujuh tentara dan diikat di salib. Dengan cara demikian mereka bisa memperpanjang masa sakit dan masa siksaannya. Seorang pengikut Andreas yang turut menyaksikan hukuman Andreas menceritakan perkataan yang telah diucapkan oleh Andreas sebelum ia meninggal dunia,. "Ternyata keinginan dan cita-cita saya bisa terkabul dimana saya bisa turut merasakan masa-masa terindah dengan disiksa dan disalib seperti Tuhan Yesus". Bahkan pada saat ia disiksa pun tiada henti-hentinya ia berkhotbah terus kepada mereka yang mengelilinginya. Dia bertahan selama dua hari dalam kesengsaraan dan masih terus berkhotbah sebelum ajalnya tiba. Dalam dunia seni, dilambangkan dengan salib berbentuk huruf X, yang disebut Salib Rasul Andreas; dihormati sebagai Saint  pelindung Russia dan Skotlandia dan Patriarch Ekumenikal. Dirayakan tiap tanggal 30 November.

Rasul Yakobus bin Zebedeus (Yakobus Besar)
Orang Galilea, putra Zebedeus, saudara Rasul Yohanes, dimana mereka berdua disebut oleh Yesus sebagai Boanerges, artinya putera halilintar (Markus 3:17). Dia juga seorang nelayan.

Agaknya Petrus, Yakobus dan Yohanes bertiga punya tempat yang spesial. Hanya mereka bertiga yang menjadi saksi atas: dibangkitkannya putri Yairus dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di taman Getsemani (Matius 26:36-46). Hanya mereka bertiga yang diberi nama khusus oleh Yesus.

Tidak mengherankan kalau Yakobus dan Yohanes merasa berhak untuk menemui Yesus dan meminta apapun yang mereka inginkan. (Injil Matius 20:20-28 mengisahkan tentang permintaan ibunda Yakobus dan Yohanes yang datang kepada Yesus untuk mengajukan suatu permohonan khusus). Sebagai tanda kasihNya, Yesus tidak memarahi mereka tetapi menanyakan apa yang mereka minta. Permintaan mereka agar mereka bisa duduk di sebelah kanan-kiri Yesus jika Yesus nanti datang dalam kemuliaanNya, menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti tugas misi mereka yang sebenarnya. Yesus menjawab bahwa mereka tidak tahu apa yang dimintanya. Mereka tidak melihat salib kesengsaraan melainkan tahta duniawi. Bisakah mereka meminum cawan yang Yesus minum? Mereka bilang "kami dapat." Yesus meyakinkan bahwa memang mereka akan turut meminum cawanNya. Ke-10 rasul lainnya pun marah-marah setelah mendengar permintaan kedua bersaudara itu. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan kepada mereka bahwa untuk menjadi besar seseorang harus menjadi pelayan.

Lebih jauh lagi Yakobus dan Yohanes menunjukkan ketidak-mengertian mereka ketika Yesus ditolak oleh orang-orang Samaria (Lukas 9:51-56). Mereka berdua ingin menggunakan kuasa yang didapatnya bukannya untuk menyembuhkan melainkan untuk menurunkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria yang berani menolak Yesus tersebut. Barangkali Yesus memberi nama mereka Boanerges - putera-putera halilintar - karena semangat mereka, antusiasme mereka atau temperamen mereka. Yesuspun memarahi mereka karena pandangan mereka yang ingin menggunakan kuasa mereka dengan tanpa ampun dan balas dendam.

Meskipun dengan segala kekurangan mereka, Yesus tetap memilih Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk menemaniNya di taman Getsemani. Yesus pasti sangat bersedih ketika menemukan mereka sedang tertidur pulas pada malam yang sengsara itu.

Yakobus sungguh minum dari cawan yang diminum Yesus. Dia adalah Rasul pertama yang mati terbunuh, atas perintah raja Herodes Agripa dengan sebilah pedang (Kisah Para Rasul 12:2).

Rasul Yakobus berlayar lewat Laut Tengah menuju Spanyol, mendarat di pantai Andalusia di selatan, menjelajahi semenanjung Iberia melalui jalan-jalan Romawi sampai tiba di daerah Galisia di sudut Barat Laut. Di sana ia memaklumkan Injil dan membaptis beberapa orang diantaranya Theodorus dan Athanasius yang kemudian menemaninya kembali ke Yerusalem.

Ketika Rasul Yakobus tiba kembali di Yerusalem, situasi setempat sungguh kurang menguntungkan bagi keamanan umat Kristen. Kelihatannya pada tahun 44 ini situasinya mirip kejadian sembilan tahun sebelumnya ketika Stefanus dirajam menjadi martir yang pertama. Orang-orang Kristen mulai disingkirkan dengan kekerasan bahkan kemudian raja Herodes menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes dengan pedang. (Kis 12 : 1-2). Demikianlah Rasul Yakobus yang menjadi rasul pertama yang mengorbankan hidupnya demi kesetiaan dan cintanya kepada Kristus. Dia pernah menjadi pemimpin umat di Kota Yerusalem.

Yakobus meninggal setelah kepalanya dipenggal di Yerusalem. Pada saat-saat ia disiksapun, ia tidak pernah menyangkal Tuhan Yesus bahkan ia berusaha untuk berkhotbah terus. Bukan hanya kepada para tawanan lainnya saja tapi juga kepada orang yang menghukum dan menyiksa dia dengan kejamnya. Sehingga akhirnya orang Romawi yang menjadi penjaga dan penyiksa dia bisa turut bertobat. Penjaga Romawi itu mendampingi Yakobus pada saat ia dihukum penggal, bukannya sekedar hanya untuk turut menyaksikannya saja, melainkan juga untuk turut dihukum dan dipenggal bersama dengan Yakobus. Pada saat ia mau menjalani hukuman mati, ia berlutut bersama di samping Yakobus, sambil berdoa, itu adalah doanya yang terakhir, sebelum ia mati dipenggal bersama Yakobus sebagai orang Kristen.

Konon sesudah kepada Rasul Yakobus dipenggal, jenazah bersama kepalanya yang berdarah dibawa oleh dua muridnya dari Spanyol ke pantai Laut Tengah. Jenazah sang martir itu digotong ke sebuah perahu yang kebetulan tertambat di pinggir laut. Bersama kedua muridnya yang ikut naik, perahu yang tak terkemudi itu digerakkan oleh angin dan arus ke arah barat. Sampailah perahu itu di Semenanjung Iberia atau Spanyol. Konon selama perjalanan laut tersebut, jenazah Yakobus dilapisi oleh kerang-kerang dari suatu jenis yang dapat dimakan. Kerang-kerang itulah yang dijadikan lambang dari peziarahan Santiago dan para peziarahnya. Kerang ini sering juga menjadi simbol dari cintakasih ilahi dan insani yang merupakan pasangan yang paling pas.
Jenazah Rasul Yakobus digotong ke pantai Galisia, lalu Theodorus dan Athanasius minta kepada penguasa setempat yang bernama Lupa (artinya serigala) sebidang tanah guna memakamkan sang rasul. Ratu yang bengis itu mengatakan : “Pergilah ke pegunungan itu dan ambillah sepasang kerbau yang akan menghela kereta jenazah kemana pun engkau mau”. Rupanya kerbau itu adalah sekawanan banteng liar. Alangkah herannya ratu lupa karena ternyata banteng banteng itu jinak di hadapan orang-orang kristen. Lalu dia menyuruh pasukannya untuk mengejar mereka, namun pasukan itu tertahan karena sebuah kali kecil mendadak mulai membanjir. Menyaksikan segenap peristiwa itu, ratu itu bertobat. Kemudian jenazah Rasul Yakobus dimasukkan ke dalam peti marmer (sarchopagus) dan dimakamkan.

Tanpa diketahui siapa pun jenazah Rasul Yakobus beristirahat selama berabad-abad di bawah semak-semak, sampai tahun 813 ditemukan oleh seorang pertapa yang bernama Paio, yang sebelumnya melihat sinar-sinar yang terang bagaikan bintang melintasi pegunungan Libredon (Campus Stellae – lapangan bintang). Jenazah Rasul Yakobus dikenal karena adanya tulisan di batu sarchopagusnya.

Berkat penemuan ini selanjutnya dibangunlah kapel oleh Raja Alfonso II dari Asturia. Bahkan kabar ini pun kemudian disampaikan ke Sri Paus di Roma serta kepada kaisar. Dalam waktu singkat orang-orang datang berziarah bahkan mulai menetap di sekitar makam Santiago. Namun baru pada tahun 1095 tahta Uskup dipindahkan secara resmi ke Santiago de Compostela. Nama tambahan Compostela baru muncul kemudian yang berarti Lapangan Bintang.

Ada cerita yang cukup menarik yang sampai kini masih terus menggema di hati para peziarah atau penduduk Santiago de Compostela yakni cerita tentang penampilan Rasul Yakobus pada saat pertempuran antara pasukan Muslims bersenjata pimpinan Khalif Cordoba dan Raja Asturia dekat Claviyo. Tersebutlah saat kedua balatentara saling memukul dan menikam, sekonyong-konyong tampak seorang pejuang ningrat menunggang seekor kuda putih, dengan tanda salib Yesus di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya. Dia mengalahkan banyak musuh yang kemudian dikenal sebagai Santiago, yang sejak kemenangan ini diberi nama tambahan: Matamoros (pembunuh kaum Moros)..

Yakobus dihormati sebagai Saint pelindung Spanyol dan para penziarah dan para pekerja. Dalam dunia seni, digambarkan membawa sebuah bel peziarah. Lambangnya adalah tiga kulit kerang yang merujuk pada penziarahan. Dirayakan tiap tanggal 25 Juli (Ritus Roma/Latin) dan 30 April (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Yohanes
Orang Galilea, putra Zebedeus, saudara kandung Yakobus Besar, dimana mereka berdua dinamakan Boanerges, putera-putera guruh (Markus 3:17), oleh Yesus. Dia adalah juga seorang nelayan, mungkin seorang murid Yohanes Pembaptis, merupakan salah satu penulis kitab Injil, dan yang sering disebut-sebut sebagai "murid yang terkasih" (Yohanes 19:26, 21:20).

Bersama Petrus dan Yakobus bin Zebedeus, hanya mereka bertiga yang diajak Yesus ketika: putri Yairus dibangkitkan dari kematian (Markus 5:21-43), transfigurasi Yesus di atas bukit (Matius 17:1-8), sengsara Yesus di Taman Getsemani (Matius 26:36-46).

Rasul Yohanes adalah satu-satunya yang tidak meninggalkan Yesus ketika saat-saat sengsara penyaliban Yesus. Dari kayu salib, Yesus Kristus menyatakan Maria sebagai ibu kepada Yohanes dan sebaliknya menyatakan kepada Maria bahwa Yohanes adalah anaknya (Yohanes 19:26).

Rasul Yohanes mengarang Kitab Injil ke-empat, tiga Surat Yohanes, dan Kitab Wahyu. Injil karangannya punya karakter yang berbeda secara menyolok. Kalau Injil Matius, Markus dan Lukas dikategorikan sebagai Injil sinoptik disebut demikian karena isinya berupa ringkasan ministri Yesus, Injil Yohanes ditulis dengan 'gaya bebas' dan topikal, sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh sang penulis, dan mengandung makna teologis yang mendalam.
Menarik untuk direnungkan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes 21:20-23: Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus (yaitu Yohanes) sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"....Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" .... Maka tersiarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Yohanes memang sungguh-sungguh berumur panjang. Menurut tradisi, dia dibawa ke Roma dan atas perintah Kaisar Domitian,Yohanes direbus atau lebih tepatnya digoreng di dalam bak minyak mendidih di Roma, tetapi karena Tuhan masih ingin memakai Yohanes lebih jauh, maka keajaiban terjadi sehingga walaupun ia telah digoreng hidup-hidup, ia bisa hidup terus. Tetapi akhirnya ia dibuang dan diasingkan ke pulau Patmos untuk kerja paksa di tambang batubara disana. Pada saat ia berada di sana, ia mendapatkan wahyu sehingga ia bisa menulis Kitab Wahyu. Kemudian ia dibebaskan dan akhirnya kembali dan menjadi pemimpin di Edessa (Turki). Ia adalah satu-satunya Rasul yang bisa mencapai usia lanjut dan bisa meninggal dunia dengan tenang dan satu-satunya diantara bilangan para Rasul, yang diketahui secara pasti tidak meninggal sebagai martir pada sekitar tahun 100 dan diatas makamnya dibangun gereja yang megah. Akan tetapi berabad-abad sesudahnya, penguasa Islam merubah gereja itu menjadi mesjid.

Dalam dunia seni, dia dilambangkan dengan seekor elang, sebagai simbol kehebatan isi kitab Injil karangannya, potret kemampuan dirinya yang menonjol dalam menyelami misteri-misteri Allah. Lambang lainnya yaitu kaliks (piala) yang dililit oleh seekor ular menurut legenda dimana dia diberikan piala berisi racun dalam suatu usaha untuk membunuhnya. Dirayakan tiap tanggal 27 Desember (Ritus Roma/Latin) dan 8 Mei (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Filipus
Philip The Apostle
Lahir di Bethsaida, Galilea. Pada awalnya Rasul Filipus mungkin adalah murid Yohanes Pembaptis. Hanya Injil Yohanes yang menyebutkan dua kisah tentang Rasul Filipus ini. Dia dipanggil oleh Yesus sendiri dan dia membawa Natanael besertanya (Yohanes 1:43-51). Aksi Rasul Filipus selanjutnya bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 8:4-13. Menurut tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Phrygia dan menjadi martir dengan cara disalibkan terbalik di Hierapolis, Yunani, pada masa pemerintahan Kaisar Domitian.

Lambang Rasul Filipus adalah sebuah salib yang didampingi oleh dua bundaran yang melambangkan dua potong roti. Dua potong roti Ini merujuk pada kata-kata Yesus yang ditujukan kepada Filipus mengenai pemberian makan kepada ribuan orang dalam Injil Yohanes 6:5-7, berkatalah Ia kepada Filipus: "Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Dirayakan tiap tanggal 3 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 14 November (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Bartolomeus (Natanael)
Satu hal yang diketahui pasti tentang Rasul Bartolomeus adalah namanya disebutkan dalam bilangan para Rasul. Namanya berarti "putera Tolomai" (bar = bin = putera) dan dikenal juga sebagai Natanael dari Kana, sahabat Filipus (Yohanes 1:43-51). Ia dibawa kepada Yesus oleh Filipus, dimana Yesus memujinya sebagai orang Israel sejati yang tidak memiliki kepalsuan didalamnya.

Menurut berbagai tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Etiopia, India, Persia dan Armenia, dimana dia menjadi martir dengan cara dicambuk sedemikian kejamnya sehingga semua kulitnya menjadi hancur terlepas dan dicacah dagingnya hidup-hidup dengan pisau dan dipenggal oleh raja Astyages. Tempatnya meninggal adalah di Abanopolis, di tepi barat Laut Kaspia. Dalam dunia seni, digambarkan memegang sebilah pisau, salah satu alat yang dipakai untuk membunuhnya. Lambang Saint  Bartolomeus adalah tiga bilah pisau. Dirayakan tiap tanggal 24 Agustus (Ritus Roma/Latin) dan 25 Agustus (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Thomas Didimus
Rasul Thomas orang Yahudi yang termasuk dalam bilangan 12 rasul. Ketika Yesus berkata bahwa Ia ingin kembali ke Yudea untuk mengunjungi sahabatnya Lazarus yang menderita sakit keras (Yohanes 11), Thomas menyemangati para rasul lainnya untuk ikut menemani Yesus dalam perjalanan yang penuh bahaya maut. Pada perjamuan terakhir (Yohanes 14), ketika Yesus memberitahu para muridNya bahwa Ia akan pergi untuk menyiapkan tempat bagi mereka kemana mereka akan datang karena mereka juga tahu tempat dan jalannya, Thomas berkata bahwa mereka tidak mengerti. Yesus lantas meyakinkan bahwa Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Namun yang paling kita ingat dari Rasul Thomas yaitu keragu-raguannya akan Kebangkitan Yesus seperti disaksikan oleh para rasul pada hari Minggu Paskah yang pertama (Yohanes 20:19-20). Delapan hari sesudahnya, pada penampakan Kristus yang kedua, Yesus menegur Thomas dengan lembut karena ketidak-percayaannya dan selanjutnya memberikan bukti-bukti seperti yang dituntut oleh Thomas, tangan yang berlubang bekas paku dan luka di lambungNya. Thomas menjadi yakin akan Kebangkitan Yesus dan dengan serta-merta berseru "Ya Tuhanku dan Allahku". Dengan demikian Thomas menyatakan pengakuan iman akan ke-Allah-an Yesus (Yohanes 20:24-29). Rasul Thomas juga disebut dalam peristiwa penampakan Kebangkitan Yesus lainnya di tepi danau Tiberias (Yohanes 21).

Menurut tradisi, setelah para rasul berpisah setelah peristiwa Pantekosta, Saint  Thomas dikirim untuk mewartakan Kabar Gembira di berbagai tempat dari Laut Kaspia, Parthian, Medes, sampai Teluk Persia dan akhirnya mencapai India dimana banyak penduduk asli di negara bagian Malabar menjadi Kristen dan menyebut diri mereka sebagai "umat Kristen Thomas". Ritus khas mereka yaitu Syro-Malabar dan Syro-Malankara adalah dua diantara 22 ritus yang dikenal dan diakui oleh Gereja Katolik. Rasul Thomas menjadi martir di sekitar kota Madras, India di tempat yang bernama Calamine; mati dengan cara ditombak.

Dalam dunia seni, Rasul Thomas digambarkan berlutut dihadapan Kristus yang bangkit dengan mulia, dan lambangnya adalah sebuah penggaris-siku tukang kayu dan sebilah tombak, alat yang digunakan untuk membunuhnya. Rasul Thomas adalah Saint  pelindung para arsitek. Dirayakan tiap tanggal 3 Juli (Ritus Roma/Latin) dan 6 Oktober (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Matius
Matthew The Apostle
Orang Galilea, salah satu dari ke-12 rasul. Rasul Matius adalah putera Alfeus (Markus 2:14) dan dipanggil untuk menjadi rasul sewaktu sedang duduk-duduk di kantor pajak di Kapernaum (Matius 9:9). Sebelum bertobat ia bekerja sebagai pemungut cukai/pajak. Dia diidentifikasi sebagai Lewi oleh Markus dan Lukas (Markus 2:13-17 dan Lukas 5:27-32). Rasul Matius adalah salah satu penulis Kitab Injil.
Injil Matius ditulis untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak bagi orang Yahudi, baik mereka yang percaya maupun yang tidak percaya. Bagi orang Yahudi, Injil Matius dipergunakan untuk memberi semangat bagi cobaan-cobaan yang akan datang, terutama kemungkinan mereka kembali memeluk agama Yahudi. Bagi mereka yang tidak percaya, Injil Matius didesain untuk meyakinkan mereka bahwa Mesias telah datang dalam ujud Yesus dimana semua nubuat tentang Mesias telah terpenuhi secara spiritual dan bukan secara fisik. "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini". Oleh karenanya, Injil Matius menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Matius 11:2-18)

Rasul Matius menulis Injil dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Aram. Segera setelah itu, pada masa penindasan oleh raja Herodes Agripa I di tahun 42, Rasul Matius berangkat ke luar wilayah. Tradisi lain menyebutkan bahwa Rasul Matius menulis kitab Injilnya antara saat keberangkatannya hingga Konsili Yerusalem, yaitu antara tahun 42 dan 50. Yang pasti, Injilnya yang menggambarkan Kota Suci, Yerusalem, dengan altar dan Bait Suci (sinagoga) yang masih utuh dan tanpa referensi kepada pemenuhan nubuat oleh Yesus, menunjukkan bahwa Injilnya ditulis sebelum penghancuran kota Yerusalem oleh orang-orang Romawi di tahun 70 dan bukti-bukti ini menguatkan tradisi sebelumnya.

Menurut berbagai tradisi, dia mewartakan Kabar Gembira di Yudea, Etiopia, Persia dan Parthia, dan menjadi martir. Matius meninggal dunia, karena disiksa dan dibunuh dengan pedang di Etiopia. Dalam dunia seni, digambarkan sebagai orang suci yang bersayap karena perannya sebagai Penginjil (Evangelis) dan Injilnya yang menggambarkan sifat-sifat manusiawi Yesus Kristus. Lambangnya adalah tiga kantung uang yang merujuk pada pekerjaannya sebagai pemungut cukai/pajak sebelum ia dipanggil untuk mengikuti Yesus. Dirayakan tiap tanggal 21 September (Ritus Roma/Latin) dan 16 November (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Yakobus (kecil)
James "Lesser" The Apostle
Anak Alfeus Kleofas, menulis salah satu surat dalam Kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat Yakobus. Ibunya, Maria, adalah saudari perempuan atau kerabat dekat dari Maria ibu Yesus. Oleh karena itu, sesuai adat Yahudi, dia sering disebut sebagai saudara Yesus. Bahasa Aram tidak memiliki kata yang terpisah untuk membedakan sebutan kakak/adik kandung, sepupu atau misan. Dia disebut "kecil" karena dia lebih muda umurnya atau lebih kecil postur tubuhnya dibanding Rasul Yakobus Besar (Yakobus bin Zebedeus).

Rasul Yakobus bin Alfeus memegang peran penting dalam komunitas Kristen di Yerusalem. Menurut tradisi, dia adalah wakil dari Yerusalem yang pertama dan hadir dalam Konsili Yerusalem di tahun 50 (Kisah Para Rasul 15). Tradisi mengakui bahwa ia sebagai pengarang Surat Yakobus. Bukti-bukti berupa bahasa, gaya tulisan, dan ajaran dalam surat tersebut menunjukkan pengarangnya sebagai seorang Yahudi yang paham akan Kitab Perjanjian Lama, dan seorang Kristen yang paham akan ajaran-ajaran Injil. Bukti-bukti lain dari para Bapa Gereja dan Konsili-konsili Gereja menguatkan keaslian dan kanonitas Surat Yakobus. Tanggal surat itu ditulis tidak diketahui dengan pasti. Ada yang percaya bahwa surat itu ditulis tahun 49, sementara lainnya menduga surat itu ditulis setelah Rasul Paulus menulis surat kepada umat di Roma (tahun 57-58). Mungkin juga ditulis pada sekitar tahun 60 - 62.

Dia meninggal dengan cara dilempar ke bawah dari puncak bubungan Bait Allah di Yerusalem, di tempat yang sama dimana si setan dahulu membawa Tuhan Yesus untuk digoda dan dilempari batu atau dihabisi dengan sepotong pemukul. Ahli sejarah pada waktu itu, Eusebius dan Hegesippus menyatakan bahwa Rasul Yakobus menjadi martir iman, dibunuh oleh orang-orang Yahudi pada musim semi tahun 62. Mereka sangat mengagumi sifat perilakunya dan menjulukinya "Yakobus si orang benar". Dalam dunia seni, digambarkan dengan sebilah tongkat pemukul atau gada besar. Dirayakan tiap tanggal 3 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 9 Oktober (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Yudas Thadeus
Jude The Apostle (Thaddaeus)
Rasul Yudas dikenal juga sebagai Thadeus, adalah saudara Rasul Yakobus kecil, dan juga kerabat Yesus. Dia menulis salah satu surat dalam Kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat Yudas.

Berbagai tradisi menyebutkan bahwa ia mewartakan Kabar Gembira di Yudea, Samaria, Idumaea, Siria, Mesopotamia, Persia dan Libia. Menurut sejarawan Eusebius, Rasul Yudas Thadeus kembali ke Yerusalem pada tahun 62 dan membantu pemilihan saudaranya, Rasul Simeon, sebagai utusan Yerusalem. Dia juga menulis surat kepada Gereja-gereja di Timur, terutama kepada kaum Yahudi Kristen yang ditujukan untuk melawan pembangkangan/penyelewengan kaum Simonian, Nikolait, dan Gnostik. Rasul Yudas Thadeus dikabarkan menjadi martir di Armenia yang waktu itu dibawah kekuasaan Persia. Rasul Yudas Thadeus adalah murid yang menanyakan Yesus pada perjamuan terakhir mengapa Ia tidak memanifestasikan diriNya kepada seluruh dunia setelah KebangkitanNya.

Menurut cerita, dia mengunjungi Beirut dan Edessa dan mungkin menjadi martir di Persia bersama Rasul Simon dengan cara dihukum mati dengan panah karena ia tidak bersedia untuk mengingkari Tuhan Yesus.
Suratnya dalam Perjanjian Baru menekankan bahwa umat harus bertekun/tabah dalam situasi yang berat, kondisi-kondisi sulit, sama seperti para pendahulu kita. Oleh karena itu Rasul Yudas Thadeus adalah Saint  pelindung kasus-kasus yang genting. Devosi terhadap Rasul Yudas Thaddeus, yang disebut sebagai Saint  bagi hal-hal yang mustahil (The Saint of the impossibles) cukup populer dan digalakkan di Amerika Serikat dan berbagai negara lain.

Dalam dunia seni, dilambangkan dengan sebuah halberd (sejenis senjata yang merupakan gabungan dari kampak dan tombak, seperti yang sering dipakai di abad pertengahan), yang merupakan alat yang dipakai untuk membunuhnya. Dirayakan tiap tanggal 28 Oktober (Ritus Roma/Latin) dan 19 Juni (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Simon
Simon "Zealot" The Apostle
Disebut orang Kanaan atau Zealot (Matius 10:4, Markus 3:18, Lukas 6:15) karena menjalani hukum Yahudi dan hukum Kanaan secara ketat. Menurut legenda, Rasul Simon mewartakan Kabar Gembira di berbagai tempat di Timur Tengah dan didampingi oleh Rasul Yudas Thadeus dalam berbagai perjalanan misionarisnya. Dia menjadi martir dengan cara digergaji tubuhnya dibelah dua.

Dalam dunia seni dilambangkan dengan sebilah gergaji, alat yang dipakai untuk membunuhnya, atau dilambangkan dengan sebuah buku, simbol semangatnya akan Hukum Allah. Dirayakan tanggal 28 Oktober (Ritus Roma/Latin) dan 10 Mei (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Matias
Matthias The Apostle
Tindakan para rasul yang pertama setelah Yesus naik ke surga adalah memilih pengganti Yudas Iskariot. Mereka memfokuskan diri untuk mencari rasul kedua belas. Angka dua belas penting bagi bangsa yang terpilih, karena mewakili ke-12 suku bangsa Israel. Kalau Israel yang Baru datang dari murid-murid Yesus, maka dibutuhkan rasul ke-12. Tetapi Yesus telah memilih ke-12 rasul, bagaimana mereka tahu siapa yang akan mereka pilih? Seratus dua puluh orang berkumpul dan berdoa di ruang atas ketika Petrus berdiri untuk mengajukan cara melakukan pemilihan. Petrus menentukan kriterianya: rasul yang baru harus sudah menjadi murid Yesus sejak awal dan tetap setia ketika banyak orang meninggalkan Yesus karena ajaran-ajaranNya. Dua orang memenuhi kriteria: Matias dan Yusuf yang disebut Barsabas. Mereka membuang undi dan Matias terpilih untuk ditambahkan kedalam bilangan 12 rasul (Kisah Para Rasul 1:15-26).

Beberapa tradisi melaporkan bahwa Rasul Matias mewartakan Kabar Gembira di Palestina, Kapadokia atau Etiopia. Dia meninggal sebagai martir dengan cara dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Dalam dunia seni dilambangkan dengan sebuah salib dan sebuah halberd (semacam kampak dengan ujung tombak), alat yang dipergunakan untuk membunuhnya. Lambang lainnya adalah sebilah kapak dengan buku putih terbuka yang bertuliskan "super Mathiam". Dirayakan tiap tanggal 14 Mei (Ritus Roma/Latin) dan 9 Agustus (Ritus Bizantium/Timur).

Rasul Paulus
Paul The Apostle
Lahir di Tarsus, dari suku keturunan Benyamin, dan seorang warganegara Roma. Dia turut mengambil bagian dalam menindas umat Kristen sampai pada saat pertobatannya yang mukjijat di tengah perjalanannya ke Damsyik (Damaskus, Siria) (Kisah Para Rasul 9:1-18). Ia mendapat panggilan dari Yesus Kristus sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada Paulus dengan cara yang khusus. Dia menjadi rasul yang tidak kenal lelah bagi kaum non-Yahudi.

Dia tetap tinggal di Damaskus untuk beberapa hari setelah pembaptisannya dan lantas menuju ke Arabia mungkin selama satu dua tahun untuk mempersiapkan aktivitas misionarisnya. Sekembalinya ke Damaskus, dia tinggal disana untuk beberapa waktu, berkhotbah di sinagoga-sinagoga bahwa Yesus adalah Kristus, Putera Allah. Hal ini membangkitkan kebencian orang Yahudi dan dia harus melarikan diri dari sana. Dia lantas pergi ke Yerusalem untuk menemui Petrus dan bersilaturahmi kepada sang kepala Gereja.

Dalam perjalanan misionarisnya yang pertama bersama Barnabas, Paulus mendirikan gereja-gereja di seluruh Asia Kecil: Pisidian, Antiokia, Iconium, Lystra dan Derbe. Setelah Konsili Yerusalem, Paulus ditemani oleh Silas, dan kemudian oleh Timotius dan Lukas melakukan perjalanan misionaris keduanya. Pada perjalanan misionarisnya yang ketiga, Paulus mengunjungi tempat-tempat yang sama dan sempat tinggal di Efesus selama hampir tiga tahun. Dia dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24). Menurut tradisi, setelah dua tahun Saint  Paulus dibebaskan dari penjara Roma dan lantas melakukan perjalanan ke Spanyol, lalu kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma dimana dia kembali dipenjarakan untuk kedua kalinya. Akhirnya dia menjadi martir di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok-tembok kota pada tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero. Tempat ia dipenggal dikenal dengan nama Tre Fontane (Three Fountains - Tiga Mata Air) karena munculnya tiga mata air yang mukjijat di tempat kepalanya jatuh ke bumi.

Tidak kurang dari 14 surat-surat dalam Kitab Perjanjian Baru ditulis olehnya. Akan tetapi bisa dipastikan bahwa Rasul Paulus menulis lebih banyak lagi surat-surat yang telah hilang. Dalam surat-suratnya Rasul Paulus menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemikir religius yang sangat menonjol dan perannya yang masih dapat dirasakan dalam perkembangan iman Kristiani.

Rasul Paulus disiksa dengan sangat kejam dan akhirnya dipenggal kepalanya oleh Kaiser Nero di Roma pada tahun 67. Rasul Paulus adalah rasul yang paling lama mengalami masa siksaan dipenjara. Kebanyakan surat-surat dari Rasul Paulus dibuat dan dikirim dari penjara.
Satu pernyataan dari Rasul Paulus yang sangat menyentuh hati Saya secara pribadi tertulis dalam suratnya kepada Timotius.

II Timotius: 4 :6-8
Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Dalam dunia seni, dia digambarkan secara bermacam-macam, juga bersama-sama dengan Rasul Petrus, diantaranya dengan sebilah pedang dalam adegan pertobatannya. Lambangnya adalah sebilah pedang dibelakang sebuah buku terbuka yang bertuliskan "Spiritus Gladius" (Pedang Roh). Dirayakan tiap tanggal 29 Juni (berbareng dengan Rasul Petrus) dan 25 Januari (pertobatannya).

Saint Barnabas
Orang Yahudi yang lahir di Siprus (Kisah Para Rasul 4:36-37). Nama aslinya Yusuf tetapi dinamakan Barnabas oleh para Rasul (Kisah Para Rasul 4:36), dimana dia dihargai sebagai seorang Saint oleh karena kerjasamanya dengan Rasul Paulus (a.l. Kisah Para Rasul 11:19-30). Merupakan sepupu Saint Markus dan anggota komunitas Kristen di Yerusalem.

Dia menjual harta bendanya dan menyerahkan uang hasil penjualan kepada para rasul. Dia meyakinkan para Rasul untuk menerima Paulus (Kisah Para Rasul 9:27), dan dikirim ke Antiokia, Siria untuk menengok umat Kristen disana dan membawa Paulus besertanya. Bersama Paulus, dia membawa sumbangan umat Antiokia kepada umat di Yerusalem waktu terjadi bencana kelaparan, dan kembali ke Antiokia bersama sepupunya, Saint  Yohanes Markus. Mereka bertiga melakukan perjalanan misionaris ke Siprus, Perga (dimana Yohanes Markus melanjutkan ke Yerusalem) dan Antiokia di Pisidia dimana Paulus dan Barnabas ditolak habis-habisan oleh orang Yahudi sehingga mereka memutuskan untuk mewartakan Injil kepada kaum pagan. Mereka lalu melanjutkan ke Ikonium dan Listra di Lycaonia, dimana awalnya mereka dianggap sebagai dewa dan kemudian dilempari batu dan diusir dari kota. Mereka kembali ke Antiokia di Siria.

Ketika ada perselisihan mengenai hukum agama orang Yahudi Kristen, Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem, dimana dihadapan konsili, diputuskan bahwa kaum non-Yahudi tidak perlu disunat untuk dibaptis. Sekembalinya mereka ke Antiokia, Barnabas ingin membawa serta Yohanes Markus, tetapi Paulus menolak karena Yohanes Markus meninggalkan mereka di Perga. Paulus dan Barnabas berpisah, dan Barnabas kembali ke Siprus bersama-sama dengan Yohanes Markus. Tidak diketahui lagi berita selanjutnya, namun dipercaya bahwa Barnabas dan Paulus akhirnya berdamai.

Tradisi menyebutkan bahwa ia menjadi martir di Salamis, Siprus pada tahun 61 selama penindasan terhadap umat Kristen oleh Kaisar Nero. Lambangnya adalah 6 mawar berbentuk segitiga terbalik. Dirayakan tiap tanggal 11 Juni.

Saint Lukas
St Luke
Saint Lukas adalah pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:1), dan disebutkan sebagai "tabib yang kekasih" oleh Rasul Paulus (Kolose 4:14), yang didampinginya selama tugas-tugas misionaris Rasul Paulus (Kisah Para Rasul 16:10-40).

Saint Lukas adalah orang Yunani yang menjadi Kristen, satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Dalam surat Kolose 4:10-14, Rasul Paulus menyebutkan sahabat-sahabat yang bersamanya dari golongan mereka yang bersunat, dengan kata lain Yahudi, dan dia tidak memasukkan Saint Lukas dalam kelompok ini. Injil Lukas adalah satu-satunya yang menyebutkan perumpamaan "orang Samaria yang baik hati" (Lukas 10:25-37), Yesus yang memuji iman kaum non-Yahudi seperti janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria (Lukas 4:25-27), dan kisah seorang Samaria penderita kusta yang berterima kasih (Lukas 17:11-19). Hanya dari Injil Lukas kita mendapat nyanyian pujian Maria (magnificat). Menurut sejarawan Eusebius, Saint Lukas lahir di Antiokia, Siria.

Pada masa kini, kita berasumsi bahwa seorang dokter pastilah kaya-raya. Tetapi para teolog melontarkan argumentasi bahwa mungkin Saint Lukas dilahirkan sebagai budak. Tidak jarang bagi keluarga-keluarga kaya pada jaman itu untuk mendidik budaknya dalam bidang obat-obatan, supaya mereka mempunyai dokter pribadi. Tidak hanya melalui kata-kata Rasul Paulus, tetapi juga Saint Jerome, Saint Irenaeus, Caius - penulis abad kedua, mereka semua menuliskan bahwa Lukas adalah seorang dokter.

Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Saint Lukas, kita harus meneliti Kisah Para Rasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Saint Lukas bertobat dan menjadi Kristen, tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana dia bergabung dengan Rasul Paulus. Kisah Para Rasul ditulis dengan perspektif orang-ketiga, seperti seorang sejarahwan menuliskan fakta-fakta sejarah, sampai dengan pasal ke enam belas. Pada Kisah Para Rasul 16:8-9, kita mendengar pendamping Paulus "Setelah melewati Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: 'Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!'" Lalu tiba-tiba di pasal 16:10 kata "mereka" berubah menjadi "kami": "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana." Jadi Saint  Lukas bergabung dengan rombongan Paulus pertama kali di Troas pada sekitar tahun 51 dan menemaninya ke Makedonia dimana mereka melewati Samotrake, Neapolis, dan akhirnya Filipi. Saint  Lukas lantas kembali merobah gaya tulisan ke orang ketiga yang agaknya menunjukkan bahwa ia tidak dimasukkan ke penjara bersama-sama dengan Paulus dan bahwa ketika Paulus dibebaskan dan meninggalkan Filipi, Saint Lukas tetap tinggal disana untuk mendukung Gereja disana. Tujuh tahun berlalu sebelum Paulus kembali ke daerah itu dalam perjalanan misionarisnya yang ketiga. Dalam pasal 20:5, kembali digunakan kata "kami" yang menunjukkan bahwa Saint Lukas telah meninggalkan Filipi untuk bergabung dengan Paulus pada tahun 58 di Troas, di tempat mereka pertama kali bergabung. Mereka berkelana bersama melalui Miletus, Tire, Kaisarea ke Yerusalem. Lukas adalah pendamping yang setia yang tinggal bersama Paulus ketika ia dipenjarakan di Roma sekitar tahun 61: "Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku" (Filemon 1:23-24). Dan semua orang lain meninggalkan Paulus sewaktu ia dipenjara dan sengsara terakhir kalinya, adalah Saint Lukas yang tetap tinggal bersama Paulus "Hanya Lukas yang tinggal dengan aku" (2 Timotius 4:11).

Inspirasi dan informasi bagi Injilnya dan Kisah Para Rasul berasal dari hubungannya yang erat dengan Paulus dan rombongannya seperti yang Lukas jelaskan dalam pembukaan Injilnya: "Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar."

Perspektif Saint Lukas yang unik akan Yesus bisa dilihat dalam enam mukjijat dan delapan belas perumpamaan yang tidak ditemui dalam Injil yang lain. Injil Lukas adalah Injil bagi orang miskin dan keadilan sosial. Hanya Injil Lukas yang mengisahkan tentang Lazarus dan Orang Kaya (Lukas 16:19-31). Lukas-lah yang menggunakan "Berbahagialah orang miskin..." dan bukan "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah" dalam 8 Ucapan Bahagia (Lukas 6:20-26, Matius 5:1-12). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar Nyanyian Pujian Maria dimana Maria menyatakan bahwa "Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa" (Lukas 1:52-53)

Saint Lukas juga punya hubungan yang khusus dengan wanita-wanita dalam hidup Yesus, terutama Maria. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang pemberitahuan akan kelahiran Yesus, kunjungan Maria ke Elisabet, Nyanyian Pujian Maria, Yesus dipersembahkan di Bait Allah, dan Yesus yang hilang di Yerusalem.

Pengampunan dan belas kasih Allah kepada para pendosa juga sangat penting bagi Lukas. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar wanita pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan airmatanya (Lukas 7:36-50). Sepanjang Injil Lukas, Yesus berpihak kepada yang ingin kembali kepada kemurahan Tuhan. Membaca Injil Lukas memberi gambaran yang jelas akan sifatnya yang mengasihi orang miskin, yang menginginkan pintu Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang, yang menghargai para wanita, yang melihat adanya harapan belaskasih Allah bagi semua orang.

Kisah Saint Lukas setelah meninggalnya Rasul Paulus tidak diketahui dengan pasti. Beberapa penulis sejarah mengatakan bahwa ia menjadi martir, sementara lainnya mengatakan ia berumur panjang. Menurut Saint Eusebius Vercelli, Lukas mati digantung di Yunani, setelah ia berkhotbah di sana kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Dalam dunia seni, dia digambarkan dengan seekor lembu atau domba (karena Injil karangannya dimulai dengan adegan kurban persembahan di Sinagoga/Bait Suci). Lambangnya adalah seekor lembu yang bersayap. Saint Lukas adalah Saint pelindung para dokter dan ahli bedah. Dirayakan tiap tanggal 18 Oktober.

Saint Markus
Nama lengkapnya, Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 15:37). Dia adalah sepupu Saint Barnabas dan merupakan anggota komunitas Kristen yang pertama di Yerusalem. Baik Saint Yohanes Markus maupun ibunya dihormati oleh komunitas Gereja purba dan rumah ibunya sering digunakan sebagai tempat berkumpul bagi umat Kristen.

Dia mendampingi Rasul Paulus dan Saint Barnabas dalam tugas-tugas misionaris mereka (Kisah Para Rasul 12:12 dan 15:35-41) melalui pulau Siprus. Lalu dia hanya mendampingi Saint Barnabas. Kemudian dia juga berada di Roma bersama Rasul Paulus dan Rasul Petrus (1 Petrus 5:13).

Dia menulis Kitab Injil kedua mungkin di Roma sebelum tahun 60. Dia menulis Injilnya dalam bahasa Yunani bagi kaum non-Yahudi yang menjadi Kristen. Injil karangannya adalah yang paling pendek diantara keempat kitab Injil. Menurut tradisi, Saint Markus diminta oleh orang-orang Romawi untuk menuliskan ajaran-ajaran Rasul Petrus. Hal ini dikuatkan oleh posisi Rasul Petrus dalam Injil Markus. Injil Markus melukiskan hidup Yesus melalui pandang mata Rasul Petrus, pemimpin para rasul.

Menurut tradisi dia mendirikan Gereja di Alexandria, Mesir, dan menjadi pemimpin disana, dan menjadi martir di jalanan kota tersebut. Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya diseret hidup-hidup dengan kuda melalui jalan-jalan yang penuh batu sampai ia menemukan ajalnya. Dalam dunia seni, dia dilambangkan dengan seekor singa yang bersayap, yang melambangkan Yohanes Pembaptis sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, seperti tertulis pada awal Kitab Injil karangan Markus. Dirayakan tiap tanggal 25 April

Disamping kisah para rasul yang ditulis oleh ahli sejarah Eusebius,ia juga menceritakan tentang seorang penginjil yang matanya dibakar sampai buta dengan catatan bahwa kalau ia buta, maka ia tidak akan bisa membaca Alkitab lagi dengan mana ia tidak akan bisa mengabarkan Injil lagi. Tetapi kenyataannya ia tetap mengambarkan Injil berdasarkan ayat-ayat yang telah dipelajari dan diingat sebelumnya.

Rasul Yudas Iskariot
Judas Iscariot The Apostle
Kitab-kitab Injil hanya menulis sedikit fakta-fakta seputar Yudas Iskariot, sang Rasul yang menghianati Kristus. Satu-satunya orang non-Galilea (Gentile) diantara bilangan ke-12 Rasul, dia berasal dari Carioth, sebuah kota di sebelah selatan Yudea. Dia adalah bendaharawan para Rasul. Dia disebut sebagai maling kecil oleh Yohanes. Dialah yang menyuarakan ketidak-senangannya akan penghamburan uang, yang disebutnya bisa digunakan bagi orang-orang miskin, sehubungan dengan peristiwa pengurapan Yesus di Betania. Dia berinisiatif mengatur penghianatan terhadap Yesus Kristus. Setelah itu, dia mengaku bahwa dia telah menghianati seorang yang tidak bersalah dan membuang uang yang telah diterima sebagai pembayarannya ke dalam Bait Allah. Mengenai kematiannya, Matius mengatakan bahwa Yudas menggantung diri, sedangkan Kisah Para Rasul menyatakan bahwa ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isinya menghambur keluar. Kedua laporan ini lebih menekankan segi makna daripada cara Yudas meninggal yaitu kesengsaraan kematian seorang pendosa. Konsensus umum tentang sebab mengapa Yudas berhianat terhadap Yesus difokuskan pada imaginasi Yudas yang salah dan penolakan untuk menerima konsep Juru Selamat (Mesiah, Kristus) yang menderita, dan penderitaan dirinya sendiri sebagai seorang Rasul.


2 komentar:

  1. maaf mas,sumber bukunya apa ya?disadur darimana?boleh bagi link bukunya?thx :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru balas...
      Sumbernya dari apa yg ada di Internet kemudian dicompile menjadi satu.
      Dalam hal ini Sy biasanya merujuk ke situs2 resmi Katholik Roma atw Orthodox (^__^)

      Hapus